Pesan Semesta.
melampaui batas menjadi satu

PELAJARAN AGAR DIRI MAMPU MENGENDALIKAN EMOSINYA (BAGIAN 1)



Sahabatku… Segala macam emosi itu sebenarnya hanyalah molekul. Misal kalau kita merasakan perasaan kebahagian, berarti kita membutuhkan formula (C43H66N12O12S2 ) sebagai tambahan bahan kimia oxytocin. Misalkan juga kalau kita merasakan perasaan marah, berarti kita membutuhkan formula Epinefrin (C9H13NO3) atau yang dikenal sebagai adrenalin, ini merupakan bahan kimia utama yang kita keluarkan ketika menjadi marah.

Rahasia besarnya ADALAH segala emosi YANG KITA RASAKAN bukan rasa yang mengakar dari luar – melainkan rasa yang muncul dari apa yang telah kita buat sendiri.

Lalu bagaimana kita membuat emosi?

Jadi begini, setiap manusia memiliki satu bagian didalam otaknya yang disebut otak emosinal. Tempat khusus dimana semua emosi diwujudkan menjadi nyata oleh otak disebut Sistem Limbik. Berkat adanya sistem limbic ini, kita hanya cukup memikirkan jenis perasaannya saja, lalu otak kita meramu secara otomatis emosi itu.

Pekerjaan otak untuk meramu emosi itu penting, karena kalau otak tidak pernah meramu emosi, maka kita tidak akan pernah bisa mampu merasakan apa-apa.

Emosi itu seperti kita berdiri di depan mesin kopi gratis. Kita cukup memencet tombol cappuccino, lalu mesin itu meramu cappuccino dan menyajikannya, kita pun segera menyeruputnya dan mengamini persis kalau itu adalah cappuccino. Misal lain kita memencet tombol frapuccino, maka mesin itu akan meramu frapuccino, kita pun menyeruputnya dan mengamini persis kalau itu adalah frapuccino. Hal yang sama kalau kita memencet moccacino, maka mocacino lah yang akan diramu, dan kita juga akan mengamini kalau itu adalah moccacino.

Ngomong-ngomong kenapa kami menggunakan istilah ‘meramu’?

Karena sebelum disajikan, emosi itu harus diramu terlebih dahulu. Bagaimana kadar ramuannya, tergantung dengan bagaimana pikiran mensettingnya. Emosi adalah permainan otak dalam menentukan kadar neurokimia (bahan kimia otak).

Ambil contoh rasa bahagia, bahagia tidak akan bisa terasa sebagai bahagia kalau otak tidak mampu meramu hormone kebahagiaan. Ada empat bahan kimia utama di otak yang memengaruhi kebahagiaan kita; Dopamin, oksitosin, serotonin dan endorphin. Apabila otak tidak merespon pikiran bahagia kita dengan melepaskan serta mengatur kadar keempat hormon ini, maka kita tidak akan pernah tahu seperti apa itu rasanya bahagia.

Namun otak tidak pernah bermain sendirian, otak membutuhkan pemain dan siapa lagi pemainnya selain pikiran. Otak tidak akan mampu meramu keempat hormon ini tanpa pikiran yang memikirkan rasa kebahagiaan. Tanpa pikiran, tidak ada yang merasakan emosi kebahagiaan. Sementara tanpa otak, tidak akan rada rasa bahagia saat kita memikirkan kebahagiaan.

Hal yang sama juga berlaku terhadap seluruh emosi-emosi lainnya. Baik itu kemarahan, kebahagiaan, kepuasaan dan masih banyak emosi lainnnya. Namun meski pikiran kita yang bertanggung jawab memikirkan segala perasaan. Tetap tanpa otak kita tidak akan mengerti bagaimana itu rasanya sedih atau bagaimana itu rasanya bahagia.

Memikirkan kebahagiaan bukan berarti harus berada ditengah kebahagiaan. Karena tanpa kita benar-benar ditengah situasi yang membahagiakan atau bahkan hanya dalam imajinasi atau dunia mimpi sekalipun otak kita tetap mampu meramu hormone kebahagiaan.

Perhatikan saja bagaimana terkurasnya emosi seorang wanita saat menonton drama korea. Padahal kesadaran mereka hanya hanyut dalam pikiran yang terbawa oleh alur film. Saat alur filmnya sedih, maka mereka pun ikut memikirkan rasa kesedihan yang sama. Sehingga otaknya merespon kesedihan itu. Akhirnya air mata mereka bisa terus menetes, padahal seluruh adegan dalam film itu adalah fiktif.
Ini terjadi karena otak kita tidak bisa membedakan mana itu perintah pikiran yang imajinatif dan mana perasaan yang nyata. Selama kita memikirkannya, maka bagi otak itu akan selalu menjadi nyata. Pikiran sadar manusia lah yang menentukan kadar kenyataan bagi dirinya sendiri.

Lalu siapa itu pikiran kalau bukan kesadaran? Kesadaran adalah titik balik segalanya.

Itulah kenapa Dzat Maha membuat otak dengan membawa sifat kebijaksanaan juga. Meskipun emosi kita mungkin tidak terkendali, tidak serta merta semua bagian diri kita menjadi tidak terkendali. Ada bagian jasad yang bernama korteks prefrontal otak, yaitu bagian otak rasional. Bagian ini masih tetap sadar dan dapat menjaga emosi kita dalam proporsi normal.

Boleh dibilang korteks prafrontal berperan eksekutif untuk menjaga hal-hal apapun tetap berlangsung di bawah kendali. Jadi kalau dilihat dari sisi otak, meski benar otak membuat segala perasaan menjadi nyata. Tapi otak tetap memberi kita pilihan, apakah kita akan lanjut dengan tenggelam dengan emosi yang kita buat atau tidak. Sekarang sangat tergantung dengan bagaimana pikiran kita merancang tindakan selanjutnya.

Kalau kita memilih tetap terhanyut, otak kita tetap memberi pilihan lain yang bisa kita pilih. Jadi jasad kita juga mengajarkan kepada kita, kalau manusia hidup dengan pilihan. Kita memilih dan bisa memilih. Karena manusia memang tidak pernah tercipta sebagai korban. Kalau sampai sekarang kita menjadi korban dari perasaan, itu hanya karena diri kita kurang mengerti bagaimana mekanisme sesungguhnya.

Itulah kenapa kalau dahulu emosi manusia hanya dibahas dan dikaitkan dalam bidang psikologi saja. Namun ternyata itu tidak berlaku lagi sekarang. Karena emosi manusia bukan terletak didalam pikirannya tapi didalam jasadnya. Hubungan antara beberapa bagian otak dan sel saraf lah yang mewujudkan segala emosi manusia.

Pikiran manusia hanya memikirkan perasaan saja sebagai arsitektur alami. Sementara otak kita adalah para pekerjanya. Otaklah sebagai pengendali pasukan-pasukan yang membuat segala macam perasaan menjadi hidup dan nyata.

Jadi kalau kita bertanya; mana yang lebih penting pikiran atau otak? Jelas kita tidak bisa memilihnya. Mereka memang diciptakan dengan kesatuan yang utuh. Sungguh sempurna diri manusia ini. Kita memiliki jiwa dan jasad yang senantiasa dihidupi oleh ruh.

Ruh (energy penghidup) selamanya adalah kenetralan. Bagaimana kita membentuk jiwa dan jasad, selamanya energy penghidup ini menyertai sampai batas waktu yang ditentukan oleh peniupNYA.

Jadi pertanyaannya sekarang adalah bagaimana kita mampu membentuk jiwa dan jasad yang mampu mengendalikan segala emosi yang dihadapinya?

Sahabatku… Kami akan lanjut mempelajari jawaban pertanyaan diatas pada artikel lanjutannya. Sebelum kami melanjutkan pembelajaran, mari kita mencoba memahami dahulu kenapa Dzat Maha membuat pikiran dan otak terhubung untuk membuat sesuatu yang kita sebut perasaan?

Tidaklah ini merupakan sepotong ayat kecil yang menjadi bukti kalau manusia tidak dibuat untuk menjadi korban melainkan sebagai pemimpin. Seorang pemimpin seharusnya menjadi penentu, termasuk penentu dari apapun perasaan yang dirasakannya. Keberhasilan kita memimpin jiwa dan jasad ini adalah refleksi dari betapa kita memahami ayat-ayatNYA.

Namun ayat-ayatNYa yang terdapat pada diri kita hanya akan menjadi bukti keterhubungan penciptaan yang sia-sia apabila tidak pernah terperhatikan dan teramati. Setumpuk maha karya Dzat Maha yang pada akhirnya sekedar menjadi gambar-gambar listrik yang hanya bisa kita lihat tapi tidak kita saksiksan.

Tangga awal sebelum sebuah kebersaksian adalah pemahaman. Mari kita tetap belajar memahami ayat-ayatNYA yang ada pada diri kita terlebih dahulu.

Jadi sahabatku, kalau kita masih sering menjadi korban dari emosi dan perasaan yang berkecamuk di dada. Mohon tetap disini untuk membaca terusan artikelnya.


Salam Semesta

Copyright 2020 © www.pesansemesta.com

  • 0
  • April 28, 2020
admin16 admin16 Author

CARA TERBAIK UNTUK LARI DARI KENYATAAN? (THE SECRET TO ESCAPE FROM REALITY)




Sahabatku… Kenyataan apa yang sedang kita hadapi sekarang – Apakah kita ingin berlari darinya? Apapun itu, kalau jawabannya adalah iya. Maka izinkan kami memberi tahu cara terbaik untuk lari dari kenyataan.

Sebelumnya, kami ingin kita memahami terlebih dahulu rahasia dibawah ini:


1# PERTAMA :

Pahami kalau kenyataan itu tidak sepenuhnya takdir Dzat Maha.

Salah satu takdir Dzat Maha adalah membuat hukum sebab akibat. Setiap kali makhlukNYA memilih sebab, maka akan muncul akibat. Jadi sebagian dari apa yang kita sebut kenyataan terjadi karena sebab akibat yang telah dipilih manusia.

Butuh akal yang jernih untuk tidak menyalahkan nasib dan mulai memperbaiki pilihan. Karena nasib yang kita nilai baik ataupun buruk hanyalah akibat dari sebab yang telah dan akan kita pilih.


2# KEDUA :

Pahami selalu kemanapun kita ingin berlari tetap kita tidak akan pernah berlari dari waktu sekarang.

Dalam dimensi manapun kita berada, waktu yang kita miliki hanyalah sekarang. Memori kita membawa apapun yang telah kita lalui sebagai masa lalu dan apapun yang kita rencanakan sebagai masa depan. Keduanya bukanlah waktu, kedua adalah kesempatan. Masa lalu sudah menjadi kesempatan yang sudah kita hadapi. Masa depan adalah kesempatan yang masih bisa kita buat.

Kesempatan membuat masa depan hanya dilakukan pada waktu sekarang. Bukan pada waktu esok. Manusia itu seperti berdiri ditengah jembatan yang hanya memiliki satu papan kayu yaitu tempat dia berpijak. Dengan satu papan kayu itu dia bisa maju atau dia bisa mundur.

Papan kayu itu ibarat waktu yang kita miliki, terserah bagaimana kita mau menggunkan waktu ini tetap kita hanya membawa waktu yang sekarang.

Bagaimanapun juga hari esok tidak ada, kertasnya masih putih. Detik ini adalah waktu untuk menulis bagaimana esok itu berwarna. Apabila kita tidak memilih dan membiarkan seluruh sistem sebab akibat bekerja begitu saja, maka kita telah kehilangan kesempatan untuk membuat kenyataan.


3# KETIGA :

Pahami kalau kita belum mengetahui apa itu kenyataan mutlak. Karena apapun kenyataan yang kita yakini sedang kita jalani adalah refleksi dari apa yang kita lihat, bukan apa yang diperlihatkan kepada kita!

Selama kita masih berlari sambil membawa persepsi yang sama. Maka tetap kenyataan yang sama akan terus mengelilingi kita. Itu karena setiap orang menghadapi kenyataan dari hasil pikiran yang sama persis dengan bagaimana pikiran individunya bekerja.

Dengan fakta ini kita mengenal istilah perception reality, yaitu sebuah pemahaman kalau persepsi manusia adalah kenyataan bagi dirinya sendiri. Tapi ternyata kenyataan yang dipersepsikan oleh pikiran kita, tidak pernah bisa menjadi acuan akan kebenaran hakiki dari kenyataan mutlak.

Ini menjawab kalau setiap manusia membawa kenyataannya masing-masing berdasarkan bagaimana persepsinya terbentuk sejak lahir sampai sekarang. Itulah kenapa sulit bagi kita menentukan apa itu kenyataan yang sebenarnya? Karena kebenaran adalah kenetralan suci yang terbebas dari persepsi.


#KEEMPAT :

Pahami seseorang tidak bisa menyaksikan apa itu kebenaran kecuali dia mampu menetralkan dahulu penglihatannya.

Persepsi hanya bertindak sebagai lensa yang melaluinya kita memandang kenyataan. Namun kalau kita jeli bertanya ‘apakah sesuatu yang kita sebut kenyataan itu adalah kenyataan mutlak yang sebenarnya?” Maka untuk menemukan jawabannya, kita harus terlebih dahulu mengakui kalau untuk menemukan jawaban ini kita harus berada di titik netral.

Titik netral adalah titik dimana kita tidak lagi membatasi apa yang kita lihat dengan segala persepsi pikiran kita. Karena kenyatan mutlak yang sebenarnya selalu berada diatas kenyataan yang kita yakini.

Kesadaran manusia seharusnya dibentuk untuk mampu menyaksikan kebenaran ini. Sayang, ego penilaian kalau kita sudah berada di jalur kebenaran sudah terlalu mengakar. Padahal hanya Dzat Maha Benar lah yang mampu menuntun dan memberpikirkan kita pada kebenaran yang sebenarnya.


#KELIMA :

Pahami seseorang yang sudah mampu menetralkan penglihatannya tidak akan pernah berniat berlari dari kenyataan. Seseorang itu akan menghadapi apapun yang ada dihadapannya.

Seharusnya kita memang haru belajar menghadapi segalanya dengan kenetralan terlebih dahulu baru gerbang kebenaran itu akan terbentang pada waktunya. Kalau apa yang sedang kita hadapi memang harus kita hadapi, maka jangan menaruh harapan dan membuat diri sendiri tidak nyaman dengan harapannya sendiri.

Sahabatku… Menerima atau penerimaan adalah jurus ampuhnya. Saat manusia sudah mampu menerima apapun yang ada dihadapannya, maka dia akan melaluinya. Lalu saat melaluinya pun manusia itu akan mulai berpikir dengan akalnya untuk memilih, apa yang terbaik?

Kehadiran pikiran dimaksudkan untuk menyerap informasi, mengubahnya menjadi pengetahuan dan menuntunnya ke dalam tindakan. Tindakan yang dipilih tentu akan menentukan kualitas hidup kita dan ini berasal dari pilihan kita untuk berpikir. Itulah kenapa untuk membawa tujuan dan kualitas yang lebih baik ke dalam hidup kita, kita harus melihat sifat dan cara kerja pikiran dalam berpikir. Itu karena tidak selalu pikiran itu memilih berpikir dengan akal, ada tiga cara kerja pikiran dalam berpikir :

Pertama, berpikir dengan akal. Kedua, berpikir dengan ego. Ketiga, berpikir dengan insting (naluriah)
Berkat kehadiran pikirannya seseorang bisa memilih berpikir dengan akal atau egonya, atau bahkan seseorang itu bisa juga sama sekali tidak memilih berpikir dan hanya membiarkan naluriahnya berpikir secara autopilot. Ketiga pilihan berpikir ini sama sekali tidak akan menggeser pikiran dari kesakralannya sebagai gerbang pemberi makna bagi kehidupan.

Meski tetap makna yang dihasilkannya pastilah berbeda-beda tergantung bagaimana kita memilih berpikir. Nomor tiga adalah yang terendah dari bagaimana kita memilih berpikir, dan nomor pertama adalah bagian terbaiknya. Akal senantiasa akan menjadi pembimbing diri yang utuh. Ber-akal bukan menghilangkan bagian ego dan naluriah, tetapi mengendalikan mereka berdua. Begitulah peran pikiran dalam kehidupan ini sebenarnya hanya untuk menuntun dan menjadikan kita manusia-manusia yang ber-akal di dalam kesadarannya.

-----------------------------

Sahabatku… Mohon renungilah pertanyaan dibawah ini:

Kalau kita hanya memiliki sekarang dan kalau seluruh apa yang kita lihat adalah hanya tentang bagaimana kita melihatnya. Maka apakah mungkin kita berlari dari kenyataan kalau sebenarnya kenyataan itu selalu kita bawa?

Kalau kita sudah memahami pertanyaan diatas lalu apakah kita akan berlari dengan membawa kenyataan yang sama – atau seharusnya kita tidak perlu berlari kemana-mana, kita hanya perlu melepas semua yang membuat kita menyaksikan kenyataan ini sebagai hal yang menderita dan mengambil waktu kita untuk menyaksikan dan membuat kenyataan yang berbeda?
Bagaimana sahabatku? Sudahkah kita mengerti point pentingnya?

Kami mengucapkan terimakasih untuk tidak pernah berencana berlari dari kenyataan lagi. Terimakasih karena telah mau berdiri kuat menghadapi dan menerima apapun yang ada dihadapan. Terimakasih telah merubah kenyataan dengan cara memilih sebab terbaik untuk akibat terbaik.
Dan mari bersama-sama kita mengucapkan terimakasih, untuk setiap porsi pelajaran yang ada dihadapan kita. Percayalah! Kalau kita berada disini, berarti kita memang sudah siap dengan pelajarannya.

Apabila rasa takut itu muncul, maka biarkan takut muncul hanya sebagai porsi kewaspadaan bukan keraguan untuk membuat kenyataan yang lebih baik.
Akhir kata sahabatku…

Jadi jawaban dari cara terbaik untuk berlari dari kenyataan adalah dengan mengambil alih kembali waktu yang kita miliki dan membuat kenyataan yang baru didalamnya, bersamaNYA.

Bagian terakhir ini adalah yang terindah. Bagian yang mampu menghapus segala ketakutan dan kemeranaan yang tergantikan dengan senyum kekuatan. Kita sudah memiliki segalanya untuk mampu berlari membuat kenyataan terbaik. Karena kita memilikiNYA dan bersamaNYA selamanya.


Salam semesta

Copyright 2020 © www.pesansemesta.com

  •  
  •  
  • 0
  • April 25, 2020
admin16 admin16 Author

KUNCI UTAMA HEALING FREQUENCY ADALAH MENYEIMBANGKAN FREKUENSI



Sahabatku… Setiap kita mampu membuat frekuensi penyembuhannya masing-masing, yaitu dengan secara sadar menghilangkan dan menjauhi frekuensi yang tidak dibutuhkan. Lalu senantiasa menyeimbangkan dan mengharmonisasikan frekuensi yang dihasilkannya sendiri.

Setiap sel yang membentuk tubuh kita, baik itu sel yang sehat atau pun sel yang sakit adalah energy. Kita semua adalah energy, itulah kenapa pikiran dan jasad kita terus menghasilkan frekuensi.

Setiap manusia memiliki angka frekuensi tertentu. Ketidakseimbangan yang berada di tubuh dan jiwa kita sebenarnya dapat dilihat dari angka frekuensi yang kita hasilkan melalui medan elektromagnetik. Butuh alat khusus untuk menghitung ini. Tapi tanpa bantuan alat pun kita sudah mampu mengetahui kalau frekuensi kita sedang tidak seimbang atau tidak. Karena kalau frekuensi kita seimbang, maka kita akan tetap berada pada porsi yang terbaik.

Apabila kita merasa kondisi tubuh tidak bugar dan pikiran tidak stabil. Maka itu pertanda awal kalau jasad dan jiwa kita sedang membentuk frekuensi yang tidak seimbang.

Tubuh yang sehat beresonansi pada frekuensi 62-70 MHz, dan ketika frekuensi turun menjadi 58 MHz, saat itulah penyakit dimulai. Karena ketika frekuensi turun sistem kekebalan tubuh kita terganggu dan bakteri dan virus oportunistik dapat menimbulkan kekacauan pada tubuh kita - membuat kita lebih rentan terhadap penyakit.

Dalam aplikasi healing frequency faktor-faktor yang menyebabkan ketidakseimbangan frekuensi inilah yang harus kita benahi.

Mari kita pelajari dahulu penyebabnya, karena dari sana kita kita akan menemukan cara untuk menyeimbangkan kembali ketidakseimbangan frekuensi yang terjadi didalam diri. Apabila frekuensi kita sudah seimbang dan normal, maka kondisi kesehatan kita pun pasti baik.

Lalu, apa saja faktor penyebab yang membuat frekuensi turun dan tidak seimbang?


1# MENAHAN EMOSI NEGATIF

Sahabatku… Penelitian dasar menunjukkan bahwa informasi yang berkaitan dengan keadaan emosi seseorang dikomunikasikan ke seluruh tubuh melalui medan elektromagnetik jantung. Fakta paling unik yang terjadi adalah bahwa pola detak jantung kita yang berirama berubah secara signifikan ketika kita mengalami emosi yang berbeda.

Saat kita mengalami emosi negatif pola detak jantung menjadi tidak menentu, tidak teratur, dan tidak koheren dalam ritme jantung.  Sebaliknya, saat mengalami emosi positif, seperti cinta atau kedamaian, pola detak jantung yang terjadi lebih halus, teratur, dan koheren dalam aktivitas ritme jantung.

Jadi pola detak jantung manusia memang berubah-rubah sesuai struktur medan elektromagnetik yang dipancarkan oleh jantung. Tentunya medan elektromagnetik ini berpengaruh 100% pada hasil resonasi frekuensi tubuh normal kita.

Setiap emosi negatif sebenarnya adalah emosi beracun yang memiliki frekuensi rendah. Ambil contoh saat kita mengalami kemarahan atau frustrasi, maka emosi hasil pikiran itu akan menyebabkan makrokosmos kelenjar adrenal untuk memproduksi hormon adrenalin dan hormon stres, yaitu kortisol. Kortisol itu racun yang menurunkan sistem imunitas tubuh, sehingga kita semakin rentan dengan penyakit dan jauh dari kesembuhan.

Itulah kenapa ketika kita sengaja memegang perasaan negatif, maka kita seperti secara sengaja membentuk frekuensi tidak harmonis dan membiarkan makrokosmos kita memenelan racun kartisol dalam jumlah yang tidak seimbang.

Jadi sahabatku… Meski negatif dan positif adalah poros keseimbangan. Tapi cobalah untuk senantiasa memenangkan kebaikan. Cobalah untuk memilih hanya rasa yang baik untuk diri kita sendiri. Putihkan selalu jiwa kita yang abu-abu meski kita tahu mungkin besok akan kembali abu-abu.


2# SELF TALK YANG BURUK

Dalam dunia medis, kita sudah mengerti betul kalau sel-sel tubuh kita hanya mengikuti instruksi yang diberikan oleh sistem saraf. Semua yang dilakukan tubuh terhubung dengan saraf. Sistem saraf terdiri dari otak, sumsum tulang belakang, organ-organ sensorik, dan semua saraf yang menghubungkan organ-organ ini dengan seluruh tubuh.

Efek dari keterhubungan ini akan berlipat-lipat apabila kita secara sengaja berkomunikasi dengan diri. Ketik kita menjalani hidup kita, sel-sel otak secara konstan menerima informasi tentang lingkungan kita. Otak kemudian mencoba membuat representasi internal dunia eksternal kita melalui perubahan kimia yang kompleks berbagai jenis neuron dan neurotransmiter.

Artinya? Tubuh kita berubah tergantung bagaimana kita berkomunikasi dengannya. Jadi secara tidak sadar kita memang berkomunikasi dengan seluruh sel-sel tubuh kita dan sistemnya.

Setiap kalimat sendiri memiliki frekuensi tersendiri dan mampu mengubah molecular. Kita pasti sudah pernah sekilas membaca proyek ilmiah yang pernah dilakukan Dr.Massaru Emmoto. Penelitian Emoto secara visual menangkap struktur air pada saat pembekuan, dan melalui fotografi berkecepatan tinggi ia telah menunjukkan konsekuensi langsung dari pikiran yang merusak terhadap pembentukan kristal air.

Kata-kata mengandung unsur getaran, yang memainkan peran vital dalam skema agung semesta. Semakin baik kalimat maka semakin tinggi frekuensinya. Sebaliknya, semakin buruk kalimat maka semakin rendah frekuensinya.

Lalu… Apa salahnya sekarang, kalau kita secara sadar mulai menjadi pemimpin yang baik dan ramah dengan mulai berkomunikasi dengan kata-kata yang BAIK pada diri kita sendiri?


3# TIDAK HIDUP PADA MASA SEKARANG

Agar terus mampu menyeimbangkan frekuensi, jadilah senantiasa sadar untuk hadir pada masa sekarang lalu hadapi apapun yang ada dihadapan.

Kita tidak bisa mengubah apa yang terjadi di masa lalu. Tidak masuk akal untuk merenungkan berulang kali, yang pada dasarnya adalah pemborosan energi dalam waktu yang berbeda. Aliran energi yang berlebihan ini akan membuat kita terus membentuk frekuensi rendah.

Stres dan kecemasan juga biasanya terkait dengan kata 'seandainya' yang biasanya berada di masa depan. Aliran energi negatif ini akan mengurangi frekuensi kita di masa sekarang. Untuk membangun kembali frekuensi, fokuslah pada masa sekarang.

Baik masa depan atau masa lalu keduanya hanyalah bagian dari memori tapi waktunya sendiri tidak pernah nyata lagi. Satu-satunya yang kita miliki hanyalah saat ini, detik ini. Masa depan adalah sebab akibat yang kita buat dan pilih pada masa sekarang.

Kalau apa yang sedang kita hadapi memang harus kita hadapi, maka jangan menaruh harapan dan membuat diri sendiri tidak nyaman dengan harapannya sendiri. Namun laluilah dan buatlah harapan itu menjadi nyata. Dengan begini kita akan senantiasa sadar kalau kita tidak sedang menunggu nasib, tapi kita sedang menulis nasib kita sendiri.

Energy anugerah yang ditiupkanNYA akan terus bergetar pada porosnya, yaitu ber-aksi dan kita tetap akan menikmati hidup bersamaNYA.

4#  MENGKRITIK, MENGELUH, DAN MENILAI ORANG LAIN

Keluhan memang merupakan kewajaran dari ketidakpuasan diri akan kenyataan yang dihadipnya. Tapi tahukan kita tentang neuronal mirroring?

Sebagai manusia yang memang bersifat dasar sosial, otak kita dirancang secara alamiah untuk meniru suasana hati orang-orang di sekitar kita, terutama orang-orang yang menghabiskan banyak waktu bersama kita. Neuronal mirroring ini merupakan dasar bagi kemampuan kita untuk merasakan empati.

Jadi boleh saja kita yang mengeluh, tapi efek dari keluhan kita itu dirasakan oleh orang-orang disekitaran kita. Mengeluh bukan sekedar tentang frekuensi kita yang merendah, tetapi juga ikut merendahkan frekuensi yang lain juga. Karena itulah jangan heran, kalau kita sangat mudah terprovokasi hanya dari mendengar satu keluhan saja. Karena memang kita itu adalah jasad yang basicnya adalah energy yang saling terkoneksi. Maka itu sangat bijaksana sekali untuk tidak selalu mengumbar keluhan.

Hal yang mirip juga terjadi ketika kita fokus berbicara tentang orang lain dengan cara yang negatif. Dimana kita sekali lagi hanya sedang memproyeksikan hal-hal negatif di alam semesta yang pasti akan kembali menggigit kita. Frekuensi akan menarik frekuensi yang sama.

Kesadaran akan menjadi ujung tombak segalanya untuk memilih memandang segalanya dalam kenetralan. Saat kita memilih berubah menjadi netral dan berhenti menilai, artinya kita mulai menghormati energy yang dibentuk oleh Dzat Maha Pemebentuk. Kalaulah DIA menghormati tiap layar kehidupan tanpa menilai-nilai, lalu kenapa kita tidak? Apapun yang kita nilai, itu adalah bersumber dariNYA. Hanya dariNYA segala-segalanya berasal. Lalu kenapa kita tidak melihat segalanya sebagai sumberNYA?


5# POLA MAKAN YANG TIDAK BAIK

Tahukah kita bahwa makanan memiliki frekuensi juga? Itu benar! Apa yang kita makan atau minum masing-masing memiliki frekuensi dan tentunya itu memiliki dampak yang mampu mempengaruhi frekuensi pada tubuh kita juga.

Meski ini terkesan sangat sepele, namun pastikan apa yang kita makan benar-benar menunjang keseimbangan frekuensi tubuh bukan malah sebaliknya.
---------------------------

Sahabatku… Hidup adalah proses, pembelajaran adalah proses, begitu juga dengan belajar menyembuhkan diri sendiri. Banyak hal yang akan mempengaruhi sebuah proses. Apap pun hal itu pasti juga akan mempengaruhi hasil akhir. Tugas kita adalah tetap waspada dengan segala sebab akibat yang kita pilih.

Tetap berwasikat dalam rasa sakit merupakan tugas yang berat. Tapi ini rahasia pertamanya sahabatku… Selain tetap waspada pada dimensi makrokosmos, kita juga harus mewaspadai juga dimensi mikrokosmosnya. Perhatikan energy yang kita bentuk didalam lalu buatlah frekuensi penyembuhan yang ajaib.

Manusia siapapun namanya senantiasa terbentuk dari tiga komponen:  jiwa, jasad dan ruh. Jiwa dan jasad adalah dua komponen yang tidak akan pernah dipisahkan. Jangan pernah memilih mana yang harus tampil terbaik.

Untuk membentuk healing frekuensi jiwa dan jasad keduanya harus bekerja harmonis dan seimbang. Sementara ruh adalah kenetralan mutlak, jadi bagaimanapun kita membentuk jiwa dan jasad, energy penghidup ini akan terus menghidupi sampai batas waktunya.

Jadi sekali lagi mohon diingat! Setiap kita mampu membuat frekuensi penyembuhannya masing-masing, yaitu dengan secara sadar menghilangkan dan menjauhi frekuensi yang tidak dibutuhkan. Lalu senantiasa menyeimbangkan dan mengharmonisasikan frekuensi yang dihasilkannya sendiri.

Akhir kata Sahabatku… Saat kita berbicara tentang keseimbangan, maka kita akan berbicara tentang berdiri di tengah kubu dan hanya mengambil porsi yang sama dari kedua sisinya. Artinya, tetap harus ada negatif didalam positif dan tetap harus ada positif didalam negatif.

Meski ini adalah wujud keseimbangan absolute, sayang kita masih memegang belenggu untuk membuka mata dan menyaksikannya dengan jelas. Belajar untuk menjaga diri tetap netral sebagaimana energy pembentuk adalah rahasia kecil menuju keseimbangan. Ini adalah pelajaran kita untuk terus belajar bersamaNYA.


Salam Semesta

Copyright 2020  © www.pesansemesta.com

  •  
  •  
  • 0
  • April 20, 2020
admin16 admin16 Author

BAGAIMANA SEBENARNYA HEALING FREQUENCY ATAU FREKUENSI PENYEMBUHAN BEKERJA?



Sahabatku… Sebagian kita mungkin sudah terbiasa mendengar istilah healing frequency atau frekuensi penyembuhan. Namun tahukan kita bagaimana sebenarnya penyembuhan ini bekerja dan seberapa efektifkah teknik ini dalam membentuk kesembuhan?

Kalau kita penasaran dengan bagaimana cara kerjanya mari kita pelajari melalui artikel ini. Dari sini akan menjadi jelas kalau healing frequency itu bukan karya mistis belaka.

Sahabatku… Dasar dari energy healing, healing frequency, healing vibration, quantum healing atau apapun kita menyebutnya adalah fisika quantum.

Jadi begini, tentunya kita semua sudah mengetahui tubuh atau jasad manusia terdiri dari sejumlah organ-organ biologis yang menjalankan fungsi spesifiknya. Ada lebih dari 12 sistem yang mengatur organ-organ dalam jasad manusia untuk ratusan pekerjaan teratur yang senantiasa dikerjakan.

Seluruh pembentukan sistem jasad dimulai dari dua sel yang menyatu, lanjut tumbuh dan terus bertransformasi tanpa henti. Selama berjam-jam, berhari-hari, sampai berbulan-bulan, organisme berubah dari sel tunggal (zigot) menjadi kumpulan sel, jaringan, dan organ yang besar dan terorganisir.

Secara kasat mata memang sel tidak akan pernah terlihat. Sel hanya akan terlihat saat seseorang menyaksikannya dari bawah mikroskop, dari sanalah baru terlihat bagian-bagian sel yang membentuk tubuh kita. Meski sel tampak begitu kecil, tapi mereka hidup dan sangat sadar dengan apa yang sedang mereka lakukan.

Jadi bagaimanapun wujud jasad kita sekarang. Apapun yang kita lihat dan sentuh sebagai bagian jasad manusia. Begitu juga dibalik setiap organ yang sedang kita gunakan semuanya hanya tersusun dan terbentuk dari sel. Apabila sekarang kita menyentuh kulit wajah kita, maka itu hanyalah kumpulan jutaan sel-sel. Tangan yang menyentuh itupun hanyalah kumpulan sel-sel. Jantung kita adalah kumpulan sel-sel, paru-paru, ginjal, hati, darah begitupun juga otak kita.

Hal yang unik mulai muncul saat kita bertanya apa yang membentuk sel? Kalau sel-sel saling menyatu, bekerjasama untuk membuat dan membentuk jasad kita. Lalu apa yang sedang menyatu, bekerjasama untuk membentuk sel?

Faktanya sel bukanlah bentuk akhir terkecil dari segala organisme. Saat kita memecah sel maka kita akan menemukan banyak ikatan molekul. Molekul-molekul yang saling terikat inilah yang lalu membentuk sel. Terdapat ribuan ikatan molekul berbeda dalam tubuh manusia, semuanya melayani tugas-tugas penting, yaitu membentuk sel-sel yang harus bekerja membentuk jasad hidup kita.

Namun molekul belum menjadi bagian tersulit dari jasad manusia, kita masih memiliki atom yang sebegitu kompleksnya menyusun dan membentuk molekul. Molekul-molekul selalu terdiri dari rangkaian atom yang terhubung.

Misalnya dikatakan kalau tubuh manusia 60-70% adalah air, maka didalam jasad kita sekarang terdapat molekul kecil yang terdiri dari dua atom hidrogen dan satu atom oksigen (H2O). Lalu apa jadinya kalau kita masuk kedalam atom?

Fisika kuantum sudah menetapkan dengan spektakuler kalau atom adalah 99,99999% energi, dan 0,00001% zat fisik. Jika kita mengamati komposisi atom dengan mikroskop elektron tercanggih, kita akan melihat pusaran kecil seperti tornado, dengan sejumlah pusaran energi bergetar yang hampir tidak berbentuk dan terlihat seperti bentuk fisik apa-apa. Itulah kenapa sudah ditetapkan kalau energy adalah kekosongan fisik.

Menakjubkannya, segalanya tentang jasad kita hanya terbentuk dari energy atau kekosongan fisik ini. Itulah kenapa kalau energy tidak pernah masuk kedalam kategori ilusi. Karena kalau dikategorikan ilusi, maka semesta termasuk kita akan menjadi ilusi-ilusi yang terlalu bermakna untuk hanya disebut ‘ilusi’.

Jadi secara harfiyah dapat diartikan kalau hidup di dimensi fisik berarti hanya hidup di permukaan paling atas saja. Ada permukaan di dalam fisik kita sendiri yang tidak bisa disaksikan begitu saja, yaitu energy. Setiap energy bekerja dengan getaran dan setiap getaran menghasilkan frekuensi lalu menarik frekuensi yang sama.

Meski pekerjaan ini tidak terlihat oleh mata kita, tapi bukan berarti pekerjaan ini tidak terjadi. Proses pada dimensi energy (mikrokosmos) ini bekerja tanpa henti meski yang kita mampu lihat hanyalah permukaan dimensi atasnya saja (makrokosmos).

Nah, pada permukaan mikrokosmos yang tidak terlihat inilah healing frequency bekerja.

Saat kita sakit, lalu berobat ke dokter untuk menerima tindakan medis dan obat. Maka kita bekerja pada permukaan atas atau kita bisa menyebutnya makrokosmos. Healing frequency tidak bekerja pada permukaan makrokosmos melainkan mikrokosmos, yaitu langsung pada permukaan energy pembentuknya.

Kalau kita bertanya mana penyembuhan yang lebih baik?

Jawabannya adalah kita tidak akan pernah bisa memilih. Apapun yang kita lakukan pada dimensi makrokosmos selalu akan mempengaruhi dimensi mikrokosmos. Begitu juga sebaliknya, saat kita mencoba menghubungkan diri ke dalam dimensi mikrokosmos dan mulai memperbaikinya, maka hasilnya akan mempengaruhi dimensi makrokosmos. Hal yang paling terbaik adalah kita melakukan keduanya secara bersamaan sebagai bentuk ikhtiar kita untuk menerima penyembuhan yang lebih optimal.

Masalahnya sekarang tidak semua kita memahami bagaimana caranya menghubungkan diri ke dimensi mikrokosmos untuk memperbaiki energy yang bekerja tidak harmonis?

Jadi begini, kalau pada dimensi makrokosmos kita menyebutnya penyakit. Tapi kalau pada dimensi mikrokosmos kita menyebutnya ketidakharmonisan.

Karena pada dimensi mikrokosmos, segala penyakit terjadi karena adanya ketidakharmonisasi energy. Apabila energy yang membentuk jasad manusia sudah tidak saling bekerja dengan harmonis maka penyakit pun muncul.

Harap diketahui, kalau energy itu bersifat netral tergantung bagaimana energy itu dibentuk. Artinya, energy itu bisa menjadi harmonis (sehat) atau tidak harmonis (sakit) tergantung dari bagaimana kita (sebagai pembentuk energy) membentuknya.

Jadi apabila kita bertanya kenapa ketidakharmonisasi energy ini terjadi? Maka jawabannya adalah karena kita telah melakukan sebab akibat yang salah pada dimensi makrokosmos. Sekali lagi ingat! Keduanya saling berhubungan.

Boleh jadi ketidakharmonisasi itu penyebabnya adalah pola hidup yang salah, paparan virus atau mikroba, kontaminasi racun, stress yang berlebihan dan lainnya.

Healing frequency atau frekuensi penyembuhan bekerja dengan mengharmonisasikan kembali energy yang sudah terlanjur terbentuk tidak harmonis itu. Dimana kita mulai membentuk kembali energy agar bekerja harmonis untuk menarik frekuensi kesembuhan.

Karena apabila dimensi mikrokosmos kita sudah terbenahi dengan baik, maka pasti dimensi makrokosmos kita pun akan ikut membaik. Bagi mikrokosmos kesembuhan adalah energy-energi yang saling bekerja secara harmonis.

Logikanya sederhana! Setiap sel yang membentuk tubuh kita, baik itu sel yang sehat atau pun sel yang sakit adalah energy. Apabila energy yang bergetar untuk membentuk sel kita harmonis, maka sudah dipastikan sel yang dihasilkannya pun akan harmonis. Mikrokosmos mempengaruhi makrokosmos.

Tapi sedemikian besarnya usaha kita mengharmonisasikan energy untuk mencapai kesembuhan pada dimensi mikrokosmos itu tidak akan pernah terjadi apabila kita mengesampingkan dimensi makrokosmos kita.

Ambil contoh, kita tidak bisa mengharmonisasikan energy seorang perokok yang terkena penyakit paru-paru apabila pada dimensi mikorkosmos seseorang yang sakit itu masih terus merokok, terpapar polusi dan terus hidup dengan pola yang tidak sehat.

Sebab akibat itu selalu berlaku, baik di dimensi mikrokosmos atau dimensi makrokosmos.  Dimana akal kita yang telah dianugerahkan oleh Dzat Maha akan sangat digunakan untuk menentukan hasilnya.

Profesionalitas seseorang dalam menggunakan akalnya untuk menentukan sebab akibat kesembuhannya sangat digunakan dalam proses healing frequency. Dan inilah alasan utama kenapa kami katakan, kalau healing frequency tidak pernah menjadi karya mistis belaka. Karena selama akal masih digunakan, maka selamanya itu tidak pernah menjadi karya mistis.

Bagaimanapun terbatasnya diri kita memahami dirinya sendiri, kita tetap diberi pilihan untuk menggunakan akal jernih kita untuk membuat sebab terbaik untuk akibat terbaik. Baik itu pada dimensi makrokosmos atau pun dimensi mikrokosmos. Akal kita tetap harus digunakan pada dimensi manapun kita beraksi.

Jadi bagaimana sahabatku… Sudah siapkah kita untuk belajar healing frequency?

Selanjutnya kita akan mempelajari bagaimana caranya tiap individu masuk kedalam dimensi mikrokosmosnya sendiri untuk mengharmonisasikan kembali energinya. Tentunya sambil terus melakukan sebab akibat terbaik pada dimensi makrokosmosnya. Kita semua bisa melakukan healing frequency, semua kita adalah seorang healer. Ini merupakan anugerah-NYA yang gratis bagi mereka yang mau mempelajari ilmu-NYA.

Nantikan artikel kami selanjutnya… Sambil menunggu mohon mulai merenungi setiap apa yang kita saksikan dalam hidup ini, karena ternyata apapun yang terlihat hanyalah kekosongan bermakna yang kita sebut anugerah.  Lalu sahabatku… makna apa yang akan kita buat dengan semua anugerah ini?

Salam Semesta

Copyright 2020 © www.pesansemesta.com




  • 0
  • April 11, 2020
admin16 admin16 Author

OFFICIAL CHANNEL



FREE E-BOOK

3# FREE DOWNLOAD E-BOOK - MENJADI AIR

DATABASE

COPYRIGHT

Seluruh artikel didalam website ini ditulis orisinil oleh tim penulis Pesan Semesta. Artikel yang kami share melalui website ini bukan hasil jiplakan, kutipan atau terjemahan.

Bagi pembaca yang ingin menghubungi penulis silahkan mengrim pesan melalui email : pesansemesta@yahoo.com


SALAM SEMESTA