Pesan Semesta.
melampaui batas menjadi satu

MENJADI SEMESTA YANG DINAMIS – BAGAIMANA CARANYA MEMBUAT PERUBAHAN NYATA?

 


Seorang sahabat bertanya “min saya seperti sangat bosan menjalani hidup yang tidak berubah-rubah. Bisa di share bagaimana caranya membuat perubahan mumpung mau tahun baru?”

Sebagian kita mungkin ada yang merasa kalau tahun ini dirinya hanya terkurung dalam lingkaran yang sama. Tidak ada perubahan sama sekali. Aliran hidup terasa sangat sama dan hanya semakin menyesak. Goal tidak ada yang tercipta apalagi teraih. Jiwa seperti terjeruji dalam dimensi yang sama tanpa bergeser.

Sahabatku… Apabila Dinamis masih menjadi kata positif yang sulit dimulai apalagi dijalani. Maka semoga jawaban dari semesta ini membantu.

Seorang bijak pernah berkata : “Kenali dirimu sendiri; cintai dirimu sendiri; jujurlah pada dirimu sendiri.”

Jadi sebelumnya mari kita bersyukur dahulu dengan rasa-rasa itu. Karena rasa-rasa yang sama sekali tidak enak itu menjadi pertanda kalau memang sudah saatnya kita kembali kepada salah satu keniscayaan semesta, yaitu ber-dinamis.

Dinamis adalah nama tengah semesta. Perhatikanlah siang yang menjadi sore lalu malam. Atau perhatikanlah panas yang menjadi hangat lalu dingin. Bukankah kedua hal sederhana ini adalah gradasi semesta yang dinamis?

Lihatlah lagi, air mengalir, angin berhembus, tanah bergeser, darah bersirkulasi, musim berganti, bukankah ini-ini juga adalah contoh dinamisnya semesta?

Iya sahabatku, dinamis adalah keniscayaan yang menjadi diri kita. Sangat wajar kalau kita menjadi bosan dan menjadi ingin berubah untuk menjadi sesuatu yang baru yang lebih baik.

Semua rasa bosan itu hanyalah kail yang mengajak tiap semesta untuk terus menjadi dinamis. Ajakan itu akan berujung pada aksi-aksi yang membentuk perubahan, sehingga dinamisnya semesta bisa terjadi akibat aksi yang dilakukan.

Rasa bosan men-trigernya. Jadi jangan dahulu mengutuk rasa bosan. Kami pernah membuat video tentang alasan positif dari rasa bosan yang bisa di-klik disini : https://www.youtube.com/watch?v=ovABAXXtnAs

 

Kembali lagi, JADI BAGAIMANA CARANYA MEMBUAT PERUBAHAN NYATA?

Jawaban sebenarnya sangatlah singkat. Hanya satu, yaitu ber-AKSI dengan cara yang benar.

Dalam singkatnya jawaban ini muncul pertanyaan pertama, yaitu sudahkah kita ber-aksi?

Aksi itu adalah rencana yang dilaksanakan. Apabila diri kita sudah merencanakan perubahan, maka satu-satunya cara agar perubahan terjadi adalah dengan merubahnya.

Merubah adalah kata kerja. Jadi harus ada proses yang harus mau kita lakukan sampai kata perubahan bisa berwujud.  Sementara SATU SYARAT agar perubahan bisa berwujud adalah merubah dengan cara yang benar.

Dari sini muncul pertanyaan kedua, yaitu bagaimana caranya menemukan cara yang benar?

Untuk menemukan cara yang benar, maka harus ada trial dan error dalam pelajaran. Ketidakteraturan akan mendatangkan keteraturan.

Mungkin saat ini kita masih berada dalam pelajaran trial dan error ini. Makanya perubahan yang kita rencanakan, belum berwujud apa-apa. Apa yang harus kita lakukan dalam proses ini adalah bersabar.

Iya, bersabarlah!

Sahabatku… Bersabar adalah pilihan kekuatan berdaya besar apabila dilakukan dalam arti yang sebenarnya.  

Sayangnya bersabar memang bukan tentang rasa yang indah. Ego kita yang halus pasti akan memangsa kita dari dalam. Pelan tapi pasti ego akan terus mencabik-cabik sabar yang sengaja kita pilih.

Lalu ego pula lah yang menimbulkan rasa bosan di dada saat kita berdiri untuk bersabar. Jadi kalau sudah begini, satu-satunya cara adalah kita harus memiliki kekuatan bersabar yang lebih besar dari pada ego kita sendiri.

Hal pertama yang harus kami luruskan disni, bahwa bersabar itu bukan menerima keadaan dengan berdiam tanpa melakukan apa-apa. Justru sebaliknya.

Kekuatan bersabar tidak akan menahan diri untuk terus berdiam dan berhenti.

Itulah kenapa apabila kita berhasil membentuk kekuan bersabar, maka kita akan tetap bersemangat dalam mencari jalan-jalan hidup dariNYA dan tidak berputus asa untuk terus memantaskan diri menerima ketetapanNYA yang terbaik.

Jadi begini, dalam hidup ini kita sudah dibuatkan hukum sebab akibat yang tidak bisa melenceng. Jadi kita harus teguh untuk terus memaksimalkan diri melakukan sebab terbaik untuk akibat yang kita harapkan. Keteguhan dalam melakukan sebab itulah yang kami maksud kekuatan bersabar.

Kami sebut kekuatan karena apabila kita melakukan sebab yang tepat, maka kita pasti akan menerima akibat yang tepat.  Ibarat doa yang selalu dikabul. Apapun perubahan yang kita rencanakan pasti akan terwujud. Hanya saja memang prosesnya tidak semudah dan seinstan itu. Tetap kita harus mau memaksimalkan diri.

 

Jadi ringkasannya adalah :

Apabila saat ini hidup kita belum berdinamis, maka cara memulai perubahannya adalah dengan merubah rencana menjadi aksi. Lalu, mencari aksi yang terbaik dan melakukannya sampai hasilnya muncul.

Apabila cara yang dilakukan belum mewujudkan perubahan, maka bersabarlah dan perkuatlah rasa sabar itu dengan terus ikhlas memaksimalkan potensi yang sudah dianugerahkan olehNYA untuk menemukan cara-cara lainnya. Sampai akhirnya kita berhasil melakukan sebab untuk menerima akibat yang sesuai dengan rencana awal.

Sahabatku… Perubahan tidak akan pernah terjadi begitu saja. Itulah kenapa manusia diperintahkan untuk bersabar dengan kesabaran yang baik.

Kesabaran yang baik adalah terus berusaha dengan sebaik-baiknya, lebih baik dari yang sebelumnya. Tanpa berkegalauan, tanpa bersedih hati dan ikhlas untuk menerima yang terbaik yang sudah ditetapkan sebagai hasil dari aksi-aksi yang dilakukannya.

Dengan cara inilah kita akan membentuk diri menjadi dinamisnya semesta yang mencerah dalam gradasi terindah. Sangatlah kompleks memang.

Sekali lagi, perubahan tidak akan pernah terjadi begitu saja. Sebuah sebab harus dilaksanakan terlebih dahulu. Karenanya teruslah melakukan sebab yang terbaik untuk akibat yang terbaik.

Selamat mewujudkan perubahan sahabatku… Bersabarlah

 

Salam Semesta

Copyright © www.PesanSemesta.com

  • 0
  • Desember 31, 2021
admin16 admin16 Author

THE POWER OF NOW – SATU KEKUATAN TERBESAR HIDUP DALAM MASA SEKARANG



Seorang sahabat bertanya "Bisa tolong dijabarkan, apa manfaat terbesar dari hidup dalam masa sekarang yang bisa kita terima?"
.
Sahabatku… Pertanyan pertama untuk memahami keseluruhan jawaban ini adalah, apa itu hidup dalam masa sekarang, kapan itu terjadi dan bagaimana agar itu terjadi?
.
Detik ini izinkan kami menjawabnya dengan jabaran yang lebih saintifik, sehingga kita bisa memahami keniscayaan waktu yang sebenarnya.
.
Hidup dalam masa sekarang adalah momen dimana kesadaran waskita dengan dirinya yang saat itu juga. Dimana kesadaran menjadikan apapun yang terjadi di masa lalunya hanya sebagai sumber informasi yang tertanam dalam memori, lalu kesadaran juga menjadikan masa depan hanya sebagai sumber gambaran sistematis dari apapun yang ingin dia aksikan pada masa sekarang.
.
Jadi hidup dalam masa sekarang hanya bisa terjadi kalau kesadaran mau menyadari kalau waktu tidak menciptakan masa lalu dan masa depan, tetapi hanya menciptakan masa sekarang.
.
Dalam biologis jasad kita, masa lalu dan masa depan hanyalah system pemrograman memori otak yang dikodekan dalam bentuk neuron-neuron. Dimana otak mengkodekan segalanya secara berurutan sesuai dengan urutan kejadiannya masing-masing. Otak juga mampu memproyeksikan gambar-gambar yang kita sebuat dengan masa depan dengan system yang sama.
.
Intinya secara biologis sudah terbukti kalau kita memahami masa lalu dan masa depan, karena otak berhasil memetakan bit-bit informasi ke dalam memorinya. Tanpa keberhasilan ini, maka kita hanya akan memahami masa sekarang saja, atau bisa saja kita tidak akan paham kalau masa sekarang adalah masa sekarang.
.
Lalu bagaimana dalam dunia fisika quantum? Kalau dalam dunia fisika kita mengenal bahwa gaya gravitasi yang besar juga dapat menekuk waktu dan ruang menjadi seperti bentuk corong. Jika dua corong bergabung, itu akan membuat lubang cacing. Jika kita memasuki satu jujung, kita bisa keluar di ujung yang lain dengan cara yang berbeda, tempat yang berbeda dan di waktu yang berbeda.
.
Namun kita juga tidak boleh lupa, kalau bahkan gravitasi adalah maasa yang bergerak didalam waktu. Artinya, setiap maasa memiliki waktunya masing-masing.
.
Manusia adalah materi, karenanya sudah pasti kita memiliki maasa. Segala sesuatu yang memiliki massa juga memiliki gravitasi. Benda dengan massa lebih besar memiliki gravitasi yang lebih besar. Gravitasi bumi berasal dari semua massanya. Semua massanya membuat tarikan gravitasi gabungan pada semua massa di tubuh Anda.
.
Artinya, setiap materi detik ini bergerak dengan waktunya masing-masing. Dan sudah menjadi keniscayaan kalau setiap materi semesta yang lain, senantiasa bergerak dengan masa sekarang.
.
Terlepas kita memilih fokus pada masa lalu yang adalah memori atau masa depan yang adalah permainan pikiran. Tetap apapun yang bisa terjadi hanya bisa terjadi sesuai sebab akibat yang kita lakukan detik ini. Karena detik inilah kesadaran kita mampu mengendalikan seluruh maasa yang adalah energy.
.
"Energi sama dengan massa kali kuadrat kecepatan cahaya" Pada tingkat paling dasar, persamaan mengatakan bahwa energi dan massa (materi) dapat dipertukarkan; mereka adalah bentuk yang berbeda dari hal yang sama.
.
Dalam kondisi yang tepat, energi bisa menjadi massa, dan sebaliknya. Prinsip ini dijelaskan oleh rumus terkenal fisikawan Albert Einstein: E = mc^2.
.
Itu pula mungkin yang dipikirkan oleh Einstein, dia menemukan bahwa waktu tidak absolut, tetapi relatif. Dimana dua jam yang sama yang telah disinkronkan dapat mengukur waktu yang berbeda jika satu bergerak dengan kecepatan tinggi sementara yang lain tetap diam.
.
Kami pernah membuat video singkat tentang waktu yang bisa ditonton ulang agar kita bisa lebih memahami konsep waktu agar lebih menyadarinya, sehingga kesadaran kita bisa membuat pilihan yang terbaik. (link video Memahami Makna Waktu https://www.youtube.com/watch?v=4INSC42n2Zw)
.
Kami sebut terbaik karena memang betul, hanya dengan hidup pada masa sekarang kita mampu mendapatkan SATU kekuatan besar yang tidak bisa kita dapatkan di waktu yang lain, yaitu KEKUATAN MENGENDALIKAN ENERGI.
.
Secara tidak langsung manusia sudah menjadi pengendali energy. Tetapi apabila manusia mampu secara sadar mengendalikan energy yang dikendalikan pada masa sekarang, maka hasilnya akan lebih kuat lagi.
.
Kita tidak hanya bisa mengendalikan energy untuk membuat kebahagiaan, namun juga untuk membuat kesedihan. Kita tidak hanya bisa mengendalikan energy untuk membentuk kemakmuran, tapi juga kita bisa mengendalikan energy untuk membentuk kebobrokan.
.
Apapun itu bisa dikendalikan. Hidup adalah tentang pengendalian. Jasad kita bergerak dalam pengendalian. Bumi ini bergerak dalam pengendalian. Setiap sel yang terbentuk dari atom bergerak dalam pengendalian.
.
Jadi dalam hidup ini manusia memiliki dua pilihan, dikendalikan atau mengendalikan. Kalau Anda memilih yang kedua, maka hiduplah dalam masa sekarang! Minimal dengan itu kita masih bisa mengendalikan apa yang harusnya kita kendalikan, yaitu nasib kita sendiri.
.
Sahabatku… Sampai detik ini sebuah pilihan harus dipilih. Kekuatan itu adalah pilihan. Seorang pemimpin harus memilih mewujudkan mimpinya dan bukan memilih memimpikannya. Kalau setiap kita mendambakan perubahan yang makmur dan membahagiakan, maka kita harus merubahnya.
.
Waktu tidak membawa perubahan. Semestanya lah yang bergerak, berkembang dan berubah. Jadi semua tentang apa yang bisa kita lakukan di dalam waktu. Bukan apa yang waktu lakukan kepada kita.
.
Waktu hanya melakukan satu hal berharga, yaitu memberi kita kesempatan ber-aksi.Tapi waktu sendiri tidak pernah mendikte aksi-aksi kita. Waktu akan terus menatap kita dalam kenetralan.
.
Apapun itu yang kita lakukan. Bahkan saat kita tidak beraksi sama sekali, waktu akan tetap menghargai kita dengan terus memberi kesempatan. Jangan sia-siakan kesempatan yang kita genggam dalam detik ini juga sahabatku…
.
Bayangkan sebentar detik ini, apabila kita hanya mendapat kesempatan waktu 50 tahun, maka hitungannya didalam bumi selalu akan sama, yaitu selama 438.000 jam. Namun waktu 438.000 jam yang terus berkurang itu tidak akan memberi makna apa-apa. Aksi-aksi kitalah yang akan memberinya makna.
.
Kalau misalkan detik ini dari jatah 438.000 jam itu, sudah kita gunakan selama 289.080 jam. Maka apa yang akan kita lakukan untuk 148.920 sisa waktu kita? Tentu kita akan membuatnya bermakna bukan?
.
Tentunya kita tidak akan sekedar diam sampai makna itu menghampiri. Karena waktu tidak bisa melakukan apa-apa. Kesadaran kitalah yang akan melakukan banyak hal dalam semesta ini.
.
Dalam kerendahan diri seorang makhluk yang menggenggam kebesaranNYA dan kesempatan yang diberikan semesta kita akan melakukan segalanya dengan netral.
.
Jadi apabila kemarin kita bertanya bagaimana cara agar selalu hidup di masa sekarang? Maka jawabannya adalah tiga, yaitu BERGERAKLAH… BERAKSILAH… BERILAH MAKNA PADA TIAP DETIK HIDUP KITA DALAM KENETRALAN.
.
Jangan menilai kecil atau besar. Ingat selalu, waktu tidak bisa melakukan apa-apa. Waktu akan selalu menjadi anak penurut.
.
Begitulah SANG PENCIPTA menciptakannya hanya agar kita tidak lupa untuk bergerak dalam pusaran kasih sayangNYA untuk menjadi penyebar rahmatNYA bagi semesta alam.
.
Seharusnya memang hanya seperti itulah kita hidup, mari kita memulainya kembali detik ini. Kita tidak pernah terlambat. Keterlambatan hanyalah kesadaran yang belum memilih untuk tidak terlambat. Pilihlah sahabatku… Pilihlah sebelum kesempatan itu terhenti.
.
.
.
Salam Semesta

Copyright 2021 © www.pesansemesta.com
Subscribe : https://www.youtube.com/c/pesansemesta
  • 0
  • Desember 24, 2021
admin16 admin16 Author

TIGA CARA MUDAH MEMBENTUK FREKUENSI YANG BAIK

Sahabatku… Dalam hidup ini tidak ada kebaikan yang berdiri sendiri kecuali keburukan selalu ikut menyertainya. Seperti sepasang teman sejati yang saling menurut, mereka selalu bergandeng tangan.

Hanya saja meski baik dan buruk adalah poros keseimbangan. Tapi cobalah untuk senantiasa memenangkan kebaikan. Saat dimenangkan keburukan tidak akan hilang memang, tapi paling tidak bisa terganti.

Karenanya cobalah untuk tetap membentuk frekuensi yang baik dari dalam diri, untuk diri dan planet ini. Putihkan selalu frekuensi kita yang abu-abu meski kita tahu mungkin besok akan kembali abu-abu.

Anggaplah satu-satunya kebaikan tidak bisa menjadi abadi, adalah karena kita harus selalu bergerak untuk menjadi pemantul kebaikanNYA. Jadi tidak apa kalau frekuensi kebaikan kita harus naik dan turun, yang terpenting adalah kita menyadari diri saat frekuensi kita buruk untuk kembali membentuknya baik.

Lalu, bagaimana caranya membentuk frekuensi yang baik?

 

Pertama: Berbicalah yang baik kepada diri sendiri

Kata-kata mengandung unsur getaran, yang memainkan peran vital dalam skema agung semesta. Semakin baik kalimat maka semakin tinggi frekuensinya. Sebaliknya, semakin buruk kalimat maka semakin rendah frekuensinya.

Inilah yang menjadi alasan kenapa setiap kalimat memiliki frekuensi tersendiri dan mampu mengubah molecular.

Jadi sahabatku… Selalu hindari self talk (berbicara kepada diri) yang tidak baik. “Berkatalah yang baik atau diam” tapi berhati-hatilah juga dalam diam, karena self talk tidak harus bersuara.

Self talk bisa berasal dari getaran pikiran. Dalam keseharian sel-sel otak secara konstan menerima informasi tentang lingkungan kita. Lalu melalui cara kita mengelola informasi itulah kita membentuk getaran pikiran.

Setiap getaran pikiran selalu bergetar melalui sistem saraf dan dibaca oleh tubuh sebagai sebuah instruksi, yang oleh otak kemudian dibuatkan representasi nyata perubahan kimia yang kompleks melalui berbagai jenis neuron dan neurotransmiter.

Artinya, tubuh kita berubah tergantung bagaimana kita berkomunikasi dengannya. Hasil komunikasi ini akan memancar menjadi frekuensi diri sendiri. Lalu frekuensi internal ini akan terus menarik frekuensi eksternal yang sesuai.

Jadi sahabatku… Kalau kita ingin terjebak dalam frekuensi yang baik, maka salah satu caranya adalah dengan terus membentuk frekuensi yang baik melalu self talk yang baik.

 

KEDUA : TERIMALAH APAPUN YANG ADA DI HADAPAN

Penolakan adalah frekuensi yang buruk. Jadi apakah kita harus selalu menerima yang tidak kita suka? Jawabannya adalah iya. Terimalah untuk nanti merubah kondisinya, atau minimal terimalah untuk merubah emosi negatifnya.

Dalam rasa penerimaan seseorang akan membentuk welas asih terhadap diri sendiri. Kalau dihitung dalam angka getaran frekuensi welas asih bergetar dalam frekunsi 540-600 MHz, sangat tinggi!

Sahabatku…  Cara kedua ini tidak semudah cara pertama. Dalam cara kedua ini kita harus benar-benar dalam kondisi pengendalian diri yang penuh, yaitu kita mengendalikan diri untuk memaklumi. Memaklumi apa yang diluar agar tidak menggangu yang didalam, dan tidak menggangu yang diluar.

Jadi begini, penelitian dasar menunjukkan bahwa informasi yang berkaitan dengan keadaan emosi seseorang dikomunikasikan ke seluruh tubuh melalui medan elektromagnetik jantung.

Itulah yang menyebabkan pola detak jantung berirama, berubah secara signifikan menyesuaikan tiap emosi yang berbeda.

Saat kita mengalami emosi negatif pola detak jantung menjadi tidak menentu, tidak teratur, dan tidak koheren dalam ritme jantung.  Sebaliknya, saat mengalami emosi positif, seperti cinta atau kedamaian, pola detak jantung yang terjadi lebih halus, teratur, dan koheren dalam aktivitas ritme jantung.

Jadi pola detak jantung manusia memang berubah-rubah sesuai struktur medan elektromagnetik yang dipancarkan oleh jantung.

Tentunya medan elektromagnetik ini berpengaruh 100% pada hasil resonasi frekuensi tubuh normal kita. Tapi tidak hanya sampai disini saja. Elektromagnetik manusia dan geomagnetik Bumi juga ternyata saling terhubung dan saling memberi pengaruh.

Hasil percobaan menunjukkan, ketika orang menyentuh atau berada dekat dengan sesuatu atau seseorang, terjadi pemindahan energi elektromagnetik yang dihasilkan oleh jantung. Ini adalah bukti kuat penelitian yang menunjukan bahwa kita memang satu dengan semesta dan isinya. Sementara semesta yang paling dekat dengan kita adalah bumi ini.

Jadi tanpa terlalu kita sadari ektromagnetik kita memiliki andil yang cukup besar dalam mempengaruhi geomagnetic Bumi.

Frekuensi baik dari welas asih yang sengaja kita bentuk bukan hanya untuk diri kita sendiri. Namun untuk semesta alam yang luas. Bukankah ini adalah rahmatNYA bagi semesta alam?

 

KETIGA : MAKAN DAN MINUMLAH YANG BAIK-BAIK

Meski ini terkesan sangat sepele, namun pastikan apa yang kita makan dan minum benar-benar menunjang keseimbangan frekuensi tubuh bukan malah sebaliknya.

Karena tahukah kita bahwa makanan memiliki frekuensi juga? Ini benar! Sama seperti materi yang kita anggap hidup. Seluruh materi yang kita anggap mati juga seperti makanan atau segelas minuman pun, kalau diukur akan mengeluarkan elektromagnetik dengan berbagai ukuran angka.

Apa yang kita makan atau minum masing-masing memiliki frekuensi dan tentunya setiap frekuensi memiliki dampak yang mampu mempengaruhi frekuensi pada tubuh kita juga. Jadi apabila kita masih bisa memilih yang baik-baik, maka pastikan diri untuk memilihnya.

Pilihan baik disini sifatnya relatif. Harus ada penyesuaian agar tercipta keseimbangan yang harmonis. Masalahnya siapa yang paling tahu seperti apa keseimbangan dirinya selain dirinya sendiri, bukan?

Kebaikan itu butuh keseimbangan. Sistem operasi jasad kita sendiri sudah paham betul akan hal menjaga keseimbangan ini. Dalam tubuh kita terdapat racun dan penawaran yang selalu ditakar untuk seimbang.

Buktinya, tubuh butuh kolesterol. Salah satu lapisan luar sel tubuh manusia dibuat oleh kolesterol untuk melindungi sel-sel tubuh kita. Tapi jumlahnya harus seimbang karena kalau terlalu banyak kolesterol akibatnya akan berbeda. Begitu juga dengan hormon kortisol, terlalu banyak atau terlalu sedikit jumlah kortisol bisa menyebabkan masalah bagi kesehatan.

Saat kita berbicara tentang keseimbangan, maka kita akan berbicara tentang berdiri di tengah kubu dan hanya mengambil porsi yang sama dari kedua sisinya. Artinya, tetap harus ada negatif didalam positif dan tetap harus ada positif didalam negatif.

Karena itu, kenalilah diri sendiri. Dengan mengenali diri sendiri kita akan mengenali kebutuhan jasad kita dan menyeimbangkannya dengan harmonis. Jadikan alasan utama kita makan serta minum adalah karena kita mencintai jasad ini, dan bukan sekedar karena alasan pemenuhan keinginan.

Alasan adalah getaran pikiran. coba pikirkan, kalau sebuah alasan sudah dibentuk baik, maka apakah getaran itu tidak bisa membentuk frekuensi yang baik?

Pastinya, iya bukan. Tidak terlihat, tapi bukan berarti tidak ada yang bekerja. Meski mata ini buta untuk melihat cara kerja frekuensi membentuk sebab-akibat, tetap jangan biarkan akal ikutan buta. Karena, inilah salah satu makna kita dianjurkan untuk berdoa sebelum makan atau minum yang sebenarnya, kalau benar-benar mau memikirkannya lebih dalam.

----

Akhir kata sahabatku… Frekuensi baik butuh penyeimbang frekuensi buruk. Dalam frekuensi buruk kita memiliki pilihan untuk membentuk frekuensi baik. Begitu juga dalam frekuensi baik, kita bisa membuat pilihan untuk membentuk frekuensi buruk.

Hidup adalah dinamika yang akan terus terjadi sesuai dengan pilihan. Belajar membentuk frekuensi baik akan selalu berujung pada pilihan. Nikmatilah proses kita belajar memilih. Frekuensi kebaikan selalu dibentuk dalam pilihan yang dinikmati.

 

Salam Semesta

Copyright © www.PesanSemesta.com

Subscribe : https://www.youtube.com/c/pesansemesta 


  • 0
  • Desember 17, 2021
admin16 admin16 Author

MANFAAT BERPIKIR JAUH BAGI EVOLUSI OTAK – PENJABARAN SAINTIFIK


 

Dahulu Tesla dianggap gila karena memiliki salah satu ide paling aneh di zamannya, yaitu memotret pikiran. Pada tahun 1933, dia mengatakan kepada wartawan di Kansas City Journal-Post,

“Pada tahun 1893, ketika terlibat dalam penyelidikan tertentu, saya menjadi yakin bahwa gambar tertentu yang terbentuk dalam pikiran, harus dengan tindakan refleks, menghasilkan gambar yang sesuai pada retina, yang dapat dibaca oleh peralatan yang sesuai….. Jika ini berhasil dilakukan, maka objek yang dibayangkan oleh seseorang akan tercermin dengan jelas di layar saat mereka terbentuk, dan dengan cara ini, setiap pikiran individu dapat dibaca. Pikiran kita kemudian, memang, akan menjadi seperti buku terbuka.”

Pernyataan Tesla ini dianggap tidak waras, hanya karena Tesla berhasil berpikir lebih jauh dari manusia disekitarnya. Jadi sahabatku… Apakah Anda suka berpikir jauh juga?

Berbeda dengan berangan-angan. Berpikir jauh lebih kepada melihat masalah, lalu memaksimalkan kinerja otak untuk menelaah, dan memberi solusi yang mampu merubah masalah menjadi tidak ada masalah.

Singkatnya melalui berpikir jauh kita memberi evolusi kepada kehidupan yang diluar dan juga yang didalam. Karena tahukah kita, kalau otak kita akan terus mengalami evolusi saat kita mampu berpikir jauh.

Evolusi otak manusia didapat dari prosesnya mengelola pikiran. Otak akan bertambah bagus apabila kita mampu terus meningkatkan kualitas berpikir kita.

Kenapa bisa begini?

Secara biologis, pada otak manusia yang normal ada sebuah alur besar yang disebut dengan fissures, alur kecil yang disebut dengan sulci dan lipatan luar yang disebut dengan gyri yang mengikuti pola setiap orang. Artinya, setiap manusia memilikinya tapi dengan pola yang berbeda. Pola ini berubah ketika seseorang mulai berpikir.

Dalam proses berpikir, baik melalui aktifitas belajar, membaca, memecahkan masalah, dll para peneliti menemukan rangsangan-rangsangan yang diterima sinapsis.

Sinapsis adalah neuron-neuron yang saling berhubungan. Semakin banyak rangsangan yang diterima sinapsis semakin banyak jumlah neuron yang terhubung dan menjadi aktif. Sementara semakin banyak neuron yang terhubung dan menjadi aktif akan meningkatkan kinerja otak manusia.

Semakin kita mempraktikkan kebiasaan berpikir maju, semakin banyak neuron yang sama akan belajar untuk bekerja sama dan saling bersatu membentuk sinapsis. Semakin ruwet atau banyaknya sinapsis yang terbentuk di dalam otak seseorang, menunjukkan bahwa orang tersebut sering memikirkan berbagai hal baru, sebagai rangsangan bagi neuronnya sendiri.

Jadi intinya adalah, berpikir dapat mengubah otak. Penemuan ilmiah tentang otak ini menjadi bukti kuat, kalau sebuah evolusi bisa terjadi apabila diri mau mulai berpikir setingkat lebih jauh dari apa yang dipikirkannya saat ini.

Apakah ini bisa menjadi solusi. Jelas iya! Apabila kita mau mengkombinasikan proses berpikir jauh dengan passion (hasrat diri). Maka jelas setiap manusia akan menjadi cerdas dengan porsinya masing-masing. Kecerdasan yang mampu membantu tiap diri untuk berperan semaksimal mungkin sesuai dengan passionnya, untuk berperan menjadi penyebar kemakmuran bagi semesta alam.

Sampai disini, memang fakta ini benar-benar menampar balik begitu banyak kesengsaraan di masyarakat kita yang masih percaya kecerdasan berpikir sangat tergantung dengan otak. Padahal fakta yang berlangsung adalah sebaliknya. Kecerdasan otak kita sangat tergantung kemauan kita dalam berpikir.

Faktanya Otak hanyalah wadah terbentuknya pola pikir, otak hanyalah bentuk fisik. Bagian terpenting, adalah bagaimana kita memprogram otak agar bekerja sesuai dengan cara yang sesungguhnya. Intinya, otak tidak mengendalikan kita, tapi kitalah yang mengendalikan otak.

Jadi evolusi otak, bukan tentang otak kita yang bodoh. Tapi tentang otak yang tidak dipakai, hingga akhirnya menjadikan otaknya bukan bodoh, tapi BELUM berfungsi. Andaikan otak kita mau diajak berfungsi, maka pastinya ia akan cerdas – bijak dan mampu berpikir mendalam juga guna menyelesaikan masalah-masalah yang sedang kita hadapi.

Betul memang ada banyak suplemen penambah neuron, namun jumlah neuoron yang makin banyak tanpa diiringi dengan adanya aktifiatas sinapsis, maka hanya akan menjadi neurorn-neuron tak berarti yang dalam beberapa waktu kemudian akan mati. Jadi tetap, otak harus difungsikan. Dan cara terbaik untuk memfungsikan otak adalah dengan berpikir jauh.

Sahabatku… Satu kata yang kita pelajari dari tulisan kecil kita kali ini adalah ‘kemauan’. Setiap manusia sudah ditakdirkan memiliki otak, dan sudah ditakdirkan pula memiliki kemampuan berpikir. Dua paket berharga. Tapi bagaimana hasilnya (nasibnya) tergantung dari hukum sebab akibat yang kita pilih berdasarkan kemauan kita sendiri.

Seorang pemimpin pastinya harus memiliki kemauan yang kuat untuk berhasil. Sebagai pemimpin, tentunya kita terlebih dahulu harus mampu melakukan kepemimpinan yang baik kedalam menuju keluar. Lalu apa yang akan kita pikirkan untuk memaksimalkan anugerah penciptaan ini?

 

Salam semesta


Copyright 2021  © www.pesansemesta.com

Subscribe : https://www.youtube.com/c/pesansemesta


  • 0
  • Desember 03, 2021
admin16 admin16 Author

MENJADI WASKITA



Salah satu pilar yang diajarkan dalam kewaskitaan adalah menjadi waspada dengan apa yang berlangsung di dalam diri dan di luar diri. Pertanyaannya; Mampukah kita menerapkan pilar kewaskitaan ini dalam hitungan yang singkat, atau kita harus melalui jalan yang panjang? Sederhananya, bagaimana MENJADI WASKITA DENGAN SINGKAT?

Sahabatku… Hitungan singkat selalu akan terjadi berdasarkan pilihan. Apa yang kita pilih detik ini selalu akan menentukan akhir yang nanti. Begitulah takdirnya dibentuk. Sudah menjadi takdirnya kalau kita bisa menentukan nasib kita sendiri, kalau kita mau.

Singkat atau lama hanyalah pilihan bagi yang mau memilih.

Hidup adalah masalah pilihan. Kita memilih pilihan setiap hari di setiap langkah hidup kita. Dari saat kita bangun, hingga saat kita kembali tidur. Setiap pilihan-pilihan yang kita pilih akan menuju ke banyak cabang pilihan-pilihan yang lain juga.

Apakah pilihan yang kita pilih ini adalah takdir? Bukan, takdir adalah kata yang terlepas dari pilihan. Segala macam pilihan manusia, baik dia sadari ataupun tidak disadari masuk ke dalam sistem hukum sebab akibat, dan hasil akhirnya adalah nasib.

Pagi ini Anda tidak berhati-hati saat memegang secangkir kopi panas, hingga kopi panas itu tumpah ke seluruh badan Anda. Hasilnya badan Anda pun terpaksa harus kepanasan dan melepuh, hasil dari rentetan kejadian ini bukan takdir melainkan nasib.

Sebab-akibat akan terus bergulir. Kalau kita mampu menyadari prosesnya, maka itulah menjadi waskita. Inilah yang menjadikan waskita itu bukan sebagai sebuah tingkatan. Melainkan keberadaan kesadaran diri yang mampu mengendalikan dirinya sendiri. Baik itu mengendalikan dirinya ke dalam dirinya sendiri atau mengendalikan dirinya ke luar dirinya.

Jasad, jiwa dan ruh yang menjadi komponen utuh diri kita saat ini bekerja di bawah kendali kesadaran. Apa yang dihasilkannya juga akan selalu menjadi kesadaran dan berdasarkan kesadaran.

Masalahnya, sudahkah kita mengenal keberadaan kesadaran diri yang berperan ini?  Kalau jawabannya adalah iya, maka kita sudah dekat dengan kewaskitaan.

Kewaskitaan tidak akan pernah hadir kalau diri masih belum bisa melihat betapa besar takdir yang digenggamnya sendiri. Itulah kenapa sebelum waskita seseorang harus mengenal diri.

Perjalanan mengenal diri sendiri tidak bisa berujung. Diri ini adalah semesta kecil yang sesak ilmu. Kematian jasad tidak akan menghabisi ilmuNYA yang sedang dibawa ini. Jadi baiknya, pilar-pilar kewaskitaan mulai sudah diterapkan sambil terus meng-khidmatkan mengenal diri.

Tidak sempurna tidak apa. Sering gagal tidak apa. Suka luput tidak apa. Begitulah adanya seorang pelajar. Tiada bisa sempurna dan tiada bisa berhenti belajar. Jadi biarkan saja sahabatku… Tidak pernah lulus tidak apa, asalkan bisa terus membersamai Sang Guru Sejati.

Jadi kewaskitaan seperti apa saja yang bisa kita terapkan di keseharian kita mulai sekarang?

Kami ingin membagi empat kewaskitaan penting dan sederhana yang bisa kita praktekkan tanpa terlalu bersusah payah. Apakah selain ke-empat ini masih banyak? Jawabannya adalah iya, seluruh partikel memang membawa takaran kewaskitaannya masing-masing.

.

PERTAMA : MULAI BERHATI-HATI SAAT PIKIRAN MEMBUAT HARAPAN

Kami yakin, sebagian kita pasti ada yang langsung menangkis ini dengan pernyataan “dengan harapan kita meraih cita-cita” iya betul, kalau kita berhasil merubahnya menjadi aksi nyata. Kalau kita hanya menyimpan harapan selalu sebagai harapan, tanpa sedikit pun aksi, maka bagaimana harapan itu bisa berwujud?

Kewaskitaan mengajarkan kita untuk tidak membuat angan-angan yang membiarkan permainan pikiran menguasai. Kewaskitaan mengajarkan kita untuk menjadi kuat dalam aksi nyata dan bukan menjadi kuat dalam berharap.

Bukan berarti harapan hal yang buruk. Tetapi harusnya diri menjadi tabu untuk selalu berharap tanpa beraksi. Jadi, hati-hati lah saat pikiran membuat harapan. Seimbangkan selalu harapan dengan aksi tepat.

Jangan menabung harapan. Tapi tabunglah aksi-aksi yang tepat. Begitulah berwaskita.

 

KEDUA : MULAI BERHATI-HATI SAAT EGO MENGUAT

Apa kira-kira ciri jelas kalau ego sudah menguat? Salah satu cirinya adalah, seseorang mulai fokus memikirkan kebaikan bagi dirinya untuk mulai menghiraukan keburukan yang dirasakan oleh yang di luar dirinya. Contoh ringan untuk ini sangat banyak. Sungguh malu kalau harus disebutkan satu persatu.

Sahabatku… Kewaskitaan mengajarkan kita untuk memantaskan diri menjadi rahmat bagi semesta alam. Dimana kita mulai diajak untuk mampu mewaspadai ego diri kita, untuk menjadi ego yang terbaik bagi yang diluar diri.

Jadi kalau Bumi ini ingin dijadikan tempat yang lebih baik, maka setiap penghuninya haruslah berwaskita terlebih dahulu. Sebuah kehati-hatian kecil untuk makna yang besar. Begitulah arti keterhubungan diri dengan segalanya. Bahkan ego tiap kita pun ternyata sangat berhubungan.

 

KETIGA : MULAI BERHATI-HATI SAAT DIRI MULAI BERLARI DARI DETIK INI

Berwaskita mengajarkan kita untuk menyadari kalau hidup adalah hari ini dan detik ini. Jam adalah mesin. Sementara waktu adalah energi yang berfluktuasi dalam ruang. Setiap atom memiliki waktu yang tidak pernah berlari ke depan atau ke belakang.

Itulah apa yang semesta ini ketahui tentang waktu hanyalah sekarang. Detik ini. Itulah yang bernilai. Masa lalu hanyalah memori yang telah ter-waktukan. Masa depan hanyalah permainan pikiran yang belum terwaktukan. Masa sekarang adalah energy yang bisa menjadi makna yang bermakna, atau bisa juga menjadi makna yang tidak bermakna.

Berwaskita mengajarkan kita untuk menjadi berharga dalam waktu. Karena waktu selalu membawa makna yang berfungsi.

Dalam dimensi mana pun beginilah adanya. Kemusnahan, kematian, kesudahan hanyalah nama lain dari sebuah makna yang berhenti berfungsi. Kalau kita bisa membiarkan makna yang kita toreh sebagai semesta terus berfungsi maka apakah kita mati?

Ini membingungkan memang, sebagai garis tengahnya, izinkan saja dahulu diri menemukan makna yang harus diselesaikannya dan biarkan makna itu berfungsi. Jadi sahabatku… Jagalah kesadaran untuk tidak berlari dari detik yang dimilikinya. Genggamlah itu sangat berharga. Berfungsilah di dalamnya dan jadilah makna semesta yang terus hidup.

 

KEEMPAT : BERHATI-HATI SAAT DIRI TERUS MENGELUH

Sahabatku… Mengeluh itu manis! Saat mengeluh kita seakan sadar betul dengan apa yang sedang dihadapi. Tapi justru sebaliknya. Justru saat keluhan terlontarkan, maka kita sedang melewati kesadararan kita untuk berwaskita.

Saat berwaskita seseorang akan selalu menghadapi segala sesuatu yang didepan matanya terjadi. Itulah kenapa saat berwaskita diri tidak akan mengumbar keluhan. Diri hanya akan berintrospeksi atas segala apa yang menimpa dirinya sendiri.

Dalam berwaskita diri akan mampu melihat dan mengambil manfaat dari tiap keadaan, bukan meratapinya. Meratapi keadaan hanya akan membuat keadaan bertambah runyam.

Kerunyaman akan menurunkan fungsi otak. Jadi jasad dan system operasi kita malah makin menjauh dari keadaan yang ingin dibentuknya. Akhirnya pikiran hanya mampu membuat harapan sebagai awal mula ketersesakan hidup.

Bukankah sesak, kalau kita hanya bisa hidup dalam harapan yang tidak bisa dibentuk nyata? Kembali lagi ke point pertama. Segalanya memang akan menjadi berhubungan. Itulah kewaskitaan, dengan berwaskita kita bisa menghubungkan sebab-akibat yang tipis untuk menyeimbangkannya.

Seimbang sendiri adalah angin kedamaian.

Kedamaian itu sendiri didapat dari kemampuan hasil menyeimbangkan diri yang di dalam dengan hidup yang di luar. Akhirnya terciptalah angin kedamaian yang sulit digoyahkan oleh tantangan-tantangan hidup yang memang harus dilampaui.

Jadi jangan berpikir kalau kedamaian itu sejenis angin sepoi-sepoi dipojokan taman yang indah. Tidak sahabatku…. Kedamaian itu adalah angin sepoi-sepoi ditengah topan badai gurun tandus. Namun tetap tenang dalam jati diri yang sadar. Tetap sejuk dalam kebersamaan yang manis.

Mulailah berwaskita sahabatku… Kami tidak bisa berkata kalau ini akan menjadi singkat. Tapi cukup mulailah dari dalam diri. Tanpa perlu ada pendiketaan apapun. Tanpa perlu ada pengakuan apapun selain mengakui kalau diri ini hadir disetiap kehidupan Sang Pencipta.

Satu bonus kalau mau LEBIH beruntung, coba awasi juga pengakuan yang terakhir ini. Karena iman tanpa pengawasan hanyalah kehampaan.

Akhir kata sahabatku… Waskita tidak akan berhenti sampai titik dimana seluruh partikel memang membawa takaran kewaskitaannya masing-masing. Berwaskita itu bukan sekedar mewaspadai gerakan makrokosmos. Tetapi menyusup masuk ke dalam mikrokosmos. Dengan menjadi waskita sama saja dengan terus mewaspadai gerakan energi.

Itulah kenapa dengan berwaskita kita secara sengaja membuka gerbang-gerbang kekuatan kesadaran semesta, yang mana apabila kekuatan kesadaran ini terolah dengan baik akan menjadikan diri kita selalu setingkat lebih baik dalam segala aspek dalam hidup ini. Bukan tidak mungkin kalau Bumi pun bisa kembali menjadi baik.

Jadi mulailah berwaskita sahabatku…

 

Salam Semesta

Copyright 2021 © www.PesanSemesta.com

  • 0
  • November 30, 2021
admin16 admin16 Author

JABARAN SAINTIFIK “MANUNGGALING KAWULA GUSTI”



“Izin bertanya; Apakah Manunggaling Kawula Gusti bertentangan dengan akal... Menyesatkan gitu? Mohon penjabarannya” BersamaNYA kami menjawab.

Dahulu Siti Jenar dianggap tersesat karena paham kalau dirinya bersatu dengan Tuhan. Lalu bagaimana dengan sekarang, apakah tulisan ini akan sama menyesatkannya – atau justru akan membuka akal yang tidak mau memahami ketersesatan yang sebenarnya? 

Sahabatku… Kalau setelah membaca tulisan ini kita tergerak untuk menjadi satu dengan Dzat Maha. Maka lakukanlah dengan cara yang tidak pernah bertentangan dengan akal. Bersatunya manusia dengan Dzat Maha, tidak berarti bahwa seseorang itu Tuhan, melainkan manusia tersebut seharusnya bertingkah laku sebagaimana yang diinginkan Dzat Maha, yaitu menjadi gerbang rahmatNYA bagi semesta alam.

Dan kami tegaskan di awal ini bukanlah filsafat! Mereka berkata kalau “Manunggaling Kawula Gusti” adalah bagian dari filsafat. Namun bagi kami ini bukan bagian dari filsafat, melainkan keniscayaan. Karena memang pada wujud yang mendasar, semua wujud menyatu dengan Tuhan yang membentuknya. 

Hanya saja sahabatku…Tuhan itu adalah definitif. Tuhan itu adalah sesuatu yang disembah dan puja, sesuatu yang ditakuti, sesuatu yang di prioritaskan, dan sesuatu yang mampu membuat kita melakukan sesuatu yang tidak kita sukai.

Kalau begitu, siapakah Tuhan dalam hidup kita? Siapakah yang kita sembah dan kita puja dalam hidup ini? Siapakah sesuatu yang kita takuti dalam hidup ini? Siapakah sesuatu yang kita prioritaskan dalam hidup ini? Siapakah sesuatu yang mampu membuat kita mampu melakukan sesuatu yang tidak kita sukai dalam hidup ini?

Jawablah dalam kejujuran kesadaran sahabatku... Dan kita akan menemukan bahwa itulah Tuhan kita, lalu barulah kita boleh mengakui kalau diri kita ber-Tuhan dengan siapa? Karena siapa tahu kita ber-tuhan uang, bertuhan kedudukan, ber-tuhan penilaian manusia, atau kita membiarkan ego diri menjadi tuhan yang tidak mau diakui. 

Ini penting, karena sebenarnya, baru saat kita mampu menjawab pertanyaan ini lah kita boleh lanjut bertanya apa itu yang dimaksud dengan “Manunggaling Kawula Gusti”?  

Seseorang akan sulit memahami keniscayaan “Manunggaling Kawula Gusti” kecuali dia sudah mampu mengakui siapa Tuhannya sendiri. Karena pemahaman tentang kenicyaan ini tidak akan dijawab oleh sejarah atau buku filasafat apapun. Keniscayaan ini hanya bisa terjawab oleh akal yang mau ber-tafakur (berpikir dalam kenetralan)  

Dan inilah yang membuat banyak manusia lebih mudah menunjuk kalau keniscayaan ini adalah sesat dan menyesatkan. Karena memang menunjuk seseorang tersesat lebih mudah dibanding menunjuk ketersasatan akalnya sendiri untuk memahami. 

Jadi agar tulisan ini seru dan memainkan akal, maka mari kita membuat bahasan saintifik untuk menjabarkan kalau “Manunggaling Kawula Gusti” bukanlah ketersasatan dan tidak pernah menyalahi akal yang mau paham.  

Sabahatku… 

Detik ini Bumi ini masih berputar, dengan apa Bumi ini berputar? Detik ini padi masih menumbuhkan beras, dengan apa padi itu menumbuhkan? Detik ini mata kita membaca tulisan ini, dengan apa mata ini membaca? 

Pertanyaan diatas bisa memenuhi puluhan juta kubik kertas apabila dilanjutkan. Jadi mari kita persingkat saja; dengan apa kehidupan ini bergerak? – dan jawabannya adalah dengan sistem. 

Sama seperti membangun bisnis yang bergerak autopilot. Begitu juga dengan dalamnya semesta yang bergerak auotopilot sesuai dengan sistem yang sudah dibangun. 

“Sistem adalah sebuah tatanan (keterpaduan) yang terdiri atas sejumlah komponen fungsional (dengan satuan fungsi dan tugas khusus) yang saling berhubungan dan secara bersama-sama bertujuan untuk memenuhi suatu proses tertentu”

Dengan kata lain, harus ada KESADARAN MAHA SADAR yang membentuk sistem semesta ini dari awal hingga akhirnya nanti, bukan? 

Kalau kita masuk ke dalam dunia quantum fisika, maka seluruh materi menjadi atom yang terbentuk dari energi. Bagi mata manusia, energi adalah kekosongan fisik tidak terlihat, tapi bukan berarti tidak ada. Niels Bohr seorang ahli fisika pernah memperingati kita “Mereka yang tidak terkejut ketika mereka pertama kali menemukan teori kuantum tidak mungkin memahaminya”

Bohr benar, karena disana terdapat Mahakarya KESADARAN MAHA SADAR yang dengan sistemnya membentuk energi, maka terbentuklah kehidupan dalam semesta ini. 

Itulah kenapa Siti Jenar berkata dalam lirik syairnya “Ada adalah tiada dan kehampaan ini bernyawa”. Sebenarnya kalimat ini sangatlah saintifik. Keberadaan kita saat ini adalah ketiadaan fisik. Kita adalah materi hampa (kekosongan fisik) yang hidup (bernyawa). 

Bukan sebuah isu kalau seluruh materi yang terdapat di dalam semesta ini tidak lain terbentuk dari kumpulan atom-atom. 

Atom tidak memiliki struktur fisik. Atom adalah 99,99999% energi, dan 0,00001% zat fisik, maka seluruh semesta ini pada wujud aslinya tidak berwujud apa-apa selain energi yang bervibrasi. Ini berlaku untuk semuanya, termasuk didalamnya manusia. 

Fakta yang dibawa oleh fisika quantum ini membuat akal kita terpelintir. Bukankah logikanya kalau semua bahan dasarnya sama, maka harusnya bentuk akhirnya juga sama? Namun ternyata TIDAK. 

Manusia dan kucing itu berwujud asli sama, yaitu bentukan atom yang ujungnya hanyalah energi yang bervibrasi. Tapi kenapa kita berbentuk manusia dan kucing itu berbentuk kucing. Kenapa bunga lily berbentuk bunga liliy dan bunga bakung berbentuk bunga bakung? Padahal mereka berdua adalah sama-sama atom yang sekali lagi ujungnya hanyalah energi yang bervibrasi.

PERTANYAAN BESARNYA : KALAU SEMESTA INI HANYALAH ENERGI YANG BERVIBRASI, LALU BAGAIMANA BISA ENERGI ITU BEGITU SADAR MEMBENTUK BEGITU BANYAK WUJUD BENTUK MATERI?

Jawabannya adalah kimia. Meski atom terlihat seperti atom, namun atom memiliki dan membawa identitas dari wujud fisik yang kita lihat.

Semua atom terbuat dari PARTIKEL TRITUNGGAL yang sama - proton , neutron, dan elektron. Tetapi, jumlah proton, neutron dan elektron dalam tiap-tiap atom berbeda-beda. Dengan kata lain, meski berbentuk atom, namun atom-atom itu unik.

Ketika atom-atom unik ini bergabung dalam senyawa kimia, maka hasil dari gabungan itulah yang menentukan materi fisik yang kita lihat. Itulah yang membuat kita melihat apel sebagai apel, tangan sebagai tangan dan bulan sebagai bulan.

Atom yang sama tapi memiliki jumlah komposisi isi yang berbeda, sehingga masing-masing menghasilkan unsur yang unik. Lalu unsur-unsur unik itu menyatu, dan mewujudkan materi-materi  baru yang berbeda-beda. Bukankah atom ini super canggih? Tapi sampai disini kita memiliki pertanyaan yang lebih menelisik lagi yaitu:

PERTANYAANNYA BAGAIMANA BISA ATOM-ATOM INI BERGERAK DENGAN KESADARAN YANG CERDAS, SEHINGGA MAMPU MENCIPTAKAN UNIVERSE DAN BAHKAN MULTIVERSE – BUKANKAH INI SEBUAH MAHA KARYA? LALU SIAPAKAH PENGGERAK MAHA KARYA INI?

Sahabatku… Kita boleh saja meniadakan Tuhan karena belum tentu kita memang benar-benar bertuhan. Hanya saja meniadakan DZAT MAHA PEMBUAT yang kesadarannya memancar kedalam setiap molekul semesta yang berwujud adalah kesia-siaan yang nyata.

Pikirkan sahabatku… SIAPA yang memberi kesadaran kepada energi bervibrasi ini untuk saling membentuk atom-atom unik dan bergabung dalam senyawa kimia, yang dari unsur kimia itu muncul-lah sesuatu yang kita sebut air, tanah, udara, angin, matahari, bulan, bumi, hewan, tumbuhan dan tubuh kita sekarang.

Dari system yang dibentuk oleh kesadaran Dzat Maha semua menyatu dan membentuk. Jelas manusia tidak akan pernah bisa terlepas dari tubuhnya. Kita berada disini sekarang, membaca artikel ini, dan mencoba memikirkannya adalah karena atom-atom kita telah sukses dibentuk olehNYA. 

Jadi apakah kita masih bisa menyangkal kalau kesadaranNYA tidak ada? Kalau kita menjawab ada. Lalu bertanyalah, apakah saat ini, detik ini kita terpisah dari sistemNYA Dzat Maha ataukah kita menyatu?

Jawablah sahabatku… Jawablah dalam ketundukan seorang makhluk! Pikirkan seluruh sistem dalam hidup ini, apakah semuanya terpisah dengan kesadaranNYA atau kesadaran kitalah yang sengaja memisahkan diri dari keniscayaan yang sebenarnya? 

Bahkan kalau kita mengumpat atas nama ketersesatan sambil berlari terbirit-birit pun tetap saja. Pengumpat yang terbirit-birit itu hanyalah bagian dari sistemNYA. Ketersesatan itu hanyalah bagian dari sistemNYA. Begitu juga dengan kita. Kita adalah sistemNYA, menyatu dengan sistemNYA, bergerak karenaNYA.

Tapi kalau penyatuan itu belum terasa, maka tidak apa, itu hanya karena kita memang belum bisa bermanunggal dengan pemilik sistem itu? Kenapa? Karena kita memang belum menyaksikanNYA sebagai Tuhan. 

Kesaksian bukan sekedar menjawab. Kesaksian bukan sekedar merasakan. Kesaksian adalah menyatu dengan apa yang disaksikannya. 

Sementara untuk kebersaksian dibutuhkan yang namanya kerelaan. Dzat Maha tidak butuh disaksikan sebagai Tuhan. Kitalah yang merelakan diri mentuhankanNYA.


Berarti PR kita memang masih banyak. Dalam kerendahan yang terisak kita memang bahkan belum menyaksikannya sebagai tuhan karena kita masih memiliki tuhan lain selain diriNYA. 

Jadi siapa yang tersesat saat ini sahabatku…? Apakah seseorang yang sudah menyaksikan Tuhan dalam dirinya sendiri itu tersesat – atau kita yang tesesat? 

Jelas kita akan berpikir ulang lagi mulai sekarang. Karena ternyata memang dari awalnya kita sudah menyatu dengan Dzat Maha. Kita menyatu bukan untuk menjadi Tuhan. Melainkan untuk ber-Tuhan. 

Pahamilah paragraph diatas ini dengan ketundukan seorang makhluk agar kita tidak sengaja menyesatkan diri dengan menganggap diri sebagai tuhan. Diri ini tidak bisa menjadi tuhan. Karena bahkan tuhan tidak butuh dituhankan. 

Pesan Siti Jenar melalui Manunggaling Kawula Gusti hanya hendak memberitahu kita bahwa kita harus mewakili Dzat Maha untuk mengelola Bumi, tugas manusia sejak awal diciptakan. Apakah ini menyesatkan dan menyalahi akal? Izinkan saja kesadaran kita menjawabnya. 


Copyright 2021 © www.PesanSemesta.com


  • 0
  • November 08, 2021
admin16 admin16 Author

TIGA KETERHUBUNGAN MANUSIA DENGAN BUMI - SAINTIFIK



Pijakan kita saat ini adalah keterhubungan. Apa yang kita injak ini bukan tempat atau tanah. Melainkan Bumi, yaitu sebuah keterhubungan erat yang terhubung dengan sang pemegang amanah, yaitu tiap diri kita masing-masing.

Karenanya sahabatku… Dengan senang hati kami mengajak kita semua, untuk menyaksikan tiga bukti terbesar keterhubungan manusia dengan Planet Bumi.

Kami berharap, setelah ini Anda akan menjadi yakin untuk percaya kalau keterhubungan kita dengan Bumi adalah nyata dan bukan sekedar katanya. Melainkan keterhubungan manusia dengan Bumi adalah sebuah keniscayaan yang telah ter-struktur erat dalam jalinan yang terprogram rapih, jauh sebelum kita dihadirkan.

Kalau begitu, mari kita langsung belajar keterhubungan manusia dengan bumi, agar mampu menunaikan amanah seorang khalifah.

 

KETERHUBUNGAN PERTAMA: KETERHUBUNGAN MOLEKULAR

Jadi begini, semua materi adalah molekul – semua molekul adalah atom. Merancang atom akan menghasilkan molekul. Sangat mudah membacanya, tapi coba pikirkan! Jelas ini akan menjadi tanda besar yang tidak lagi bisa diabaikan.

Karena dengan begitu kita bisa menyaksikan, kalau apa yang mengalir dan membentuk setiap inci tubuh kita terikat dengan Bumi. Bukan hanya karena apa yang kita makan dan minum bersumber dari bumi. Melainkan secara molecular segalanya tentang tubuh manusia terhubung dengan molecular bumi.

Jasad kita masing-masing adalah organ, sel, molekul, dan atom. Begitu juga dengan bumi. Salah satu diantara atom-atom penyusun bumi dari unsur-unsur oksigen O, Fe besi, Si silikon, dan magnesium Mg juga terdapat didalam setiap sel yang membangun tubuh kita. Pada tingkat atomic tersaksikan kalau kita semua sangat terhubung.

Di dalam tubuh kita saat ini, ada ratusan miliar atom yang pernah berada di dalam satu sama lain manusia di Bumi. Ketika kita makan makanan, minum cairan, atau bahkan menghirup udara, banyak dari atom-atom itu yang akhirnya menyatu dengan tubuh kita.

Lalu ketika kita berkeringat, menghembuskan napas, atau mengeluarkan materi dari tubuh, atom-atom itu kembali ke biosfer Bumi, di mana mereka akhirnya mereka bisa masuk ke dalam tubuh atau materi lain.

Siklus seperti ini terus menerus terulang. Jadi di sini, di Bumi, semuanya terhubung. Itu karena bagaimanapun, gerakan molekular adalah keterhubungan yang saling mempengaruhi.

 

KETERHUBUNGAN KEDUA : KETERHUBUNGAN MAGNETIS

Jadi selain manusia memiliki keterhubungan molecular. Manusia juga terhubung dengan bumi secara elektromagnetis.

Masuk lebih dalam lagi ke atom maka kita akan mempelajari bagian fisika quantum yang halus. Dimana kita harus terpapar dengan kenyataan kalau setiap atom terbentuk dari energy yang terus menerus bervibrasi dalam alunan vibrasi yang harmonis dan sesuai untuk menciptakan frekuensi unik yang menjadi ciri khas masing-masing materi.

Tubuh kita adalah mesin molecular yang terbentuk dari atom. Sementara setiap molekul memiliki frekuensinya masing-masing. Dan sudah menjadi kodratnya, setiap frekuensi molekular akan senantiasa terpengarhui oleh kesadaran.

Kesadaran masing-masing manusia akan menentukan bagaimana seluruh molekular tubuhnya memancarkan frekuensi. Lalu dari hasil pancaran frekuensinya inilah, mereka akan mempengaruhi Bumi.

Sebagai energy, manusia selalu menarik frekuensi sesuai dengan frekuensi apa yang mereka pancarkan. Itulah kenapa, apabila molekular tubuh kita menghasilkan gerakan frekuensi tertentu maka Bumi juga akan merasakan efek tertentu.

Setiap frekuensi yang memancar dari tubuh manusia memancarkan sinyal elektromagnetis. Medan elektromagnetik ada di mana-mana, manusia sendiri adalah penghasil dan pemancar elektromagnetik yang aktif. Setiap gerakan, emosi dan tindakan kita memancarkan gelombang elektromagnetik yang berbeda-beda.

Gelombang elektromagnetik adalah fenomena fisik hasil dari pergerakan molekular yang tadi kita bahas di awal. Masuk kedalam molekul pada tingkat mikroskopik atom, elektron bermuatan partikel terus bergerak di sekitar inti atom, sehingga menciptakan medan magnet.

Itulah kenapa hewan, tumbuhan, bahkan benda yang kita anggap mati seperti batu dan air pun kalau diukur mengeluarkan elektromagnetik dengan berbagai ukuran angka. Jadi ini bukan tentang manusia dan bumi saja, tetapi tentang segalanya.

Jadi kalau kita bertanya; Apakah memang benar kita ini terhubung dengan bumi melalui frekuensi? Jawabannya adalah iya, manusia dan Bumi terhubung. Elektromagnetik manusia dan geomagnetik Bumi saling terhubung dan saling memberi pengaruh.

Dan karena kita ini adalah khalifah, maka elektromagnetik kita memiliki andil yang cukup besar dalam mempengaruhi geomagnetic Bumi.

Hasil percobaan menunjukkan, ketika orang menyentuh atau berada dekat dengan sesuatu atau seseorang, terjadi pemindahan energi elektromagnetik yang dihasilkan oleh jantung. Ini adalah bukti kuat penelitian yang menunjukan bahwa kita memang satu dengan semesta dan isinya. Sementara semesta yang paling dekat dengan kita adalah bumi ini.

Dari penjelasan singkat diatas. Mari kita merenung sebentar, ternyata betapa seumur hidup manusia memang memiliki hubungan batin dengan bumi, tapi betapa kita melupakan hubungan ini dengannya.

Kita mengira bumi tidak merasakan kebahagiaan, kebaikan, ketenangan, kesedihan, kejahatan, kebencian hati kita. Padahal sebenarnya bumi tahu dan merasakannya juga. Bahkan sebenarnya bumi yang lebih tahu terlebih dahulu, sebelum teman facebook Anda mengetahuinya.

Jadi bisa dibayangkan, kalau 50% saja dari penduduk bumi ini memendam kebencian dan amarah, lalu bagaimana dengan perasaan bumi? Bukankah dia akan merasakan kebencian dan amarah kita juga?

Coba juga bayangkan kalau 50% saja dari penduduk bumi ini menanamkan kebahagian tak bersyarat, ketenangan jiwa, dan kebaikan untuk memakmurkan, lalu bagaimana perasaan bumi? Bukankah ini akan membawa pengaruh baik bagi Bumi?

Pastinya kita bisa menjawabnya dengan cepat. Dan semoga saja kita bisa memperbaiki diri secepat itu. Pastinya akan ada proses, dan bagian terberat dari sebuah proses adalah kekhidmatan rasa. Yaitu memupuk rasa, kalau apapun hal baik yang kita lakukan Bumi, memang sudah seharusnya kita lakukan.

BUMI ADALAH AMANAH bagi manusia untuk dijaga, dilestarikan, dan dimakmurkan. Kita hidup dalam planet ini bukan untuk menjadi makhluk yang terpisah dengan pijakannya sendiri.

Jadi memang sudah seharusnya kita berubah menjadi baik dalam menjalani amanah ini. Dimana kita tidak berubah menjadi baik untuk menerima kebaikan. Kita hanya menjadi baik karena kita adalah gerbang kebaikanNYA Dzat Maha Baik. Cukuplah di titik ini ke-khidmatan itu kita fokuskan.

 

KETERHUBUNGAN KETIGA : KETERHUBUNGAN KESADARAN

Kalau Anda bertanya, apakah ada keterhubungan lain selain dua keterhubungan diatas? Maka sebenarnya masih ada, dan keterhubungan ketiga ini masih menjadi keterhubungan yang masih sulit untuk dirasakan.

Yaitu keterhubungan kesadaran. Artinya kita sebagai khalifah bagi Bumi memang memiliki kemampuan untuk merasakan perubahan-perubahan yang berlangsung dalam planet ini secara sadar.

Apakah kesadaran manusia dengan bumi bisa dibuktikan secara saintifik? Jawaban sebenarnya adalah iya.

Contoh kecilnya saja adalah, keberadaan indra Magnetoreception yang memungkinkan suatu organisme untuk mendeteksi medan magnet untuk melihat arah, ketinggian atau lokasi. Dahulu para ilmuan berpikir, kalau manusia tidak dianggap memiliki indera magnetic. Tetapi, baru-baru ini ditemukan, kalau ada protein (kriptokrom) di mata yang dapat menjalankan fungsi ini.

Pertanyaan muncul; untuk apa kita memiliki indra yang baru ditemukan ini?

Kami yakin Anda sudah bisa menjawabnya. Iya, apalagi itu kalau bukan untuk menjalankan sebuah amanah dengan khidmat.

Jadi apa lagi yang akan kita lakukan selain itu kembali lagi kepada tugas yang sebenarnya. Kalau kita belum bisa membenahi Bumi, maka paling tidak kita masih bisa menjaga frekuensi diri untuk tidak merusak Bumi.

 

Salam Semesta

Copyright 2021 © www.PesanSemesta.com

 

  • 0
  • November 05, 2021
admin16 admin16 Author

OFFICIAL CHANNEL



FREE E-BOOK

3# FREE DOWNLOAD E-BOOK - MENJADI AIR

DATABASE

COPYRIGHT

Seluruh artikel didalam website ini ditulis orisinil oleh tim penulis Pesan Semesta. Artikel yang kami share melalui website ini bukan hasil jiplakan, kutipan atau terjemahan.

Bagi pembaca yang ingin menghubungi penulis silahkan mengrim pesan melalui email : pesansemesta@yahoo.com


SALAM SEMESTA