Pesan Semesta.
melampaui batas menjadi satu

TIGA SIKAP YANG PASTI MENGHALANGI KESUKSESAN !

 


Setiap manusia menyimpan nilai kesuksesannya masing-masing. Kita memiliki naluri keberhasilan. Seperti sebuah keniscayaan yang menjadikan setiap diri menyimpan ambisi untuk terus menjadi pemimpin diri yang sempurna.

Sebuah ambisi yang wajar memang. Karena sejak awal kita memang hanya hidup untuk menjadi khalifah yang bermakna dan membawa makna. Jadi sangat wajar, kalau kita memiliki naluri untuk suatu kesempurnaan yang disebut kesukesan.

Sayangnya, kesuksesan bukanlah kesempurnaan. Melainkan hanyalah jalan-jalan kesalahan yang telah terpelajari dengan waras.  

Waras bukan kata yang kasar disini. Tentunya kita harus senantiasa mempersiapkan akal agar mampu menganalisa, untuk bisa memperbaiki keadaan. Karena kesuksesan, pada wajah yang sebenarnya adalah kegagalan yang berhasil diperbaiki.

Jadi, kalau saat ini kita masih merasa menyimpan tembok yang menghalangi diri dari kesuksesan. Maka caranya adalah dengan mengendalikan diri untuk menggeser penghalangnya.

Setiap manusia memilii naluri yang setiap naluri apapun itu selalu bisa dikendalikan. Pengendalian sendiri bisa datang dari dalam diri, bisa juga datang dari luar diri. Dari manapun arah pengendalian itu, tetap setiap manusia dianugerahi kesadaran yang mampu memilih. Termasuk memilih sikap.

Tentunya kita harus bersikap sangat waras, untuk memahami kalau ada beberapa sikap yang menghalangi seorang khalifah untuk memenuhi nalurinya untuk sukses dan memberi makna.

Mari kita membuka kewarasan akal untuk menganalisa. Jangan-jangan ada salah satu dari tiga sikap dibawah ini yang masih kita lakukan untuk terus tidak sengaja menghalangi kesuksesan.

 

SIKAP PERTAMA : MENGELUH

Sahabatku… Seberapa besar kadar keluhan kita? Mulai detik ini, jangan sampai kadarnya dibiarkan berlebihan sampai menghalangi diri dari kesuksesan yang seharusnya terbentuk.

Keluhan yang terlalu berlebihan akan mengikat diri untuk tidak memahami sebab akibat. Jelas ini berbahaya!

Setiap ronde kejadian dalam semesta selalu tentang sebab akibat. Kalau kita perhatikan perjalanan mereka yang telah berhasil makmur dan memakmurkan. Kita akan melihat pola ter-standar yang akan selalu ada.

Salah satu di antara pola itu adalah KEGIGIHAN. Dan siapa sangka, kalau dalam kegigihan itu tersimpan begitu banyak corak KELUHAN yang dengan sengaja diikat erat agar tidak menjadi keluhan.

Perhatikan MCDonald, Facebook, Tesla, Alibaba, Gojek. Cerita-cerita abad baru yang memiliki pola standar, yaitu KEGIGIHAN.

Bukan berarti mereka tidak memiliki alasan untuk mengeluh. Aset, status, pengakuan dan makna yang beri saat ini adalah berkat segala keluhan yang mereka redam.

Saat seseorang memilih gigih, maka dia akan meredam seluruh keluhannya. Dia akan mengecilkan volume keluhan untuk sebuah kata, yaitu pencapaian.

Begitulah adanya, saat seorang khalifah ingin mencapai ujung gunung tertinggi, maka dia tetap harus melalui dasar gunung yang terendah. Keluhan-keluhan yang berteriak hanya akan mengikat diri seorang khalifah untuk mencapai bentuk tertingginya.

Jadi sahabatku… Sudahkah kita meredam keluhan-keluhan itu, atau kita masih sengaja membiarkan volume keluhan itu mengaung bak singa lapar?

 

SIKAP KEDUA : MALAS BERPROSES

Kesuksesan seorang khalifah adalah hasil dari sebuah proses, begitu juga dengan kegagalannya.

Apapun yang kita pilih semuanya adalah hasil dari sebuah proses. Kita sudah mempelajari pentingnya proses dari awal kehidupan kita dimulai sampai detik keberadaan kita sekarang. Itulah kenapa berproses akan selalu menjadi anak tangga yang tidak bisa kita lewati.

Sayangnya meski kita paham, kita tidak selalu melakukannya. Perhatikan harapan-harapan kita akan kesuksesan saat ini! Bukankah semuanya hanya berisi hasil?

Anda mendambakan pengakuan, Anda mengharapkan financial freedom, Anda mengharapkan kedamaian. Apapun nilai kesuksesan manusia adalah tentang hasil.

Sukses itu hanyalah hasil sementara, dan untuk menuju hasil selalu ada satu kata yang tidak akan pernah terlewat, yaitu PROSES.

Jadi andaikan sukses itu adalah takdir setiap khalifah, maka tetap kita harus berlari menuju takdir itu sendiri. Seperti kita harus makan untuk menghilangkan lapar – harus minum untuk menghilangkan haus – harus berjalan untuk mencapai.

Kalau begitu sahabatku… Kalau kesuksesan itu adalah takdir. Maka seberapa kuat kita mau berlari menuju takdir itu sendiri? Pertanyaan jelasnya: Seberapa mau kita untuk berproses?

Seperti mengumpulkan uang 500 rupiah untuk menjadi 1 juta. Lama, tapi tetap akan terkumpul kalau prosesnya dilalui.

Jangan malas berproses, apalagi berhenti. Ingatlah untuk meredam keluhan. Karena sudah menjadi keniscayaan kalau dalam proses selalu ada positif dan negative.

Jangan biarkan diri terfokus pada hal negatifnya saja. Namun izinkan diri untuk terfokus pada hal-hal positif yang sudah diraih juga. Dengan begitu, proses kita akan menjadi manis. Bukan berarti pahitnya tidak ada. Namun kita hanya memilih untuk fokus dengan rasa manisnya saja dan bukan rasa pahitnya.

Tahu dimana harus meletakan fokus dalam berproses memang akan menjadi alasan sukses yang utama

 

SIKAP KETIGA : TIDAK FOKUS

Sahabatku… Dimana seorang khalifah mengarahkan penglihatan, maka disitulah energi akan terbentuk. Dengan syarat utama, yaitu fokus.

Jadi bisa saja, sukses masih menghalangi kita hari ini karena FOKUS – Kemanakah fokus itu kita hilangkan?

Sudah menjadi keniscayaan, kalau segala tindakan yang dilakukan dengan fokus pasti hasilnya jauh lebih cepat dan tepat.

Seperti sinar matahari dan sinar laser. Kita bisa memanfaatkan panas sinar matahari untuk menjemur dan mengeringkan. Tapi tidak untuk memotong. Sementara panas sinar laser mampu memotong benda, karena dia mampu memfokuskan panasnya hanya ke satu titik meski panasnya tidak se-dahsyat sinar matahari.

Begitu juga setelah kita menyusun dan merencanakan hal penting dalam hidup, maka langkah selanjutnya kita harus fokus di hal-hal itu sebelum berbelok ke hal penting lainnya. Fokus, fokus dan fokus!

Fokuslah selalu kepada satu goal sebelum membuat goal yang lainnya. Kita berhak membuat 1000 goal dalam hidup ini, namun ke setiap 1000 goal itu juga berhak mendapatkan satu kata dari kita, yaitu FOKUS.

Menjadi fokus memang bukan perkara mudah. Kita ini sangat mudah teralihkan, bahkan sebelum kita sampai dititik pencapaian.

Sahabatku… Saat fokus kita teralihkan, hanya kekuatan diri lah yang mampu mengingatkan. Kita manusia yang memiliki kekuatan memilih. Kita bebas memilih, apakah kita akan berjalan didalam labirin atau diluarnya. Setiap pilihan akan menentukan hasil.

Selalu ingatkan diri, bahwa kita sedang berjalan menuju pencapaian. Ada garis finish yang sedang menunggu untuk kita lewati.

Jadi, kesampingkan dulu pengganggu-pengganggu yang akan membuat fokus kita labil.

Mengamati orang lain, membandingkan diri sendiri dengan orang lain, mendengar cerita sukses orang lain tanpa mengambil pelajaran, menakuti diri sendiri. Ini adalah salah satu diantara pengganggu yang sengaja kita hadirkan secara sadar untuk menggangu fokus kita sendiri.

Sahabatku… Faktnya untuk menuju keberhasilan kita tidak perlu membandingkan diri. Setiap khalifah memiliki tugas yang menjadi tujuan uniknya masing-masing. Cukup FOKUS lurus kedepan tanpa pernah menengok ke arah manapun. Lepaskan pandangan dari yang lain. Lurus saja, garis finish kita hanya ada didepan!

 

Akhir kata sahabatku… Detik ini kita adalah khalifah berbahagia yang sedang berjalan untuk membentuk, memperbaiki, dan memberi. Kesuksesan hanya tentang tiga aksi besar ini. Jadi memang sudah seharusnya seorang khalifah tidak mengeluh, tidak berhenti berproses dan tetap fokus.

 

Salam Semesta

Copyright © 2021 www.pesansemesta.com


 

  • 0
  • Juli 20, 2021
admin16 admin16 Author

SURGA YANG TIDAK KITA JAGA


 

  • 0
  • Juli 16, 2021
admin16 admin16 Author

CARA SUPER MENEMUKAN PASSION

 


  • 0
  • Juli 13, 2021
admin16 admin16 Author

EARTHING CARA MENGUATKAN IMUN TUBUH MELAWAN VIRUS

 


Kesadaran yang menguntungkan tentunya bila kita mau mulai memahami kembali. Kalau Bumi ini bukan bulatan mati yang terputus dari manusia. Kita selalu terhubung secara positif dengannya. Bahkan setiap langkah kita diatas Bumi ini saja akan selalu meninggalkan kesan yang baik bagi kesejahteraan jasad dan jiwa.

Jangan lupa. Subscribe untuk video selanjutnya

Salam Semesta

  • 0
  • Juli 10, 2021
admin16 admin16 Author

MENYAKSIKAN SEMESTA MIKROKOSMOS


 

  • 0
  • Juli 07, 2021
admin16 admin16 Author

ELEMEN-ELEMEN DEBU BINTANG DALAM TUBUH MANUSIA

 

  • 0
  • Juli 06, 2021
admin16 admin16 Author

TIGA PESAN PENTING DARI MASA DEPAN

 


 SUBSCRIBE PESAN SEMESTA YOUTUBE CHANNEL  UNTUK VIDEO SELANJUTNYA 👍
  • 0
  • Juli 04, 2021
admin16 admin16 Author

BAGAIMANA MERUBAH ENERGY LOW VIBRATION KECEMASAN ?

Kecemasan merupakan vibrasi energy rendah. Vibrasi energy rendah hanya akan menarik vibrasi energy rendah. Padahal energy rendah benar-benar akan mempengaruhi kesejahteraan diri.

Vibrasi energy rendah akan menurunkan suasana hati kita, menurunkan imunitas dan kekuatan jasad kita, dan menurunkan ketajaman instuisi kita. Tidak hanya itu, vibrasi energy rendah juga akan memperburuk kondisi Bumi dan semesta.

Saat ini jujur saja, Bumi dan isinya sedang terselimuti oleh pancaran elektromagnetik dari vibrasi energy rendah yang otomatis terus terpancar dari kondisi kecemasan kita. Menjaga agar energy kita tetap berada dalam vibrasi yang lebih tinggi akan menjadi semakin penting bagi kita dan seluruh dunia saat ini.

Namun bagaimanakah caranya? Mungkinkah kita tidak khawatir dengan kondisi saat ini?

Sahabatku… Hidup adalah tentang pilihan. Begitu juga dengan vibrasi rendah atau tinggi, itu juga merupakan pilihan. Setelah kita mampu menyadari di posisi mana kita berada, maka pilihlah untuk pindah dari vibrasi rendah menuju vibrasi tinggi.

Kecemasan akan selalu menjadi energy vibrasi rendah karena kecemasan senantiasa menggunakan imajinasi kita untuk menarik sesuatu yang justru tidak kita inginkan.

Ketika kita memikirkan suatu pikiran tertentu, sel-sel otak kita atau neuron akan bervibrasi pada frekuensi tertentu dan energi berkecepatan tinggi ini akan menarik frekuensi apa pun yang kita vibrasikan melalui pikiran.

Sementara semua kecemasan apapun alasannya didasarkan dari ketakutan, dan itu semua HANYA berlangsung didalam pikiran. Pikiran kita mensimulasikan deretan gambar terburuk dari suatu kondisi yang kita prediksi bisa terjadi di masa depan.

Awal dari kecemasan, yaitu pikiran yang terpengaruh oleh jebakan ketakutan. Disebut jebakan karena ketakutan sesuatu yang sangat imajinatif dan sayangnya apabila kita memilih terperangkap di dalam pikiran ketakutan, maka energy pikiran kita akan mempengaruhi elektromagnetik yang memancar agar sesuai dengan vibrasi rendah pikiran kita.

Jadi agar kita menjauh dari apa yang kita khawatirkan, justru kita harus merubah kekhawatiran itu. Dengan kata lain kita harus pindah vibrasi. Hanya saja bagaimana caranya kita pindah vibrasi?

Tidak ada yang tidak bisa kita lakukan kalau kesadaran kita telah memilihnya. Begitu juga dengan kecemasan. Kita bisa mulai merubah vibrasi kekhawatiran kita saat ini dengan cara memilih meningkatkan kewaspadaan.

Caranya adalah dengan menerima vibrasi rendah yang saat ini, lalu menyaksikan kebaikan di dalamnya.

Energy penerimaan adalah yang utama. Kita tidak bisa merubah apa yang tidak kita terima. Jadi terima saja dahulu kalau kita memang khawatir. Terimalah kalau diri memang sedang bervibrasi dalam low vibration.

Lalu sadarilah, kalau selalu ada nilai baik yang muncul bahkan dari kondisi buruk seperti ketakutan sekalipun. Dalam porsi yang pas ketakutan dibutuhkan untuk menjadikan seseorang menjadi waspada. Setiap orang membutuhkan kewaspadaan untuk tindakan pencegahan. Inilah nilai baik dari ketakutan.

Kita bisa mengambil nilai baiknya dengan mulai merubah kekhawatiran yang didasari ketakutan menjadi kewaspadaan, yaitu dengan cara terus menggunakan akal untuk memikirkan sebab terbaik untuk akibat terbaik. 

Akal adalah kecerdasan yang hadir didalam pikiran. Dialah penanggung jawab bagaimana nantinya hati kita bergetar dan melepas frekuensi yang mau tidak mau akan kita raih.

Itulah kenapa kewaspadaan akan selalu menggiring segala kekhawatiran manusia menuju wujud energy yang lebih baik. Karena memang inilah fungsi kewaspadaan, yaitu agar diri senantiasa meraih akibat terbaik dari setiap sebab terbaik yang dilakukannya sendiri.

Jadi sahabatku… Di masa yang memang mengkhawatirkan ini, cobalah untuk mulai melihat kecemasan yang muncul di dalam pikiran hanya sebagai peringatan untuk senantiasa bertindak waspada. Dan bukan sebagai imajinasi-imajinasi negatif yang bergerak bebas dalam pikiran tanpa makna dan manfaat.

Mulai detik ini mari kita menerima kekhawatiran yang muncul dari setiap kondisi yang memang sedang terjadi. Setelah terterima, cobalah mengambil sisi baik dari rasa khawatir yang ada, yaitu untuk merubahnya menjadi sikap waspada.

Kewaspadaan yang telah tersikapi akan membantu kita melepaskan diri dari kekhawatiran. Apabila tiap masing-masing kita waspada, maka tiap kita bisa menerima akibat terbaik dari kewaspadaannya masing-masing. Lalu sedikit demi sedikit vibrasi yang lebih baik pun akan terbentuk.

Salam Semesta

 

Copyright 2021 © www.pesansemesta.com

SUBSCRIBE https://www.youtube.com/c/pesansemesta


  • 0
  • Juli 04, 2021
admin16 admin16 Author

EKSPERIMEN ILMIAH YANG MEMBUKTIKAN VIBRASI ITU NYATA!

 



 SUBSCRIBE PESAN SEMESTA YOUTUBE CHANNEL  UNTUK VIDEO SELANJUTNYA 👍
  • 0
  • Juni 29, 2021
admin16 admin16 Author

CARA MEMBACA VIBRASI


Energi bergerak dalam vibrasi secara konstan. Dengan kata lain, kita hidup di lautan getaran. Setiap getaran memiliki makna dan menyimpan tujuan.

Indra manusia bekerja dengan menterjemahkan vibrasi apapun yang diterimanya, dan dari sebab-akibat proses itulah kesadaran manusia mampu menerima dan memahami lingkungannya.

Sehingga akhirnya kesadaran manusia memiliki yang namanya pikiran, perasaan dan pilihan dalam bertindak seperti yang selama ini kita miliki sampai sekarang. Semuanya ini adalah berkat dari menterjemahkan vibrasi.

Sayang memang masih sedikit dari kita yang menyadari betul kalau dirinya adalah membaca vibrasi dan menterjemahkannya. Sampai saat ini masih banyak manusia belum siap betul untuk mengakui bahwa dirinya bergetar dan menterjemahkan getaran. Padahal segala hal yang kita amati dengan indra kita ini sebenarnya hanyalah interpretasi vibrasi.

Kita mendengar karena telinga kita menterjemahkan vibrasi. Kita melihat karena kita menterjemahkan vibrasi. Kita menghirup karena hidung kita menterjemahkan vibrasi. Jari kita menterjemahkan vibrasi dan begitu juga dengan lidah.

Padahal dengan menyadari keniscayaan semesta ini maka segala hal bisa menjadi menguntungkan dan mudah. Kami katakan mudah karena kita adalah energi, bergerak dalam energi dan sebagai energi. Vibrasi adalah awal gerakan. Apapun gerakan dalam semesta ini berawal dari getaran.

Atom-atom selalu berada dalam keadaan bergerak konstan, dan tergantung pada kecepatan vibrasi atom-atom inilah benda-benda muncul.

Itulah kenapa dikatakan kalau manusia adalah makhluk bergetar begitu juga dengan makhluk hidup lainnya, termasuk juga materi apapun di dalam semesta ini, baik materi yang masih terlihat atau tidak terlihat seperti udara dan gas. Baik yang bisa bergerak atau diam seperti dinding beton.

Jadi apa yang harus kita asah kembali sekarang adalah kemampuan diri untuk terhubung dengan gerakan awal, yaitu vibrasi. Karena begitulah cara kita membaca vibrasi.

Membaca vibrasi itu tidak terlalu dimulai dengan cara yang runyam.  Cara paling sederhana adalah dengan mulai menyadari di vibrasi mana diri kita sedang hidup. Yaitu dengan mulai memperhatikan keberadaan diri kita seutuhnya.

Perhatikan lagi secara lebih setiap pikiran, perasaan, dan tindakan apapun yang sedang dan akan kita lakukan. Artinya, kita membaca vibrasi semesta dengan kewasikataan diri.

Untuk membaca vibrasi semesta kita harus terlebih dahulu paham kalau kitalah semesta yang paling dekat. Jadi sangat logis kalau kita harus mulai dari semesta yang paling dekatnya terlebih dahulu.

Sahabatku… Beginilah cara kita membaca vibrasi semesta. Dimana tahapan awalnya dimulai dari dalam diri dahulu. Lama kelamaan setelah kewaskitaan kita untuk mewaspadai setiap gerakan vibrasi yang terjadi didalam diri menjadi baik. Maka perlahan-lahan kita akan mulai membawa diri untuk mewaspadi vibrasi yang diluar diri.

Tahapan selalu dimulai dari dalam menuju luar. Mulailah, nantinya kalau diri sudah mulai membaca vibrasi semesta, maka diri tahu persis apa yang diharus dilakukannya dalam semesta untuk semesta.

 

Salam Semesta

 SUBSCRIBE https://www.youtube.com/c/pesansemesta

 

  • 0
  • Juni 26, 2021
admin16 admin16 Author

APAKAH PIKIRAN MEMPENGARUHI KESEHATAN?

 SUBSCRIBE PESAN SEMESTA YOUTUBE CHANNEL  UNTUK VIDEO SELANJUTNYA 👍

  • 0
  • Juni 23, 2021
admin16 admin16 Author

KENAPA SEGALANYA BERPROSES ?

 


 SUBSCRIBE PESAN SEMESTA YOUTUBE CHANNEL  UNTUK VIDEO SELANJUTNYA 👍

  • 0
  • Juni 23, 2021
admin16 admin16 Author

INGIN INTUISI MENGUAT? LAKUKAN SATU HAL INI !



“Intuisi berada dalam zona netral. Tempatkan diri dalam zona netral, maka kita akan menjadi sangat intuitif” – pesan semesta.

Sahabatku… Perlu digaris bawahi, kalau menjadi sangat intuitif itu bukan berarti kita menjadi peramal masa depan. Menjadi sangat intuitif itu artinya kita mampu membaca sebab akibat yang sedang dan akan berlangsung, sehingga kita mampu memilih yang terbaik. Akhirnya kita bisa menempatkan diri pada posisi yang tepat.

Ingat! Hidup adalah kumpulan pilihan. Ada bagian yang dipilihkan. Ada juga bagian yang kita diberi kesempatan untuk memilihnya.  Jasad, jiwa dan ruh yang menghasilkan kesadaran bagi manusia berfungsi untuk membentuk manusia menjadi pemilih.

Kesadaran memiliki beberapa lapisan. Bagaimana kita memandang hidup memiliki tingkatan. Sementara tingkatan yang paling rendah adalah sadar kalau hidup terjadi kepadamu.

Artinya, kita sadar kalau kita tidak memiliki andil dalam hidup ini untuk memilih. Dimana semua sudah dipilihkan dan ditentukan. Padahal sebenarnya tidaklah demikian.

Dalam hidup ini banyak contoh orang-orang yang telah berhasil dengan kenyataan yang mereka bentuk dari hukum sebab akibat yang mereka buat sendiri. Mereka memikirkan kesuksesan, mereka melakukan sebab akibat dari kesuksesan yang mereka pilih dan mereka berhasil hidup di dalam kesuksesan itu.

Kalau kita bertanya, kenapa itu bisa terjadi dengan mereka – sementara tidak bagi kita? Jawabannya adalah karena mereka memiliki kesadaran yang setingkat diatas kita.

Mereka sadar kalau nasib itu adalah pilihan. Mereka sadar Dzat Maha tidak memilihkan nasib seseorang namun hanya memberikan banyak pilihan-pilihan yang bisa dipilih, apapun itu. Mereka sadar kalau tidak ada yang namanya kebetulan, segalanya terjadi karena sebab dan akibat, dan dengan ini mereka selalu menyusun sebab terbaik untuk akibat terbaik.

Jadi, bayangkan kalau kita selalu diarahkan untuk memilih yang terbaik sesuai dengan tugas dan fungsi kita sebagai khalifah diatas Bumi ini – Bukankah menguntungkan? Ini lah keuntungan memiliki intuisi.

Kabar baiknya, setiap manusia memiliki keuntungan ini – karena setiap manusia memiliki sesuatu yang bernama intuisi. Hanya saja sejauh apa intuisi ini mampu bekerja untuknya, semuanya tergantung pilihan manusia itu masing-masing.

Ada beberapa pilihan yang tanpa sengaja justru membuat kita menjauh dari intuisi. Jangankan menguat, bahkan intuisi seakan sama sekali tidak terdengar. Jadi sahabatku… Kalau kita ingin intuisi menguat, maka kita bisa mulai mencoba melakukan satu hal berikut ini :

 

1# JANGAN MENDIKTE SEMESTA

Bukankah kita adalah pendikte ulung? Bahkan Tuhan pun berani kita dikte bukan? Baiklah tidak perlu diakui. Tapi paling tidak jangan mendikte kalau ingin mendengar intuisi berbicara.

Kenapa? Karena intuisi tidak akan hadir dalam ego yang masih mendikte. Intuisi adalah arahan fenomenal bagi mereka yang senantiasa mengharapkan kebahagiaan hakiki. Syaratnya, intuisi tidak bisa terkontrol oleh yang namanya ego.

Sahabatku… Semesta itu sangat sopan dan sangat menghargai pilihan manusia. Jangan jauh-jauh, saat kita memilih untuk tidur, otak kita patuh dan menutup sementara seluruh system pendengaran agar kita tidak mendengar apa yang sebenarnya masih kita dengar.

Begitu juga dengan kerasnya diktean ego kita. Intuisi akan mundur seribu langkah agar ego kita bisa terus terdengar. Masalah tersembunyi dari ego yang lebih terdengar adalah, ego kita sangat percaya diri kalau pilihannya adalah sumber kebahagiaan dirinya yang terbaik. Padahal belum tentu demikian.

Ambil contoh, kita begitu mendikte untuk diterima bekerja di salah satu perusahaan ternama, kita menetapkan diri kalau diterima bekerja disini adalah yang terbaik dan itu adalah sumber kebahagiaan diri.

Akhirnya ego terus mengontrol intuisi yang masuk kepada kita. Karena bisa jadi, pada masa di mana kita sedang mendikte semesta ini kemungkinan kita akan dituntun oleh intuisi yang bahkan senantiasa mengarahkan diri untuk melakukan hal yang kebalikan dari goal kebahagiaan awal kita.

Bisa itu kita dituntun untuk membuka usaha, atau mungkin mengasah skill lain. Namun karena kita terlalu mendikte semesta dengan ego ingin kita. Maka arahan intuisi itu tidak terdengar dengan jelas.

Padahal, intuisi itu justru mengarahkan kita pada jati diri yang sebenarnya. Intuisi tahu persis nilai kebahagiaan diri kita yang terbaik sesuai dengan fungsi dan tujuan kita yang sebenarnya.

Sahabatku… Kita tidak pernah ditinggalkan sendirian dalam pilihan-pilihan yang harus kita pilih dalam hidup ini. Redupkan sebentar saja suara ego yang meraung, maka intuisi akan mengarahkan dengan manis.

Kadang kita membenci sesuatu padahal itu baik bagi kita. Kadang juga kita terlalu meng-inginkan sesuatu padahal itu tidaklah baik bagi kita.

Begitulah adanya, baik dan buruk tidak bisa diukur oleh ego yang bahkan ego itu tidak bisa kita kendalikan kenetralannya. Kenetralan itu sendiri bukan berarti kita tidak bisa memilih. Tetapi kita justru menjadi pemilih yang sebenar-benarnya dalam pilihan-pilihan yang ada.

Selamat menguatkan intuisi sahabatku… Sekali lagi, intusi bukan peramal masa depan. Karena masa depan adalah pilihan yang sekarang.

Mungkin sebagian kita ada yang bertanya; kenapa cara menguatkan intuisi hanya satu, bukankah cara lainnya juga banyak? – Jujur kami juga menanyakan hal yang sama. Tapi ternyata jawabannya cukup unik; Jawabannya, karena untuk menjadi intuitif itu harus mengendalikan rasa “ingin menjadi intuitif”.

Iya begitulah! Sekali lagi, intuisi berada dalam zona netral. Tempatkan diri dalam zona netral, maka kita akan menjadi sangat intuitif.

 

Salam Semesta

Copyright © 2020 www.pesansemesta.com

https://www.youtube.com/c/pesansemesta

  • 0
  • Juni 11, 2021
admin16 admin16 Author

MEMBANGUN MINDSET SUMBER REZEKI AGAR TIDAK PERNAH MERASA MISKIN





Seorang sahabat bertanya; Apa ada cara untuk meluaskan rezeki, selain dengan syukur?
.
Jadi begini, selama ini kita menanam mindset kalau rezeki adalah hasil. Akhirnya kita beranggapan kalau kekayaan, anak yang saleh, kemakmuran, kesehatan dan lain sebagainya adalah rezeki.
.
Ini wajar, karena sekali lagi, kita diajarkan kalau rezeki adalah hasil yang kita terima. Kita tidak pernah ditanamkan mindset kalau kita adalah rezeki itu sendiri.
.
Akibat dari mindset yang terus-menerus diajarkan ini, kita jadi bergerak untuk menjadi penerima rezeki dan bukan untuk menjadi sumber rezeki itu sendiri.
.
Akhirnya diri menjadi terbatas, sehingga urusan hidup menjadi sangat sulit. Seperti terikat dalam kekurangan, jangankan untuk bersyukur, untuk merasa cukup saja masih sulit. Itu karena diri kita masih terus saja berpikir, kalau rezeki itu ada diluar diri, bukan didalam diri.
.
Padahal Dzat Maha sudah menjadikan kita sebagai sumber rezeki itu sendiri. Sementara hasil dari apa yang kita bentuk, semuanya sudah diatur sesuai dengan syukur yang kita lakukan.
.
Jadi sahabatku… Selain rezeki yang sengaja dikonsepkan tidak sesuai. Selama ini kita juga dikonsepkan kalau syukur hanyalah sekedar ucapan terimakasih, yang sebenarnya tidak terlalu tepat.
.
Secara harfiah memang syukur diartikan sebagai Terima Kasih. Hanya saja yukur itu aplikatif. Harus diaplikasikan dengan tidakan, dan itu bukan dengan cara diucapkan, melainkan dengan cara dilakukan.
.
Pegang rahasia besar ini; Apabila kita mampu melakukan syukur dengan benar, maka segala rezeki akan mendapatkan hasil yang sesuai dengan kebutuhan.
.
Dengan syukur yang dilakukan dengan benar kita akan mampu me-manage seluruh sumber rezeki yang kita miliki untuk kemakmuran diri dan yang diluar diri.
.
Begitulah adanya sahabatku… Syukur itu memang sangat besar maknanya! Tetapi faktanya sekarang, syukur malah di jadikan ajang untuk menerima rezeki. Seakan-akan Dzat Maha bisa dirayu dengan kata “Terima kasih”.
.
Pertanyaannya: Apakah iya demikian? Dzat Maha Sang Pemiliki kemahaan jelas tidak membutuhkan syukur apapun dari makhluknya. Karena kalau iya, maka gugurlah sifat ke-mahaannya.
.
Semesta sendiri adalah kenetralan yang bergerak tanpa membutuhkan kata terimakasih. Cek sendiri jasad kita, apakah jantung dan organ-organ itu membutuhkan ucapan terimakasih? Apakah planet Bumi yang menaungi kita membutuhkan ucapan terimakasih? Apakah Oksigen yang sedang kita gunakan membutuhkan terimakasih?
.
Sudah menjadi keniscayaan kalau semesta dan segala isinya tidak membutuhkan ucapan terimakasih. Namun jelas mereka bersyukur dengan sebenar-benarnya. Salah satu bukti syukur mereka adalah, mereka semua melaksanakan tugas mereka dengan sebaik-baiknya hanya sebagai rahmat bagi semesta alam.
.
Sahabatku… Berbahagialah kita, dari pertanyaan yang hadiri ini, semesta mengingatkan diri kita lagi. Kalau kita adalah sumber rezeki, sementara syukur adalah aplikasi harmonis untuk memanage rezeki yang kita miliki, agar seluruh rezeki ini mampu memakmurkan diri dan luar diri. Sehingga rezeki yang kita miliki ini bisa menjadi rahmatNYA yang tersebar.
.
Sebuah urgensi memang untuk segera membenahi mindset kita tentang rezeki dan meluruskan cara kita dalam bersyukur. Agar kita tidak terus-terusan merasa miskin dan tidak memiliki rezeki. Karena kita bukan sekedari memiliki, tetapi kita adalah sumber rezeki itu sendiri.
.
Mungkin ada sahabat yang bertanya sumber rezeki apa yang kita miliki?
.
Sahabatku… Bukankah kita memiliki tubuh yang bergerak, akal yang bisa berpikir, energy yang terus menghidupi, dan bukankah kita juga memiliki kesempatan untuk menggunakan semuanya itu? Lalu apa yang kurang dari itu semua? Cukuplah itu menjadi alasan besar yang menjadikan kita sebagai sumber rezeki.
.
Sebenarnya kalau saat ini kita merasa sangat miskin. Maka itu bukan karena kita tidak memiliki rezeki. Melainkan karena kita memiliki sumber rezeki tapi kita tidak mampu mensyukurinya agar menjadi kemakmuran.
.
Rezeki selalu menghasilkan kemakmuran. Jadi sudah seharusnya kita menghasilkan kemakmuran bagi diri terlebih dahulu, lalu bagi luar diri.
.
Jadi jangan khawatir, semua cara adalah rezeki. Baik atau buruk semuanya hanyalah pilihan. Berhasil atau tidak berhasil adalah pilihan. Banyak atau sedikit juga adalah pilihan. Tidak ada yang menentukan hasil seseorang kecuali pilihannya sendiri. Sementara berhati-hati dengan pilihan adalah syukur itu sendiri.
.
Dalam syukur itu ada kenetralan yang dibalut dengan kewaspadaan akal yang paham dengan hasil yang ingin dibentuknya. Jadi sekarang tinggal kita bersyukur dengan segala rezeki yang kita miliki. Caranya?
.
Aplikasinya syukur sebenarnya sangat sederhana, mohon jangan dibuat rumit. Caranya yaitu dengan ber-Terima dan Kasih. Terimalah dan berilah kembali apa yang diterima.
.
Kalau saat ini kita diberi tubuh yang sehat, akal yang berpikir, energy yang menghidupi… lalu apa yang akan kita berikan dengan itu semua? Minimal – pikirkan dahulu apa yang akan kita berikan kepada diri kita sendiri dahulu?
.
Jadi sahabatku… Kami yakin Anda sudaH paham kalau tidak ada lagi rezeki yang luas sekarang. Karena, kalau kita ingin menghasilkan “luas” maka kita akan membentuk luas dengan rezeki yang kita miliki. Luas itu hanya akan menjadi hasil dari rezeki yang terwaspadai dalam syukur.
.
Sebuah tahapan mungkin baru dimulai. Dengan perlahan-lahan dan lembut kita akan memperbaiki mindset yang tertanam keliru. Sampai akhirnya kita berhasil paham kalau kita memegang kekayaan semesta.
.
Manusia adalah rezeki itu sendiri. Syukur yang kita lakukan akan merubah seluruh rezeki yang kita miliki ini untuk kemakmuran diri dan semesta. Beginilah mindset sumber rezeki yang seharusnya.
.
.
Salam semesta

Copyright 2021 © www.pesansemesta.com

https://www.youtube.com/c/pesansemesta
  • 0
  • Mei 31, 2021
admin16 admin16 Author

Belajar Dalam Kesunyian

Sahabatku... Kesunyian hanyalah jalan yang akan membawa diri kepada kebisingan yang sesungguhnya.
Saat telinga sengaja dibiarkan tidak mendengar. Maka kebisingan semesta mulai mengeluarkan babak pelajarannya. 
Lalu akal pun akan mulai bergerak keluar dari zona nyamannya untuk mendengar bisingnya pelajaran. 
Jadi sahabatku... 

Cobalah berhenti dalam titik kesunyian untuk menjadi pelajar sejati. 
Terlalu banyak proses yang bertahap untuk menemukan titik yang sunyi itu memang. 
Bersabarlah dalam menemukan perhentian. Bagaimanapun juga, seorang pelajar memang butuh kesabaran, karena pelajar harus terus belajar. 
Anggap saja kesabaran itu sebagai timbal balik yang manis.
Salam semesta

#PesanSemesta
@pesansemesta.ig
  • 0
  • Mei 24, 2021
admin16 admin16 Author

2 TIPS SEDERHANA AGAR TETAP BISA DAMAI, MESKI HIDUP DALAM DOKTRIN/DOGMA YANG TIDAK LAGI DITERIMA KESADARAN


 

Seorang sahabat bertanya “Bagaimana cara atau tips sederhana agar kita mampu memposisikan diri diantara lingkungan yang kental dengan dogma dan doktrin keagamaan, juga tradisi yang selama ini diajarkan turun temurun?”

Sahabatku… Dalam hidupnya, setiap kesadaran akan belajar dan akan berkembang sesuai arahan semesta. Saat kesadaran mulai merangkak untuk membuka mata, maka diri akan mulai belajar. Dari hasil pelajaran itu mulai terlihatlah, kalau apa yang terpahami selama ini tidak pernah sama dengan apa yang selama ini diajarkan untuk benar. Akibatnya diri pun mulai bimbang untuk bersikap.

Sebuah pengalaman telah mengajarkan kalau ini merupakan kebimbangan yang memang tidaklah nyaman. Namun semesta mengajari kalau hidup merupakan hasil dari pilihan yang terpilih. Rasa hanyalah proses yang harus terlewati dari hasil sebuah pilihan.

Jadi apa yang harus kita lakukan hanyalah bersikap bijak untuk belajar berdamai dengan rasanya. Sambil mengizinkan kesadaran terus menerima porsi pelajarannya.

Terimakasih untuk pertanyaan yang hadir dari jiwa yang jujur bertanya. Melalui pertanyaan, semesta memberi jawaban yang indah untuk kita pelajari bersama. Sebuah penguat yang mengamankan kesadaran yang sedang belajar. Dan sebuah pendamai bagi jiwa yang sedang terbimbangi dalam pelajaran yang semakin menguat.

Mari kita pelajari dua tips sederhana berikut:

TIPS PERTAMA : INGATLAH KALAU SEMUANYA TIDAK HARUS SAMA

Sahabatku… Dari kecil kita diajarkan untuk berkelompok dan memilih kelompak. Sehingga tertanam di mindset kita kalau perbedaan adalah jarak pemisah. Akhirnya kita lupa kalau semesta ini terbentuk dari kepingan-kepingan perbedaan yang bermanunggal menjadi harmonis.

Jangan jauh-jauh, tengoklah jasad kita sendiri. Jasad kita adalah kekompakan organ-organ berbeda yang beroperasi dengan tujuan utama yang sama, yaitu untuk menunjang kehidupan kita.

Namun meski setiap manusia memiliki sistem operasi jasad yang sama, tetap saja mereka dibuatkan identitas yang berbeda. Sidik jari yang berbeda dan bahkan otak yang berbeda.

Sebuah penelitian menunjukkan kalau tidak ada dua orang yang memiliki anatomi otak yang sama. Dimana keunikan ini merupakan hasil kombinasi faktor genetik dan pengalaman hidup individu.

Dengan perbedaan yang akan terus kita bawa ini saja kita seharusnya sadar, kalau hal yang sama juga terjadi dengan kesadaran kita.

Tidak ada yang sama. Setiap kita memiliki tingkat kesadaran yang tumbuh dari pelajaran hidup kita masing-masing. Dan sama sekali tidak ada nilai yang lebih baik dari setiap kesadaran itu. Karena pada wujud yang senetral-netralnya, seluruh kesadaran terbentuk oleh SATU yang sama.

Jadi, sebagai seseorang yang sudah mulai tumbuh dengan kesadaran baru. Cobalah lebih memaklumi perbedaan dogma/doktrin yang ada. Merendahlah dalam tingkatan kesadaran yang telah terbentuk, dan cobalah menjadi contoh yang baik. Jadilah diri yang bisa menjadi contoh rahmatNYA bagi semesta alam.

Sahabatku… Tidak perlu memikirkan perbedaan dogma/doktrin yang ada, karena semuanya tidak harus sama. Izinkan diri mereka berkembang melewati pelajaran mereka, sementara diri kita terus berkembang melewati pelajaran kita.

Hargai pelajaran mereka, santunlah dan ingatlah semuanya tidak harus sama. Sang Pendamping selalu menghargai perbedaan apapun, dan terus memberi peluang yang sama adil bagi seluruh apa yang didampingiNYA. Jadi tidak apa kalau semuanya berbeda. Semuanya akan didampingiNYA dengan manis sesuai dengan porsi yang sengaja kita bentuk.

 

TIPS KEDUA : INGATLAH KALAU SEMUANYA BERAWAL DARI DALAM DIRI

Sahabatku… Biasanya seseorang yang menakuti perbedaan, adalah mereka yang masih takut terpengaruhi. Saat diri masih takut terpengaruhi oleh penilaian yang diluar diri. Maka caranya bukan menghindari tapi membentuk.

Bentuklah diri yang tidak lagi tersiksa dengan perbedaan. Saat diri sudah nyaman dengan perbedaan, maka perbedaan itu pun akan menghilang dengan sendirinya. Kita pun akan lebih menjadi nyaman, dan mampu membentuk energi yang harmonis ditengah perbedaan agama atau tradisi apapun.

Bagaimana caranya? Caranya adalah dengan melangkah apa adanya kedalam diri. Jangan menilai yang diluar diri. Tapi HANYA jadikan diri sebagai fokus yang utama.

Aplikasinya sederhana; Misalnya dengan membiasakan diri untuk tidak mengkafirkan orang lain, membiasakan diri untuk tidak menilai ibadah orang lain, membiasakan diri untuk tidak menilai kebaikan atau keburukan orang lain, membiasakan diri untuk tidak menilai keilmuan orang lain, membiasakan diri untuk menilai penampilan orang lain.

Jadi, saat diri sudah mulai menilai orang lain/kelompok/agama/tradisi orang lain, langsunglah masuk kedalam diri sendiri, rasakanlah diri sendiri dan mulailah mengendalikan diri sendiri untuk membentuk diri yang terbaiknya.

Tentunya tips yang kedua ini perlu dipraktekan dalam proses yang mungkin akan berlangsung seumur hidup. Seumur hidup kita akan melihat perbedaan, lalu mengendalikan diri untuk memakluminya.

Pada proses seumur hidup ini, cobalah untuk membawa ketulusan. Dimana kita mencoba tulus memaklumi karena apapun perbedaan yang terlihat bersumber dari sumber yang sama, yaitu Dzat Maha Pembentuk Perbedaan.

Dimana perbedaan yang ada ini hanyalah gerbang kita mengenal bentukanNYA. Lalu secara tulus kita menyaksikan bentukanNYA itu tanpa penilaian apapun selain hanya kenetralan yang tersisa dari tiap penyaksian. Ujungnya memang hanyalah harmonisasi yang damai.

Jangan khawatir, proses itu tidak memerlukan waktu, melainkan terbentuk dalam waktu itu sendiri. Jangan heran dengan tulisan ini, lakukan saja yang terbaik, suatu hari diri akan paham kalau apapun perbedaan semuanya hanya bersumber untuk menyaksikan yang seharusnya tersaksikan.

Agama itu dahulu dibentuk manusia agar manusia mampu bersaksi, sehingga mampu mengimani yang tersaksikan. Karena kalau sudah tersaksikan secara sempurna lahir batin, maka barulah seseorang mampu masuk kedalam gerbang keimanan. Saat keimanan mulai terbentuk maka barulah rasa SATU itu bisa terpahami.

Gerbang keimanan itu akan mendekat kalau kita mulai berdamai dengan perbedaan apapun. Pahami saja kalau seluruh perbedaan itu hanya ada berkat Sang Satu.

Akhir kata sahabatku… Tidak ada satupun yang akan terpecah belah dariNYA. Genggamlah dirimu sendiri untuk menemukanNYA didalam dirimu. Doktrin/dogma apapun hanyalah pemanis jalan yang tidak perlu dikhawatirkan, hanya cukup dihormati saja.

 

Salam Semesta

Copyright 2020 © www.pesansemesta.com

  • 0
  • Mei 02, 2021
admin16 admin16 Author

CARA MERUBAH LIMITED BELIEF

 


Menurut hukum kekekalan energi, energi dapat dirubah dari suatu energi menjadi energi lain. Jadi tidak ada yang tidak bisa dirubah dalam hidup ini. Setiap orang memiliki kekuatan untuk memilih keyakinannya. Itulah kenapa keyakinan seseorang bisa berubah dan berkembang menjadi baik. Sahabatku... Mari kita pelajari caranya. Salam Semesta Copyright (C) 2021 Connect to Pesan Semesta

https://www.youtube.com/c/PesanSemesta

  • 0
  • April 15, 2021
admin16 admin16 Author

UNTUK APA KITA BERPUASA?



Seorang sahabat bertanya “Sebenarnya untuk apa kita berpuasa?” Sungguh pertanyaan yang bagus pada awal bulan yang bagus. Mari kita mempelajari jawaban semesta secara netral, agar kita mampu mengambil pelajaran terindah dariNYA. Melalui anugerahNYA kami menjawab.

Sahabatku… Kami tidak akan menjawab kalau satu-satunya alasan kita berpuasa adalah untuk pahala. Pahala itu merupakan hal gaib yang butuh keikhlasan agar bisa terwujud.

Satu-satunya cara kita menyaksikan pahala adalah dengan menyaksikan kebaikan yang dibawanya. Dari proses penyaksian itulah, kita akan mampu melihat wujud pahala yang sebenarnya. Dan pastinya, kita hanya akan melihatnya dengan diri yang tidak lagi mendikte angka yang terterima.

Jadi Sahabatku… Untuk apa kita berpuasa?

Jawabannya adalah kita berpuasa untuk belajar pengendalian.

Tetapi bukan untuk mengendalikan lapar dan haus. Karena kita tidak berpuasa untuk lapar dan haus. Tetapi untuk menjadi rasa lapar dan haus itu sendiri. Kita berpuasa agar mampu berdiri diluar barisan depan hanya untuk melihat diri sendiri.

Jadi sahabatku… Saat berpuasa perhatikanlah rasa lapar itu, perhatikanlah rasa haus itu dan belajarlah darinya.

Belajarlah untuk merasakannya. Belajarlah untuk menyatu dengannya. Lalu belajarlah untuk mengendalikannya.

Mengendalikan disini bukan menghilangkan keniscyaannya. Namun meresapi nilai-nilai keniscayaan itu sendiri. Meresapi kalau setiap keniscayaan terbentuk dengan tali keseimbangan yang halus dan terkendali.

Sudah menjadi aturanNYA kalau jasad akan lapar dan haus. Rasa lapar merupakan hasil dari serangkaian proses yang terjadi ketika kadar glukosa atau gula dalam darah menipis. Ketika kadar glukosa menipis, sistem pencernaan melepaskan berbagai jenis hormon, termasuk insulin.

Pelepasan hormon-hormon tersebut merupakan sinyal bahwa tubuh membutuhkan asupan bahan bakar. Di otak sinyal dari jasad ini diterjemahkan sebagai rasa lapar.

Berarti secara tidak langsung, jasad berkomunikasi dengan memberi tahu kebutuhan yang kita butuhkan melalui rasa lapar. Sehingga akhirnya memaksa diri untuk memenuhi kebetuhannya dengan makan.

Tapi nanti dulu, jasad kita boleh saja merengeki kebutuhannya. Namun ternyata kebutuhan pun tercipta agar bisa terkendalikan. Dan ternyata jasad kita pun paham kalau kita sedang ingin mengendalikannya.

Jadi begini, setelah melewati waktu 8 jam berpuasa, hati akan menggunakan cadangan glukosa terakhirnya. Apabila ini terjadi, jasad memasuki kondisi gluconeogenesis menandai bahwa jasad mentrasisi dirinya ke mode puasa.

 

Pada mode puasa ini, penelitian telah menunjukkan bahwa gluconeogenesis meningkatkan jumlah kalori yang dibakar jasad. Tanpa karbohidrat yang masuk akhirnya jasad menciptakan glukosa sendiri menggunakan lemak. Ini proses yang aman bagi jasad. Hanya saja proses ini membuat kita merasakan lapar yang semakin akut.

Rasa lapar akut yang kita rasakan akhirnya terus menerus menekan otak ego kita untuk terus menerus memikirkan dan membutuhkan makanan selama berpuasa. Otak ego disebut juga otak primal.

Otak ego menempati posisi di otak kecil dan batang otak. Otak primal ini bertanggung jawab atas segala pergerakan didalam jasad dan aktifnya survival mode, yaitu fungsi bertahan hidup yang paling mendasar dari jasad manusia.

Uniknya otak primal ini tidak bisa berpikir. Otak ini hanya memiliki serangkaian respons perilaku yang terbatas yang dapat dipicu oleh pemicu tertentu. Rasa lapar dan haus terproses dalam bagian otak ini, sebagai respon yang mendesak kita untuk memenuhi kebutuhan dirinya.

Itulah fungsinya ego. Ego memiliki naluri kewaspadaan. Tersistem sebagai sebuah Alert system yang akan otomatis berbunyi apabila ada hal yang tidak nyaman terjadi bagi diri.

Jadi sebenarnya ego kitalah yang berkata… ohh kamu lemes karena puasa, kamu ga akan kuat, kamu harus makan dan lain sebagainya.

Sementara sebenarnya dari dalam jasad manusia sendiri masih tetap baik-baik saja. Karena jasad manusia memiliki sistem yang netral. Sayangnya kenetralan sistem jasad kita sering dirusak oleh ego yang tidak terkendalikan dengan baik dan benar. Tugas kitalah untuk mengendalikan ego ini agar tersistem dengan baik dan benar.

Disinilah letak alasan kenapa puasa kita lakukan, yaitu untuk belajar pengendalian ego. Dimana kita belajar mengontrol ego kita untuk menjadi lebih rasional disaat yang tidak rasional baginya.

Bagi ego, tidak rasional apabila kita tidak makan saat lapar, dan tidak minum saat haus. Tapi bagi jasad itu masih hal yang rasional. Karena sebenarnya sistem operasi jasad masih mampu bertahan dalam kondisi seperti itu.

Tugas berat utama saat kita mengaku berpuasa adalah membuka akal untuk menyeimbangkan antara keinginan dengan kebutuhan, sehingga ego mampu terkendalikan olehnya.

Ciri manusia yang berpuasa adalah mereka yang sudah bisa menggunakan akalnya untuk mengendalikan dirinya sendiri. Ingat rahasia kecilnya sahabatku… Akal manusia mampu menakar kebutuhannya dan ego manusia mampu menakar keinginannya.

Memang ada banyak hal penting yang harus kita perjuangkan, sehingga kita pantas berkata kalau diri ini adalah manusia yang berpuasa, dan bukan manusia yang sekedar tidak makan dan tidak minum. 

Tidak apa sahabatku… Lapar dan haus kita saat ini bisa menjadi gerbang pelajaran yang indah bersamaNYA apabila kita mau belajar. Saran kami, ambillah pelajarannya, jangan menilai hasilnya, terus sajalah belajar.

Besok sebagian kita masih akan berpuasa. Mungkin besok kita akan gunakan puasa itu sebagai pelajaran. Meski sebenarnya setiap hari kita harus berpuasa. Setiap hari kita harus belajar mengendalikan.

 

Selamat berpuasa sahabatku… Pahala berpuasa adalah kebaikan dari hasil pelajaran itu sendiri. Pahala bukanlah angka yang terhitung, melainkan hanyalah kebaikanNYA yang tak terhitung.

Dalam porsi-porsi pelajaran kita yang masih akan terus berlanjut, selalulah mengingat kalau pengendalian dan pelajaran itu tidak pernah kita lakukan sendirian. Kita mengendalikannya bersamaNYA dan kita juga mempelajarinya bersamaNYA. Dan setiap detik kita akan berpuasa bersamaNYA…

Karena tidak ada setitik pun detik yang terbentuk dalam waktu dan ruang tanpaNYA…

Akhir kata sahabatku… Berpuasalah, dan merendahlah dalam puasa itu.

 

Salam Semesta

Copyright 2020 © www.pesansemesta.com

  • 0
  • April 13, 2021
admin16 admin16 Author

MEMBUAT KIAMAT BAGI BUMI ITU MUDAH


 

Sahabatku... Mari kita renungkan kembali apa yang telah kita lakukan kepada planet kita ini. Perenungan kita akan menjadi gerbang kewaskitaan dan tanggung jawab antara diri dan semesta.
Salam Semesta Copyright (C) 2021
  • 0
  • April 11, 2021
admin16 admin16 Author

TIGA HAL YANG MAMPU MENURUNKAN FUNGSI AKAL

 


Sahabatku… AKAL adalah hal paling suci dari keberadaan diri sebagai manusia. Dengan akal-lah kita mampu membentuk kesadaran terbaik agar mampu saling memakmurkan. Dengan akal pula lah kita akan mampu berjalan menuju gerbang penyaksian segala penciptaan.

Sayangnya, banyak hal dalam hidup ini yang sengaja dibuat ‘seru’ untuk menurunkan fungsi kita dalam menggunakan akal. Tugas kita sekarang adalah menjaga diri untuk tidak terjebak didalamnya.

Penjebakan diri secara suka rela adalah sebab tersendiri dari akibat yang justru ingin dihindari. Jadi, berhati-hatilah. Hidup adalah lingkaran sebab dan akibat.

Semoga tiga hal besar yang kami sampaikan kali ini bisa mulai kita hindari. Agar kita tidak terus menerus menurunkan fungsi akal.

Berikut ini adalah tiga hal yang mampu menurunkan fungsi akal :

 

#Hal Pertama : TERUS-TERUSAN MENILAI

“Akal berfungsi untuk menetralkan penilaian, bukan mempertajam penilaian”

Sahabatku… Apa yang disampaikan semesta kali ini sangatlah unik. Tapi kalau dipikirkan secara netral memang begitulah diri kita adanya. Kebanyakan hal pertama yang kita lakukan saat ini adalah menilai.  

Kita bahkan sering menilai apapun yang masih diluar jangkauan diri sendiri. Uniknya, kita begitu pintar menilai sesuatu yang bahkan belum kita pahami. Contoh sederhananya, kita menilai cuaca saat ini sangat kacau. Tetapi kita sendiri tidak paham, kenapa cuaca bisa kacau seperti ini?

“AKAL akan menuntun manusia untuk memahami sebab akibat.”

Saat seseorang paham alur sebab akibat, maka dirinya akan merendah untuk tidak menilai. Tetapi perhatikanlah hidup kita saat ini sahabatku… Bukankah gerbang penilaian selalu berada didepan mata. Kita setiap hari hidup untuk menilai, dan bahkan mempersilahkan diri dinilai. Bukan begitu?

Sahabatku… Agar penurunan fungsi akal tidak semakin tersendat akibat penilaian-penilaian. Maka ada dua hal yang harus kita lakukan, yaitu mengajak akal untuk lebih sering mengamati dan menelusuri.

Amati setiap apa yang terlihat dan telusurilah, maka seketika akal kita akan mulai berfungsi. Tetapi sebelum melakukannya kita harus selalu mengajarkan AKAL untuk belajar dalam kenetralan.

 

#Hal Kedua : BERHENTI BELAJAR

Sahabatku… Hal kedua yang mampu menurunkan fungsi akal adalah berhenti belajar. Dari kecil kita sudah terbiasa dengan mindset yang mengkaitkan sekolah dengan belajar.

Kita tidak ditanamkan mindset kalau kehidupan ini sendiri adalah sekolah. Dimana tidak ada ujung bayangan yang akan menghentikan kita untuk menjadi pelajar.

Seperti sifatnya seorang pelajar, seorang pelajar tidak akan bisa menjadi sombong dalam kepintaran. Tetapi hanya akan meningkat. Namun bahkan dalam peningkatan pun dirinya tetaplah seorang pelajar. Itulah yang menjadikan seorang pelajar selalu duduk untuk mengamati dan menelusuri pelajaran.

Sayangnya kita tidak dijadikan untuk menjadi pelajar, kita hanya dijadikan penilai. Pertama kita diajarkan kalau belajar hanya disekolah, kita tidak diberi kesempatan untuk belajar secara otodidak, belajar dari pengalaman, apalagi belajar dari semesta.  

Ditambah lagi kita hanya diajarkan belajar untuk dinilai. Dalam sekolah, kita tidak diajarkan untuk mengamati dan mencerna porsi yang sesuai akal kita masing-masing. Tetapi kita hanya diberi pelajaran yang rata untuk menjadi benar atau salah.

Jadi disaat bersamaan kita seharusnya meningkatkan fungsi akal, maka disaat yang bersamaan pula akal kita diturunkan dengan penilaian-penilaian yang diharuskan.

Sahabatku… Kalau Anda setuju, maka janganlah melakukan hal yang kedua ini pada generasi muda kita sekarang. Izinkan akal mereka berkembang tanpa penilaian benar dan salah. Berilah mereka project yang mampu mereka telaah dan berpikirkan tanpa khawatir penilaian apapun.

Sehingga mampu tertanam ke dalam jiwa mereka, kalau segalanya dalam semesta ini sudah menjadi kenetralan yang tak ternilai. Dimana semuanya sudah menjadi Rahmat Semesta Alam-NYA.

 

#Hal Ketiga : MERUSAK KESADARAN

Akal adalah respon kesadaran yang berlangsung dalam pengoperasian jasad. Manusia hanya bisa mengoperasikan akalnya saat dirinya secara utuh sadar.

Kesadaran adalah keseluruhan gerakan jasadi dan rohani manusia. Kita boleh mengakui, kalau saat ini kita adalah orang yang sadar. Kita hidup, kita bergerak, kita pun senantiasa beraktifitas. Sayangnya, sadar bukan hanya tentang bangun, bergerak dan beraktifitas.

Lalu, apa itu orang yang sadar?

Orang yang sadar adalah seseorang yang waspada akan pikiran, perasaan, dan tindakannya. Dia tahu apa yang dia lakukan dan mengapa dia melakukannya. Artinya, orang yang sadar selalu membiarkan segala tindakannya selalu bergerak berdasarkan akal yang berpikir.

Orang yang sadar adalah orang yang mengenal dan memperhatikan diri sendiri lebih dari apapun. Karena inilah orang yang sadar mampu mengendalikan pikiran mereka sendiri. Artinya, orang yang sadar selalu mampu mengendalikan ego mereka dan membiarkan akalnya yang menuntun dirinya.

Orang yang sadar selalu waspada dengan segalanya, dan terus berusaha meningkatkan kesadaran dirinya. Senantiasa mengajak dirinya menuju layar kesadaran yang berikutnya. Artinya, orang yang sadar selalu membiarkan dirinya bergerak dinamis, optimis dan penuh aksi.

Jadi sadar itu bukan sekedar membuka mata, tapi bagaimana kita mengelola apa yang kita lihat. Bukan sekedar berbicara, tapi bagaimana kita mengelola apa yang kita ucapkan. Bukan sekedar mendengar, tapi bagaimana kita mengelola apa yang kita dengar. Bukan sekedar bergerak, tapi bagaimana kita mengelola apa yang kita gerakkan.

Jadi SADAR sangat erat kaitannya dengan AKAL. Lalu apa maksudnya merusak kesadaran?

Sahabatku… Merusak kesadaran itu berarti menghilangkan porsi diri dalam pengendalian dirinya sendiri.

Karena itu pahamilah sahabatku… Apabila seseorang sudah mulai terbiasa untuk menilai dan dinilai. Kalau seseorang sudah mulai terbiasa belajar hanya untuk penilaian dan menilai. Maka dengan sengaja seseorang mulai dikendalikan dengan penilaian dan penilaian. Akhirnya, perlahan-lahan dia kehilangan kesadarannya untuk mampu mengendalikan dirinya sendiri.

Disaat itulah dirinya berhasil merusak kesadarannya. Karena saat diri mulai terkendali dengan pihak lain, maka diri hanya mengikuti secara buta tanpa sedikitpun berpikir. Akhirnya akal pun menjadi semakin kerdil didalam tempatnya sendiri. Akal bahkan bisa kehilangan peran dan ter-down gradekan secara brutal.

-------------------

Sahabatku… Sampai disini kita masih memiliki pilihan untuk berhenti menilai,z untuk mulai belajar dalam kenetralan dan untuk mulai mengendalikan diri. Tiga hal ini akan kita lakukan bukan karena apa-apa selain agar diri lebih ber-akal lagi.

Mungkin sebagian kita bertanya-tanya. Apakah memang sebegitu pentingnya diri untuk ber-akal dan menjaganya?

Tentu sahabatku… Karya nyata hanya bisa tercapai oleh akal yang mau beraksi dalam kenetralan. Jadi bersiap-siaplah. Akal ini memang jembatan panjang menuju gerbang penyaksian segala penciptaan.

 

Salam Semesta

  • 0
  • April 08, 2021
admin16 admin16 Author

OFFICIAL CHANNEL



SUBSCRIBE ARTICLE

FREE E-BOOK

3# FREE DOWNLOAD E-BOOK - MENJADI AIR

DATABASE

COPYRIGHT

Seluruh artikel didalam website ini ditulis orisinil oleh tim penulis Pesan Semesta. Artikel yang kami share melalui website ini bukan hasil jiplakan, kutipan atau terjemahan.

Bagi pembaca yang ingin menghubungi penulis silahkan mengrim pesan melalui email : pesansemesta@yahoo.com


SALAM SEMESTA