Pesan Semesta.
melampaui batas menjadi satu

RAHASIA PENTING KENAPA AFIRMASI TIDAK PERNAH BERHASIL?

 


Seorang sahabat bertanya “Kenapa kalimat afirmasi yang saya ucapkan tidak pernah berhasil? Padahal kalimatnya sudah sesuai, dan diucapkan pada waktu yang sesuai” Melalui izinNYA kami menjawab.

Banyak praktisi spiritual yang mengajarkan tentang kekuatan afirmasi untuk membentuk energi baru dan merubah keadaan. Sayangnya mereka tidak gamblang berkata kalau :

Sebagus apapun kalimat afirmasi atau sesering apapun kalimat afirmasi diucapkan. Afirmasi tidak memiliki kekuatan super kompleks untuk mewujudkan energi yang Anda inginkan. Kecuali Anda mau melakukan dua hal ini secara berbarengan.

Lalu apa yang harus kita lakukan agar afirmasi berhasil?

HAL PERTAMA : MEMBENTUK EMOSI YANG SESUAI

Jadi begini sahabatku…

Afirmasi sering dikaitkan dengan membentuk energi melalui pengucapan kalimat positif yang diucapkan. Apapun kalimatnya. Setiap kalimat itu mengandung unsur getaran energi. Baik diucapkan, tidak diucapkan, atau pun hanya ditulis diatas kertas seperti yang sedang Anda baca sekarang, tetap saja unsur getaran energinya akan selalu ada.

Energetic field itu nyata dan bukan sebuah kerangka teoritis yang menyeliputi atom. Penemuan ilmiah fisika kuantum membuktikan bahwa medan energi itu memanglah ada. Medan itu mengandung segalanya dan menghubungkan segala sesuatu dengan yang lainnya.

Contohnya manusia. Manusia adalah energi, apapun yang dihasilkannya adalah energi yang bergetar dan terhubung dalam frekuensi yang selalu membentuk. Baik dalam wujud energi yang terbentuk dalam bentuk fisik (materi) ataupun terbentuk non fisik, salah satunya seperti emosi.

“Emosi adalah getaran energi yang kadang tidak terwaspadai”

Sudah menjadi hukum energi, kalau setiap getaran energi akan menarik frekunsi yang sama. Semakin kuat getaran energi, maka akan semakin kuat frekuensi yang ditarik. Lalu semakin kuat pula energi terbentuk.

Hanya saja dari mana sebuah kalimat memiliki unsur getaran energi BUKAN dari kalimatnya. Melainkan dari bagaimana kalimat itu ditulis atau diucapkan. Dengan kata lain kesadaran seseorang yang menulis atau mengucapkannya lah yang terpenting.

Saat kita berbicara tentang kesadaran, maka kita akan berbicara tentang totalitas keberadaan diri kita saat ini. Kesadaran itu bukan drama yang penuh manipulasi.

Kesadaran adalah kejujuran yang kita hasilkan dari jiwa raga yang kita operasikan saat ini. Rahasianya: Emosi membentuk energi kesadaran. Apapun yang kita ucapkan sebagai afirmasi tidak akan membentuk energi-energi apa-apa. Tetapi kesadaranlah, termasuk didalamnya emosi kita lah yang membentuk energinya.

Pertanyaannya: Seperti apa itu emosi kita saat mengucapkan afirmasi? ---- DISINILAH KUNCI KEBERHASILANNYA BERADA!

Kebanyakan kita mengucapkan afirmasi dalam kondisi emosi tidak memiliki. Masuk akal memang; kita tidak memiliki kebahagiaan. Maka itu kita menginginkan kebahagiaan, bukan begitu?  Lagi pula, kalaulah kita memiliki kebahagiaan atau apapun itu tentu kita tidak akan menginginkannya.

Betul sahabatku! Tidak ada yang salah dengan keinginan. Namun kalau kita ingin membentuk energi, maka hal utama yang harus kita hindari adalah KEINGINAN. Anda boleh membaca tulisan kami yang sebelumnya karena ini sangat berhubungan.

Disini kami akan mengulang saja kalau energi kebahagian terbentuk dari emosi kebahagian, dan bukan dari ‘keinginan’ untuk bahagia.

Saat seseorang ingin kebahagiaan, maka seseorang itu sadar kalau dirinya tidak memiliki kebahagian. Emosi tidak memiliki kebahagiaan pun terbentuk ke dalam sebuah energi.

Sementara sudah menjadi keniscayaan kalau energi bergetar menarik frekuensi yang sesuai dengan frekuensi yang dipancarkan. Karena frekuensi yang Anda pancarkan adalah frekuensi tidak bahagia, maka itulah yang Anda tarik. Dan ini berlaku untuk energi-energi lainnya.

Disinilah pentingnya meletakan emosi yang tepat dalam afirmasi. Kalau Anda meletakan emosi tidak berbahagia, maka afirmasi apapun TIDAK AKAN PERNAH bisa membentuk energi yang Anda inginkan. 

Apapun isi dan tujuan afirmasi Anda, maka afirmasi itu tidak akan pernah terwujud kalau masih menjadi keinginan.

Itulah kenapa, saat seseorang sedang merasa sengsara, tidak bersyukur, sedih, depresi, tertekan lalu mengucapkan afirmasi “Saya bahagia” maka afirmasi itu justru bukan berbalik otomatis sebagai rasa kebahagiaan. Justru perasaan bersalah kalau dirinya memang sedang tidak berbahagia, dan sangat ingin berbahagia.

Frekuensi hanya menarik frekuensi yang sama.  Sementara kesadaran manusia adalah energi getarannya, dan emosi membentuk energi kesadaran.

Sekarang Anda paham bukan, kalau meletakkan emosi yang tepat dalam afirmasi, satu juta kali lebih penting dari afirmasi itu sendiri. Ini adalah bukti kalau semesta tidak pernah tuli – semesta hanya mendengar sebelum terdengar.

Tapi perhatikanlah sahabatku… Bukankah ada aksi yang harus kita lakukan disini? Iya, aksi itu adalah mengendalikan. Dan inilah hal kedua yang harus kita lakukan agar afirmasi berhasil.

HAL KEDUA : MENGENDALIKAN DIRI

Mampukah kita mengendalikan kesadaran diri membentuk emosi kecukupan untuk membentuk kecukupan? Mampukah kita mengendalikan kesadaran diri membentuk emosi kedamaian untuk membentuk kedamaian? Mampukah kita mengendalilan kesadaran diri membentuk emosi kebahagian untuk membentuk kebahagiaan?

Kita boleh mengucapkan afirmasi untuk mewujudkan keinginan, tidak ada yang salah dengan ini.

Hanya saja, bagian paling salahnya adalah, saat kita hanya membiarkan kesadaran berlari tanpa pengendalian. Karena saat seseorang mengendalikan, maka seseorang akan paham sebab akibat dari segala tindakannya. Akhirnya bukan hanya ucapannya saja yang penuh afirmasi. Melainkan seluruh tindakannya selaras dengan afirmasinya. Kesadarannya pun menjadi kompak dan selaras.

Contoh sederhana mereka yang paham sebab akibat tidak berharap menjadi pintar. Melainkan mereka hanya fokus belajar untuk menjadi pintar. Betul pintar menjadi keinginan mereka. Tetapi mereka mengendalikan diri untuk tidak hanya fokus pada keinginannya, melainkan juga pada sebabnya.

Masalahnya seseorang yang selalu membiarkan diri didikte oleh keinginan tanpa pengendalian justru cenderung melakukan yang sebaliknya. Mereka cenderung fokus pada keinginan agar cepat terpenuhi tetapi menutup akal untuk menganalisa sebabnya.  

Padahal apabila afirmasi dilakukan berbarengan dengan pengendalian, maka segala keinginan tidaklah menjadi hal yang mustahil. Jadi sahabatku cobalah belajar untuk menjadi pengendali yang mengendalikan keinginan dan bukan sebaliknya.

Akhir kata sahabatku…

Sekali lagi, Kalimat afirmasi tidak memiliki kekuatan super kompleks untuk mewujudkan apapun. Energi yang kita bentuklah yang mampu mewujudkannya. Energi tidak dibentuk dengan kalimat, melainkan dengan kesadaran.

Ini tidak rumit sahabatku… Ini hanya sebuah tanda bagi akal untuk paham kalau dirinya adalah gerbang Sang Pembentuk. Renungkanlah…

 

Salam Semesta

Copyright © www.PesanSemesta.com

  • 0
  • Oktober 18, 2021
admin16 admin16 Author

3 LANGKAH AGAR DIRI TERLEPAS DARI ZONA KEINGINAN



“Energy terbentuk dalam zona netral, bukan zona keinginan”

Mereka bilang hidup ini digerakan oleh keinginan. Kita boleh menganggap itu betul. Meski pada keniscayaannya keinginan tidak bisa menggerakan kehidupan.

Bukti sederhananya, cobalah berdiri di depan sepiring makanan saat lapar. Secara logika, pastinya Anda ingin memakannya karena Anda lapar bukan? Tapi apakah Anda akan memakannya dengan keinginan Anda, atau dengan kesadaran Anda yang berhasil menggerakan tangan untuk mengambil makanan dalam sepiring makanan itu dan menyuapnya?

Iya betul sahabatku…

Keinginan menjadi dasar bagi manusia untuk mau bertindak lalu memenuhi kebutuhannya. Tetapi keinginan tidak pernah menjadi penggerak yang alami. Kesadaran kitalah yang bertindak sebagai penggerak dan bukanlah keinginan kita.

Disinilah letak kemulian manusia dibuat. Dimana manusia dibuat untuk tidak menjadi budak keinginannya, melainkan pengendali keinginannya sendiri.

Dimana meski manusia memiliki insting keinginan yang kuat dalam dirinya. Tetapi tetap dirinya tidak diprogram untuk dikontrol oleh keinginanya sendiri. Melainkan justru untuk mengendalikan keinginannya agar dirinya tidak HANYA terperangkap dalam zona keinginan.

Kami sebut perangkap, karena zona keinginan adalah zona tidak netral seseorang. Dimana seseorang dengan sengaja menempatkan dirinya pada satu tempat yang belum dimilikinya. Bukan yang sudah dimilikinya.

Kalau kita berhasil menempatkan diri dalam zona tidak memiliki dan mempertahankan posisinya, maka itulah energy yang kita bentuk. Padahal sebenarnya kita mengharapkan bentuk yang sebaliknya bukan?

Disinilah pentingnya melepas diri dari ZONA keinginan. Karena rahasia agar keinginan terwjud sebenarnya sangat sederhana namun sangat powerfull. Rahasianya adalah, jangan hidup dalam zona keinginan. Tapi rubahlah keinginan itu menjadi ALASAN.

Kita harus ingat kalau manusia adalah makhluk energetis yang dibuat dengan keagungan dan kecukupan yang sempurna. Pada core yang sebenar-benarnya kita adalah energi netral semesta yang juga membentuk energi. Sementara sekali lagi, energy terbentuk dalam zona netral, bukan zona keinginan.

Energy terbentuk dalam zona netral berdasarkan hukum sebab-akibat. Jadi, kalau kita berhasil keluar dari zona keinginan untuk merubah segala keinginan menjadi sebuah sebab untuk akibat yang sesuai dengan keinginan, maka segala keinginan akan selalu terkabul.

Lalu, bagaimana caranya keluar dari zona keinginan? Ada 3 langkah untuk keluar dari zona keingainan :

Langkah Pertama : Menerima untuk mengendalikan

Saat keinginan muncul, maka terimalah. Jangan ditolak! Keluar dari zona keinginan bukan menutup segala keinginan. Tetapi mengendalikannya. Lalu, bagaimana cara mengendalikan keinginan?

Caranya sederhana, tapi jujur tidak semudah itu. Hal paling awal, imajinasikan segala keinginan itu secara detail. Benar-benar detail dan sangat detail. Jangan lewatkan satu apapun. Anda bisa mempraktekannya dengan cara apapun. Boleh ditulis, dirangkai, digambar. Apapun itu yang penting detailnya sangat jelas.

Setelah detail keinginan Anda jelas, maka Anda harus setuju untuk menjadi pengabul keinginan itu sendiri, dan inilah bagian yang tidak mudahnya itu.

Kebanyakan manusia terjebak dalam zona keinginan, karena tidak mau bersusah payah menjadi pengabul keinginan dirinya sendiri. Mereka berdalih, kalau pengabulan itu tugasnya Dzat Maha.

Padahal mereka hanya tidak mau bersusah payah. Meski Dzat Maha sendiri sudah berUjar tidak akan merubah kaum, kecuali kaum itu mau merubah dirinya sendiri. Tetap saja dalih itu digunakan, karena tidak mau memaksimalkan anugerahNYA.

Jadi pertanyaannya sahabatku… Mampukah kita menerima keinginan, membentuknya, lalu mengendalikan ego kita untuk bersusah payah?

Kalau jawabannya adalah, iya. Maka mari kita maju ke langkah kedua.

 

Langkah Kedua : Beraksi secara netral

Apa itu aksi netral? Aksi netral adalah aksi seseorang yang tidak mendikte hasil. Tetapi aksi seseorang yang hanya waskita pada aksinya untuk menerima akibatnya.

Disinilah posisi membentuk energy berlangsung. Dalam langkah kedua ini seseorang akan terus berproses-berproses-berproses untuk membentuk ALASAN agar keinginannya terwujud.

Dalam langkah ini seseorang akan memaksimalkan jasadnya, akalnya, waktunya, tenaganya untuk sebuah ALASAN. Dengan kata lain, seseorang sadar dengan segala perangkat yang sudah diamanahkan kepada dirinya sendiri.

Dalam posisi ini seseorang akan melihat dirinya sendiri tumbuh dan paham betapa berharga segala amanahNYA dalam diri ini.

Akhirnya seseorang akan merasakan kalau dalam setiap proses membentuk ALASAN selalu ada Dzat Maha yang terus membersamai. Dzat Maha lebih dekat dari urat nadi pun menjadi kalimat yang nyata!

Sehingga seseoarang itu bisa melangkah menju langkah ketiga.

 

Langkah Ketiga : Berbahagia

Sahabatku… Ini adalah langkah yang berharga, yaitu saat diri mampu merasakan kebahagian melihat dirinya berproses untuk sebuah ALASAN. Dimana keinginan itu tidak lagi menjadi keinginan, melainkan hanyalah sebuah AKIBAT yang sedang disaksikan untuk terwujud.

Dalam langkah ini bukan berarti Anda sedang nyaman tanpa merasa lelah. Pasti Anda sangat lelah… Tapi yang membedakan adalah, Anda paham kalau lelah adalah harga untuk sebuah ALASAN. Anda paham kalau lelah adalah rasa tunduk Anda kepada Dzat pemberi amanah. Anda juga paham, kalau lelah hanyalah gemblengan.

Jadi dalam langkah ketiga ini, lelah tidak lagi membuat Anda sengsara atau menyengsarakan. Dalam langkah ketiga ini Anda akan dipenuhi dengan kekuatan membentuk karena Anda telah berhasil melakukan langkah kedua, yaitu beraksi secara netral.

Pikirkan begini : Kalau Anda bisa membersamai Sang Pembentuk yang membentuk segalanya tentang Anda, tentang keinginan Anda, tentang kesadaran Anda. Maka apakah Anda akan kekurangan kekuatan? Resapi pelan-pelan sahabatku…

Percayalah … Ketiga langkah ini apabila dilakukan, maka akan mewujudkan segala keinginan secara ramah tanpa penyiksaan ego karena harus terjebak dalam zona keinginan. Anda akan menyadari, kalau pada malam yang begitu lelah, Anda masih bisa tersenyum dan merasa nyaman dengan segala keinginan, dan bukan malah sebaliknya.

Jujur saja butuh banyak waktu yang terlewati sebelum pelajaran ini bisa tertulis apa adanya. Namun kami tidak sedang berbagi kesempurnaan seorang penulis, kami hanya sedang membagi pelajaran semesta yang masih sedang dipelajari. Seorang pelajar hanyalah pelajar, dan itulah kami.

Akhir kata sahabatku… Semesta adalah kecukupan yang apa adanya. Artinya, apapun nilai yang kita tanamkan, selalu akan menjadi nilai kita. Ini sangat kuat sahabatku… maka itu berhati-hatilah! Karena kita telah lama meremehkan diri kita sendiri.

Kita meremehkan Dzat Maha yang sudah membentuk kita dengan bentuk yang sempurna.

Renungkanlah! Kalau kita adalah bentukNYA yang sempurna, maka apakah kita akan dibentuk untuk merintihi keinginan atau justru untuk mewujudkannya?

Kalau begitu, jangan meremehkan diri yang sedari awal diri ini sudah dipersiapkan untuk menjadi gerbangNYA yang MAHA Kaya, Maha Utuh, dan Maha cukup.

 

Salam Semesta

Copyright 2021 ©www.pesansemesta.com

  • 0
  • Oktober 13, 2021
admin16 admin16 Author

KENAPA KITA TIDAK MEMILIKI KEKUATAN SUPER?

 


Pernah berpikir kenapa kita tidak bisa melihat peristiwa tanpa kehadiran fisik? Melihat dimensi yang tidak terlihat? Memahami suara binatang? Memprediksi pergerakan bumi? Mengetahui apa yang dirasakan oleh orang lain atau membaca pergerakan pikiran mereka? Atau kenapa kita tidak memiliki kemampuan pengetahuan tanpa batas secara instant tanpa berpikir?

Buat sebagian kita ini semua hanya khayalan komik belaka. Namun padahal sebenarnya apa yang tadi kami sebutkan diatas dalam dunia medis, dikenal sebagai Extrasensory Perception (ESP) yaitu kemampuan dasar manusia yang terbukti ada, tapi tidak berkembang.

Jadi, dahulu pada saat kita masih balita kemampuan ESP ini berkembang sangat pesat. Namun seiring waktu kita tumbuh, justru kemampuan ini berkurang drastis.

Dimana saat kita beranjak dewasa Extrasensory Perception (ESP) kekuatannya akan berkurang sebanyak 60-75% lantaran berbagai macam faktor salah satunya yang paling umum adalah lingkungan yang berpikir itu merupakan ketidaknormalan yang tabu untuk dipertahankan.

Selain pandangan yang mendegradasi kemampuan tubuh. Ada juga beberapa alasan yang memang turut mendowngradekan kesempurnaan manusia itu sendiri.

Kalau sekarang kita bertanya kenapa kita tidak memiliki kemampuan-kemampuan normal dan wajar seperti diatas, alasannya adalah karena beberapa hal :

1# Jasad yang kemampuannya terus menurun

Sahabatku… Harus diakui, kalau selama beberapa generasi. Jasad kita merosot dan ber-evolusi ke bentuk yang lebih buruk. Alasannya terlalu jelas; Makanan dan minuman yang diolah buruk, udara yang buruk, tanah yang kehilangan kualitasnya, kimia yang sengaja diciptakan untuk keuntungan, pola hidup dan keseimbangan jiwa yang tidak terarah.

Ini semua membuat kita merosot. Saat jasad kita merosot dalam kualitas, jangankan untuk melatih ESP bahkan memaksimalkan panca indra lahiriah pun akan susah. Mata yang merabun. Pendengaran yang melemah. Indra pengecap yang terkontaminasi dan indra perabaan yang kurang akurat.

Solusinya saat ini adalah, dengan mencoba perbaiki jasad ini ketahap normal yang seharusnya terlebih dahulu.

Normalnya jasad kita adalah jasad terbaik. Begitu juga dengan jiwa yang mengoperasikan jasad, harusnya jiwa kita adalah jiwa yang terbaik juga. SANG PEMBUAT pada awalnya tidak memberikan dan membuatkan kita apa-apa selain kebaikan.

 

2#  Anggota dan komponen jasad yang tidak dikuasai dan tidak dilatih

Jujur saja, pengetahuan kita akan jasad sendiri masih terlalu minim, atau bahkan sangat minim. Dan jujur saja ini sangat wajar. Karena dalam masa belajar di sekolah kita hanya belajar untuk mendapatkan nilai A di bidang biologi atau fisika. Dan bukan untuk paham dan memanfaatkan kepahaman. Kalaupun paham, sebagian kita hanya menjual kepahaman kita untuk berlembar-lembar uang bukan kemakmuran.

Kemakmuran disini adalah kemakmuran jasad kita sendiri. Akhirnya, beginilah kita. Ibarat seseorang yang mengendarai mobil tanpa mengenal apa itu bedanya dan kapan menggunakan gigi 1-5 dan 6. Sehingga mobil yang kita tunggangi itu meluncur bebas dalam kebingungan arah dan tujuan.

Sahabatku… Kita semua harus belajar kembali untuk memakmurkan jasad ini. Lalu perlahan-lahan kita melatih kembali jasad ini agar kembali kedalam wujud terbaik yang dibuatNYA.

Extrasensory Perception (ESP)  dalam diri seseorang akan perlahan tertutup dan mati apabila terbengkalai dan tidak pernah dilatih untuk diaktifkan.

 

3# Penilaian manusia yang salah

Apa itu mistis? Apakah bagi kita beberapa jenis utama Extrasensory Perception (ESP) yang kami singkat diatas adalah ke-anehan, sesuatu yang berhubungan dengan jin, sesuatu yang syirik, sesuatu yang tabu?

Sahabatku… Kita sering menilai sesuatu yang berbeda karena kita bahkan tidak mengetahui informasi apa-apa terhadap apa yang kita nilai.

Sebenarnya ini karena kita tabu untuk sesuatu yang tidak sama dengan diri kita. Padahal perbedaan adalah keniscayaan yang diciptakan. Akhirnya kita tidak netral dengan penilaian kita. Padahal penilaian kita itu adalah pengkerdilan diri kita sendiri. Kita mengkerdilkan kemampuan SANG PEMBUAT untuk membuat yang Maha Sempurna dan yang Maha Baik.

Sahabatku… Bukankah kita memang mengimani kalau Dzat Maha menciptakan kita dalam sebaik-baik rupa dan bentuk? Lalu apa itu penilaian-penilaian kita?

 

4# Kehilangan arah untuk mengenal diri dan jati diri yang sebenarnya

“Siapa yang tidak mengenal dirinya maka tidak mengenal Tuhannya” bukankah kita terbiasa mendengarnya dan tetap saja menenggelamkan diri dalam aroma ketidakmengertian akan diri dan ketidakmengenalan akan jati diri.

Pertanyaannya menjadi sederhana: Bagaimana kita bisa mengetahui sebuah keagungan kalau kita jauh dari sumbernya?

Akhir kata sahabatku…     

CARA MENGAKTIFKAN KEKUATAN SUPER MANUSIA pada jasad adalah dengan kembali mengenal jati diri, mempelajari jasad, mengendalikan nafsu, mengendalikan pikiran dan ketenangan jiwa, meningkatkan spiritualitas dengan senantiasa membenahi iman dan ketakwaan diri, tidak menebar kebencian dan penilaian, membersihkan hati nurani dengan mengingat kembali keagungan penciptaan diri, terakhir mentafakurkan serta mentadaburkan kembali semesta yang ada didalam diri sambil merasakan kebersamaan bersamaNYA.

Anugerah Extrasensory Perception (ESP) sejak kita lahir sudah ada dalam diri kita tanpa perlu dicari keluar. Hanya perlu waktu untuk diri kita menemukan diri kita sendiri dan menerima diri atas apa yang seharusnya kita miliki.

Setiap manusia mempunyai proses dan mempunyai pilihan juga apakah akan terus berproses atau berhenti berproses. Peningkatan jasad adalah sebuah pilihan, kita bebas memilihnya.

Cukup pastikan kita memilih dalam kenetralan. Kita memilih untuk kembali menjadi super human bukan karena sebuah cap SUPER melainkan untuk sebuah manfaat yang bisa kita sebar sebagai semesta.

Kalaulah kesempurnaan jasad ini adalah anugerahNYA kepada seluruh manusia agar bisa menyempurnakan tugasnya sebagai khalifah diatas muka Bumi, maka bagian mana lagi yang akan kita dustakan dari anugerahNYA ini?

 

Salam Semesta

Copyright © www.pesansemesta.com

 


  • 0
  • September 27, 2021
admin16 admin16 Author

RAHASIA AGAR SETIAP ILMU BER-MANFAAT SEHINGGA BISA MENJADI AMAL YANG DITINGGALKAN

 


Seorang sahabat bertanya “Bagaimana caranya meninggalkan ilmu agar bisa bermanfaat?”

Caranya, adalah dengan mensyukuri setiap ilmu yang ter-terima dan janganlah pernah setitik pun menyombongkannya.

Kesombongan itu muncul dari rasa kepemilikan yang tinggi. Saat seseorang merasa begitu memiliki ilmunya. Maka ilmunya akan menjadi gerbang kesombongan yang besar.

Sahabatku… Tulisan ini merupakan sebuah jawaban yang halus dan juga keras.

Dikatakan halus, karena setiap saat seseorang akan senantiasa ber-ilmu. Dalam semesta ini, ilmu itu tidak pernah ditemukan. Melainkan segalanya adalah ilmu. Kita yang berjalan dilautan ilmu ini, adalah seorang pelajar.

Jadi setiap kita hidup sebagai seorang pelajar. Setiap pelajar memiliki pilihan untuk belajar atau tidak belajar. Itulah kenapa, memang manusia akan terus ditakdirkan menjadi manusia yang ber-ilmu selama dirinya belajar.

Pertanyannya; Saat kita mulai menjadi ber-ilmu, maka akan di-apa-kan keilmuan itu? Inilah bagian kerasnya, yaitu sebuah aplikasi. Dalam aplikasinya setiap yang ber-ilmu memiliki dua pilihan; Pilihan pertama, ilmu itu dijadikan pintu ke-syukuran. Pilihan kedua, ilmu itu dijadikan pintu ke-sombongan.

Lalu, apa saja itu tanda manusia telah memilih menyombongkan ilmunya :

#Tanda pertama: Ilmu dipakai untuk membenarkan diri

Sahabatku… Ilmu itu akan senantiasa berubah. Dimana ilmu itu tidak pernah utuh. Bagaimana pun utuhnya dan sempurnya ilmu. Tetap ada masa-nya ilmu itu harus ditingkatkan, diupdate dan direvisi terus-menerus dari generasi ke generasi.

Menggunakan ilmu untuk pembenaran akan menjadi kendala pada keniscayaan ilmu itu sendiri. Itulah kenapa kita harus berendah diri untuk tidak menggunakannya sebagai sebuah pembenaran. Apalagi untuk membenarkan kelompok dan diri sendiri.

Pilihan ini sebenarnya sangat spiritual. Kalau lah semesta ini adalah ilmuNYA Dzat Maha Ilmu dan ilmuNYA Dzat Maha Benar. Maka memang tidak ada yang sanggup membatasi keduanya kecuali Pemiliknya sendiri bukan?

Jadi, memendam diri untuk tidak mencoba menjadi sang maha benar dalam keilmuan apapun, akan menjadi pilihan jiwa yang merendah diri dihadapan Sang Pemilik ilmu.

Ini penting sahabatku… Karena apabila, seseorang belum mampu merendah diri dihadapan Dzat Yang Membentuk dirinya sendiri. Maka seseorang itu akan sulit merendah dihadapan manusia. Hasilnya, dirinya akan senang untuk menggunakan ke-ilmuannya untuk memperdebatkan pemahaman. Dan inilah tanda kesombongan yang kedua.

 

#Tanda kedua: Ilmu dipakai untuk memperdebatkan pemahaman

Sahabatku… Dalam perdebatan selalu harus ada kubu yang menang. Jadi memang debat hanyalah tentang menang atau kalah. Boleh bisa kita berkata di awal kalau debat ini tentang pertukaran keilmuan.

Tapi kalau boleh jujur sahabatku… Haruskah keilmuan dimenangkan atau dikalahkan? Haruskah kita merasa menang diatas keilmuan seseorang yang masih cetek? Haruskah kita tersenyum diatas seseorang yang dikerdilkan keilmuannya? Jawaban sopannya tetap tidak.

Kehidupan adalah kesempatan bagi tiap pelajar untuk belajar. Hasilnya adalah tiap kita menerima ilmuNYA Dzat Maha. Itulah kenapa kita memang sudah harusnya menghargai keilmuan seseorang dan bukan mendebatkannya. Karena perdebatan yang paling baik adalah pembuktian aksi.

Kita adalah semesta. Kita adalah bagian semesta. Kontribusi kita sebagai semesta adalah dengan amal perbuatan. Bukan sekedar ribuan kata-kata perdebatan. Karena tanpa butuh perdebatan kita ini adalah ilmu-NYA bukan? Sesungguhnya Dzat Maha telah menganugerahkan dan mengatur hidup kita tanpa perdebatan, melainkan hanya aksi nyata.

Semesta ini terbentuk tanpa perdebatan. Jantung ini berdetak tanpa perdebatan. Matahari terbit dan terbenam tanpa perdebatan.

Maka itu, silahkan perdebatan itu dimulai dengan satu aksi kecil, bukan satu kata besar. Satu aksi kecil adalah ketundukan, karena telah melakukan sesuatu dengan apa yang telah dianugerahkan-NYA, yaitu ilmuNYA.

 

#Tanda ketiga: Ilmu tidak ditukar untuk kemakmuran semesta

Kemakmuran diperoleh oleh satu aksi, yaitu memakmukan. Me-makmur-kan adalah memfungsingkan diri untuk kehidupan, bukan untuk keuntungan. Kita memakmurkan kalau kita sudah bisa berperan untuk kehidupan semesta, bukan sekedar berperan untuk mencari keuntungan bagi diri sendiri.

Kalau sinar matahari menyinari seluruh wajah manusia. Maka begitulah kita harus juga bersinar untuk seluruh wajah manusia, tanpa mengenal kata imbalan.

Jelas kemakmuran adalah satu kata besar yang butuh pembuktian nyata. Dan inilah fungsi ilmu dan ber-ilmu, yaitu untuk memakmurkan.

Saat membicarakan me-makmur-kan, bukan membicarakan hak, melainkan kewajiban. Ilmu itu selalu tentang kewajiban sahabatku... Bukan lagi mana hak yang akan saya terima dari ilmu ini? Tapi apa kewajiban saya dengan ilmu ini?

Ilmu itu sendiri sudah menjadi hak yang sudah kita terima, dan sekarang tinggal kewajiban kita saja, yaitu untuk menggunakannya untuk kemakmuran. Perhatikanlah, bukankah sekarang polanya sudah dibalik. Berbondong-bondong kita menimba ilmu untuk menerima hak. Bahkan disaat hidup pun kita masih berpikir hak apa yang akan kita dapat nanti setelah meninggal dari manfaatnya ilmu ini.

Akuilah sahabatku… Tidak apa, kita memang masih begitu sibuk mencari hak yang diterima. Akhirnya masing-masing kita hanya sibuk mengumpulkan keuntungan. Bahkan saat meninggal pun kita masih sibuk mengais keuntungan dari apa yang telah kita tinggalkan, bukan begitu?

Pasalnya, kemakmuran tidak untuk mencari keuntungan pribadi, kelompok atau golongan. Kemakmuran adalah kehidupan untuk kehidupan.

Karena seluruhnya ada dalam kehidupan SANG PENCIPTA maka merupakan keniscayaan semesta untuk bergerak sesuai penciptanya, yaitu kehidupan untuk kehidupan. Dan inilah yang kita lupakan sahabatku…

Kita lupa kalau ilmu yang kita pelajari ini adalah tentang kehidupan untuk kehidupan. Dimana dengan ilmu ini seharusnya kita TIDAK hanya sangat peduli untuk me-makmur-kan kehidupan kita sendiri, tetapi juga harus peduli untuk me-makmur-kan kehidupan lain.

Sehingga kita tidak menjadikan ilmuNYA berperan dalam peran egoisme yang sempit. Dimana kita hanya menjadikan ilmuNYA sebagai keuntungan, dan bukan kemakmuran. Dimana akhirnya sifat rahmat ilmuNYA bagi semesta alam pun hilang. Kesombongan dari kepemilikan ilmu muncul. Lalu mensyukuri ilmu pun menjadi teramat susah.

Susah, karena mensyukuri ilmu itu bukan dengan mengucapkan terimakasih kepada Dzat Maha Ilmu yang sudah menjadikan kita ber-ilmu. Bukan pula mencoba membalas anugerahNYA dengan perbuatan baik seperti sedekah atau acara berbagi yang kita berikan atas namaNYA.

Mensyukuri ilmu yang sebenarnya adalah lebih BESAR, yaitu kita menjadikan diri sebagai gerbang Sang Sumber Ilmu. --- Sungguh tak terbayangkan besarNYA bukan? Dimana yang besar itu sebenarnya bukan ilmuNYA. Melainkan sumber ilmu itu sendiri. Jadi mohon mulai sekarang jangan diremehkan hal besar ini.

Mulai sekarang kita akan paham, kalau tidak ada ilmu yang master atau tidak master. Tidak ada ilmu yang sederhana atau tidak sederhana. Karena keseluruhan ilmu, baik yang master atau tidak master. Baik yang sederhana atau yang tidak sederhana hanya bersumber dariNYA.

Jadi setiap pelajar yang berilmu itu sedang memegang sebuah tanda ke-Maha Besaran Sang Alim. Yang mana isi genggaman itu bukan untuk sebuah kepemilikan yang disombongkan. Melainkan untuk disyukuri, yaitu untuk dijadikan rahmat bagi semesta alam.

Itulah kenapa dengan mensyukuri ilmu, maka kita akan menutup pintu-pintu kesombongan. Karena kita telah berhasil dengan sengaja menutup pintu-pintu kepemilikian. Lalu kita hanya memilih fokus pada satu titik yang sibuk, yaitu untuk mengaplikasikan ilmuNYA ini untuk memakmurkan, yaitu untuk menjadi rahmatNYA bagi semesta alam.

Akhirnya kemakmuran bisa tersebar dengan seharusnya dengan sumber ilmuNYA. Sangat besar, dan memang kita sudah terlampau menjauh dari yang seharusnya ini sahabatku… Seperti semut kecil yang tersesat di planet mars untuk mengais tanah demi menumbuhkan kembali air.

Namun tidak ada salahnya kita memulainya sekali lagi. Karena dalam ilmuNYA ini tidak ada hal kecil. Segala yang kecil adalah kebesaran yang seharusnya. Sebuah pengingat keras kalau memang sudah seharusnya dalam IlmuNYA ini tertunduklah segala semesta kepada Pencipta Sang Sumber Ilmu.

 

Salam semesta

Copyright 2021 © www.pesansemesta.com

  • 0
  • September 21, 2021
admin16 admin16 Author

BAGIMU KEYAKINANMU DAN BAGIKU KEYAKINANKU – PENJELASAN SAINTIFIK



Sahabatku… Setelah membaca penjelasan saintifik dalam tulisan ini. Mungkin kita akan menjadi sedikit lebih bijaksana untuk membiarkan orang lain dengan keyakinannya sendiri. Tanpa pernah lagi menuduh kalau seseorang itu tersesat atau menyimpang.

Akhirnya, kita bisa setingkat lebih netral melihat perbedaan keyakinan apapun. Termasuk keyakinan yang sedang kita yakini sendiri.

Sebenarnya tulisan ini sangat penting untuk kita pelajari bersama-sama. Sehingga paham-paham fanatisme dan radikalisme bisa dikendalikan. Sebuah pengendalian dari dalam jauh lebih efektif, ketimbang menyiapkan hukuman untuk sebuah tindakan yang tidak pernah terpahami alasannya.

Sahabatku... Pernahkah Anda berpikir; kenapa tiap kita bisa memiliki keyakinan dalam hidupnya?

Salah satu kesalahpahaman terbesar yang sering dipahami adalah bahwa keyakinan merupakan konsep intelektual yang statis. Padahal Keyakinan adalah pilihan. Sebagai sebuah pilihan, pastinya ada banyak sebab-akibat yang mendasari sebuah pilihan. Sumber-sumber kepercayaan termasuk lingkungan, peristiwa, pengetahuan, pengalaman masa lalu, visualisasi bisa menjadi alasan kuat yang mendasari sebuah keyakinan dipilih.

Bayangkan begini. Bayangkan kalau dari kecil Anda diajarkan warna matahari adalah putih. Tapi teman Anda melihat matahari sebagai warna orange. Apabila teman Anda menyakini warna matahari yang dilihat berbeda dengan Anda, maka itu menjadi keyakinannya berdasarkan pengalaman dan pemahaman mendasar dia sebagai individu.

Apakah dia telah melakukan kesalahan? Secara bijak dan adil kita harus menjawab tidak. Karena itu adalah keyakinannya, begitulah cara dia mengelola informasi didalam dirinya. Sampai nanti dia memikirkan ulang tentang keyakinan yang dia pilih.

Setiap orang memiliki kekuatan untuk memilih keyakinannya. Kesadaran manusia mampu mengelola begitu banyak informasi. Lalu secara bebas, tanpa ketentuan apapun, kita mengkonsepkan keyakin menjadi kenyataan.

Itulah kenapa keyakinan seseorang selalu bisa berubah dan berkembang. Keyakinan bukanlah tatanan baku. Asalkan seseorang mau menjadi terbuka dan mau menerima informasi lainnya, maka keyakinannya bisa berubah.

Secara biologis, keyakinan adalah bagian integral dari operasi otak. Keyakinan terbentuk dari semburan neurotransmitter.

Neurotransmitter dapat diistilahkan dengan kata-kata yang digunakan otak untuk berkomunikasi dengan pertukaran informasi yang terjadi secara terus-menerus, yang dimediasi oleh pembawa pesan molekuler yang secara dramatis mempengaruhi biokimia otak.

Dengan kata lain, keyakinan adalah ikatan molecular yang bekerja dalam tubuh. Jadi sangat lumrah apabila sebagian mereka yang memiliki keyakinan, fanatik dengan keyakinannya. Karena ini adalah reaksi biokimia otak dan tubuh mereka. Itulah sebabnya kita merasa terancam atau bereaksi ketika keyakinan kita ditentang oleh seseorang.

Dan inilah alasan dasar yang membuat seseorang mampu bertindak radikal dan ekstrim terhadap keyakinan orang lain yang berbeda. Alasannya, karena biologis tubuhnya merasa terancam.

Keyakinan berhubungan erat dengan biokimia otak dan tubuh seseorang. Jadi kimia tubuh pun akan selalu memproses setiap inputan-inputan yang berhubungan dengan keyakinan.

Penelitian menunjukan bahwa ada tiga struktur otak yang terlibat sebagai respons terhadap penilaian ancaman dan pertahanan diri: daerah itu adalah korteks prefrontal, ganglia basal dan bagian dari sistem limbik.

Namun manusia selalu diberi pilihan. Reaksi berlebihan yang timbul dari keyakinan ini bisa dikendalikan apabila seseorang mau berpikir dengan AKAL. Dengan berpikir menggunakan akal, seseorang akan mengaktifkan secara penuh area neurocortex untuk mengendalikan, serta membuka diri untuk menerima masukan sensorik kedalam otak untuk merubah persepsi.

Masukan sensorik yang kita terima akan menjalani proses penyaringan saat mereka bergerak melintasi satu atau lebih sinapsis, yang akhirnya mencapai area pemrosesan yang lebih tinggi, seperti lobus frontal. Di sana, informasi sensorik diproses oleh otak kita secara sadar.

Dalam otak manusia reseptor pada membran sel bersifat fleksibel, yang dapat mengubah sensitivitas dan konformasi. Jadi kita bisa merubah mode kerja otak dari sadar, menjadi mode program dimana keyakinan tertanam disitu. Begitu sebaliknya.

Dengan kata lain, bahkan ketika kita merasa memiliki keyakinan yang kuat akan sesuatu hal, selalu ada potensi biokimia untuk perubahan. Itulah kenapa disebutkan diatas bahwa keyakinan bukanlah konsep intelektual yang statis. Keyakinan seseorang memang bisa berubah, selama dia memilih untuk mengubah pikirannya.

Jadi kita bisa memilih untuk mengikuti biokimia tubuh kita yang terancam, atau mencoba membuka diri untuk menerima informasi, agar sedikitnya perspektif kita menjadi flexibel. Sehingga otak dan tubuh kita tidak merasa terancam lagi dengan yang namanya perbedaan berkeyakinan.

Akal mampu melakukan penggeseran persepsi. Pergeseran persepsi adalah pra-syarat untuk mengubah keyakinan, yang karenanya mengubah biokimia tubuh kita secara menguntungkan.

Ketika kita secara sadar membiarkan persepsi yang lebih baru masuk ke otak dengan mencari pengalaman baru, mempelajari pengetahuan atau informasi baru dan mengubah perspektif, tubuh kita dapat merespons dengan cara-cara yang lebih baru.

Akhirnya kita tidak terancam apabila ada seseorang yang berbeda keyakinan dengan kita. Dan kita juga bisa menghargai keyakinan seseorang yang berbeda dengan berkata “Bagimu keyakinamu dan bagiku keyakinanku”

Sekarang mari kita menutup pembahasan ini dengan satu pertanyaan yang lebih seru. Pertanyaannya adalah “Apa itu kebenaran?”

Kalau keyakinan adalah hal yang selalu kita anggap benar. Tetapi, ternyata pada keniscayaannya, apapun hal paling benar yang kita yakini itu hanyalah ikatan-ikatan neuron yang bisa dirubah, dimodifikasi, dan dikendalikan. Lalu apa itu kebenarannya sahabatku…?

Apabila kita begitu percaya, kalau keyakinan kita yang selalu harus benar ini dibentuk oleh Dzat Maha. Namun ternyata Dzat Maha, pada keniscayaan bentukanNYA membentuk keyakinan seperti yang barusan kita pelajari. Lalu, apakah itu kebenaran?

Sahabatku… Biarkan pertanyaan ini untuk tetap menjadi pertanyaan. Maka itulah kebenaran.

Kebenaran tidak mengenal benar dan salah. Kebenaran melewati keduanya. Itulah kenapa kebenaran tidak bisa terbantahkan oleh keyakinan.

 

Salam Semesta

Copyright 2021 © www.pesansemesta.com

 Subscribe : https://www.youtube.com/c/pesansemesta

  • 0
  • September 16, 2021
admin16 admin16 Author

APAKAH TERAPI HEALING ENERGY BENAR BISA MENYEMBUHKAN? --- JAWABAN SAINTIFIK

 


Sahabatku… Tulisan ini bukanlah pembenaran. Tetapi hanya sekedar berbagi informasi yang kurang diketahui oleh kita tentang Healing Energy. Banyak yang masih berpikir, kalau terapi healing energy adalah hal yang mistis.

Sebenarnya, tidak ada yang benar-benar mistis dalam hidup ini. Ke-ghaiban hanyalah porsi manusia yang tidak bisa menguasai informasi secara menyeluruh. Ini terjadi, karena belum banyak mereka yang bisa menjelaskan dan mau mempelajari hal ini secara saintifik.

Dan itulah yang menjadi alasan, kenapa healing energy selalu dikaitkan atau sengaja dikaitkan dengan hal-hal gaib. Padahal sama sekali tidak. Cara kerja healing energy itu 100% bisa dijelaskan secara ilmiah. Karenanya, izinkan kami menjelaskannya disini.

Sebelumnya harap dipahami kalau kami tidak membuat statement, kalau healing energy bisa terbukti menyembuhkan. Kesembuhan adalah hal paling kompleks dari bagaimana tubuh, sebagai mesin organik mempertahankan sistemnya untuk bekerja optimal.

Jadi disini kami hanya ingin memberi pencerahan secara saintifik kalau iya betul, healing energy terbukti secara ilmiah, bisa bekerja untuk memperbaiki system tubuh pada level yang lebih dalam, yaitu masuk kedalam system penyusun molecular.

Dan sudah menjadi kenicyaan apabila system molecular tubuh bisa diperbaiki, maka kemungkinan bagi tubuh untuk kembali bekerja optimal semakin meningkat. Akhirnya tubuh bisa fokus memperbaiki dirinya sendiri.

Setiap sel tubuh terbentuk dari molekul-molekul rumit yang harus dijaga seimbang. Setiap molekul terbentuk dari atom, sementara atom terbentuk dari getaran energy, dan pada ranah inilah healing energy bekerja, yaitu pada level kuantum.

Mungkin bagi sebagian kita masih ada yang bertanya tentang, apa itu healing energy?

Jadi begini, healing energy adalah metode untuk mengirimkan energy penyembuhan ke tubuh pasien melalui tangan seorang praktisi untuk memulihkan atau menyeimbangkan medan energy tubuh. Atau bisa juga dilakukan melalui jarak jauh, berdasarkan quantum entanglement atau hubungan energetis.

Perlu diketahui, kalau tubuh manusia adalah medan energy yang besar. Kita bisa menyebutnya dengan nama Bio-electric magnetic field atau istilah mudahnya aura. Semua materi termasuk manusia terus-menerus bertukar getaran dengan panjang gelombang yang berbeda-beda. Getaran gelombang energy magnetis inilah yang memancarkan aura.

Dengan kata lain, aura adalah energi tubuh yang dihasilkan oleh Anda dan memancar di sekitar Anda, sesuai persis dengan bagaimana energy Anda bergetar.

Itulah kenapa aura akan selalu menjadi bagian dari spectrum elektromagnetik yang mengelilingi kita. Makanya aura sendiri bisa diibaratkan dengan keberadaan diri.

Masalahnya memang, jarang tersadari kalau aura diri kita ini memiliki makna dan juga memberi makna. Dimana getaran energy diri kita ini mempengaruhi kita dan sekitar kita, meskipun kita tidak melihatnya atau menyadari keberadaannya sekalipun.

Jadi salah besar kalau kita masih mengira, aura hanyalah lingkaran cahaya yang mengelilingi tubuh. Aura memiliki fungsi lebih dari sekedar cahaya yang bisa dilihat. Pada dasarnya aura bisa menjadi pendeteksi emosi dan penyakit pada manusia yang terbaik di dunia.

Boleh tidak percaya, tapi aura dapat menunjukkan "Anda yang sebenarnya" tidak peduli seberapa keras Anda mencoba menyembunyikannya. Dengan menterjemahkan gelombang getaran energy tubuh Anda kedalam angka frekuensi, maka kita bisa mendeteksi penyakit atau perasaan yang sedang Anda rasakan secara akurat.

Ini seiring dengan persamaan Albert Einstein paling terkenal yang mengatakan bahwa energi dan materi adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Itulah kenapa healing energy BENAR bisa bekerja. Karena kalau kita mampu memperbaiki energynya, maka kita akan mampu memperbaiki bagian yang terlihatnya.

Dengan mengirimkan energy penyembuhan yang positif ke tubuh, maka perlahan tapi pasti kita bisa kembali menyeimbangkan medan energy tubuh untuk kesehatan yang lebih baik. Di dalam dan di luar tubuh kita terdiri dari energi.

Sudah menjadi keniscyaan kalau semuanya adalah energy, bergerak sebagai energy dan membentuk energy. Begitulah apa adanya semesta kita ini.

Tubuh kita sendiri adalah energy yang memproses energy. Baik makanan atau pikiran adalah bentuk lain dari energy. Selain makanan yang kurang sehat. Faktanya sebagian besar dari semua penyakit dimulai dari pikiran.

Pikiran tidak bisa dihentikan, pikiran yang diproyeksikan adalah bagian dari kesadaran manusia. Itulah kenapa, meski hanya sekumpulan informasi. Namun pikiran menjadi representasi holografik dari tubuh manusia. Pikiran yang dikelola manusia, terus memancar menjadi getaran gelombang energy yang mempengaruhi kesejahteraan dirinya dan sekitarnya.

Sayangnya lagi, manusia tidak terlalu pintar untuk mengatur aliran pikirannya. Itulah kenapa dalam praktek healing energy, sebenarnya seorang terapis hanya membantu mengirimkan energy positif, dengan niat tulus untuk memperbaiki getaran gelombang energy yang baik ke tubuh pasien.

Sehingga perlahan-lahan ketenangan batin bisa dirasakan oleh pasien. Dalam dunia biologi, ketenangan batin itu bisa terasa karena tubuh berhasil memproduksi endorfin.

Endorfin adalah peptida opioid, memiliki banyak aktivitas seperti stimulasi kekebalan, anti-inflamasi, aktivitas penghilang stres, anti-penuaan, dan perubahan ekspresi gen, dapat digunakan untuk mengobati banyak penyakit seperti kanker, penyakit autoimun, dan penyakit menular.

Misalnya saja sudah terbukti kalau sel imun memproduksi endorfin pada tempat inflamasi yang mampu mengurangi inflamasi dengan memproduksi sitokin.

Selain itu endorphin juga memiliki penyembuh holistik alami dengan mengaktifkan sel-sel kekebalan seperti makrofag, sel NK, limfosit T dan B yang memproduksi IFN-ϒ, Opsonin, granzyme –B yang terlibat dalam aktivitas antivirus, antitumor, anti-inflamasi, dan apoptosis.

Endorfin juga efektif mengurangi stres dengan mengurangi kortisol dan berperan merangsang pelepasan dopamin yang bertanggung jawab atas euforia, menghambat rasa sakit, dan ketenangan pikiran.

Masuk lebih dalam Beta-endorfin juga dapat digunakan dalam pengobatan penyakit autoimun dengan mengurangi pelepasan kortisol yang dimediasi stress yang merupakan penyebab utama autoimun.

Ketika stres meluas atau ekstrem, tubuh mulai menjadi resisten terhadap kortisol atau tidak dapat menghasilkan banyak kortisol. Jika hal ini terjadi, peradangan dapat meningkat karena kurangnya penghambatan endogen. Peningkatan peradangan ini bisa menyebabkan berbagai penyakit dan gangguan termasuk penyakit autoimun.

Sahabatku… Sebenarnya masih banyak lagi jawaban saintifik lainnya. Namun dari sini, kita sudah bisa menjawab judul pertanyaan awal kita. Iya betul, healing energy bisa digunakan sebagai sarana, agar tubuh bisa bekerja optimal mengobati berbagai kondisi kesehatan.

Kami tekankan lagi, kalau healing energy hanya berbagi energy untuk memperbaiki tubuh. Masing-masing tubuh pasien nantinya yang akan menggunakan energy positif itu untuk memperbaiki tubuhnya masing-masing. Apabila ada seorang terapis healing energy yang mengklaim hal-hal lain diluar ini, maka kita bisa mempertanyakannya kembali.

Energy adalah kenetralan yang absolut. Diktean dan klaim tidak bisa terwujud tanpa sebab akibat yang harus dibentuk. Sementara membentuk energy dalam kenetralan adalah proses membentuk energy yang paling baik.

Jadi sahabatku… Mulai sekarang, tidak ada salahnya untuk mencoba menerapkan healing energy ke dalam tubuh kita. Tidak perlu menunggu sakit. Kita bisa mulai memperbaiki system tubuh sendiri, atau kita bisa meminta bantuan praktisi yang bisa menyalurkan energy positifnya ke tubuh kita.

Pesan kami kepada seluruh terapis healing energy. Mohon hilangkanlah identitas healer. Diri kita bukanlah HEALER “penyembuh” kita hanyalah “pengobat”. Seseorang yang digerakkan oleh semesta untuk sedikit membagikan energi pengobatan, bukan energi penyembuhan.

Kesembuhan adalah proses sebab akibat semesta, terjadi diluar kontrol siapapun. Kita harus mampu membentuk kesembuhan dalam porsi sebab-akibat yang dijaga se-netral mungkin.

Akhir kata sahabatku… Setiap kita adalah pengobat bagi dirinya sendiri. Setiap semesta tahu bagaimana mengobati semestanya. Ketidak bisaan hanyalah karena kita belum belajar bagaimana cara kerjanya.

Pastikan saja diri untuk selalu mempelajari keniscayaan-keniscayaan yang ada berdasarkan akal, dan bukan berdasarkan informasi yang katanya selalu harus menjadi benar.

Salam Semesta

 

Copyright © www.PesanSemesta.com

  • 0
  • September 08, 2021
admin16 admin16 Author

MANUSIA ADALAH SEMESTA ~ SEBUAH PEMBUKTIAN PENTING UNTUK DISAKSIKAN!

 


  • 0
  • Agustus 22, 2021
admin16 admin16 Author

PRINSIP LOA DASAR : MENANAM BENIH KEBAIKAN DALAM KEIKHLASAN SEJATI



Seperti laut yang selalu melepas ombak. Kebaikan tidak pernah mengikatkan dirinya dengan balasan. Karena kebaikan sudah tentang segalanya, dan bukan tentang balasan” – Kalau begitu, apakah kebaikan akan selalu pasti terbalas kebaikan?

Setiap helai daun segar yang terlihat awalnya adalah benih yang tertanam. Dari sebiji benih yang ditanam itulah muncul akar, lalu batang yang diikuti oleh daun, lalu setelahnya muncul bunga atau buah.

Semua kita tentunya paham akan proses lumrah ini... Dimana dari proses yang terlihat ini, kita menjadi paham kalau seluruh tanaman, apapun itu hanya akan tumbuh persis sesuai dengan benihnya.

Meskipun benih terlihat sama. Namun tiap benih hanya terprogram untuk senantiasa membawa manfaatnya masing-masing. Benih buah apel tidak akan tumbuh menjadi buah melon. Benih buah melon tidak akan tumbuh menjadi buah semangka.

Begitu juga dengan setiap benih yang kita tanam dalam hidup ini. Kita hanya akan menuai hasil sesuai dengan benih apapun yang kita tanam. Namun sekali lagi; apakah benih kebaikan yang kita lakukan selalu akan terbalas dengan kebaikan juga?

Sahabatku…

Kami termenung cukup lama untuk paham, dan jujur saja butuh keikhlasan sejati yang cukup besar untuk menerima jawaban ini. Keikhlasan sejati akan membuat jiwa siap melepas setiap diktean ego yang masih merong-rong. Keikhlasan sejati yang akan membuat jiwa mampu menerima, kalau seluruh kebaikan yang dilakukannya itu, belum tentu dibalas keuntungan.

Selama ini ego kita berpihak kalau kebaikan adalah tentang hal menguntungkan apa yang bisa kita terima. Kita terbiasa memaknai kebaikan sebagai sebuah keuntungan yang menguntungkan. Itulah kenapa pada dimensi kita ini, ego masih terus memacu kebaikan sambil mengharapkan timbalan keuntungan yang akan diterimanya.

Akhirnya diri selalu memiliki mindset… Apabila menguntungkan maka itu kebaikan, apabila tidak menguntungkan maka itu bukanlah kebaikan. Dimana hal tidak menguntungkan adalah musibah atau ujian. Sehingga pada ujungnya, kenetralan kita pun menjadi sulit terbentuk.

Padahal kenetralan adalah gerbang awal menuju keikhlasan sejati. Dimana dalam pijak pertama gerbang itu, ego sudah terkendali untuk sada, kalau apapun hasil dari kebaikan yang dilakukan semuanya adalah baik.

Misalnya, kalau kita mampu menetralkan diri. Maka kita akan berpikir apabila musibah atau ujian itu hadir hanya untuk membuat kita mampu menyadari kebaikan, maka bukankah musibah atau ujian itu adalah kebaikan juga? Dengan kata lain, tidak ada yang tidak baik bukan?

Apabila kita sudah melakukan kebaikan, lalu hasilnya belum juga menarik keuntungan. Maka tidak ada yang salah. Karena hal yang tidak menguntungkan itu bukanlah keburukan melainkan juga kebaikan.

Bagian yang suci dari sini, kita akan paham kalau kesadaran kita adalah murni kebaikanNYA. Ibaratkan diri kita sebagai benih kebaikan, maka tentunya segala yang muncul dari dalam kita hanyalah kebaikan. Kalaulah diri sudah baik, maka tentunya diri akan selalu cukup dengan kebaikan. Tanpa harus menunggu balasan apapun.

Akhirnya diri memang hanya akan hidup dalam kebaikan yang tak berkesudahan, bukan? Diri menjadi kebaikanNYA yang cukup. Pelan-pelan sampai disini…. Renungkan perlahan… Biarkan diri paham kalau Dzat Maha hanya membuat kebaikan, maka apa itu keburukan kalau bukan rong-rongan ego yang memang masih ingin terus diuntungkan.

Tapi jangan salah sangka dulu, ego juga adalah kebaikanNYA apabila kita kendalikan. Kalau ada yang bertanya; kenapa Dzat Maha tidak langsung saja mengendalikannya? Maka coba pikirkan begini sahabatku…. Dzat yang tidak membutuhkan membiarkan manusia sebagai rahmatNYA bagi semesta alam. Maka Dzat Maha tidak perlu mengendalikan bukan?

Pertanyaan yang justru lebih tepat adalah, sudahkah kita mengembalikan diri untuk menjadi rahmatNYA bagi semesta alam? Sungguh pertanyaan besar yang membuat kita sangat terpojok. Tapi jangan sampai keterpojokan kita ini, lantas membuat kita menuntut Dzat Maha untuk membuat kita baik.

Kebaikan adalah segalanya, keburukan adalah diri yang tidak diuntungkan. Jadi saat keburukan masih meliputi. Pilihannya hanya satu, yaitu merubahnya menjadi kebaikan. Masing-masing kita berhak memilih caranya.

Pilihlah yang terbesar sahabatku… Pilihlah untuk menjadi gerbang kebaikaNYA bagi semesta alam.

Mungkin sampai disini, Anda masih bertanya-tanya apa hubungannya ini dengan prinsip dasar LOA?

Dalam LOA kita belajar, kalau energi adalah kenetralan absolut. Energi adalah segalanya dan hanya akan bergetar sesuai dengan kesadaran yang membentuknya. Energi juga hanya akan menarik frekuensi yang sesuai dengan getarannya.

Jadi kalau kesadaran kita terus membentuk getaran kebaikan, maka sudah tentu kebaikanlah yang akan kita tarik. Dimana semua sudah berjalan otomatis, tanpa perlu ada pengharapan lagi. Jadi, bayangkan kalau kita mampu melangkah netral untuk paham kalau segalanya adalah kebaikan. Maka bukankah kita hanya akan melangkah sebagai kebaikan?

LOA akan terus gagal apabila seseorang, masih menempatkan kebaikan sebagai balasan, dan bukan sebagai kebaikan. Dalam LOA seseorang harus mampu sadar kalau dirinya adalah sumber kebaikan, bukan pengharap kebaikan.

Begitulah adanya, Dzat Maha tidak sedang duduk untuk memberi balasan. Dzat Maha sudah memberi kebaikan, bahkan sebelum kita pantas menerima balasan apapun. Jadi apa yang menghentikan kita untuk menanam benih yang paling baik dalam keikhlasan yang sejati?

Jadi sahabatku… Mulai detik ini, kita akan terus bergerak sampai kebaikan itu tidak lagi ternilai kebaikan. Namun segalanya memang hanyalah kebaikan.

Kalau saat ini sebagian kita merasa benih kebaikan yang ditanamnya gugur seperti daun kering yang sengaja dilepas dari dahannya. Maka renungkanlah kembali apa itu kebaikan yang telah dilakukannya itu? Apakah benar kebaika itu telah bergerak sebagai kebaikan, atau hanya sebagai aksi yang masih penuh harapan balasan.

Sekali lagi sahabatku… Butuh kenetralan untuk menerima pelajaran semesta ini. Kita harus benar-benar netral untuk ikhlas secara sejati. Kuncinya, cobalah memikirkan Dzat Maha secara lebih hormat. Tentunya Dzat Maha terlepas dari segala kebutuhan akan penghormatan. Ini hanya murni tentang kita yang sudah harus sadar.

 

Salam Semesta

Copyright 2021 © www.pesansemesta.com

 

  • 0
  • Agustus 11, 2021
admin16 admin16 Author

TIGA SIKAP YANG PASTI MENGHALANGI KESUKSESAN !

 


Setiap manusia menyimpan nilai kesuksesannya masing-masing. Kita memiliki naluri keberhasilan. Seperti sebuah keniscayaan yang menjadikan setiap diri menyimpan ambisi untuk terus menjadi pemimpin diri yang sempurna.

Sebuah ambisi yang wajar memang. Karena sejak awal kita memang hanya hidup untuk menjadi khalifah yang bermakna dan membawa makna. Jadi sangat wajar, kalau kita memiliki naluri untuk suatu kesempurnaan yang disebut kesukesan.

Sayangnya, kesuksesan bukanlah kesempurnaan. Melainkan hanyalah jalan-jalan kesalahan yang telah terpelajari dengan waras.  

Waras bukan kata yang kasar disini. Tentunya kita harus senantiasa mempersiapkan akal agar mampu menganalisa, untuk bisa memperbaiki keadaan. Karena kesuksesan, pada wajah yang sebenarnya adalah kegagalan yang berhasil diperbaiki.

Jadi, kalau saat ini kita masih merasa menyimpan tembok yang menghalangi diri dari kesuksesan. Maka caranya adalah dengan mengendalikan diri untuk menggeser penghalangnya.

Setiap manusia memilii naluri yang setiap naluri apapun itu selalu bisa dikendalikan. Pengendalian sendiri bisa datang dari dalam diri, bisa juga datang dari luar diri. Dari manapun arah pengendalian itu, tetap setiap manusia dianugerahi kesadaran yang mampu memilih. Termasuk memilih sikap.

Tentunya kita harus bersikap sangat waras, untuk memahami kalau ada beberapa sikap yang menghalangi seorang khalifah untuk memenuhi nalurinya untuk sukses dan memberi makna.

Mari kita membuka kewarasan akal untuk menganalisa. Jangan-jangan ada salah satu dari tiga sikap dibawah ini yang masih kita lakukan untuk terus tidak sengaja menghalangi kesuksesan.

 

SIKAP PERTAMA : MENGELUH

Sahabatku… Seberapa besar kadar keluhan kita? Mulai detik ini, jangan sampai kadarnya dibiarkan berlebihan sampai menghalangi diri dari kesuksesan yang seharusnya terbentuk.

Keluhan yang terlalu berlebihan akan mengikat diri untuk tidak memahami sebab akibat. Jelas ini berbahaya!

Setiap ronde kejadian dalam semesta selalu tentang sebab akibat. Kalau kita perhatikan perjalanan mereka yang telah berhasil makmur dan memakmurkan. Kita akan melihat pola ter-standar yang akan selalu ada.

Salah satu di antara pola itu adalah KEGIGIHAN. Dan siapa sangka, kalau dalam kegigihan itu tersimpan begitu banyak corak KELUHAN yang dengan sengaja diikat erat agar tidak menjadi keluhan.

Perhatikan MCDonald, Facebook, Tesla, Alibaba, Gojek. Cerita-cerita abad baru yang memiliki pola standar, yaitu KEGIGIHAN.

Bukan berarti mereka tidak memiliki alasan untuk mengeluh. Aset, status, pengakuan dan makna yang beri saat ini adalah berkat segala keluhan yang mereka redam.

Saat seseorang memilih gigih, maka dia akan meredam seluruh keluhannya. Dia akan mengecilkan volume keluhan untuk sebuah kata, yaitu pencapaian.

Begitulah adanya, saat seorang khalifah ingin mencapai ujung gunung tertinggi, maka dia tetap harus melalui dasar gunung yang terendah. Keluhan-keluhan yang berteriak hanya akan mengikat diri seorang khalifah untuk mencapai bentuk tertingginya.

Jadi sahabatku… Sudahkah kita meredam keluhan-keluhan itu, atau kita masih sengaja membiarkan volume keluhan itu mengaung bak singa lapar?

 

SIKAP KEDUA : MALAS BERPROSES

Kesuksesan seorang khalifah adalah hasil dari sebuah proses, begitu juga dengan kegagalannya.

Apapun yang kita pilih semuanya adalah hasil dari sebuah proses. Kita sudah mempelajari pentingnya proses dari awal kehidupan kita dimulai sampai detik keberadaan kita sekarang. Itulah kenapa berproses akan selalu menjadi anak tangga yang tidak bisa kita lewati.

Sayangnya meski kita paham, kita tidak selalu melakukannya. Perhatikan harapan-harapan kita akan kesuksesan saat ini! Bukankah semuanya hanya berisi hasil?

Anda mendambakan pengakuan, Anda mengharapkan financial freedom, Anda mengharapkan kedamaian. Apapun nilai kesuksesan manusia adalah tentang hasil.

Sukses itu hanyalah hasil sementara, dan untuk menuju hasil selalu ada satu kata yang tidak akan pernah terlewat, yaitu PROSES.

Jadi andaikan sukses itu adalah takdir setiap khalifah, maka tetap kita harus berlari menuju takdir itu sendiri. Seperti kita harus makan untuk menghilangkan lapar – harus minum untuk menghilangkan haus – harus berjalan untuk mencapai.

Kalau begitu sahabatku… Kalau kesuksesan itu adalah takdir. Maka seberapa kuat kita mau berlari menuju takdir itu sendiri? Pertanyaan jelasnya: Seberapa mau kita untuk berproses?

Seperti mengumpulkan uang 500 rupiah untuk menjadi 1 juta. Lama, tapi tetap akan terkumpul kalau prosesnya dilalui.

Jangan malas berproses, apalagi berhenti. Ingatlah untuk meredam keluhan. Karena sudah menjadi keniscayaan kalau dalam proses selalu ada positif dan negative.

Jangan biarkan diri terfokus pada hal negatifnya saja. Namun izinkan diri untuk terfokus pada hal-hal positif yang sudah diraih juga. Dengan begitu, proses kita akan menjadi manis. Bukan berarti pahitnya tidak ada. Namun kita hanya memilih untuk fokus dengan rasa manisnya saja dan bukan rasa pahitnya.

Tahu dimana harus meletakan fokus dalam berproses memang akan menjadi alasan sukses yang utama

 

SIKAP KETIGA : TIDAK FOKUS

Sahabatku… Dimana seorang khalifah mengarahkan penglihatan, maka disitulah energi akan terbentuk. Dengan syarat utama, yaitu fokus.

Jadi bisa saja, sukses masih menghalangi kita hari ini karena FOKUS – Kemanakah fokus itu kita hilangkan?

Sudah menjadi keniscayaan, kalau segala tindakan yang dilakukan dengan fokus pasti hasilnya jauh lebih cepat dan tepat.

Seperti sinar matahari dan sinar laser. Kita bisa memanfaatkan panas sinar matahari untuk menjemur dan mengeringkan. Tapi tidak untuk memotong. Sementara panas sinar laser mampu memotong benda, karena dia mampu memfokuskan panasnya hanya ke satu titik meski panasnya tidak se-dahsyat sinar matahari.

Begitu juga setelah kita menyusun dan merencanakan hal penting dalam hidup, maka langkah selanjutnya kita harus fokus di hal-hal itu sebelum berbelok ke hal penting lainnya. Fokus, fokus dan fokus!

Fokuslah selalu kepada satu goal sebelum membuat goal yang lainnya. Kita berhak membuat 1000 goal dalam hidup ini, namun ke setiap 1000 goal itu juga berhak mendapatkan satu kata dari kita, yaitu FOKUS.

Menjadi fokus memang bukan perkara mudah. Kita ini sangat mudah teralihkan, bahkan sebelum kita sampai dititik pencapaian.

Sahabatku… Saat fokus kita teralihkan, hanya kekuatan diri lah yang mampu mengingatkan. Kita manusia yang memiliki kekuatan memilih. Kita bebas memilih, apakah kita akan berjalan didalam labirin atau diluarnya. Setiap pilihan akan menentukan hasil.

Selalu ingatkan diri, bahwa kita sedang berjalan menuju pencapaian. Ada garis finish yang sedang menunggu untuk kita lewati.

Jadi, kesampingkan dulu pengganggu-pengganggu yang akan membuat fokus kita labil.

Mengamati orang lain, membandingkan diri sendiri dengan orang lain, mendengar cerita sukses orang lain tanpa mengambil pelajaran, menakuti diri sendiri. Ini adalah salah satu diantara pengganggu yang sengaja kita hadirkan secara sadar untuk menggangu fokus kita sendiri.

Sahabatku… Faktnya untuk menuju keberhasilan kita tidak perlu membandingkan diri. Setiap khalifah memiliki tugas yang menjadi tujuan uniknya masing-masing. Cukup FOKUS lurus kedepan tanpa pernah menengok ke arah manapun. Lepaskan pandangan dari yang lain. Lurus saja, garis finish kita hanya ada didepan!

 

Akhir kata sahabatku… Detik ini kita adalah khalifah berbahagia yang sedang berjalan untuk membentuk, memperbaiki, dan memberi. Kesuksesan hanya tentang tiga aksi besar ini. Jadi memang sudah seharusnya seorang khalifah tidak mengeluh, tidak berhenti berproses dan tetap fokus.

 

Salam Semesta

Copyright © 2021 www.pesansemesta.com


 

  • 0
  • Juli 20, 2021
admin16 admin16 Author

SURGA YANG TIDAK KITA JAGA


 

  • 0
  • Juli 16, 2021
admin16 admin16 Author

CARA SUPER MENEMUKAN PASSION

 


  • 0
  • Juli 13, 2021
admin16 admin16 Author

EARTHING CARA MENGUATKAN IMUN TUBUH MELAWAN VIRUS

 


Kesadaran yang menguntungkan tentunya bila kita mau mulai memahami kembali. Kalau Bumi ini bukan bulatan mati yang terputus dari manusia. Kita selalu terhubung secara positif dengannya. Bahkan setiap langkah kita diatas Bumi ini saja akan selalu meninggalkan kesan yang baik bagi kesejahteraan jasad dan jiwa.

Jangan lupa. Subscribe untuk video selanjutnya

Salam Semesta

  • 0
  • Juli 10, 2021
admin16 admin16 Author

MENYAKSIKAN SEMESTA MIKROKOSMOS


 

  • 0
  • Juli 07, 2021
admin16 admin16 Author

ELEMEN-ELEMEN DEBU BINTANG DALAM TUBUH MANUSIA

 

  • 0
  • Juli 06, 2021
admin16 admin16 Author

TIGA PESAN PENTING DARI MASA DEPAN

 


 SUBSCRIBE PESAN SEMESTA YOUTUBE CHANNEL  UNTUK VIDEO SELANJUTNYA 👍
  • 0
  • Juli 04, 2021
admin16 admin16 Author

BAGAIMANA MERUBAH ENERGY LOW VIBRATION KECEMASAN ?

Kecemasan merupakan vibrasi energy rendah. Vibrasi energy rendah hanya akan menarik vibrasi energy rendah. Padahal energy rendah benar-benar akan mempengaruhi kesejahteraan diri.

Vibrasi energy rendah akan menurunkan suasana hati kita, menurunkan imunitas dan kekuatan jasad kita, dan menurunkan ketajaman instuisi kita. Tidak hanya itu, vibrasi energy rendah juga akan memperburuk kondisi Bumi dan semesta.

Saat ini jujur saja, Bumi dan isinya sedang terselimuti oleh pancaran elektromagnetik dari vibrasi energy rendah yang otomatis terus terpancar dari kondisi kecemasan kita. Menjaga agar energy kita tetap berada dalam vibrasi yang lebih tinggi akan menjadi semakin penting bagi kita dan seluruh dunia saat ini.

Namun bagaimanakah caranya? Mungkinkah kita tidak khawatir dengan kondisi saat ini?

Sahabatku… Hidup adalah tentang pilihan. Begitu juga dengan vibrasi rendah atau tinggi, itu juga merupakan pilihan. Setelah kita mampu menyadari di posisi mana kita berada, maka pilihlah untuk pindah dari vibrasi rendah menuju vibrasi tinggi.

Kecemasan akan selalu menjadi energy vibrasi rendah karena kecemasan senantiasa menggunakan imajinasi kita untuk menarik sesuatu yang justru tidak kita inginkan.

Ketika kita memikirkan suatu pikiran tertentu, sel-sel otak kita atau neuron akan bervibrasi pada frekuensi tertentu dan energi berkecepatan tinggi ini akan menarik frekuensi apa pun yang kita vibrasikan melalui pikiran.

Sementara semua kecemasan apapun alasannya didasarkan dari ketakutan, dan itu semua HANYA berlangsung didalam pikiran. Pikiran kita mensimulasikan deretan gambar terburuk dari suatu kondisi yang kita prediksi bisa terjadi di masa depan.

Awal dari kecemasan, yaitu pikiran yang terpengaruh oleh jebakan ketakutan. Disebut jebakan karena ketakutan sesuatu yang sangat imajinatif dan sayangnya apabila kita memilih terperangkap di dalam pikiran ketakutan, maka energy pikiran kita akan mempengaruhi elektromagnetik yang memancar agar sesuai dengan vibrasi rendah pikiran kita.

Jadi agar kita menjauh dari apa yang kita khawatirkan, justru kita harus merubah kekhawatiran itu. Dengan kata lain kita harus pindah vibrasi. Hanya saja bagaimana caranya kita pindah vibrasi?

Tidak ada yang tidak bisa kita lakukan kalau kesadaran kita telah memilihnya. Begitu juga dengan kecemasan. Kita bisa mulai merubah vibrasi kekhawatiran kita saat ini dengan cara memilih meningkatkan kewaspadaan.

Caranya adalah dengan menerima vibrasi rendah yang saat ini, lalu menyaksikan kebaikan di dalamnya.

Energy penerimaan adalah yang utama. Kita tidak bisa merubah apa yang tidak kita terima. Jadi terima saja dahulu kalau kita memang khawatir. Terimalah kalau diri memang sedang bervibrasi dalam low vibration.

Lalu sadarilah, kalau selalu ada nilai baik yang muncul bahkan dari kondisi buruk seperti ketakutan sekalipun. Dalam porsi yang pas ketakutan dibutuhkan untuk menjadikan seseorang menjadi waspada. Setiap orang membutuhkan kewaspadaan untuk tindakan pencegahan. Inilah nilai baik dari ketakutan.

Kita bisa mengambil nilai baiknya dengan mulai merubah kekhawatiran yang didasari ketakutan menjadi kewaspadaan, yaitu dengan cara terus menggunakan akal untuk memikirkan sebab terbaik untuk akibat terbaik. 

Akal adalah kecerdasan yang hadir didalam pikiran. Dialah penanggung jawab bagaimana nantinya hati kita bergetar dan melepas frekuensi yang mau tidak mau akan kita raih.

Itulah kenapa kewaspadaan akan selalu menggiring segala kekhawatiran manusia menuju wujud energy yang lebih baik. Karena memang inilah fungsi kewaspadaan, yaitu agar diri senantiasa meraih akibat terbaik dari setiap sebab terbaik yang dilakukannya sendiri.

Jadi sahabatku… Di masa yang memang mengkhawatirkan ini, cobalah untuk mulai melihat kecemasan yang muncul di dalam pikiran hanya sebagai peringatan untuk senantiasa bertindak waspada. Dan bukan sebagai imajinasi-imajinasi negatif yang bergerak bebas dalam pikiran tanpa makna dan manfaat.

Mulai detik ini mari kita menerima kekhawatiran yang muncul dari setiap kondisi yang memang sedang terjadi. Setelah terterima, cobalah mengambil sisi baik dari rasa khawatir yang ada, yaitu untuk merubahnya menjadi sikap waspada.

Kewaspadaan yang telah tersikapi akan membantu kita melepaskan diri dari kekhawatiran. Apabila tiap masing-masing kita waspada, maka tiap kita bisa menerima akibat terbaik dari kewaspadaannya masing-masing. Lalu sedikit demi sedikit vibrasi yang lebih baik pun akan terbentuk.

Salam Semesta

 

Copyright 2021 © www.pesansemesta.com

SUBSCRIBE https://www.youtube.com/c/pesansemesta


  • 0
  • Juli 04, 2021
admin16 admin16 Author

EKSPERIMEN ILMIAH YANG MEMBUKTIKAN VIBRASI ITU NYATA!

 



 SUBSCRIBE PESAN SEMESTA YOUTUBE CHANNEL  UNTUK VIDEO SELANJUTNYA 👍
  • 0
  • Juni 29, 2021
admin16 admin16 Author

CARA MEMBACA VIBRASI


Energi bergerak dalam vibrasi secara konstan. Dengan kata lain, kita hidup di lautan getaran. Setiap getaran memiliki makna dan menyimpan tujuan.

Indra manusia bekerja dengan menterjemahkan vibrasi apapun yang diterimanya, dan dari sebab-akibat proses itulah kesadaran manusia mampu menerima dan memahami lingkungannya.

Sehingga akhirnya kesadaran manusia memiliki yang namanya pikiran, perasaan dan pilihan dalam bertindak seperti yang selama ini kita miliki sampai sekarang. Semuanya ini adalah berkat dari menterjemahkan vibrasi.

Sayang memang masih sedikit dari kita yang menyadari betul kalau dirinya adalah membaca vibrasi dan menterjemahkannya. Sampai saat ini masih banyak manusia belum siap betul untuk mengakui bahwa dirinya bergetar dan menterjemahkan getaran. Padahal segala hal yang kita amati dengan indra kita ini sebenarnya hanyalah interpretasi vibrasi.

Kita mendengar karena telinga kita menterjemahkan vibrasi. Kita melihat karena kita menterjemahkan vibrasi. Kita menghirup karena hidung kita menterjemahkan vibrasi. Jari kita menterjemahkan vibrasi dan begitu juga dengan lidah.

Padahal dengan menyadari keniscayaan semesta ini maka segala hal bisa menjadi menguntungkan dan mudah. Kami katakan mudah karena kita adalah energi, bergerak dalam energi dan sebagai energi. Vibrasi adalah awal gerakan. Apapun gerakan dalam semesta ini berawal dari getaran.

Atom-atom selalu berada dalam keadaan bergerak konstan, dan tergantung pada kecepatan vibrasi atom-atom inilah benda-benda muncul.

Itulah kenapa dikatakan kalau manusia adalah makhluk bergetar begitu juga dengan makhluk hidup lainnya, termasuk juga materi apapun di dalam semesta ini, baik materi yang masih terlihat atau tidak terlihat seperti udara dan gas. Baik yang bisa bergerak atau diam seperti dinding beton.

Jadi apa yang harus kita asah kembali sekarang adalah kemampuan diri untuk terhubung dengan gerakan awal, yaitu vibrasi. Karena begitulah cara kita membaca vibrasi.

Membaca vibrasi itu tidak terlalu dimulai dengan cara yang runyam.  Cara paling sederhana adalah dengan mulai menyadari di vibrasi mana diri kita sedang hidup. Yaitu dengan mulai memperhatikan keberadaan diri kita seutuhnya.

Perhatikan lagi secara lebih setiap pikiran, perasaan, dan tindakan apapun yang sedang dan akan kita lakukan. Artinya, kita membaca vibrasi semesta dengan kewasikataan diri.

Untuk membaca vibrasi semesta kita harus terlebih dahulu paham kalau kitalah semesta yang paling dekat. Jadi sangat logis kalau kita harus mulai dari semesta yang paling dekatnya terlebih dahulu.

Sahabatku… Beginilah cara kita membaca vibrasi semesta. Dimana tahapan awalnya dimulai dari dalam diri dahulu. Lama kelamaan setelah kewaskitaan kita untuk mewaspadai setiap gerakan vibrasi yang terjadi didalam diri menjadi baik. Maka perlahan-lahan kita akan mulai membawa diri untuk mewaspadi vibrasi yang diluar diri.

Tahapan selalu dimulai dari dalam menuju luar. Mulailah, nantinya kalau diri sudah mulai membaca vibrasi semesta, maka diri tahu persis apa yang diharus dilakukannya dalam semesta untuk semesta.

 

Salam Semesta

 SUBSCRIBE https://www.youtube.com/c/pesansemesta

 

  • 0
  • Juni 26, 2021
admin16 admin16 Author

APAKAH PIKIRAN MEMPENGARUHI KESEHATAN?

 SUBSCRIBE PESAN SEMESTA YOUTUBE CHANNEL  UNTUK VIDEO SELANJUTNYA 👍

  • 0
  • Juni 23, 2021
admin16 admin16 Author

KENAPA SEGALANYA BERPROSES ?

 


 SUBSCRIBE PESAN SEMESTA YOUTUBE CHANNEL  UNTUK VIDEO SELANJUTNYA 👍

  • 0
  • Juni 23, 2021
admin16 admin16 Author

INGIN INTUISI MENGUAT? LAKUKAN SATU HAL INI !



“Intuisi berada dalam zona netral. Tempatkan diri dalam zona netral, maka kita akan menjadi sangat intuitif” – pesan semesta.

Sahabatku… Perlu digaris bawahi, kalau menjadi sangat intuitif itu bukan berarti kita menjadi peramal masa depan. Menjadi sangat intuitif itu artinya kita mampu membaca sebab akibat yang sedang dan akan berlangsung, sehingga kita mampu memilih yang terbaik. Akhirnya kita bisa menempatkan diri pada posisi yang tepat.

Ingat! Hidup adalah kumpulan pilihan. Ada bagian yang dipilihkan. Ada juga bagian yang kita diberi kesempatan untuk memilihnya.  Jasad, jiwa dan ruh yang menghasilkan kesadaran bagi manusia berfungsi untuk membentuk manusia menjadi pemilih.

Kesadaran memiliki beberapa lapisan. Bagaimana kita memandang hidup memiliki tingkatan. Sementara tingkatan yang paling rendah adalah sadar kalau hidup terjadi kepadamu.

Artinya, kita sadar kalau kita tidak memiliki andil dalam hidup ini untuk memilih. Dimana semua sudah dipilihkan dan ditentukan. Padahal sebenarnya tidaklah demikian.

Dalam hidup ini banyak contoh orang-orang yang telah berhasil dengan kenyataan yang mereka bentuk dari hukum sebab akibat yang mereka buat sendiri. Mereka memikirkan kesuksesan, mereka melakukan sebab akibat dari kesuksesan yang mereka pilih dan mereka berhasil hidup di dalam kesuksesan itu.

Kalau kita bertanya, kenapa itu bisa terjadi dengan mereka – sementara tidak bagi kita? Jawabannya adalah karena mereka memiliki kesadaran yang setingkat diatas kita.

Mereka sadar kalau nasib itu adalah pilihan. Mereka sadar Dzat Maha tidak memilihkan nasib seseorang namun hanya memberikan banyak pilihan-pilihan yang bisa dipilih, apapun itu. Mereka sadar kalau tidak ada yang namanya kebetulan, segalanya terjadi karena sebab dan akibat, dan dengan ini mereka selalu menyusun sebab terbaik untuk akibat terbaik.

Jadi, bayangkan kalau kita selalu diarahkan untuk memilih yang terbaik sesuai dengan tugas dan fungsi kita sebagai khalifah diatas Bumi ini – Bukankah menguntungkan? Ini lah keuntungan memiliki intuisi.

Kabar baiknya, setiap manusia memiliki keuntungan ini – karena setiap manusia memiliki sesuatu yang bernama intuisi. Hanya saja sejauh apa intuisi ini mampu bekerja untuknya, semuanya tergantung pilihan manusia itu masing-masing.

Ada beberapa pilihan yang tanpa sengaja justru membuat kita menjauh dari intuisi. Jangankan menguat, bahkan intuisi seakan sama sekali tidak terdengar. Jadi sahabatku… Kalau kita ingin intuisi menguat, maka kita bisa mulai mencoba melakukan satu hal berikut ini :

 

1# JANGAN MENDIKTE SEMESTA

Bukankah kita adalah pendikte ulung? Bahkan Tuhan pun berani kita dikte bukan? Baiklah tidak perlu diakui. Tapi paling tidak jangan mendikte kalau ingin mendengar intuisi berbicara.

Kenapa? Karena intuisi tidak akan hadir dalam ego yang masih mendikte. Intuisi adalah arahan fenomenal bagi mereka yang senantiasa mengharapkan kebahagiaan hakiki. Syaratnya, intuisi tidak bisa terkontrol oleh yang namanya ego.

Sahabatku… Semesta itu sangat sopan dan sangat menghargai pilihan manusia. Jangan jauh-jauh, saat kita memilih untuk tidur, otak kita patuh dan menutup sementara seluruh system pendengaran agar kita tidak mendengar apa yang sebenarnya masih kita dengar.

Begitu juga dengan kerasnya diktean ego kita. Intuisi akan mundur seribu langkah agar ego kita bisa terus terdengar. Masalah tersembunyi dari ego yang lebih terdengar adalah, ego kita sangat percaya diri kalau pilihannya adalah sumber kebahagiaan dirinya yang terbaik. Padahal belum tentu demikian.

Ambil contoh, kita begitu mendikte untuk diterima bekerja di salah satu perusahaan ternama, kita menetapkan diri kalau diterima bekerja disini adalah yang terbaik dan itu adalah sumber kebahagiaan diri.

Akhirnya ego terus mengontrol intuisi yang masuk kepada kita. Karena bisa jadi, pada masa di mana kita sedang mendikte semesta ini kemungkinan kita akan dituntun oleh intuisi yang bahkan senantiasa mengarahkan diri untuk melakukan hal yang kebalikan dari goal kebahagiaan awal kita.

Bisa itu kita dituntun untuk membuka usaha, atau mungkin mengasah skill lain. Namun karena kita terlalu mendikte semesta dengan ego ingin kita. Maka arahan intuisi itu tidak terdengar dengan jelas.

Padahal, intuisi itu justru mengarahkan kita pada jati diri yang sebenarnya. Intuisi tahu persis nilai kebahagiaan diri kita yang terbaik sesuai dengan fungsi dan tujuan kita yang sebenarnya.

Sahabatku… Kita tidak pernah ditinggalkan sendirian dalam pilihan-pilihan yang harus kita pilih dalam hidup ini. Redupkan sebentar saja suara ego yang meraung, maka intuisi akan mengarahkan dengan manis.

Kadang kita membenci sesuatu padahal itu baik bagi kita. Kadang juga kita terlalu meng-inginkan sesuatu padahal itu tidaklah baik bagi kita.

Begitulah adanya, baik dan buruk tidak bisa diukur oleh ego yang bahkan ego itu tidak bisa kita kendalikan kenetralannya. Kenetralan itu sendiri bukan berarti kita tidak bisa memilih. Tetapi kita justru menjadi pemilih yang sebenar-benarnya dalam pilihan-pilihan yang ada.

Selamat menguatkan intuisi sahabatku… Sekali lagi, intusi bukan peramal masa depan. Karena masa depan adalah pilihan yang sekarang.

Mungkin sebagian kita ada yang bertanya; kenapa cara menguatkan intuisi hanya satu, bukankah cara lainnya juga banyak? – Jujur kami juga menanyakan hal yang sama. Tapi ternyata jawabannya cukup unik; Jawabannya, karena untuk menjadi intuitif itu harus mengendalikan rasa “ingin menjadi intuitif”.

Iya begitulah! Sekali lagi, intuisi berada dalam zona netral. Tempatkan diri dalam zona netral, maka kita akan menjadi sangat intuitif.

 

Salam Semesta

Copyright © 2020 www.pesansemesta.com

https://www.youtube.com/c/pesansemesta

  • 0
  • Juni 11, 2021
admin16 admin16 Author

OFFICIAL CHANNEL



FREE E-BOOK

3# FREE DOWNLOAD E-BOOK - MENJADI AIR

DATABASE

COPYRIGHT

Seluruh artikel didalam website ini ditulis orisinil oleh tim penulis Pesan Semesta. Artikel yang kami share melalui website ini bukan hasil jiplakan, kutipan atau terjemahan.

Bagi pembaca yang ingin menghubungi penulis silahkan mengrim pesan melalui email : pesansemesta@yahoo.com


SALAM SEMESTA