Pesan Semesta.
melampaui batas menjadi satu

MENJADI WASKITA



Salah satu pilar yang diajarkan dalam kewaskitaan adalah menjadi waspada dengan apa yang berlangsung di dalam diri dan di luar diri. Pertanyaannya; Mampukah kita menerapkan pilar kewaskitaan ini dalam hitungan yang singkat, atau kita harus melalui jalan yang panjang? Sederhananya, bagaimana MENJADI WASKITA DENGAN SINGKAT?

Sahabatku… Hitungan singkat selalu akan terjadi berdasarkan pilihan. Apa yang kita pilih detik ini selalu akan menentukan akhir yang nanti. Begitulah takdirnya dibentuk. Sudah menjadi takdirnya kalau kita bisa menentukan nasib kita sendiri, kalau kita mau.

Singkat atau lama hanyalah pilihan bagi yang mau memilih.

Hidup adalah masalah pilihan. Kita memilih pilihan setiap hari di setiap langkah hidup kita. Dari saat kita bangun, hingga saat kita kembali tidur. Setiap pilihan-pilihan yang kita pilih akan menuju ke banyak cabang pilihan-pilihan yang lain juga.

Apakah pilihan yang kita pilih ini adalah takdir? Bukan, takdir adalah kata yang terlepas dari pilihan. Segala macam pilihan manusia, baik dia sadari ataupun tidak disadari masuk ke dalam sistem hukum sebab akibat, dan hasil akhirnya adalah nasib.

Pagi ini Anda tidak berhati-hati saat memegang secangkir kopi panas, hingga kopi panas itu tumpah ke seluruh badan Anda. Hasilnya badan Anda pun terpaksa harus kepanasan dan melepuh, hasil dari rentetan kejadian ini bukan takdir melainkan nasib.

Sebab-akibat akan terus bergulir. Kalau kita mampu menyadari prosesnya, maka itulah menjadi waskita. Inilah yang menjadikan waskita itu bukan sebagai sebuah tingkatan. Melainkan keberadaan kesadaran diri yang mampu mengendalikan dirinya sendiri. Baik itu mengendalikan dirinya ke dalam dirinya sendiri atau mengendalikan dirinya ke luar dirinya.

Jasad, jiwa dan ruh yang menjadi komponen utuh diri kita saat ini bekerja di bawah kendali kesadaran. Apa yang dihasilkannya juga akan selalu menjadi kesadaran dan berdasarkan kesadaran.

Masalahnya, sudahkah kita mengenal keberadaan kesadaran diri yang berperan ini?  Kalau jawabannya adalah iya, maka kita sudah dekat dengan kewaskitaan.

Kewaskitaan tidak akan pernah hadir kalau diri masih belum bisa melihat betapa besar takdir yang digenggamnya sendiri. Itulah kenapa sebelum waskita seseorang harus mengenal diri.

Perjalanan mengenal diri sendiri tidak bisa berujung. Diri ini adalah semesta kecil yang sesak ilmu. Kematian jasad tidak akan menghabisi ilmuNYA yang sedang dibawa ini. Jadi baiknya, pilar-pilar kewaskitaan mulai sudah diterapkan sambil terus meng-khidmatkan mengenal diri.

Tidak sempurna tidak apa. Sering gagal tidak apa. Suka luput tidak apa. Begitulah adanya seorang pelajar. Tiada bisa sempurna dan tiada bisa berhenti belajar. Jadi biarkan saja sahabatku… Tidak pernah lulus tidak apa, asalkan bisa terus membersamai Sang Guru Sejati.

Jadi kewaskitaan seperti apa saja yang bisa kita terapkan di keseharian kita mulai sekarang?

Kami ingin membagi empat kewaskitaan penting dan sederhana yang bisa kita praktekkan tanpa terlalu bersusah payah. Apakah selain ke-empat ini masih banyak? Jawabannya adalah iya, seluruh partikel memang membawa takaran kewaskitaannya masing-masing.

.

PERTAMA : MULAI BERHATI-HATI SAAT PIKIRAN MEMBUAT HARAPAN

Kami yakin, sebagian kita pasti ada yang langsung menangkis ini dengan pernyataan “dengan harapan kita meraih cita-cita” iya betul, kalau kita berhasil merubahnya menjadi aksi nyata. Kalau kita hanya menyimpan harapan selalu sebagai harapan, tanpa sedikit pun aksi, maka bagaimana harapan itu bisa berwujud?

Kewaskitaan mengajarkan kita untuk tidak membuat angan-angan yang membiarkan permainan pikiran menguasai. Kewaskitaan mengajarkan kita untuk menjadi kuat dalam aksi nyata dan bukan menjadi kuat dalam berharap.

Bukan berarti harapan hal yang buruk. Tetapi harusnya diri menjadi tabu untuk selalu berharap tanpa beraksi. Jadi, hati-hati lah saat pikiran membuat harapan. Seimbangkan selalu harapan dengan aksi tepat.

Jangan menabung harapan. Tapi tabunglah aksi-aksi yang tepat. Begitulah berwaskita.

 

KEDUA : MULAI BERHATI-HATI SAAT EGO MENGUAT

Apa kira-kira ciri jelas kalau ego sudah menguat? Salah satu cirinya adalah, seseorang mulai fokus memikirkan kebaikan bagi dirinya untuk mulai menghiraukan keburukan yang dirasakan oleh yang di luar dirinya. Contoh ringan untuk ini sangat banyak. Sungguh malu kalau harus disebutkan satu persatu.

Sahabatku… Kewaskitaan mengajarkan kita untuk memantaskan diri menjadi rahmat bagi semesta alam. Dimana kita mulai diajak untuk mampu mewaspadai ego diri kita, untuk menjadi ego yang terbaik bagi yang diluar diri.

Jadi kalau Bumi ini ingin dijadikan tempat yang lebih baik, maka setiap penghuninya haruslah berwaskita terlebih dahulu. Sebuah kehati-hatian kecil untuk makna yang besar. Begitulah arti keterhubungan diri dengan segalanya. Bahkan ego tiap kita pun ternyata sangat berhubungan.

 

KETIGA : MULAI BERHATI-HATI SAAT DIRI MULAI BERLARI DARI DETIK INI

Berwaskita mengajarkan kita untuk menyadari kalau hidup adalah hari ini dan detik ini. Jam adalah mesin. Sementara waktu adalah energi yang berfluktuasi dalam ruang. Setiap atom memiliki waktu yang tidak pernah berlari ke depan atau ke belakang.

Itulah apa yang semesta ini ketahui tentang waktu hanyalah sekarang. Detik ini. Itulah yang bernilai. Masa lalu hanyalah memori yang telah ter-waktukan. Masa depan hanyalah permainan pikiran yang belum terwaktukan. Masa sekarang adalah energy yang bisa menjadi makna yang bermakna, atau bisa juga menjadi makna yang tidak bermakna.

Berwaskita mengajarkan kita untuk menjadi berharga dalam waktu. Karena waktu selalu membawa makna yang berfungsi.

Dalam dimensi mana pun beginilah adanya. Kemusnahan, kematian, kesudahan hanyalah nama lain dari sebuah makna yang berhenti berfungsi. Kalau kita bisa membiarkan makna yang kita toreh sebagai semesta terus berfungsi maka apakah kita mati?

Ini membingungkan memang, sebagai garis tengahnya, izinkan saja dahulu diri menemukan makna yang harus diselesaikannya dan biarkan makna itu berfungsi. Jadi sahabatku… Jagalah kesadaran untuk tidak berlari dari detik yang dimilikinya. Genggamlah itu sangat berharga. Berfungsilah di dalamnya dan jadilah makna semesta yang terus hidup.

 

KEEMPAT : BERHATI-HATI SAAT DIRI TERUS MENGELUH

Sahabatku… Mengeluh itu manis! Saat mengeluh kita seakan sadar betul dengan apa yang sedang dihadapi. Tapi justru sebaliknya. Justru saat keluhan terlontarkan, maka kita sedang melewati kesadararan kita untuk berwaskita.

Saat berwaskita seseorang akan selalu menghadapi segala sesuatu yang didepan matanya terjadi. Itulah kenapa saat berwaskita diri tidak akan mengumbar keluhan. Diri hanya akan berintrospeksi atas segala apa yang menimpa dirinya sendiri.

Dalam berwaskita diri akan mampu melihat dan mengambil manfaat dari tiap keadaan, bukan meratapinya. Meratapi keadaan hanya akan membuat keadaan bertambah runyam.

Kerunyaman akan menurunkan fungsi otak. Jadi jasad dan system operasi kita malah makin menjauh dari keadaan yang ingin dibentuknya. Akhirnya pikiran hanya mampu membuat harapan sebagai awal mula ketersesakan hidup.

Bukankah sesak, kalau kita hanya bisa hidup dalam harapan yang tidak bisa dibentuk nyata? Kembali lagi ke point pertama. Segalanya memang akan menjadi berhubungan. Itulah kewaskitaan, dengan berwaskita kita bisa menghubungkan sebab-akibat yang tipis untuk menyeimbangkannya.

Seimbang sendiri adalah angin kedamaian.

Kedamaian itu sendiri didapat dari kemampuan hasil menyeimbangkan diri yang di dalam dengan hidup yang di luar. Akhirnya terciptalah angin kedamaian yang sulit digoyahkan oleh tantangan-tantangan hidup yang memang harus dilampaui.

Jadi jangan berpikir kalau kedamaian itu sejenis angin sepoi-sepoi dipojokan taman yang indah. Tidak sahabatku…. Kedamaian itu adalah angin sepoi-sepoi ditengah topan badai gurun tandus. Namun tetap tenang dalam jati diri yang sadar. Tetap sejuk dalam kebersamaan yang manis.

Mulailah berwaskita sahabatku… Kami tidak bisa berkata kalau ini akan menjadi singkat. Tapi cukup mulailah dari dalam diri. Tanpa perlu ada pendiketaan apapun. Tanpa perlu ada pengakuan apapun selain mengakui kalau diri ini hadir disetiap kehidupan Sang Pencipta.

Satu bonus kalau mau LEBIH beruntung, coba awasi juga pengakuan yang terakhir ini. Karena iman tanpa pengawasan hanyalah kehampaan.

Akhir kata sahabatku… Waskita tidak akan berhenti sampai titik dimana seluruh partikel memang membawa takaran kewaskitaannya masing-masing. Berwaskita itu bukan sekedar mewaspadai gerakan makrokosmos. Tetapi menyusup masuk ke dalam mikrokosmos. Dengan menjadi waskita sama saja dengan terus mewaspadai gerakan energi.

Itulah kenapa dengan berwaskita kita secara sengaja membuka gerbang-gerbang kekuatan kesadaran semesta, yang mana apabila kekuatan kesadaran ini terolah dengan baik akan menjadikan diri kita selalu setingkat lebih baik dalam segala aspek dalam hidup ini. Bukan tidak mungkin kalau Bumi pun bisa kembali menjadi baik.

Jadi mulailah berwaskita sahabatku…

 

Salam Semesta

Copyright 2021 © www.PesanSemesta.com

  • 0
  • November 30, 2021
admin16 admin16 Author

JABARAN SAINTIFIK “MANUNGGALING KAWULA GUSTI”



“Izin bertanya; Apakah Manunggaling Kawula Gusti bertentangan dengan akal... Menyesatkan gitu? Mohon penjabarannya” BersamaNYA kami menjawab.

Dahulu Siti Jenar dianggap tersesat karena paham kalau dirinya bersatu dengan Tuhan. Lalu bagaimana dengan sekarang, apakah tulisan ini akan sama menyesatkannya – atau justru akan membuka akal yang tidak mau memahami ketersesatan yang sebenarnya? 

Sahabatku… Kalau setelah membaca tulisan ini kita tergerak untuk menjadi satu dengan Dzat Maha. Maka lakukanlah dengan cara yang tidak pernah bertentangan dengan akal. Bersatunya manusia dengan Dzat Maha, tidak berarti bahwa seseorang itu Tuhan, melainkan manusia tersebut seharusnya bertingkah laku sebagaimana yang diinginkan Dzat Maha, yaitu menjadi gerbang rahmatNYA bagi semesta alam.

Dan kami tegaskan di awal ini bukanlah filsafat! Mereka berkata kalau “Manunggaling Kawula Gusti” adalah bagian dari filsafat. Namun bagi kami ini bukan bagian dari filsafat, melainkan keniscayaan. Karena memang pada wujud yang mendasar, semua wujud menyatu dengan Tuhan yang membentuknya. 

Hanya saja sahabatku…Tuhan itu adalah definitif. Tuhan itu adalah sesuatu yang disembah dan puja, sesuatu yang ditakuti, sesuatu yang di prioritaskan, dan sesuatu yang mampu membuat kita melakukan sesuatu yang tidak kita sukai.

Kalau begitu, siapakah Tuhan dalam hidup kita? Siapakah yang kita sembah dan kita puja dalam hidup ini? Siapakah sesuatu yang kita takuti dalam hidup ini? Siapakah sesuatu yang kita prioritaskan dalam hidup ini? Siapakah sesuatu yang mampu membuat kita mampu melakukan sesuatu yang tidak kita sukai dalam hidup ini?

Jawablah dalam kejujuran kesadaran sahabatku... Dan kita akan menemukan bahwa itulah Tuhan kita, lalu barulah kita boleh mengakui kalau diri kita ber-Tuhan dengan siapa? Karena siapa tahu kita ber-tuhan uang, bertuhan kedudukan, ber-tuhan penilaian manusia, atau kita membiarkan ego diri menjadi tuhan yang tidak mau diakui. 

Ini penting, karena sebenarnya, baru saat kita mampu menjawab pertanyaan ini lah kita boleh lanjut bertanya apa itu yang dimaksud dengan “Manunggaling Kawula Gusti”?  

Seseorang akan sulit memahami keniscayaan “Manunggaling Kawula Gusti” kecuali dia sudah mampu mengakui siapa Tuhannya sendiri. Karena pemahaman tentang kenicyaan ini tidak akan dijawab oleh sejarah atau buku filasafat apapun. Keniscayaan ini hanya bisa terjawab oleh akal yang mau ber-tafakur (berpikir dalam kenetralan)  

Dan inilah yang membuat banyak manusia lebih mudah menunjuk kalau keniscayaan ini adalah sesat dan menyesatkan. Karena memang menunjuk seseorang tersesat lebih mudah dibanding menunjuk ketersasatan akalnya sendiri untuk memahami. 

Jadi agar tulisan ini seru dan memainkan akal, maka mari kita membuat bahasan saintifik untuk menjabarkan kalau “Manunggaling Kawula Gusti” bukanlah ketersasatan dan tidak pernah menyalahi akal yang mau paham.  

Sabahatku… 

Detik ini Bumi ini masih berputar, dengan apa Bumi ini berputar? Detik ini padi masih menumbuhkan beras, dengan apa padi itu menumbuhkan? Detik ini mata kita membaca tulisan ini, dengan apa mata ini membaca? 

Pertanyaan diatas bisa memenuhi puluhan juta kubik kertas apabila dilanjutkan. Jadi mari kita persingkat saja; dengan apa kehidupan ini bergerak? – dan jawabannya adalah dengan sistem. 

Sama seperti membangun bisnis yang bergerak autopilot. Begitu juga dengan dalamnya semesta yang bergerak auotopilot sesuai dengan sistem yang sudah dibangun. 

“Sistem adalah sebuah tatanan (keterpaduan) yang terdiri atas sejumlah komponen fungsional (dengan satuan fungsi dan tugas khusus) yang saling berhubungan dan secara bersama-sama bertujuan untuk memenuhi suatu proses tertentu”

Dengan kata lain, harus ada KESADARAN MAHA SADAR yang membentuk sistem semesta ini dari awal hingga akhirnya nanti, bukan? 

Kalau kita masuk ke dalam dunia quantum fisika, maka seluruh materi menjadi atom yang terbentuk dari energi. Bagi mata manusia, energi adalah kekosongan fisik tidak terlihat, tapi bukan berarti tidak ada. Niels Bohr seorang ahli fisika pernah memperingati kita “Mereka yang tidak terkejut ketika mereka pertama kali menemukan teori kuantum tidak mungkin memahaminya”

Bohr benar, karena disana terdapat Mahakarya KESADARAN MAHA SADAR yang dengan sistemnya membentuk energi, maka terbentuklah kehidupan dalam semesta ini. 

Itulah kenapa Siti Jenar berkata dalam lirik syairnya “Ada adalah tiada dan kehampaan ini bernyawa”. Sebenarnya kalimat ini sangatlah saintifik. Keberadaan kita saat ini adalah ketiadaan fisik. Kita adalah materi hampa (kekosongan fisik) yang hidup (bernyawa). 

Bukan sebuah isu kalau seluruh materi yang terdapat di dalam semesta ini tidak lain terbentuk dari kumpulan atom-atom. 

Atom tidak memiliki struktur fisik. Atom adalah 99,99999% energi, dan 0,00001% zat fisik, maka seluruh semesta ini pada wujud aslinya tidak berwujud apa-apa selain energi yang bervibrasi. Ini berlaku untuk semuanya, termasuk didalamnya manusia. 

Fakta yang dibawa oleh fisika quantum ini membuat akal kita terpelintir. Bukankah logikanya kalau semua bahan dasarnya sama, maka harusnya bentuk akhirnya juga sama? Namun ternyata TIDAK. 

Manusia dan kucing itu berwujud asli sama, yaitu bentukan atom yang ujungnya hanyalah energi yang bervibrasi. Tapi kenapa kita berbentuk manusia dan kucing itu berbentuk kucing. Kenapa bunga lily berbentuk bunga liliy dan bunga bakung berbentuk bunga bakung? Padahal mereka berdua adalah sama-sama atom yang sekali lagi ujungnya hanyalah energi yang bervibrasi.

PERTANYAAN BESARNYA : KALAU SEMESTA INI HANYALAH ENERGI YANG BERVIBRASI, LALU BAGAIMANA BISA ENERGI ITU BEGITU SADAR MEMBENTUK BEGITU BANYAK WUJUD BENTUK MATERI?

Jawabannya adalah kimia. Meski atom terlihat seperti atom, namun atom memiliki dan membawa identitas dari wujud fisik yang kita lihat.

Semua atom terbuat dari PARTIKEL TRITUNGGAL yang sama - proton , neutron, dan elektron. Tetapi, jumlah proton, neutron dan elektron dalam tiap-tiap atom berbeda-beda. Dengan kata lain, meski berbentuk atom, namun atom-atom itu unik.

Ketika atom-atom unik ini bergabung dalam senyawa kimia, maka hasil dari gabungan itulah yang menentukan materi fisik yang kita lihat. Itulah yang membuat kita melihat apel sebagai apel, tangan sebagai tangan dan bulan sebagai bulan.

Atom yang sama tapi memiliki jumlah komposisi isi yang berbeda, sehingga masing-masing menghasilkan unsur yang unik. Lalu unsur-unsur unik itu menyatu, dan mewujudkan materi-materi  baru yang berbeda-beda. Bukankah atom ini super canggih? Tapi sampai disini kita memiliki pertanyaan yang lebih menelisik lagi yaitu:

PERTANYAANNYA BAGAIMANA BISA ATOM-ATOM INI BERGERAK DENGAN KESADARAN YANG CERDAS, SEHINGGA MAMPU MENCIPTAKAN UNIVERSE DAN BAHKAN MULTIVERSE – BUKANKAH INI SEBUAH MAHA KARYA? LALU SIAPAKAH PENGGERAK MAHA KARYA INI?

Sahabatku… Kita boleh saja meniadakan Tuhan karena belum tentu kita memang benar-benar bertuhan. Hanya saja meniadakan DZAT MAHA PEMBUAT yang kesadarannya memancar kedalam setiap molekul semesta yang berwujud adalah kesia-siaan yang nyata.

Pikirkan sahabatku… SIAPA yang memberi kesadaran kepada energi bervibrasi ini untuk saling membentuk atom-atom unik dan bergabung dalam senyawa kimia, yang dari unsur kimia itu muncul-lah sesuatu yang kita sebut air, tanah, udara, angin, matahari, bulan, bumi, hewan, tumbuhan dan tubuh kita sekarang.

Dari system yang dibentuk oleh kesadaran Dzat Maha semua menyatu dan membentuk. Jelas manusia tidak akan pernah bisa terlepas dari tubuhnya. Kita berada disini sekarang, membaca artikel ini, dan mencoba memikirkannya adalah karena atom-atom kita telah sukses dibentuk olehNYA. 

Jadi apakah kita masih bisa menyangkal kalau kesadaranNYA tidak ada? Kalau kita menjawab ada. Lalu bertanyalah, apakah saat ini, detik ini kita terpisah dari sistemNYA Dzat Maha ataukah kita menyatu?

Jawablah sahabatku… Jawablah dalam ketundukan seorang makhluk! Pikirkan seluruh sistem dalam hidup ini, apakah semuanya terpisah dengan kesadaranNYA atau kesadaran kitalah yang sengaja memisahkan diri dari keniscayaan yang sebenarnya? 

Bahkan kalau kita mengumpat atas nama ketersesatan sambil berlari terbirit-birit pun tetap saja. Pengumpat yang terbirit-birit itu hanyalah bagian dari sistemNYA. Ketersesatan itu hanyalah bagian dari sistemNYA. Begitu juga dengan kita. Kita adalah sistemNYA, menyatu dengan sistemNYA, bergerak karenaNYA.

Tapi kalau penyatuan itu belum terasa, maka tidak apa, itu hanya karena kita memang belum bisa bermanunggal dengan pemilik sistem itu? Kenapa? Karena kita memang belum menyaksikanNYA sebagai Tuhan. 

Kesaksian bukan sekedar menjawab. Kesaksian bukan sekedar merasakan. Kesaksian adalah menyatu dengan apa yang disaksikannya. 

Sementara untuk kebersaksian dibutuhkan yang namanya kerelaan. Dzat Maha tidak butuh disaksikan sebagai Tuhan. Kitalah yang merelakan diri mentuhankanNYA.


Berarti PR kita memang masih banyak. Dalam kerendahan yang terisak kita memang bahkan belum menyaksikannya sebagai tuhan karena kita masih memiliki tuhan lain selain diriNYA. 

Jadi siapa yang tersesat saat ini sahabatku…? Apakah seseorang yang sudah menyaksikan Tuhan dalam dirinya sendiri itu tersesat – atau kita yang tesesat? 

Jelas kita akan berpikir ulang lagi mulai sekarang. Karena ternyata memang dari awalnya kita sudah menyatu dengan Dzat Maha. Kita menyatu bukan untuk menjadi Tuhan. Melainkan untuk ber-Tuhan. 

Pahamilah paragraph diatas ini dengan ketundukan seorang makhluk agar kita tidak sengaja menyesatkan diri dengan menganggap diri sebagai tuhan. Diri ini tidak bisa menjadi tuhan. Karena bahkan tuhan tidak butuh dituhankan. 

Pesan Siti Jenar melalui Manunggaling Kawula Gusti hanya hendak memberitahu kita bahwa kita harus mewakili Dzat Maha untuk mengelola Bumi, tugas manusia sejak awal diciptakan. Apakah ini menyesatkan dan menyalahi akal? Izinkan saja kesadaran kita menjawabnya. 


Copyright 2021 © www.PesanSemesta.com


  • 0
  • November 08, 2021
admin16 admin16 Author

TIGA KETERHUBUNGAN MANUSIA DENGAN BUMI - SAINTIFIK



Pijakan kita saat ini adalah keterhubungan. Apa yang kita injak ini bukan tempat atau tanah. Melainkan Bumi, yaitu sebuah keterhubungan erat yang terhubung dengan sang pemegang amanah, yaitu tiap diri kita masing-masing.

Karenanya sahabatku… Dengan senang hati kami mengajak kita semua, untuk menyaksikan tiga bukti terbesar keterhubungan manusia dengan Planet Bumi.

Kami berharap, setelah ini Anda akan menjadi yakin untuk percaya kalau keterhubungan kita dengan Bumi adalah nyata dan bukan sekedar katanya. Melainkan keterhubungan manusia dengan Bumi adalah sebuah keniscayaan yang telah ter-struktur erat dalam jalinan yang terprogram rapih, jauh sebelum kita dihadirkan.

Kalau begitu, mari kita langsung belajar keterhubungan manusia dengan bumi, agar mampu menunaikan amanah seorang khalifah.

 

KETERHUBUNGAN PERTAMA: KETERHUBUNGAN MOLEKULAR

Jadi begini, semua materi adalah molekul – semua molekul adalah atom. Merancang atom akan menghasilkan molekul. Sangat mudah membacanya, tapi coba pikirkan! Jelas ini akan menjadi tanda besar yang tidak lagi bisa diabaikan.

Karena dengan begitu kita bisa menyaksikan, kalau apa yang mengalir dan membentuk setiap inci tubuh kita terikat dengan Bumi. Bukan hanya karena apa yang kita makan dan minum bersumber dari bumi. Melainkan secara molecular segalanya tentang tubuh manusia terhubung dengan molecular bumi.

Jasad kita masing-masing adalah organ, sel, molekul, dan atom. Begitu juga dengan bumi. Salah satu diantara atom-atom penyusun bumi dari unsur-unsur oksigen O, Fe besi, Si silikon, dan magnesium Mg juga terdapat didalam setiap sel yang membangun tubuh kita. Pada tingkat atomic tersaksikan kalau kita semua sangat terhubung.

Di dalam tubuh kita saat ini, ada ratusan miliar atom yang pernah berada di dalam satu sama lain manusia di Bumi. Ketika kita makan makanan, minum cairan, atau bahkan menghirup udara, banyak dari atom-atom itu yang akhirnya menyatu dengan tubuh kita.

Lalu ketika kita berkeringat, menghembuskan napas, atau mengeluarkan materi dari tubuh, atom-atom itu kembali ke biosfer Bumi, di mana mereka akhirnya mereka bisa masuk ke dalam tubuh atau materi lain.

Siklus seperti ini terus menerus terulang. Jadi di sini, di Bumi, semuanya terhubung. Itu karena bagaimanapun, gerakan molekular adalah keterhubungan yang saling mempengaruhi.

 

KETERHUBUNGAN KEDUA : KETERHUBUNGAN MAGNETIS

Jadi selain manusia memiliki keterhubungan molecular. Manusia juga terhubung dengan bumi secara elektromagnetis.

Masuk lebih dalam lagi ke atom maka kita akan mempelajari bagian fisika quantum yang halus. Dimana kita harus terpapar dengan kenyataan kalau setiap atom terbentuk dari energy yang terus menerus bervibrasi dalam alunan vibrasi yang harmonis dan sesuai untuk menciptakan frekuensi unik yang menjadi ciri khas masing-masing materi.

Tubuh kita adalah mesin molecular yang terbentuk dari atom. Sementara setiap molekul memiliki frekuensinya masing-masing. Dan sudah menjadi kodratnya, setiap frekuensi molekular akan senantiasa terpengarhui oleh kesadaran.

Kesadaran masing-masing manusia akan menentukan bagaimana seluruh molekular tubuhnya memancarkan frekuensi. Lalu dari hasil pancaran frekuensinya inilah, mereka akan mempengaruhi Bumi.

Sebagai energy, manusia selalu menarik frekuensi sesuai dengan frekuensi apa yang mereka pancarkan. Itulah kenapa, apabila molekular tubuh kita menghasilkan gerakan frekuensi tertentu maka Bumi juga akan merasakan efek tertentu.

Setiap frekuensi yang memancar dari tubuh manusia memancarkan sinyal elektromagnetis. Medan elektromagnetik ada di mana-mana, manusia sendiri adalah penghasil dan pemancar elektromagnetik yang aktif. Setiap gerakan, emosi dan tindakan kita memancarkan gelombang elektromagnetik yang berbeda-beda.

Gelombang elektromagnetik adalah fenomena fisik hasil dari pergerakan molekular yang tadi kita bahas di awal. Masuk kedalam molekul pada tingkat mikroskopik atom, elektron bermuatan partikel terus bergerak di sekitar inti atom, sehingga menciptakan medan magnet.

Itulah kenapa hewan, tumbuhan, bahkan benda yang kita anggap mati seperti batu dan air pun kalau diukur mengeluarkan elektromagnetik dengan berbagai ukuran angka. Jadi ini bukan tentang manusia dan bumi saja, tetapi tentang segalanya.

Jadi kalau kita bertanya; Apakah memang benar kita ini terhubung dengan bumi melalui frekuensi? Jawabannya adalah iya, manusia dan Bumi terhubung. Elektromagnetik manusia dan geomagnetik Bumi saling terhubung dan saling memberi pengaruh.

Dan karena kita ini adalah khalifah, maka elektromagnetik kita memiliki andil yang cukup besar dalam mempengaruhi geomagnetic Bumi.

Hasil percobaan menunjukkan, ketika orang menyentuh atau berada dekat dengan sesuatu atau seseorang, terjadi pemindahan energi elektromagnetik yang dihasilkan oleh jantung. Ini adalah bukti kuat penelitian yang menunjukan bahwa kita memang satu dengan semesta dan isinya. Sementara semesta yang paling dekat dengan kita adalah bumi ini.

Dari penjelasan singkat diatas. Mari kita merenung sebentar, ternyata betapa seumur hidup manusia memang memiliki hubungan batin dengan bumi, tapi betapa kita melupakan hubungan ini dengannya.

Kita mengira bumi tidak merasakan kebahagiaan, kebaikan, ketenangan, kesedihan, kejahatan, kebencian hati kita. Padahal sebenarnya bumi tahu dan merasakannya juga. Bahkan sebenarnya bumi yang lebih tahu terlebih dahulu, sebelum teman facebook Anda mengetahuinya.

Jadi bisa dibayangkan, kalau 50% saja dari penduduk bumi ini memendam kebencian dan amarah, lalu bagaimana dengan perasaan bumi? Bukankah dia akan merasakan kebencian dan amarah kita juga?

Coba juga bayangkan kalau 50% saja dari penduduk bumi ini menanamkan kebahagian tak bersyarat, ketenangan jiwa, dan kebaikan untuk memakmurkan, lalu bagaimana perasaan bumi? Bukankah ini akan membawa pengaruh baik bagi Bumi?

Pastinya kita bisa menjawabnya dengan cepat. Dan semoga saja kita bisa memperbaiki diri secepat itu. Pastinya akan ada proses, dan bagian terberat dari sebuah proses adalah kekhidmatan rasa. Yaitu memupuk rasa, kalau apapun hal baik yang kita lakukan Bumi, memang sudah seharusnya kita lakukan.

BUMI ADALAH AMANAH bagi manusia untuk dijaga, dilestarikan, dan dimakmurkan. Kita hidup dalam planet ini bukan untuk menjadi makhluk yang terpisah dengan pijakannya sendiri.

Jadi memang sudah seharusnya kita berubah menjadi baik dalam menjalani amanah ini. Dimana kita tidak berubah menjadi baik untuk menerima kebaikan. Kita hanya menjadi baik karena kita adalah gerbang kebaikanNYA Dzat Maha Baik. Cukuplah di titik ini ke-khidmatan itu kita fokuskan.

 

KETERHUBUNGAN KETIGA : KETERHUBUNGAN KESADARAN

Kalau Anda bertanya, apakah ada keterhubungan lain selain dua keterhubungan diatas? Maka sebenarnya masih ada, dan keterhubungan ketiga ini masih menjadi keterhubungan yang masih sulit untuk dirasakan.

Yaitu keterhubungan kesadaran. Artinya kita sebagai khalifah bagi Bumi memang memiliki kemampuan untuk merasakan perubahan-perubahan yang berlangsung dalam planet ini secara sadar.

Apakah kesadaran manusia dengan bumi bisa dibuktikan secara saintifik? Jawaban sebenarnya adalah iya.

Contoh kecilnya saja adalah, keberadaan indra Magnetoreception yang memungkinkan suatu organisme untuk mendeteksi medan magnet untuk melihat arah, ketinggian atau lokasi. Dahulu para ilmuan berpikir, kalau manusia tidak dianggap memiliki indera magnetic. Tetapi, baru-baru ini ditemukan, kalau ada protein (kriptokrom) di mata yang dapat menjalankan fungsi ini.

Pertanyaan muncul; untuk apa kita memiliki indra yang baru ditemukan ini?

Kami yakin Anda sudah bisa menjawabnya. Iya, apalagi itu kalau bukan untuk menjalankan sebuah amanah dengan khidmat.

Jadi apa lagi yang akan kita lakukan selain itu kembali lagi kepada tugas yang sebenarnya. Kalau kita belum bisa membenahi Bumi, maka paling tidak kita masih bisa menjaga frekuensi diri untuk tidak merusak Bumi.

 

Salam Semesta

Copyright 2021 © www.PesanSemesta.com

 

  • 0
  • November 05, 2021
admin16 admin16 Author

SEMESTA ITU BAIK, PATUHI SAJA JALANNYA

 


Sahabatku… Mematuhi jalan! Bukankah judul pelajaran kita kali ini begitu padat akan pertanyaan.

Pertanyaan pertama; Jalan seperti apa? Pertanyaan kedua; Mematuhi seperti apa?

Jalan itu artinya adalah sistem. Semesta ini adalah sekumpulan sistem terencana yang sistematis dan apik. Tidak ada kebetulan didalamnya. Karena bahkan hal kecil yang kita nilai kebetulana adalah sistematika terperinci yang sangat halus.

Anda boleh berkata kebetulan daun itu gugur menyentuh pipi Anda. Hanya saja, daun bisa gugur itu bukan kebetulan, melainkan sistem. Lalu saat mereka gugur dan turun kebawah itu juga adalah sistem. Dan juga kulit pipi Anda yang bisa merasakan daun itu juga adalah sistem yang rumit.

Dengan kata lain, kita bisa tenggelam dalam rumitnya sistem tatanan kehidupan hanya dengan hal sepele ini. Jadi, hal ini tidak sepele. Tetapi kita lah yang menyepelehkannya. Padahal dalam setiap sistem yang dipatuhi selalu akan ada kebaikan semesta didalamnya.

Contohnya, dalam tubuh kita sudah tersistem kalau tubuh membutuhkan hormone kortisol dalam kadar tertentu untuk membantu mengontrol tekanan darah, meningkatkan metabolisme glukosa tubuh, dan mengurangi peradangan. Dimana tingkat kortisol yang rendah dapat menyebabkan kelemahan, kelelahan, dan tekanan darah rendah.

Selama ini kortisol dikenal sebagai hormon stres karena perannya dalam respon stres tubuh. Tetapi kortisol lebih dari sekadar stres. Kortisol penting untuk kesehatan, tetapi terlalu banyak kortisol juga dapat mendatangkan malapetaka pada tubuh dan menyebabkan sejumlah gejala yang tidak diinginkan.

Disinilah pentingnya mematuhi. Apabila kita mau mematuhi sebab akibat dari setiap sistem yang dibentuk oleh semesta. Maka kita akan mampu merasakan kebaikan semesta. Akhirnya diri mampu bersaksi kalau “Semesta yang dibentuk oleh Dzat Maha itu baik”.

Dengan kata lain, kita bersaksi kalau segalanya adalah kebaikanNYA. Bukankah gerbang pemahaman ini bisa menjadi pembawa kepada kebersaksian yang sesungguhnya.

Betapa sering kita mengharapkan kebaikan seakan-akan bentukNYA itu tidak baik. Betapa sering kita tidak mampu merasakan kebaikanNYA. Betapa sering kita meragu kalau segalanya adalah baik.

Padahal ini semua, hanya karena kita tidak bisa menjadi patuh. Namun bagaimana bisa mematuhi sistem yang baik, kalau sampai sekarang saja kita masih buta akan sistem-sistem itu? Jangankan paham, sekedar tahu saja mungkin belum.

Sahabatku… Kebaikan itu adalah nyata. Semesta tidak mungkin berbohong atau menutupi. Sebagai semesta kita sudah menjadi kebaikanNYA.  Karenanya, jadilah pelajar yang mau paham.

Untuk menjadi radar penyebar kebaikan kita harus patuh pada kebaikan asal. Sementara untuk patuh kita harus paham. Dan untuk paham kita harus kembali menjadi pelajar yang mau paham dengan belajar.

Akhir kata… Mari Belajar agar mampu menyaksikan kebaikanNYA yang terlihat. BersamaNYA kita akan terus belajar.

 

Salam Semesta

Copyright 2021 © www.pesansemesta.com

  • 0
  • November 04, 2021
admin16 admin16 Author

CARA MEMBANGUN KECERDASAN? – JAWABAN SAINTIFIK



Sahabatku… Pernah mendengar istilah "Use it or lose it!” dan iya, istilah ini berlaku untuk seluruh otak manusia. Kita boleh menggunakan otak untuk membuatnya selalu cerdas. Atau kita juga boleh membiarkan otak begitu saja untuk menghilangkan potensinya.

Organ otak identik dengan kecerdasan. Dan betul memang otak berperan 100% untuk memprogram kecerdasan manusia. Sayangnya, kebanyakan kita masih berpikir kalau kecerdasan ditentukan secara genetis. Dimana seseorang sudah terlahir dengan gen cerdas, kurang cerdas, tidak terlalu cerdas atau bahkan tidak cerdas sama sekali.

Padahal faktanya tidak pernah demikian. Meski kesehatan otak sangat berperan untuk membangun kecerdasan. Namun melalui penelitian terbaru menunjukkan, bahwa otak lebih seperti otot – ia bisa berubah dan menjadi lebih kuat ketika kita membangunnya. Begitu juga sebaliknya.  

Pertanyaannya; Apakah kita sudah memilih membangun otak untuk membuatnya cerdas atau justru kita menggunakan otak untuk menghilangkan kecerdasannya?

Jadi begini, otak memiliki banyak cluster yang tiap detiknya cluster-cluster ini terus saling bekerjasama satu sama lainnya.

Keterhubungan adalah sifat pertama otak. Dimana secara fungsional otak menghubungkan seluruh anggota jasad untuk terus menerima informasi energetis (pikiran) lalu memprosesnya. Dan otak juga menghubungkan kesadaran dengan informasi energetis (pikiran) yang telah dan sedang diproses oleh seluruh anggota jasad itu.

Inilah yang membuat otak begitu agung. Dimana otak adalah connector yang menghubungkan diri dengan segala hal.

Tetapi, bukan hanya connector, otak juga memiliki sifat kedua, yaitu builder. Artinya, kita bisa membangun apa saja dengan otak ini.

Kita bisa membangun kebodohan – kita bisa membangun kecerdasan. Kita bisa membangun kebobrokan – kita bisa membangun kemakmuran. Kita bisa membangun kebohongan – kita bisa membangun kenyataan.

Apapun itu bisa kita bangun, itulah kenapa Dzat Maha berkata kalau diriNYA sudah menciptkan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Masalahnya sekarang, mampukah kita mengendalikan bentuk yang sebaik-baiknya ini agar menjadi yang sebaik-baiknya?

Kalau kita memilih, cerdas adalah bentuk yang baik dari diri. Maka jelas kita bisa membangunnya.

MEMBANGUN adalah kata yang berbeda dengan MENERIMA.

“Membangun” itu berarti mendirikan dan membina. Sementara “menerima” itu berarti mendapat. Kita saat ini sudah menerima bentuk yang sebaik-baiknya dari Dzat Maha. Lalu dengan yang sudah kita terima itu, kita akan memilih.

Kita akan memilih apakah kita akan membangun, atau kita akan membiarkan, sekarang semua tergantung sebuah pilihan.

Sekali lagi, pertanyaannya; Apakah kita sudah memilih membangun otak untuk membuatnya cerdas atau justru kita menggunakan otak untuk menghilangkan kecerdasannya?

Sebuah pilihan yang tepat akan membuka tabir ke Maha Besaran Dzat Maha yang telah membentuk otak ini. Jadi di detik berikut ini, jangan salah memilih sahabatku…

Kami yakin kalau keinginan kita tentu adalah membangun kecerdasan otak. Keinginan yang wajar, setiap semesta sebenarnya tahu betapa besar fitrah yang digengamnya. Jadi mari kita bangun kecerdasan semesta dengan 2 cara sederhana dibawah ini :

 

Cara Pertama: Aktifkan Otak

Cara pertama membangun kecerdasan adalah dengan meng-aktifkan otak. Mengaktifkan otak bukan berarti otak itu tidak aktif. Otak adalah organ yang senantiasa aktif, bahkan saat seseorang tidur sekalipun. Jadi mengaktifkan otak yang kami maksud disini, adalah menggunakan otak dibawah kendali.

Kecerdasan dibangun oleh otak yang dikendalikan untuk membangun kecerdasan. Kebodohan dibangun oleh otak yang dikendalikan untuk membangun kebodohan. Jadi kecerdasan itu berhubungan dengan otak – lalu otak berhubungan dengan pengendalinya.

Sementara apakah otak dikendalikan 100% oleh diri sendiri itu bukan hal yang pasti. Bisa saja otak Anda dikendalikan oleh hal lain selain diri Anda. Bisa saja otak itu dikendalikan oleh program dari lingkungan, dogma, doktrin atau penilaian dari luar diri.

Tapi itu tidak masalah. Karena  apapun atau siapapun yang mengendalikan otak Anda, itu tetap otak Anda. Jadi ambillah kendalinya! Lalu caranya?

Untuk mengendalikan otak, maka seseorang harus masuk ke mode program sadar dan bukan membiarkan diri di mode program bawah sadar.

Jadi begini, otak butuh energy yang besar dalam beroperasi. Itulah kenapa dia sangat meng-irit penggunaan energy agar kita tidak kewalahan. Maka itu, tersistemlah program pikiran bawah sadar, yaitu sekumpulan program yang termemorikan oleh system.

Misalnya saja program untuk melakukan aktifitas sehari-hari, seperti bangun, membuat kopi, pergi ke kantor, makan, mengunyah, melepit baju, mencuci piring, tersenyum, marah dan banyak aktifitas lainnya.

Singkatnya program bawah sadar dibuat oleh otak agar manusia bisa bergerak autopilot tanpa perlu berpikir secara berulang-ulang. Apakah ini buruk? Jawabannya adalah tidak. Hanya saja dalam program bawah sadar ini, bisa saja ikut tertanam juga believe, habit dan aktifitas yang turut menurunkan aktualitas diri kita.

Kecerdasan adalah salah satu aktualitas diri. Itulah kenapa seseorang harus masuk kedalam program sadar untuk membentuk aktualitas diri yang sebenarnya.

Nah, satu-satunya cara masuk ke program sadar adalah dengan BERPIKIR. Jadi kita harus men-triger diri untuk senantiasa berpikir.

Apabila Anda berpikir, maka Anda membuka portal menuju pikiran sadar Anda. Artinya Anda sedang terhubung dengan potensi diri Anda yang sebenarnya. Saat Anda terhubung dengan diri yang sebenarnya, maka saatnya kita melatih otak untuk membangun kecerdasan yang lebih.

 

Cara KEDUA Membangun Kecerdasan: MELATIH Otak

Alasan utama kenapa kita melatih otak dalam mode pikiran sadar, adalah karena saat mode pikiran sadar. Kita tidak sedang menjalankan program lama secara penuh.

Pikiran sadar melibatkan semua hal yang saat ini kita sadari dan pikirkan secara aktif. Saat kita mengaktifkan otak dengan masuk ke mode pikiran sadar. Maka itu berarti kita telah menggunakan neocortex dalam porsi yang lebih.

Otak rasional atau neocortex itu ibarat otak "pintar" manusia. Bagian eksekutif dari sistem yang bertanggung jawab untuk semua aktivitas sadar tingkat tinggi. Tanggung jawab utama dan menyeluruh dari neocortex adalah untuk menentukan apa yang sedang terjadi di dunia luar.

Berkat neokorteks memungkinkan kita melakukan banyak hal, seperti menulis dan berbicara, berinteraksi sosial, dan merenungkan secara filosofis tentang makna hidup. Pengambilan keputusan, penalaran, dan pemecahan masalah.

Apabila bisa terus menerus mengaktifkan bagian ini, maka Anda akan selalu hidup dalam mode membangun kecerdasan otak Anda sendiri.

Uniknya neocortex tidak terlalu aktif saat Anda masuk ke mode program bawah sadar. Dalam mode program bawah sadar yang aktif justu adalah otak primal, yaitu bagian otak yang mengatur dasar-dasar manusia dalam bertindak dan ego manusia.

Dalam peta otak, otak primal menempati posisi di otak kecil dan batang otak. Otak primal ini bertanggung jawab atas segala pergerakan didalam jasad dan aktifnya survival mode, yaitu fungsi bertahan hidup yang paling mendasar dari jasad manusia.

Otak primal hanya memiliki serangkaian respons perilaku yang terbatas yang dapat dipicu oleh pemicu eksternal tertentu. Contoh-contoh respons perilaku dasar ini adalah: dominasi, agresi, mencari jodoh, ibadah, seks, ketakutan, kekakuan, keterpaksaan, obsesif, keserakahan, dan ketundukan. Itulah kenapa otak primal ini tidak bisa menunjukkan belas kasihan dan tidak bisa berpikir secara rasional.

Singkatnya memang, manusia akan sulit menjadi cerdas pada mode ini, kecuali kalau dari awal semuanya sudah diprogram sesuai. Inilah kenapa dalam kondisi pikiran sadar (conscious) maka kita akan mulai dan terus melatih otak.

Lalu bagaimana melatih otaknya dilakukan?

Sahabatku… Pikirkan – Pelajari – Lakukan. Ini adalah tiga jurus ampuh untuk melatih otak. Jangan lewati hari tanpa melakukan tiga jurus ini. Anda boleh mempraktekannya sesuai passion yang Anda minati. Atau Anda juga boleh menantang diri dengan hal-hal baru.

Para ilmuwan menemukan bahwa hewan yang hidup di lingkungan yang menantang, dengan hewan lain dan mainan untuk bermain, berbeda dari hewan yang hidup sendirian di kandang kosong.

Sementara hewan yang hidup sendiri hanya makan dan tidur sepanjang waktu, berbeda dengan hewan aktif yang hidup dengan mainan variatif dan hewan lain. Hewan yang aktif memiliki lebih banyak koneksi antara sel-sel saraf di otak mereka. Koneksinya juga lebih besar dan lebih kuat.

Faktanya sudah diteliti, kalau seluruh otak hewan aktif sekitar 10% lebih berat daripada otak hewan yang hidup sendiri tanpa mainan. Hewan-hewan yang melatih otak mereka dengan bermain dengan mainan dan satu sama lain juga "lebih pintar" - mereka lebih baik dalam memecahkan masalah dan mempelajari hal-hal baru.

Bukankah ini adalah dua cara yang mudah? Kabar baiknya memang mulai sekarang kita bisa menjadi cerdas dengan apapun yang kita inginkan. Dibidang apapun itu, caranya tetaplah dibangun dengan dua cara diatas. Tetapi, jangan lupa juga kalau kesehatan otak memegang peranan penting. Jadi jagalah jasad kita dari hal-hal yang membuatnya buruk.

Akhir kata sahabatku…

Satu RAHASIA BESAR agar kecerdasan terbangun lebih maksimal dan cepat adalah, jangan lupakan kenetralan.

Lakukan dengan netral! Bangunlah kecerdasan semesta untuk keikhlasan yang menghamba kepada khaliqNYA dan bukan untuk penilaian yang rakus akan keuntungan.

Ingatlah sahabatku… Karena kita telah MENERIMA maka kita akan MEMBANGUN. Dengan kata lain, hanya kepadaNYA-lah segala yang terterima dikembalikan. Hanya saja, Dzat Maha tidak butuh pengembalian apapun dari makhluknya, selain segalanya sudah dikembalikan sebagai rahmatNYA bagi semesta alam.

Renungkanlah sahabatku… Karena seharusnya hanya inilah tujuan akhir segala kecerdasan semesta yang terbangun. Seharusnya segala kecerdasan semesta dibangun untuk menjadi pengembalian yang khidmat.

 

Salam Semesta

Copyright © www.PesanSemesta.com

  • 0
  • November 03, 2021
admin16 admin16 Author

BACALAH SAAT DIRI GUNDAH GULANA DENGAN KEADAAN

 




Seorang sahabat bertanya "Mohon solusi yang harus dilakukan saat gundah gulana karena keadaaan?" BersamaNYA kami menjawab.

Sahabatku… Hidup adalah sebab akibat. Sebuah kondisi tertentu akan selalu mengakibatkan hasil tertentu. Lalu dalam pergerakan sebab-akibat ini, kadang kita harus berada dalam kondisi tertentu untuk menerima hasil yang tidak sesuai keinginan.

Ketidaksesuaian keinginan dengan hasil memang akan selalu membuat diri gundah gulana, dan ini rasa yang wajar. Manusia selalu butuh sebab yang tepat untuk hasil yang tepat.  Kalau manusia tidak bisa merubah sebab, maka jangan mengharapkan hasil berubah. Karena ini jelas akan terus membuat kegundahan.

Kenapa?

Karena kegundahan harus hadir sebagai respon pemicu agar diri, supaya mau merubah sebab yang ada, untuk menghasilkan akibat yang sesuai keinginan. Itulah kenapa kegundahan jangan pernah ditolak.

Kebanyakan kita menolak kegundahan. Padahal seharusnya tidak! Kegundahan hadir tidak untuk ditolak. Tetapi untuk dinikmati. Dengan menikmati kegundahan, maka kita akan mengobati hidup kita, memperbaikinya untuk menepatkannya dalam posisi yang lebih baik dan kuat.

Kenapa? Karena justru kegundahan itu bisa menjadi alasan terbesar bagi diri untuk mampu membentuk sebab terbaik. Kita harus menggaris bawahi kata membentuk sebab. Karena disinilah kita akan belajar hidup.

Manusia sering berpikir kalau segalanya dalam hidupnya sudah terbentuk untuk dirinya begitu saja. Akibatnya mereka sering menempatkan diri mereka sebagai korban. Padahal dirinya hanyalah pemain yang sengaja menempatkan dirinya sebagai korban.

Sahabatku… Hidup adalah sebab akibat yang kompleks dan besar. Apapun sebabnya selalu ada, begitu juga apapun akibatnya selalu ada. Pertanyaannya: Akibat apa yang Anda inginkan sahabatku? Apapun itu, maka bentuklah sebabnya.

Sementara dalam membentuk sebab kita akan selalu berbenturan dengan dua rasa yang harus kita kendalikan :

Rasa Pertama Adalah Rasa Takut

Jadi begini, meski manusia itu makhluk yang paling pintar membentuk keinginan. Namun kita adalah makhluk yang penakut untuk mewujudkan keinginannya sendiri. Kita berharap situasi berubah untuk keinginan kita. Tapi kita sendiri takut untuk merubah situasinya.

Sebenarnya rasa takut ini muncul karena diri sudah mulai melihat tantangan-tantangan yang terbayang dipikiran mereka sendiri. Disini kami tidak bilang rasa takut ini buruk. Justru rasa takut ini sangatlah baik kalau bisa dikendalikan.

Untuk mengendalikan rasa takut, maka izinkan kami memberi satu rahasia kecilnya “Untuk mengendalikan rasa takut tidak dibutuhkan keberanian”.

Ada dua gunung yang terpisah jurang. Dua gunung ini terhubung dengan seutas tali. Keinginan Anda berada di jurang yang harus Anda lewati. Biasanya seseorang akan menunggu keberanian hadir. Namun tidak dengan Anda.

Anda tidak akan menunggu yang tidak akan datang. Tapi Anda akan mewaspadai diri Anda untuk melangkah. Anda akan mengendalikan diri untuk melangkah perlahan-lahan dan teratur. Anda akan mengendalikan diri untuk tidak melakukan gerakan yang sembrono. Anda akan mengendalikan rasa panas yang terasa saat Anda harus istirahat melangkah. Anda akan mengendalikan diri saat angin menampar. Anda juga akan mengendalikan rasa gembira karena Anda semakin mendekat. Sampai akhirnya Anda sampai pada keinginan Anda sambil disambut oleh keberanian.

Sahabatku… Kita butuh mengendalikan rasa takut bukan untuk berani, tetapi untuk waspada. Rasa takut yang terwaspadai akan menghadirkan keberanian.

Keberanian adalah hadiah bagi mereka yang berhasil mewaspadai rasa takut. Jadi jangan pernah mengharapkan keberanian kalau diri tidak pernah mau mengendalikan rasa takut.

Sekali lagi, untuk mengendalikan rasa takut tidak dibutuhkan keberanian, tetapi dibutuhkan kewaspadaan. Waspada itu bukan berarti berhenti. Waspada itu berhenti untuk sampai.

 

Rasa Kedua adalah rasa terburu-buru

Iya, itulah kita. Kita begitu ingin keinginan ini buru-buru terwujud. Saking buru-burunya kita selalu menempatkan keinginan sebagai keinginan. Sampai akhirnya keinginan tetap menjadi keinginan. Kegundahan pun tetap menjadi kegundahan.

Jasad pun mulai terkikis, jiwa pun semakin melemah, energy pun hanya terbuang percuma. Itukah kita sahabatku…? Kalau bisa jangan. Jangan menempatkan diri untuk terburu-buru dalam proses.Karena salah satu tanda kalau sebuah doa terwujud adalah, diri menjadi khidmat dan khusyu pada proses.

Hidup di bumi adalah pelajaran bagi mereka yang mau mengambil pelajaran. Harapan dan keinginan yang muncul adalah salah satu gerbang pembelajaran. Lalu ‘proses’ itu adalah pembelajaran itu sendiri. Semakin kita terfokus kepada proses, semakin kita banyak belajar.

Dengan berproses kita akan mengenal kemampuan diri dengan baik. Mengetahui kelemahan yang harus diperbaiki. Lalu menghargai tiap titik pencapaian diri. Inilah yang ingin diajarkan oleh DIA, yaitu pelajaran dan pengalaman berharga yang akan terlewat begitu saja, kalau kita berhenti berproses.

Jadi sahabatku… Proses, proses dan proses. Terus saja ikuti alur proses itu, meski hasil akhir sama sekali belum tampak. Pahami kalau alasan betapa banyak orang yang senantiasa mengulang harapan dan keinginan mereka setiap hari, adalah karena sebenarnya mereka malas untuk mengikuti proses. Padahal proses yang mereka jalani adalah pengabulan doa dariNYA.

Percayalah! Energi yang kita curahkan sepenuhnya dalam proses, akan menguatkan jasad dan jiwa. Kita pun akan semakin mendekatkan diri kepada wujud utuh pengabulan doa.

Saat ini kita hanya perlu mematuhi alur kalau DOA itu adalah Dinamis, Optimis dan Aksi. Dengan kata lain doa itu adalah proses. Kalau Anda berproses berarti Anda sudah menjadi DOA Anda sendiri. DOA tidak berada diluar Anda tetapi bersama Anda. Sehingga Anda mulai bisa menempatkan diri bersamaNYA yang sudah mengabulkan segala doa.

 

Akhir kata sahabatku…

Saat kita gundah gulana dengan alasan apapun. Maka pahami kalau kegundahan hanyalah alarm yang mengingatkan posisi kita. Seperti cermin, kegundahan itu adalah pantulan dari apa yang harus diperbaiki. Satu hal yang harus diperbaiki adalah justru diri yang masih merasakan kegundahan itu.

Jadi pertanyaan yang harus kita tanyakan ke dalam diri adalah “Kenapa masalah/kondisi/sikap ini masih membuat saya gundah?”

Coba tanyakan, dan dalam kondisi netral cobalah menerima jawabannya. Mohon jujurlah, dan janganlah membuat pembenaran. Terima segala alasan kekurangan diri saat jawaban itu terjawab.

Mungkin butuh beberapa hari atau musim untuk menerima jawabannya. Namun semesta itu baik, pertanyaan itu pasti akan terjawab. Kalau sudah, maka terimalah.

Apakah kalau sudah diterima, maka kegundahan hilang? Tidak! Kegundahan itu tidak hadir dari kondisi yang diluar. Kegundahan itu hadir dari diri Anda sendiri. Kegundahan tidak akan hilang sampai Anda merubah alasannya.

Tapi itu dahulu, sekarang kita akan merangkak untuk TIDAK menjadi korban. Anda sudah menerima jawabannya bukan? Kalau begitu, mari kita menikmatinya lagi.

 

 

Salam Semesta

Copyright 2021 © www.pesansemesta.com

  • 0
  • Oktober 29, 2021
admin16 admin16 Author

BLENDING – BLESSING – MEDITASI


 

Seorang sahabat bertanya “Apa beda nya blending, blessing, meditasi?” BersamaNYA kami menjawab dan bersamaNYA juga kita me-raih blending, untuk me-nerima blessing dengan meng-aksikan meditasi.

 

MERAIH BLENDING

Sahabatku… Pastinya kita paham arti kata blending yang secara bahasa artinya adalah penyatuan atau pencampuran. Jadi yang menjadi fokus pelajaran kita adalah penyatuan apa? Kalau bahasannya adalah me-raih blending, maka penyatuan apa yang diraih?

Ada dua penyatuan PENTING yang seharusnya diraih oleh kesadaran generasi umat manusia kita saat ini:

Pertama, penyatuan dengan diri sendiri. Kedua, penyatuan dengan luar diri. Dua urutan ini sudah apa adanya terbentuk. Jadi dengan sopan kita tidak bisa merubah urutannya.

Lalu, apa yang dimaksud dengan penyatuan dengan diri sendiri ?

Menyatu dengan diri sendiri artinya, kita mengenal siapa diri kita sendiri. Sederhana, tapi siapa diri yang sedang membaca tulisan ini sahabatku? Apakah betul kita mengenalnya – atau kita hanya berpura-pura saja?

Seseorang yang sudah menyatu dengan dirinya sendiri pasti akan menyadari jawaban dari tiga pertanyaan terbesar umat manusia, yaitu: Kenapa dia dihidupkan? Untuk apa dia dihidupkan? Dan SIAPA penghidup dirinya?

Jadi mereka yang meraih blending adalah mereka yang bukan sekedar tahu. Tetapi sadar tentang alasan dan tujuan kehidupannya. Sama seperti dia juga sadar Sang Penghidup yang harusnya dia tuhankan dalam hidupnya.

Sekali lagi sahabatku… Bukan sekedar tahu, tetapi sadar. Pengetahuan bisa menjadi triger kesadaran. Namun itu bisa saja tidak berpengaruh apa-apa kalau tidak pernah dilakukan. Ilmu semesta adalah ilmu yang menyerap untuk membangun, kalau sudah terbangun berarti sudah terserap.

Begitu juga saat penyatuan dengan diri sendiri sudah terbangun, maka biasanya diri mulai aktif menyaksikan hal-hal diluar dirinya untuk memperbaiki dan bukan untuk menilai.

Tidak akan ada penilaian, karena diri paham setiap manusia dan makhluk semesta alam memiliki alasan dan tujuan hidup yang diembannya masing-masing. Lalu dalam pergerakan mereka ini muncul tantangan-tantangan yang perlu diperbaiki untuk kemakmuran bersama.  

Hal-hal yang perlu diperbaiki inilah yang terus terlihat oleh mereka yang berhasil me-raih blending. Jadi mereka yang sudah me-raih blending akan sangat sibuk untuk terus memperbaiki dalam porsinya masing-masing demi kemakmuran semesta.

Lalu disaat perbaikan dan kemakmuran terbentuk, maka disaat itulah mereka yang meraih blending tersenyum, menengadah hormat, untuk menerima blessing yang tidak pernah dipikirkannya.

 

MENERIMA BLESSING

Sahabatku… Tidak memikirkan blessing adalah rahasia menerima blessing.

Manusia Bumi biasanya mengartikan blessing sebagai “sesuatu yang sangat baik atau keberuntungan”. Hanya saja sahabatku… Bukankah segalanya memang sudah menguntungkan?

Ada tiga keberuntungan yang jarang sekali kita anggap. Mari kita membahasnya sebentar saja, sebagai sebuah pengingat yang sedih.

Pertama adalah nyawa. Jujur saja kita jarang menganggap nyawa atau lebih detailnya energy penghidup yang sedang menghidupi kita saat ini sebagai blessing.

Kedua adalah jasad dan jiwa. Sama halnya dengan nyawa, kita jarang berpikir kalau tubuh dan sistem-sistem yang beroperasi otomatis di dalamnya sebagai blessing.

Dan ketiga adalah kesempatan. Dengan nyawa, tubuh dan jiwa maka kita memiliki kesempatan untuk apapun. Sayangnya kita juga jarang berpikir kalau kesempatan adalah blessing.

Jadi memang kita harus mengakui ketamakan diri kita sendiri. Inilah mungkin alasan kenapa kita tidak pernah merasa menerima blessing. Karena kita bahkan tidak menyadari blessing yang sudah kita terima. Mungkin kita sudah tahu. Hanya saja penyadaran adalah hal yang berbeda.

Jadi untuk saat ini pikirkan saja kalau segalanya sudah menjadi blessing dariNYA dan bersamaNYA kita akan terus membuka kado-kado manis blessingNYA, selalu.

Sebenarnya tulisan ini tidaklah rumit untuk dipahami. Kerumitan yang utama dari tulisan ini muncul karena kita tidak mau mengakui pembenaran-pembenaran yang sedang kita pertahankan. Kita ingin berada di tahap menerima blessing, karena kita berpikir blessing adalah gerbang kemudahan instan.

Tidak sahabatku… Blessing adalah segalanya. Saat diri yang sudah meraih blending bisa dengan ikhlas menyadari kalau segalanya adalah blessing. Tanpa memikirkan menerima blessing. Maka itu adalah pertanda kalau dirinya justru sedang menerima blessing.

Semesta ini adalah kenetralan absolute. Kenetralan harus dibalas dengan kenetralan. Tidak ada jalan keluar lain. Jadi sampai disini, me-raih blending sudah, me-nerima blessing sudah, lalu yang terakhir atau sebenarnya ini adalah yang pertama kali harus kita lakukan, yaitu meng-aksikan meditas.

 

MENG-AKSIKAN MEDITASI

Saat mendengar kata meditasi, maka yang terbayang oleh kita adalah pose duduk, menutup mata untuk merasa damai. Tapi bukan itu sebenarnya meditasi.

Seharunya meditasi adalah salah satu bentuk latihan diri untuk memusatkan dan menjernihkan akal. Sehingga diri bisa merasa lebih fokus dan produktif. Namun tetap dalam porsi damai.

Jadi kalau saat ini Anda sedang rajin bermeditasi, bagaimanapun caranya. Pahami, kalau meditasi bukan diam. Namun beraksi dalam diam. Meditasi juga bukan berhenti berpikir. Namun berakal untuk terus berpikir. Meditasi juga bukan mampu damai dalam tenang. Namun mampu damai dalam gaduh.

Hasil dari meditasi yang benar adalah diri yang paham kalau kegaduhan diluar dirinya memang nyata. Dan tugas dirinya adalah untuk tetap fokus dengan dirinya sendiri untuk terus menjaga kedamaian hadir ditiap gerakannya.

Itulah kenapa meditasi memang bisa menjadi langkah awal yang dilakukan untuk me-raih blending dan me-nerima blessing. Asalkan saat melakukan meditasi, jangan hanya duduk, menutup mata dan mengosongkan pikiran begitu saja dalam diam. Tapi cobalah sekali-kali melakukan MOVE IN.

MOVE IN adalah mode mengkoneksikan kesadaran untuk merasakan hal-hal yang sedang berlangsung didalam diri. Dari mulai merasakan proses jantung yang berdetak, aliran nafas yang berproses, aliran darah yang mengalir, organ-organ yang bekerja, sel yang bergetar, terus sampai ke titik merasakan bagaimana SANG PENGHIDUP bervibrasi didalam tiap sudut jasad ini untuk menghidupkan.

Jadi dengan bermeditasi sambil masuk ke mode MOVE IN ini kita mulai merasakan kembali diri kita. Kembali mengenal yang didalam, agar mampu mengatur yang diluar. Bukan hanya itu, dengan meditasi mode MOVE IN kita akan mengenal kembali dengan SIAPA kita bergerak. Kita semakin mengenal lagi bahwa kasih sayang penghidupanNYA yang tidak terbatas, ada ditiap inci diri kita.

Semakin sering kita melakukan ini, maka kita semakin sadar dengan SIAPA kita bergerak. Akhirnya bisa muncul percik-percik penyatuan dan ini adalah rahasia kecil kalau kita ingin meraih blending. Sementara untuk menerima blessing, hal kecil yang perlu kita lakukan adalah membuat diri sadar kalau segalanya sudah menjadi blessing.

Sungguh tiga hal luar biasa bukan? Iya, ini benar-benar luar biasa. Terimakasih untuk pertanyaan yang mempesona.

Akhir kata sahabatku… Amanah harus disampaikan bukan? Kalau begitu sampaikanlah amanah yang dibawa oleh diri ini. Meraih blending bisa menjadi pembuka awal.  Tidak ada pengakuan saat meraihnya. Ini hanya tentang amanah yang tersampaikan dengan hormat.

Bersemangatlah, gunakanlah akhir detik ini untuk menyampaikan amanah dengan hormat.

 

Salam Semesta.

 

Copyright 2021 © www.PesanSemesta.com

 

 

 

  • 0
  • Oktober 28, 2021
admin16 admin16 Author

TIGA LANGKAH UNTUK MENJADI PENGENDALI DIRI YANG NETRAL



Sahabatku… Mari kita belajar self control sebentar. Segala kebaikan butuh pengendalian. Manusia dihidupkan dengan kemampuan untuk mengendalikan. Misalnya saja, jasad kita dibuat untuk mampu mengendalikan molekul air didalam dirinya sendiri agar seimbang.

.

Tubuh butuh molekul air untuk sel. Tapi, saat tubuh tidak bisa mengatur kadar air didalam dirinya, maka akan terjadi overhidrasi. Kelebihan air dalam tubuh menyebabkan kadar garam tubuh turun dan sel membengkak. Jadi dalam diam, tubuh kita terus mengendalikan jumlah kebutuhan air yang bisa diserap oleh tubuh kita sendiri. Agar air bisa bergerak sesuai fitrahnya.

.

Bergerak sesuai fitrah – inilah fungsinya pengendalian. Fitrah sendiri hanyalah bentuk kebaikan asal. Segalanya adalah kebaikan kalau segala kebaikan itu mampu dikendalikan. Itulah fungsi diri sebagai khalifah. Pemimpin selalu mengendalikan, bukan melepas kendali, apalagi dikendali.

Self control adalah mengendalikan diri agar menjadi kebaikanNYA yang seimbang.

Jadi bukan berarti tidak dikendalikan tidak baik. Tetap secara wujud sesuatu yang tidak dikendalikan memiliki kebaikan. Contoh, air adalah baik, tapi air tetap harus dikendalikan agar kebaikannya bisa seimbang dan sesuai dengan fitrah atau kebaikan asal.

.

Oksigen adalah baik, tapi oksigen tetap harus dikendalikan. Lapar dan kenyang itu adalah baik, tapi tetap lapar dan kenyang itu harus dikendalikan. Fungsi pengendalian adalah supaya segala kebaikan yang sudah ada bisa bergerak sesuai fitrah yang baik.

.

Dalam pengendalian akan terbentuklah keteraturan dan keseimbangan. Saat kebaikan itu sudah teratur dan seimbang. Maka kebaikan itu bergerak sesuai fitrah. Dan saat segalanya sudah sesuai fitrah. Maka segalanya bisa kita kembalikan. Akhirnya kita bisa menjadi khalifah yang menjadi gerbang kebaikannya bagi semesta alam.

.

Pikirkan seperti ini sahabatku… Kalaulah diri ini adalah wujud kebaikanNYA yang ikhlas. Maka segala kebaikanNYA harus dikembalikan dengan ikhlas juga bukan?

.

“Ikhlas harus dibalas dengan ikhlas” dalam hidup ini kita sedang belajar untuk ikhlas menjadi kebaikanNYA untuk kebaikanNYA. Mari kita membuat mudah pelajaran ikhlas ini dengan belajar mengendalikan diri dalam kenetralan. Kenapa netral? Karena hanya dengan kenetralanlah kita bisa belajar ikhlas menerima dan ikhlas memberi.

.

Jadi mari kita belajar bagaimana cara menjadi pengendali diri yang netral?

.

Pertama: Kenalilah Diri Sendiri

Kenali manusia, yaitu diri sendiri. Kenali komponennya, cara kerjanya, sistemnya, sebab akibat yang diembannya. Kenalilah diri!

.

Seseorang tidak bisa mengendalikan yang tidak dikenalinya. Diri hanya bisa mengendalikan yang dikenalinya.

.

Tentunya ini akan merepotkan memang. Selama ini kita belajar untuk menjadi unggul. Tapi bukan untuk unggul mengenal diri.

.

Salah satu contoh kita bisa mengendalikan diri apabila mengenal diri adalah seperti ini :

Misalnya saat kita berbicara tentang alasan kebahagian, maka kita sering memikirkan alasan kebahagiaan sebagai konsep keadaan, harta benda, atau orang-orang dalam hidup kita. Padahal pada kenyataannya, kebahagiaan merupakan hasil dari pengalaman kimiawi.

.

Terdapat empat neurokimia utama, hormon, dan neurotransmitter yang dihasilkan dalam otak yang pada dasarnya bertanggung jawab untuk menciptakan sensasi dan emosi yang kita asosiasikan, termasuk kebahagiaan.

.

Artinya; apabila jasad tidak bisa mengolah pengalaman kimiawi ini, maka jangan harap diri akan merasakan kebahagiaan, meskipun diri memiliki segudang alasan untuk berbahagia. Begitu juga apabila diri berhasil memerintahkan jasad untuk mengolah kimiawi ini, maka diri bisa merasakan kebahagiaan instant, tanpa memiliki satu pun alasan untuk berbahagia.

.

Nah, dengan mengenal kinerja-kinerja diri yang seperti diatas. Maka kita akan MAMPU mengendalikan diri untuk tidak terjebak pada keadaan yang tidak baik. Lalu bergegas memilih bergerak dalam fitrah kebaikanNYA.

.

Sudah menjadi fitrah kebaikanNYA adalah kita mampu berbahagia dengan mengendalikan rasa syukur dalam diri tanpa menaruh syarat dari luar. Karena tahukan Anda kalau bersyukur adalah pikiran positif yang mampu meledakkan kadar dopamin tinggi di otak? 

.

Neuroscience telah menemukan hubungan antara pikiran positif dan aktivasi neurotransmitter tertentu. Jadi dengan memusatkan perhatian pada hal-hal yang disyukuri memaksa perubahan jasad ke fase yang lebih positif. Karena tindakan sederhana ini mampu merangsang lebih banyak neurotransmiter di otak kita, khususnya dopamin dan serotonin, yang meningkatkan perasaan puas. Inilah sebabnya mengapa dopamin dan serotonin sering disebut sebagai "bahan kimia bahagia."

Bukankah ini hanya bisa terjadi dengan pengendalian?

.

kedua : jadilah waskita terus menerus

Waskita terus menerus artinya selalu waspada tanpa putus. Seseorang tidak bisa mengaplikasikan kewaspadaan kalau tidak sengaja memilih hidup dalam mode pikiran sadar (conscious).

Pikiran sadar melibatkan semua hal yang saat ini kita sadari dan pikirkan. Harusnya kesadaran kita tentang diri dan dunia di sekitar sudah menjaid bagian dari kesadaran kita. Sayangnya hidup dengan mode conscious penuh tidak terlalu mudah.

Itulah kenapa para peneliti lebih sering berkata kalau kita hanya mengakses pikiran sadar 5% dan mengakses pikiran bawah sadar 95%. Mereka juga berkata pikiran sadar mirip dengan memori jangka pendek dan terbatas dalam hal kapasitas. Padahal kewaskitaan terletak dalam mode ini.

Karena saat manusia hidup dalam pikiran bawah sadar yang 95% maka sebenarnya manusia itu tidak mengendalikan apa-apa. Karena yang mengendalikan dirinya adalah program bawaan yang mungkin saja bukan program otentik dirinya. Bisa jadi itu program dari lingkungan dan pengalaman-pengalaman yang bukan fitrah utama dirinya.

 

.

 

Jadi singkatnya untuk mengendalikan seseorang harus waspada. Kewaspadaan hanya aktif dalam mode sadar. Sementara untuk merubah dari mode pikiran bawah sadar menuju pikiran sadar, seseorang harus melakukan hal ketiga dengan netral.

.

 

KETIGA : GUNAKAN AKAL UNTUK BER-AKAL

.

Sahabatku… Apakah kita ber-akal? Kalau kami lanjut membahas ini, pastinya akan seru. Namun agak melebar. Jadi akan kami bahas jawaban ini pada kesempatan lainnya. Secara saintifik sendiri kenapa menggunakan akal untuk ber-akal bisa membuat waskita adalah seperti ini.

.

Akal yang kami maksud disini adalah fungsi dari kehadiran pikiran. Kita memiliki aliran pikiran tapi belum tentu kita memiliki akal yang berfungsi disitu. Akal adalah kecerdasan yang hadir didalam pikiran. Nah, sayangnya manusia lebih mudah kehilangan akal dibanding kehilangan pikiran.

.

Kita tidak perlu jauh-jauh menyebut kata gila untuk menyimpulkan kehilangan akal. Karena kehilangan akal pada level yang sederhana itu bukan gila, melainkan tidak menggunakan atau menfungsikan akal itu sendiri untuk membangun kesadaran diri untuk waskita.

.

Ingat! Menggunakan akal berbeda hal dengan menggunakan pikiran. Akal kita berpikir, tapi pikiran tidak berpikir. Pikiran adalah informasi energetic yang tertangkap oleh kesadaran. Sementara akal adalah milik kesadaran itu.

.

Itulah kenapa meski kita banyak pikiran kita tetap tidak pernah setingkat lebih cerdas dari semua pikiran itu, sampai akhirnya kita mau menggunakan akal untuk memikirkan semuanya.

.

Salah satu tanda kalau akal yang berpikir, maka kita tidak akan memikirkan semuanya. Karena akal kita tahu persis bagaimana memilah pikiran. Akal kita tahu pikiran mana yang harus difokuskan dan mana yang tidak. Akal tahu persis kalau ini adalah pikiran sampah yang tidak perlu diberpikirkan, sementara yang ini dan itu adalah hidayah, solusi, ide, awal perubahan, dan perlu di berpikirkan.

.

Tidak hanya mampu memberpikirkan aliran pikiran, akal juga tahu dengan sangat cerdas bagaimana caranya memberlakukan aliran pikiran yang berharga itu. Disinilah kewaspadaan aktif untuk membentuk pengendalian dimulai.

.

Kalau Anda sampai membaca sampai paragraph ini, maka bergembiralah. Kita telah belajar mengenal diri. Kita telah berhasil menjadi sadar dengan memikirkan pelajaran. Dan karenanya kita mengaktifkan kewaspadaan untuk mulai mau bergerak sesuai fitrahNYA.

.

Bagian sakralnya, kita menjadi tahu kalau kebaikan butuh pengendalian agar menjadi seimbang. Seimbang itu bukan berarti baik, bukan juga berarti buruk. Seimbang itu seperti sepotong sama yang diletakan dalam waktu yang sama.

.

Dari sini semoga kita bisa melihat kalau kebaikanNYA itu selalu berwujud netral. Jadi memang kita harus mengendalikannya juga secara netral.

.

Pengendali diri yang netral adalah diri yang bergerak sesuai fitrahnya Sang Pembentuk. Resapilah dengan netral sahabatku… Karena ini sungguhlah pelajaran seumur hidup yang mempesona.

.

Salam Semesta

Copyright 2021 © www.pesansemesta.com

 

 


  • 0
  • Oktober 26, 2021
admin16 admin16 Author

RAHASIA PENTING KENAPA AFIRMASI TIDAK PERNAH BERHASIL?

 


Seorang sahabat bertanya “Kenapa kalimat afirmasi yang saya ucapkan tidak pernah berhasil? Padahal kalimatnya sudah sesuai, dan diucapkan pada waktu yang sesuai” Melalui izinNYA kami menjawab.

Banyak praktisi spiritual yang mengajarkan tentang kekuatan afirmasi untuk membentuk energi baru dan merubah keadaan. Sayangnya mereka tidak gamblang berkata kalau :

Sebagus apapun kalimat afirmasi atau sesering apapun kalimat afirmasi diucapkan. Afirmasi tidak memiliki kekuatan super kompleks untuk mewujudkan energi yang Anda inginkan. Kecuali Anda mau melakukan dua hal ini secara berbarengan.

Lalu apa yang harus kita lakukan agar afirmasi berhasil?

HAL PERTAMA : MEMBENTUK EMOSI YANG SESUAI

Jadi begini sahabatku…

Afirmasi sering dikaitkan dengan membentuk energi melalui pengucapan kalimat positif yang diucapkan. Apapun kalimatnya. Setiap kalimat itu mengandung unsur getaran energi. Baik diucapkan, tidak diucapkan, atau pun hanya ditulis diatas kertas seperti yang sedang Anda baca sekarang, tetap saja unsur getaran energinya akan selalu ada.

Energetic field itu nyata dan bukan sebuah kerangka teoritis yang menyeliputi atom. Penemuan ilmiah fisika kuantum membuktikan bahwa medan energi itu memanglah ada. Medan itu mengandung segalanya dan menghubungkan segala sesuatu dengan yang lainnya.

Contohnya manusia. Manusia adalah energi, apapun yang dihasilkannya adalah energi yang bergetar dan terhubung dalam frekuensi yang selalu membentuk. Baik dalam wujud energi yang terbentuk dalam bentuk fisik (materi) ataupun terbentuk non fisik, salah satunya seperti emosi.

“Emosi adalah getaran energi yang kadang tidak terwaspadai”

Sudah menjadi hukum energi, kalau setiap getaran energi akan menarik frekunsi yang sama. Semakin kuat getaran energi, maka akan semakin kuat frekuensi yang ditarik. Lalu semakin kuat pula energi terbentuk.

Hanya saja dari mana sebuah kalimat memiliki unsur getaran energi BUKAN dari kalimatnya. Melainkan dari bagaimana kalimat itu ditulis atau diucapkan. Dengan kata lain kesadaran seseorang yang menulis atau mengucapkannya lah yang terpenting.

Saat kita berbicara tentang kesadaran, maka kita akan berbicara tentang totalitas keberadaan diri kita saat ini. Kesadaran itu bukan drama yang penuh manipulasi.

Kesadaran adalah kejujuran yang kita hasilkan dari jiwa raga yang kita operasikan saat ini. Rahasianya: Emosi membentuk energi kesadaran. Apapun yang kita ucapkan sebagai afirmasi tidak akan membentuk energi-energi apa-apa. Tetapi kesadaranlah, termasuk didalamnya emosi kita lah yang membentuk energinya.

Pertanyaannya: Seperti apa itu emosi kita saat mengucapkan afirmasi? ---- DISINILAH KUNCI KEBERHASILANNYA BERADA!

Kebanyakan kita mengucapkan afirmasi dalam kondisi emosi tidak memiliki. Masuk akal memang; kita tidak memiliki kebahagiaan. Maka itu kita menginginkan kebahagiaan, bukan begitu?  Lagi pula, kalaulah kita memiliki kebahagiaan atau apapun itu tentu kita tidak akan menginginkannya.

Betul sahabatku! Tidak ada yang salah dengan keinginan. Namun kalau kita ingin membentuk energi, maka hal utama yang harus kita hindari adalah KEINGINAN. Anda boleh membaca tulisan kami yang sebelumnya karena ini sangat berhubungan.

Disini kami akan mengulang saja kalau energi kebahagian terbentuk dari emosi kebahagian, dan bukan dari ‘keinginan’ untuk bahagia.

Saat seseorang ingin kebahagiaan, maka seseorang itu sadar kalau dirinya tidak memiliki kebahagian. Emosi tidak memiliki kebahagiaan pun terbentuk ke dalam sebuah energi.

Sementara sudah menjadi keniscayaan kalau energi bergetar menarik frekuensi yang sesuai dengan frekuensi yang dipancarkan. Karena frekuensi yang Anda pancarkan adalah frekuensi tidak bahagia, maka itulah yang Anda tarik. Dan ini berlaku untuk energi-energi lainnya.

Disinilah pentingnya meletakan emosi yang tepat dalam afirmasi. Kalau Anda meletakan emosi tidak berbahagia, maka afirmasi apapun TIDAK AKAN PERNAH bisa membentuk energi yang Anda inginkan. 

Apapun isi dan tujuan afirmasi Anda, maka afirmasi itu tidak akan pernah terwujud kalau masih menjadi keinginan.

Itulah kenapa, saat seseorang sedang merasa sengsara, tidak bersyukur, sedih, depresi, tertekan lalu mengucapkan afirmasi “Saya bahagia” maka afirmasi itu justru bukan berbalik otomatis sebagai rasa kebahagiaan. Justru perasaan bersalah kalau dirinya memang sedang tidak berbahagia, dan sangat ingin berbahagia.

Frekuensi hanya menarik frekuensi yang sama.  Sementara kesadaran manusia adalah energi getarannya, dan emosi membentuk energi kesadaran.

Sekarang Anda paham bukan, kalau meletakkan emosi yang tepat dalam afirmasi, satu juta kali lebih penting dari afirmasi itu sendiri. Ini adalah bukti kalau semesta tidak pernah tuli – semesta hanya mendengar sebelum terdengar.

Tapi perhatikanlah sahabatku… Bukankah ada aksi yang harus kita lakukan disini? Iya, aksi itu adalah mengendalikan. Dan inilah hal kedua yang harus kita lakukan agar afirmasi berhasil.

HAL KEDUA : MENGENDALIKAN DIRI

Mampukah kita mengendalikan kesadaran diri membentuk emosi kecukupan untuk membentuk kecukupan? Mampukah kita mengendalikan kesadaran diri membentuk emosi kedamaian untuk membentuk kedamaian? Mampukah kita mengendalilan kesadaran diri membentuk emosi kebahagian untuk membentuk kebahagiaan?

Kita boleh mengucapkan afirmasi untuk mewujudkan keinginan, tidak ada yang salah dengan ini.

Hanya saja, bagian paling salahnya adalah, saat kita hanya membiarkan kesadaran berlari tanpa pengendalian. Karena saat seseorang mengendalikan, maka seseorang akan paham sebab akibat dari segala tindakannya. Akhirnya bukan hanya ucapannya saja yang penuh afirmasi. Melainkan seluruh tindakannya selaras dengan afirmasinya. Kesadarannya pun menjadi kompak dan selaras.

Contoh sederhana mereka yang paham sebab akibat tidak berharap menjadi pintar. Melainkan mereka hanya fokus belajar untuk menjadi pintar. Betul pintar menjadi keinginan mereka. Tetapi mereka mengendalikan diri untuk tidak hanya fokus pada keinginannya, melainkan juga pada sebabnya.

Masalahnya seseorang yang selalu membiarkan diri didikte oleh keinginan tanpa pengendalian justru cenderung melakukan yang sebaliknya. Mereka cenderung fokus pada keinginan agar cepat terpenuhi tetapi menutup akal untuk menganalisa sebabnya.  

Padahal apabila afirmasi dilakukan berbarengan dengan pengendalian, maka segala keinginan tidaklah menjadi hal yang mustahil. Jadi sahabatku cobalah belajar untuk menjadi pengendali yang mengendalikan keinginan dan bukan sebaliknya.

Akhir kata sahabatku…

Sekali lagi, Kalimat afirmasi tidak memiliki kekuatan super kompleks untuk mewujudkan apapun. Energi yang kita bentuklah yang mampu mewujudkannya. Energi tidak dibentuk dengan kalimat, melainkan dengan kesadaran.

Ini tidak rumit sahabatku… Ini hanya sebuah tanda bagi akal untuk paham kalau dirinya adalah gerbang Sang Pembentuk. Renungkanlah…

 

Salam Semesta

Copyright © www.PesanSemesta.com

  • 0
  • Oktober 18, 2021
admin16 admin16 Author

OFFICIAL CHANNEL



FREE E-BOOK

3# FREE DOWNLOAD E-BOOK - MENJADI AIR

DATABASE

COPYRIGHT

Seluruh artikel didalam website ini ditulis orisinil oleh tim penulis Pesan Semesta. Artikel yang kami share melalui website ini bukan hasil jiplakan, kutipan atau terjemahan.

Bagi pembaca yang ingin menghubungi penulis silahkan mengrim pesan melalui email : pesansemesta@yahoo.com


SALAM SEMESTA