6 Pekerjaan Tuhan yang Masih Dikerjakan Manusia




Mari kita berbicara sebentar tentang manusia yang masih melakukan pekerjaanNYA. Semoga jangan sampai lagi ada salah satu dari pekerjaanNYA ini yang kita lakukan lagi.


1# Menilai ketakwaan

Sahabatku… Betapa sering kita menggantikan posisiNYA dengan masih menilai-nilai taraf keimanan seseorang. Oh dia lebih beriman karena memakai baju ini, oh dia lebih beriman karena sering terlihat melakukan ibadah, oh dia lebih beriman karena lebih sering sedekah. Lalu saat kita melihat manusia yang melakukan sebaliknya, kita beranggapan bahwa dia kurang atau bahkan tidak beriman.

Sahabatku… Bukankah hanya DIA yang mampu menilai ketakwaan seseorang? Lalu kenapa masih menilai seseorang hanya dari segala kesan luar mereka, padahal kita tahu persis hanya DIA SANG MAHA PENILAI.

Sahabatku… Mereka yang kita nilai adalah sama makhluk sebagaimana kita yang menilai. Dan kita adalah makhluk biasa, yang bahkan belumlah mengetahui tingkat ketakwaan dirinya. Sadarilah diri untuk lebih mengutamakan berkaca diri.


2# Menjadi Maha Mengetahui

Bukankah ini sering sekali kita lakukan? Menjadi SANG MAHA MENGETAHUI. Saat berdoa kita berbicara seakan mengetahui betul apa yang kita butuhkan. Terus-terusan kita mendikteNYA. Padahal seyogyanya tak perlu kita melakukannya, apabila kita sudah percaya kalau hanya DIA-lah SANG MAHA MENGETAHUI. Jadi, akan sangat malu kalau kita masih mendikteNYA.

Sahabatku… Belumlah tentu benar dan tepat hal yang kita ketahui, karena itu serahkanlah pengetahuan kita kepadaNYA tanpa perlu mendikte-dikte. Sungguh DIA sudah mengetahui bahkan sebelum dikte-an itu terucap atau pun terlintas.


3# Menghitung dosa dan pahala

“Kalau kamu melakukan itu maka kamu dosa!” atau “Kalau kamu melakukan ini maka ini akan jadi ladang pahala!”.

Sahabatku… Sedari kecil mungkin sebagian kita selalu diberi doktrin tentang dosa dan pahala tanpa siberi pemahaman apa-apa tentang kebenaranya. Akhirnya masalah muncul, karena sudah kita tidak tahu apa-apa tentang kebenaranannya, tapi sekarang malah kita menunjuk-nunjuk itu dosa dan itu pahala.

Baiklah sahabatku… Pemahaman tentang esensi dosa dan pahala serta kebenarannya memang akan menjadi pembahasan panjang. Tapi yang akan kita bahas disini adalah aksi manusia yang masih terus menerus menunjuk itu dosa dan itu pahala, tanpa memiliki pemahaman dan kebenaran apa-apa tentangnya.

Mulai sekarang alangkah baiknya misteri dosa dan pahala kita serahkan kepadaNYA sampai pemahaman dan kebenaran tentangnya (dosa dan pahala) datang kepada kita.


4# Menerima Pujian

Senang dipuji memang adalah sebuah keniscayaan. Tidak ada manusia yang tidak suka dipuji. Hanya saja, pujian selalu menggiring kita menuju gerbang kesombongan. Dan saat manusia berada didepan gerbang kesombongan, maka dia punya dua pilihan yang bisa dipilih secara sadar, yaitu menjadi sombong atau tidak menjadi sombong.

Kebanyakan kita memang akan kelepasan dan akhirnya menjadi sombong. Merasa memiliki, merasa melakukan, merasa berjasa, merasa lelah, merasa bekerja keras, merasa pantas dan lain sebagainya. Sebenarnya semua rasa-rasa ini adalah keniscayaan yang wajar sekali dirasakan oleh manusia. Namun apabila tidak terkontrol maka akan memunculkan keburukan sifat sombong.

Apa itu keburukan sifat sombong? Yaitu lupa kepada SANG PENGHIDUP, lupa kepada SANG PENGGERAK yang karena SANG PENGHIDUP lah semua yang kita lakukan menjadi bisa kita lakukan.

Sahabatku… Porsi manusia sangat sedikit sekali untuk pantas menerima pujian. Hanya kepada DIA SANG MAHA segala pujian itu pantas disematkan. Bahkan SANG PENGHIDUP pun tidak butuh apapun yang disebut pujian.


5# Menjanjikan Hasil Akhir

Sahabatku… Apakah DIA menjanjikan hasil akhir hidup Anda? TIDAK, bahkan DIA SANG MAHA PENGATUR SEGALANYA pun tidak menjanjikan hasil akhir Anda, padahal DIA MENGETAHUI. Lalu kenapa sebagian manusia masih melakukannya. “Apabila saya terpilih maka saya akan ….”, “Apabila kalian belajar di bimbel ini maka kalian akan lulus dan pintar semua”, “Apabila Anda minum obat ini maka penyakit Anda akan sembuh”, “Apabila Anda berinvestasi di bisnis ini maka Anda akan untung 100%”

Sahabatku… Kemungkinan bisa terjadi lain apabila DIA menghendaki hal yang lain terjadi. Baiknya kita hanya memberikan bukti nyata dari hasil aksi-aksi kita, bukan bait-bait janji akhir.


6# Menilai isi hati manusia

Betul memang kita bisa membaca manusia lain melalui energi, sikap dan gerak-geriknya. Namun bukan berarti kita pantas menilai isi hati manusia itu. Kembali lagi hanya kepada DIA lah segala hal yang sedang beroperasi didalam hati manusia.

Sahabatku… Kita hanya berhak membuat pilihan dari apa yang kita baca dari manusia, tapi jangan pernah menilai tentang isi hati. DIA lah SANG MAHA PEMBOLAK-BALIK hati manusia. Percayakanlah pekerjaan ini kepadaNYA.


Akhir kata sahabatku… Porsi hidup manusia dalam hidup ini sudah sangat kompleks tanpa perlu kita malakukan pekerjaanNYA. Adalah sebuah penghormatan kita kepadaNYA untuk menjaga sikap dan aksi kita pada tempat yang seharusnya. Jangan sampai kita menTuhankan diri kita sendiri.


Salam Semesta

Copyright © www.PesanSemesta.com

Lebih baru Lebih lama