Pesan Semesta.
melampaui batas menjadi satu

MEMBANGUN MINDSET SUMBER REZEKI AGAR TIDAK PERNAH MERASA MISKIN





Seorang sahabat bertanya; Apa ada cara untuk meluaskan rezeki, selain dengan syukur?
.
Jadi begini, selama ini kita menanam mindset kalau rezeki adalah hasil. Akhirnya kita beranggapan kalau kekayaan, anak yang saleh, kemakmuran, kesehatan dan lain sebagainya adalah rezeki.
.
Ini wajar, karena sekali lagi, kita diajarkan kalau rezeki adalah hasil yang kita terima. Kita tidak pernah ditanamkan mindset kalau kita adalah rezeki itu sendiri.
.
Akibat dari mindset yang terus-menerus diajarkan ini, kita jadi bergerak untuk menjadi penerima rezeki dan bukan untuk menjadi sumber rezeki itu sendiri.
.
Akhirnya diri menjadi terbatas, sehingga urusan hidup menjadi sangat sulit. Seperti terikat dalam kekurangan, jangankan untuk bersyukur, untuk merasa cukup saja masih sulit. Itu karena diri kita masih terus saja berpikir, kalau rezeki itu ada diluar diri, bukan didalam diri.
.
Padahal Dzat Maha sudah menjadikan kita sebagai sumber rezeki itu sendiri. Sementara hasil dari apa yang kita bentuk, semuanya sudah diatur sesuai dengan syukur yang kita lakukan.
.
Jadi sahabatku… Selain rezeki yang sengaja dikonsepkan tidak sesuai. Selama ini kita juga dikonsepkan kalau syukur hanyalah sekedar ucapan terimakasih, yang sebenarnya tidak terlalu tepat.
.
Secara harfiah memang syukur diartikan sebagai Terima Kasih. Hanya saja yukur itu aplikatif. Harus diaplikasikan dengan tidakan, dan itu bukan dengan cara diucapkan, melainkan dengan cara dilakukan.
.
Pegang rahasia besar ini; Apabila kita mampu melakukan syukur dengan benar, maka segala rezeki akan mendapatkan hasil yang sesuai dengan kebutuhan.
.
Dengan syukur yang dilakukan dengan benar kita akan mampu me-manage seluruh sumber rezeki yang kita miliki untuk kemakmuran diri dan yang diluar diri.
.
Begitulah adanya sahabatku… Syukur itu memang sangat besar maknanya! Tetapi faktanya sekarang, syukur malah di jadikan ajang untuk menerima rezeki. Seakan-akan Dzat Maha bisa dirayu dengan kata “Terima kasih”.
.
Pertanyaannya: Apakah iya demikian? Dzat Maha Sang Pemiliki kemahaan jelas tidak membutuhkan syukur apapun dari makhluknya. Karena kalau iya, maka gugurlah sifat ke-mahaannya.
.
Semesta sendiri adalah kenetralan yang bergerak tanpa membutuhkan kata terimakasih. Cek sendiri jasad kita, apakah jantung dan organ-organ itu membutuhkan ucapan terimakasih? Apakah planet Bumi yang menaungi kita membutuhkan ucapan terimakasih? Apakah Oksigen yang sedang kita gunakan membutuhkan terimakasih?
.
Sudah menjadi keniscayaan kalau semesta dan segala isinya tidak membutuhkan ucapan terimakasih. Namun jelas mereka bersyukur dengan sebenar-benarnya. Salah satu bukti syukur mereka adalah, mereka semua melaksanakan tugas mereka dengan sebaik-baiknya hanya sebagai rahmat bagi semesta alam.
.
Sahabatku… Berbahagialah kita, dari pertanyaan yang hadiri ini, semesta mengingatkan diri kita lagi. Kalau kita adalah sumber rezeki, sementara syukur adalah aplikasi harmonis untuk memanage rezeki yang kita miliki, agar seluruh rezeki ini mampu memakmurkan diri dan luar diri. Sehingga rezeki yang kita miliki ini bisa menjadi rahmatNYA yang tersebar.
.
Sebuah urgensi memang untuk segera membenahi mindset kita tentang rezeki dan meluruskan cara kita dalam bersyukur. Agar kita tidak terus-terusan merasa miskin dan tidak memiliki rezeki. Karena kita bukan sekedari memiliki, tetapi kita adalah sumber rezeki itu sendiri.
.
Mungkin ada sahabat yang bertanya sumber rezeki apa yang kita miliki?
.
Sahabatku… Bukankah kita memiliki tubuh yang bergerak, akal yang bisa berpikir, energy yang terus menghidupi, dan bukankah kita juga memiliki kesempatan untuk menggunakan semuanya itu? Lalu apa yang kurang dari itu semua? Cukuplah itu menjadi alasan besar yang menjadikan kita sebagai sumber rezeki.
.
Sebenarnya kalau saat ini kita merasa sangat miskin. Maka itu bukan karena kita tidak memiliki rezeki. Melainkan karena kita memiliki sumber rezeki tapi kita tidak mampu mensyukurinya agar menjadi kemakmuran.
.
Rezeki selalu menghasilkan kemakmuran. Jadi sudah seharusnya kita menghasilkan kemakmuran bagi diri terlebih dahulu, lalu bagi luar diri.
.
Jadi jangan khawatir, semua cara adalah rezeki. Baik atau buruk semuanya hanyalah pilihan. Berhasil atau tidak berhasil adalah pilihan. Banyak atau sedikit juga adalah pilihan. Tidak ada yang menentukan hasil seseorang kecuali pilihannya sendiri. Sementara berhati-hati dengan pilihan adalah syukur itu sendiri.
.
Dalam syukur itu ada kenetralan yang dibalut dengan kewaspadaan akal yang paham dengan hasil yang ingin dibentuknya. Jadi sekarang tinggal kita bersyukur dengan segala rezeki yang kita miliki. Caranya?
.
Aplikasinya syukur sebenarnya sangat sederhana, mohon jangan dibuat rumit. Caranya yaitu dengan ber-Terima dan Kasih. Terimalah dan berilah kembali apa yang diterima.
.
Kalau saat ini kita diberi tubuh yang sehat, akal yang berpikir, energy yang menghidupi… lalu apa yang akan kita berikan dengan itu semua? Minimal – pikirkan dahulu apa yang akan kita berikan kepada diri kita sendiri dahulu?
.
Jadi sahabatku… Kami yakin Anda sudaH paham kalau tidak ada lagi rezeki yang luas sekarang. Karena, kalau kita ingin menghasilkan “luas” maka kita akan membentuk luas dengan rezeki yang kita miliki. Luas itu hanya akan menjadi hasil dari rezeki yang terwaspadai dalam syukur.
.
Sebuah tahapan mungkin baru dimulai. Dengan perlahan-lahan dan lembut kita akan memperbaiki mindset yang tertanam keliru. Sampai akhirnya kita berhasil paham kalau kita memegang kekayaan semesta.
.
Manusia adalah rezeki itu sendiri. Syukur yang kita lakukan akan merubah seluruh rezeki yang kita miliki ini untuk kemakmuran diri dan semesta. Beginilah mindset sumber rezeki yang seharusnya.
.
.
Salam semesta

Copyright 2021 © www.pesansemesta.com

https://www.youtube.com/c/pesansemesta
  • 0
  • Mei 31, 2021
admin16 admin16 Author

Belajar Dalam Kesunyian

Sahabatku... Kesunyian hanyalah jalan yang akan membawa diri kepada kebisingan yang sesungguhnya.
Saat telinga sengaja dibiarkan tidak mendengar. Maka kebisingan semesta mulai mengeluarkan babak pelajarannya. 
Lalu akal pun akan mulai bergerak keluar dari zona nyamannya untuk mendengar bisingnya pelajaran. 
Jadi sahabatku... 

Cobalah berhenti dalam titik kesunyian untuk menjadi pelajar sejati. 
Terlalu banyak proses yang bertahap untuk menemukan titik yang sunyi itu memang. 
Bersabarlah dalam menemukan perhentian. Bagaimanapun juga, seorang pelajar memang butuh kesabaran, karena pelajar harus terus belajar. 
Anggap saja kesabaran itu sebagai timbal balik yang manis.
Salam semesta

#PesanSemesta
@pesansemesta.ig
  • 0
  • Mei 24, 2021
admin16 admin16 Author

2 TIPS SEDERHANA AGAR TETAP BISA DAMAI, MESKI HIDUP DALAM DOKTRIN/DOGMA YANG TIDAK LAGI DITERIMA KESADARAN


 

Seorang sahabat bertanya “Bagaimana cara atau tips sederhana agar kita mampu memposisikan diri diantara lingkungan yang kental dengan dogma dan doktrin keagamaan, juga tradisi yang selama ini diajarkan turun temurun?”

Sahabatku… Dalam hidupnya, setiap kesadaran akan belajar dan akan berkembang sesuai arahan semesta. Saat kesadaran mulai merangkak untuk membuka mata, maka diri akan mulai belajar. Dari hasil pelajaran itu mulai terlihatlah, kalau apa yang terpahami selama ini tidak pernah sama dengan apa yang selama ini diajarkan untuk benar. Akibatnya diri pun mulai bimbang untuk bersikap.

Sebuah pengalaman telah mengajarkan kalau ini merupakan kebimbangan yang memang tidaklah nyaman. Namun semesta mengajari kalau hidup merupakan hasil dari pilihan yang terpilih. Rasa hanyalah proses yang harus terlewati dari hasil sebuah pilihan.

Jadi apa yang harus kita lakukan hanyalah bersikap bijak untuk belajar berdamai dengan rasanya. Sambil mengizinkan kesadaran terus menerima porsi pelajarannya.

Terimakasih untuk pertanyaan yang hadir dari jiwa yang jujur bertanya. Melalui pertanyaan, semesta memberi jawaban yang indah untuk kita pelajari bersama. Sebuah penguat yang mengamankan kesadaran yang sedang belajar. Dan sebuah pendamai bagi jiwa yang sedang terbimbangi dalam pelajaran yang semakin menguat.

Mari kita pelajari dua tips sederhana berikut:

TIPS PERTAMA : INGATLAH KALAU SEMUANYA TIDAK HARUS SAMA

Sahabatku… Dari kecil kita diajarkan untuk berkelompok dan memilih kelompak. Sehingga tertanam di mindset kita kalau perbedaan adalah jarak pemisah. Akhirnya kita lupa kalau semesta ini terbentuk dari kepingan-kepingan perbedaan yang bermanunggal menjadi harmonis.

Jangan jauh-jauh, tengoklah jasad kita sendiri. Jasad kita adalah kekompakan organ-organ berbeda yang beroperasi dengan tujuan utama yang sama, yaitu untuk menunjang kehidupan kita.

Namun meski setiap manusia memiliki sistem operasi jasad yang sama, tetap saja mereka dibuatkan identitas yang berbeda. Sidik jari yang berbeda dan bahkan otak yang berbeda.

Sebuah penelitian menunjukkan kalau tidak ada dua orang yang memiliki anatomi otak yang sama. Dimana keunikan ini merupakan hasil kombinasi faktor genetik dan pengalaman hidup individu.

Dengan perbedaan yang akan terus kita bawa ini saja kita seharusnya sadar, kalau hal yang sama juga terjadi dengan kesadaran kita.

Tidak ada yang sama. Setiap kita memiliki tingkat kesadaran yang tumbuh dari pelajaran hidup kita masing-masing. Dan sama sekali tidak ada nilai yang lebih baik dari setiap kesadaran itu. Karena pada wujud yang senetral-netralnya, seluruh kesadaran terbentuk oleh SATU yang sama.

Jadi, sebagai seseorang yang sudah mulai tumbuh dengan kesadaran baru. Cobalah lebih memaklumi perbedaan dogma/doktrin yang ada. Merendahlah dalam tingkatan kesadaran yang telah terbentuk, dan cobalah menjadi contoh yang baik. Jadilah diri yang bisa menjadi contoh rahmatNYA bagi semesta alam.

Sahabatku… Tidak perlu memikirkan perbedaan dogma/doktrin yang ada, karena semuanya tidak harus sama. Izinkan diri mereka berkembang melewati pelajaran mereka, sementara diri kita terus berkembang melewati pelajaran kita.

Hargai pelajaran mereka, santunlah dan ingatlah semuanya tidak harus sama. Sang Pendamping selalu menghargai perbedaan apapun, dan terus memberi peluang yang sama adil bagi seluruh apa yang didampingiNYA. Jadi tidak apa kalau semuanya berbeda. Semuanya akan didampingiNYA dengan manis sesuai dengan porsi yang sengaja kita bentuk.

 

TIPS KEDUA : INGATLAH KALAU SEMUANYA BERAWAL DARI DALAM DIRI

Sahabatku… Biasanya seseorang yang menakuti perbedaan, adalah mereka yang masih takut terpengaruhi. Saat diri masih takut terpengaruhi oleh penilaian yang diluar diri. Maka caranya bukan menghindari tapi membentuk.

Bentuklah diri yang tidak lagi tersiksa dengan perbedaan. Saat diri sudah nyaman dengan perbedaan, maka perbedaan itu pun akan menghilang dengan sendirinya. Kita pun akan lebih menjadi nyaman, dan mampu membentuk energi yang harmonis ditengah perbedaan agama atau tradisi apapun.

Bagaimana caranya? Caranya adalah dengan melangkah apa adanya kedalam diri. Jangan menilai yang diluar diri. Tapi HANYA jadikan diri sebagai fokus yang utama.

Aplikasinya sederhana; Misalnya dengan membiasakan diri untuk tidak mengkafirkan orang lain, membiasakan diri untuk tidak menilai ibadah orang lain, membiasakan diri untuk tidak menilai kebaikan atau keburukan orang lain, membiasakan diri untuk tidak menilai keilmuan orang lain, membiasakan diri untuk menilai penampilan orang lain.

Jadi, saat diri sudah mulai menilai orang lain/kelompok/agama/tradisi orang lain, langsunglah masuk kedalam diri sendiri, rasakanlah diri sendiri dan mulailah mengendalikan diri sendiri untuk membentuk diri yang terbaiknya.

Tentunya tips yang kedua ini perlu dipraktekan dalam proses yang mungkin akan berlangsung seumur hidup. Seumur hidup kita akan melihat perbedaan, lalu mengendalikan diri untuk memakluminya.

Pada proses seumur hidup ini, cobalah untuk membawa ketulusan. Dimana kita mencoba tulus memaklumi karena apapun perbedaan yang terlihat bersumber dari sumber yang sama, yaitu Dzat Maha Pembentuk Perbedaan.

Dimana perbedaan yang ada ini hanyalah gerbang kita mengenal bentukanNYA. Lalu secara tulus kita menyaksikan bentukanNYA itu tanpa penilaian apapun selain hanya kenetralan yang tersisa dari tiap penyaksian. Ujungnya memang hanyalah harmonisasi yang damai.

Jangan khawatir, proses itu tidak memerlukan waktu, melainkan terbentuk dalam waktu itu sendiri. Jangan heran dengan tulisan ini, lakukan saja yang terbaik, suatu hari diri akan paham kalau apapun perbedaan semuanya hanya bersumber untuk menyaksikan yang seharusnya tersaksikan.

Agama itu dahulu dibentuk manusia agar manusia mampu bersaksi, sehingga mampu mengimani yang tersaksikan. Karena kalau sudah tersaksikan secara sempurna lahir batin, maka barulah seseorang mampu masuk kedalam gerbang keimanan. Saat keimanan mulai terbentuk maka barulah rasa SATU itu bisa terpahami.

Gerbang keimanan itu akan mendekat kalau kita mulai berdamai dengan perbedaan apapun. Pahami saja kalau seluruh perbedaan itu hanya ada berkat Sang Satu.

Akhir kata sahabatku… Tidak ada satupun yang akan terpecah belah dariNYA. Genggamlah dirimu sendiri untuk menemukanNYA didalam dirimu. Doktrin/dogma apapun hanyalah pemanis jalan yang tidak perlu dikhawatirkan, hanya cukup dihormati saja.

 

Salam Semesta

Copyright 2020 © www.pesansemesta.com

  • 0
  • Mei 02, 2021
admin16 admin16 Author

OFFICIAL CHANNEL



FREE E-BOOK

3# FREE DOWNLOAD E-BOOK - MENJADI AIR

DATABASE

COPYRIGHT

Seluruh artikel didalam website ini ditulis orisinil oleh tim penulis Pesan Semesta. Artikel yang kami share melalui website ini bukan hasil jiplakan, kutipan atau terjemahan.

Bagi pembaca yang ingin menghubungi penulis silahkan mengrim pesan melalui email : pesansemesta@yahoo.com


SALAM SEMESTA