Nikmat mana lagi yang akan kita ingkari…?









Seorang anak kecil pulang dengan kaki terseok-seok dan mulut mungil penuh keluhan. Ibunya tersenyum mendengar keluhan sang anak lalu berkata “Nak… seorang pemain bola yang sudah berlatih pun bisa jatuh. Apalagi kamu yang belum pernah berlatih. Kita jatuh karena kita harus tahu rasanya jatuh itu seperti apa. Supaya pas kamu bangun lagi, kamu bisa tetap bertahan untuk tidak jatuh lagi. Kalaupun kamu jatuh lagi kamu sudah tahu rasanya, dan kamu juga sudah tahu kalau kamu pasti akan bangun lagi.” Anaknya balas dengan bertanya polos“Kalau tidak bisa bangun lagi gimanan mah?” Masih dengan senyuman ibunya menjawab “Berarti kamu sudah menyerah. Kamu menyerah untuk terus jatuh dan bangun…

Sahabatku… Jatuh dan bangun atau bangun dan jatuh. Bagaimanapun itu, kita memang harus selalu siap dengan siklus kehidupan. Kaya dan bangkrut atau bangkrut dan kaya. Sehat dan sakit atau sakit dan sehat. Cinta dan benci atau benci dan cinta. Apapun siklusnya, yang membuat kita tetap bertahan pada siklus bagian atas hanyalah kesadaran untuk tetap kuat saat berada di siklus bagian bawah.
Seeorang yang kaya dan mampu menyadari diri, kalau dia nanti harus bertahan pada masa miskin. Maka dia akan tetap berbuat banyak aksi untuk mempertahankan kekayaannya agar tidak jatuh miskin.

Seseorang yang diberi jasad sehat dan menyadari diri kalau bisa saja jasadnya sakit. Maka dia akan tetap melakukan banyak aksi untuk mempertahankan kesehatannya.

Seorang pasangan yang menyadari diri bahwa cinta tidak selamanya sempurna. Maka dia akan melakukan banyak aksi untuk mempertahankan cintanya.

Begitu juga sebaliknya dengan mereka yang tidak menyadari diri untuk mempertahankan. Saat dia kaya dia melupakan dirinya bila ditimpa miskin. Saat dia sehat dia melupakan dirinya bila ditimpa sakit. Saat dia mencintai dia melupakan kalau cinta tidak akan selamanya. Akhirnya mereka-mereka yang lupa ini, hanya terlena dalam nikmatNYA tanpa melakukan banyak aksi untuk mempertahankan nikmat yang mereka rasakan.

Sahabatku… Tugas manusia adalah menghargai setiap nikmatNYA, dan salah satu caranya adalah dengan mempertahankan nikmatNYA melalui banyak aksi. Nikmat apa yang diberikan olehNYA kepada Anda saat ini?

Kalau itu adalah sehat, maka pertahankan kesehatan itu. Kalau itu nikmat harmonisasi cinta, maka pertahankan harmonisasi cinta itu. Kalau itu kedamaian, maka pertahankan kedamaian itu. Kalau itu ilmu, maka sebarkanlah ilmu itu. Kalau itu kemakmuran, maka pertahankan dengan memakmurkan.
Terus beraksi dan tidak menyerah dalam mempertahankan nikmatNYA adalah tanda bahwa kita tidak mengingkari dan mensia-siakan nikmatNYA. Coba bayangkan bila Anda memberikan sesuatu ke orang lain, lalu orang lain yang Anda berikan itu sama sekali tidak menjaga pemberian Anda. Apakah kira-kira itu pantas dia lakukan? Pastilah tidak bukan?

Kalau begitu bukankah sudah menjadi keharusan kita sebagai hamba untuk terus mempertahankan anugerah-anugerah nikmatNYA. Sebagai tanda bukti bahwa kita sama sekali tidak mengingkari nikmatNYA dan kita menghargai serta berbahagia atas seluruh nikmat-nikmatNYA dalam hidup ini.
Sahabatku… Dimulai dari mata yang Anda pakai untuk membaca tulisan kecil ini. Jari yang Anda pakai untk menscroll layar hp ini. Akal yang Anda pakai untuk mengerti pembahasan ini. Bukankah itu adalah nikmat-nikmatNYA juga?

Baik, berarti sekarang Anda juga sudah mengamini kalau memang nikmatNYA bukan sesuatu yang diluar Anda saja, tapi seluruh bagian diri Anda adalah nikmatNYA juga. Sahabatku… Renungkanlah! Nikmat mana lagi yang akan kita ingkari…?

Salam Semesta

Copyright © www.PesanSemesta.com

Lebih baru Lebih lama