TIGA METODE SEDERHANA YANG POWERFULL UNTUK MENGENAL DIRI

Mengenal diri adalah perjalanan yang abadi, keabadiaan yang tidak pernah berujung pada kematian. Boleh dibilang mengenal diri adalah tugas manusia yang tidak akan pernah berkesudahan. Hanya saja sekarang kita terjebak dengan satu pertanyaan “BAGAIMANA?”.

Iya, bagaimana caranya kita mulai mengenal diri?

Ketidakmengetahuan kita saat ini karena mengenal diri menjadi topik asing yang sengaja dihindarkan. Selama ini dunia dan segala yang berlangsung di dalamnya, berlangsung untuk terus membuat kita menghindari diri untuk mempertanyakan diri sendiri.

Alasan khusus untuk ini adalah karena semakin manusia mengenal dirinya, maka akan semakin paham dia dengan dirinya sendiri. Dan sudah kodratnya kalau sulit untuk membodohi mereka yang paham. Inilah kenapa kita seakan tidak diberi kesempatan untuk belajar mengenal diri, yaitu agar sekelompok yang paham ini bisa menguasai kebodohan kita guna mengambil keuntungan yang berpihak.

Percayalah, dengan mengenal diri kita tidak akan mendapati hal apa-apa selain manfaat yang teramat banyak. Mengenal diri hanya akan membuat manusia cerdas menggunakan dirinya. Mengenal diri hanya akan membuat manusia bijak dengan apa yang berlangsung di dalam hidupnya. Mengenal diri hanya akan membuat manusia mendekat kepada inti dirinya sendiri (self core).

Pilihan itu masih kita genggam. Tidak pernah ada kata terlambat untuk mengenal diri. Kalau kita masih bingung bagaimana metodenya, maka semoga apa yang kami sampaikan disini berguna. Jujur metode ini sangat sederhana, tanpa biaya, namun sangat powerfull apabila kita mau memaksimalkannya.

 

1# KEMBALILAH MEMPERHATIKAN DAN MENGAMATI

Sahabatku… Masih ingat dahulu sewaktu kita masih kecil, begitu sering kita bertanya ‘kenapa’ dan ‘apa’. Pada waktu itu kita bertanya dengan kepolosan karena kebutuhan kita untuk mengenal apa yang berhasil kita amati dan perhatikan. Dari pertanyaan-pertanyaan polos itulah akhirnya kita mulai menerima jawaban.

Beranjak dewasa, kita semakin sulit untuk bertanya, alasannya bisa macam-macam. Tapi alasan yang paling utama sebenarnya adalah karena kita berhenti memperhatikan dan mengamati. Harusnya semakin beranjak dewas pertanyaan kita menjadi semakin rumit dan kompleks.

Namun nyatanya tidak demikian. Beranjak dewasa itu semua teralihkan, menjaga fokus untuk terus memperhatikan dan mengamati sambil terus menyelesaikan kewajiban lainnya memang butuh seni manajemen yang unik, tapi bukan berarti tidak bisa dilakukan.

Sahabatku… Memperhatikan dan mengamati merupakan metode paling mudah dan hampir 100% gratis untuk mulai kita terapkan sekarang guna kembali mengenal diri. Kalau kita bertanya, apa yang harus kita amati? Maka untuk tahap awal, jawabannya adalah 3.

Pertama: Perhatikan dan amati jasad fisik kita dan segala pergerakan yang berlangsung didalamnya.

Kedua: Perhatikan dan amati bagaimana kesadaran kita bergerak. Dari mulai berpikir, mengambil keputusan, berperasaan, berinteraksi dan segalanya.

Ketiga: Perhatikan dan amati dengan ‘apa’ kemampuan fisik diri kita mampu bekerja dan dengan ‘apa’ kemampuan kesadaran kita bergerak.

Intinya, mulailah dengan diri terlebih dahulu. Dahulu seorang Socrates dalam hidupnya pernah berkata “Manusia hendaknya mengenal diri dengan dirinya sendiri, jangan membahas yang diluar diri, hanya kembalilah kepada diri. Manusia selama ini mencari pengetahuan di luar diri. Kadang – kadang dicarinya pengetahuan itu di dalam bumi, kadang – kadang diatas langit, kadang – kadang di dalam air, kadang – kadang di udara. Alangkah baiknya kalau kita mencari pengetahuan itu pada diri sendiri. Dia memang tidak mengetahui dirinya, maka seharusnya dirinya itulah yang lebih dahulu dipelajarinya, nanti kalau dia telah selesai dari mempelajari dirinya, barulah dia berkisar mempelajari yang lain. Dan dia tidak akan selesai selama – lamanya dari mempelajari dirinya. Karena pada dirinya itu akan didapatnya segala sesuatu, dalam dirinya itu tersimpul alam yang luas ini.”

Sahabatku… Apa yang diucapkan Socrates adalah benar adanya, itu karena manusia adalah miniature semesta. Begitu unik dan menakjubkan diri kita ini. Mengenal diri dapat dilihat dari berbagai perspektif. Dimulai dari mengenal komponen dasar manusia, mengenal akal dan hati, mengenal ego diri, mengenal keterhubungan diri dengan semesta, sampai kepada mengenal pembuat dan pencipta diri – sampai mengenal bahwa tidak ada ketidakterhubungan antara diri dengan semesta, serta dengan pencipta dan pembuatNYA.

Namun kita tidak akan pernah sampai kepada jawaban kecuali kita mau mulai memperhatikan dan mengamati.

 

2# BERSIAPLAH MENERIMA JAWABAN

Sahabatku… Saat kita mulai memperhatikan dan mengamati, maka mau tidak mau pertanyaan akan mulai bermunculan. Jangan terkecoh disini, kebanyakan kita begitu meragu untuk bertanya. Ini wajar, selama ini kita dibiasakan untuk mampu menjawab pertanyaan hanya untuk dinilai dengan benar atau salah.

Akhirnya dialam bawah sadar kita selalu menyimpan keraguan akan sebuah pertanyaan. Kita meragu karena menakuti ketidakhadiran sebuah jawaban. Padahal pertanyaan adalah kunci menuju semesta.

Kami harus mengakui diri dengan segala kerendahan hati, kalau sebuah jawaban selalu hadir lebih awal dibanding pertanyaan. Jawaban hanya sedang menunggu ter-unlock dan pertanyaan kitalah kuncinya.

Pertanyaan adalah kunci jawaban dari segala yang terlupakan untuk ditanyakan. Begitulah memang Dzat Maha Guru selalu hadir lebih awal dibanding muridNYA, senantiasa setia menanti sebuah pertanyaan yang luput untuk ditanyakan.

Namun bergembiralah… Kesadaran kita akan keluputan diri ini hanyalah awal untuk mengawali diri untuk bersiap diri meraih jawaban.

Hal yang harus dijaga disini adalah kenetralan kita saat meraih jawaban itu sendiri. Kebanyakan kita hanya mau menerima jawaban berdasarkan apa yang ingin kita terima. Padahal jawaban kebenaran tidak akan pernah berwujud benar atau salah.

Mengenal diri merupakan sebuah perjalanan untuk menyelami diri sampai mengetahui diri pada hakikat yang sebenarnya. Kebenaran, itulah jalan akhirnya.

Untuk sampai ke jalan akhir ini ibarat berenang di dalam kubangan air suci. Kita harus terlebih dahulu mensucikan diri untuk mampu menyelam ke dasar sumber. Karena ini bukan sekedar informasi yang diterima oleh mata dan akal selama ini. Tapi menyelam jauh ke dalam jasad, lalu menuju jiwa, lalu keluar dari keduanya. Sampai akhirnya kita menyadari kalau diri kita lebih dari sekedar bagian manusia. Kita adalah bagian dari semesta, dimana inti semesta hanyalah diriNYA.

Sekarang, sudah mampukah kita menjadi netral dalam menerima jawaban? Ingat saja dahulu kalau kenetralan tidak pernah berlari menjauhi akal.

 

3# IZINKANLAH akal UNTUK berpikir

Sahabatku… Pemahaman tidak hadir dari sekedar menerima jawaban, namun memperhatikan dan mengamati setiap detail jawaban dengan akal.

Mengenal diri adalah menarik informasi dengan cara mulai memperhatikan dan mengamati, lalu menetralkan diri menerima jawaban, agar jawaban itu mampu diberpikirkan kembali dengan akal. Sehingga akhirnya kita paham lalu menjadi sadar. Kalau sudah sadar, maka kita pun akan berubah sesuai dengan kesadaran yang berhasil kita bentuk itu.

Ambil contoh, kita memperhatikan dan mengamati jantung yang sedang berdegup ini, lalu dari situ muncul pertanyaan sederhana semisal “bagaimana jantung degupannya bisa berubah-ubah?”. Lalu kita berhasil menerima jawaban kalau ternyata degupan jantung adalah harmonisasi jasad dan jiwa. Setiap ketidakharmonisan yang terjadi akan membuat ritme degupannya pun tidak harmonis.

Dari jawaban yang kita terima ini lalu kita mengizinkan akal kita untuk memikirkannya. Sehingga kesadaran kita pun mulai memahami sebab akibatnya, sampai akhirnya kita sadar betul untuk mengharmonisasikan jasad dan jiwa, agar mesin jantung kita ini terus bekerja stabil dan terus prima.

Sahabatku… Ini hanya satu contoh saja, namun dari contoh kecil ini kita bisa paham rahasia besarnya. Andaikan semua manusia tahu bagaimana jantungnya bekerja dan harus bekerja, maka akankah manusia terkena serangan jantung dan perlu pergi ke dokter jantung? Ternyata kita sudah mampu mengambil manfaatnya bukan dari mengenal diri, meskipun itu masih satu contoh kecil saja.

Bayangkan kalau kita terus menggali diri untuk memahami diri ini. Bukankah wujud ke MahaanNYA akan jelas tersaksikan? Pastinya iya. Kami berani menjaminnya.

Akhir kata sahabatku…

Anggap hari ini kita ibarat pengelana yang baru pertama kali menemukan potongan cermin ditengah perjalanan. Melalui cermin kecil itu akhirnya kita belajar untuk mengenal diri kita sendiri. Tentunya kita tetap memiliki pilihan. Kita bisa membuang potongan cermin itu dan terus melaju, atau kita bisa menyimpannya untuk terus kita gunakan untuk lebih mengenal diri yang sebelumnya tidak pernah kita kenal.

Tidaklah potongan cermin itu kecuali adalah kemahaanNYA yang melekat didalam diri ini.  Tersadari atau tidak disadari kita tidak akan pernah mengenal diri ini, kecuali denganNYA kita mengenal diri ini. Sungguh netral diriNYA mendampingi.

Begitulah SANG PEMBUAT tidak pernah mendikte pilihan, DIA hanya memberikan pilihan. Tugas kita lah untuk memilihnya. Pilihlah untuk mengenal diri sahabatku… dan temuilah diri-NYA di tiap inti diri ini.

 

Salam Semesta

Copyright 2020 © www.pesansemesta.com

 


Lebih baru Lebih lama