Pesan Semesta.
melampaui batas menjadi satu

CARA MERUBAH LIMITED BELIEF

 


Menurut hukum kekekalan energi, energi dapat dirubah dari suatu energi menjadi energi lain. Jadi tidak ada yang tidak bisa dirubah dalam hidup ini. Setiap orang memiliki kekuatan untuk memilih keyakinannya. Itulah kenapa keyakinan seseorang bisa berubah dan berkembang menjadi baik. Sahabatku... Mari kita pelajari caranya. Salam Semesta Copyright (C) 2021 Connect to Pesan Semesta

https://www.youtube.com/c/PesanSemesta

  •  
  • 0
  • April 15, 2021
admin16 admin16 Author

UNTUK APA KITA BERPUASA?



Seorang sahabat bertanya “Sebenarnya untuk apa kita berpuasa?” Sungguh pertanyaan yang bagus pada awal bulan yang bagus. Mari kita mempelajari jawaban semesta secara netral, agar kita mampu mengambil pelajaran terindah dariNYA. Melalui anugerahNYA kami menjawab.

Sahabatku… Kami tidak akan menjawab kalau satu-satunya alasan kita berpuasa adalah untuk pahala. Pahala itu merupakan hal gaib yang butuh keikhlasan agar bisa terwujud.

Satu-satunya cara kita menyaksikan pahala adalah dengan menyaksikan kebaikan yang dibawanya. Dari proses penyaksian itulah, kita akan mampu melihat wujud pahala yang sebenarnya. Dan pastinya, kita hanya akan melihatnya dengan diri yang tidak lagi mendikte angka yang terterima.

Jadi Sahabatku… Untuk apa kita berpuasa?

Jawabannya adalah kita berpuasa untuk belajar pengendalian.

Tetapi bukan untuk mengendalikan lapar dan haus. Karena kita tidak berpuasa untuk lapar dan haus. Tetapi untuk menjadi rasa lapar dan haus itu sendiri. Kita berpuasa agar mampu berdiri diluar barisan depan hanya untuk melihat diri sendiri.

Jadi sahabatku… Saat berpuasa perhatikanlah rasa lapar itu, perhatikanlah rasa haus itu dan belajarlah darinya.

Belajarlah untuk merasakannya. Belajarlah untuk menyatu dengannya. Lalu belajarlah untuk mengendalikannya.

Mengendalikan disini bukan menghilangkan keniscyaannya. Namun meresapi nilai-nilai keniscayaan itu sendiri. Meresapi kalau setiap keniscayaan terbentuk dengan tali keseimbangan yang halus dan terkendali.

Sudah menjadi aturanNYA kalau jasad akan lapar dan haus. Rasa lapar merupakan hasil dari serangkaian proses yang terjadi ketika kadar glukosa atau gula dalam darah menipis. Ketika kadar glukosa menipis, sistem pencernaan melepaskan berbagai jenis hormon, termasuk insulin.

Pelepasan hormon-hormon tersebut merupakan sinyal bahwa tubuh membutuhkan asupan bahan bakar. Di otak sinyal dari jasad ini diterjemahkan sebagai rasa lapar.

Berarti secara tidak langsung, jasad berkomunikasi dengan memberi tahu kebutuhan yang kita butuhkan melalui rasa lapar. Sehingga akhirnya memaksa diri untuk memenuhi kebetuhannya dengan makan.

Tapi nanti dulu, jasad kita boleh saja merengeki kebutuhannya. Namun ternyata kebutuhan pun tercipta agar bisa terkendalikan. Dan ternyata jasad kita pun paham kalau kita sedang ingin mengendalikannya.

Jadi begini, setelah melewati waktu 8 jam berpuasa, hati akan menggunakan cadangan glukosa terakhirnya. Apabila ini terjadi, jasad memasuki kondisi gluconeogenesis menandai bahwa jasad mentrasisi dirinya ke mode puasa.

 

Pada mode puasa ini, penelitian telah menunjukkan bahwa gluconeogenesis meningkatkan jumlah kalori yang dibakar jasad. Tanpa karbohidrat yang masuk akhirnya jasad menciptakan glukosa sendiri menggunakan lemak. Ini proses yang aman bagi jasad. Hanya saja proses ini membuat kita merasakan lapar yang semakin akut.

Rasa lapar akut yang kita rasakan akhirnya terus menerus menekan otak ego kita untuk terus menerus memikirkan dan membutuhkan makanan selama berpuasa. Otak ego disebut juga otak primal.

Otak ego menempati posisi di otak kecil dan batang otak. Otak primal ini bertanggung jawab atas segala pergerakan didalam jasad dan aktifnya survival mode, yaitu fungsi bertahan hidup yang paling mendasar dari jasad manusia.

Uniknya otak primal ini tidak bisa berpikir. Otak ini hanya memiliki serangkaian respons perilaku yang terbatas yang dapat dipicu oleh pemicu tertentu. Rasa lapar dan haus terproses dalam bagian otak ini, sebagai respon yang mendesak kita untuk memenuhi kebutuhan dirinya.

Itulah fungsinya ego. Ego memiliki naluri kewaspadaan. Tersistem sebagai sebuah Alert system yang akan otomatis berbunyi apabila ada hal yang tidak nyaman terjadi bagi diri.

Jadi sebenarnya ego kitalah yang berkata… ohh kamu lemes karena puasa, kamu ga akan kuat, kamu harus makan dan lain sebagainya.

Sementara sebenarnya dari dalam jasad manusia sendiri masih tetap baik-baik saja. Karena jasad manusia memiliki sistem yang netral. Sayangnya kenetralan sistem jasad kita sering dirusak oleh ego yang tidak terkendalikan dengan baik dan benar. Tugas kitalah untuk mengendalikan ego ini agar tersistem dengan baik dan benar.

Disinilah letak alasan kenapa puasa kita lakukan, yaitu untuk belajar pengendalian ego. Dimana kita belajar mengontrol ego kita untuk menjadi lebih rasional disaat yang tidak rasional baginya.

Bagi ego, tidak rasional apabila kita tidak makan saat lapar, dan tidak minum saat haus. Tapi bagi jasad itu masih hal yang rasional. Karena sebenarnya sistem operasi jasad masih mampu bertahan dalam kondisi seperti itu.

Tugas berat utama saat kita mengaku berpuasa adalah membuka akal untuk menyeimbangkan antara keinginan dengan kebutuhan, sehingga ego mampu terkendalikan olehnya.

Ciri manusia yang berpuasa adalah mereka yang sudah bisa menggunakan akalnya untuk mengendalikan dirinya sendiri. Ingat rahasia kecilnya sahabatku… Akal manusia mampu menakar kebutuhannya dan ego manusia mampu menakar keinginannya.

Memang ada banyak hal penting yang harus kita perjuangkan, sehingga kita pantas berkata kalau diri ini adalah manusia yang berpuasa, dan bukan manusia yang sekedar tidak makan dan tidak minum. 

Tidak apa sahabatku… Lapar dan haus kita saat ini bisa menjadi gerbang pelajaran yang indah bersamaNYA apabila kita mau belajar. Saran kami, ambillah pelajarannya, jangan menilai hasilnya, terus sajalah belajar.

Besok sebagian kita masih akan berpuasa. Mungkin besok kita akan gunakan puasa itu sebagai pelajaran. Meski sebenarnya setiap hari kita harus berpuasa. Setiap hari kita harus belajar mengendalikan.

 

Selamat berpuasa sahabatku… Pahala berpuasa adalah kebaikan dari hasil pelajaran itu sendiri. Pahala bukanlah angka yang terhitung, melainkan hanyalah kebaikanNYA yang tak terhitung.

Dalam porsi-porsi pelajaran kita yang masih akan terus berlanjut, selalulah mengingat kalau pengendalian dan pelajaran itu tidak pernah kita lakukan sendirian. Kita mengendalikannya bersamaNYA dan kita juga mempelajarinya bersamaNYA. Dan setiap detik kita akan berpuasa bersamaNYA…

Karena tidak ada setitik pun detik yang terbentuk dalam waktu dan ruang tanpaNYA…

Akhir kata sahabatku… Berpuasalah, dan merendahlah dalam puasa itu.

 

Salam Semesta

Copyright 2020 © www.pesansemesta.com

  • 0
  • April 13, 2021
admin16 admin16 Author

MEMBUAT KIAMAT BAGI BUMI ITU MUDAH


 

Sahabatku... Mari kita renungkan kembali apa yang telah kita lakukan kepada planet kita ini. Perenungan kita akan menjadi gerbang kewaskitaan dan tanggung jawab antara diri dan semesta.
Salam Semesta Copyright (C) 2021
  • 0
  • April 11, 2021
admin16 admin16 Author

TIGA HAL YANG MAMPU MENURUNKAN FUNGSI AKAL

 


Sahabatku… AKAL adalah hal paling suci dari keberadaan diri sebagai manusia. Dengan akal-lah kita mampu membentuk kesadaran terbaik agar mampu saling memakmurkan. Dengan akal pula lah kita akan mampu berjalan menuju gerbang penyaksian segala penciptaan.

Sayangnya, banyak hal dalam hidup ini yang sengaja dibuat ‘seru’ untuk menurunkan fungsi kita dalam menggunakan akal. Tugas kita sekarang adalah menjaga diri untuk tidak terjebak didalamnya.

Penjebakan diri secara suka rela adalah sebab tersendiri dari akibat yang justru ingin dihindari. Jadi, berhati-hatilah. Hidup adalah lingkaran sebab dan akibat.

Semoga tiga hal besar yang kami sampaikan kali ini bisa mulai kita hindari. Agar kita tidak terus menerus menurunkan fungsi akal.

Berikut ini adalah tiga hal yang mampu menurunkan fungsi akal :

 

#Hal Pertama : TERUS-TERUSAN MENILAI

“Akal berfungsi untuk menetralkan penilaian, bukan mempertajam penilaian”

Sahabatku… Apa yang disampaikan semesta kali ini sangatlah unik. Tapi kalau dipikirkan secara netral memang begitulah diri kita adanya. Kebanyakan hal pertama yang kita lakukan saat ini adalah menilai.  

Kita bahkan sering menilai apapun yang masih diluar jangkauan diri sendiri. Uniknya, kita begitu pintar menilai sesuatu yang bahkan belum kita pahami. Contoh sederhananya, kita menilai cuaca saat ini sangat kacau. Tetapi kita sendiri tidak paham, kenapa cuaca bisa kacau seperti ini?

“AKAL akan menuntun manusia untuk memahami sebab akibat.”

Saat seseorang paham alur sebab akibat, maka dirinya akan merendah untuk tidak menilai. Tetapi perhatikanlah hidup kita saat ini sahabatku… Bukankah gerbang penilaian selalu berada didepan mata. Kita setiap hari hidup untuk menilai, dan bahkan mempersilahkan diri dinilai. Bukan begitu?

Sahabatku… Agar penurunan fungsi akal tidak semakin tersendat akibat penilaian-penilaian. Maka ada dua hal yang harus kita lakukan, yaitu mengajak akal untuk lebih sering mengamati dan menelusuri.

Amati setiap apa yang terlihat dan telusurilah, maka seketika akal kita akan mulai berfungsi. Tetapi sebelum melakukannya kita harus selalu mengajarkan AKAL untuk belajar dalam kenetralan.

 

#Hal Kedua : BERHENTI BELAJAR

Sahabatku… Hal kedua yang mampu menurunkan fungsi akal adalah berhenti belajar. Dari kecil kita sudah terbiasa dengan mindset yang mengkaitkan sekolah dengan belajar.

Kita tidak ditanamkan mindset kalau kehidupan ini sendiri adalah sekolah. Dimana tidak ada ujung bayangan yang akan menghentikan kita untuk menjadi pelajar.

Seperti sifatnya seorang pelajar, seorang pelajar tidak akan bisa menjadi sombong dalam kepintaran. Tetapi hanya akan meningkat. Namun bahkan dalam peningkatan pun dirinya tetaplah seorang pelajar. Itulah yang menjadikan seorang pelajar selalu duduk untuk mengamati dan menelusuri pelajaran.

Sayangnya kita tidak dijadikan untuk menjadi pelajar, kita hanya dijadikan penilai. Pertama kita diajarkan kalau belajar hanya disekolah, kita tidak diberi kesempatan untuk belajar secara otodidak, belajar dari pengalaman, apalagi belajar dari semesta.  

Ditambah lagi kita hanya diajarkan belajar untuk dinilai. Dalam sekolah, kita tidak diajarkan untuk mengamati dan mencerna porsi yang sesuai akal kita masing-masing. Tetapi kita hanya diberi pelajaran yang rata untuk menjadi benar atau salah.

Jadi disaat bersamaan kita seharusnya meningkatkan fungsi akal, maka disaat yang bersamaan pula akal kita diturunkan dengan penilaian-penilaian yang diharuskan.

Sahabatku… Kalau Anda setuju, maka janganlah melakukan hal yang kedua ini pada generasi muda kita sekarang. Izinkan akal mereka berkembang tanpa penilaian benar dan salah. Berilah mereka project yang mampu mereka telaah dan berpikirkan tanpa khawatir penilaian apapun.

Sehingga mampu tertanam ke dalam jiwa mereka, kalau segalanya dalam semesta ini sudah menjadi kenetralan yang tak ternilai. Dimana semuanya sudah menjadi Rahmat Semesta Alam-NYA.

 

#Hal Ketiga : MERUSAK KESADARAN

Akal adalah respon kesadaran yang berlangsung dalam pengoperasian jasad. Manusia hanya bisa mengoperasikan akalnya saat dirinya secara utuh sadar.

Kesadaran adalah keseluruhan gerakan jasadi dan rohani manusia. Kita boleh mengakui, kalau saat ini kita adalah orang yang sadar. Kita hidup, kita bergerak, kita pun senantiasa beraktifitas. Sayangnya, sadar bukan hanya tentang bangun, bergerak dan beraktifitas.

Lalu, apa itu orang yang sadar?

Orang yang sadar adalah seseorang yang waspada akan pikiran, perasaan, dan tindakannya. Dia tahu apa yang dia lakukan dan mengapa dia melakukannya. Artinya, orang yang sadar selalu membiarkan segala tindakannya selalu bergerak berdasarkan akal yang berpikir.

Orang yang sadar adalah orang yang mengenal dan memperhatikan diri sendiri lebih dari apapun. Karena inilah orang yang sadar mampu mengendalikan pikiran mereka sendiri. Artinya, orang yang sadar selalu mampu mengendalikan ego mereka dan membiarkan akalnya yang menuntun dirinya.

Orang yang sadar selalu waspada dengan segalanya, dan terus berusaha meningkatkan kesadaran dirinya. Senantiasa mengajak dirinya menuju layar kesadaran yang berikutnya. Artinya, orang yang sadar selalu membiarkan dirinya bergerak dinamis, optimis dan penuh aksi.

Jadi sadar itu bukan sekedar membuka mata, tapi bagaimana kita mengelola apa yang kita lihat. Bukan sekedar berbicara, tapi bagaimana kita mengelola apa yang kita ucapkan. Bukan sekedar mendengar, tapi bagaimana kita mengelola apa yang kita dengar. Bukan sekedar bergerak, tapi bagaimana kita mengelola apa yang kita gerakkan.

Jadi SADAR sangat erat kaitannya dengan AKAL. Lalu apa maksudnya merusak kesadaran?

Sahabatku… Merusak kesadaran itu berarti menghilangkan porsi diri dalam pengendalian dirinya sendiri.

Karena itu pahamilah sahabatku… Apabila seseorang sudah mulai terbiasa untuk menilai dan dinilai. Kalau seseorang sudah mulai terbiasa belajar hanya untuk penilaian dan menilai. Maka dengan sengaja seseorang mulai dikendalikan dengan penilaian dan penilaian. Akhirnya, perlahan-lahan dia kehilangan kesadarannya untuk mampu mengendalikan dirinya sendiri.

Disaat itulah dirinya berhasil merusak kesadarannya. Karena saat diri mulai terkendali dengan pihak lain, maka diri hanya mengikuti secara buta tanpa sedikitpun berpikir. Akhirnya akal pun menjadi semakin kerdil didalam tempatnya sendiri. Akal bahkan bisa kehilangan peran dan ter-down gradekan secara brutal.

-------------------

Sahabatku… Sampai disini kita masih memiliki pilihan untuk berhenti menilai,z untuk mulai belajar dalam kenetralan dan untuk mulai mengendalikan diri. Tiga hal ini akan kita lakukan bukan karena apa-apa selain agar diri lebih ber-akal lagi.

Mungkin sebagian kita bertanya-tanya. Apakah memang sebegitu pentingnya diri untuk ber-akal dan menjaganya?

Tentu sahabatku… Karya nyata hanya bisa tercapai oleh akal yang mau beraksi dalam kenetralan. Jadi bersiap-siaplah. Akal ini memang jembatan panjang menuju gerbang penyaksian segala penciptaan.

 

Salam Semesta

  • 0
  • April 08, 2021
admin16 admin16 Author

ALASAN POSITIF KENAPA KITA BOSAN?



Bukankah kita ingin tahu, apa itu gunanya kebosanan – kenapa kita memiliki rasa bosan dan untuk apa rasa bosan tercipta? Mari kita gali lebih dalam lagi.

Dari penggalian kita yang lebih dalam tentang rasa bosan. Kita akan menemukan satu bukti besar kalau ternyata manusia memang selalu disetting agar mampu berkembang lebih besar dari dirinya yang sekarang. Kami pastikan, kalau setelah ini Anda akan bersyukur dengan segala rasa bosan yang masih Anda rasakan. Karena ternyata, meski bosan bukan keadaan yang menyenangkan, tetapi manusia memang butuh dengan rasa bosan. Salam Semesta Copyright (C) 2021
  • 0
  • April 03, 2021
admin16 admin16 Author

OFFICIAL CHANNEL



FREE E-BOOK

3# FREE DOWNLOAD E-BOOK - MENJADI AIR

DATABASE

COPYRIGHT

Seluruh artikel didalam website ini ditulis orisinil oleh tim penulis Pesan Semesta. Artikel yang kami share melalui website ini bukan hasil jiplakan, kutipan atau terjemahan.

Bagi pembaca yang ingin menghubungi penulis silahkan mengrim pesan melalui email : pesansemesta@yahoo.com


SALAM SEMESTA