Pesan Semesta.
melampaui batas menjadi satu

MENGHAPUS BAYANG-BAYANG YANG MENGHALANGI DIRI DARI MENYAKSIKAN-NYA


“aku akan menyaksikanMU saat bayang-bayang ini memudar”

Sahabatku… Bayang-bayang apa yang masih menyelimuti kita dari menyaksikanNYA?

Mari kita coba pikirkan. Sejenak saja dalam hidup ini kita menyisakan sedikit waktu untuk bertanya, apa  yang masih membayangi kita dari menyaksikanNYA? Apa yang yang masih menghalangi kita dari merasakan kedekatan denganNYA? Apa yang memutuskan diri ini dari berhubungan denganNYA?

Kebersaksian bukan tentang sebaris kalimat baiat yang terucap, kebersaksian adalah kemampuan jiwa dan jasad untuk menjadi saksi akan keberadan-NYA. Menyaksikan DzatNYA yang menyelimuti semesta raya ini.

Bayangkan sebentar, betapa manis dan terpesonanya jasad dan jiwa ini apabila mampu menyaksikan pembuatnya, menyaksikan Dzat Peniup ruh yang menghidupinya. Namun ternyata kita masih terdiam di dalam bayangan. Kita masih di sini berdiri seperti sedang memandangi langit malam tanpa menemukan setitik pun bintang. Mungkinkah Dzat yang menyelimuti segalanya membiarkan kita dalam kesendirian yang hampa ini? Kalau jawabannya adalah tidak, berarti masih ada yang menghalangi diri ini dari menyaksikanNYA.

Apakah kiranya bayang-bayang itu sahabatku…?

Mari kita mengharap jawabaNYA. Siapa tahu kita masih bisa merasakan manis dan mempesonanya jiwa dan jasad yang senantiasa mendekati pemilikNYA.

# Pertama… adalah tentang bagaimana kita melihat

Sudahkah kita melihat hidup ini dengan putihnya kenetralan sahabatku…? Ataukah masih ada begitu banyak warna-warni penilaian yang sengaja kita jadikan bayang-bayang yang menyelimuti kebersaksian kita.

 

# Kedua… adalah tentang bagaimana kita menatap

Sudahkah kita mampu menatap diri ini sebagai diriNYA sahabatku…? Ataukah kita masih menyimpan kesombongan kalau diri ini adalah diri ini dan diriNYA adalah diriNYA. Sengaja meretakkan diri sendiri untuk membuat bayang-bayang yang menjauhi kebersaksian kita sendiri.

 

#Ketiga… adalah tentang bagaimana kita terpejam

Sudahkah kita mampu terpejam dan membiarkan diriNYA menuntun sahabatku…? Ataukah kita masih terus mendikteNYA untuk setiap sisi hidup ini dimana kita tidak lagi mampu menyaksikanNYA sebagai Dzat Pemilik Segala ke-Mahaan.

 

#Keempat… adalah tentang bagaimana diriNYA kita saksikan di dalam relung hati ini

Sudahkah kita mengikat hati ini denganNYA sahabatku…? Ataukah kita sama sekali tidak melihat ikatan apa-apa, hanya seutas tali yang mengambang sendirian tanpa ikatan apa-apa. Tali yang sengaja membiarkan dirinya menjauh dari seutas tali yang ingin selalu mengikat.


#Kelima… tidak ada yang kelima sahabatku..

Apabila saat ini kita melihat, lalu menatap, sampai terpejam terus menyaksikan hati kalau diriNYA tidak ada disana, berarti keempat tadi masih membayangi diri kita dari menyaksikanNYA.

Sibaklah bayang-bayang itu perlahan-lahan dan lembut sahabatku… Karena diriNYA tidak ada dibalik bayang-bayang itu, diriNYA hanyalah diri yang menyibak bayang-bayang itu.

Mulailah dengan menyaksikan diriNYA sebagai diri ini sahabatku… ikhlaslah menjadi penglihatanNYA yang menyaksikan dan kita akan jelas menyaksikanNYA di segalanya.

 

Salam Semesta

Copyright 2020 © www.pesansemesta.com


  •  
  •  
  •  
  • 0
  • Mei 29, 2020
admin16 admin16 Author

CARA SEDERHANA UNTUK MENYELARASKAN JANTUNG DAN OTAK



Seorang sahabat bertanya “Bagaimana cara sederhana untuk menyeleraskan jantung dan otak agar terjadi keseimbangan?” Melalui anugerahNYA kami menjawab

Jadi didalam diri, otak dan jantung kita senantiasa berhubungan, mereka berkomunikasi dan melakukan aksi ketersalingan.

Pesan dari sistem saraf jantung intrinsik berjalan ke otak melalui jalur naik baik di tulang belakang dan saraf vagus, di mana ia berjalan ke medula, hipotalamus, thalamus dan amigdala dan kemudian ke korteks serebral. Ini merupakan arah jalur, sampai pada akhirnya jantung memancarkan hasilnya kepada semesta yang diluar melalui gelombang elektromagnetik yang kuat.

Bagaimana informasi dari kesadaran dikelola dari otak menuju jantung dan jantung menuju otak terjadi dalam hitungan super cepat tanpa henti, terus menerus sampai jantung jasad ini nantinya berhenti berdetak.

Seperti cahaya seumur hidup yang memancar menuju semesta itulah kita sahabatku… Andai bisa tergambarkan bagaimana pancaran ini terhubung menuju seluruhnya dan segalanya, maka kita akan segera sadar, kalau memang tidak ada satu tempat pun untuk bersembunyi. Tidak ada satu alasan pun yang membuat kita sendiri. Tidak ada satu inci pun untuk menghindar. Jelas kita adalah semesta yang terhubung dengan pancaran.

Masalahnya pancaran yang kita pancarkan saat ini justru malah mengganggu semesta, karena pancaran kita tidak seimbang. Mari kita belajar menyeimbangkannya sahabatku…

Ini sungguh penting untuk keberlangsungan semesta kita sendiri. Izinkanlah diri ini untuk memancarakan harmoni semesta. sekali lagi ini bukan hal mistis, ini adalah layar pengetahuan yang tertutupi dan sengaja disembunyikan. Baiklah, lalu apa caranya?

Caranya adalah dengan melakukan tiga penguasaan diri di bawah ini :

Penguasaan Pertama : Kuasai pikiran sendiri dengan cara tidak membiarkan pikiran menguasai dan mulai membiasakan diri berpikir dengan akal

Sahabatku… Apakah kita suka berpikir atau kita justru lebih suka membiarkan pikiran-pikiran memenuhi aliran otak sampai akhirnya mengacak-acak elektromagnetik yang kita pancarkan?

Berpikir itu adalah melatih diri untuk mengamati dan memperhatikan apa yang ada di hadapan.

Berpikir dengan membiarkan pikiran-pikiran adalah dua hal yang berbeda. Kebanyakan kita justru tidak memilih berpikir, melainkan hanya memilih membiarkan pikiran-pikiran memenuhi aliran otak kita. Padahal setiap aliran pikiran apapun itu adalah pekerjaan bagi otak dan jantung.

Pikiran adalah energy yang bervibrasi, otak dan jantung kita mengelolanya dan memancarkan outputnya. Ini bukti sederhana kalau semesta ini tidak pernah berdiam tanpa adanya input – proses dan output.

Sebagai latihan dan contoh alami yang sederhana kami ingin kita bersama-sama memikirkan satu alasan yang membuat kita merasakan emosi benci.

Jawabannya bisa apa saja bukan? Bisa sepiring brokoli, seorang mantan kekasih, guru yang killer, orang tua, mobil, dendam kepada sahabat, pengkhianatan, kekalahan atau apapun. Memikirkan hal yang dibenci itu sederhana buat kita. Namun tahukah kalau kebencian bukan hal yang sederhana bagi dimensi mikrokosmos dan semesta kita?

Jadi begini yang terjadi, saat pikiran kita memikirkan kebencian, maka otak bekerja meramu emosi agar kita mampu merasakan kebencian itu. Untuk meramu emosi kebencian otak kita harus meramu beberapa neurotransmitter.

Beberapa neurotransmiter ini bergerak di antara sel-sel individual, sementara yang lain disiarkan ke seluruh wilayah otak. Dengan memberi sinyal pada sinyal lain, otak kita dapat menyesuaikan cara kita merespons sesuatu dan secara efektif dapat mengubah suasana hati kita seketika.

Ini bukan sekedar pekerjaan otak yang diterima oleh jantung begitu saja, ternyata jantung bukanlah organ yang passif dengan suasana hati seseorang. Ditemukan bahwa jantung mengandung sel-sel yang mensintesis dan melepaskan katekolamin (norepinefrin, epinefrin, dan dopamin), yang pernah dianggap sebagai neurotransmiter yang diproduksi hanya oleh neuron di otak dan ganglia. Dan tahukah kita kalau baru-baru ini juga ditemukan bahwa jantung juga memproduksi dan mengeluarkan oksitosin yang dapat bertindak sebagai neurotransmitter dan biasanya disebut sebagai hormon cinta dan juga benci.

Singkatnya, kita mengaktifkan otak dan jantung didalam tubuh kita sendiri. Pengaktifan ini dibutuhkan karena kita memang harus menterjemahkan frekuensi-frekuensi yang kita terima dan juga memberi respon terhadapnya.

Sayangnya, kita belum bisa menetralkan (membiarkan diri di titik nol) sehingga akhirnya kita terhanyut oleh pikiran dan rasa yang kita buat sendiri. Jadi, saat kita memikirkan benci maka kita secara tidak terkendali memancarkan elektromagnetik berfrekuensi rendah yang berisi kebencian.

Baiklah, memang sudah menjadi hak kita untuk merasakan apapun yang mau kita rasakan. Hanya saja, kita adalah semesta yang terhubung. Apa yang kita olah didalam akan memancar keluar dan membawa pengaruh kepada sesama, termasuk bumi.

Energi selalu memiliki hukum tarik menarik frekuensi. Manusia adalah energi, kita selalu menarik frekuensi sesuai dengan frekuensi apa yang kita pancarkan. Frekuensi yang terpancar itu lah yang menjadi dasar elektromagnetik manusia.

Sementra elektromagnetik manusia adalah apa yang menjadi dasar geomagnetik bumi. Dan geomagnetic bumi memancar menuju magnet antar planet. Bayangkan kalau magnet antar planet ini terganggu.

Ini merupakan bukti koneksi raksasa kehidupan. Koneksi raksasa kehidupan ini hanya berawal dari bagaimana pikiran manusia. Jadi bagaimana solusinya?

Solusinya tidak lain hanyalah kita harus sadar dengan pikiran sendiri dan mulai membiasakan diri berpikir dengan akal.

Sahabatku… Keselarasan artinya keseimbangan yang harmonis. Kita harus berada di titik 0 (nol) untuk memenuhi keseimbangan. Untuk berada di titik 0 (nol) ini diperlukan cara. Apakah caranya harus rumit, tidak juga. Justru kadang cara-caranya sebenarnya terlalu sepele sehingga malah lebih sering terlewat untuk kita aplikasikan.

Kita tidak butuh setumpuk ilmu filsafat atau seribu jam meditasi untuk memulai sebuah keseimbangan, yang kita butuhkan hanyalah akal yang mau berfungsi. Akal adalah satu rahasia yang dimiliki oleh pikiran.

Perlu diketahui kalau tidak selamanya pikiran itu berpikir dengan akal, ada kalanya pikiran berpikir dengan ego atau bahkan hanya sekedar dengan instinct atau naluriah belaka. Jadi, tidak melulu manusia membiarkan akalnya memimpin, kebanyakan justru malah lebih sering membiarkan ego dan naluriahnya yang maju memimpin.

Apakah ini berhubungan dengan keselarasan jantung dan otak? Tentu iya. Itulah kenapa kami menyampaikannya disini.

Cara paling sederhana untuk mengaplikasikannya, yaitu dengan melatih diri untuk senantiasa mengamati dan memperhatikan apa yang ada di hadapan dan apa yang terlintas didalam pikiran.
Memang ini sangat sederhana, tapi ini bukan lelucon, melainkan aksi sederhana yang akan membuat diri kita untuk terbiasa berpikir dan mengendalikan pikiran.

Kebanyakan manusia tidak suka berpikir. Karena berpikir itu terkesan berat dan menyusahkan. Hanya saja bagaimana kehidupan kita terletak disana. Akal manusia selalu berada di titik 0 (nol). Satu-satunya tempat kita menyeimbangkan diri adalah dengan mengaktifkan akal. Dzat Maha sudah membuatnya seperti itu, kita hanya butuh memilih jalannya, lalu dari pilihan kita itulah keselarasan akan terjadi.

Coba bayangkan kalau tidak semua pikiran-pikiran ini mengendalikan diri kita, justru kitalah yang mengendalikan pikiran-pikiran ini. Coba bayangkan kalau kita secara sadar menyaksikan apa yang ada dihadapan dengan akal pikiran yang tersetting penuh rasa syukur dan khidmat akan kehidupan yang dianugerahkanNYA hanya untuk mengambil pelajaran. Bukankah pancaran elektromagnetik kita akan harmonis?

Renungkanlah sahabatku… Ibarat terang di dalam gelap, begitulah seharusnya pengendalian pikiran ini membuat kita sebegitu bermakna bagi keberlangsungan semesta.


Penguasaan Kedua : Kuasai emosi dengan cara menghadapi apapun yang terjadi di hadapan.

Sahabatku… Siapa bilang kalau jantung ini hanya memancarkan elektromagnetik. Jantung ini juga menerima elektromagnetik. Sekali lagi, ini bukti keseimbangan buatan Dzat Maha Pembuat. Tentunya seimbang bukan hanya tentang memberi tetapi juga menerima.

Jadi begini, setiap sel dalam tubuh kita terus bergerak dalam lingkungan eksternal dan internal yang berfluktuasi dari gaya magnet yang tak terlihat. Tidak terlihat bukan berarti tidak ada!

Fluktuasi medan magnet dapat memengaruhi hampir setiap sirkuit dalam sistem biologis hingga tingkat yang lebih besar atau lebih kecil, tergantung pada sistem biologis tertentu dan sifat-sifat fluktuasi magnetik.

Salah satu cara utama agar sinyal dan pesan dikodekan dan ditransmisikan dalam sistem fisiologis adalah dalam bahasa pola. Dalam sistem saraf, sudah pasti bahwa informasi dikodekan dalam interval waktu antara potensi aksi, atau pola aktivitas listrik. Ini juga berlaku untuk komunikasi hormonal di mana informasi yang relevan secara biologis juga dikodekan dalam interval waktu antara pulsa hormonal.

Ketika jantung mengeluarkan sejumlah hormon yang berbeda dengan setiap kontraksi, ada pola denyut hormon yang berkorelasi dengan irama jantung. Selain pengkodean informasi di ruang antara impuls saraf dan dalam interval antara pulsa hormonal, ada kemungkinan bahwa informasi juga dikodekan dalam interval tekanan dan gelombang elektromagnetik yang dihasilkan oleh jantung.

Artinya? Jantung dapat mengirimkan informasi emosional melalui medan elektromagnetik ke lingkungan, yang dapat dideteksi oleh orang lain dan diproses dengan cara yang sama seperti sinyal yang dihasilkan secara internal. Jadi intinya, selain pemancar kita juga adalah penerima.

Kalau kita ingin mengetahui seberapa berpengaruh gelombang elektromagnetik yang kita terima? Maka ambillah contoh sederhana molekul air yang diteliti oleh DR. Masaru Emoto tentang bagaimana gelombang suara bisa mempengaruhi molekular air. Hal yang lebih dahsyat juga akan terjadi dengan diri kita saat kesadaran kita mulai terpengaruh oleh gelombang electromagnetic yang dibawa oleh semesta lain.

Jadi bagaimana solusinya?

Sahabatku… Karena elektromagnetik jantung membawa pesan-pesan emosi, maka cobalah untuk menghadapi apapun pesan itu secara sadar. Kesadaran yang paling sederhana adalah memahami keberadaan internal atau eksternal diri.

Kata menghadapi bisa menghasilkan berbagai macam sikap. Kenyataan hidup boleh sama. Gelombang elektromagnetic itu boleh sama. Tapi cara masing-masing individu menghadapinya bisa berbeda.

Seperti seorang guru yang mengumumkan jadwal ulangan harian dadakan. Diantara muridnya ada yang menghadapinya dengan tenang karena dia tahu dia bisa. Diantara yang lain ada yang santai karena mereka tidak peduli dengan ulangan. Ada yang kecewa karena dia tidak suka ulangan. Dan ada juga yang ketakutan karena dia merasa bodoh dalam ulangan. Kenyataan yang dihadapi hanya satu, yaitu ulangan harian dadakan, namun cara masing-masing siswa menghadapi kenyataan itu yang berbeda-beda.

Apakah ada yang salah dan benar? Tidak juga. Tidak ada manusia yang sama persis. Semua memiliki keunikan berbeda baik yang tampak diluar ataupun yang diolah didalam.  Jadi sikap menghadapi sesuatu itu bersifat relatif.

Tentunya dengan penguasaan yang pertama, kita mampu menjalani kehidupan dengan akal pikiran yang jernih, dan inilah sebaik-baiknya aksi.

Namun ada satu keniscayaan yang pasti saat kita melakukan aksi yang sebaik-baiknya. Yaitu apapun kenyataan hidup yang terjadi, baik suka atau duka. Baik benar atau salah. Baik terang atau gelap. Kita tidak pernah berlari dariNYA. Kita tidak pernah sendiri tanpaNYA. Bagaimanapun kita melupakanNYA atau tidak mengetahui apapun tentangNYA setiap kesadaran didalam semesta ini terhubung denganNYA. Tidak ada satu detak jantung pun yang terlewat kecuali Dzat Maha membersamai. Tidak ada satu jiwa pun yang terlepas dari Peniup ruhnya.

Ini hal besar yang harus kita kuasai sahabatku… Bagian terpentingnya adalah tentang bagaimana kita menjadi manusia yang mampu menghadapi kenyataan hidup apapun bersamaNYA sebaik-baiknya akal berpikir.


Penguasaan Ketiga : Kuasai energy apapun yang kita bentuk

Disadari atau tidak, otak kita sedang membentuk energy begitu juga dengan jantung kita sedang membentuk energy. Apa yang kita hadapi adalah energy. Segalanya adalah energy.

Juur kita adalah manusia yang sedang berada di titik terendah untuk menyadari hal besar yang tidak diajarkan ini. Sekolah mana yang mengajarkan kita, kalau manusia adalah semesta pembentuk energy?

Karena andaikan kita besar hanya untuk mempelajari ini, maka kita akan menjadi gerbang Dzat Maha bukan menjadi korban kekuasaan yang tidak berdaya.

Namun sebelumnya, kalau kita masih berpikir energy itu adalah sekedar hal-hal yang berbau kekuatan, maka pahami dahulu kalau energy itu bukan sekedar tentang kekuatan melainkan segalanya, termasuk kelemahan juga adalah energy.

Apapun yang menurut kita buruk dan apapun yang menurut kita baik adalah energy. Jadi, energy itu adalah kenetralan absolut. Namun bagaimana energy itu terbentuk membutuhkan sebab akibat. Dzat Maha sudah membuat hukum sebab akibat.

Sebab akibat butuh pilihan. Manusia butuh memilih sebab untuk menerima akibat. Sementara pilihan tergantung 100% dengan tingkat kesadaran manusia. Sampai tingkat mana kita mengelola kesadaran, maka sebegitu juga kemampuan kita membentuk energy.

Kita ingin menyeleraskan jantung dan otak kita untuk menghasilkan elektromagnetik yang harmonis, maka tentunya kita butuh kesadaran yang meningkat bukan? Mungkin kemarin sebagian kita ada yang tidak mengetahui hal ini. Namun berkat pilihan kita membaca artikel panjang ini dan mengambil pelajaran akhirnya kita memilih berdasarkan kesadaran yang meningkat.

Karena untuk meningkatkan kesadaran kita harus ikhlas belajar dan menerima pelajaran. Dalam hidup ini untuk sukses belajar dan menerima pelajaran kita harus terlebih dahulu menguasai dua hal diatas terlebih dahulu. Kalau tidak, maka tidak ada bagian apapun dari hidup ini yang akan menjadi porsi belajar kita, yang ada justru hidup ini akan menjadi tempat ujian yang menyengsarakan. Kita tidak akan tahan dengan pelajaran di dalamnya dan justru akan mendikte Dzat Maha untuk segera menyegerakan ujian ini agar cepat selesai.

Sahabatku… Semoga kita mengerti maksud paragraph di atas. Jelas dan nyata kalau kita tidak bisa memahat sebongkah es menjadi sepasang patung angsa yang indah kecuali kita harus memahat dan mengiris tiap ujung esnya.

Mampukah kita memahat diri ini agar mampu melihat buatanNYA yang indah? Karena kita tidak akan mampu menguasai penguasaan yang ketiga ini tanpa terlebih dahulu memahat dan mengiris diri sendiri.

Namun sahabatku… jangan takut, kalau kesadaran kita sudah mampu menikmati kebersamaan denganNYA maka segala pelajaran ini akan menjadi nyaman. Dalam hidup ini tidak akan ada ujian yang menyengsarakan, yang ada hanyalah murid yang sedang duduk nyaman dihadapan gurunya yang Maha Bijaksana. Maha Bijaksana, karena hanya DIA lah satu-satunya Guru Agung yang mengetahui porsi pelajaran yang mampu kita terima.

Belajarlah untuk menguasai diri ini sahabatku… dan Percayalah! Tidaklah diri ini kecuali akan menjadi gerbang gelombang elektromagnetik yang harmonis. Kita akan menjadi pemancar alunan harmoni indah semesta yang tidak mengenal syarat. Pemancar RahmatNYA bagi semesta alam.
Kita mampu sahabatku… kita bersamaNYA

Terakhir sahabatku… Kalau bumi terisi oleh jiwa-jiwa yang mengaluni harmoni indah, akankah bumi menjadi rumah yang indah pula?


Salam Semesta

Copyright 2020 © www.pesansemesta.com





  • 0
  • Mei 28, 2020
admin16 admin16 Author

MENYELARASKAN JANTUNG DAN OTAK DEMI MENYELAMATKAN BUMI


Sayangnya kita tidak membiarkan diri kita memahami hal besar ini sejak awal. Padahal ini sungguh sangat penting. Organ jantung dan otak yang selaras harusnya sudah menjadi diri kita yang sebenarnya, tapi itu tidak terjadi. Tidak terjadi karena dari awal kita memang tidak memahaminya. Akhirnya ini menjadi hal yang rumit. Namun dalam hidup ini tidak ada kerumitan yang tidak bisa terlampaui.

Sahabatku… Mari kita lampaui kerumitan diri ini dan mulai kembali belajar untuk memimpin diri sebaik-baiknya. Sampai akhirnya kita mampu memimpin bumi ini. 

Jadi begini, dalam jasad ini kita memiliki dua organ inti yang sangat amat memiliki pengaruh besar akan keberlangsungan kehidupan diri dan bumi. Dua organ inti ini adalah jantung dan otak.

Otak adalah hardware (anggota jasad) dimana kita mengelola software kesadaran. Namun otak saja tidak cukup sebagai hardware kita juga memiliki jantung.  Selama ini kita mengenal jantung hanya sebagai mesin organik pemompa darah, namun ternyata jantung bukan sekedar itu.

Selain jaringan komunikasi saraf yang luas yang menghubungkan jantung dengan otak dan seluruh jasad, jantung juga mengkomunikasikan informasi ke otak dan seluruh tubuh melalui interaksi medan elektromagnetik.

Jantung menghasilkan medan elektromagnetik terbesar di jasad. Medan listrik yang diukur dalam elektrokardiogram (EKG) sekitar 60 kali lebih besar amplitudo dari pada gelombang otak yang direkam dalam electroencephalogram (EEG). Jantung manusia adalah sumber kuat elektromagnetik yang bahkan beberapa meter jauhnya dapat dideteksi oleh instrumen ilmiah modern.

Penelitian dasar menunjukkan bahwa informasi yang berkaitan dengan keadaan emosi seseorang dikomunikasikan ke seluruh tubuh melalui medan elektromagnetik jantung. Fakta paling unik yang terjadi adalah bahwa pola detak jantung kita yang berirama berubah secara signifikan ketika kita mengalami emosi yang berbeda.

Nah, sebenarnya medan elektromagnetik jantung berisi informasi atau kode tertentu, yang sampai sekarang pun masih coba dipahami oleh para peneliti. Informasi dan kode tertentu ini ditransmisikan ke seluruh bagian jasad dan di luar jasad.

Fakta paling unik yang terjadi adalah bahwa pola detak jantung manusia berubah-rubah sesuai struktur medan elektromagnetik yang dipancarkan oleh jantung. Pola ini bukan terkaan belaka, karena bisa diukur dengan teknik yang disebut analisis spektral.

Sayangnya pola-pola ini bukan hanya milik kita seorang, pola-pola elektromagnetik ini membawa pengaruh kepada segalanya. Hasil percobaan menunjukkan, ketika orang menyentuh atau berada dekat dengan sesuatu atau seseorang, terjadi pemindahan energi elektromagnetik yang dihasilkan oleh jantung. Namun ternyata perpindahan ini bukan hanya terjadi antar sesama manusia, namun sesama makhluk dan bumi.

Temuan penelitian menunjukkan bahwa ketika kita memancarkan emosi, jantung kita menghasilkan gelombang elektromagnetik yang akan diterima oleh bumi. Semakin banyak orang yang memancarkan emosi yang sama, maka mereka seperti membangun medan energik besar untuk bumi dan makhluk bumi lainnya.

Inilah kenapa pada artikel sebelumnya kami mengemukakan secuil rahasia “Jantung itu adalah gerbang emosi, sementara otak adalah gerbangnya akal. Menyeleraskan kedua gerbang ini artinya menjadi nyaman dengan segala emosi dan mengaksikannya dengan akal yang jernih. Dari hasil penyelarasan kita ini, akhirnya menghasilkan elektromagnetik yang memancar.”

Kemarin, seorang sahabat bertanya tentang amigdala sebagai gudang emosi. Iya betul, amigdala adalah gudang penyimpan memori respon emosi. Jadi bagaimana kita merespon emosi marah, bahagia, sedih, terluka, puas dan segala macam respon memori emosi kita tersimpan disana. Amigdala lah yang nantinya membantu manusia untuk memberikan respon berdasarkan pola memori emosi yang terekam olehnya.

Hanya saja amigdala tidak bekerja otomatis sendiri. Ada bagian lain dalam otak (Cerebum) yang bekerja sebagai otak kesadaran manusia, dimana bagian otak ini membantu kita dalam memilih. Cerebrum adalah struktur otak terbesar dan bagian dari otak depan (atau prosencephalon). Bagian luarnya yang menonjol yang disebut korteks serebral, tidak hanya memproses informasi sensorik dan motorik tetapi memungkinkan kesadaran, kemampuan kita untuk mempertimbangkan diri kita sendiri dan dunia luar.

Kalau kita tidak mengaktifkan bagian otak ini untuk bekerja, maka otak bawah sadar kita akan sebegitu saja mengaktifkan memori yang sudah tersimpan didalam amigdala. Sampai akhirnya respon dari emosi itu terpancar menjadi perasaan yang dipancarkan oleh jantung sebagai elektromagnetik begitu saja.

Disinilah pentingnya kesadaran dalam tiap apa yang dihadapi guna kita mengendalikan apapun yang kita hadapi. Inilah maksud dari menyelarsakan jantung dan otak. Yaitu kita mengaktifkan kesadaran kita untuk mengendalikan software dan hardware yang kita miliki guna memancarkan gelombang elektromagnetik yang harmonis.

Kalau kita bertanya kenapa, kenapa jantung dan otak membuat dan memancarkan gelombang elektromagnetik, maka jawabannya adalah frekuensi.

Sebagaimana yang telah sering kita bahas, semuanya adalah frekuensi. Kita tidak dapat memiliki pengalaman apapun di planet ini tanpa menariknya melalui frekuensi dan memancarkannya pula melalui frekuensi.

Fakta ini membuat kehidupan kita terjalin erat, bukan hanya dengan sesama manusia, namun juga terhadap seluruh makhluk bumi lainnya, dan juga termasuk bumi itu sendiri. Jalinan itu terpancar otomatis dari setiap kehidupan kepada kehidupan.

Ingat! Otomatis. Jadi apakah manusia itu adalah manusia yang kita kenal atau tidak, apakah kita mau menjalinnya atau tidak, apakah kita mengerti atau tidak, tetap jalinan itu nyata dan erat.

Kalau sekarang kita bertanya seperti apakah jalinan erat itu?

Jalinan erat itu seperti hubungan batin. Medan elektromagnetik ada di mana-mana dan segalanya, manusia sendiri adalah penghasil dan pemancar elektromagnetik.

Ada alasan kenapa semua memiliki medan magnet, yaitu karena semuanya adalah energi yang bervibrasi. Pada tingkat mikroskopik /atom, elektron bermuatan partikel terus bergerak di sekitar inti atom, sehingga menciptakan medan magnet. Itulah kenapa hewan, tumbuhan, benda yang kita anggap mati seperti batu dan air pun kalau diukur mengeluarkan elektromagnetik dengan berbagai ukuran angka. Karena segalanya adalah energy.

Apakah ini hal mistis? Tidak! Elektromagnetik adalah fenomena fisik, jadi dapat diukur melalui alat tertentu dengan efek yang dapat diamati dengan jelas. Kita bisa membeli alat ini secara umum, dari alat ini kita akan melihat bahwa semuanya benar-benar memiliki medan magnet.

Begitu juga dengan bumi. Medan magnet bumi, dikenal dengan nama medan geomagnetik, adalah medan magnet yang memanjang dari interior bumi ke luar angkasa, tempat bumi bertemu angin matahari, aliran partikel bermuatan yang berasal dari matahari. Medan magnet matahari tidak sampai situ saja, tetapi meluas jauh ke luar angkasa melampaui Pluto. Perpanjangan medan magnet matahari yang jauh ini disebut bidang magnet antarplanet atau Interplanetary Magnetic Field (IMF).

Medan magnet bumi memainkan peran penting untuk semua makhluk hidup. Tanpa medan geomagnetik, kehidupan di planet ini hampir tidak akan mungkin terjadi.

Diantara kebutuhan kita akan medan magnet bumi salah satunya adalah untuk kompas, kompas tidak akan berfungsi apabila tidak ada medan magnet bumi. Burung-burung akan kehilangan navigasi, aurora akan berubah, sinar kosmik dapat mencapai permukaan bumi, dan bagian terparahnya seluruh satelit dapat mengalami kerusakan akibat badai matahari, dan tanpa medan magnet Bumi, setiap perangkat elektronik dapat terpapar partikel berenergi tinggi dari sinar kosmik dan angin matahari.

Baiklah, berarti dapat disimpulkan bahwa geomagnetic bumi adalah hal yang sangat pentig. Pertanyaan selanjutnya apakah geomagnetic bumi berhubungan atau dapat terpengaruhi dengan elektromagnetik manusia dan makhluk hidup lainnya? Jawabannya adalah IYA. Sangat berhubungan dan bahkan terlalu terpengaruhi.

Tahukah kita inilah salah satu alasan kenapa kita disebut khalifah fil ardh (pemimpin diatas bumi) dan inilah pula yang menjadi alasan utama kenapa kita harus mulai menyelaraskan jantung dan otak.
Iya sahabatku…. Kita memiliki alat ini didalam tiap diri kita masing-masing. Alat yang membawa pengaruh kepada bumi dan kelangsungan kehidupan didalamnya. Lalu apakah kita akan berdiam diri saja untuk membuat kerusakan bagi bumi atau malah justru kita akan bertindak untuk memperbaiki cara kita menyelaraskan jantung dan otak ini untuk menyelamatkan dan memperbaiki bumi kita ini.

Bumi itu adalah rumah besar yang sudah dibuat ramah oleh Dzat Maha untuk ditaklukkan oleh manusia. Hanya saja kondisi rumah selalu tergantung dengan bagaimana penghuni didalamnya. Haruskah kita menjadi penghuni yang semberono dan menutup mata? Kami yakin kita semua memilih tidak.

Sekarang kita sudah paham kalau menyelaraskan jantung dan otak bukan sekedar tentang menjadi damai dengan diri sendiri tapi tentang mendamaikan bumi beserta isinya. Jadi, semampu apa kita menjadi pemimpin diri ini sahabatku…?

Sebenarnya disinilah tantangan hidup ini sebenarnya. Kita hidup hanya untuk senantiasa belajar menjadi pemimpin diri ini. Tugas awal kita yang sesungguhnya sebelum mampu memimpin bumi ini. Tugas yang terlupakan dan terlewat begitu saja. Tapi sekarang kita sudah tahu. Lalu akankah kita berdiam?

Tidak sahabatku…

Coba renungkanlah dalam kenetralan, kenapa Dzat Maha memberikan kita tugas kepemimpinan diri yang begitu besar? Jawabannya sungguh sangat jelas, ini merupakan ayat bahwa manusia memang di takdirkan untuk memilih yang terbaik bagi dirinya. Kebaikan tidak memiliki nilai selain apa yang kita mampu berikan dalam keikhlasan.

Untuk ikhlas kita butuh membangun kejernihan akal kita untuk berhenti menilai tapi hanya fokus mengamati dan memperhatikan segala ayat-ayatNYA dalam kenetralan. Keikhlasan ini akan terus membawa kita untuk memaknai arti keterhubungan diri dengan segalanya.

Bagaimana pun juga dalam kehidupan ini tidak ada satu bagian yang terlepas dari sebuah keterhubungan. Keterhubungan selalu menjadi nama tengah kita, seperti aliran darah kita yang tidak terputus, begitulah semesta diciptakan.

Kehidupan semesta adalah sebuah keterhubungan Maha Besar yang meliputi segalanya. Selamanya hidup ini adalah tentang keterhubungan yang dijalin olehNYA. Bahkan jantung dan otak kita pun bekerja persis sesuai keterhubungan yang dibuatNYA ini.

Apabila tulisan ini belum terpahami dengan baik, mohon janganlah berhenti. Teruslah percaya kalau diri ini akan senantiasa menjadi semesta yang berkesadaran. Segala energy akan terbentuk sesuai dengan kesadarannya masing-masing. Jangan berhenti melangkah untuk mempelajari diri.

Akhir kata, setujukah kita untuk mengetahui bagaimana cara agar kita mampu membangun dan membentuk software kesadaran diri agar mampu mengendalikan dan menyelaraskan hardware yang kita miliki, sehingga senantiasa menghasilkan lalu memancarkan elektromagnetik yang harmonis bagi sesama makhluk dan bumi tempat kita berpijak?

Kalau kita setuju, nantikan artikel kami selanjutnya.


Salam Semesta

Copyright 2020 © www.pesansemesta.com




  • 0
  • Mei 26, 2020
admin16 admin16 Author

PELAJARAN AGAR DIRI MAMPU MENGENDALIKAN EMOSINYA (BAGIAN 2)


Sahabatku… Kalau segala emosi bersumber dari molekul berarti harus ada yang menggerakan molecular itu dan satu-satunya jawaban tentang siapa pengendali molekul didalam diri manusia adalah kesadaran yang mampu mengendalikan dirinya sendiri.

Setiap makhluk diberi kesempatan untuk memprogram kesadarannya untuk mampu mengendalikan jiwa dan jasad yang seharusnya sudah dia mampu kendalikan dari awal. Sayangnya dari awal kita sudah salah didik. Kita senantiasa belajar mengendalikan apa yang diluar bukan apa yang didalam. Padahal diri kita lah satu-satunya pengendali utamanya.

Sama halnya dengan bagaimana kita mengendalikan perasaan. Kita berusaha mati-matian untuk mengendalikan situasi di luar agar senantiasa sesuai keinginan kita. Akhirnya diri kita rapuh saat menghadapi begitu banyak kenyataan kalau semuanya tidak berjalan seperti apa yang kita mau.

Emosi menjadi tidak stabil lalu kita terjebak dalam derita perasaan yang sebenarnya hanyalah molekul yang kita buat sendiri.

Nah, pertanyaanya sekarang adalah bagaimana kita mampu membentuk kesadaran jiwa yang mampu mengendalikan segala emosi yang dihadapinya?

Sebenarnya bukan sekedar emosi yang dihadapi, tapi juga emosi yang dibuat oleh jasadnya sendiri. Ini karena emosi bukan apa yang kita lihat diluar, tapi apa yang kita bentuk didalam (silahkan baca artikel bagian 1)

Sahabatku… Semoga jawaban kami ini mampu membantu kita semua untuk mampu membentuk kesadaran jiwa ini. Perhatikanlah tiap kalimatnya dan resapilah kalau ini bukan sekedar tentang spiritualitas, ini juga merupakan saintific yang luput kita pelajari. Matimatika terlogis dari apa yang seharusnya kita pelajari di awal.

Tapi tidak pernah ada pelajaran yang terlambat selama ruh ini masih menghidupi kesadaran kita untuk mulai belajar menerima pelajaran. Kalau sampai mati kita harus belajar bersamaNYA, maka kenapa tidak? Lagi pula apa itu kematian saat segalanya memang hanya energy yang senantiasa hidup dalam keabadiaan?

Sahabatku… Kalau kita percaya ada sumber Maha Ilmu, maka jangan pernah melewati satu pun pelajaran yang sudah seharusnya kita terima. Pancarkanlah keingintahuan tanpa menilai apapun, karena penilaian kita akan menutupi ilmuNYA yang tidak pernah terbatas. MAHA itu tidak memiliki batas, maka jangan membatasi apapun tentang diri ini sahabatku… Kita adalah wujud ke-MahaanNYA dalam porsi yang seimbang-imbangnya. Teruslah belajar dan hasil pelajaran kita akan menyeimbangkan porsi yang lebih besar.

Jadi bagaimana kita mampu membentuk kesadaran jiwa yang mampu mengendalikan segala emosi yang dihadapinya?

Ada dua pelajaran penting yang mohon mulailah di pelajari. Apabila ada pertanyaan silahkan ditulis di comment.

 

pelajaran pertama : Kendalikan ego dengan pemakluman

Ego itu bukan perasaan. Ego itu terletak dan diprogram didalam salah satu bagian otak manusia. Bagian otak ini berhubungan langsung dengan tulang belakang dan terus menerus mengendalikan saraf tubuh manusia.

Bagian otak ini tidak belajar tapi selalu mengenali kebutuhan dan keinginan pemiliknya. Artinya, apapun yang kita butuhkan, maka bagian otak ini akan mengaktifkan seluruh organ jasad melalui saraf untuk memenuhinya. Termasuk keinginan kita untuk mengekspresikan emosi melalui perasaan.

Misalnya, membanting gelas saat marah. Meraung saat sedih. Membenci saat tersakiti. Membalas untuk mendendam. Melompat saat bahagia. Ada begitu banyak bagian detail otak dan sistem saraf tentang bagaimana hal ini terjadi, namun terlalu detail menjelaskannya hanya akan membuat rumit tulisan ini.

Hal yang harus kita ketahui adalah EMOSI ADALAH RACIKAN MOLEKULAR SEMENTARA PERASAAN YANG MUNCUL KE PERMUKAAN HANYA TERJADI KARENA BAGIAN DARI DIRI (EGO) BERPIKIR ITU MERUPAKAN SEBUAH KEBUTUHAN UNTUK DIRASAKAN.

Pemenuhan kebutuhan adalah alasan utama terbentuknya molekul kepuasaan, ego manusia senang dengan rasa puas ini karena itu merupakan tanda kalau dia (bagian otak ego) telah menyelesaikan tugasnnya dengan baik dan benar. Ini jelas bebahaya! Itulah kenapa kita butuh kesadaran yang mampu mengendalikan dengan baik bagian otak ini.

Kesadaran utama yang paling dibutuhkan adalah “pemakluman”

Sahabatku… Untuk mampu mengendalikan emosi dan tidak menjadi korban dari perasaan kita membutuhkan sesuatu yang disebut “pemakluman”

Sementara pemakluman hanya akan tercapai saat kita tahu bagaimana sistem pembentuknya dan fokus pada solusi terbaik bukan pada pemenuhan ego.

Artinya, saat dihadapi oleh emosi apapun, kita sudah sadar kalau segala emosi itu terbentuk oleh sistem jasadi kita. Emosi itu pun muncul agar kita mampu meresponnya dengan sebaik-baiknya.

Contoh sederhana. Coba tanyakan apakah perasaan marah itu merupakan solusi terbaik – Akal kita menjawab tidak bukan? Berarti kita harus mengendalikan kesadaran saat jasad kita membentuk molekul Epinefrin (C9H13NO3) atau adrenalin yang merupakan bahan kimia utama yang kita keluarkan ketika menjadi marah.

Apa yang harus kita lakukan adalah belajar menjadi maklum dengan molekul itu. Ucapkan secara sadar “oooh… aku sedang merasakan emosi marah” Lalu cobalah masuk dan mengendalikan bagian jasad lain yaitu otak ego yang terus merong-rong agar kita melampiaskan perasaan kemarahan itu. Caranya adalah dengan berpikir dengan akal. Mengaktifkan bagian otak neocortex yang bagi manusia sudah sengaja dibuat lebih besar dibanding otak ego oleh Dzat Maha. Fungsi bagian otak ini adalah agar manusia mampu menggunakan akalnya guna mengendalikan otak egonya.

Ini memang tidak mudah. Tapi dengan ilmu dasar yang sudah kita terima, seharusnya kita sudah mampu melakukannya. Bukan hanya saat jasad membentuk molekul emosi marah, tapi juga molekul kebahagiaan, molekul cinta, molekul puas dan molekul emosi lainnya.

Bisakah kita memaklumi emosi yang dibentuk oleh jasad? Bukan hanya itu tapi memaklumi sebab-akibatnya, memaklumi juga strategi kedepan yang akan dihadapi karenanya? 

Dari pengendalian dan pemakluman awal ini akhirnya kita mampu belajar ketingkat yang lebih atasnya lagi, yaitu mengatur koherensi jantung dan otak. 

 

pelajaran kedua : Koherensikan antara jantung dan otak

Artinya, mari kita menyeimbangkan antara jantung dan otak kita. Sehingga membentuk irama elektromagnetik yang selaras. Hingga akhirnya tercipta diri yang memiliki harmoni indah dan nyaman untuk bumi dan semesta.

Menjadi makhluk rahmat bagi semesta alam. Menjadi makhluk yang tidak memiliki kesedihan dan kecemasan. Menjadi makhluk yang menghadapi apapun dihadapan bersamanNYA. Menjadi makhluk yang berbahagia saat galau maupun saat senang. Menjadi makhluk yang berhasil memenangkan dirinya sendiri.

Menyelaraskan jantung dan otak guna membentuk irama elektromagnetik yang harmonis bukan pelajaran kedokteran atau fisika kuantum dan kimia. Melainkan pelajaran bagi setiap makhluk semesta. 100% ilmu pengetahuan dan bukan sekedar spiritualitas belaka.

Sayangnya mempraktekkan pelajaran ini belum akan tercapai kecuali kita mampu mengendalikan ego dengan pemakluman.

Namun izinkan kami menyampaikan secuil rahasia kecil disini untuk memotifasi kita semua.

Jadi begini, jantung itu adalah gerbang emosi, sementara otak adalah gerbangnya akal. Menyeleraskan kedua gerbang ini artinya menjadi nyaman dengan segala emosi dan mengaksikannya dengan akal yang jernih. Dari hasil penyelarasan kita ini, akhirnya menghasilkan elektromagnetik yang memancar.

Elektromagnetik ini bukan sembarang gelombang magnetic yang terhitung dan memancar begitu saja. Elektromagnetik ini adalah kesejahteraan dan keseimbangan bumi yang nantinya juga mempengaruhi semesta.

Dimulai dari apa yang dikendalikan oleh tiap diri menuju yang diluar diri. Inilah alasan besar kenapa Dzat Maha menyebut kalau tiap diri adalah khalifah fil ardh pemimpin bagi dirinya sendiri di muka bumi.

Seorang pemimpin harusnya menjadi penentu, termasuk penentu dari apapun perasaan yang dirasakannya.

Anda lah pemimpin itu sahabatku… Jadi sekarang molecular apa yang ingin Anda bentuk dan seperti apa Anda akan mengaksikannya? Ingat saja kalau bagaimana bumi kita juga tergantung dengan aksi Anda.

Emosi kita berharga… Begitu juga dengan perasaan ini juga berharga… Aksi kita dalam menghadapi dan mengendalikan keduanya sangat berharga.

Dzat Maha tidak pernah membuat kita dan aksi kita begitu sia-sia. Kita-lah yang mensia-siakannya sendiri. Karenanya hadapilah keduanya dengan kesadaran yang sempurna. Sempurna adalah milikNYA dan tidakkah DIA memiliki kita… Pahamilah sahabatku… dan semua rasa itu akan baik-baik saja.

Perasaan berawal dari emosi. Sementara emosi hanya molecular dan kesadaran kita lah pembentuk molecular itu… lalu kenapa sekarang emosi itu menjadi terlalu merongrong dan menyusahkan? Kemanakah kesadaran kita berada sahabatku…?

Kembalikan lagi kesadaran itu dengan pelajaran. Lalu raihlah kekuatan yang telah dianugerahkanNYA kembali. Dan jadilah pemimpin bumi yang terbaik bersamaNYA.

 

Salam Semesta

Copyright 2020 © www.pesansemesta.com

 


  • 0
  • Mei 24, 2020
admin16 admin16 Author

OFFICIAL CHANNEL



FREE E-BOOK

3# FREE DOWNLOAD E-BOOK - MENJADI AIR

DATABASE

COPYRIGHT

Seluruh artikel didalam website ini ditulis orisinil oleh tim penulis Pesan Semesta. Artikel yang kami share melalui website ini bukan hasil jiplakan, kutipan atau terjemahan.

Bagi pembaca yang ingin menghubungi penulis silahkan mengrim pesan melalui email : pesansemesta@yahoo.com


SALAM SEMESTA