Pesan Semesta.
melampaui batas menjadi satu

JAGA PIKIRAN ANDA AGAR TERUS BERGETAR NETRAL


Getaran energi itu kompleks. Meliputi materi apapun dan apa yang terpancar oleh materi itu sendiri. Setiap materi memiliki dan memodifikasi getarannya masing-masing, tidak terkecuali diri kita.

Apabila kita menghubungkan ini dengan pikiran dan otak, maka kita pastinya akan menemukan kalau otak dan pikiran adalah energi juga.

Otak dan bagian jasad lainnya terdiri dari banyak jaringan. Jaringan tersusun dari ribuan juta sel-sel. Sel-sel itu tersusun dari molekul. Molekul terbentuk dari atom dan atom terbentuk dari energi. Jadi, iya betul otak yang mengelola pikiran adalah atom yang kalau diurut mundur hanyalah wujud dari energi yang bervibrasi.

Begitu juga dengan pikiran. Pikiran adalah energi dalam getaran. Ketika kita memikirkan suatu pemikiran tertentu, sel-sel otak kita atau neuron akan bergetar (bervibrasi) pada frekuensi tertentu dan energi berkecepatan tinggi ini akan menarik apa pun yang kita kirim melalui pikiran.

Ilmu pengetahuan sekarang telah menemukan bahwa sifat pikiran adalah urutan kuantum. Pikiran berasal dari hasil getaran energi. Walaupun kedengarannya seperti konsep atau teori, ini adalah realitas baru yang diungkapkan fisika kuantum kepada kita.

Itulah kenapa pikiran kita memiliki pengaruh kuat pada kehidupan, dan itu juga alasan kenapa pikiran bergerak dengan membawa sifat-sifat energi didalamnya.

Salah satu sifat energi yang terbesar adalah NETRALITAS.

Energi itu Netral. Energi tidak menilai dan memihak. Energi hanya memberi DAYYA dan DHARMA sesuai arahan kesadaran. Anda adalah kesadaran. Anda bukanlah ego yang penuh keinginan dan tipu daya. Anda hidup dengan energi yang netral. Tentunya sebuah penghormatan untuk bergerak sesuai sifat energi yang menghidupi dan menggerakan setiap molekular yang membentuk diri.

Pertanyaannya, bagaimana memulainya?

Sahabatku… mulailah menjaga dan mengendalikan pikiran Anda sendiri terlebih dahulu. Itu adalah energi individu yang seharusnya bermain dibawah kendali Anda. Tugas Anda untuk menjaga agar pikiran Anda agar terus bergetar netral.

Salam Semesta

Copyright 2022 © wwww.pesansemesta.com

Follow https://www.instagram.com/pesansemesta.ig/

  • 0
  • Juni 30, 2022
admin16 admin16 Author

VIDEO MOTIVASI : BELAJAR MERUBAH DIRI

  • 0
  • Juni 21, 2022
admin16 admin16 Author

Buku Metamorphosa halaman 74

 



Buku Metamorphosa halaman 74 : Waktu tidak bisa melakukan apa-apa. Waktu akan selalu menjadi anak penurut. Begitulah SANG PENCIPTA menciptakannya, hanya agar kita tidak lupa untuk berubah dalam pusaran kasih sayangNYA.

Karena diciptakan netral. Waktu tidak membawa perubahan. Semestanya lah yang HARUS bergerak, berkembang dan berubah. Jadi semua tentang apa yang bisa kita lakukan di dalam waktu, bukan apa yang waktu lakukan kepada kita.

Waktu hanya melakukan satu hal berharga yaitu memberi kita kesempatan berubah, tapi waktu sendiri tidak pernah mendikte perubahan itu. Waktu akan terus menatap kita dalam kenetralan. Apapun itu yang kita lakukan, bahkan saat kita tidak memilih merubah apapun.

 

Salam Semesta

Copyright 2022 © www.Pesansemesta.com

https://bit.ly/PesanSemestaPublishing

Info buku dan order buku melalui whatsapp up Kang Wahid - 0813-2023-0283


  •  
  •  
  •  
  • 0
  • Juni 18, 2022
admin16 admin16 Author

MARI FOKUS MENINGKATKAN DIRI

 

Everyone thinks of changing the world, but no one thinks of changing himself.”  Leo Tolstoy

Kesadaran akan selalu meningkat berjenjang. Dahulu mungkin kita tidak peduli dengan lingkungan dan alam Bumi kita, lalu perlahan rasa peduli itu muncul.

Sekarang kita peduli, dan akibat kepedulian itu kita menyaksikan banyak hal yang tidak benar.  Mata kita pun berubah menjadi laser penilai yang tajam, dan kita pun tergerak ingin merubah dunia, tepat di saat diri kita belum meningkat.

Sahabatku… sebesar apapun keinginan diri untuk merubah dunia. Tetap, yang pertama kali harus dirubah adalah diri dahulu. Diri harus meningkat, sebelum merubah dunia.

Berniat merubah dunia itu baik. Ingin memperbaiki Bumi itu pertanda kalau kesadaran si khalifah Bumi sudah kembali peduli.

Namun jangan juga buru-buru. Dimana saking buru-burunya, diri malah hanya menempatkan keinginan sebagai keinginan. Sampai akhirnya keinginan membenahi Bumi tidak pernah terwujud apa-apa selain hanya menjadi keinginan.

Permainan pikiran pun muncul. Jasad pun mulai terkikis, jiwa pun semakin melemah, energy pun hanya terbuang percuma. Itukah kita sahabatku…?

Kalau bisa jangan. Jangan menempatkan diri untuk terburu-buru dalam proses. Selalu ingat kalau hidup di bumi adalah pelajaran bagi mereka yang mau mengambil pelajaran.

Harapan dan keinginan yang muncul adalah salah satu gerbang pembelajaran. Lalu ‘proses’ itu adalah pembelajaran itu sendiri. Semakin kita terfokus kepada proses, semakin kita banyak belajar.

Dengan berproses kita akan mengenal kemampuan diri dengan baik. Mengetahui kelemahan yang harus diperbaiki, lalu menghargai tiap titik pencapaian diri. Bersyukur pun menjadi lebih mudah.

Sebenarnya, seluruh keinginan merubah dunia itu tidak lebih penting ketimbang menjalani pelajaran-pelajaran kehidupan detik ini – saat ini agar kita bisa belajar. 

Semesta tidak bisa didikte dengan keinginan. Regulasi semesta akan bekerja sesuai hukum sebab akibat yang sudah ditetapkan. Butuh tim yang terpelajar untuk mewujudkan ini semua.

Selalu pahami kalau Dzat Maha tidak akan merubah sebuah kaum, kecuali kaum tersebut merubah dirinya sendiri.

Sebuah perubahan butuh pelajaran, kita butuh senantiasa belajar agar mampu merubah dan berubah.

 di sekolah kita yang sekarang, yaitu sekolah kehidupan, kita memang pasti mendapatkan gemblengan agar mampu terus meningkat.” – KDZA

Jadi sahabatku… Proses, proses dan proses.

Terus saja ikuti alur proses itu, meskipun hasil akhir mungkin sama sekali belum tampak.

Percayalah! Energi yang kita curahkan sepenuhnya dalam proses, tidak hanya akan menguatkan jasad namun juga jiwa kita. Saat ini kita hanya perlu mematuhi alur kalau DOA itu adalah Dinamis, Optimis dan Aksi.

Dengan kata lain doa itu adalah proses. Kalau kita berproses berarti kita sudah menjadi DOA kita sendiri. Dimana kita bergerak selaras dengan DOA itu sendiri. DOA tidak berada diluar kita tetapi bersama kita. Akhirnya kita pun akan semakin mendekatkan diri kepada wujud perubahan yang kita inginkan.

Tiap diri yang meningkat akan maju bersama-sama untuk merubah Bumi menjadi rumah yang lebih baik bagi kita semua. Mari fokus meningkatkan diri.

 

Salam Semesta

Copyright 2022 © www.Pesansemesta.com

https://bit.ly/PesanSemestaPublishing

Follow : https://www.instagram.com/pesansemesta.ig

Subscribe : https://www.youtube.com/c/pesansemesta

  • 0
  • Juni 16, 2022
admin16 admin16 Author

SAATNYA MEMBACA DIRI

 


Dalam keberadaannya diri ini sudah menjadi database ilmu yang lengkap. Pertanyaan-pertanyaan yang luput dari penjelasan semuanya sudah berada lengkap dalam tiap diri kita. Dari mulai data, proses, serta fungsi dan tujuan semuanya sudah terekam dan terbawa dalam tiap diri kita masing-masing. 

Dan keseluruhan data informatif itu bersifat otentik dan unik sesuai dengan tujuan kesemestaan kita masing-masing. Tidak tertukar dan tidak juga pernah sama. 

Keunikan semesta sudah bernar-benar terdokumentasi dengan baik dan sempurna di tiap diri kita masing-masing.

Intinya, diri ini sudah menjadi database ilmu semesta yang lengkap. Saatnya membaca diri. Saatnya kembali menjadi pelajar semesta”

Sama seperti sifatnya database. Setiap database butuh reader (pembaca). Database yang berisi data apapun tidak akan berguna datanya kalau tidak dibaca. Karena setiap data yang sengaja dikumpulkan, selalu dikumpulkan dengan maksud dan tujuan yang melengkapi sebuah system. 

Apabila sebuah program atau user gagal membaca database dengan baik, maka akan terjadi crash pada system. Hal ini juga berlaku bagi manusia. Tubuh dan jiwa ini memiliki system yang dilengkapi oleh database super kompleks.

Database yang berada dalam diri mengandung seluruh informasi tentang keberadaan diri dan keberadaan Sang Pembuat diri. Karena itu kita jangan sampai gagal membacanya. 

Membaca diri yang adalah semesta akan menjadi tugas seorang pelajar yang harus dilakukan. Membiarkan diri men-skip pelajarannya sendiri tidak akan pernah baik. Hidup akan selalu menjadi setingkat lebih sulit saat kita tidak mampu mempelajari diri sendiri.

Hidup ini adalah kamuflase tempat manusia untuk belajar dan menjadi pelajar. Bumi ini adalah dimensi awal bagi tiap-tiap kita untuk menyebar hasil pelajaran. Begitu juga nanti dalam dimensi-dimensi yang lainnya. Selamanya kita seharusnya menjadi murid abadi yang senantiasa mempelajari ilmunya Sang Pembuat.

Semua adalah pelajaran-pelajaran. Semua adalah ilmu-ilmuNYA.  Setiap kita hidup sebagai seorang pelajar. Setiap pelajar memiliki pilihan untuk belajar atau tidak belajar. Itulah kenapa, memang manusia akan terus ditakdirkan menjadi manusia yang ber-ilmu selama dirinya belajar.

 

Salam Semesta

Copyright 2022 © www.Pesansemesta.com

Follow : https://www.instagram.com/pesansemesta.ig

Subscribe : https://www.youtube.com/c/pesansemesta

  • 0
  • Juni 09, 2022
admin16 admin16 Author

SPIRITUAL ENLIGHTENMENT - MEMAHAMI PENCERAHAN SPIRITUAL



Seorang sahabat bertanya “Saya ini seorang yang tidak mempercayai agama. Apakah mungkin saya menjadi seorang spiritualis sejati?” Melalui izinNYA kami menjawab.

Kami hanya akan mencoba menemukan jawaban yang netral. Jadi ini bukan mungkin atau tidak mungkin. Segalanya adalah sebab akibat. Semesta hidup dalam dua nilai yang terseimbangkan.

Semoga tulisan sederhana ini menjadi pengetahuan netral semesta yang mampu mencerahkan setiap semesta yang masih terjebak dalam pengertian yang keliru untuk menemukan pencerahan spiritualnya masing-masing.

Sahabatku… Kekeliruan kecil kita selama ini adalah mengkaitkan Tuhan dengan agama. Itulah kenapa banyak dari kita yang terjebak dengan persepsi kalau untuk menjadi spiritual harus beragama, dan seseorang yang beragama sudah pasti spiritualis.

Mulai sekarang, tolong jangan lagi berpikiran kalau spiritualitas dan agama adalah sama. Memeluk agama tidak bisa menjadi tanda dari spiritualitas. Yang sebenarnya adalah, memeluk agama itu merupakan tanda dari religiusitas dan bukan spiritualitas.

Meskipun agama menekankan spiritualisme sebagai bagian dari iman. Tetaplah seseorang yang religius belum tentu spiritualis. Begitu juga kalau dibalik, seseorang yang sipiritualis belum tentu harus religius.

Spiritual adalah bergerak sebagai rahmatNYA bagi semesta alam. Spiritual tidak menghamba nama agama, melainkan menghamba langsung kepada Dzat Maha.

Perhatikanlah semesta kita, bukankah semesta kita ini tidak beragama? Tetapi, dalam ketidakjelasan agamanya kalau kita memperhatikan, semesta kita bergerak sesuai dengan aturan-aturan yang dibentuk oleh pembentukNYA. 

Mereka patuh kepada tugas dan fungsi mereka masing-masing. Mereka tidak merusak. Mereka hidup untuk memakmurkan. Mereka konsisten agar gerakan mereka adalah gerakan rahmatNYA bagi semesta alam.

Jangan jauh-jauh mencari contoh. Perhatikan saja detak jantung kita saat ini, berdetak pastinya. Faktanya, jantung umat manusia memiliki sistem operasi yang sama, meskipun mereka berbeda agama atau tidak beragama sekalipun. Atau perhatikan matahari yang terbit dan terbenam itu, apakah dia memilih satu area untuk disinari hanya berdasarkan agama?

Dari dua contoh ini saja kalau kita netral, maka kita bisa paham, kalau keniscyaan semesta tidak memandang apa itu agama kita, atau apa itu keyakinan kita. Tidak juga memandang siapa nama Tuhan yang kita sebut dan yakini. Bahkan keniscayaan semesta seakan tidak peduli apakah kita ini semesta yang spiritual atau tidak spiritual.

Sahabatku… Begitulah adanya, keniscayaan semesta itu adalah kenetralan absolut yang akan terlihat oleh akal yang mau melihat, yang akan terdengar oleh akal yang mau mendengar. Kalau sudah terlihat dan terdengar, maka kita akan paham kalau semesta ini seakan-akan mau menunjukkan bahwa Dzat Maha itu memang tidak butuh disembah.

Jadi yang paling baik yang manakah… Beragama atau spiritualis? Tentunya benak kita bertanya-tanya seperti itu bukan?

Sahabatku… Di dalam perbedaan manusia dalam berkeyakinan, baik itu memeluk agama atau tidak memeluk agama. Kita harus mau belajar memahami nilai-nilai keniscayaan semesta agar kita tidak saling menyalahkan atau membenarkan. Sekali lagi, ini adalah pembahasan yang netral. Apapun agama yang kita peluk, pastinya mengajarkan kita untuk mampu melihat kenetralan semesta dan hidup di dalamnya.

Artinya, beragama atau tidak beragama setiap kita bisa menjadi spiritualis sejati. Kami tidak akan menjawab salah satunya lebih baik. Karena kebaikan hanyalah wajahNYA. Dari Dia-lah segala kebaikan hadir, jadi kami tidak akan menilai apa itu baik sebagai sebuah penghormatan kepada Dzat Maha Baik Pembuat nilai-nilai kebaikan itu sendiri.

Sebelumnya perlu dipahami kalau spiritualis sejati itu bukanlah sebuah pengakuan yang bisa dipublikasi. Bukan nama agama yang bisa ditulis. Bukan baju yang bisa memberi gelar.

Spiritual adalah jalinan khusus dimana seseorang telah berhasil menemui diriNYA didalam dirinya. Hasil dari penemuan ini adalah pembelajaran. Jadi seorang spiritual adalah seseorang yang sadar sedang belajar dan berguru.

Seorang spiritual sejati tidak akan bisa mengakui spiritualitasnya. Itu terjadi karena memang mereka sendiri masih menjadi seorang pelajar. Sebagai seorang pelajar tidak ada lagi nilai yang mereka kejar, selain mereka terus berguru dalam penghambaan yang ikhlas, dan itulah wujud kesejatian.

Jadi spiritual sejati adalah seseorang yang belajar dan berguru kepadaNYA. Kalau kita mau bertanya, dengan apakah mereka belajar? Jawabannya adalah dengan segala apa yang diperlihatkan, diberasakan, didengarkan dan diberpikiran olehNYA termasuk dirinya sendiri. 

Sahabatku... Dirimu adalah jembatan spiritual yang panjang. Setiap makhluk adalah spiritual. Kita ini adalah ikatan yang selalu terikat denganNYA... Bahkan untuk seorang Atheis pun spiritual adalah keberadaan yang nyata yang harus dikenalinya. Pengenalannya adalah melalui mengenal diri terlebih dahulu.

Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka akan mengenal tuhannya. Itulah mengapa mengenal diri selalu relevant dari generasi menuju generasi.

Al-Ghazali dalam kitabnya Kîmiyâ’us Sa‘âdah mengatakan bahwa mengenal diri adalah kunci untuk mengenal Tuhan. Al-Ghazali berkata “Logikanya sederhana: diri sendiri adalah hal yang paling dekat dengan kita; bila kita tidak mengenal diri sendiri, lantas bagaimana mungkin kita bisa mengenali Tuhan? Imam al-Ghazali juga mengutip hadits yang berbunyi “man ‘arafa nafsah faqad ‘arafa rabbah” (siapa yang mengenal dirinya, ia mengenal Tuhannya)

Pada tahun 1831, Ralph Waldo Emerson menulis puisi berjudul "Γνώθι ", atau Gnothi Seauton ('Kenali Dirimu'), dengan tema "Tuhan di dalam dirimu". Puisi itu adalah lagu kebangsaan bagi keyakinan Emerson bahwa mengenal dirimu sendiri berarti mengetahui Tuhan yang Emerson rasakan ada dalam diri setiap orang. Jaluddin Rumi juga pernah berkata “Jangan melihat ke luar. Lihatlah ke dalam diri sendiri dan carilah itu.” Phytagoras juga memahami kalau dengan mengenal diri, maka seseorang akan mengenal semesta dan Dzat Maha.

Menurut kami Phytagoras dan yang lainnya tidak mengucapkannya secara berlebihan. Memang hanya itu yang akan kita dapat dari mengenal diri, plus beberapa bonus dahsyat lainnya. Kami sebut bonus karena meski terdengar sangat remeh. Namun mengenal diri adalah sebuah kunci menuju pintu lain dari ekstensi manusia yang otentik.

Bisa disimpulkan kalau mengenal diri adalah sebuah cara bagi manusia untuk menemukan makna keberadaan dirinya dan Pembentuk dirinya ditempat yang sama. Apakah ini tentang agama? Jawabannya, adalah Tidak!

Mengenal diri, mewaspadai diri, mengendalikan diri bukan tentang agama apapun. Tetapi tentang menghargai keberadaan diri yang sudah dibuat oleh Sang Maha Menjadikan. Kalau kita menyakini Dzat Maha atau tuhan kalau kita mentuhankanNYA itulah yang membuat tiap diri menjadi ada, terlepas dari apapun agamanya. Maka tidaklah itu kecuali awal dari keyakinan yang sebenarnya.

Agama bisa saja dituduh salah atau bisa saja melakukan kesalahan. Tapi keberadaan diri kita tidak pernah salah. Cara Dzat Maha membuat kita ada untuk melengkapi semesta raya ini tidak pernah salah. Jadi sudah sewajarnya untuk menghormati Sang Maha Menjadikan kita mengenal diri, mewaspadai diri dan mengendalikan diri yang dijadikan olehNYA itu, bukan?

Faktanya kita tidak akan bisa lagi menghormati Sang Maha Menjadikan, kalau bahkan apa yang Dia jadikan ini, apa yang Dia bentuk ini, apa yang Dia amanahkan ini sengaja kita acuhkan seperti kita mengacuhkan sehelai daun kering yang rontok ditengah hujan deras. 

Sahabatku… Saat akal ini sudah mampu menggiring pemiliknya untuk menemui Dzat PembuatNYA, maka akal ini akan paham betul kalau proses hidup ini detik demi detiknya tidak akan pernah terlepas dariNYA.

Akhirnya iman bisa terbentuk dan menguat, sehingga seseorang itu mampu memahami kalau segala apa yang dia lihat, dia rasa, dia dengar dan dia pikirkan selalu berhubungan langsung denganNYA.

Akhirnya dia paham, kalau memang Dzat Maha lebih dekat dari urat nadi. Dzat Maha adalah segala tentangnya. Tidak ada detik kecuali bersamaNYA. Seperti sepasang dua bilik jantung yang menyatu. Seperti dua belah otak yang menyatu. Tanpa sela dan tanpa halang kecuali bersamaNYA. Indah dan manis, begitulah apa adanya kita menjadi hambaNYA.

Sahabatku… Sebagai orang yang menghamba, pastilah kita akan menurut kepada yang dituhankan. Inilah artinya kesucian spiritual, yaitu saat seseorang berguru kepadaNYA dalam penghambaan yang ikhlas.

Ikhlas menghamba, artinya kita tidak lagi memandang agama sebagai tuhan, melainkan hanya sebagai aturan yang kita hormati tapi tidak lagi kita tuhankan. Karena kita hanya mentuhankan Dzat Maha yang harusnya kita tuhankan, dan tidak lagi mentuhankan agama.

Sekali lagi, spiritual adalah bergerak sebagai rahmatNYA bagi semesta alam. Spiritual tidak menghamba nama agama, melainkan menghamba langsung kepada Dzat Maha. Mohon peganglah ini sebagai pencerahan yang cerah dari segala tujuan kita memilih, baik itu memilih spiritual saja atau beragama plus juga spiritual.

Apapun pilihan yang kita pilih setiap kita sejatinya memang bisa menjadi spiritual sejati. Baik itu yang tidak menganut agama, ataupun yang beragama. 

Sahabatku... Mohon jangan tersinggung dengan tulisan kami. Apabila tidak sesuai dengan keyakinan yang Anda nilai benar, maka biarkanlah apa adanya seperti ini. Keniscayaan semesta tidak hadir untuk memenuhi nilai yang Anda nilai benar.

Lagi pula dimana letaknya iman saat kita masih mencecar apa yang benar dan yang salah? Apakah kebenaran itu masih penting, padahal yang paling penting di antaranya adalah Iman “Rasa kita memilikiNYA... Rasa kita menyatu dengaNYA... Rasa kita selalu bersamaNYA” 

Pikirkanlah... Apakah benar dan salah menurut manusia itu masih penting, kalau ternyata kita sudah benar, karena telah memiliki rasa?

Simpanlah jawabannya untuk merasakan sahabatku… 

Akhir kata mohon pahami kalau kita tidak beriman untuk menjadi spiritual. Kita justru menjadi spiritual untuk menjadi beriman. Jangan dibalik agar pencerahan ini menjadi jelas dan nyata. 

 

Salam Semesta

Copyright 2022 © www.pesansemesta.com

Follow : https://www.instagram.com/pesansemesta.ig

Subscribe : https://www.youtube.com/c/pesansemesta

 

  • 0
  • Juni 04, 2022
admin16 admin16 Author

FREKUENSI KESADARAN MEMPENGARUHI BUMI



Terasa atau tidak terasa. Diyakini atau tidak diyakini. Kita hidup dalam lautan frekuensi yang kita buat sendiri. Itulah kenapa disebutkan “AKU tergantung prasangka hambaKU” yang mana artinya manusia sudah sepaket dengan nasib mereka sendiri. Tergantung dari bagaimana TINDAKAN mereka sendiri.

Kesadaran manusia menentukan bagaimana seluruh molekular tubuhnya memancarkan frekuensi. Lalu hasil dari pancaran frekuensinya inilah mereka akan mempengaruhi Bumi. 

Dalam kesadaran setiap tindakan bergerak dan membentuk frekuensi. Bagaimanapun frekuensi kesadaran manusia akan selalu mempengaruhi tempat yang harus dipimpinnya, yaitu Bumi.

Tubuh kita adalah mesin molekular. Sementara setiap molekul memiliki frekuensinya masing-masing. Sudah menjadi kodratnya, setiap frekuensi molekular akan senantiasa terpengaruhi oleh kesadaran.

Sebagai energi manusia selalu menarik frekuensi sesuai dengan frekuensi apa yang mereka pancarkan. Sementara elektromagnetik manusia adalah apa yang menjadi dasar geomagnetik bumi.

Apabila molekular tubuh kita menghasilkan gerakan frekuensi tertentu maka Bumi juga akan merasakan efek tertentu. Gerakan molekular adalah keterhubungan yang mempengaruhi. Jejak langkah kita diatas Bumi ini adalah keterhubungan dalam ketersalingan dengan Bumi itu sendiri.

Bumi bukan sekedar tanah bulat berbentuk bulat yang kita sebut planet. Bumi adalah kehidupan dalam kehidupan. Sama seperti kita, manusia juga adalah kehidupan dalam kehidupan. Setiap kehidupan dalam kehidupan akan selalu senantiasa menyatu dalam jalinan yang menyatu. Begitulah semesta dalam wujud yang apa adanya.

Dalam jalinan selalu ada timbal-balik. Maksud dari timbal-balik disini adalah frekuensi yang saling menarik untuk menerima. Kita tidak dapat memiliki pengalaman apapun di planet ini tanpa menariknya melalui frekuensi dan memancarkannya pula melalui frekuensi.

Setiap emosi, termasuk cinta dan benci yang baru kemarin kita bahas masing-masing memiliki frekuensi tertentu. Kesehatan memiliki frekuensi tertentu. Penyakit memiliki frekuensi tertentu. Tiap organ manusia disetel dalam frekuensi tertentu. Kehidupan adalah simfoni frekuensi.

Fakta ini membuat kehidupan kita saling terjalin erat, bukan hanya dengan sesama manusia saja, namun juga terhadap seluruh makhluk bumi lainnya, dan juga termasuk bumi itu sendiri. Jalinan itu terjalin otomatis dari setiap kehidupan kepada kehidupan.

Medan elektromagnetik ada di mana-mana, manusia sendiri adalah penghasil dan pemancar elektromagnetik yang aktif. Setiap gerakan, emosi dan tindakan kita memancarkan gelombang elektromagnetik yang berbeda-beda.

Gelombang elektromagnetik adalah fenomena fisik hasil dari pergerakan molekular yang tadi kita bahas di awal. Masuk kedalam molekul pada tingkat mikroskopik atom, elektron bermuatan partikel terus bergerak di sekitar inti atom, sehingga menciptakan medan magnet.

Itulah kenapa hewan, tumbuhan, bahkan benda yang kita anggap mati seperti batu dan air pun kalau diukur mengeluarkan elektromagnetik dengan berbagai ukuran angka. Jadi ini bukan tentang manusia dan bumi saja, tetapi tentang segalanya. Semesta adalah lautan energi yang dibentuk.

Gelombang elektromagnetik ini sendiri dapat diukur melalui alat tertentu dengan efek yang dapat diamati dengan jelas. Kita bisa membeli alat ini secara umum, dari alat ini kita akan melihat bahwa semuanya benar-benar memiliki medan magnet, termasuk juga Bumi.

Medan magnet bumi, dikenal dengan nama medan geomagnetik, yaitu medan magnet yang memanjang dari iner core bumi ke luar angkasa, tempat bumi bertemu angin matahari, aliran partikel bermuatan yang berasal dari matahari. Tetapi medan magnet matahari tidak sampai situ saja, tetapi meluas jauh ke luar angkasa melampaui Pluto dan seterusnya.

Perpanjangan medan magnet matahari yang jauh ini disebut bidang magnet antarplanet atau Interplanetary Magnetic Field (IMF). Apa yang sedang kita bahas disini, masih jalinan dalam ruang lingkup yang masih sangat sempit. Masih ada ruang lingkup luasnya yang bisa terpelajari.

Jadi kalau kita bertanya; Apakah memang benar kita ini terhubung dengan bumi melalui frekuensi? Jawabannya adalah iya, manusia dan Bumi terhubung. Elektromagnetik manusia dan geomagnetik Bumi saling terhubung dan saling memberi pengaruh.

Lalu bagaimana frekuensi kita membawa pengaruh bagi Bumi? Jawabannya adalah dengan seluruh pergerakan jasad yang dikendarai oleh kesadaran.

Jadi begini sahabatku… Jantung manusia adalah sumber kuat elektromagnetik yang bahkan beberapa meter jauhnya dapat dideteksi oleh instrumen ilmiah modern. Jantung manusia terhubung secara ekslusif dengan otak. Sementara otak terkendalikan oleh kesadaran.

Secara stimulant kita memancarkan medan elektromagnetik non stop. Nah, sebenarnya medan elektromagnetik jantung berisi informasi atau kode tertentu. Informasi dan kode tertentu ini ditransmisikan ke seluruh dan di luar tubuh, kepada seluruh makhluk Bumi, termasuk ke Bumi.

Hasil percobaan menunjukkan, ketika orang menyentuh atau berada dekat dengan sesuatu atau seseorang, terjadi pemindahan energi elektromagnetik yang dihasilkan oleh jantung. Perpindahan ini bukan hanya terjadi antar sesama manusia, namun sesama makhluk bumi dan bumi.

Kita ambil contoh yang berhubungan dengan beberapa pembahasan kita sebelumnya, yaitu emosi cinta dan benci. Dengan cinta seseorang mampu menarik frekuensi gembira, damai, bahagia, bersyukur. Dan dengan benci seseorang mampu menarik frekuensi marah, cemburu, sedih, bersalah, malu, kepedihan.

Sayangnya rasa cinta atau benci yang kita pancarkan tidak hanya untuk diri kita sendiri, melainkan untuk seluruh makhluk dan planet Bumi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa ketika kita memancarkan emosi, jantung kita menghasilkan gelombang elektromagnetik yang akan diterima oleh bumi. Lalu frekuensi geomagnetic bumi memancar menuju magnet antar planet.

Ini adalah bukti kuat penelitian yang menunjukan bahwa kita memang satu dengan semesta. Sebuah bukti koneksi raksasa kehidupan. Sains telah membuktikan sendiri bahwa kita semua adalah bagian dari jaringan koneksi raksasa yang tidak hanya mencakup kehidupan di planet ini, tetapi seluruh tata surya kita dan apa yang ada di baliknya.

Semakin banyak orang yang memancarkan emosi yang sama, maka mereka seperti membangun medan energik besar untuk bumi dan makhluk bumi lainnya. Berarti misalkan semakin banyak kebencian maka sedikitnya akan mempengaruhi yang lainnya juga dan dapat berkontribusi pada perubahan global yang sedang berlangsung.

Ini terjadi karena medan magnet bumi adalah pembawa informasi yang relevan secara biologis yang menghubungkan semua sistem kehidupan. Dan sudah kita ketahui bersama kalau sistem kehidupan terdapat hukum sebab-akibat. Jadi apapun frekuensi yang kita lakukan akan membawa kita mendekat kepada sebab-akibat tertentu.

Selama ini mungkin kita mengira bumi tidak merasakan kebahagiaan, kebaikan, ketenangan, kesedihan, kejahatan, yang semua berasal dari kebencian hati kita. Padahal sebenarnya bumi tahu dan merasakannya juga. Bahkan sebenarnya bumi yang lebih tahu terlebih dahulu.

Jadi apa yang bisa kita lakukan kepada Bumi saat ini sahabatku…?

Einstein berkata, “Semuanya adalah energi dan hanya itu yang ada padanya. Cocokkan frekuensi kenyataan yang Anda inginkan dan Anda tidak bisa tidak mendapatkan kenyataan itu. Tidak bisa dengan cara lain. Ini bukan filsafat. Ini fisika.” 

Bagaimana kalau kita mulai membentuk kesadaran untuk memancarkan frekuensi terbaik bagi Bumi. Ingatlah… ibarat dua bilik jantung yang berdegup bersamaan. Begitulah kita dan Bumi.

 

Salam Semesta


Copyright 2022 © www.pesansemesta.com

Follow : https://www.instagram.com/pesansemesta.ig

Subscribe : https://www.youtube.com/c/pesansemesta

  • 0
  • Juni 01, 2022
admin16 admin16 Author

OFFICIAL CHANNEL



Kontak Order Buku

Online Order


Up Kang Wahid :


Up Kang Edy :

DATABASE

COPYRIGHT

Seluruh artikel didalam website ini ditulis orisinil oleh tim penulis Pesan Semesta. Artikel yang kami share melalui website ini bukan hasil jiplakan, kutipan atau terjemahan.

Bagi pembaca yang ingin menghubungi penulis silahkan mengrim pesan melalui email : pesansemesta@yahoo.com


SALAM SEMESTA

Total Tayangan Halaman