Pesan Semesta.
melampaui batas menjadi satu

Ber-DOA adalah ber-AKSI








Siang ini saya sangat berharap bisa memakan semangkuk bakso yang segar. Saya sudah membayangkan kuah bakso yang becampur dengan sambal. Hmm, air liur saya menetes. Saya selalu ingat bahwa DIA adalah pengabul segala doa. Maka saya mulai berdoa “Andai saya bisa memakan semangkuk bakso hari ini”.

Lalu DIA memberi saya ide untuk melangkahkan kaki saya keluar rumah. Berjalan beberapa meter dan belok kanan, sampai didepan warung bakso. Tidak berhenti disana, saya pun melangkah masuk lalu duduk disalah satu bangku yang tersedia di warung bakso itu. Sekitar lima menit saya duduk, lalu DIA memberi saya ide lagi. Oiy.. ternyata diwarung bakso ini saya harus memesan dulu didepan, baru baksonya akan dibawakan. Baiklah, maka saya pun bangun dan melangkah lagi menuju penjaga baksonya. Saya pun akhirnya memilih menu yang saya inginkan dan kembali ke bangku yang tadi. Tidak sampai lima menit seorang pegawai datang membawa semangkuk bakso panas yang tampak sangat lezat.

Wow inilah se-mangkok bakso saya! Yes, saya seruput kuahnya dengan sendok, hmm hambar tidak pedas. Lalu DIA memberi saya ide lagi untuk mengambil botol sambal yang berada diujung meja. Saya ambil dan saya tuang sambal itu ke dalam mangkuk bakso saya, lalu saya aduk. Kembali saya icip dan YES!, inilah bakso yang sedari tadi saya harapkan. Aku bersyukur kepadaNYA, doa saya memakan semangkuk bakso pedas terkabul!
Tampak remeh kah cerita diatas dimata Anda? Baiklah, kalau begitu saya akan rubah dengan versi lain, yaitu versi kedua :


Siang ini saya sangat berharap bisa memakan semangkuk bakso yang segar. Saya sudah membayangkan kuah bakso yang becampur dengan sambal. Hmm, air liur saya menetes. Saya selalu ingat bahwa DIA adalah pengabul segala doa. Maka saya mulai berdoa “DIA Andai saya bisa memakan semangkuk bakso hari ini”. Dalam sekejap mata, turunlah semangkok bakso dari langit tepat diatas telapak tangan saya, lengkap pula dengan sambalnya dan sudah diaduk. YES!, inilah bakso yang saya harapkan. Aku bersyukur kepadaNYA, doa saya memakan semangkuk bakso pedas terkabul!


Paragraf cerita kedua menjadi lebih pendek ternyata. Tapi, mana yang tampak nyata buat kita. Cerita yang pertama atau versi cerita yang kedua? Yang pertama? Baiklah kalau begitu jangan kita meremehkan cerita yang pertama.

Sahabatku… Renungkanlah... Bahwa segala sesuatu memang telah dibuat nyata olehNYA. Tapi tidak secara otomatis. Kita harus bergerak! Berdoa bukan tentang bait-bait mantra. Berdoa adalah sekumpulan AKSI DINAMIS yang dijalankan secara OPTIMIS dan kepercayaan bahwa diri ini selalu bersamaNYA..

Fitrah manusia bukan untuk diam saja dan menyusun harapan. Fitrah manusia adalah untuk ber-aksi. Roda kehidupan hanya bermuara pada AKSI-AKSI. Begitupun dengan doa bermuara pada AKSI juga. Tanpa aksi apalah kita selain kumpulan kehampaan.

Hidup ini dibangun oleh aksi-aksi, inilah berdoa yang sebenarnya, bukan sekedar harapan-harapan yang dipanjatkan secara optimis karena DIA akan mengabulkan. Apakah kita akan bersembunyi dibelakang tameng bahwa DIA adalah pengabul segala doa. Lalu kita menjamin diri, ber-optimis bahwa harapan-harapan kita akan dibuat nyata secara otomatis?

Apabila kita benar-benar optimis bahwa DIA akan mengabulkan segala harapan, maka kita pasti akan ber-Aksi. Harapan-harapan kita tidak akan berwujud apa-apa selain wujud nyata kehampaan. Apabila kita tidak pernah mengikuti ide-ide DIA untuk mewujudkannya.

Sahabatku… Mulai sekarang jangan menjadikan doa sebatas mantra-mantra agar DIA mengabulkannya tanpa kita melakukan apa-apa. Berdoa artinya dinamis, dengan kata lain penuh dengan harapan-harapan menuju perbaikan. Berdoa bukan sekumpulan bait-bait mantra yang hampa. Tapi sekumpulan harapan yang hidup.

Harapan yang hidup adalah harapan yang di-aksikan. Mana yang lebih hampa; orang yang menyerahkan harapannya didepanNYA begitu saja, atau mereka yang menempatkan harapannya ditempat yang benar dan terus beraksi bersamaNYA untuk mewujudkan harapan-harapan itu ?

DIA membiarkan kita membuat harapan-harapan bukan untuk membiarkan kita berdiam diri dalam kesendirian. Tapi untuk menemani kita mewujudkannya. Membantu kita memunculkan sifat optimis didalamnya. Memberikan ide-ide aksi tentangnya. Lalu membuat kita tersenyum dan berkata “Terimakasih telah telah menemaniku dalam berharap, menemaniku dalam beraksi, lalu membuat harapan-harapanku menjadi nyata. Aku sangat ber-bahagia”

Sekali lagi, berdoa bukan tentang bait-bait mantra. Berdoa adalah sekumpulan AKSI DINAMIS yang dijalankan secara OPTIMIS dan kepercayaan bahwa diri ini selalu bersamaNYA. Lalu apa DOA kita hari ini? Mari kita koreksi dulu doa-doa itu. Tuliskan harapan-harapannya, temukan sisi dinamisnya. Hadirkan optimisme nya dan lakukan aksi-aksinya.


Salam Semesta

  •  
  • 0
  • Maret 31, 2019
admin16 admin16 Author

Cara mendidik anak agar mampu memiliki nilai-nilai kehidupan









Sahabatku... Para orang tua yang bijak, ketahuilah bahwa nilai-nilai kehidupan tidak akan didapat oleh si anak, apabila kita masih meminta mereka untuk menerima nilai tinggi diatas kertas rapotnya. Nilai-nilai kehidupan tidak akan bisa didapat oleh si anak, apabila kita masih memaksa mereka untuk takut kepada kita dan gurunya. Nilai-nilai kehidupan tidak akan bisa didapat oleh si anak, apabila kita masih menanamkan arti cita-cita sebagai sebuah pekerjaan bukan sebuah dedikasi.

Apa yang kita tanamkan kepada anak, itulah yang nantinya akan mereka miliki. Sampai nanti mereka mampu mengembangkan sayap kesadaran mereka sendiri.

Lalu apa itu nilai-nilai kehidupan? Nilai-nilai kehidupan adalah ajaran semesta untuk menjalani hidup yang saling berdedikasi untuk sebuah keharmonisan. Kehidupan adalah sebuah kesatuan. Kesatuan berarti kemajemukan. Menjadi hidup artinya menjadi siap untuk saling memakmurkan sesuai dengan fitrah dan nilai diri masing-masing.

Namun, sudahkah kita sebagai orang tua mengerti hal ini? Kalau belum, berarti sekarang bukan waktunya mencari cara mendidik anak agar mampu memiliki nilai-nilai kehidupan. Tapi mencari cara agar kita, para orang tua-lah untuk paham dan mencapai nilai-nilai kehidupan itu terlebih dahulu. Dan satu-satunya cara adalah kembali belajar kepadaNYA, bukan kepada nilai-nilai manusia.

Sahabatku... Selama ini secara sadar, kita membuat toleransi yang sangat besar untuk tidak memprioritaskan nilai diri sendiri, melainkan nilai-nilai dari luar diri. Mari kita kembali melihat cara kita menilai diri selama ini. Apakah kita meng-amini, bahwa diri kita adalah unik dan masing-masing kita memiliki kompleksitas serta prioritasnya sendiri-sendiri?

Mungkin lebih jelasnya seperti ini. Untuk apa kita menikah? Untuk apa kita bekerja? Untuk apa kita menjadi kaya? Untuk apa kita memiliki anak? Untuk apa anak kita menjadi pintar? Harus diakui, kita melakukan itu semua untuk memenuhi nilai-nilai yang dibuat oleh sesama manusia.

Kita harus jujur. Kalau kita tidak menikah, maka kita akan dibilang tidak menarik. Kalau kita tidak bekerja, maka kita akan dibilang pengangguran. Kalau kita miskin, harga diri kita akan jatuh dimata manusia. Kalau kita tidak memiliki anak, maka kita akan dibilang mandul. Kalau anak kita tidak sekolah, maka mereka akan menilai anak kita bodoh.

Seumur hidup ini, kita selalu menempatkan diri didalam kotak kaca transaparant dan mempersilahkan siapa saja untuk lewat dan menilai isinya. Apapun kita lakukan agar penilai-penilai yang lewat senang dan bangga dengan apa yang mereka lihat. Posisi kita tidak pernah tergerak untuk merumuskan dan melakukan segala sesuatunya berdasarkan nilai diri kita sendiri. Secara sadar kita membiarkan hidup berjalan hanya untuk mendapatkan nilai ‘normal’ dimata manusia yang lain.

Jadi sekalinya kita memprioritaskan sesuatu dalam hidup, sesuatu yang kita prioritaskan bukan untuk nilai diri kita sendiri. Namun untuk nilai-nilai orang lain. Itulah kenapa, meski merasa telah memiiki prioitas, tapi kita tidak berbahagia dengan hasilnya. Ada kekosongan didalam jiwa yang masih mencari-cari. Kekosongan itu terasa, karena kita belum berfungsi sebagaimana kita dibuat. Setiap kehidupan memiliki fungsi, karena setiap kehidupan adalah semesta itu sendiri. Jadi karena kita adalah bagian semesta, maka kita memiliki fungsi didalam semesta. Selama kita menuruti nilai-nilai manusia, selama itu fungsi kita belum akan jelas terlihat. 

Lalu bagaimana kita bisa mengajarkan anak-anak kita nilai kehidupan, apabila diri para orang tuanya sendiri masih butuh mengerti apa itu nilai dirinya sendiri. Apakah mungkin orang tua yang belum mengerti ini mengajarkan pemahaman yang belum mereka pahami? Lalu siapa yang seharusnya belajar sekarang, anak-anak itu ataukah para orang tua?

Sahabatku... Edisi kelanjutan bumi ini memang akan kita serahkan kepada anak-anak kita. Jadi satu-satunya cara agar anak memiliki nilai-nilai kehidupan adalah dengan menanamkan kepada mereka apa itu nilai-nilai kehidupan, lewat contoh dan perbuatan yang tulus. Bukan kata-kata nasihat atau puluhan lembar soal.

Nilai-nilai kehidupan yang kita contohkan, akan menjadi nilai-nilai kehidupan mereka juga nanti. Jadilah contoh terbaik buat anak-anak Anda. Mereka akan menjadi cerminan Anda kelak. Anak adalah jejak yang kita tinggalkan dibumi ini saat nanti kita tidak lagi berpijak diatasnya. Karenanya, sahabatku... Jadilah cermin terbaik untuk Anak kita. Kelak mereka akan bisa mencari hartanya sendiri. Namun sulit bagi mereka untuk melihat cerminan diri mereka selain kepada kita (para orang tua).


Salam Semesta

Copyright © www.PesanSemesta.com

IG : @PesanSemesta.ig . FB : PesanSemesta.7
  •  
  •  
  •  
  • 0
  • Maret 29, 2019
admin16 admin16 Author

5 Cara Agar Memiliki Kekuatan Bersabar








Kita diciptakan SANG PENCIPTA dengan memegang kekuatan penuh untuk memilih. Bersabar adalah pilihan kekuatan berdaya besar apabila dilakukan dalam arti yang sebenarnya. Kekuatan bersabar adalah kekuatan melakukan kesabaran yang baik dalam hidup. Tanpa berkegalauan, tanpa bersedih hati dan ikhlas hanya karenaNYA. Ada 5 cara yang bisa kita lakukan untuk memiliki kekuatan bersabar :


1# Pahami artinya, jangan salah bersabar

Apa itu bersabar? Arti bersabar yang sebenarnya harus kita pahami dan resapi dengan sangat-sangat mendalam. Bagaimana kita bisa memiliki kekuatan bersabar, kalau makna bersabar yang kita pahami keliru. Biarkan akal dan jiwa kita benar-benar memahami segala tindakan yang akan kita aksikan. Pemahaman adalah awal dari kekuatan. Seberapa paham kita dalam satu hal, akan menentukan seberapa kuat kita berada didalamnya. Pastikan kita benar-benar memahami apa itu bersabar, sebelum memiliki kekuatan bersabar.

Apakah kita sedang bersabar dengan pekerjaan yang tidak sesuai hasrat? Apakah kita sedang bersabar dengan hidup yang tidak berubah? Apakah kita sedang bersabar dengan ketidak adilan? Atau apabila ada siapapun diantara kita yang sedang bersabar dengan kemiripan-kemiripan yang sama, maka biarkan tulisan ini berteriak dan berkata JANGAN SALAH BERSABAR.

Sadarilah, bersabar hanya akan menjadikan kita lebih dekat pada kebaikan, Bertahan pada keburukan adalah tindakan ego yang menyerah. Kekuatan bersabar adalah porsi besar dalam bersabar pada arti yang sebenarnya, yaitu merubah keburukan menjadi kebaikan. Bukan pada arti menyerah.


2#  Percayalah selalu kepada proses 

Saat memulai, hasil akhir memang mengiming-imingi kita. Wajar, kita memang butuh penyemangat. Namun tetap, hasil tidak akan datang begitu saja, tetap ada proses yang harus berjalan menuju hasil akhir. Proses ini akan terus berlanjut, tergantung dengan seberapa kuat kita menjalaninya. Lalu kapan hasilnya akan muncul ke permukaan?

Percayalah! Saat ini Tuhan hanya ingin melihat kita belajar. Tidak ada yang mustahil bagiNYA, DIA bisa saja langsung menghadirkan goal kecil kita itu. Tapi segala sesuatu tetap harus melalui alurnya. Bersabar adalah proses kita mengikuti alur itu. Lalu untuk memiliki kekuatan bersabar, cobalah dengan merubah fokusnya. Fokuslah kepada proses, bukan kepada hasil akhir.Semakin kita terfokus kepada proses, semakin kita melatih sifat bersabar kita, dan ini akan melemahkan ego, karena hasil akhir adalah ego itu sendiri.

Kemenangan kita ada dalam menetapkan fokus kepada proses. Dengan berproses kita akan mengenal kemampuan diri dengan baik. Mengetahui kelemahan yang harus diperbaiki. Lalu menghargai tiap titik pencapaian diri. Inilah yang ingin diajarkan oleh DIA, yaitu pelajaran dan pengalaman berharga yang akan terlewat begitu saja, kalau kita berhenti berproses. Proses, proses dan proses. Terus saja ikuti alur proses itu, meski hasil akhir sama sekali belum tampak didalamnya. Percayalah! Sifat bersabar yang kita curahkan sepenuhnya dalam proses, akan semakin mendekatkan diri kepada hasil akhir. Kita hanya perlu mematuhi alurnya. Semesta tidak pernah salah menilai.

Bukan karena itu tidak terjadi sekarang, berarti itu tidak akan terjadi. Hanya waktunya saja yang belum datang. Sore hari kemarin Anda duduk didepan teras menghadap ke arah taman yang rimbun, sambil tersenyum Anda berkata ‘inilah yang saya inginkan dari dulu’. Ingatkah Anda dulu setiap sore yang Anda lihat hanyalah tanah-tanah kosong, lalu sekarang berubah menjadi taman yang indah.

Kita akan selalu memetik jeruk dihari yang berbeda, dari hari kita menanam benihnya. Bersabar adalah dengan memaklumi diri, bahwa waktunya belum datang untuk sebuah pencapaian hasil. Pemahaman kita bahwa pencapaian itu pasti akan hadir diwaktu yang sangat tepat adalah kekuatan bersabar. Semakin kita paham, semakin kita rela, semakin kita memiliki kekuatan bersabar.

Percayalah! DIA hanya ingin kita mengetahui seberapa tinggi level keinginan kita dalam dalam sebuah pencapaian. Ingin. Sangat ingin. Sangat ingin sekali, atau sangat - sangat - sangat ingiiiiin sekali-sekali dan sekali. Masing-masing keinginan memiliki levelnya tersendiri. Tuhan sebenarnya sudah tahu, karena DIA MAHA MENGETAHUI. Namun, DIA ingin kita menyadarinya sendiri, dan itu akan tercermin jelas dari seberapa besar sifat bersabar kita.

Seberapa tangguh Anda bersabar, itulah cerminan rasa ingin Anda. Jadi, semakin level ingin kita meningkat, maka semakin level bersabar kita pun meningkat, dan tanpa disadari kita sudah memiliki apa itu kekuatan bersabar.


3# Berhentilah berbicara dan jadilah diri sendiri

Untuk memiliki kekuatan bersabar, kita harus berhenti berbicara. Kita harus berhenti membicarakan rencana-rencana kita kepada orang lain. Orang lain tidak membutuhkan cerita-cerita rencana kita, tapi hasil dari rencana-rencana kita. Mereka ingin melihat pencapaian, bukan proses. Kitalah yang berproses, bukan mereka.

Semakin banyak kita berbicara, maka semakin mereka tidak akan bersabar untuk melihat hasilnya. Harus diakui ini akan menyakiti kita. Ego orang lain untuk melihat hasil, perlahan-lahan akan mengikis kesabaran kita sendiri. Dengan kata lain kita membiarkan sifat bersabar kita digoyang-goyang dan dirontokkan oleh orang lain, hanya karena kita tidak bisa mengontrol diri untuk tidak membicarakan rencana.

Jadi, apabila sekarang kita memiliki rencana, diamlah dan lakukanlah. Kita hanya boleh membicarakan rencana kita hanya kepada mereka yang ikut mensupport. Biarkan orang lain menunggu hasil akhirnya dalam ketidaktahuan mereka. Sampai nanti mereka melihat hasil dari kekuatan sabar kita.

Saya mengerti rasa bersabar bisa membuat kita sangat percaya diri. Tapi tetap saja, jangan biarkan diri kita secara sengaja menjebak diri dikerumunan para penyinyir. Itu kalau kita sedang berusaha keras untuk memiliki kekuatan bersabar. Para penyinyir tetap saja akan menjadi penyinyir. Sama seperti singa, dia tetap akan menjadi singa yang siap melahap Anda saat lapar. Begitu pun para penyinyir, mereka hadir untuk memutar balikan kesabaran kita menjadi ego yang siap melahap diri kita dari dalam.

Dalam proses memiliki kekuatan bersabar, pastikan kita menjaga jarak dengan mereka. Mungkin para penyinyir tidak akan berpengaruh apabila kita telah memiliki kekuatan itu. Saat kita telah memiliki kekuatan bersabar, maka omongan para penyinyir hanyalah tiupan lilin selamat ulang tahun. Perkuat dulu diri Anda, sebelum Anda masuk kedalam kandang singa.


4# Percaya diri lah dan selalu bersiap diri menerima kesalahan

Kita tidak selemah itu. Untuk memiliki kekuatan bersabar, kita harus mempercayai kemampuan kita. Tidak akan ada yang mampu menilai diri kita telah memiliki kekuatan bersabar atau belum, selain diri kita sendiri. Jadi, penilaian kita tentang diri kita sendiri adalah kekuatan itu sendiri.

Ingat, kita harus mencintai diri 1000%. Jangan terlalu menekan diri dengan keragu-raguan dan kecemasan yang muncul, baik dari dalam diri maupun dari luar diri. Cukup katakan ini kepada diri sendiri, apapun yang mereka katakan tidak akan mempengaruhi aksi bersabar saya, karena saya percaya pada kemampuan saya dalam beraksi.

Kepercayaan kita kepada diri sendiri, salah satu bentuk kepercayaan kita kepada DIA yang telah memberikan kita keunikan dan kemampuan-kemampuan diri dalam beraksi. Apapun yang kita aksikan meskipun sulit, kita pasti mampu melampauinya. Karena DIA mengenal persis batasan-batasan kita. Tugas kita hanya belajar bersabar untuk melampaui batasan-batasan itu dan menerima tantangan-tantangan lainnya. Demi merasakan potensi diri yang terus meningkat.

Seberapa banyak kita melakukan kesalahan dalam proses-proses pencapaian ini? Biarkan saja kesalahan-kesalahan itu terjadi, tidak perlu dihitung. Kita tidak bodoh karena telah melakukan semua kesalahan itu, kita hanya sedang belajar. Pertama, kita belajar bersabar dengan menerima semua kesalahan itu. Kedua, kita belajar untuk mengolah semua kesalahan itu untuk merubahnya mejadi versi terbaik dari proses kita. Jadi, sebenarnya tidak ada yang namanya kesalahan, yang ada hanyalah pijakan-pijakan untuk menjadi lebih baik. Ego kita tidak menerima kesalahan, tapi kekuatan bersabar siap menerima segala kesalahan.


5# Jangan berhenti beraksi justru perbanyak jumlah aksinya

Sudah berbulan-bulan aksi-aksi itu dilakukan tanpa hasil akhir yang jelas. Ego kita sudah berteriak, menggedor-gedor pintu untuk berhenti dan menyerah. Lalu apakah kita akan mengikutinya? Tidak, justru kita akan memperbanyak jumlah aksi-aksi itu dan terus bersabar.

Karena justru syarat utama untuk memiliki kekuatan bersabar, adalah kita harus memperbanyak aksi-aksi kita. Biarkan aksi-aksi itu menjadi radikal. Sehingga akhirnya ego kita menahan nafasnya kembali. Kekuatan bersabar kita akan selalu membara, selama kita percaya, bahwa kita tidak pernah sendirian dalam aksi bersabar ini.


Akhir kata; Kekuatan bersabar didapat dari proses pembelajaran dan penempaan diri. Kagumi setiap tahap pembelajaran dan penempaan diri. Disana ada DIA yang selalu menemani.


Salam semesta

Copyright © www.PesanSemesta.com

IG : @PesanSemesta.ig . FB : PesanSemesta.7
  •  
  •  
  • 0
  • Maret 29, 2019
admin16 admin16 Author

KEKUATAN BERSABAR














Sahabatku… Apa itu sabar? Selama ini sabar digambarkan dengan diam dalam ketidak berdayaan. Orang sabar selalu digambarkan sebagai orang yang berdiam diri saat ditindas. Perhatikanlah sinetron-sinetron itu. Seperti itukah sabar yang diajarkan olehNYA? Apakah DIA sedang menyuruh kita berdiam dan semakin berdiam menghadapi segala macam kenyataan hidup yang buruk? Logika kita menolaknya bukan?

Jujur saja jiwa kita monolak pola sabar pasif seperti di sinetron-sinetron. Siapa yang mau berdiam diri dalam kesedihan, godaan, siksaan dan hinaan seperti itu? DIA pun tidak mau makhlukNYA seperti itu. Karena memang bukan sabar seperti itulah yang diajarkan olehNYA. Kita telah keliru mendefinisikan kata “Sabar” itu sendiri.

Selama ini manusia sering mengkaitkan kata ‘besabar’ dengan sikap pasif, yaitu menerima keadaan dan menahan perasaan yang tidak sesuai dengan keinginan diri. Contoh :

Ada seorang istri yang sangat baik hati, membiarkan dirinya disakiti secara fisik dan mental oleh suaminya yang kasar. Tiap saat dia menahan diri menerima segala bentuk kekasaran yang menyakiti dirinya dengan alasan bersabar.

Ada seorang karyawan yang sudah bekerja selama bertahun-tahun, dan selama itu dia merasa diperlakukan dengan tidak adil oleh bosnya. Namun dia tetap mempertahankan ketidak adilan itu. Dia tetap membiarkan dirinya berada di posisi itu, selama bertahun-tahun dan memendam semua keinginannya untuk berhenti dan mencari pekerjaan lainnya dengan alasan bersabar.

Sahabatku… Manusia dibuat untuk tidak menjadi selemah itu. Kita diciptakan SANG PENCIPTA dengan memegang kekuatan penuh untuk memilih. Bersabar adalah pilihan kekuatan berdaya besar apabila dilakukan dalam arti yang sebenarnya. Bukan dalam arti menahan perasaan atau menerima keadaan secara apa adanya.

Memang sebelum bersabar kita harus mengerti dahulu bahwa takdir dan hukum sebab akibat adalah sesuatu hal yang berbeda. Takdir itu adalah ketetapanNYA sementara hukum sebab akibat adalah hukum terlogis dari tiap tindakan manusia. Hukum sebab akibat tersusun berdasarkan kehendakNYA. Sebuah sistem agung yang menjadikan kehidupan didalam semesta ini seimbang.
(Sahabat bisa membaca selengkapnya tentang hukum sebab akibat dengan mengklik link berikut https://www.pesansemesta.com/2019/04/memahami-hukum-sebab-akibat.html)

Jadi sahabatku… Sabar yang dipesankan olehNYA itu bukan tindakan menyerah pada keadaan, tapi memilih untuk tidak menyerah pada keadaan. Kenapa? Karena kita diberi akal pikiran olehNYA untuk mampu menentukan mana yang baik dan mana yang buruk. Kita diberi akal pikiran untuk mampu mengolah dan memikirkan hasil akhir dari sebuah tindakan. Kita diberi akal pikiran untuk mampu memilih pilihan yang baik dan meninggalkan pilihan yang buruk.

Itulah kenapa saat Ibrahim hendak mengorbankan anaknya DIA menggantinya dengan binatang ternak. Karena pada zaman Ibrahim, kaumnya memang memiliki tradisi mengorbankan manusia untuk sesembahan para Dewa, dan pada saat datang giliran Ibrahim untuk berkorban, maka dengan kasih sayangNYA DIA menyuruh Ibrahim untuk mampu memilih pilihan yang baik, yaitu mengganti anaknya dengan binatang ternak, agar menjadi contoh bagi kaumnya untuk meninggalkan pilihan yang buruk.

Sahabatku… Bersabar hanya akan menjadikan kita lebih dekat pada kebaikan, bukan pasrah menerima keburukan. Karena bersabar adalah pilihan merubah keburukan menjadi kebaikan, bukan bertahan pada keburukan itu sendiri. Karena buruk dan baik adalah hukum sebab akibat. Sementara hukum sebab akibat adalah pilihan, bukan ketetapanNYA.

Agar pembahasan ini lebih indah mari kita bercerita singkat tentang khalifah Umar bin Khathab, karena ada hikmah yang besar dari contoh seseorang yang mengerti betul arti takdir yang sebenarnya; mari kita membersihkan penilaian dan menjadikan ini sebagai pelajaran saja sahabatku, tanpa perlu menilai label kelompok apapun;

Singkatnya Umar, yang dikenal sangat cerdas dan memiliki intelektualisme tinggi, mempunyai pemahaman menarik mengenai takdir. Diceritakan, selaku khalifah Umar pernah berencana melakukan kunjungan ke Suriah. Tiba-tiba terbetik berita bahwa di daerah itu sedang terjadi wabah penyakit menular. Lalu, Umar membatalkan rencana kunjungannya itu. Para sahabat banyak yang protes atas sikap Umar itu mereka bertanya ''Apakah Tuan hendak lari dari takdir Allah?''. Jawab Umar, ''Aku lari dari takdir Allah kepada takdir Allah yang lain.''

Sahabatku… Pelajaran yang bisa kita petik adalah bahwa pemahaman kita tentang takdir memang harus diluruskan kembali, agar pengaplikasian kita tentang sabar menjadi tidak keliru. Pilihan kebaikan dan keburukan tentu harus diterima dengan sepenuh hati. Acceptance adalah sikap positif awal yang harus muncul. Namun, manusia dengan semua potensi dan kemampuan yang telah DIA berikan wajib beraksi untuk menggapai pilihan kebaikan.

Saat kita ber-aksi untuk menggapai pilihan kebaikan, lalu ternyata aksi kita sama sekali tidak berbuah sesuai harapan, bahkan berujung kegagalan. Lalu kita bersabar, maka kita akan mengulang lagi dengan berbagai cara. Gagal lagi - mengulang lagi. Gagal lagi - mengulang lagi.. Terus dan terus sampai akhirnya DIA datang membawa pertolonganNYA. Jadi bersabar adalah proses merayu ketetapanNYA, dengan cara terus ber-aksi dan tidak menyerah atas keadaan apapun yang terjadi, dan juga terus memilih pilihan yang baik sambil terus melakukan aksi-aksi dinamis, bukan berdiam diri.

Sahabatku… Harus diakui apabila kita memilih untuk bertahan pada pilihan keburukan, maka itu adalah pilihan ego yang menyerah untuk ber-aksi. Sabar adalah bagian terpisah dari ego. Ego kita sangat mengerti apa itu lelah, bosan, menyerah, dan takut dalam menunggu hasil. Intinya, ego kita adalah sekumpulan usaha yang bertolak belakang dengan kesabaran yang baik itu sendiri. Kesabaran yang baik adalah terus berusaha dengan sebaik-baiknya, lebih baik dari yang sebelumnya. Serta dengan sadar menggantungkan hasil kepadaNYA, bukan kepada aksi itu sendiri.


Lalu apa yang harus kita lakukan saat ego kita terus membombardir untuk berhenti bersabar?

Sahabatku… Bersabar memang bukan tentang rasa yang indah. Ego kita yang halus pasti akan memangsa kita dari dalam, pelan tapi pasti ego akan terus mencabik-cabik sabar yang sengaja kita pilih. Lalu ego pula lah yang menimbulkan rasa perih didada saat kita bersabar dengan cara yang baik. Kalau sudah begini, satu-satunya cara adalah kita harus memiliki kekuatan bersabar yang lebih besar dari pada ego kita sendiri.

KEKUATAN BERSABAR adalah kekuatan melakukan kesabaran yang baik dalam hidup. Tanpa berkegalauan, tanpa bersedih hati dan ikhlas hanya karenaNYA.

Sahabatku… Pada esensinya hasil dari kekuatan bersabar adalah the power of GOD to ACT!  KekuatanNYA untuk bertindak! Apakah saat DIA rela (ridha) dan akhirnya mau menetapkan sesuatu, apakah sesuatu itu adalah sesuatu yang buruk? Pastilah tidak. Pastilah sesuatu itu jauh lebih baik dari apa yang sudah ditetapkan sebelumnya, jadi lebih dari hanya sekedar hukum sebab akibat.

KetetapanNYA itu bukan matimatika manusia. KetetapanNYA pasti tidak akan pernah meleset. Bahkan melewati ekspektasi akal logika manusia itu sendiri. Kita tidak akan pernah bisa mendikte DIA untuk sebuah hasil akhir. DIA selalu berjalan dengan alurNYA sendiri.

Akhir kata sahabatku… Sekarang setelah kita mampu meresapi apa itu bersabar. Maka apakah kita masih mau mengartikan sabar seperti sabarnya orang-orang yang pasrah di sinetron. Sabarnya orang-orang yang tidak mau mengoptimalkan nikmat dan karuniaNYA. Sabarnya orang-orang yang tidak menjadikan imannya sebagai sumber kekuatan…. Apakah kita masih mau? Tentulah tidak, karena sabar nya orang yang beriman bukanlah seperti itu.

Sahabatku… Beriman adalah memilikiNYA. Sabarnya orang yang memilikiNYA adalah kekuatanNYA. Jadi kalau Anda memiliki kekuatanNYA apakah Anda akan berhenti dengan kebaikan yang Anda pilih karenaNYA?
Renungkanlah Sahabatku…

Salam Semesta


Copyright © www.PesanSemesta.com

IG : @PesanSemesta.ig . FB : PesanSemesta.7
  •  
  •  
  • 0
  • Maret 29, 2019
admin16 admin16 Author

Cara Makan Secara Spiritual








Mari sekarang kita membahas makanan dari sisi spiritualitasnya. Bagaimana caranya agar kita bisa makan secara spiritual. Jadi, saat si lapar melanda kita tidak hanya mengenyangkan si perut. Namun juga mengenyangkan si jiwa.


1# Mari memperhatikan isi piring itu

Waktunya makan, dimeja terhidang aneka olahan sayuran dan lauk pauk. Ada ikan yang digoreng dan daging panggang yang lezat. Disampingnya ada semangkok salad dengan sayuran aneka warna didalamnya. Hijaunya selada, merahnya buah bit, kuningnya paprika, orangenya wortel sangat cantik dan serasi. Tidak lupa ada dessert puding berwarna pink merona dengan potongan strawberry ranum nan cantik diatasnya. Dan yang terpenting diantara semuanya adalah segelas air jernih penghapus dahaga.

Hal utama untuk makan secara spiritual adalah dengan memperhatikan ada apa saja di dalam isi piring, mangkuk atau gelas kita. Memperhatikan berbeda jauh dengan melihat. Saat melihat kita tidak bisa menyerap informasi apa-apa didalamnya, kita hanya meng-amini wujudnya saja. Berbeda saat memperhatikan, kita bukan hanya meng-amini wujudnya, namun juga esensinya, makna dibaliknya, hakikatnya, pengertian-pengertiannya, fungsi-fungsinya, problematikanya, artinya dan lain sebagainya. Dimana ini semua akan terlewat begitu saja, jika kita hanya melihat. Dengan kata lain, dengan memperhatikan kita bisa melihat wujud inti segala sesuatu, bukan sekedar wujud luarnya saja.

Kalau Anda memperhatikan ikan goreng itu, maka Anda akan mengingat bagaimana dulu dia dari sebutir telur lalu tumbuh menjadi ikan. Dimana ikan itu hidup dan siapa yang memberi kehidupan. Bagaimana warna-warna didalam salad itu diciptakan. Bagaimana strawberry itu terasa segar dan manis. Bagaimana air jernih itu mampu menghapus dahaga.

Lalu akhirnya kita menyadari apapun yang berada diatas meja makan kita itu adalah ciptaannya. Sering kita merasa sadar telah bersusah payah menghidangkan segala makanan itu. Namun jarang secara sadar memperhatikan SANG PENGHIDUP makanan yang kita hidangkan itu.


2# Mari makan karena cinta bukan ego

Jadikan alasan utama kita makan adalah karena kita mencintai jasad ini. Jasad atau tubuh yang diberikan olehNYA butuh asupan energi dan gizi. Tujuan utama kita makan adalah untuk memenuhi kebutuhan energi dan gizi.

Makan karena cinta artinya kita menjadikan makan bukan hanya sebagai pelepas rasa lapar saja. Tapi juga karena benar-benar mencintai jasad ini. Karena rasa cinta ini pun akhirnya kita secara sadar berhati-hati memilihkan makanan yang dimasukkan kedalam jasad. Kita tidak akan sembarangan lagi dengan apa yang kita makan. Karena sebelum makan kita pasti akan bertanya terlebih dahulu ‘apakah makanan ini baik buat jasadku?.

Selama ini yang paling sering kita tanyakan adalah ‘Apakah makanan ini enak dan lezat?’ Jarang kita memperhatikan dengan detail komposisi dan sumbernya. Jarang pula kita bertanya apakah makanan ini sesuai dengan kebutuhan tubuh kita atau tidak. Ego kita memang akan makan makanan yang memenuhi hasratnya saja. Tapi karena rasa cinta kita kepada jasad akan menumbuhkan kesadaran bahwa makan itu bukan hanya soal rasa, tapi soal kebaikan buat jasad.


3#  Mari memahami makna dari berdoa sebelum makan

Arti dari berdoa sebelum makan bukan terletak dari pelafalannya. Namun terletak pada penyerahan diri dengan apapun yang tidak kita ketahui tentang makanan yang kita makan.Kita berhasil memilih makanan yang baik buat tubuh, namun kita tidak mengetahui bagaimana nanti tubuh ini akan merespon dan mengolah makanan-makanan itu. Karena itu kita berserah diri atas segala hal yang tidak kita ketahui kepada yang MAHA MENGETAHUI.


4# Mari makan dan minumlah tanpa rasa pemilikan apa-apa

Semua adalah pemberian dan anugerah dari SANG PENGHIDUP. Betul memang kita bergerak mengeluarkan tenaga dan uang untuk makanan-makanan itu. Tapi itu semua adalah anugerahNYA. Kita yang memakan adalah anugerahNYA dan makanan itu pun adalah anugerahNYA. Kita tidak memiliki apapun selain anugerahNYA.

Rasa pemilikan yang berlebihan terhadap segala sesuatu didalam hidup ini akan menjauhkan kita dari memilikiNYA. Perlahan-lahan kurangi rasa pemilikan itu. Hargai apapun yang Anda miliki sebagai anugerahNYA.


5# Munculkan empathi dan syukur

Dibelahan dunia ini banyak saudara-saudara kita yang tidak bisa menikmati makanan yang kita makan. Kita diberi kesempatan untuk menikmatinya. Mari mesyukuri makanan itu. Cara paling sederhana dari bersyukur adalah dengan berbahagia dan mengingat sang MAHA PEMBERI.

Apalagi kalau Anda sampai mau berbagi kebahagian itu kepada sesama. Satu bungkus nasi padang untuk pengemis dipojok jalan itu. Sekotak coklat untuk pengamen kecil itu. Sepotong roti lembut untuk nenek bongkok itu. Apapun bentuk pemberian Anda, ingatkanlah diri Anda tentang satu hal. Ingatkan bahwa Anda tidak sedang memberikan sesuatu yang Anda miliki. Tapi Anda memberikan sesuatu yang diberiNYA kepada Anda untuk mereka. Anda hanyalah penyambung tangan dan DIAlah satu-satunya PEMBERI.


Inti dari makan secara spiritual adalah menyadari koneksi antara jasad dengan jiwa dan SANG PENGHIDUP. Menyadari pula bahwa makan buka pemuas lapar belaka, namun juga sarana jiwa untuk mengasah spiritualitasnya. Semoga 5 cara diatas bisa mengajarkan kita untuk belajar makan secara spiritual.


Salam Semesta

Copyright © www.pesansemesta.com

IG : @PesanSemesta.ig . FB : PesanSemesta.7
  •  
  • 0
  • Maret 28, 2019
admin16 admin16 Author

Pelajari Emosi Diri







Kebanyakan kita ingin dimengerti secara emosional oleh orang lain. Tapi tidak mau belajar untuk mengerti emosi dirinya sendiri. Sebelum menjadi pemimpin. Maka kita harus tahu betul siapa diri kita. Khususnya yang berhubungan dengan emosi.

Kita harus tahu, hal-hal apa yang mempengaruhi emosi kita. Apa yang membuat diri sangat sensitif, dan ingin menangis. Apa yang membuat kita bisa begitu bersemangat, atau apa yang bisa membuat kita begitu terpuruk, merasa bosan, atau meledak marah. Ini juga adalah bagian dari mencintai diri. Bagaimana mungkin Anda mencintai sesuatu yang tidak Anda ketahui itu apa?

Selama beberapa tahun, saya belajar apa yang bisa merubah emosi saya. Akhirnya saya juga mengetahui penyebab-penyebab emosi saya, dan mulai mensetting bagaimana cara merespondnya. Kita tidak bertanggung jawab dengan apa yang terjadi dihidup ini. Tapi kita bertanggung jawab dengan apa yang kita respon. Bagaimana Anda meresponnya, itulah tanggung jawab Anda.

Setelah Anda belajar mengenal bagaimana emosi Anda muncul. Lalu Anda belajar bagaimana mempersiapkan respon apabila ada hal yang menyentuh emosi-emosi itu. Coba memikirkan apa dan bagaimana cara terbaik yang sesuai dengan diri Anda, untuk merespon tiap-tiap emosi itu. Jadi kalau sedih, harus seperti apa. Kalau marah, harus bersikap bagaimana. Kalau senang, harus seperti apa, dan seterusnya.
Ini Anda pikirkan secara sadar dengan menggunakan logika berpikir secara menyeluruh. Jadi, Anda ikut mempertimbangkan pula sebab-akibat dari tiap respon yang Anda tentukan.

Selama ini kita belajar merespon emosi tanpa kesadaran. Jadi kebanyakan kita secara tidak langsung belajar merespon dengan melihat keluar diri. Bukan menentukan dari dalam diri. Seorang anak belajar merespon emosi dari orang tuanya. Dia memperhatikan bagaimana orang tuanya saat marah, bahagia, memiliki masalah dan lainnya. Beranjak besar, dia mulai memperhatikan lingkungannya dan mulai mengamati pula bagaimana lingkungannya merespon emosi.

Tahun demi tahu berlalu, akhirnya respon-respon luar masuk kedalam alam bawah sadar dan menjadi pilihan pribadi dalam merespon emosi. Ini secara otomatis terjadi, karena memang  pribadi ini tidak pernah secara sadar memikirkan bagaimana seharusnya dia merespon emosinya sendiri.

Seorang anak yang tidak pernah melihat orang tuanya melempar pintu saat marah. Kemungkinan tidak akan melempar pintu saat marah. Begitu juga sebaliknya. Seorang anak yang selalu melihat orang tuanya bersikap positif dan bersemangat menjalani hidup. Kemungkinan besar akan tumbuh dengan sikap positif dan semangat.

Inilah gunanya kita mempelajari emosi diri. Dimana kita akan meneliti kembali secara sadar tentang bagaimana cara kita merespon dan mengelola emosi didalam diri. Kenyataannya tidak ada yang namanya emosi buruk, karena perasaan itu adalah energi. Energi hanya bervibrasi dan menarik frekuensi yang sesuai. Jadi, cara Anda merespon energi itulah yang bisa menghasilkan output nilai positif atau negatif.
 
Untuk mengerti ini secara detail, mari kita telaah dua cerita ayah dibawah ini. Kita sebut cerita Ayah A dan Ayah B.


Cerita Ayah A
Ayah pulang kantor dengan kondisi lelah, lalu dengan kelelahannya itu Ayah A berucap kepada ketiga anaknya “Jangan ganggu ayah, ayah cape kerja seharian cari uang buat kalian. Sekarang ayah cuma mau istirahat. Kalian jangan bersisik mainnya!”


Cerita Ayah B
Ayah B pulang kantor dengan kondisi lelah juga, lalu dengan kelelahannya itu Ayah B berucap kepada ketiga anaknya “Nak, Ayah cape banget pulang kantor, tapi Ayah tetep semangat cari uang buat kalian. Karena ayah sayang sama kalian. Ayo sini main sama ayah, tapi sambil pijitin ayah donk!”


Bisa kita perhatikan dengan jelas. Emosi Ayah A dan Ayah B sama, yaitu LELAH sehabis pulang kerja. Tapi perbedaan cara si ayah A dan B merespon rasa lelahnya lah yang menjadikan akhir ceritanya berbeda. Saya yakin Anda sudah bisa membayangkan bagaimana akhir cerita dari dua kejadian diatas, yang pertama berakhir negatif dan yang kedua berakhir positif.

Jadi yang terpenting bukan apa itu emosi-nya. Tapi bagaimana cara kita merespon emosi itulah yang terpenting. Intinya, kita memiliki kekuatan penuh untuk memilih bagaimana perasaan yang akan kita alami dengan memilih bagaimana cara kita meresponnya. Pancarkan selalu vibrasi positif, untuk mendatangkan feedback yang sama. Semesta tidak akan pernah salah menilai.


Salam Semesta


Copyright © www.pesansemesta.com

IG : @PesanSemesta.ig . FB : PesanSemesta.7
  •  
  •  
  • 0
  • Maret 26, 2019
admin16 admin16 Author

Makna Roda Kehidupan










Selama ini manusia berkata, hidup ini seperti berada diatas roda yang berputar. Saat roda ini berputar maju ke depan, tiba-tiba rodanya bisa berputar mundur ke belakang. Mereka bilang, roda-roda ini berputar secara otomatis, tanpa bisa dikendalikan. Menurut mereka, kita hanya perlu duduk diatas roda ini, tanpa perlu memencet tombol apapun untuk mengatur lajunya. Mereka juga bilang, tujuan akhir roda ini adalah suatu tempat, yang tidak usah dipikirkan lagi keabsahannya.

Mereka yang berpendapat seperti diatas tidak terlalu benar. Mereka sedikit keliru. Bagi Semesta roda hidup itu tidak memutar secara otomatis, tapi kitalah yang memutarnya. Kita yang mengendalikan putarannya ke arah mana. Kita yang mengatur kecepatannya. Kita pula lah yang mengatur tujuan akhirnya. Kita adalah makhluk, didalam kita ada SANG PENCIPTA. Dia menghidupkan kita tanpa keraguan, bahwa kita mampu memutar roda kita sendiri. Dia menciptakan kita segala kesempurnaan, untuk terus menerus memutar roda kita sendiri dimuka bumi.

Ngomong-ngomong, sudah sampai mana kita memutar roda kehidupan ini? Ingat, kita tidak sedang berlomba, kita hanya memutar. Saya teringat tentang anjuran, “berlomba-lomba lah dalam hidup”. Saya tidak terlalu setuju dengan ini. Bagaimana kita bisa membuat satu aturan dalam perlombaan, untuk satu tujuan hidup yang berbeda-beda? Kalau kita menyadari tujuan hidup kita, segala kelebihan kita, lalu apa tugas kita, pastilah dengan bijak kita akan menolak mengikuti arus perlombaan. Karena kita paham, diri kita unik dan tidak untuk disamakan. Kita dihadirkan, untuk memutar roda kehidupan bukan untuk berkompetisi, tapi untuk melengkapi.

Bagaimana kita seharusnya memutar roda kehidupan menuju titik hidup yang kita inginkan, sesuai dengan keunikan dan tugas kita masing-masing? Ini adalah pertanyaan yang seharusnya kita jawab.
Saatnya kita membuka mata untuk memandang hidup yang baru dengan kembali menyusun hidup ini berdasarkan skala prioritas kita masing-masing. Kembali menyusun skala prirotis berarti kembali mempertanyakan ‘Untuk apa roda kehidupan kita berjalan?’ satu pertanyaan yang sangat serius.

Mereka bilang hidup ini hanya satu kali. Memang tidak akan ada kali kedua kita di bumi ini. Kita hanya memiliki satu kesempatan untuk tetap hidup dibumi ini, untuk terus memantaskan diri menuju kehidupan di dimensi selanjutnya. Jadi, cukup pastikan saja, roda hidup kita betul-betul bermakna buat diri kita dahulu.

Kenapa? Karena sebelum bermakna buat sesama, terlebih dahulu harus bermakna buat diri sendiri. Kita harus bisa merasakan dan menikmati arti hidup sendiri, sebelum kita membaginya. Ini agar kita tidak lelah. Agar kita tidak merasa diperas dan dipermainkan oleh dunia.

Jadi, saat kita siap untuk menjadi bermakna buat sesama. Kita melakukannya dengan kegembiraan dan keikhlasan. Kita bergerak sebagai diri sendiri bukan sebagai pengumpul pujian, bukan sebagai pengumpul kata terimakasih, apalagi pengumpul uang, parahnya lagi pengumpul pahala.

Artinya adalah, ketulusan berbagi. Sama seperti tulusnya Anda saat mencari makna untuk diri sendiri, begitupun seharusnya saat Anda memberi makna kepada sesama. Inilah goal kita semua, yaitu untuk saling memberi makna dimuka bumi sesuai dengan keunikan dan tugasnya masing-masing. Mulai sekarang, tidak usah memikirkan misteri dibalik kematian, kalau hidup kita dibumi ini belum bermakna apa-apa buat diri sendiri, apalagi buat sesama. Saatnya kita fokus dengan roda yang sedang kita putar.


Salam Semesta

Copyright © www.pesansemesta.com

IG : @PesanSemesta.ig . FB : PesanSemesta.7
  •  
  •  
  • 0
  • Maret 26, 2019
admin16 admin16 Author

STOP! Jangan Didik Anak Anda Untuk Dinilai











Dua manusia identik yang sama persis belum ditemukan secara utuh dimuka bumi ini. Sampai sekarang, manusia dihidupkan dengan keunikannya masing-masing dan dengan kompleksitas yang tidak pernah bisa sama persis satu sama lain, serta peran tugas yang beragam. Intinya, dalam hidup ini tiap pribadi bertanggung jawab penuh dengan fitrah mereka masing-masing.

Fitrah keunikan yang DIA buat untuk tetap dipertahankan berbeda, bukan untuk disamakan rata, kenapa? Karena individu-individu yang berbeda ini akan menjalani kompleksitas hidup yang berbeda pula. Lalu akhirnya, mereka akan berperan dan bertugas berdasarkan keunikan mereka masing-masing, untuk saling melengkapi satu sama lainnya.

Masalah rumitnya, fitrah kita ini tidak berbanding lurus dengan pendidikan yang kita terima. Para orangtua lebih suka membawa anak-anak mereka ke sekolah untuk menerima pendidikan. Akhirnya kebanyakan kita harus terpaksa hidup untuk di sama ratakan di sekolah.

Ini terjadi karena sistem pendidikan sekolah tidak bisa menyesuaikan diri dengan kompleksitas fitrah manusia. Sekolah tidak mampu menampung keunikan manusia, dan memperlakukan manusia sesuai keunikan fitrahnya masing-masing.

Jadi harus diakui bahwa sistem pendidikan sekolah jauh dari kebutuhan fitrah manusia itu sendiri. Apapun yang dibicarakan seorang guru didepan kelas adalah apa yang tertuang didalam buku pedoman. Buku itu sama sekali tidak memecahkan masalah siapapun didalam kelas itu, bahkan masalah gurunya sendiri.

Karena sekolah memang tidak akan bisa mengatasi kompleksitas hidup, baik yang berat ataupun yang ringan sekalipun. Sekolah justru hanya menyamaratakan keunikan dan kompleksitas tiap-tiap individu dalam satu kelas demi mendapatkan sebuah buku berisi angka per-semesternya.

Inilah prioritas kita selama bersekolah, yaitu untuk mendapatkan nilai. Jadi sebenarnya sekolah hanya membelokkan fokus kita dari prioritas pendidikan yang sebenarnya. Padahal prioritas pendidikan si anak sebenarnya adalah mengenal fitrah dan keunikannya, sehingga dia mampu mengenali bakat serta passionnya lebih awal untuk nanti mengasah dan berperan dengannya.

Jadi untuk memahaminya seperti ini : Anda adalah unik, dia adalah unik, dan dia-dia yang lain adalah unik. Lalu manusia-manusia yang masing-masing unik ini dikumpulkan dalam satu ruangan, diberi satu set buku pedoman untuk diajari. Yang mana buku-buku itu sama sekali tidak beruhubungan dengan masalah apapun yang dihadapi oleh manusia-manusia yang ada diruangan itu, bahkan oleh yang mengajari sekalipun. Lalu selama bertahun-tahun manusia-manusia itu mempelajari masalah-masalah itu untuk satu prioritas yang di samakan dan di anggap penting, yaitu demi mendapatkan angka-angka yang tertulis di sebuah buku. Dengan iming-iming siapa yang paling tinggi angkanya, dialah yang paling cerdas.

Coba pikirkan sejenak. Kira-kira apa yang akan terjadi dengan manusia-manusia itu nantinya setelah keluar dari ruangan. Apakah mereka sudah mampu memecahkan masalah hidupnya? Apakah mereka akan mengenal keunikan mereka, passion mereka, bakat mereka? Lalu Apakah mereka sudah mendapatkan kunci jawaban untuk memecahkan apa itu peran hidupnya sendiri? JAWABANNYA : SAMA SEKALI TIDAK !

Karena pada kenyataannya selama diruangan itu manusia-manusia itu sama sekali tidak memecahkan masalah-masalah dalam dirinya sendiri. Mereka fokus memasukkan masalah-masalah baru dalam hidupnya yang sama sekali bukan masalahnya, dan menjadikan angka-angka dalam sebuah kertas sebagai prioritasnya. Bukan kah ini kesalahan?

Pada moment ini kebanyakan yang terdiam dan memahami betapa sebenarnya kita berlari terlalu jauh dari diri kita yang sebenarnya. Hanya karena membiarkan diri untuk dinilai. Dengan sengaja kita telah mempertaruhkan diri kita untuk arti pendidikan yang salah. 

Pendidikan itu bukan IQ tinggi atau mampu menjawab seribu soal dengan tepat. Pendidikan itu bukan untuk mempersilahkan diri dinilai dan dibandingkan. Pendidik itu bukan kompetensi. Pendidikan itu adalah belajar untuk kembali kepada fitrah. Karena manusia adalah kecerdasan yang tidak terbatas.

Salam Semesta

Copyright © www.pesansemesta.com

IG : @PesanSemesta.ig . FB : PesanSemesta.7
  •  
  •  
  • 0
  • Maret 26, 2019
admin16 admin16 Author

3 Langkah Sebelum Memilih Pilihan









Ada waktunya, kita akan benar-benar harus memilih tanpa menengok ke arah manapun untuk bertanya, apakah pilihan kita benar atau salah. Jadi keharusannya adalah, bagaimana menjadikan diri kita sebagai penjawab utama, dan inilah arti dari memimpin diri yang sebenarnya. Jadi yang terpenting adalah membuat diri kita mampu memilih pilihan yang sesuai dengan diri sendiri.

Sebelum itu, pertanyaan supernya adalah : Bagaimana caranya kita me-mampukan diri memilih pilihan yang sesuai dengan diri sendiri?

Perlu digaris bawahi, bahwa yang terpenting adalah memilih pilihan yang sesuai dengan diri sendiri. Bukan memilih pilihan yang benar. Sekarang bukan perkara benar atau salah. Berbicara benar dan salah akan menjadi sangat subjektive, tergantung dimana kita meletakkannya dan dari sudut mana kita melihatnya. Jadi bukan lagi tentang benar atau salah nya pilihan itu. Karena didalam pilihan yang benar terdapat pelajaran, dan didalam pilihan yang salah juga terdapat pelajaran. Hidup adalah pelajaran, butuh kenetralan untuk menerima pelajarannya.

Kembali kepada cara memampukan diri memilih? Mau tidak mau, satu-satunya cara adalah dengan meng-upgrade diri. Mesin yang lebih canggih, akan menghasilkan output yang lebih bagus bukan? Begitu juga dengan diri, untuk membuat pilihan yang sesuai dengan diri, maka diri kita lah yang perlu di upgrade terlebih dahulu. Kita harus mau meng-upgrade cara kita memperhatikan, cara kita berpikir dan cara kita menentukan.

Apabila Anda merasa diri Anda sekarang belum mampu, maka kemampuan itu harus Anda pilih untuk hadir. Hidup adalah kumpulan pilihan, tugas manusia adalah memilih.

Ada tiga langkah paling esensial dalam memilih pilihan-pilihan. Jadi, berbekal ketiga langkah ini, diharapkan kita mampu memilih banyak pilihan-pilihan yang sesuai dengan diri sendiri :


1.      MEMPERHATIKAN
Memperhatikan pilihan secara spesifik, itulah yang kita maksud disini. Di fase awal ini, kita mulai memperhatikan pilihan-pilihan yang akan dipilih dari segala sudut pandang. Kita harus melakukan ini dengan kenetralan penuh. Kesampingkan dulu penilaian-penilaian negatif. Biarkan segala kemungkinan muncul, tanpa dihakimi terlebih dahulu. Cukup kita perhatikan saja segala kemungkinan itu.

Memperhatikan berbeda jauh dengan melihat. Saat melihat kita tidak bisa menyerap informasi apa-apa didalamnya, kita hanya meng-amini wujudnya saja. Berbeda saat memperhatikan, kita bukan hanya meng-amini wujudnya, namun juga esensinya, makna dibaliknya, hakikatnya, pengertian-pengertiannya, fungsi-fungsinya, problematikanya, artinya dan lain sebagainya. Dimana ini semua akan terlewat begitu saja, jika kita hanya melihat. Dengan kata lain, dengan memperhatikan kita bisa melihat wujud inti segala sesuatu, bukan sekedar wujud luarnya saja.

Contohnya; seperti melihat sebuah pohon atau memperhatikan sebuah pohon. Saat melihat sebuah pohon yang terlintas dimata Anda hanyalah sekumpulan warna hijau diatas segaris warna coklat, sudah itu saja. Saat Anda memperhatikan sebuah pohon yang terlihat dimata Anda adalah kesadaran atau pertanyaan. Oo ternyata daun pohon ini bentuk oval dan ujungnya sangat mengerucut. Oo ternyata disetiap batang daunnya terdapat paling sedikit 10 helai daun yang berbaris. Oo ternyata batang kayu ini tidak berwarna coklat utuh, melainkan gradasi antara warna hijau muda, coklat muda dan coklat tua. Kenapa Tuhan membuat pohon ini? Kenapa Tuhan membiarkannya tumbuh disini, ditempat yang sama sekali tidak ada yang bisa merawatnya? Oo tapi, meski tidak ada yang merawat ternyata pohon ini sangat kokoh.

Itulah bedanya melihat dan memperhatikan. Sudahkan Anda berkaca hari ini? Cobalah Anda berdiri didepan kaca besar itu lalu perhatikan diri sendiri. Apa yang Anda perhatikan dari cermin itu, itulah yang akan menentukan hidup Anda kedepannya. Cobalah Anda lakukan, sekali-kali. Kita sangat jarang memperhatikan diri sendiri secara detail bukan? Lakukanlah sesering mungkin. Bukan untuk mengagumi diri, tapi untuk mengingat kembali.

Garis besar dari memperhatikan adalah memperjelas. Bahwa sebelum mewujudkan keinginan, maka semua keinginan-keinginan harus diperjelas dahulu sebelum dipilih. Kejelasan ini akan dibutuhkan agar kita tidak salah memilih nantinya. Salah memilih artinya salah bertindak. Salah bagi siapa, salah bagi kita sendiri. Karena kita lah yang akan memananggung semua akibatnya. Sementara obat penawarnya, adalah melihat bahwa didalam kesalahan itu terdapat pelajaran yang bisa dipetik.


2.      BERPIKIR MENDALAM
Setelah memperhatikan tibalah saatnya pada memikirkan. Seumur hidup memang kita tidak pernah berhenti menggunakan otak. Otak kita terus menerus bekerja, siang dan malam, bahkan saat tidur atau melamun sekalipun, otak kita tetap bekerja. Tapi apakah otak kita terus menerus berpikir mendalam? Belumlah tentu.

Miri-mirip dengan memperhatikan, berpikir mendalam akan menghasilkan sebuah jawaban. Misi-misi itu disusun dengan berpikir secara mendalam. Solusi-solusi itu disusun dengan berpikir secara mendalam. Begitu juga dengan pilihan-pilihan. Kalau kita tidak pernah memikirkan secara mendalam pilihan-pilihan dalam hidup ini. Pasti kita sudah mensia-siakan segala-galanya.

Berpikir mendalam adalah memikirkan apa yang telah kita perhatikan. Proses berpikir mendalam itu tidak akan tercapai, bila otak kita tidak terhubung kepada kenetralan, melainkan masih terhubung kepada egonya. Jadi, ego tidak boleh mengambil alih diri kita. Tapi kita-lah yang mengendalikannya, bukan menahannya. Anda mengerti maksud kami bukan?


3.      MENENTUKAN
Yang sedang kita bahas disini adalah langkahnya. Langkah akhir dalam kita membuat keputusan adalah menentukan. Menentukan adalah memilih. Lebih tepatnya memilih pilihan-pilihan yang sudah diperhatikan dan diberpikirkan secara mendalam terlebih dahulu. Menentukan berbeda dengan menetapkan. Menetapkan adalah tugasnya Tuhan. Sementara menentukan, itu masih tugasnya manusia. Kita diberi akal pikiran untuk menentukan mana yang baik dan mana yang buruk. 

Sebenarnya seberapa sering kita menentukan sesuatu secara individu dalam hidup ini? Kalau dihitung sebenarnya hanya beberapa saja. Sangat beruntung mereka yang bisa hidup dengan memiliki kekuatan menentukan. Kami  sebut kekuatan adalah karena tiap kita memiliki belenggu untuk menentukan sesuatu, bahkan untuk hidup kita sendiri. Belenggu itu adalah nilai-nilai orang lain. Mereka yang masih memikirkan penilaian orang lain, selalu akan mentok dengan proses ini.

Proses dimana dia akan menentukan. Biasanya mereka akan terus menerus meminta pendapat dan peng-aminan dari individu-individu lain. Baik dengan cara bertanya, berkonsultasi, meminta komentar dan menanyakan penilaian individu lain. Lalu pada akhirnya dia tidak menentukan apa-apa, karena yang menentukan adalah individu-individu lain. Akhirnya dia hanyalah peng-amin dan pelaksana saja. Padahal dia sendirilah yang nantinya akan mempertanggung jawabkan dan merasakan segala konsekuensi pilihannya.

Kami tidak bilang bertanya, berkonsultasi, meminta komentar dan menanyakan penilaian adalah hal yang salah. Kita bebas melakukan itu semua, asalkan itu tidak mempengaruhi diri secara keseluruhan. Sehingga, nilai-nilai pribadi hilang, dan tergantikan oleh nilai-nilai orang lain. Kita tetap harus memikirkan kembali segala input yang diterima, lalu menyaringnya berdasarkan nilai-nilai diri sendiri.

Saya yakin kita sudah sangat mengerti maksud point menentukan ini. Yaitu, jadilah diri sendiri. Tentukanlah hidup kita sendiri. Ini hidup kita, bukan hidup bos, bukan hidup orang tua atau pasangan. Bahkan DIA pun memberikan kita kekuatan memilih, lalu apa yang mengganggu kita dari menentukan pilihan kita sendiri? Nilai-nilai kenormalan orang lain, itukah yang menghalangi? Mereka yang diluar diri kita pun memiliki kehidupan yang harus mereka jalani.

Masing-masing kita adalah pemimpin untuk diri-dirinya sendiri. Tugas seorang pemimpin adalah menentukan. Kita lah satu-satunya pemimpin bagi diri sendiri dibumi raya ini. Jangan jadikan penilaian orang lain sebagai pemimpin kita. Tentukanlah pilihan, karena murni kita memilihnya seperti itu.


Inilah tiga langkah yang akan kita pakai dalam memilih pilihan-pilihan. Intinya adalah, jadilah sadar dengan pilihan diri sendiri. Perhatikan pilihan-pilihan dalam hidup secara seksama. Lalu pikirkanlah secara mendalam setiap hal-hal yang diperhatikan. Tips terpenting yang tidak boleh diabaikan adalah, lakukan ketiga step ini secara netral.



Salam Semesta

Copyright © www.pesansemesta.com

IG : @PesanSemesta.ig . FB : PesanSemesta.7
  •  
  • 0
  • Maret 26, 2019
admin16 admin16 Author

OFFICIAL CHANNEL



SUBSCRIBE ARTICLE

FREE E-BOOK

3# FREE DOWNLOAD E-BOOK - MENJADI AIR

DATABASE

COPYRIGHT

Seluruh artikel didalam website ini ditulis orisinil oleh tim penulis Pesan Semesta. Artikel yang kami share melalui website ini bukan hasil jiplakan, kutipan atau terjemahan.

Bagi pembaca yang ingin menghubungi penulis silahkan mengrim pesan melalui email : pesansemesta@yahoo.com


SALAM SEMESTA