Pesan Semesta.
melampaui batas menjadi satu

4 TRIK NEUROSCIENCE SEDERHANA AGAR SETIAP GOAL SEMESTA BERHASIL

 



Sahabatku… Apa goal Anda di tahun ini? Dalam rangka membentuk sebab terbaik untuk akibat terbaik, maka tidak ada salahnya kalau kita mulai menggunakan trik neuroscience agar setiap goal semesta berhasil.

Tahun baru selalu dipenuhi resolusi baru dan itu merupakan hal yang sangat baik. Sebagai semesta kita memang harus senantiasa bergerak Dinamis, Opitimis dan penuh dengan Aksi. Sebagai semesta kita memang harus senantiasa bergerak membentuk sebab terbaik untuk akibat terbaik.

Apapun goal semesta kita semua, pastinya kita ingin semuanya itu berhasil bukan? Tahun-tahun lalu mungkin goal kita banyak yang runtuh tak berwujud. Namun tidak untuk tahun ini, berjanjilah kalau tahun ini kita tidak akan menggigit jari lagi.

Hanya saja seutas janji yang terucap tidak hanya butuh optimism, tetapi juga level dinamisme yang ditingkatkan. Maksudnya? Rubahlah cara kita mewujudkan goal sahabatku… Kita tidak bisa menggunakan cara yang sama dan mengharapkan hasil yang berbeda.

Cara terbaik untuk meraih hasil yang berbeda adalah dengan berdinamis mencari cara yang berbeda, menggunakan trik yang berbeda, dan melalui jalan-jalan yang berbeda.

Dengan kata lain: Upgrade-lah diri kita sahabatku…

Segala tetang diri kita akan selalu tentang tiga komponen; jasad, jiwa dan ruh. Dari ketiga komponen ini ada dua komponen yang bisa kita upgrade, yaitu jasad dan jiwa. Ruh adalah entitas netral, apapun dan bagaimanapun jasad dan jiwa terbentuk, energi ini akan terus menghidupi sampai batas waktu yang tertentu.

Karenanya pada awal tahun ini mari kita fokus meng-upgrade jasad dan jiwa agar mereka berdua bergerak aktif mewujudkan segala goal semesta yang begitu dinamis telah kita rancang.

Saat kita berbicara tentang jasad maka kita akan banyak berbicara tentang neuroscience yang rumit. Sementara jiwa adalah sederetan coding canggih yang mengatur neuroscience yang rumit itu. Kita adalah keterhubungan semesta yang harus terus di upgrade agar terus dimaksimalkan.

Cara termudah untuk mengupgrade coding program adalah dengan mensetting bagaimana neuron itu bekerja. Sehingga settingan terbaru kita ini mampu tertanam menjadi coding program baru yang beroperasi otomatis sesuai goal kita.

Sahabatku… Ini tidak harus menjadi rumit. Semoga trik-trik sederhana neuroscience dibawah ini berhasil kita praktekkan agar bermanfaat dan mampu mempercepat pencapaian goal semesta kita.

 

#Trik pertama: MANFAATKAN NEURON MIRRORING

Sahabatku… Kami tidak tahu persis apa goal Anda, tapi cukup pastikan Anda hidup didalamnya setiap hari. Biarkan otak menangkap gambar-gambar goal itu setiap hari dan mempelajarinya. Minimal itu hanya dengan melihat dan memperhatikan apa yang dilihat.

Ingat! Setiap goal butuh keterampilan dalam proses perwujudannya. Sementara butuh waktu bagi otak untuk benar-benar memiliki kemahiran untuk satu keterampilan.

Jadi butuh waktu bagi diri untuk merancang neuron yang mendukung goal-goalnya sendiri. Dengan kita terus hidup didalam goal kita, maka itu bisa membantu otak merancangnya dengan lebih cepat.

Dalam jasad ini kita memiliki program yang namanya mirror neoron atau boleh disebut neuron cermin.  

Neuron cermin memungkinkan kita belajar melalui peniruan. Program ini memungkinkan kita untuk mencerminkan bahasa tubuh, ekspresi wajah, dan emosi dari apapun yang kita lihat secara otomatis.

Sebenarnya neuron cermin memainkan peran penting dalam kehidupan sosial kita. Dahulu neoron cermin kita sangat aktif dan membantu perkembangan keterampilan kita saat anak-anak. Kita banyak belajar melalui neuron cermin.

Kenapa tidak kita aktifkan lagi sekarang? Caranya juga cukup sederhana; hiduplah dalam goal Anda setiap hari. Bisa dengan membaca, menonton, mendengar, melihat. Tidak perlu lama-lama, 30 menit sehari akan sangat membantu. Apalagi kalau kita mau memaksimalkannya terus.

Renungannya: Sudahkah apa yang Anda inputkan ke dalam otak Anda hari ini sesuai dengan goal Anda?

 

#TRIK KEDUA: IKAT NEURON DAN TEBALKAN IKATANNYA

Pernah bertanya kenapa goal-goal Anda yang berhubungan dengan keterampilan baru tidak begitu terwujud sempurna? Jangan dahulu berpikir itu karena tentang Anda yang kurang berbakat. Setiap semesta memiliki bakat yang bisa dia pilih secara sadar. Kita cukup memprogramnya saja.

Keterampilan adalah neuoron yang saling terikat. Sekali neuron terikat berarti sekali kita terampil untuk pertama kali. Berkali-kali neuron kita terikat, maka berkali-kali kita mengasah keterampilan kita. Dengan kata lain kita berhasil menebalkan ikata neuron. Semakin diasah, ikatan neuoron semakin tebal dan menguat. Itulah kenapa muncul istilah practice makes perfect.  

Mulai hari ini jangan salahkan diri kita yang tidak bisa menjahit, salahkan diri yang tidak mengajarinya. Pahami kalau butuh waktu bagi otak untuk benar-benar memiliki kemahiran untuk satu keterampilan. Sementara kesadaran kita untuk terus belajarlah yang membuat otak kita semakin trampil. Jadi caranya adalah dengan konsisten mempraktekkan.

Latihlah diri, meskipun belum sempurna tak apa, semua akan indah pada waktunya. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal sesuai goal kita juga harus belajar dengan cara yang tepat agar kita memiliki ketrampilan yang cerdas dan tepat (Akan kami bahas secara detail pada artikel selanjutnya)

 

#TRIK KETIGA: JAGA NEURON DARI MENDENGAR UCAPAN YANG MENGHANCURKAN DIRINYA

Sahabatku… Neuron tidak sekedar mendengar apa yang tervibrasikan dari luar ke dalam. Tetapi apa yang tervibrasikan dari dalam ke dalam. Kebanyakan kita mampu menghindari suara yang dari luar, tetapi tidak dari yang dalam.

Faktanya kita sering membiarkan neuron-neuron kita yang sudah susah payah terikat untuk mendengarkan vibrasi yang menghancurkan ikatannya sendiri. Misalnya saja yang sangat sering kita lakukan adalah mengeluh ditengah pelajaran seperti berikut ini.

Saat mulai pelajaran kita berbicara “Saya akan bisa!” lalu saat ditengah proses pembelajaran dan kita menghadapi kesusahan yang justru membentuk keterampilan kita justru suka berbicara “ahh… ini susah! Saya mungkin tidak bisa”.

Sahabatku… Ini sederhana dan hampir menjadi kebiasaan, tanpa benar-benar kita pahami kalau apa yang kita ucapkan itu benar-benar berpengaruh. Kalau kita ingin goal-goal kita terwujud dengan cepat, maka sekarang kita harus menghentikan kebiasaan ini segera.

Perlu dipahami meski pikiran kita merangkai kata-kata dengan begitu mudahnya, tapi bagaimana diri kita mampu mengerti apa yang diucapkan oleh pikiran itu sesuatu yang berbeda. Kita membutuhkan lebih dari sekedar pita suara untuk mengeluarkan kata-kata yang bermakna.

Proses berbicara yang berlangsung didalam otak, bagaimanapun, tidak pernah sesederhana saat pikiran kita merangkainya. Namun pikiran kita pun berusaha keras untuk merangkai timbal balik yang sesuai dari apa yang telah dipahaminya.

Semua yang kita pahami adalah ikatan neuron yang bekerja super kompleks dan dinamis. Otak tidak suka menyimpan neuron yang tidak berguna. Jadi saat kita mereject sesuatu, maka neuron akan meruntuhkan dirinya secara otomatis. Salah satu cara kita mereject adalah dengan ucapan.

Pusat bicara di otak kita adalah area Broca dan area Wernicke. Wernicke di lobus temporal posterior menganalisis kata-kata yang kita lihat dan dengar dan juga menempatkan kata-kata itu dalam urutan yang benar sebelum kita berbicara. Artinya, neuron-neuron kita mendengar, bahkan sebelum kita mengucapkannya secara jelas.

Kita tidak bisa berbohong kepada mereka. Jadi hati-hati sahabatku… Bijaksananya sebelum Anda berlari keluar untuk meratapi seluruh goal yang tak pernah berwujud, memang ada baiknya Anda mengingat apa yang telah Anda ucapkan. Karena ucapan yang diucapkan oleh pikiran Anda benar-benar bisa menghancurkan goal yang Anda bangun sendiri.

 

#TRIK KEEMPAT: RAMULAH HORMON YANG SESUAI DENGAN GOAL

Sahabatku… Bagaimana itu rasanya goal Anda, bersyukurkah? Senangkah? Banggakah? Apapun itu rasanya, maka mulai sekarang teruslah meramu hormone untuk membentuk emosi yang sesuai dengan goal. Biasakan diri untuk hidup dengan ramuan emosi itu dan jangan biarkan diri melenceng darinya. Sekali-kali boleh, terlalu sering jangan.

Setiap manusia memiliki satu bagian didalam otaknya yang disebut otak emosinal. Tempat khusus dimana semua emosi diwujudkan menjadi nyata oleh otak disebut Sistem Limbik. Berkat adanya sistem limbic ini, kita hanya cukup memikirkan jenis perasaannya saja, lalu otak kita meramu secara otomatis emosi itu.

Pekerjaan otak untuk meramu emosi itu penting, karena kalau otak tidak pernah meramu emosi, maka kita tidak akan pernah bisa mampu merasakan apa-apa.

Emosi itu seperti berdiri di depan mesin kopi gratis. Kita cukup memencet tombol cappuccino, lalu mesin itu meramu cappuccino dan menyajikannya, kita pun segera menyeruputnya dan mengamini persis kalau itu adalah cappuccino. Misal lain kita memencet tombol frapuccino, maka mesin itu akan meramu frapuccino, kita pun menyeruputnya dan mengamini persis kalau itu adalah frapuccino.

Hal yang sama terjadi kalau kita memencet moccacino, maka mocacino lah yang akan diramu, dan kita juga akan mengamini kalau itu adalah moccacino. Ngomong-ngomong kenapa kami menggunakan istilah ‘meramu’?

Karena sebelum disajikan, emosi itu harus diramu terlebih dahulu. Bagaimana kadar ramuannya, tergantung dengan bagaimana pikiran mensettingnya.

Emosi adalah permainan otak dalam menentukan kadar neurokimia (zat kimia otak). Namun otak tidak pernah bermain sendirian, otak membutuhkan pemain dan siapa lagi pemainnya selain kesadaran yang hidup dengan pikirannya.

Sementara pikiran belajar tentang perasaan dari apa yang dia lihat dari lingkungannya. Jadi kalau goal Anda adalah untuk hidup di lingkungan makmur, damai, bahagia, maka pastikan pikiran Anda sudah tahu bagaimana cara meramu emosinya.

Tidak usah bertanya bagaimana, otak kita sudah otomatis akan melakukannya. Itu karena pikiran kita juga sangat jago akan hal memikirkan perasaan, kita mampu memikirkan beratus-ratus jenis perasaan, bahkan dalam jeda waktu yang sempit sekalipun hanya dengan membayangkan kondisinya saja.

Dan seperti biasa; apapun yang pikiran kita minta, maka otak kita akan melaksanakannya. Kalau begitu kenapa tidak kita manfaatkan secara maksimal untuk mewujudkan goal semesta ini?

-------

Akhir kata sahabatku… Sebenarnya masih banyak trik-trik neuroscience fenomenal yang bisa mendukung seluruh goal semesta. Kami hanya menjabarkan bagian-bagian yang terpenting saja tanpa mau bermaksud membuat tulisan sederhana ini makin rumit dan panjang.

Seperti biasa, apapun goal kita tahun ini pastikan diri selalu membersamai yang selalu membersamai.

Hadirkan diriNYA! Teruslah mendinamiskan diri bersamaNYA, teruslah beroptimis diri bersamaNYA, dan teruslah beraksi bersamaNYA. Sungguh DOA manusia memang sudah terwujud bersamaNYA. Mungkin goal terbesar manusia adalah untuk memahami hal ini terlebih dahulu.

 

Salam Semesta

Copyright 2020 © www.pesansemesta.com

 

 

  • 0
  • Desember 31, 2020
admin16 admin16 Author

SELARAS DENGAN SEMESTA


Seorang sahabat bertanya “Maaf ijin bertanya, bagaimana cara mengetahui bahwa keputusan yang kita ambil selaras dengan semesta?” Melalui izinNYA kami menjawab.

Sahabatku… Dalam kenetralan kita akan memilih dengan menggunakan akal yang bergerak cerdas untuk memahi sebab-akibat dari setiap pilihannya sendiri.

Keselarasan semesta adalah keniscyaan yang terlihat oleh kacamata kenetralan yang tidak berpihak pada susah atau mudah, pada untung atau rugi, pada sukses atau gagal. Karena bagi semesta setiap nilai apapun itu hanyalah sebab dan akibat.

Jangan berkata kalau selaras menurut semesta berarti segalanya akan mudah secara otomatis. Karena baik itu kemudahan atau kesusahan, keduanya tidak hadir begitu saja. Tetap saja dua nilai yang berlangsung ini bisa berlangsung karena dibelakangnya bekerja hukum sebab akibat yang senantiasa berlangsung.

Keselarasan semesta tidak pernah menyalahi hukum sebab akibat yang berlangsung. Semesta tunduk dan patuh pada tatanan yang sudah tertata rapih untuk mengatur semesta ini. Jadi apapun itu keputusan yang telah kita pilih memang akan selalu didukung oleh semesta.

Tanpa keberpihakan semesta akan senantiasa mendukung segala pilihan. Adapun hasil dari setiap pilihan akan selalu sesuai dengan hukum sebab-akibat yang sudah tertata tanpa ada yang menyalahi satu sama lainnya.

Jadi sahabatku… Sekarang semuanya hanya tentang bentuk yang ingin kita bentuk. Karena apapun itu bentuknya, maka semesta akan selalu mendukungnya. Ingatlah selalu kalau kenetralan adalah keniscayaan semesta. Jadi memang semesta akan selalu menyelaraskan setiap keputusan yang kita bentuk dengan sebab akibat yang berlaku.

Sampai disini semuanya menjadi sederhana. Seharusnya seperti apa keinginan yang ingin kita bentuk, harus kita selalu disesuaikan dengan apapun keputusan terbaik yang mendukungnya agar bisa terwujud. Sebenarnya segala sesuatu yang kita miliki dan hadapi saat ini adalah efek yang merupakan hasil dari sebab tertentu.

Dalam hidup ini setiap akibat memiliki efek spesifik yang bisa diprediksi penyebabnya. Begitu juga setiap akibat memiliki alur spesifik yang terprediksi dari penyebabnya. Semesta akan selalu menyelaraskan setiap keputusan yang kita bentuk dengan sebab akibat yang berlaku. Tugas kita adalah memilih sebab-sebab yang mendukung akibat yang ingin kita bentuk.

Semuanya terjadi karena alasan, baik atau buruk semua memiliki alur. Tidak ada yang terjadi karena kebetulan atau keberuntungan. Segala sesuatu terjadi karena suatu alasan sebagai akibat langsung dari penyebab yang kita hasilkan dari dalam diri.

Segalanya membawa usul, alasan dan tentunya sebuah awal. Kebetulan adalah alur proses yang tidak terpahami. Jalur alur yang luput dari pengamatan dan kewaspadaan, itulah kebetulan. Jadi bahkan kebetulan pun memiliki awal.

Sahabatku… Kita akan selalu selaras dengan semesta. Baik dan buruk semesta akan selalu mendukungnya. Gagal atau sukses semesta akan selalu mendukungnya. Semesta tidak memilih baik dan sukses tetapi kita lah yang membentuknya. Kita membentuk kesuksekan dengan setiap pilihan-pilihan yang kita pilih.

Sayangnya memang kita memiliki keterbatasan utama yang selalu menjadi penghalang kita untuk menikmati kesuksesan.  Keterbatasan kita itu adalah ketidakpahaman kita kalau setiap keputusan sudah membawa nasibnya masing-masing.

Saat rintikan hujan turun ke atas tanah, kita tidak bisa berharap tanahnya tidak menjadi basah kecuali kalau kita memilih melindungi tanahnya dari hujan. Contoh sederhana, kalau memang setiap keinginan harus selalu sesuai dengan pilihan yang kita aksikan.

Apabila kita sudah terlanjur membuat keputusan, maka netralkan diri saat menyaksikan kesusahan dan kegagalan yang dibawanya. Ingatkan ego kalau ini hanyalah sebab dan akibat. Apa yang perlu kita lakukan hanyalah merubah sebabnya untuk menerima akibat yang berbeda.

Gunakanlah segala anugerah yang kita miliki saat ini untuk merubahnya. Dan dalam kenetralan diri yang makin dijernihkan, lakukanlah sebab terbaik untuk akibat terbaik. Ajak serta akal yang berpikir untuk menyaksikan segalanya untuk mempelajari setiap keputusan apapun sebelum benar-benar meng-aksikannya.

Pahami kalau keputusan kita adalah nasib yang kita bentuk, apabila hasilnya masih tidak sesuai dengan harapan. Maka cobalah tanyakan kedalam diri; sudahkah saya melakukan sebab terbaik untuk akibat terbaik?

Kalau jawabannya belum maksimal. Maka teruslah memaksimalkannya sahabatku…

Teruslah memaksimalkannya dalam kenetralan tanpa mendikte semesta. Tetapi dengan terus memakimalkan sebab terbaik untuk akibat terbaik. Dengan cara seperti inilah kita akan membentuk nasib ini sesuai takdirNYA.

Takdir kita adalah sebagai rahmat bagi semesta alam. Jadi apapun sebab dan akibatnya segalanya sudah menjadi rahmatNYA. Baik dan buruk adalah sama-sama rahmatNYA.

Kalau ego kita masih menganggap rahmatNYA hanya ada pada baik, maka itu tak apa sahabatku… Teruslah saja memaksimalkan sebab yang terbaik untuk akibat yang terbaik.

Semesta ini seperti berada di banyak persimpangan jalan. Kesadaran kita harus memilih jalan terbaik untuk sampai ditempat terbaik. Ingatlah saja kalau rahmatNYA itu selalu menyertai. Mendekatlah & rasakanlah! Kesusahan ini akan mereda dari rasanya, dan semesta yang sudah selaras pun jadi terasa selaras.

 

Salam semesta

Copyright 2020 © www.pesansemesta.com

  •  
  •  
  •  
  • 0
  • Desember 31, 2020
admin16 admin16 Author

KEMANAKAH HILANGNYA SUARA?

 


Seorang sahabat bertanya “Sampai saat ini saya masih belum mengerti atas pertanyaan yang datang dari diri saya sendiri yaitu: "KEMANAKAH HILANG/PERGINYA SUARA"? Mohon berkenan membantu untuk menjawabnya” Melalui izinNYA kami menjawab.

Sahabatku… Sungguh pertanyaan yang penuh essensi mendalam dari semesta yang hadir untuk mengingatkan dalam kelembutan rahmatNYA. Beruntungnya setiap semesta yang menemukan pertanyaan.

Coba bayangkan sejenak suara apa yang telah kita hilangkan jejaknya untuk mampu terdengar. Dalam hidup ini, bahkan dalam keheningan alam nyatanya kita begitu sedikit mendengar bukan?

Tidak perlu mengambil contoh yang terlalu jauh dan rumit selain itu adalah mendengar diri kita sendiri.

Detak jantung yang terasa berdetak ini sebenarnya menghasilkan suara dinamis yang seharusnya kita dengar selalu perubahannya. Desiran darah yang mengalir ini mampu menghasilkan suara tersendiri, meski desirannya masih terlalu sunyi untuk didengar. Gelombang otak memiliki sura yang menggeser disetiap perubahannya frekuensinya.

Intinya sahabatku… Setiap molekul yang bergesekan itu menghasilkan suara khas yang seharusnya kita dengar. Agar kita mampu pelajari perubahan-perubahan apa yang telah terjadi dalam diri kita, sehingga kita mampu bergerak dengan tepat untuk menyeimbangkannya.

Hanya saja meski keseimbangan diri itu penting, anehnya kita kehilangan suara itu bukan?

Kita kehilangan suara bahkan untuk suara yang ada didalam. Kalau yang didalam saja terlewat, lalu bagaimana dengan suara yang ada diluar. Setiap sel terdiri dari molekul-molekul yang atomnya senantiasa bergetar, gesekan getarannya menghasilkan suara.

Jelas suara itu tidaklah menghilang. Tetapi kitalah yang kehilangan diri untuk mau mendengarnya. Kehilangan diri untuk mau mendengar bukan berarti kita kehilangan kemampuan untuk mendengar.

Pada bagian telinga tengah yang normal gelombang suara apapun masuk ke telinga bagian dalam dan kemudian ke koklea. Koklea diisi dengan cairan yang bergerak sebagai respons terhadap getaran dari jendela oval. Saat cairan bergerak, 25.000 ujung saraf mulai bergerak.

Ujung saraf ini mengubah getaran menjadi impuls listrik yang kemudian berjalan di sepanjang saraf kranial kedelapan (saraf pendengaran) ke otak. Otak kemudian menafsirkan sinyal-sinyal ini, dan begitulah cara kita mendengar.

Jadi apapun getarannya, sebenarnya memang akan terdengar oleh telinga manusia normal.

Mungkin saat ini kita yang membaca artikel sederhana ini bertanya; Apakah begitu penting mendengar gesekan molekul? Apa manfaatnya dari mendengar gesekan molecular dan apa keuntungannya yang akan kita dapat?

Begitulah kita sahabatku… Kita kehilangan diri untuk mau mendengar. Kita hanya mau mendengar apa yang ingin kita dengar dan membuang sisanya yang tidak terlihat menguntungkan.

Bijaksananya, tidak terlihat bukan berarti tidak ada. Mari kita mencoba move in sebentar untuk mencari esensi dari semesta yang mengingatkan kita untuk mendengar suara-suaraNYA.

Sahabatku… Kami tidak sembarang saat mengucapkan kata suara-suaraNYA. Seharusnya ini adalah tauhid pertama yang harus kita pupuk dari awal. Bahwa apapun yang terdengar itu, apapun yang terlihat itu, sampai apapun yang terasa itu tidak akan ada tanpa ada yang membuat.

Mendengar itu bukan sekedar mendengar dan berlalu. Tetapi mendengar bagaimana dan untuk apa Sang Pembentuk membentukNYA.

Kebanyakan kita hanya sadar kalau hanya dengan penglihatanlah kita mengumpulkan informasi. Padahal dengan pendengaran kita juga mampu mengumpulkan informasi.

Seperti halnya penglihatan, pendengaran manusia mengumpulkan, dan mengirimkan informasi dari kedua belahan telinga menuju otak. Kedua telinga bekerja secara harmonis sebagai sistem yang terbagi antara berbagai sisi. Sama seperti mata kita yang menerima informasi dari kiri dan kanan, otak kita akan menghasilkan gambaran akustik serupa yang diterimanya dari telinga juga.

Kecerdasan pendengaran manusia mendefinisikan mekanisme rumit pemrosesan suara yang sebenarnya adalah gesekan molecular. Oleh karena itu, kualitas pendengaran kita merupakan faktor kunci kecerdasan lain yang jarang digali untuk dimaksimalkan.

Tuntunya setiap apa yang kita dengar ada berkat kecerdasan semesta yang mematuhi bentukan Sang Pembentuk. Jadi tidak ada bagian yang terlewat dari selain itu adalah kecerdasanNYA. Bagaimana kita mendengarnya juga adalah kecerdasanNYA.

Dengan kemauan kita untuk mendengar, maka kita masuk untuk menjadi saksi dari kecerdasan bentukNYA. Menyaksikan wujud ilmuNYA yang seharusnya selalu tersaksikan. Menerima hikmah dari hikmah yang seharusnya diterima. Sampai akhirnya kita bisa memanfaatkan apa-apa yang tidak dimanfaatkan untuk kemakmuran semesta.

Sahabatku… Bukankah ini adalah keuntungan bagi yang mau mendengar?

Akhir kata… Semoga saja jawaban ini mampu membawa kita yang membacanya kepada penyaksian yang lebih dalam lagi. Terimakasih bagi semesta untuk segala pertanyaan yang mendamaikan.

Nikmatilah apa yang seharusnya kita dengar sahabatku… Jangan terlalu memaksa mendengar tanpa menikmati. Karena tidaklah itu kecuali adalah moment kebersamaan kita dengan Dzat Maha Pembuat suara itu.

Pahamilah kalau tidak ada keheningan yang hening bagiNYA. Semuanya terdengar dan bersuara dalam gemaan yang apa adanya. Semesta ini adalah gemaan yang akan selalu terdengar kalau kita mau khusyu mendengar bersama pembentukNYA.

 

Salam Semesta

Copyright 2020 © www.pesansemesta.com

 

 

  • 0
  • Desember 25, 2020
admin16 admin16 Author

SAATNYA UPGRADE PROGRAM PIKIRAN BAWAH SADAR

 


“Kalau kita tidak bisa memprogram diri, maka kita akan menjadi semesta yang terus diprogram”

Sahabatku… Program pikiran bawah sadar bukan program genetis. Artinya, program pikiran bawah sadar tidak menurun secara genetis. Tetapi program yang sengaja terinputkan lingkungan dan mampu mempengaruhi genetika seseorang.

Manusia dilahirkan suci dalam fitrah, orang tua dan lingkunganlah yang akan lanjut membantu membentuk dirinya. Fungsi peran orang tua sebenarnya adalah memprogram anak-anak mereka dari awal pembelahan sel sampai mereka dewasa dan mampu memprogram diri mereka sendiri, agar bergerak sesuai program semesta yang netral.

Sayang dahulu orang tua kita atau bahkan kita sendiri sudah terlanjur menjauh dari memahami fungsi peran ini. Namun bukan berarti kita tidak memiliki pilihan sahabatku… Dzat Maha menghidupkan kita dengan banyak pilihan untuk dipilih. Semesta selalu memiliki pilihan begitu juga pilihan untuk memprogram dirinya sendiri.

 

JADI APA ITU PROGRAM PIKIRAN BAWAH SADAR?

Begini sahabatku… Dalam pergerakan diri, kita dikendalikan oleh banyak program yang berlangsung, salah satunya adalah pikiran bawah sadar.

Program pikiran bawah sadar bertanggung jawab dengan pergerakan segala organ dan neurotransmitter didalamnya. Sementara setiap gerakan neurotransmitter meninggalkan jejak perubahan kepada setiap sel yang membentuk diri kita. Itulah kenapa kita kesulitan membedakan antara program pikiran bawah sadar dengan program pikiran sadar. Karena memang kedua program ini berjalan disetiap pergerakan sel-sel jasad kita.

Manusia adalah kumpulan keterhubungn sistem. Ada banyak program-program yang running untuk menjalankan satu sistem. Kita ini adalah kompleksitas program-program super canggih yang istimewa. Namun keistimewaan yang istimewa ini akan memudar kalau tidak terpahami. Jadi sebaiknya memang perlahan-lahan dipahami agar mampu dikendalikan dan keistimewaanya bisa dimaksimalkan.

Pikiran bawah sadar sendiri seperti bank memori yang sangat besar. Kapasitasnya hampir tidak terbatas. Ini secara permanen menyimpan semua yang pernah terjadi pada hidup kita.

Fungsi pikiran bawah sadar adalah menyimpan dan mengambil data, serta memberi kita template untuk setiap aksi tindakan manusia. Tugasnya adalah memastikan bahwa kita merespons persis seperti yang telah kita programkan.

Seperti biasa, semesta selalu memiliki nilai yang harus dijaga seimbang. Sisi baik dari apa yang dilakukan oleh program bawah sadar adalah untuk saving energi. Otak manusia butuh energi yang lebih kalau mereka harus terus menerus harus memikirkan hal-hal yang mereka biasa lakukan secara sadar. Jadi ketimbang membuang-buang energi, program bawah sadar merekam aktifitas sadar kita dan menghadirkannya secara otomatis.

Sayangnya tidak semua program yang terprogram sesuai dengan fitrah, fungsi, tujuan dan tugas kita masing-masing sebagai semesta. Kebanyakan program kita adalah program masal yang justru malah mendown-gradekan kita dari versi terbaik diri. 

Pemrograman ini terlaksan sejak kita berumur 0-7 tahun, dimana pada masa itu kita merekam semua aktifitas kita ke dalam pikiran bawah sadar, sehingga saat lepas dari umur itu kita bisa  mensetting apa yang kita lakukan dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi secara otomatis.

Apakah program pikiran bawah sadar ini bisa dihentikan?

Keotomatisan pikiran bawah sadar ini hanya akan berhenti sampai kita benar-benar memikirkan segalanya dengan sadar. Saat manusia berpikir, mereka akan menggunakan pikiran sadar dan menghentikan sementara program pikiran bawah sadar.

Ini terjadi karena pikiran bawah sadar kita bersifat subjektif. Ia tidak berpikir atau bernalar secara mandiri. Pikiran bawah sadar adalah program yang terus berputar.

Kalau begitu apakah kita bisa menghapus pikiran bawah sadar?

Jawabannya adalah tidak bisa. Program bawah sadar tidak bisa dihapus. Pikiran bawah sadar itu ibarat musik yang mengalun abadi tanpa tombol play. Sementara pikiran sadar ibarat tombol Pause bagi musik itu.

Kalau kita tidak pernah menekan tombol Pause, maka musik itu akan terus berputar tanpa ada yang bisa menghentikan karena memang musik itu tidak bisa dihapus. Seseorang tidak bisa hidup tanpa program bawah sadarnya. Jadi satu-satunya cara adalah dengan meng-upgrade program bawah sadar yang tidak relevan dengan program bawah sadar yang baru.

 

LALU BAGAIMANA CARANYA KITA MENG-UPGRADE PROGRAM PIKIRAN BAWAH SADAR?

Sesuai namanya, upgrade adalah pemindahan level ke level yang lebih canggih. Jadi kita melakukan upgrade program pikiran bawah sadar agar programnya bisa naik level, dan bukan justru turun.

Sudah menjadi keharusan sebelum memulai upgrade kita harus masuk ke dalam pikiran sadar untuk move in, yaitu memikirkan diri sendiri untuk memilih program yang terbaik buat dirinya sendiri.

Pastinya ini penting dan wajib, karena kita harus sadar dahulu apa yang akan kita upgrade, dengan kata lain mencari jawaban dari apa yang akan kita perbaiki?

Tentu jawabannya bisa sangat beragam, bagi sebagian kita ada yang ingin memperbaiki hubungannya, keuangannya, cara pandangnya, kesehatannya, kesuksesaanya, spiritualitasnya. Apapun itu semuanya sah-sah saja.

Tips dari kami kalau Anda masih bingung dengan apa yang sebenarnya harus diupgrade. Maka cobalah memilih hal yang paling tidak bisa Anda lakukan atau yang paling sulit Anda lakukan. Misalnya Anda paling sulit meminta maaf, atau Anda sulit untuk menahan emosi, atau Anda sulit bersaing dan menerima persaingan.

Nah, kesulitan-kesulitan itu sebenarnya bukan karena Anda tidak mencobanya. Melainkan disebabkan oleh konsep program bawah sadar yang tidak mendukung. Artinya, Anda tidak memiliki program itu dibawah pikiran bawah sadar Anda, sehingga Anda menjadi kesulitan dengannya.

Tapi tenang, kita bisa membalik kondisinya dengan cara melakukan program upgrade. Jadi setelah memilih satu program yang ingin dirubah, maka saatnya pikiran sadar membuat satu konsep program baru untuk pikiran bawah sadar dan memasukan program itu ke dalamnya.

Ingat! Hanya satu program, jangan memasukkan terlalu banyak program sekaligus. Seperti yang banyak dilakukan sekarang. Karena itu tidak sesuai dengan sistem operasi otak.

Memang otak sangat pintar dalam pekerjaan multitasking. Tetapi, otak manusia selalu menseleksi hal yang paling Anda anggap penting dahulu. Mereka bekerja dengan menyaring informasi penting dan menghindari interupsi dari potongan-potongan informasi yang tidak relevan dengan kepentingan Anda. Gunakan rahasia otak ini untuk memprogram pikiran bawah sadar.

Kalau dibaca, langkah-langkah diatas ini terkesan sederhana bukan? Tapi bagaimana dengan aplikasinya sendiri. Bisakah menjadi sesederhana itu?

Baiklah, sesuai dengan hukumnya; segala sesuatu bisa mudah kalau kita bisa membuatnya mudah. Setuju? Pahami trik rahasia dibawah ini agar kita bisa melakukan upgrade ini dengan mudah.

 

TRIK RAHASIA APLIKASI PROGRAM BARU KE DALAM PIKIRAN BAWAH SADAR

Sahabatku… Kunci rahasia dari memasukkan program baru ke dalam pikiran bawah sadar adalah dengan menjadi sadar. Ingat rahasianya: Pikiran bawah sadar hanya mematuhi perintah yang diterimanya dari pikiran sadar. Apapun yang kita lakukan dengan kesadaran penuh, akan senantiasa dipatuhi oleh pikiran bawah sadar.

Jadi kita harus senantiasa memaksimalkan diri untuk hidup di zona pikiran sadar, agar pikiran bawah sadar bisa memprogram konsep program baru yang kita buat menjadi program yang otomatis.

Disini banyak dari kita yang sedikit keliru dalam memberikan tips mengupgrade pikiran bawah sadar. Mereka berkata kalau pikiran bawah sadar butuh repitisi yang berulang-ulang. Betul memang pikiran bawah butuh repitisi, tetapi tidak hanya repitisi saja, melainkan repitisi yang dilakukan secara sadar.

Karena kalau kita hanya bermain di repitisi saja tanpa menyertai pikiran sadar, maka pikiran bawah sadar tidak akan mencatat itu sebagai sebuah program baru. Itulah kenapa sebagian yang menggunakan konsep repitisi tidak terlalu berhasil. 

Ambil contoh kasus seperti ini: Agus adalah tempramen, dan Agus ingin mengajarkan pikiran bawah sadarnya program baru untuk mengontrol amarahnya. Lalu Agus melakukan konsep repitisi, dengan terus berkata ke dalam diri “saya damai dan tenang, saya damai dan tenang” terus saja dia mengulang-ulang ucapan itu agar terjadi repitisi.

Suatu hari Agus menghadapi situasi yang membuatnya marah, lalu dia pun menjadi marah sebegitu otomatisnya. Saat Agus tenang akhirnya dia termenung dipojokan dan menyesali dirinya kenapa dia marah. Dia menyadari kalau tidak seharusnya dia marah, seharusnya di damai dan tenang.

Pertanyaannya : Kenapa Agus baru menyadarinya belakangan dan bukan pada saat dia marah?

Sahabatku… Jawabannya adalah karena Agus tidak mengaktifkan pikiran sadarnya saat marah. Akhirnya program bawah sadar Aguslah yang muncul ke permukaan. Dan bukankah hal yang dialami Agus ini sering juga kita alami?

Untuk menghindarinya, maka kita harus selalu ingat aturannya, yaitu kita harus senantiasa memaksimalkan diri untuk hidup di zona pikiran sadar, agar pikiran bawah sadar kita bisa memprogram konsep program pikiran sadar yang baru menjadi program yang otomatis.

Hanya saja ini tidak cukup dilakukan dengan sekedar mulut yang mengucapkan repitis. Tetapi dibutuhkan juga akal yang berpikir agar paham konsep apa yang sedang diucapkannya. Akal yang paham merupakan tanda besar kalau kesadarannya pun ikut paham.

Sementara program bawah sadar akan selalu mengikuti program pikiran sadar. Itulah kenapa tanpa akal yang ikut serta, ucapan repitisi tidak akan banyak membantu. Hal yang briliant justru akan terjadi saat kita mampu menghadirkan kesadaran ber-akal. Karena semua kebiasaan berpikir dan bertindak yang secara sadar kita lakukan akan selalu disimpan di pikiran bawah sadar.

Semakin sering kita mengulangnya (secara sadar) maka pikiran bawah sadar akan memprogramnya secara otomatis. Bayangkan kalau kita berhasil mempogram pikiran bawah sadar bahwa hidup nyaman adalah hidup yang bergerak untuk memkmurkan semesta. Sangat super bukan?

Sahabatku… Apapun itu programnya yang akan kita upgrade, teruslah mencobanya sampai kita berhasil mengembangkan diri pada tingkat baru yang lebih tinggi.

Tanda kalau upgrade kita berhasil adalah kita berhasil keluar dari zona nyaman kita sendiri, menuju zona yang tidak nyaman, lalu akhirnya zona tidak nyaman itu berubah menjadi zona nyaman. Hal ini terjadi secara otomatis karena pikiran bawah sadar akan menghafal semua zona nyaman dan bekerja untuk membuat kita tetap di dalamnya.

Akhir kata sahabatku... Kalau kita masih malas untuk mengembangkan program diri, maka ingatlah sekali lagi; kalau kita tidak bisa memprogram diri, maka kita akan menjadi semesta yang terus diprogram.

Selamat mencoba sahabatku…

 

Salam semesta

Copyright 2020 © www.pesansemesta.com

 

  • 0
  • Desember 22, 2020
admin16 admin16 Author

RAHASIA GELOMBANG FREKUENSI OTAK UNTUK MEMBANGUN KECERDASAN SEMESTA



Sahabatku… Banyak cara untuk menjadi semesta yang cerdas, salah satu caranya adalah dengan mensetting frekuensi gelombang otak saat belajar. Sebenarnya ini merupakan rahasia paling mudah dan cepat untuk menjadi cerdas.

Sayang, tidak semua manusia memahami trik sederhana yang akan kami jabarkan ini. Semoga kita yang membaca artikel ini mampu mempraktekkannya. Sehingga bersama-sama kita bisa saling meningkatkan kecerdasan semesta.

Kecerdasan semesta adalah keberhasilan manusia menyelesaikan masalah yang ada dihadapannya. Jadi bagi semesta, kecerdasan itu tidak dilihat dari sekedar nilai (A+) diatas selembar ijazah. Tetapi dilihat dari kemampuan tiap individu kita untuk saling memakmurkan.

Itulah kenapa bagi semesta tidak harus ada kesetaraan nilai dalam kecerdasan. Sebagai semesta kita bisa cerdas di segala bidang. Karena kecerdasan tiap manusia hadir untuk saling menyelesaikan kebutuhan, sehingga saling terbangun kemakmuran, dan bukan justru untuk saling membandingkan dalam perlombaan yang ketat.

Tentunya semesta akan semakin makmur saat masalah-masalahnya teratasi bukan? Jadi mulai sekarang, kita memang harus netral melihat masalah-masalah yang hadir dalam semesta ini. Karena sebenarnya masalah-masalah itu hadir bukan sebagai ujian dari Dzat Maha, melainkan sebagai sebuah kail yang menunggu ditarik oleh manusia-manusia cerdas yang mau netral mengatasinya.

Sayangnya saat dihadapi oleh masalah, kebanyakan kita justru lebih sering bersikap acuh karena merasa tidak memiliki kecerdasan skill dibidang itu. Padahal apabila kita mau, jasad kita terutama otak akan senantiasa mendukung kita 100% untuk membentuk kecerdasan skill apapun.

Selama ini manusia pasti tahu persis untuk memiliki kecerdasan skill, maka satu-satunya cara adalah dengan belajar. Sayangnya, kebanyakan kita belajar sambil mensetting frekuensi gelombang otak yang salah.

Hasilnya kita jadi susah untuk menjadi cerdas meski sudah mencobanya berkali-kali. Akhirnya manusia menjadi malas untuk belajar, apalagi sengaja belajar untuk menyelesaikan masalah yang ada di semesta. Karena dirinya sendiri sudah menyimpan masalah yang tidak bisa diselesaikannya sendiri. Padahal manusia adalah kecerdasan semesta yang tidak terbatas.

Nah, untuk mencabut batas kecerdasan yang kita miliki, maka setiap kita harus mulai mau memperhatikan frekuensi gelombang otaknya saat belajar apapun. Jadi begini, dalam jasad kecerdasan apapun adalah simpul neuron.

Ketika semua neuron ini diaktifkan, mereka menghasilkan pulsa listrik, aktivitas listrik yang disinkronkan ini menghasilkan "gelombang otak". Jadi gelombang otak adalah hasil dari aktifitas koneksi neuron dalam otak manusia.

Berdasarkan frekuensi getarannya gelombang otak manusia terbagi kedalam lima pola, yaitu : Beta, Alpha, Theta, Delta dan Gamma. Masing-masing gelombang otak ini memiliki serangkaian karakteristiknya sendiri-sendiri. 

Contohnya kita tidak bisa belajar sambil mensetting frekuensi gelombang Theta dan Delta. Gelombang Theta 4 hz – 8 hz  terjadi pada saat kita mengalami tidur ringan, atau sangat mengantuk. Gelombang Deltha 0.5 hz – 4 hz terjadi pada saat kita tertidur lelap, tanpa mimpi.

Bagaimana dengan frekuensi gelombang Alpha? Gelombang Alpha 8 hz – 12 hz terjadi saat kita sedang rileks, melamun atau berkhayal. Kondisi Alpha ini sangat bagus dipakai untuk memasukkan informasi ke alam bawah sadar. Karena meski sangat nyaman, namun gelombang Alpha tidak bisa digunakan untuk berpikir rasional. Jadi gelombang otak ini tidak terlalu cocok kalau dipakai untuk meningkatkan kecerdasan skill yang membutuhkan diri untuk berpikir sadar. Gelombang ini justru akan lebih baik kalau dipakai untuk meditasi atau Move in.

Karena Theta, Delta dan Alpha tidak cocok untuk belajar, maka selama ini kita direkomendasikan dan disetting untuk belajar pada frekuensi gelombang Beta (12-25 Hz). Dimana gelombang beta akan otomatis terjadi pada saat kita mengalami aktifitas diri (tubuh, jiwa, energi) yang terjaga penuh. Ini biasanya terjadi saat kita mulai memecahkan masalah, berpikir rasional, atau berkonsentrasi dengan tugas.

Gelombang Beta bukan gelombang yang buruk, kita jelas membutuhkannya. Tanpa diri yang mampu membentuk gelombang Beta, maka tidak ada yang namanya konsentrasi dan fokus. Hanya saja kekurangannya, gelombang Beta merangsang otak mengeluarkan hormon kortisol dan norepinefrin yang bisa membuat kita cemas, marah, dan stress kapan saja kita tidak mengkontrolnya.

Ini salah satu alasan kenapa seseorang merasa lelah saat belajar dalam waktu priode tertentu. Alasannya karena dia belajar sambil mensetting gelombang Beta. Apabila ini sengaja diulang berkali-kali setiap kali seseorang belajar, maka dia justru akan sulit untuk menjadi cerdas meskipun dia berkali-kali belajar.

Hormon kortisol dan norepinefrin yang berlebihan membuat otak menjadi sedikit error untuk mengelola informasi yang harusnya dikelolanya. Akhirnya seseorang harus berusaha terlalu keras dan sulit untuk menjadi cerdas.

Hal semacam ini sebenarnya tidak terlalu perlu terjadi kalau kita mampu mensetting gelombang otak kita untuk belajar pada frekuensi Gamma (40-100 Hz), dan inilah rahasia paling mudah dan cepat untuk menjadi cerdas dalam bidang apapun.

Banyak rumor yang mengatakan kalau gelombang Gamma membahayakan. Tapi ini hanyalah rumor agar kecerdasan menjadi barang yang mahal dan menyusahkan. Bayangkan! kalau setiap semesta bisa menjadi cerdas dengan mudah, maka semuanya akan jadi lebih sulit terkomersialisasi bukan?

Pikirkanlah sahabatku… Dzat Maha tidak akan menyusahkan hidup kita kecuali itu adalah kita sendiri yang membuatnya sulit.  Kecerdasan semesta bukanlah hal yang sulit kalau kita mampu menyeimbangkan caranya. Sementara cara termudahnya adalah dengan mensetting gelombang Gamma setiap kali akan belajar. Kenapa Gelombang Gamma?  

Gelombang Gamma ini berasal dari thalamus dan bergerak dari belakang otak ke depan dan kembali lagi 40 kali per detik. Aktivitas yang cepat ini menjadikan kondisi gamma sebagai salah satu puncak kinerja mental dan fisik.

Karena kalau pada gelombang Beta kita mampu berpikiran sadar tapi menjadi stress, hal yang sebaliknya terjadi pada gelombang Gamma. Saat kita berada pada gelombang Gamma kita mampu berpikiran sadar tapi tanpa strees dan tetap relaks. Itulah alasan mengapa gelombang Gamaa disebut keadaan super seseorang. Dimana seseorang menjadi sangat cerdas secara pikiran, namun sangat tenang dalam perasaan.

Para ahli saraf sendiri percaya bahwa mereka yang kesulitan belajar, mereka yang memiliki memori buruk dan mereka yang mengalami gangguan pemrosesan emosi memiliki aktivitas gelombang gamma yang rendah.

Mereka yang tingkat aktivitas Gamma-nya tinggi biasanya sangat cerdas, penuh kasih sayang, bahagia, dan memiliki ingatan yang sangat baik dan kontrol diri yang kuat. Begitu juga dengan skor IQ, EQ dan SQ orang dengan aktivitas gelombang Gamma tinggi, hasil skor mereka juga tinggi.

Sayangnya gelombang Gamma tidak akan otomatis terjadi saat seseorang berpikir sadar sebagaimana gelombang Beta. Jadi, kita harus secara sengaja dan sadar mensetting diri agar menghasilkan gelombang Gamma untuk memanfaatkannya. Para ilmuan percaya bahwa kita dapat melatih diri untuk menghasilkan lebih banyak frekuensi Gamma. Jadi ini bukan hal yang tidak mungkin.

Pada artikel berikutnya kita akan lanjut membahas cara mensetting diri untuk terus menghasilkan gelombang Gamma. Pembahasan nanti akan menjadi lebih penting lagi dari sekarang. Karena ternyata gelombang Gamma tidak hanya mampu memakmurkan diri, tetapi juga memakmurkan Bumi sebagai alam semesta terdekat kita.

Akhir kata sahabatku…

Manusia adalah kesempurnaan pembentukan kalau mereka mau mempelajari diri mereka sendiri. Dari apa yang kita pelajari hari ini saja terlihat jelas kalau bahkan di jasad kita ini banyak sekali tools yang belum kita maksimalkan kegunaannya.

Jadi janganlah berhenti untuk mengagumi kesempurnaan kita. Teruslah bersemangat mengenal diri dan membuat diri takjub akan kecerdasanNYA yang sangat sempurna ini.

Salam Semesta

Copyright 2020 © www.pesansemesta.com

  • 0
  • Desember 22, 2020
admin16 admin16 Author

MERAIH KHUSYU SEJATI

 

Seorang sahabat bertanya “Min... Mohon jelaskan tentang khusyu! Kenapa saya selalu susah khusyu dalam ibadah meski sudah berusaha fokus?” Melalui izinNYA kami menjawab.

Sahabatku… Sebelumnya pahamilah kalau khusyu itu tidak didapat dari fokus. Ini penting! Jadi mohon jangan beranggapan kefokusan kita dalam melakukan ibadah-lah yang akan mendatangkan khusyu. Kekhusyuaan tidak didatangkan dari fokus.

Secara harfiah khusyu berarti rendah, takluk, dan merendahkan diri kepada Tuhan yang disembah. Sebenarnya dari memahami pengertian ini saja kita sudah bisa menerima solusi dari pertanyaan diatas.

Mari kita simak penjabarannya agar kita menjadi lebih paham. Karena sebenarnya khusyu adalah hal penting yang harus terasa. Setiap orang yang melaksanakan ibadah harus merasakan khusyu, apapun ibadah yang sedang dilakukannya.

Khusyuk itu penting agar ibadahnya bukan lagi sekedar menjadi gerakan tubuh atau ucapan mulut, melainkan menjadi makna yang membawa hasil positif kepada kesadaran spiritual.

Salah satu tanda kalau kita telah mendatangkan manfaat kesadaran spiritual didalam ritual ibadah adalah munculnya rasa khusyu sejati, sebuah rasa yang berbeda dengan sekedar menahan fokus.

Khusyu sejati adalah rasa luar biasa bersahaja dalam kekhidmatan ibadah. Karena diri yang telah menjadi khusyu itu sudah membersamai ibadahnya itu sendiri.

Pastinya selalu ada sebab akibat yang senantiasa menyertai sebuah hasil. Salah satu alasan untuk kembali merasakan khusyu yang sejati dalam beribadah adalah dengan mengintrospeksi diri terlebih dahulu.

 

Pertama, coba tanyakan kedalam diri “sudahkah saya merendah?”

Apa itu merendah diri dalam beribadah?

Sahabatku… Ibadah itu sebenarnya bukan sekedar ritual yang dilakukan dalam waktu dan tempat tertentu. Tetapi aksi diri kita secara keseluruhan. Dengan kata lain, apapun yang kita lakukan dengan diri ini adalah ibadah tanpa ada batasan waktu dan tempat.

Itulah kenapa memang Dzat Maha tidak pernah membutuhkan ibadah-ibadah kita. Karena Dzat Maha sudah memberikan kita segala apa yang kita butuhkan untuk beraksi, Dzat Maha sudah menyempurnakannya dan Dzat Maha juga sudah memberi kesempatannya agar kita bisa beraksi.

Jadi memang sebuah kewajiban kalau seseorang harus membangun dulu mindsetnya tentang ibadah sebelum dia beribadah. Ini penting agar seseorang mampu merendahkan diri dalam beribadah. Merendah karena paham, kalau ibadah ini dilakukan bukan untuk Dzat Maha yang kita sebut Tuhan, tetapi untuk aksi diri kita sendiri.

Jadi sahabatku… coba tanyakan pertanyaan pertama pertama ini dahulu.

Jawablah dengan jujur, karena tanpa jawaban kita pun sebab akibat dalam semesta ini akan selalu berguril dengan jujur. Kejujuran ini hanya tentang kesadaran kita yang harus belajar paham.

Kedua, tanyakan “sudahkah saya menaklukkan diri?”

Lalu, apa itu menaklukkan diri dalam beribadah?

Sahabatku… Janganlah membawa ego dalam beribadah. Apapun itu ibadah yang kita lakukan. Lakukan dalam kenetralan sebagai sebuah kewajaran. Artinya, sebelum bisa merasakan khusyu sejati, maka kita harus terlebih dahulu menaklukan ego.

Salah satu diantara contoh-contoh ego dalam ibadah yang harus ditaklukkan adalah, pengakuan telah beribadah, hasrat mendapat pengakuan dan imbalan, sampai keinginan untuk merasakan khusyu pun masuk ke dalam  ego dalam ibadah. Jadi maksudnya?

Maksudnya adalah jadilah netral. Ingat kembali point introspeksi pertama; ibadah adalah aksi diri. Jadi jadikan aksi kita ini sebagai kewajaran yang memang seharusnya kita lakukan sebagai semesta yang dibuatNYA.

Caranya? Netralkanlah diri dari keinginan. Seperti seporsi oksigen yang sedang berjuang menghidupi setiap mitokondria kita. Bukankah mereka tidak memiliki keinginan apa-apa, selain keinginan bergerak sesuai keinginan pembuatNYA?

Nah sahabatku… Sudahkah ibadah kita sudah sesuai kendali keinginan pembuatNYA, atau kita masih mengendalikan keinginan itu?

Jawablah dengan jujur, karena tanpa jawaban kita pun sebab akibat dalam semesta ini akan selalu berguril dengan jujur. Kejujuran ini hanya tentang kesadaran kita yang harus belajar paham.

 

Ketiga, tanyakan “sudahkah saya merendahkan diri kepada tuhan yang disembah?”

Sebelum menjawab pertanyaan diatas, coba jawab dahulu; apakah kita sudah menyembah Tuhan? Kalau kita menjawab iya, maka coba tanyakan siapa itu Tuhan?

Singkatnya kita akan menjawab kalau Tuhan itu adalah Sang Pencipta. Tapi Tuhan itu sendiri definitif. Tuhan itu adalah sesuatu yang disembah dan puja, sesuatu yang ditakuti, sesuatu yang di prioritaskan, dan sesuatu yang mampu membuat kita melakukan sesuatu yang tidak kita sukai.

Dari definisi ini mari kita bertanya: Siapakah Tuhan dalam hidup kita? Siapakah yang kita sembah dan kita puja dalam hidup ini? Siapakah sesuatu yang kita takuti dalam hidup ini? Siapakah sesuatu yang kita prioritaskan dalam hidup ini? Siapakah sesuatu yang mampu membuat kita mampu melakukan sesuatu yang tidak kita sukai dalam hidup ini?

Apapun perbedaan nama Tuhan dalam tiap agama, tetap definisi tuhan adalah sama. Jadi yang terpenting adalah aplikasinya bukan namanya. Jadi mari kita menjawab dalam kejujuran sahabatku... Dan kita akan menemukan bahwa itulah Tuhan kita, dan barulah kita boleh mengakui kalau diri kita memang sudah menyembah Tuhan.

Ini memang berat, mau tidak mau, kita yang mengaku beragama atau kita yang mengaku tidak beragama, tetap harus menemukan satu titik kerendahan diri untuk menjawab pertanyaan ini. Karena dari jawaban jujur ini, kita bisa mentuhankan siapa saja, bahkan kita bisa mentuhankan diri kita sendiri, orang tua, bos ataupun pasang. Kalau jawabannya memang bukan diriNYA, maka pantaskah kita mengakui diri telah menyembahNYA?

Khusyu itu akan otomatis didapat saat seseorang berhasil menemukan titik kerendahan diri ini, dan bukan saat seseorang menyempurnakan ibadahnya dengan fokus. Apa itu menyempurnakan ibadah dengan fokus, kalau seseorang bahkan tidak mampu menjawab atas nama Siapa dia beribadah?

Akhir kata Sahabatku…

Dari hasil introspeksi ini bukankah kita bisa melihat, kalau kita selalu menuntut lebih untuk mendapatkan hasil yang sempurna, padahal kita tidak pernah melakukan sebab-akibatnya?

Kita berharap merasakan khusyu sejati, tetapi kita belum merendah, kita belum menaklukkan dan kita bahkan belum menyembah.

Tentunya sampai disini kita semua tahu apa yang harus dilakukannya untuk meraih khusyu sejati dalam ibadah itu bukan? Raihlah sahabatku…

Saat nafas ini tahu bersama siapa dia bernafas, maka disitulah kekhusyuaan sejati muncul. Tidaklah kita meraih khusyu sejati kecuali bersamaNYA. Mulai hari ini jadilah khidmat bersamaNYA dan itulah kefokusan terbesarnya.

 

Salam Semesta

Copyright 2020 © www.pesansemesta.com

 

 

 

  •  
  •  
  •  
  •  
  • 0
  • Desember 21, 2020
admin16 admin16 Author

AGAR DIRI TERLEPAS DARI SAKITNYA SHADOW SELF



Sahabatku… Saat seseorang mengarungi perjalanan spiritual yang dalam, biasanya mereka akan mulai sadar kalau dirinya terikat dengan shadow self.

Biasanya shadow self mulai muncul saat seseorang sudah mulai membandingkan dirinya dengan konsep dirinya yang baru. Dimana seseorang yang terikat dengan shadow self ini sadar betul kalau kepribadian lamanya tidak lagi mendukung dirinya yang sekarang.

Shadow self sendiri adalah sisi kepribadian diri yang berisi semua bagian dari diri yang tidak lagi diingini oleh diri itu sendiri. Bisa berupa kebiasaan, sifat, sikap atau pemikiran.

Uniknya, justru saat diri ingin berubah menjadi pribadi yang baru, shadow self justru semakin mengikat. Akhirnya kebanyakan kita akan terjebak pada rasa tidak nyaman seperti, rasa tidak percaya diri, rasa menolak diri dan kurangnya self respect pada diri sendiri.

Akhirnya shadow self menjadi bagian yang menyakitkan. Utamanya rasa sakit terasa, karena diri sudah tidak lagi nyaman dengan dirinya sendiri.

Jadi pertanyaan pentingnya adalah; bagaimana agar diri mampu terlepas dari sakitnya shadow self?

Sahabatku… Semoga ketiga langkah dibawah ini bisa menjadi jalan keluar bagi kita-kita yang sedang merasa tersakiti oleh shadow self.

 

1# Terimalah Shadow Self Dan Janganlah Dihapus

Langkah pertama adalah menerima shadow self dan tidak menghapusnya. Saran ini aneh memang, justru kita sangat ingin menghapus shadow self bukan? Bagaimana bisa kita menyimpan hal yang begitu tidak nyaman untuk disimpan.

Namun sahabatku… Seburuk apapun penilaian kita tentang shadow self, tetap dia adalah diri yang selama ini menemani kita. Bagaimanapun juga shadow self sudah mengakar dengan erat, bertahun-tahun, bahkan mungkin dari kecil kita telah bersamanya.

Jadi meski saat ini kesadaran kita sudah memahami konsep kepribadian diri yang lebih baik, bukan berarti kita bisa menghapusnya begitu saja.

Cara terbaik adalah bukan dengan menghapus, tetapi dengan menerima.

Terimalah shadow self sebagai sejarah diri yang berharga. Siapakah kita yang saat ini tanpa diri kita yang dahulu bukan?

Tanpa shadow self mungkin kita tidak akan sampai di tahap yang sekarang ini. Tahap dimana kita telah menjadi sadar untuk menyadari kepribadian diri kita yang buruk dan mau mengubahnya.

Jadi sahabatku… Dalam keinginan kita merubah kepribadian, janganlah menarik shadow self untuk menghapusnya, selamanya kita tidak akan bisa menjauh dari shadow self ini! Semakin kita menolaknya, justru rasanya akan semakin tidak nyaman, diri akan penuh dengan kekecewaan. Padahal sebaik-baiknya diri adalah diri yang mampu mensyukuri dirinya sendiri.

Tanpa rasa syukur terhadap diri, maka tidak akan ada yang namanya perubahan positif. Sementara bersyukur itu butuh keikhlasan. Ikhlas sendiri adalah menempatkan diri pada titik keseimbangan.

Kalau kita terus membiasakan diri menghempas negatif dan hanya mau menerima positif untuk menguntungkan diri, maka keseimbangan apa yang bisa kita terima?

Kita akan menerima keseimbangan saat kita sudah mampu menghargai negatif, sebagaimana kita mampu menghargai positif. Disitulah keikhalasan kita dalam mensyukuri diri akan muncul. Karenanya, terimalah shadow self sahabatku…

Lagi pula, selamanya shadow self memang tidak akan bisa terhapus. Sebaik atau seburuk apapun kepribadian diri ini, tetap kita akan memiliki shadow self, pernyataan ini adalah saintifik (kita akan membahasnya pada kesempatan lain). Jadi artinya, kita akan selalu memiliki shadow self.

Tentunya sebagian kita pasti bertanya-tanya; Bagaimana bisa mengaplikasikan kepribadian baru yang lebih baik, kalau kepribadian yang lama tidak kita hapus?

Justru itulah gunanya kita TIDAK menghapus shadow self. Kita akan menerima shadow self dan berdamai dengannya agar shadow self menjadi jinak dan mau menurut dibawah kendali kesadaran kita. Karena dibawah kendali kesadaran kitalah nantinya kita akan mengajari shadow self.

 

2# Ajarilah Shadow Self Dengan Kasih Sayang

Setelah menerima shadow self, maka langkah selanjutnya adalah mengajarinya kepribadian yang baru.

Sahabatku… Pada tahap ini terapkanlah yang namanya kasih sayang dalam pelajaran. Diri kita akan belajar dan alangkah baik kalau dia terus belajar dalam rasa syukur yang penuh kasih sayang.

Jadi kita memang tidak akan membuatnya malu dan terjatuh, kita akan memapahnya dan menjadikan dirinya berharga dalam pijakan yang kuat. Kita akan mengagumi setiap upaya dirinya yang sedang berusaha dan kita akan terus berdiri disampingnya menjadi bayangannya yang terus mengajari.

Kalau shadow self Anda adalah amarah, maka teruslah mengajak dan mengajari shadow self untuk memahami dan mengendalikan amarahnya sendiri.

Rahasianya mengajari shadow self ada pada kenetralan diri dan waskita. Jadilah netral dan selalulah waskita dengan segala pergerakan dalam diri. Pelajaran ini butuh kasih sayang diri yang mau bersabar melihat dirinya sendiri belajar.

Jadi kasih sayang ke dalam diri adalah penting. Renungkanlah! Kalaulah Dzat Maha terus memberi kita kesempatan dan pengampunan yang tidak bersyarat. Lalu kenapa kita tidak mengikutinya? Bukankah diri ini adalah bentukanNYA. Seharusnya kita bisa menghargai bentukanNYA bukan?

3# Berproseslah Bersama Shadow Self Dengan Ramah

Sahabatku… Diantara proses siang yang menjadi malam ada sore. Diantara malam yang menjadi siang ada fajar. Apakah Dzat Maha tidak bisa langsung membuat siang dan malam tanpa proses sore dan fajar?

Tentu jawabannya adalah sangat bisa. Pastinya tidak ada yang mustahil bagi Tuhan Semesta Alam. Jadi ini bukan tentang bisa atau tidak bisa, tetapi tentang pelajaran yang terlihat.

Dzat Maha ingin kita melihat kalau setiap semesta akan melalui yang namanya siklus proses. Apa yang harus semesta lakukan adalah bukan memotong alur prosesnya namun mensyukuri prosesnya.

Sahabatku… Mensyukuri proses bukan dengan sekedar mengucapkan terimakasih pada proses. Tapi dengan terus berproses. Semesta adalah keramahan proses yang selalu mau berproses.

Hujan yang tiba-tiba turun, tidak turun begitu saja tanpa terlebih dahulu berproses. Bagi kita itu tiba-tiba hujan, tapi kalau kita mau mengerti, dari sebuah kejadian yang tiba-tiba itu sebenarny terurai kumpulan proses yang terstruktur. Tetapi tetap dengan ramah semesta mendukung proses hujan, sama seperti hujan yang ramah mau berproses.

Tentunya sama dengan dengan diri kita yang sekarang. Pelajaran yang diterima oleh shadow self kita adalah proses yang sedang berproses. Pertanyaanya; Maukah kita berproses dengan ramah bersama shadow self untuk membentuk kepribadian yang lebih baik?

Sahabatku… Shadow self adalah uraian kepribadian dari sebuah kumpulan proses yang kita bentuk sendiri. Kita bangun dari hasil berproses kita selama ini. Jadi kalau sekarang kita ingin membentuk kepribadian yang lebih baik darinya, maka mulailah lagi saja prosesnya sahabatku.  

Berproseslah lagi! Karena seperti apa kita ingin terbentuk dan berharga dalam kepribadian yang seperti apapun, tetap itu semua akan tergantung dari seberapa kuat kita memilih berproses.

Dahulu emas menjadi berharga karena dia mau berproses. Tapi mana yang lebih berharga emas atau berlian? Jelas berlian jauh lebih berharga dibanding emas. Tapi janga lupa, kalau berlian asli membutuhkan waktu berproses selama jutaan tahun untuk terbentuk. Itulah alasan utama berlian begitu mahal, indah, dan tidak bisa dihancurkan.

Akhir kata tersenyumlah Sahabatku… Shadow self itu bukan sisi diri yang buruk. Shadow self hanyalah bayangan diri yang ingin diterima dan diajari. Teruslah belajar dan berproses. Teruslah juga menyayangi diri beserta shadow selfnya, karena apapun diri ini adalah diriNYA. Setulus itu memang diriNYA menyayangi.

 

Salam Semesta

Copyright 2020 © www.pesansemesta.com

 

 

  •  
  •  
  •  
  •  
  • 0
  • Desember 20, 2020
admin16 admin16 Author

SPIRITUAL ENLIGHTENMENT


Seorang sahabat bertanya “Saya ini seorang yang tidak mempercayai agama. Apakah mungkin saya menjadi seorang spiritualis sejati?” Melalui izinNYA kami menjawab.

Pada tulisan kita disini kami hanya akan mencoba menemukan jawaban yang netral. Jadi ini bukan mungkin atau tidak mungkin. Segalanya adalah sebab akibat. Semesta hidup dalam dua nilai yang terseimbangkan.

Semoga tulisan sederhana ini menjadi pengetahuan netral semesta yang mampu mencerahkan setiap semesta yang masih terjebak dalam pengertian yang keliru untuk menemukan pencerahan spiritualnya masing-masing.

Sahabatku… Kekeliruan kecil kita selama ini adalah mengkaitkan Tuhan dengan agama. Itulah kenapa banyak dari kita yang terjebak dengan persepsi kalau untuk menjadi spiritual harus beragama, dan seseorang yang beragama sudah pasti spiritualis.

Mulai sekarang, tolong jangan lagi berpikiran kalau spiritualitas dan agama adalah sama. Memeluk agama tidak bisa menjadi tanda dari spiritualitas. Yang sebenarnya adalah, memeluk agama itu merupakan tanda dari religiusitas dan bukan spiritualitas.

Meskipun agama menekankan spiritualisme sebagai bagian dari iman. Tetaplah seseorang yang religius belum tentu spiritualis. Begitu juga kalau dibalik, seseorang yang sipiritualis belum tentu harus religius.

Spiritual adalah bergerak sebagai rahmatNYA bagi semesta alam. Spiritual tidak menghamba nama agama, melainkan menghamba langsung kepada Dzat Maha.

Perhatikanlah semesta kita, bukankah semesta kita ini tidak beragama? Tetapi, dalam ketidakjelasan agamanya kalau kita memperhatikan, semesta kita bergerak sesuai dengan aturan-aturan yang dibentuk oleh pembentukNYA. 

Mereka patuh kepada tugas dan fungsi mereka masing-masing. Mereka tidak merusak. Mereka hidup untuk memakmurkan. Mereka konsisten agar gerakan mereka adalah gerakan rahmatNYA bagi semesta alam.

Jangan jauh-jauh mencari contoh. Perhatikan saja detak jantung kita saat ini, berdetak pastinya. Faktanya, jantung umat manusia memiliki sistem operasi yang sama, meskipun mereka berbeda agama atau tidak beragama sekalipun. Atau perhatikan matahari yang terbit dan terbenam itu, apakah dia memilih satu area untuk disinari hanya berdasarkan agama?

Dari dua contoh ini saja kalau kita netral, maka kita bisa paham, kalau keniscyaan semesta tidak memandang apa itu agama kita, atau apa itu keyakinan kita. Tidak juga memandang siapa nama Tuhan yang kita sebut dan yakini. Bahkan keniscayaan semesta seakan tidak peduli apakah kita ini semesta yang spiritual atau tidak spiritual.

Sahabatku… Begitulah adanya, keniscayaan semesta itu adalah kenetralan absolut yang akan terlihat oleh akal yang mau melihat, yang akan terdengar oleh akal yang mau mendengar. Kalau sudah terlihat dan terdengar, maka kita akan paham kalau semesta ini seakan-akan mau menunjukkan bahwa Dzat Maha itu memang tidak butuh disembah.

Jadi yang paling baik yang manakah… Beragama atau spiritualis? Tentunya benak kita bertanya-tanya seperti itu bukan?

Sahabatku… Di dalam perbedaan manusia dalam berkeyakinan, baik itu memeluk agama atau tidak memeluk agama. Kita harus mau belajar memahami nilai-nilai keniscayaan semesta agar kita tidak saling menyalahkan atau membenarkan. Sekali lagi, ini adalah pembahasan yang netral. Apapun agama yang kita peluk, pastinya mengajarkan kita untuk mampu melihat kenetralan semesta dan hidup di dalamnya.

Artinya, beragama atau tidak beragama setiap kita bisa menjadi spiritualis sejati. Kami tidak akan menjawab salah satunya lebih baik. Karena kebaikan hanyalah wajahNYA. Dari Dia-lah segala kebaikan hadir, jadi kami tidak akan menilai apa itu baik sebagai sebuah penghormatan kepada Dzat Maha Baik Pembuat nilai-nilai kebaikan itu sendiri.

Sebelumnya perlu dipahami kalau spiritualis sejati itu bukanlah sebuah pengakuan yang bisa dipublikasi. Bukan nama agama yang bisa ditulis. Bukan baju yang bisa memberi gelar.

Spiritual adalah jalinan khusus dimana seseorang telah berhasil menemui diriNYA didalam dirinya. Hasil dari penemuan ini adalah pembelajaran. Jadi seorang spiritual adalah seseorang yang sadar sedang belajar dan berguru.

Seorang spiritual sejati tidak akan bisa mengakui spiritualitasnya. Itu terjadi karena memang mereka sendiri masih menjadi seorang pelajar. Sebagai seorang pelajar tidak ada lagi nilai yang mereka kejar, selain mereka terus berguru dalam penghambaan yang ikhlas, dan itulah wujud kesejatian.

Jadi spiritual sejati adalah seseorang yang belajar dan berguru kepadaNYA. Kalau kita mau bertanya, dengan apakah mereka belajar? Jawabannya adalah dengan segala apa yang diperlihatkan, diberasakan, didengarkan dan diberpikiran olehNYA.

Sahabatku… Saat akal ini sudah mampu menggiring pemiliknya untuk menemui Dzat PembuatNYA, maka akal ini akan paham betul kalau proses hidup ini detik demi detiknya tidak akan pernah terlepas dariNYA.

Akhirnya iman bisa terbentuk dan menguat, sehingga seseorang itu mampu memahami kalau segala apa yang dia lihat, dia rasa, dia dengar dan dia pikirkan selalu berhubungan langsung denganNYA.

Akhirnya dia paham, kalau memang Dzat Maha lebih dekat dari urat nadi. Dzat Maha adalah segala tentangnya. Tidak ada detik kecuali bersamaNYA. Seperti sepasang dua bilik jantung yang menyatu. Seperti dua belah otak yang menyatu. Tanpa sela dan tanpa halang kecuali bersamaNYA. Indah dan manis, begitulah apa adanya kita menjadi hambaNYA.

Sahabatku… Sebagai orang yang menghamba, pastilah kita akan menurut kepada yang dituhankan. Inilah artinya kesucian spiritual, yaitu saat seseorang berguru kepadaNYA dalam penghambaan yang ikhlas.

Ikhlas menghamba, artinya kita tidak lagi memandang agama sebagai tuhan, melainkan hanya sebagai aturan yang kita hormati tapi tidak lagi kita tuhankan. Karena kita hanya mentuhankan Dzat Maha yang harusnya kita tuhankan, dan tidak lagi mentuhankan agama.

Sekali lagi, spiritual adalah bergerak sebagai rahmatNYA bagi semesta alam. Spiritual tidak menghamba nama agama, melainkan menghamba langsung kepada Dzat Maha. Mohon peganglah ini sebagai pencerahan yang cerah dari segala tujuan kita memilih, baik itu memilih spiritual saja atau beragama plus juga spiritual.

Apapun pilihan yang kita pilih setiap kita sejatinya memang bisa menjadi spiritual sejati. Baik itu yang tidak menganut agama, ataupun yang beragama. 

Sahabatku... Mohon jangan tersinggung dengan tulisan kami. Apabila tidak sesuai dengan keyakinan yang Anda nilai benar, maka biarkanlah apa adanya seperti ini. Keniscayaan semesta tidak hadir untuk memenuhi nilai yang Anda nilai benar.

Lagi pula dimana letaknya iman saat kita masih mencecar apa yang benar dan yang salah? Apakah kebenaran itu masih penting, padahal yang paling penting di antaranya adalah Iman “Rasa kita memilikiNYA... Rasa kita menyatu dengaNYA... Rasa kita selalu bersamaNYA” 

Pikirkanlah... Apakah benar dan salah menurut manusia itu masih penting, kalau ternyata kita sudah benar, karena telah memiliki rasa?

Simpanlah jawabannya untuk merasakan sahabatku… 

Akhir kata mohon pahami kalau kita tidak beriman untuk menjadi spiritual. Kita justru menjadi spiritual untuk menjadi beriman. Jangan dibalik agar pencerahan ini menjadi jelas dan nyata. 

 

Salam Semesta

Copyright 2020 © www.pesansemesta.com

 

 

  • 0
  • Desember 18, 2020
admin16 admin16 Author

APA YANG DIMAKSUD TESLA DENGAN ENERGI, FREKUENSI & VIBRASI?



Dalam hidupnya Tesla pernah berkata “Jika Anda ingin menemukan rahasia semesta, pikirkan dalam istilah energi, frekuensi, dan vibrasi.

Sahabatku… Mari kita memikirkan kembali maksud dari perkatan Tesla. Percayalah, dengan memahami maksudnya, maka kita akan menemukan banyak pelajaran tentang keniscayaan semesta yang sungguh sayang apabila sampai tidak terpahami.

 

1# ENERGI

Sahabatku… Secara ilmiah sudah terbukti kalau segalanya adalah energi, termasuk itu manusia. Apabila kita masih ragu dengan pernyataan ilmiah ini maka sentuhlah kulit kita sendiri, cobalah bertanya; Terbuat dari apakah lapisan kulit itu? Tentu jawaban sederhananya adalah sel-sel kulit.

Kalau begitu, terbuat dari apakah sel itu? Jawabannya, sel terbuat dari protein yang merupakan jenis molekul dan air yang merupakan molekul lain. Didalam pusat sel adalah DNA dan RNA, keduanya juga merupakan molekul rumit lainnya.

Baiklah, lalu terbuat dari apakah molekul itu? Molekul adalah gabungan dari beberapa atom unsur, bisa dua atau lebih. Contoh karbon dioksida (CO2) adalah sebuah molekul yang terbuat dari satu atom karbon dan dua atom oksigen.

Lalu bagaimana dengan atom itu sendiri, terbuat dari apakah atom? Atom adalah partikel terkecil dari sesuatu yang kita sebut materi. Mencengangkannya, atom tidak memiliki struktur fisik. Atom adalah 99,99999% energi, dan 0,00001% zat fisik.

Inti dari tiap materi yang kita saksikan sebagai alam semesta terbentuk dari sesuatu yang hampir tidak bisa kita lihat sama sekali sebagai zat fisik/materi. Bijaksananya bukan berarti tidak terlihat, maka sesuatu itu tidak ada. Tidak terlihatnya energi hanya tentang instrument penglihatan kita saja yang tidak mampu melihatnya.

Dalam kaca mata dunia fisika kuantum melalui pembuktian beberapa perangkat canggih bisa terlihat kalau seluruh materi tidak lain terbentuk dari molekul. Molekul adalah gabungan dari beberapa atom dan atom terbentuk dari energi yang bervibrasi.

 

2# VIBRASI

Salah satu bukti kuat kalau kita dan materi semesta ini energi, adalah kenyataan bahwa kita bervibrasi dan menterjemahkan vibrasi.

Harus diketahui bahwa atom-atom selalu berada dalam keadaan bergerak konstan, dan tergantung pada kecepatan vibrasi atom-atom inilah benda-benda muncul sebagai benda padat, cair, atau gas.

Jadi, dinding beton itu bisa kita rasakan sebagai benda padat karena laju getaran energinya. Semakin cepat sebuah atom bergetar, maka semakin padat molekulnya, begitu juga yang terjadi sebaliknya.

Karena itu disimpulkan kalau energi bergerak dalam vibrasi secara konstan. Dengan kata lain, kita hidup di lautan getaran/vibrasi.

Manusia adalah makhluk bergetar begitu juga dengan makhluk hidup lainnya, termasuk materi apapun di dalam semesta ini, baik materi yang masih terlihat atau tidak terlihat seperti udara dan gas. Baik yang bisa bergerak atau diam seperti dinding beton.

Memang betul secara kasat mata kita tidak melihat getarannya materi, kita hanya menterjemahkannya. Sampai saat ini masih banyak manusia belum siap betul untuk mengakui bahwa dirinya bergetar dan menterjemahkan getaran. Padahal segala hal yang kita amati dengan indra kita ini sebenarnya hanyalah interpretasi vibrasi.

Kita mendengar karena telinga kita menterjemahkan vibrasi. Kita melihat karena kita menterjemahkan vibrasi. Kita menghirup karena hidung kita menterjemahkan vibrasi. Jari kita menterjemahkan vibrasi dan begitu juga dengan lidah.

Indra manusia bekerja dengan menterjemahkan vibrasi apapun yang diterimanya, dan dari sebab-akibat proses itulah kesadaran manusia mampu menerima dan memahami lingkungannya. Sehingga akhirnya kesadaran manusia memiliki yang namanya pikiran, perasaan dan pilihan dalam bertindak seperti yang selama ini kita miliki sampai sekarang.

Sayang memang masih sedikit dari kita yang menyadari betul kalau dirinya adalah penterjemah vibrasi. Padahal dengan menyadari keniscayaan semesta ini maka segala hal bisa menjadi menguntungkan dan mudah.

Kami katakan mudah karena kita adalah energi, bergerak dalam energi dan sebagai energi. Sudah menjadi keniscayaan semesta energi itu bervibrasi. Sementara vibrasi itu ibarat pemancar yang membentuk frekuensi tertentu.

Dengan kata lain semua manusia dan materi semesta memiliki medan energi yang memiliki frekuensi getarannya sendiri-sendiri, baik mereka menyadarinya atau tidak menyadarinya.

 

3# FREKUENSI

Secara sederhana kita bisa mengartikan frekuensi sebagai gelombang. Setiap energi bergetar dan getarannya itu memancarkan gelombang energi.

Karena semua gelombang itu adalah perjalanan energi, maka semakin banyak energi yang bergetar dalam gelombang, maka semakin tinggi frekuensinya. Semakin rendah frekuensinya, semakin sedikit energi yang bergetar dalam gelombang.

Frekuensi sendiri diukur dalam satuan hertz (Hz), digunakan untuk menentukan dan membedakan pola getaran. Apakah pola getaran ini penting? Pastinya! Frekuensi memiliki andil yang cukup besar dalam kehidupan manusia. Salah satunya karena frekuensi selalu membawa hukum tarik menarik.

Frekuensi akan menarik pola getaran yang sama. Jadi maksudnya, tiap pola getaran energi yang kita bentuk akan memancarkan gelombang energi tertentu, yang mana gelombang yang terpancar ini akan selalu menarik gelombang tertentu yang sama, sesuai dengan pola getaran energi yang kita bentuk.

Singkatnya; sebagai materi semesta kita akan selalu menerima sesuai dengan getaran energi yang kita bentuk. Jadi boleh dikatakan kalau frekuensi itu ibarat nasib yang kita bentuk, sekaligus nasib yang akan kita terima juga. Karenanya, pastikan diri kita hanya membentuk nasib yang sesuai dengan harapan, agar kita tidak kecewa dan menyalahkan Dzat Maha yang telah memberi kita segalanya.

Akhir kata sahabatku… Pahamilah, kalau ketiga hal diatas ini bukan sekedar ilmu pengetahuan atau ajaran keagamaan, apalagi terkaan mistis.

Apa yang kami sampaikan disini bukan modul ilmu tertentu, melainkan ilmu dari semesta. Ketiga rahasia semesta ini adalah keniscayaan semesta yang sebenarnya. Beginilah kita apa adanya, dan inilah rahasia semesta yang dimaksudkan oleh Tesla.

Dalam quot-nya yang singkat Tesla ingin kita memahami kembali keniscayaan semesta yang sebenarnya. Dimana sebenarnya kita ini adalah semesta, dan sebagai semesta kita adalah energi bergetar yang terus memancarkan frekuensi untuk menerima frekuensi.

Tentunya akan ada banyak manfaat dan kemudahan apabila kita mau bergerak sesuai dengan keniscayaan semesta yang sebenarnya ini. Satu manfaat besar dari quot Tesla yang bisa kita ambil untuk awal pelajaran adalah pemahaman kalau saat ini kita hidup sebagai pembentuk energi.

Energi tidak dapat diciptakan atau dihancurkan, energi hanya dapat diubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya. Jadi apapun dan siapapun kita adalah semesta yang terbentuk kekal dan abadi.

Dalam kekekalan energi yang menjadi diri kita saat ini, masing-masing kita memiliki kesempatan yang sama untuk membentuk energi, baik secara sadar ataupun tidak sadar.

Bijaksananya, sebagai pembentuk energi, janganlah menuntut apa yang akan kita terima dari semesta. Tapi lihatlah bagaimana kita bergetar? Karena getaran kita adalah sumber frekuensi yang kita pancarkan. Sementara apapun yang kita pancarkan adalah sebab-akibat dari apa yang akan kita terima.

Jadi sahabatku… Mulai sekarang sebagai energi semesta, fokuslah dengan apa yang akan kita bentuk, bukan apa yang akan kita terima. Kalau kita mampu menguasai hal ini, maka kita akan menjadi semesta yang mengendalikan.

 

Salam Semesta

Copyright 2020 © www.pesansemesta.com

 

 

 

  • 0
  • Desember 18, 2020
admin16 admin16 Author

OFFICIAL CHANNEL



SUBSCRIBE ARTICLE

FREE E-BOOK

3# FREE DOWNLOAD E-BOOK - MENJADI AIR

DATABASE

COPYRIGHT

Seluruh artikel didalam website ini ditulis orisinil oleh tim penulis Pesan Semesta. Artikel yang kami share melalui website ini bukan hasil jiplakan, kutipan atau terjemahan.

Bagi pembaca yang ingin menghubungi penulis silahkan mengrim pesan melalui email : pesansemesta@yahoo.com


SALAM SEMESTA