Pesan Semesta.
melampaui batas menjadi satu

SEMESTA – KARYA atau ILUSI?



Sahabatku… kita pasti pernah mendengar ada sebagian ilmuan yang berpendapat bahwa semesta ini hanyalah ilulsi. Ada juga yang membuat hipotesis bahwa kita hanya hidup didalam dunia holografik. Mereka yang menentang habis materialisme juga mengatakan bahwa semua materi semesta hanya mengada-ada di otak kita dan tidak pernah nyata.

Kami akan terus menghargai berbagai pendapat, karena segala pendapat adalah hasil olah pikiran manusia yang mana adalah semesta. Setiap semesta berhak memberikan pendapatnya. Semacam sepetak tanah yang akan pucat kalau bunganya hanya berwarna putih, perbedaan pendapat bukanlah perdebatan, namun harmonisasi hidup. Tidak perlu ada yang merasa dikalahkan atau dijatuhkan, karena semesta memiliki jalur tersendiri untuk memberi tahu kita apa yang sebenarnya.

Izinkan semesta meluruskannya melalui artikel sederhana ini. Jadi bagian kebenaran pertama yang mau diungkap adalah tidak benar kalau materi tidak ada atau ilusi. Tidak pula benar kalau materi itu hanya mengada-ada di kepala kita. Sementara holografik pun harus memiliki unsur materi agar bisa membentuk hologram. Jadi sebenarnya betul materi itu ada dan nyata.

Namun kenyataan memiliki lapisan. Dilapis mana kita mampu melihat dan menyaksikan itulah materi. Tentunya ini bukan hal yang sulit bagi SANG PENCIPTA untuk menciptakan berbagai lapis kenyataan, meski sangat sulit bagi kita, bahkan untuk memahaminya.

Bagian tersulitnya adalah melepas ego untuk menyakini lapisan kenyataan yang berbeda. Itulah kenapa kita harus senantiasa berendah diri dengan segala keterbatasan kita menyaksikan kenyataan.

Jadi sederhananya apakah semesta itu karya atau ilusi, jawabannya relatif. Tergantung bagaimana kita mampu menyaksikan kenyataannya.

Bayangkan diri kita duduk dihamparan safana hijau yang membentang. Ada semilir angin yang menghembus. Kicauan kecil burung-burung yang menari dan semerbak bunga-bungi kecil khas safana. Bayangkan diri kita menyentuh lembutnya rumput-rumput itu sambil menyaksikan birunya bentangan langit, awan yang menari-nari dan kilauan matahari yang beranjak tenggelam.

Sangat damai kita duduk disana sampai matahari benar-benar tenggelam, dan langit biru itu mendadak menghitam dengan lebih banyak kilauan. Berjuta-juta bintang kecil menyinarinya. Bulan pun muncul disudut yang sama. Angin bertambah sejuk kita pun menjadi dingin. Meraih selembar selimut dan tertidur pulas ditengah safana itu.

Sahabatku…? Apakah ini ilusi?

Membayangkannya adalah ilusi, karena kita tidak bisa menyaksikannya langsung. Kita butuh menyaksikan sebelum berkata kalau ini adalah karya. Hanya saja jarak penyaksian kita terbatas. Kita ini makhluk semesta yang dengan sengaja sangat membatasi diri.

Sahabatku… Mari membuka dan melepas batas-batas diri, hanya agar kita mampu menyaksikan kebesaran tak terhingga dari penciptaan.

Menyaksikan sendiri kalau semesta ini memanglah karya terindah dan terbaik dari SANG PENCIPTA. Sebuah keindahan dan kebaikan yang tidak akan mampu terdefinisikan.

Dilapis manapun kita menyaksikan kenyataan tetap keindahan dan kebaikan SANG PENCIPTA tidak akan pernah terdifinisikan. Kenapa? Jawabannya simpel, meski masih berat.

Pikirkan begini: Bagaimana SESUATU itu membutuhkan definisi saat segalanya adalah definisi dari SESUATU itu sendiri. Bagaimana kalau SANG PENCIPTA sudah mendefinisikan diriNYA untuk segalanya. Masih perlukah kami mendefinisikan SANG PENCIPTA atau masih perlukah SANG PENCIPTA meminta definisi dari diriNYA sendiri?

Silahkan kita berpikir untuk menemukan jawaban dari jiwa terdalam kita. Jelas jawabannya sudah tertanam, karena jiwa itu pun adalah ciptaan SANG PENCIPTA.

Akhir kata sahabatku…

Kalau segalanya adalah diriNYA dan SESUATU yang menggerakkan semesta itu adalah diriNYA –SANG PENCIPTA YANG menciptakan semesta. Lalu kenapa kita masih mencari definisi?

atau sebenarnya, dilapis kenyataan mana kita berada sampai kita masih mencari difinisi?


Salam Semesta

Copyright © www.PesanSemesta.com

  •  
  •  
  • 0
  • Oktober 30, 2019
admin16 admin16 Author

SAAT MANUSIA BERTANYA ‘SIAPA SAYA….?




Ada begitu banyak pengertian tentang manusia, dari mulai manusia adalah mamalia, manusia adalah makhluk sosial, manusia adalah makhluk ciptaan, manusia adalah organisme bersel banyak, dan lain-lainya. 
Tapi pengertian-pengertian itu menjadi bias apabila kita bertanya ulang kedalam diri sendiri, tentang :
“Siapa saya?”
“Siapa saya yang berpikir?”
“Siapa saya yang hidup, bernafas, dan yang sadar telah mengalami kehidupan?”
“Siapa ‘kita’ yang sekarang sedang membaca paragraf ini?”

Jelas kita menyadari dengan betul kalau kita ini adalah manusia. Tapi saat kita bertanya tentang “siapa saya?” bagian terdalam kita seakan mencari jawaban yang lebih dari sekedar pengertian-pengertian tekstual seperti diatas.

Meski pengertian-pengertian yang beredar sangat masuk akal dan sama sekali tidak salah. Tapi kalau mau jujur, sebenarnya kita menginginkan jawaban yang lebih. Kenapa? Karena bagaimanapun definisinya, manusia akan lebih nyaman kalau dirinya disebut sebagai sebuah masterpiece, wujud karya cipta kebaikan SANG PENCIPTA. 

“Manusia harus mengenal dirinya sebagai Maha karya terindah kebaikan SANG PENCIPTA”

Sebagai maha karya terindah yang dibuat dari kebaikanNYA, pastinya manusia membawa kebaikan-kebaikanNYA didalam dirinya. Tinggal bagaimana sekarang sebagai manusia kita menemukan kebaikan-kebaikan, dan melepaskan kebaikan-kebaikan itu dengan melakukan banyak kebaikan-kebaikan juga, bagi dan sebagai semesta. Inilah yang akan kita lakukan sekarang, kita masuk ke dalam diri, untuk mengenal diri dan untuk menemukan kebaikan-kebaikanNYA.

Kebaikan itu sifatnya momentum. Jadi kebaikan itu sangat relatif tergantung dengan jawaban ‘siapa saya?’. Tentunya untuk menjawab ini aksi paling mendasar adalah dengan mengenal diri.

Seorang Socrates dalam hidupnya pernah berkata “Manusia hendaknya mengenal diri dengan dirinya sendiri, jangan membahas yang diluar diri, hanya kembalilah kepada diri. Manusia selama ini mencari pengetahuan di luar diri. Kadang – kadang dicarinya pengetahuan itu di dalam bumi, kadang – kadang diatas langit, kadang – kadang di dalam air, kadang – kadang di udara. Alangkah baiknya kalau kita mencari pengetahuan itu pada diri sendiri. Dia memang tidak mengetahui dirinya, maka seharusnya dirinya itulah yang lebih dahulu dipelajarinya, nanti kalau dia telah selesai dari mempelajari dirinya, barulah dia berkisar mempelajari yang lain. Dan dia tidak akan selesai selama – lamanya dari mempelajari dirinya. Karena pada dirinya itu akan didapatnya segala sesuatu, dalam dirinya itu tersimpul alam yang luas ini.”

Pemikiran Socrates menunjukan bahwa mengenal diri dapat dilihat dari berbagai perspektif. Dimulai dari mengenal komponen dasar manusia, mengenal akal dan hati, mengenal ego diri, mengenal keterhubungan diri dengan semesta, mengenal pembuat dan pencipta diri. Sampai nanti memahami dengan penuh penyaksian kalau memang diri ini hanyalah SANG PENCIPTA dan diri ini hanyalah bagian dari kesadaran yang dibuat.

Ini berarti mengenal diri merupakan sebuah perjalanan untuk menyelami diri sampai mengetahui diri pada hakikat yang sebenarnya. Dengan apa kita mengali diri?Jawabannya: Kenalilah dirimu dengan dirimu sendiri.

Sahabatku….

Kita tidak akan menemukan pengertian manusia dari luar diri kita, melainkan dari dalam diri kita sendiri. Kita sendirilah yang akan mendefinisikan pengertian tentang siapa ‘kita’ sebenarnya.

Setiap kita pasti akan memegang definisinya masing-masing, dan itu bukan hal yang keliru, karena begitulah diri kita yang sebenarnya sebagai wujud manusia. Tentunya ada rahasia besar dari mengenal diri. Kekaguman kita dalam mengenal yang di luar diri bukanlah hal yang buruk. Tapi kalau diri kita menjauh dari diri sendiri, maka pahamilah kita hanya menjauh dari kehidupan.

Kehidupan dimulai dari diri kita, lalu kita membawa kehidupan kita kemanapun kita pergi dan berada. Diri kita adalah awal kehidupan dan akhir kehidupan. Seberapa jauh kita mengarungi hidup, tetap kehidupan kita lah yang kita bawa. Buktinya apapun yang terlintas di depan mata, hanya bisa dilihat dari dalam mata kita, bukan melalui mata orang lain.

Realita selalu tentang apa yang kita alami, bukan apa yang dialami orang lain. Sama halnya dengan bulan, bagi mereka yang berada di atas gunung bulan itu dekat, tapi kalau bagi kita yang berada di pinggiran bulan itu sangat jauh. Menandakan kehidupan bukan apa yang di luar, melainkan apa yang di dalam.

Masalahnya sekarang kita malah berlari menjauh. Kita selalu mengagumi yang di luar sampai melupakan yang di dalam. Kita mengejar penilaian orang lain, kita mengejar impian orang lain, kita memahami pemahaman orang lain.

Tapi di waktu yang bersamaan kita lalai untuk mengagumi diri, kita lalai dengan nilai diri, kita lalai dengan tugas diri, dan kita juga lalai untuk memahami diri. Sadarkah kita akan kekeliruan yang nyata ini ?

Saat kita berbicara kita menyakini betul bahwa itu diri kita, padahal itu belum tentu. Belum tentu diri kita yang sekarang adalah diri kita yang seharusnya bergerak sesuai dengan penciptaannya. 

Kita ini adalah bentukan dari orang tua dan lingkungan. Kita ini terlalu takut untuk menjadi diri sendiri dan melampaui batasnya. Kita ini terlalu malu untuk mengenal dan menjadi diri sendiri sesuai dengan apa yang dibuat oleh SANG PEMBUAT.

Padahal bagaimana kita mengelola yang diri dari dalam selalu akan menjadi modal utama kita dalam mengelola yang di luar. Apa yang berlangsung di dalam hidup manusia tidak lain hanya terbentuk dari dalam dirinya sendiri.

Karena meski secara biologis, manusia diklasifikasikan sebagai Homo sapiens. Bahasa Latin yang memiliki arti sebagai “manusia yang tahu". Dimana kita dikatakan sebagai sebuah spesies primata dari golongan mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi.

Tapi otak hanyalah organ yang hanya akan berfungsi kalau digunakan? Bagaimana kalau tidak digunakan, mungkinkah manusia menjadi manusia yang tahu? – pertanyaan kikuk lain, yang mana artinya kapan kita benar-benar tidak mengingkari akal? Kapan terakhir kali kita hanya mendengar yang wajib kita dengar? Kapan kita hanya mengikuti pelajaran yang wajib kita pelajari?

Faktanya selama ini kita hanya mendengar yang kita takuti bukan yang wajib kita dengar. Mempelajari yang umum dipelajari bukan yang wajib dipelajari diri. Kita biarkan akal kita diisi dan dipenuhi oleh yang bahkan diingkari oleh akalnya sendiri. Sadis memang. Selama ini kita memang telah sadis dengan diri kita sendiri.

Sahabatku…

Artikel pendek ini tidak akan pernah cukup untuk menjawab ‘siapa saya?’. Semoga melalui buku yang sedang kami persiapkan mampu mengajak kita semua untuk mengenal diri. Percayalah, dengan mengenal diri, kita tidak akan mendapati hal apa-apa selain manfaat yang teramat banyak. Jujur ini bukan spoiler atau strategi marketing, ini adalah jawaban sinkronitas dari diri yang bertanya ‘siapa saya?’ frekuensi yang menarik frekuensi.

Akhir kata teruslah membuat pertanyaan besar karena tiap jawabannya itu selalu hadir jauh sebelum pertanyaan itu dibuat. Jawaban hanya sedang menunggu ter-unlock saja. Diri yang tidak mengingkari akalnya lah kuncinya.


Salam semesta

Copyright © www.PesanSemesta.com

  •  
  • 0
  • Oktober 22, 2019
admin16 admin16 Author

KOMET ANTARA KEHIDUPAN – KEMUSNAHAN & DUALITAS




Menghubungkan komet dengan dualitas terdengar sedikit aneh. Namun lagi-lagi semesta memang bisa saja mengajarkan keseimbangan dari setiap sudutnya. Menandakan bahwa baik & buruk itu relatif, sama seperti komet.

Dari tempat duduk atau berdri kita sekarang, kira-kira apa yang akan terjadi apabila ada seluncuran komet dari arah luar Bumi yang tiba-tiba melompat tepat menuju kita? Jawabannya singkat – kepunahan. Mungkin hanya beberapa KM jaraknya atau beberapa kota tergantung dari betapa besarnya komet itu. Tapi tetap jawabannya sama kematian, punah, hancur, dan menghilang.

Itulah komet bagi kehidupan kita sekarang. Masa dimana Bumi semakin menua dan tidak mengharapkan kedatangan komet sama sekali. Bahkan Bumi melalui lapisan atmosfirnya  senantiasa bekerja memastikan agar komet-komet yang membahayakan itu memuai sebelum sampai ke Bumi.
Bersyukurnya memang kita berada disalah satu planet yang terus dilindung. Wujud cerdas dari DZAT Maha Pelindung. Intinya komet adalah buruk buat Bumi.

Namun sahabatku… renungkanlah kalimat berikut, ini bukan filosofi, ini hanya rumus kehidupan.

“Kebaikan tidak memiliki kebaikan dan keburukan tidak memiliki keburukan. Buruk dan Baik hanyalah momentum. Butuh kebijaksanaan, kesadaran dan kejernihan untuk mengatur momentumnya”.

Sama seperti komet, dahulu saat Bumi pertama kali dibuat. Kehidupan di Bumi dimulai pada akhir periode ini yang disebut the late heavy bombardment. Artinya, Bumi tidak langsung tercipta seindah sekarang ini. Dahulu dibumi air belumlah ada. Atmosfer hampir belum terbentuk. Bumi adalah planet yang keras, panas tanpa air dan hanya memiliki unsur-unsur yang padat.

Tidak mungkin ada kehidupan diatas unsur sepadat itu. Sampai langit membombardir Bumi dengan komet. komet adalah batu es. Dia adalah gabungan dari air, karbondioksida, karbon monoksida, metana, amonia, hal-hal yang biasa kita anggap sebagai "gas" di bumi yang membeku. Makanya, para astronom sering menyebut komet dengan nama "bola salju kotor".

Bumi pertama kali terbentuk terlalu panas untuk memiliki lautan. Komet sebagian besar adalah es air. Jadi dahulu komet memang direncanakan terjun untuk membuat pengiriman air reguler ke Bumi. Ini diperkirakan terjadi selama milyaran tahun (ukuran hitungan manusia bumi sekarang). Pastinya dibutuhkan banyak komet untuk mengisi samudera.

Nah, begitu hujan komet dan asteroid ke Bumi mereda, dampak selanjutnya adalah kehidupan. Setelah komet dan asteroid mengantarkan molekul berbasis air dan karbon ke permukaan bumi – akhirnya terbentuklah blok bangunan kehidupan itu sendiri. Dari sini mulailah terbentuk Bumi yang 70% adalah air dan manusia yang hampir 70% adalah air.

Pada moment ini bisakah kita berkata kalau komet itu sesuatu yang buruk atau kondisi yang membawa keburukan??? Jawabannya tidak bukan, tanpa komet lautan, tanah subur, dan bahkan manusia tidak akan berada di Bumi.

Tapi mari kembali lagi ke posisi kita duduk atau berdiri sekarang. Apabila komet itu datang lagi sekarang bisakah kita berkata itu adalah kebaikan??? Pastinya kita bisa menjawab tidak tanpa perlu berpikir ulang.

Sahabatku….

Komet datang ke Bumi membawa dualitas aneh. Dahulu dia adalah kehidupan dan sekarang dia adalah kemusnahan. Membuat kita mempelajari satu hal bahwa hidup itu sangat relatif. Hidup tidak membutuhkan penilaian kita. Hidup hanya butuh kebijaksanaan, kesadaran dan kejernihan kita untuk mengatur kapan kita bisa buruk atau kapan kita bisa baik.

Akhir kata sekali lagi, “Kebaikan tidak memiliki kebaikan dan keburukan tidak memiliki keburukan. Buruk dan Baik hanyalah momentum. Butuh kebijaksanaan, kesadaran dan kejernihan untuk mengatur momentumnya”.

Kalau buruk dan baik itu masih ada didalam hidup kita, maka biarkanlah DZAT Maha yang menuntun momentnya.


Salam Semesta

Copyright © wwww.PesanSemesta.com



  •  
  •  
  •  
  • 0
  • Oktober 18, 2019
admin16 admin16 Author

Menyerah atau Berserah?




Dalam satu hari dalam hidup, pasti kita pernah merasa sangat tersudut. Segala hal tidak berjalan sesuai rencana. Seakan berada ditengah badai ombak yang terus mengombang ambing. Seperti tidak ada lagi jalan keluar. Semua terlihat gelap, semua terdengar hampa, semua seperti terikat dan terbelenggu oleh kunci yang telah hilang.

Sampai disini, kita hanya bisa terdiam untuk memilih : Menyerah atau Berserah ?

Menyerah artinya berhenti tanpa pernah melihat ujung jalan.
Berserah artinya tetap bertahan tanpa melihat hasil untuk sampai di ujung jalan.

Sahabatku…

Untuk menyerah cukup singkat. Cukup geserkan kaki kita melewati deburan ombak itu dan biarkan diri kita terhempas olehnya. Biarkan diri kita menghilang didalamnnya. Biarkan diri kita dimakan oleh segala rasanya. Sampai kita pun akan menghilang… Tanpa pernah menemukan apalagi melihat ujung jalan.

Sementara berserah itu lebih perih dan lama. Kita harus merangkul semua deburan ombak itu sampai ombak-ombak itu tidak lagi menyakiti, bukan berhenti berdebur. Sampai segala rasa itu selesai mengajari. Sampai rasa itu sendiri berkat sendiri “kau sudah lebih kuat dari aku… teruslah berjalan… ujung jalan ada disebelah sana”

Menyerah itu menutup pelajaran – Berserah itu menerima pelajaran.

Sahabatku…

Tidak akan pernah ada motivator terbaik yang mampu membuat kita memilih berserah diri, selain diri kita sendiri. Kekuatan diri kita hadir dari bagaimana kita selalu menyadari kekuatanNYA.
Menyerah atau Berserah adalah pilihan. Apapun pilihannya tetaplah kita bersamaNYA.

Bedanya… Saat kita memilih menyerah kita tidak tahu. Sementara saat kita memilih berserah kita tahu, kita tahu kita bersamaNYA.

Salam Semesta

Copyright © www.PesanSemesta.com

  •  
  • 0
  • Oktober 08, 2019
admin16 admin16 Author

MENGHAPUS WAKTU



“Dalam konsep quantum katanya waktu itu tidak ada. all is happening now… Bagaimana?” Melalui anugerahNYA izinkan kami menjawab.

Waktu muncul dari gerakan, setiap gerakan membutuhkan energi. Energi yang berfluktuasi didalam waktu membentuk ruang. Energi yang berfluktuasi didalam ruang lalu membentuk isi semesta. Jadi ruang waktu adalah tempat dan momen ketika energi berubah menjadi materi.

Ruang dan waktu adalah bentuk universal dari keberadaan materi, koordinasi objek. Seluruh pristiwa atau kejadian semesta membutuhkan ruang dan waktu. Tidak hanya peristiwa dunia luar, tetapi juga semua perasaan dan pikiran terjadi dalam ruang dan waktu.

Di dunia material semuanya harus tercipta dengan memiliki ekstensi dan durasi. Ruang dan waktu memiliki kekhasan masing-masing.

Ruang memiliki tiga dimensi: panjang, luas dan tinggi, tetapi waktu hanya memiliki satu yaitu sekarang. Masa lalu dan masa depan, hanyalah memori. Itu tidak bisa dihindari, tidak dapat diulang, dan tidak dapat diubah.

Maksudnya, ruang dan waktu adalah mutlak. Tetapi karena semesta adalah bentuk materi yang bergerak, ruang dan waktu tidak acuh terhadap isinya. Ruang dan waktu dikondisikan oleh materi, karena suatu bentuk dikondisikan oleh isinya, dan setiap tingkat gerakan materi memiliki struktur ruang-waktu.

Dengan demikian sel dan organisme hidup, di mana geometri menjadi lebih kompleks dan ritme waktu berubah, memiliki sifat ruang-waktu khusus. Artinya, sebagai materi kehadiran kita membawa ruang dan waktu. Tidak peduli seberapa kecil atau kolosalnya. Tidak peduli apakah ter-isi atau tidak ter-isi.

Secara umum, ruang adalah batas tiga dimensi tanpa batas di mana kita dapat mengukur posisi relatif dan arah objek yang ditempatkan. Namun, ada satu definisi lagi berbicara dengan sudut pandang teknis - Ruang mendefinisikan "kekosongan (disebut ruang kosong)" yang ada di antara benda-benda langit atau isi semesta. Namun lagi-lagi kita tidak bisa mendefiniskan kekosongan (akan kita bahas pada kesempatan lain)

Ruang itu adalah sesuatu yang bisa diisi dengan sesuatu yang lain, atau bisa juga tidak diisi. Jadi baik itu diisi atau tidak diisi, itu adalah ruang.

Hal yang tidak boleh diabaikan adalah ruang selalui diikuti dengan waktu. Tidak ada waktu, tidak ada ruang. Begitupun sebaliknya. Ruang dan waktu adalah bentuk universal dari keberadaan materi, koordinasi objek. Universalitas bentuk-bentuk ini terletak pada kenyataan bahwa mereka adalah bentuk-bentuk keberadaan semua objek dan proses yang pernah ada atau akan ada di semesta tanpa batas.

Ini berlaku meski waktu sendiri tidak bisa terdefinisikan dengan sebegitu jelas. Apalagi sejelas kita melihat jam sekarang, karena memang waktu adalah aturan lain, waktu bukanlah dentingan jam. Jam hanyalah mesin yang bergerak dalam ruang waktu sehingga kita bisa mengukur sebuah perbahan yang terjadi didalam ruang waktu.

Itulah kenapa dalam fisika, konsep atau koordinat waktu adalah ukuran yang menentukan durasi sesuatu yang mengalami perubahan. Karenanya, ada tiga jenis waktu:

Pertama, waktu psikologis atau waktu manusia adalah apa yang kita masing-masing alami - ingatan historis kita tentang apa yang terjadi dan tidak lagi terjadi, saat ini yang sekarang terjadi dan mengalir ke arah masa depan yang akan datang.

Kedua, waktu kosmik dikaitkan dengan alam semesta yang dimulai pada hari penciptaan, hari tanpa kemarin dan yang akan berakhir ketika dunia tidak ada lagi.

Ketiga, waktu termodinamika terkait dengan peningkatan entropi.

Jadi waktu bukanlah alat, waktu adalah kehidupan itu sendiri. Sementara ruang adalah elemen yang tidak akan pernah terpisah dari waktu. Itu pula yang dipikirkan oleh Einstein, dia menemukan bahwa waktu tidak absolut, tetapi relative. Dimana dua jam yang sama yang telah disinkronkan dapat mengukur waktu yang berbeda jika satu bergerak dengan kecepatan tinggi sementara yang lain tetap diam.

Karena alasan ini, Einstein lebih suka berbicara tentang ruang dan waktu sebagai entitas tunggal, ruang-waktu. Waktu bisa digunakan sebagai suatu konsep yang bisa ikut menerangkan konsep ruang-materi hanya bila waktu dipahami sebagai suatu yang mengiringi kelahiran ruang-materi.

Waktu diciptakan oleh perbedaan kecepatan antara energi yang terus bergerak. Bagaimana asal muasalanya waktu masih sulit untuk dijawab, hal yang pasti waktu hadir setelah keadaaan ada yang memunculkan energi yang bersamanya membawa waktu menjadi ada. Setelahnya waktu terus berkembang dengan sangat cepat.

Akankah ruang dan waktu bisa dihapus dari semesta ini?

Jawabannya bisa dengan satu konsekuensi besar, yaitu seluruh materi semesta lenyap. Meski pada prosesnya yang terlalu cepat. kemungkinan besar kita tidak akan sadar kalau ruang dan waktu itu telah menghilang.

Namun hal yang sebaliknya tidak demikian. Maksudnya apabila kita menghapus seluruh materi semesta, maka ruang waktu akan tetap ada. Sementara menurut teori relativitas menyatakan bahwa dengan lenyapnya ruang dan waktu, maka materi juga akan lenyap.

Simpelnya, bayangkan saja lagi kita telah mengambil hapusan untuk menghapus gambar yang telah kita gambar diatas kertas. Gambarnya hilang, kertasnya tidak, kertasnya masih ada. Tapi kalau kita bakar kertasnya, maka otomatis gambarnya pun ikut menghilang. Simpel tapi mengerikan.

Jadi secara primitif kita bisa berkata bahwa kekosongan kertas adalah waktu dan ruang. Salahkah kalau kita berpikir bahwa inilah sebenarnya wadah kita? Dimana wadah kita bukanlah semesta melainkan waktu dan ruang SANG PENCIPTA.

ementara kita sendiri adalah semesta itu sendiri. Kita lah semesta hasil pena yang tergores. Penanya adalah energi dan sesuatu yang menggerakkan pena itu adalah SANG PENCIPTA.

Mungkin bagi sebagian kita hal ini terdengar seperti dongeng fiksi tingkat tinggi. Andai bisa ada peninggalan sejarah yang turun langsung dari semesta untuk menjelaskan bagaimana waktu ruang muncul. Sayangnya tidak ada naskah apapun yang tersimpan. Segalanya tersimpan didalam memori semesta itu sendiri. Kita hanya bisa menjabarkan sedikit tentang waktu ruang dengan teori dan pengamatan langsung akan ruang semesta yang terus mengembang.

Observasi kita memang masih sangat kecil. Sementara sudut penilaian kita jauh lebih besar. Apa itu akal sehat saat Meragukan atau menerimanya itu bukan masalah. Bagaimanapun juga keberadaan kita disini adalah salah satu wujud berkembangnya semesta. Penemuan pelanet-pelanet baru, galaksi-galaksi baru, itu semua bukti betapa kita mengembang dalam ruang dan waktu SANG PENCIPTA.

Jangankan itu, segala tindakan-tindakan yang kita lakukan dalam waktu sekarang adalah semesta yang mengembang pula. Lagi pula apa lagi itu semesta kalau seluruh energi yang membentuknya adalah semesta. Kita ini adalah semesta bukan didalam semesta (ada penjabaran besar dengan ini, nantikan buku kami).

Tapi setidaknya sampai disini kita paham bahwa semua yang ada di semesta bersifat spasial dan temporal. Sementara waktu dan ruang adalah mutlak. Apalagi keberadaan energi, bagaimanapun perhatian kita di alihkan, tetap waktu dan ruang adalah berkat gerakan energi.
Akhir kata sahabatku… Waktu tidak tercipta sebagai wujud namun sebagai makna. Apalagi makna terindahnya, selain bukti adanya gerakan energi. Lagi-lagi siapa yang memunculkan energi kalau bukan SANG PENCIPTA?

Sebaik-baik ruang waktu yang bisa kita gunakan hanyalah SEKARANG. Intinya, jadilah wujud gerakan terindah dalam waktu itu sendiri. JANGAN MENGHAPUS WAKTU KITA SENDIRI.


Salam Semesta

Copyright © www.PesanSemesta.com
  •  
  •  
  •  
  • 0
  • Oktober 04, 2019
admin16 admin16 Author

Apa Itu Kaya Kalau Uang Tidak Pernah Ditemukan?



Sahabatku… Kira-kira apakah itu kekayaan yang akan selalu membersamai diri menuju dimensi manapun. Kekayaan abadi tanpa keterbatasan.?

Dahulu manusia hanya melakukan sistem barter untuk memenuhi kebutuhannya. Semakin kompleksnya kebutuhan manusia, maka muncullah uang. Akhirnya mindset kita pun beranjak ikut berubah “Uang adalah pemenuh kebutuhan”. Tidak diragukan – tidak akan ada yang menyalahkan – tidak akan ada yang menyangkal.

Itulah kenapa kita gugup kalau harus mengakui diri telah mentuhankan UANG diatas DZAT yang seharusnya di tuhankan. Tapi lagi-lagi bagiNYA ini tidak terlalu penting.

Saat kita tidak lagi mentuhankan yang sebenarnya tidak apa-apa. DZAT Maha sangat mengerti kekurangan kita dan memakluminya.
Memaklumi segala ketidakpercayaan kita yang masih belum mempercayaiNYA
Memaklumi segala ketakutan kita yang masih menakuti kehidupanNYA
Memaklumi segala keraguan kita yang masih meragukanNYA

Setinggi itu pemaklumannya – semampu itulah DZAT Maha ini mampu mengatur segalanya
Mampu mengatur segala kebutuhan kita
Mampu memenuhi segala kebutuhan kita
Mampu menjamin segala kebutuhan kita

Kami yakin sekarang Anda bertanya “tapi kenapa kemampuaNYA tidak berlaku dikehidupan saya???”

Sahabatku…

Kadang kita terkecoh dalam hidup ini. Berpikir segala gerak kita adalah milik kita. Berpikir segala kebutuhan adalah tanggung jawab kita. Berpikir kalau penentu kekayaan haruslah diri kita.
Karena pikiran kita seperti itu, akhirnya begitu pulalah kita mengelola energy ini. Lalu disanalah frekuensi hidup kita berada. Persis seperti apa yang kita pikirkan.

Jadi wajar kalau DZAT Maha memaklumi dengan apa yang kita pikirkan, dan membiarkan kita dengan pilihan kita. Kami yakin kita pernah mendengar “Pikiran kita realita kita”.  Kalimat ini adalah nyata, karena memang seberharga itu DIA menghargai kita. Padahal DZAT Maha tahu yang lebih baik dari keterbatasan yang kita pikirkan.

“KETERBATASAN” satu kata yang kita lupakan dan kita menangis karena melupakan kata ini. Akhirnya kita mentuhankan segala keterbatasan kita. Melupakan KEMAHAANNYA yang melalui segala keterbatasan.

lalu Apa itu kekayaan sahabatku….?

Kaya adalah saat kita mampu mentuhankan ketidakterbatasan. Mentuhankan kemahaan.
MemilikiNYA utuh. MencintaiNYA utuh. Bergerak utuh karenaNYA. MempercaiNYA utuh. Tidak pernah meragukanNYA utuh. Tidak menakuti kehidupan, karena kehidupan kita hanya utuh bersamaNYA.

Kita hanya sudah bersama SANG MAHA PEMBUAT KEBUTUHAN itu sendiri.
BersamaNYA itulah seharusnya kekayaan manusia. Kekayaan yang akan selalu membersamai diri menuju dimensi manapun. Kekayaan abadi tanpa keterbatasan.  

Sahabatku percayalah… Saat kita memiliki kekayaan ini. Kita tidak akan memerlukan segudang uang lagi untuk menjadi kaya. Meski pun kita memilikinya. Uang hanyalah alat tukar– tapi kita tidak menTuhankan uang untuk memenuhi kebutuhan.

Akhir kata sahabaku…

Kalau akal kita terus berpikir uang tidak mampu dibawa mati, maka jangan mengingkarinya. Carilah dan temukan kekayaan abadi itu sekarang!

Salam Semesta
Copyright © www.PesanSemesta.com

  •  
  •  
  • 0
  • Oktober 04, 2019
admin16 admin16 Author

APAKAH LOA BISA MEMBUAT KAYA?



Jawabannya : LOA bisa membuat kaya – LOA juga bisa membuat miskin. Hati-hatilah!

LOA adalah frekuensi yang menarik frekuensi. Frekuensi yang kita pilih tergantung dengan vibrasi yang kita pancarkan. Sementara vibrasi yang kita pancarkan tergantung dengan energy yang kita olah.
Kita ini adalah energy yang mengolah energy. Jasad kita adalah energy, pikiran dan perasaan kita adalah energy. Setiap energy terus bervibrasi dalam frekuensi.

Ngomong-ngomong frekuensi. Ibaratkan frekuensi itu seperti frekuensi radio. Ada FM dan ada pula AM. Jadi frekuensi itu semacam bentuk dualitas. Kaya-miskin, tidak menarik-menarik, senang-sedih, kenyang-lapar, dll.

Nah, energy yang kita olah akan membuat kita terpusat dalam frekuensi tertentu. Adilnya, frekuensi ini bersifat pilihan. Jadi kalau kita bisa memilih AM, maka kita bisa juga memilih FM.

Kita bisa memilih kaya, kita juga bisa memiilh miskin. Kita bisa memilih menjadi tidak menarik, kita juga bisa memilih menjadi menarik, dan seterusnya.

Memang ego manusia selalu akan memilih pilihan yang menyenangkan. Tapi sayangnya tidak setiap manusia siap mengelola energy yang memusat untuk menarik frekuensi itu.

Kalau kita mau LOA membuat kita kaya. Maka mulailah mengelola energy kita untuk menarik kekayaan. Singkatnya; bergeraklah, beraksilah, carilah sebab akibatnya. Ini harus kita lakukan agar kita mampu menarik frekuensinya.

SALAH BESAR! Apabila kita berharap LOA membuat kita kaya. Tapi kita sendiri sama sekali tidak mengelola energy untuk membuat kaya.

Jadi wajar kalau yang berhasil kita tarik justru frekuensi yang sebaliknya, bukannya frekuensi kaya tapi justru frekuensi miskin.

Meski seumur hidup seseorang tidak memahami konsep LOA. Tetap dia akan hidup dengan model LOA ini. LOA merupakan model universal. Kita adalah energy, dan beginilah energy mengelolanya.
Kita sering bukan mendengar atau bahkan melihat langsung kisah seorang miskin yang melakukan usaha, sehingga lambat laun akhirnya si miskin itu berubah menjadi si kaya. Kenapa bisa?

Jawabannya karena si miskin ini berhasil mengelola energinya selaras dengan frekuensi yang ingin dia tarik, yaitu kekayaan.

Tidak perlu menjadi si miskin, bahkan kalau ada seorang keturunan raja yang hidupnya penuh dengan aksi-aksi yang menarik kekayaan, maka dipastikan dia akan terus kaya. Sampai dia menglola energy untuk menarik frekuensi yang sebaliknya.

Makanya, sampai disini kita jangan iri dengan kekayaan. Kita cukup mengelola energy kita untuk meraih frekuensi kekayaan itu. Sah-sah saja juga hukumnya kalau kita mengelola energy kita untuk meraih frekuensi kemiskinan.

Kita bebas memillih frekuensi miskin atau frekuensi kaya. LOA membuktikannya… Itulah kenapa DZAT Maha selalu tergantung perasangka hambaNYA. Jadi… Apa yang akan kita pilih sahabatku…? Ngomong-ngomong apa itu kaya, kalau uang tidak pernah ditemukan?


Salam Semesta

Copyright © www.PesanSemesta.com

  •  
  •  
  • 0
  • Oktober 02, 2019
admin16 admin16 Author

“Everything is Nothing – Nothing is Everything” APA MAKSUDNYA?



Jawaban dalam artikel pendek ini 100% ilmiah dan juga 100% spiritual. Berusahalah memahami jawaban ini… dan bersiaplah hidup didalam dua dimensi yang tidak pernah terpisah. Namun sayangnya dengan sengaja kita pisahkan.

Sahabatku….

Jika kita mengambil semuanya dari bagian semesta, apa yang tersisa? Kita akan menganggap jawabannya adalah "tidak ada," tapi mungkin itu bukan...

“Segalanya bukan segalanya – Bukan segalanya adalah segalanya”.

Otak kita sedikit terpelintir membacanya. Sedetik kemudian – kita mulai mengkhawatirkan segala yang kita kumpulkan dalam hidup ini. Segalanya… segala-galanya…  

Harta, karir, keluarga, pasangan, keturunan, status, kebaikan, ibadah… Segalanya yang telah kita raih.

Bagaimana bisa itu tidak menjadi segalanya? Kita telah bersusah payah dengannya bukan?

Mengorbankan waktu, kesehatan, harga diri, kesenangan. Kita telah mendikte DZAT Maha karenananya. Kita telah menghebatkan diri karenanya. Kita telah mentuhankan segala itu, dan sekarang itu bukan segalanya??? Bagaimana bisa?

Ketakutan kita menyangkalnya…. Ketakutan kita akan kehilangan segalanya… Segala yang terasa telah kita miliki. Padahal tak sedikitpun itu menjadi segalanya… Karena segala tentang kita justru berada di dimensi yang tidak ada. Dimensi yang kita anggap bukan segalanya.

Sahabatku…

Kalau jiwa dan akal kita belum memahaminya, maka pahamilah paragraph pendek dibawah ini.  

Dahulu saat semesta bukan apa-apa selain ketiadaan. Segalanya hanyalah energy yang berfluktuasi didalam waktu dan ruang, membentuk segala materi. Dengan kata lain semesta adalah energy yang berubah menjadi materi dalam kontinum ruang waktu.

Waktu muncul dari gerakan, setiap gerakan membutuhkan energy. Energy yang berfluktuasi didalam waktu membentuk ruang. Energy lalu membentuk isi semesta. Sementara waktu ruang adalah tempat dan momen ketika energy berubah menjadi materi.

Ruang dan waktu adalah bentuk universal dari keberadaan materi, koordinasi objek. Seluruh pristiwa atau kejadian semesta membutuhkan ruang dan waktu. Tidak hanya peristiwa dunia luar, tetapi juga semua perasaan dan pikiran terjadi dalam ruang dan waktu. 

Di dunia material semuanya harus tercipta dengan memiliki ekstensi dan durasi. Ruang dan waktu memiliki kekhasan masing-masing. Ruang memiliki tiga dimensi: panjang, luas dan tinggi, tetapi waktu hanya memiliki satu yaitu sekarang. Masa lalu dan masa depan, hanyalah memori. Itu tidak bisa dihindari, tidak dapat diulang, dan tidak dapat diubah.

Enstein memahami hal ini. Dia menemukan bahwa waktu tidak absolut, tetapi relatif: dua jam yang sama yang telah disinkronkan dapat mengukur waktu yang berbeda, jika satu bergerak dengan kecepatan tinggi sementara yang lain tetap diam. Karena alasan ini, Einstein lebih suka berbicara tentang ruang dan waktu sebagai entitas tunggal, ruang waktu.

Maksudnya, ruang dan waktu adalah mutlak. Tetapi karena semesta adalah bentuk materi yang bergerak, ruang dan waktu tidak acuh terhadap isinya. Ruang dan waktu dikondisikan oleh materi, karena suatu bentuk dikondisikan oleh isinya, dan setiap tingkat gerakan materi memiliki struktur ruang-waktu.   

Dengan demikian sel dan organisme hidup, di mana geometri menjadi lebih kompleks dan ritme waktu berubah, memiliki sifat ruang-waktu khusus. Artinya, sebagai materi kehadiran kita membawa ruang dan waktu.

Sementara materi itu sendiri adalah energy. Dengan teori relativitas umum Einstein, kita mengetahui bahwa energi dan materi dapat ditransmisikan. Maksudnya yaitu, materi adalah bentuk energi dan energi adalah bentuk materi.

Itulah kenapa materi tidak akan pernah dapat direpresentasikan sebagai satu unsur yang terpisah. Setiap materi pada wujud aslinya hanyalah energy yang terus bervibrasi dalam ruang dan waktu.

Ini adalah bagian yang ‘mengerikan’ dari segalanya :

Selama beberapa waktu manusia berpikir bahwa materi adalah isi alam semesta yang aktif. Sementara waktu dan ruang adalah sesuatu yang pasif.

Namun pemikiran ini tidak berlaku lagi. Teori relativitas dan fisika kuantum datang untuk meruntuhkan pemikiran lama kita tentang ketidakterikatan.

Membuat kita paham bahwa tidak satu pun dari ketiga elemen, yaitu energy, waktu dan ruang bersifat pasif. Ketiganya berinteraksi satu sama lain, dengan cara yang sangat kompleks yang membuat tak satu pun dari ketiga unsur itu lebih penting daripada dua yang lainnya.

Materi yang adalah energy terus hidup bersama-sama dalam waktu dan ruang yang memberi andil bagi materi itu sendiri. Satu hal lain yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa segalanya berawal dari satu kata yaitu ENERGI. Waktu berawal dari energy dan ruang pun sama.

Sudah menjadi hukum baku bahwa jika semua materi menghilang dari semesta, ruang waktu dan energy akan tetap ada. Akan tetapi teori relativitas ikut menambahkan bahwa dengan lenyapnya ruang dan waktu, materi juga akan lenyap. Sementara energy akan tetap kekal dalam tempatnya sendiri.

Singkatnya, semua yang ada di semesta bersifat spasial dan temporal.

Seluruhnya yang kita pikir segala-galanya hanyalah materi sementara dari energy yang abadi. Sesuatu yang akan kita sebut “TIDAK ADA”.

Jadi kalau kita putar pertanyaannya apakah kita masih percaya bahwa “TIDAK ADA” bisa menghasilkan segalanya? Maka jawabannya adalah sebuah kepastian.

Karena diri kita sendiri adalah “TIDAK ADA” itu. Lalu apakah kita akan mempercayai kepastian ini?
Percaya atau tidak percaya adalah pilihan. Kita boleh tidak percaya dengan adanya DZAT Mulia yang disembah. Tapi tidak mengakui adanya SANG PENCIPTA adalah ketidak mungkinan yang terlalu sombong. Karena bahkan ketidak mungkinan yang terlalu sombong ini pun masih diciptakan dan dihidupkan. SANG PENCIPTA menciptakan dan menghidupkan segalanya… Segalanya…

Tapi sekali lagi SANG PENCIPTA sama sekali tidak membutuhkan pengakuan kita untuk menciptakan KEADAAN. Sampai detik ini kita bahkan tidak bisa mendefinisikan apa itu “TIDAK ADA” yang darinya muncul segala yang ADA.

Jadi bagaimana sahabatku…

Sudahkah kita paham tentang  “Segalanya bukan segalanya – Bukan segalanya adalah segalanya”?
Kalau kita telah paham, mungkin kita akan meringkuk dipojokan kamar. Membayangkan betapa sombongnya kita dengan segala yang telah kita anggap segalanya.

Ternyata materi yang segalanya itu telah banyak menipu kita… Sekarang pastikan saja kalau itu tidak akan menipu lagi.


Salam Semesta

Copyright © www.PesanSemesta.com  


  • 0
  • Oktober 02, 2019
admin16 admin16 Author

Kita Semua Adalah Murid




Sahabatku…

Hidup ini adalah kamuflase tempat manusia untuk belajar. Bumi adalah dimensi awal bagi kita untuk belajar. Begitu juga nanti dalam dimensi-dimensi yang lainnya. Kita akan terus menjadi murid abadi.

Semua adalah pelajaran-pelajaran. Kita hanya mempelajari sedikit dari ilmu yang diberikan oleh DZAT Pembuat Ilmu. Sedikit saja dan itu sudah sangat membuat seumur hidup kita sibuk.

Dalam kehadirannya semesta ini membawa pelajaran terindah, terlengkap dan terupdate. Hanya kekurangan kita terletak dari bagaimana kita mengakses pelajaran itu sendiri. Untuk dapat mengakses database semesta kita harus mampu dulu berlari kembali menjadi semesta untuk mensucikan diri.

Dua hal utama yang harus disucikan adalah penilaian dan ego. Mana yang lebih penting pembicara atau apa yang dibicarakan? Lalu kenapa kita masih melihat pembicaranya. Mana yang lebih penting pesan dari yang ditulis atau siapa yang menulis? Lalu kenapa kita masih melihat penulisnya?

Kita tidak mau belajar dari belatung dan memilih belajar dari kupu-kupu. Kita tidak mau belajar dari kesalahan dan lebih memilih belajar dari kebenaran terus. Kita tidak mau belajar dari kebodohan dan lebih memilih belajar dari kepintaran.

Kita senantiasa menilai pelajaran kita untuk mendapatkan nilai-nilai manusia darinya. Itulah kita. Begitulah cara kita belajar. Untuk mengakses database semesta kita harus berhenti melihat dari sisi penilaian manusia dan mulai masuk ke sisi kenetralan.

Begitu juga dengan ego. Betapa sering kita melompati sebuah moment akal untuk berpikir, hanya karena merasa itu tidak terlalu menguntungkan, atau hanya karena itu terlalu rumit untuk dibaca, atau hanya karena itu sama sekali tidak menyenangkan dan sesuai. Padahal di moment itu semesta ingin menyampaikan pelajarannya.

Hal pertama untuk memulainya sekarang adalah, jangan pernah mereject apapun pesan yang kebetulan masuk kedalam hidup kita. Karena kebetulan itu tidak pernah ada. Selalu ada makna dibalik apapun, selalu ada perencanaan yang tersistematis dan memiliki makna. Kebanyakan makna itu adalah pelajaran yang berharga bagi mereka yang berpikir dengan akalnya, serta mampu mengendalikan penilaian dan ego dirinya. Pelajaran berharga bagi mereka yang mampu mensucikan dirinya dalam kenetralan.

Manusia suci bukanlah manusia yang tidak melakukan kesalahan sama sekali, karena kesalahan adalah salah satu gerbang pembelajaran. Manusia suci adalah mereka yang mampu menetralkan dirinya. Kenetralan adalah kepentingan, kalau kita memilih untuk mengambil pelajaran.

Semesta raya ini telah menyimpan database pelajaran ditiap sudut ruangNYA, dan itu adalah persembahanNYA untuk manusia. Mari mulai belajar kepada DZAT Pembuat Ilmu.

Tidak ada kesombongan rasa saat menerima ilmuNYA. PengetahuanNYA bukan sesuatu yang dikejar atau diberpikirkan untuk dinilai oleh angka-angka manusia. PengetahuanNYA adalah kebenaran bagi mereka yang mampu menerima kebenaran. Kenyataan bagi yang mampu melihat kenyataan.

Tentunya setiap jiwa mampu menerima kebenaran. Setiap jiwa mampu melihat kenyataan. DZAT Pembuat Jiwa akan memanggil jiwa-jiwaNYA yang telah mensucikan diri.

Rahasia mensucikan diri itu bukan sekedar bersuci dengan basuhan air, tapi menjadikan diri sejernih dan senetral air. Sehingga diri kita mampu menerima sesuap demi sesuap kedalaman ilmuNYA yang tidak bertepi. Siapapun manusia bisa mensucikan diri. Tapi harap diingat!

Manusia suci tidak perlu disucikan oleh manusia. Karena kesucian bukan penilaian manusia.  Kita mensucikan diri bukan untuk dinilai suci, tapi agar cukup suci untuk menerima ilmuNYA. Sebuah alasan abadi dari DZAT Pembuat Akal yang akan kekal selamanya. Ibarat anak kecil yang disuapi setetes demi setetes air dari dalam kolam. Akankah air didalam kolam itu habis diminumnya, sementara sumbernya terus menerus mengaliri air?

Itulah kira-kira gambaran diri kita yang sedang duduk untuk disuapi ilmuNYA. Selama menjadi murid maka tidak ada kepintaran, tidak ada pembuktian, tidak ada bagian diri yang bisa diberikan untuk ditunjukkan, tidak ada apa-apa yang bisa di aku-kan selain diriNYA.

Hanya diriNYA DZAT Maha Guru. Pembimbing Sejati Setiap Jiwa tanpa terkecuali. Tidak ada yang lain selain ke MAHA-anNYA. Bergegaslah untuk menemuiNYA dalam sucinya kenetralan dan semesta kecil ini akan mengerti. Mengerti bahwa diri ini selalu menjadi murid DZAT Maha Ilmu.

Salam Semesta

Copyright © www.PesanSemesta.com


  •  
  •  
  • 0
  • Oktober 01, 2019
admin16 admin16 Author

OFFICIAL CHANNEL



FREE E-BOOK

3# FREE DOWNLOAD E-BOOK - MENJADI AIR

DATABASE

COPYRIGHT

Seluruh artikel didalam website ini ditulis orisinil oleh tim penulis Pesan Semesta. Artikel yang kami share melalui website ini bukan hasil jiplakan, kutipan atau terjemahan.

Bagi pembaca yang ingin menghubungi penulis silahkan mengrim pesan melalui email : pesansemesta@yahoo.com


SALAM SEMESTA