Pesan Semesta.
melampaui batas menjadi satu

CARA MENULIS MASA DEPAN YANG INDAH




Sahabatku…  Masa depan apa yang ingin kita tulis? Mereka bilang masa depan adalah hal gaib, meski tidak sepenuhnya benar. Masa depan adalah nyata senyata kita melakukan hal-hal yang kita lakukan sekarang. Ingin tahu bagaimana caranya menulis masa depan yang indah? Baiklah… Semoga tulisan ini mencerahkan.

Sahabatku… MASA DEPAN ITU BUKAN CITA-CITA TAPI AKSI YANG KITA LAKUKAN SEKARANG.

Inilah definisi dari masa depan. Tidak selamanya masa depan menghadirkan cita-cita yang kita harapkan. Namun masa depan akan menghadirkan hasil dari aksi yang kita lakukan. DZAT Maha tidak akan mengingkari hukum semesta yang berlaku, dan beginilah adanya.

Masa depan kita akan tergantung dengan apa yang kita lakukan. Lalu apa aksi kita sekarang?

Waktu tidak membawa perubahan. Semestanya lah yang HARUS bergerak, berkembang dan berubah. Jadi semua tentang apa yang bisa kita lakukan didalam waktu, bukan apa yang waktu lakukan kepada kita.

Waktu hanya melakukan satu hal berharga yaitu memberi kita kesempatan ber-aksi, tapi waktu sendiri tidak pernah mendikte aksi-aksi kita. Waktu akan terus menatap kita dalam kenetralan. Apapun itu yang kita lakukan, bahkan saat kita tidak beraksi sama sekali.

Tentunya kita tidak akan sekedar diam sampai masa depan yang kita tulis itu menghampiri karena waktu tidak bisa melakukan apa-apa. Bumi harus mengejar matahari untuk mendapatkan terang. Lalu bagaimana kita berharap cahaya datang kedalam hidup kita dan merubah gelapnya kalau kita tidak pernah mau menyalahkan terangnya api.

Waktu tidak bisa melakukan apa-apa. Waktu akan selalu menjadi anak penurut. Begitulah SANG PENCIPTA menciptakannya, hanya agar kita tidak lupa untuk bergerak dalam pusaran kasih sayangNYA.

Sahabatku… Satu terpenting : KITA LUPA KALAU INI TENTANG MASA DEPAN KITA DAN MENCAMPUR ADUK RANAH UNIK YANG DIANUGERAHINYA.

Inilah kenapa kita harus menulis masa depan kita sendiri. Sendiri bukan karena kita egois dan tidak peduli. Namun karena kita tercipta unik dan istimewa apa adanya. Karena kita mengenal diri kita dan tahu batas mana itu masa depan yang harus digoresnya sendiri.   
Kita mengenal diri kita. kita tidak melakukannya karena dan untuk penilaian orang lain. Kita bertanggung jawab terhadap diri sendiri. Kita memahami kalau diri adalah SANG PENCIPTA yang menghidupi dan menggerakkan. Kita tahu akan berguru kepada SIAPA dalam hidup ini. Kita tahu masa depan sempurna bukan karena apa yang kita tulis tapi karena kita bersamaNYA, selalu bersamaNYA.

Disadari atau tidak, mengenal diri yang sebenarnya memang akan selalu bermuara pada iman kita kepada SANG PENCIPTA. Dengan nama apapun kita memanggilNYA faktanya memang hanya ada satu pencipta. Jangan bertanya nama mana yang benar. Karena dibalik salah adalah namaNYA – begitu juga dibalik benar adalah namaNYA. Kalau tidak percaya, coba cari alasan lain dari sumber gerakan salah dan benar, kecuali jawabannya hanyalah energiNYA.

Apakah ini berhubungan dengan masa depan? Iya sahabatku… Dalam menulis masa depan kita tidak bergerak untuk menjadi Maha tahu dan Maha benar. Tapi bergerak bersama DZAT Maha Tahu dan DZAT Maha Benar. Kita adalah MuridNYA, sebagai murid apakah mungkin kita mendikte kebenaran Maha guru?

Sahabatku… KESEMPURNAAN TERCIPTA BUKAN KARENA KITA TAHU- JUSTRU KETIDAKTAHUAN KITA MENCIPTAKAN KESEMPURNAAN.

Tentunya kita bertanya-tanya seperti apa nanti hasilnya? Tentunya kita berharap bisa mengintip kedalam tabir gaib itu untuk melihat bagaimana jadinya masa depan yang kita tulis, bukan begitu?
Tapi itu tidak perlu, kita tidak perlu mengintip masa depan untuk menggapai kesempurnaan hasil. Kita hanya perlu BERGERAK… BERAKSI DAN MEMBERI MAKNA PADA TIAP DETIK HIDUP KITA. Beginilah seharusnya kita menulis masa depan kita.

Bukankah setelah masa depan ada masa depan lagi? Waktu selalu sama bagi seluruh makhluk. Tidak ada yang ditakdirkan memiliki masa depan lebih indah dari yang lain. Kalau pun ada, itu bukan karena masa depannya. Tapi karena pemilik masa depannya telah menghabiskan waktunya secara indah.

Masa depan itu bisa indah bisa juga tidak indah. Namun bukan itu masalahnya. Point terpentingnya bagaimana kita menghadapi indah atau tidak indahnya hidup bersamaNYA.

Sahabatku… Keindahan masa depan kita adalah kebersamaan kita bersamaNYA. Gerbang masa depan itu tidak terbatas pada kematian. Karena siapa yang sangka kalau kematian bisa menjadi pintu menuju masa depan yang berbeda. Seberbeda apa tetap akan selalu indah karena bersamaNYA.  

Hari ini kita menulis masa depan yang indah karena kita yakin telah bersama Dzat Maha Indah dan hidup kita akan senantiasa indah bersamaNYA.


Salam Semesta

Copyright 2019 © www.PesanSemesta.com
#pesansemesta


  •  
  •  
  • 0
  • November 30, 2019
admin16 admin16 Author

KITA MEMILIKI KEMAMPUAN UNTUK TIDAK MENJADI KORBAN PERASAAN



Sahabatku… Siapa yang sedang merasa menjadi korban perasaan? Atau selalu merasa menjadi korban perasaan? Semoga tulisan ini mampu menjawab dan membantu.

Sahabatku… Sekarang kami hendak bertanya : Pernahkah ‘kita’ merasakan perasaan? Apa itu perasaan? Siapa yang merasakan perasaan itu dan siapa yang membuat perasaan itu? Siapa yang kita salahkan dari perasaan itu?


[ Pernahkah ‘kita’ merasakan perasaan? ]

Anggaplah senang, sedih, benci, bahagia, bangga, terpuruk, kecewa, dll sebagai sebuah perasaan. Anggaplah lembut, kasar, panas, dingin, manis, kecut, pahit sebagai rasa.
Kita memiliki indra untuk mengelola dan menerima rasa dari kesadaran. Ini bagian dari keniscayaan, saat kita menyentuh es berjamaah kita akan merasakan rasanya dingin, saat menjilat cuka berjamaah kita akan merasakan rasanya kecut, dan seterusnya.

Kita mengolah rasa yang sama berdasarkan kesadaran yang diajarkan lalu mengolahnya menjadi taraf yang tersandarkan, meski masih dalam sifat relatif. Seseorang yang biasa mengunyah sirih akan berkata kalau pahitnya sirih tidak seberapa, sementara yang tidak biasa akan berkata sebaliknya. Jadi keniscayaan pun sifatnya masih relatif.


[ Apa itu perasaan? ]

Coba bantu kami untuk membayangkan apa itu membenci? Apa itu berbahagia? Apa itu bersedih? Apa itu kekecawaan? Apa itu kebanggaan?

Pastinya kita pernah merasakan perasaan-perasaan ini, tapi apa itu perasaan-perasaan ini kalau bukan hal yang diajarkan – sesuatu yang sengaja diinputkan. Sesuatu yang dengan sengaja kita perintahkan kepada jasad untuk diproses dan untuk menghasilkan rasanya.

Artinya, perasaan adalah reaksi kimia jasad yang bekerja berdasarkan perintah dari pikiran.  Diatur oleh otak berdasarkan tingkat pengalaman yang diterima dan ajarkan oleh lingkungan.

Dalam jasad perasaan adalah deretan molekul, kita bisa menyebutnya sebagai; Epinefrin / Adrenalin, Estrogen, Asetilkolin, Melatonin, Dopamin, Oksitosin, Serotonin, Testosteron, Norepinefrin.

Ini adalah sederetan molekul yang diolah dan dihasilkan oleh jasad kita untuk memberikan rasa dari perasaan yang kita pilih, baik secara sengaja ataupun tidak sengaja. Nyata ataupun sekedar imajinasi. Benar ataupun tidak benar. Tetap jasad akan mengolah molekul ini hanya agar kita tahu perasaan kita.
Ajaib! Kita bisa melihat wujud garam yang rasanya asin. Es yang rasanya dingin. Api yang rasanya panas. Tapi kita tidak bisa melihat perasaan. Sederat emosi itu hanyalah molekul. Itulah kenapa emosi kadang-kadang dianggap sebagai antitesis dari akal; Emosi adalah budak pikiran kita, tapi apakah kita akan membiarkan diri menjadi budak emosi ? Tentunya tidak!


[ Siapa yang merasakan perasaan itu dan siapa yang membuat perasaan itu? ]

Sudah jelas jawabannya adalah diri kita sendiri dan yang membuat perasaan itu adalah jasad kita sendiri juga. Perasaan bukan tentang sikap seseorang yang sangat kita benci. Bukan tentang goal yang tidak tercapai. Bukan tentang soal pasangan yang selingkuhan. Bukan pula tentang sederet gelar yang kita miliki.

PERASAAN HANYA TENTANG MOLEKUL YANG KITA BENTUK SENDIRI.

Kita membuatnya, kita merasakannya, kita terpuruk karenanya atau kalau pun kita bisa berbahagia karenannya juga adalah karena kita yang memilih membuatnya. Pertanyaannya: Apakah sesuatu yang bisa dipilih masuk kategori takdir atau nasib?

Iya betul sahabatku… Jawabannya adalah nasib. Jadi, kita sengaja menggores nasib dan menuntut nasib yang sebaliknya. Mungkin kenyataan ini menjadikan kita sebagai makhluk semesta yang ter-aneh.

Kita sengaja memikirkan kebencian, membiarkan molekul benci terbentuk didalam jasad, lalu kita merana karena kebencian dan berharap kebencian ini menyingkir. Namun kita tetap memikirkan kebencian itu sendiri dan membuat sendiri perasaannya. Tidakkah ini aneh – kenapa kita bisa seaneh ini sahabatku…?


[ Siapa yang kita salahkan dari perasaan itu? ]

Kita menuntut rasa yang berbeda dan terus membuat rasa yang sama. Padahal DZAT MAHA telah membuat segalanya sangat sempurna didalam jasad kita. Kita memiliki kemampuan itu, yaitu kemampuan untuk tidak menjadi korban perasaan.

Kita diberi kemampuan untuk memilih dan membentuk nasib kita sendiri. Namun kita masih tetap berdoa agar gelap cepat berlalu dan terang segera menghampiri ini. Padahal kita tidak pernah bergerak untuk memencet tombol lampunya. Kita berharap ada energy besar untuk memencet tombolnya. Padahal kita terus mensia-siakan energy kita sendiri.

Kita mengakui kalau energy ruh ini adalah energiNYA. Kita menyebut namaNYA sebelum apapun. Kita mengakui telah bersaksi dan mengakuiNYA. Namun kenyataan yang kita praktekkan berkata sebaliknya bukan?

Kita bahkan lupa bagaimana mengatur apa yang telah dianugerahiNYA dengan terus mendikteNYA agar menurunkan perasaan berlawanan yang menurut kita lebih indah dan sesuai. Tapi kita sendiri bergerak untuk terus mengingkari itu semua.

Sahabatku… Apakah langit selalu hitam? Tidak, kadang langit sangat indah untuk dipandang, sangat silau untuk ditatap dan begitu gelap untuk dijajaki. Kita bisa merasakan banyak rasa hanya dari menatap langit. Apalagi kalau langit tidak menurunkan hujannya atau selalu menurunkan hujannya, menuntut rasa pun muncul.

Seberapa sering kita mengabaikan langit hati kita dan menuntunnya paksa menuju bawah langit yang berbeda? Tidak menerima perasaan ini dan menginginkan perasaan yang lain. Padahal kenapa kita ada disini hanya karena kita membuat perasaan ini. Kita membuat langit kita dan merana karena apa yang kita buat. Apakah kita telah mengingkari nikmatNYA sahabatku…?

Mari kita memperbaiki diri. Besok pada kesempatan yang teranugerahi pelan-pelan kita akan membahas tentang molekul-molekuk perasaan dan bagaimana kita mengaturnya.

Akhir kata sahabatku… Kalau kami boleh memberi saran: Pilihlah hanya satu perasaan yang terindah dan jangan pernah menghapusnya. Teruslah memilih menjadi korban dari perasaan ini dan jangan pernah berlari dari perasaan ini. Perasan apakah itu?

Perasaan menyanyangi dan disayang oleh DZAT Maha Penyanyang. Bukankah itu perasaan terbaik yang membersamai kebersamaan indah kita bersama SANG kekasih abadi? Rasakanlah sahabatku dan berbahagialah selalu.

Ingatlah selalu kalau hal-hal terbaik dan terindah di hidup ini tidak dapat dilihat atau bahkan disentuh. Mereka harus dirasakan dan disaksikan.

Salam Semesta

Copyright 2019 © www.PesanSemesta.com

#pesansemesta 

  • 0
  • November 29, 2019
admin16 admin16 Author

APA ITU ISTIMEWA ?




Sahabatku… Sejauh mata melihat kita melihat sebuah pola. Seperti sepetak canvas yang terlukis oleh lukisan yang sama. Kenapa dan bagaimana bisa? Kalau wajah kita masing-masing berbeda kenapa lukisan kita pun harus sama? 

Keunikan kita terhempas oleh kenyataan ini. Sulit untuk berlari menuju area bebas untuk menemukan diri. Pikiran kita memang terbelenggu oleh ikatan berkarat dari aura lukisan yang sama. Sulit untuk berlari menuju area bebas untuk sekedar bernafas dalam hembusan angin yang tak lagi terhalangi beton. Sulit untuk menatap singgasana yang lebih indah dari sekedar bangunan kecil yang seragam.
Mereka bilang semesta ini luas dan tak terhingga. Sayangnya itu seakan tidak berlaku diatas Bumi. Diatas Bumi ini manusia masih mengejar, membentuk dan meraih sesuatu yang sama untuk tujuan yang sama.

Keunikan kita terhalang oleh kata ‘sama’. Kita menatap keluar dan mencari arti kata ‘sama’ hanya untuk mencocokkannya kedalam diri. Meski jiwa kita tahu diri dalam kemeranaannya kalau ‘sama’ yang diluar itu tidak akan pernah cocok dengan ‘sama’ yang didalam.

Kita berpikir ‘sama’ akan membawa kita kepada keistimewaan. Padahal ternyata jawaban-NYA tentang istimewa sangat sederhana. Istimewa itu hanya tentang dua hal: Hal pertama, kita mengenal diri – Hal kedua, kita bergerak sesuai diri

Sederhana bukan? Tidak perlu melihat keluar cukup kedalam. Karena DZAT MAHA ada disana. Temuilah DZAT MAHA dalam kebersamaan abadi. Lalu biarkan RUH yang menentukan ujung keabadian.

Sayangnya memang kita tidak teringat akan hal ini. Kita lupa untuk mengenal diri. Kita lupa untuk bergerak sesuai diri. Kita hanya fokus melihat keluar dan kita hanya fokus bergerak sesuai perintah.
Bukankah kita tidak tahu lagi apa yang istimewa? Kita tersesat mencari kata ‘istimewa’ didalam kubangan kata ‘sama’. Padahal istimewa tidak pernah ada disana.

Sahabatku… Kembalilah menjadi makhluk semesta yang istimewa. Saatnya membuat hidup baru. Menghapus kata sama dan mencari keistimewaan unik dari mengenal diri. Lalu bergerak sesuai denganNYA.

Lihatlah langit sahabatku… Suatu hari kita akan memandang langit yang berbeda dengan rasa yang berbeda dan hanya ada satu yang sama. Kita memandangnya bersamaNYA... Selalu bersamaNYA.
Beruntung mereka yang mampu merasakan kebersamaan ini. Rasa ini adalah nyata. Kita tidak sendirian. Seramai dan seribut apapun hidup kita dalam potret canvas yang tercoret sama, tetap DZAT MAHA Penyanyang senantiasa menyertai nafas kita.

Kita adalah diriNYA yang istimewa. Hidup memang seistimewa diriNYA. Teruslah bergerak menggapai keistimewaan.

Salam Semesta

Copyright 2019 © www.PesanSemesta.com

#pesansemesta
                                                                                                                                            .

  •  
  •  
  •  
  • 0
  • November 27, 2019
admin16 admin16 Author

6 CIRI EGO YANG TER-HACK



Setiap molekul air terbentuk dari penggabungan dua atom hidrogen dan satu atom oksigen. Tidak lebih dan tidak kurang. SANG PENCIPTA hanya memberikan satu atom oksigen dan tidak melebihkannya. Apabila kita dengan sengaja merubah struktur atom air, maka air tidak akan menjadi air.

Hal ini mengingatkan kita bahwa segala dalam hidup ini memiliki takaran. Begitu pun juga dengan ego manusia. Ego kita pun memiliki takaran. Saat kita melebihi takarannya, maka struktur kita akan berubah, keseimbangan tidak terjadi, akhirnya manfaat dari ego tidak terasa baik, justru memusnahkan. Inilah ego yang ter-hack.

Hal pertama untuk mengembalikan kedamaian diri adalah dengan mengembalikan takaran ego kita pada angka yang seharusnya. Sehingga kita kembali kepada struktur asal, kepada keseimbangan asli, lalu ego pun akan berdamai dan memberi kedamaian sebagaimana fungsi awalnya dibuatkan untuk manusia. Karena pada lapisan takdir yang sesungguhnya ego dibuat bukan untuk menyakiti, melainkan untuk melindungi manusia.

Kalau diumpamakan ego itu awalnya terkode seperti air. Sama seperti air, tawar, jernih, dan bening. Dibuat sesuai kebutuhan manusia. Tapi air juga netral dan bisa menyatu dengan apa saja untuk berubah.

Begitu juga dengan ego saat dia sudah menyatu dengan ego yang lain, maka ego berubah – ego terhack. Sayangnya 98.9% manusia tidak sadar kalau egonya telah terhack. Kita merasa ego yang terus merong-rong itu adalah ego kita yang sebenarnya, namun tidaklah demikian.
Ego tidaklah dibuat untuk menyusahkan manusia. Apabila manusia sudah mulai kesusahan dengan egonya, berarti itu adalah pertanda bagi kita untuk kembali memurnikan ego. Memurnikan ego artinya mengembalikan kode-kode kita yang telah terhack sehingga ego kita kembali menjadi ego murni. 

Ego murni adalah ego jernih tanpa hacking apapun, ego semesta begitulah kami menyebutnya. Ego semesta adalah satu juta bundel kode pemrograman awal yang dibuat jernih, bersih, bening untuk manusia. Tidak ada sedikit pun kesalahan dalam ego semesta. Jelas DZAT MAHA tidak akan pernah salah membuat atau memberi. Segala takaran pastinya sudah pas dan sesuai.

Apabila sekarang ego menjadi suatu masalah bagi manusia, itu hanya karena ego manusia telah terhack. Hidup adalah lingkaran sebab dan akibat. Manusia sering dengan sengaja melakukan sebab-sebab yang menjauhkannya dari takdirnya sendiri. Padahal manusia memang sudah ditakdirkan menjadi fitrah ego yang murni.

Jadi kita memang harus melakukan langkah-langkah pemurnian kembali. Langkah pertama kita sebelum memurnikan ego adalah menyadari diri dulu kalau ego telah terhack.
Kami menghadirkan 6 ciri-ciri ego yang ter-hack. Pengetahuan kita akan ciri-ciri ini akan menjadi tolak ukur kita dalam menilai diri sendiri untuk memperbaiki diri sendiri. Setiap semesta memiliki kesadaran dan kemampuan untuk memperbaiki semestanya sendiri. Pengetahuan adalah dasar dari segala kesadaran dan kemampuan.


1# Ego berada di atas akal:
Ego berada diatas akal adalah saat ego sudah mulai mengabaikan akal. Ego adalah dorongan pemenuhan, tanpa akal.


2# Ego menjadi keran bocor:
 Manusia mulai menjadi budak ego. Seperti keran bocor, Kita harus mencari wadah yang banyak untuk menampung segalanya. Tidak terkendali. Akhirnya Kita menjadi budak dari pemenuhan ego-ego Kita.


3# Ego menghilangkan identitas:
Identitas manusia bukannya ego, melainkan kesadaran. Kesadaran manusia akan dirinya sendiri. Ego yang terhack akan menghilang kan identitas atau kesadaran manusia itu sendiri. Manusia tidak lagi menjadi manusia. Karena itu ada istilah manusia iblis. Bukan berarti ego manusianya yang salah. Tapi manusiannya yang membiarkan kesadarannya terhack, sehingga ego menghilang kan identitasnnya. Contohnya seseorang yang sudah tidak lagi menggunakan akal untuk men-filter egonya, maka egonya akan menjadi keran bocor. Dia akan terus menerus menampung egonya, sampai orang itu mulai kehilangan kesadaran diri yang sebenarnya, yang ada di dalam kesadaran diri hanyalah, bagaimana agar goal (rasa pemenuhan ego) terpenuhi. Dari sinilah muncul ciri yang ke -empat.


4# Ego menjadi keburukan bagi diluar dirinya:
Apabila ke-tiga  ciri di atas sudah dimiliki oleh manusia, maka manusia tinggal menunggu yang keempat, yaitu ego menjadi keburukan bagi yang diluar dirinya. Lingkungan mulai merasakan efek negatif dari egonya. Misal seorang perokok, yang menjadikan lingkungannya perokok pasif. Ini adalah ciri ke empat.


5# Ego memanipulasi keburukan:
Ego memanipulasi keburukan yang diluar dirinya dengan kata-kata. Ini baik bagi saya, akhirnya manusia lupa kalau mereka adalah semesta. Manusia mulai berpikir ini adalah kebaikan baginya dan manusia mulai menghiraukan keburukan yang dirasakan oleh yang di luar dirinya. Contoh ringan, membuang sampah di laut. Mengambil terumbu karang, menjual binatang. Ego manusia memanipulasi keburukan yang dirasakan oleh korban. Menjadi kebaikan bagi diri.


6# Ego menjadikan diri egois:
Ciri terakhir dari nomor lima hanya akan menjadikan ciri keenam menjadi nyata. Manusia hanya peduli dengan dirinya sendiri, tanpa mempedulikan sesama. Manusia menjadi egosentris. Mementingkan diri, keluarga dan kelompoknya. Kepedulian sesama hanya akan menjadi sesuatu yang menguntungkan baginya. Begitu juga saat berhadapan dengan SANG MAHA dia menuntut apa yang bagi dirinya. Selalu tentang dirinya, baginya, dan untuknya segala yang menyenangkan, menguntungkan, tanpa mempedulikan orang lain.


Sahabatku… 1-6 adalah sebuah proses. Dimanakah kita berada?

Sampai dimana-kah ego kita berhasil ter-hack. Ingat bukan ego yang meng-hack diri Kita. Ego itu ibarat air yang dibutuhkan untuk menghilang kan haus. Tidak ada yang buruk dari ego. Sistem operasi manusia adalah kesempurnaan dan kebaikan buat manusia itu sendiri.
Bagaimana ego kita ter-hack bukan suratan takdir melainkan aliran sebab akibat yang mengalir dalam beberapa masa. Lalu apa itu atau siapa itu yang meng-hack ego manusia? Kita akan membahas ini lebih lanjut pada kesempatan berikutnya.

Akhir kata sahabatku… Kalau berdiri didalam ujung lorong tanpa cahaya adalah menakutkan. Maka berdiri diatas diri yang tidak mengenal dirinya justru lebih menakutkan. Tidak ada hal yang lebih menakutkan dari diri yang tidak mengenal dirinya sendiri.

Ego adalah bagian diri yang tidak akan pernah terhapus, namun hanya bisa terkendalikan. Kita butuh ilmu untuk mengendalikannya. Dimulai dari pengetahuan menuju aksi dalam pemahaman. Teruslah melangkah dan belajar bersamaNYA.

Salam Semesta

Copyright 2019 © www.PesanSemesta.com

#pesansemesta


  •  
  •  
  •  
  •  
  • 0
  • November 26, 2019
admin16 admin16 Author

3 TIPS AMPUH AGAR TIDAK DIPERMAINKAN PIKIRAN






“Bagaiamana caranya agar tidak terus-terusan dipermainkan pikiran???” Melalui anugerahNYA izinkan kami menjawab.

Sahabatku… Boleh dibilang manusia memang selalu akan hidup didalam pikirannya. Pikiran menangkap kesadaran, lalu jasad mengelola pikiran yang menangkap kesadaran tersebut. Jadi ini seperti roda yang akan selalu berputar ke arah yang sama.

Manusia tidak bisa menghentikan arus pikirannya, namun bukan berarti manusia selalu harus bersedia diri menjadi korban pikirannya sendiri. Penggunaan kata ‘korban’ disini bukan tanpa alasan. Karena betul memang pikiran kita senang mempermainkan diri kita sendiri.

Ambil contoh saat kita melamun dan membiarkan otak kita menvisualisasikan apa yang terlintas oleh pikiran. Saat pikiran menvisualisasikan sesuatu, maka bagian jasad otak merespon persis sebagaimana yang divisualisasikan.

Misalnya jika kita membayangkan diri bergelantungan di seutas tali dan melakukan lemparan bebas. Maka bahan kimia yang diproduksi oleh otak kita dan impuls listrik yang dikirim ke otot-otot kita, identik dengan yang akan dikirim jika kita benar-benar melakukannya.

Jadi sifat dan cara kerja pertama otak adalah OTAK TIDAK MENGETAHUI PERBEDAAN ANTARA PIKIRAN NYATA DENGAN PIKIRAN IMAGINASI.

Hanya saja dalam hidup ini sudah menjadi keniscayaan kalau harus ada negatif dan positif. Begitu juga dengan sifat dan cara kerja otak yang pertama ini, yaitu bisa menjadi sangat positif atau sangat negatif.

Positif karena kalau kita bisa mengendalikan lintasa pikiran kita sesuai dengan goal hidup, maka otak akan mengerahkan seluruh anggota jasad kita tanpa terkecuali untuk hidup sesuai goal hidup yang sengaja kita ciptakan. Kabar baiknya dari apa yang dilakukan oleh otak ini adalah, vibrasi yang kita kelola dan kita pancarkan akan selaras dengan goal hidup yang kita inginkan.

Jasad kita adalah energy, begitu juga pikiran dan segala isinya adalah energy. Setiap energy akan menghasilkan vibarsi yang menarik frekuensi. Kalau jasad kita beroperasi dalam energy baik karena pikiran kita juga beroperasi dalam energy baik. Maka jasad dan pikiran menghasilkan energy yang selaras, yaitu sama-sama baik. Energy yang selaras ini akan membuat vibrasi yang selaras untuk menarik yang sama pula.

Ini disebut dengan hukum vibrasi  (the law of vibration) yang merupakan dasar dari cara kerja hukum Tarik menarik (the law of attraction).  Kalau hukum Tarik menarik hanya tentang bagaimana kita mengatur pikiran kita, maka hukum vibrasi lebih luas lagi, karena mengatur bagaimana alur vibrasi yang dikeluarkan oleh pikiran diselaraskan dengan vibrasi semesta.  

Lalu  bagaimana ini menjadi negatif adalah saat pikiran melakukan yang sebaliknya. Sayangnya ini sering sekali kita lakukan dan inilah yang dimaksud dengan pikiran yang mempermainkan kita.
Ambil contoh sederhana begini. Di tengah lamunan, pikiran kita membayangkan hal buruk menimpa usaha yang sedang kita jalankan. Bisa saja itu stock yang menumpuk karena barang tidak laku, pegawai yang tidak amanah, atau omset yang tidak naik-naik. Apapun itu yang pastinya bertolak belakang dengan apa yang diharapkan oleh goal sebenarnya.

Tentunya goal usaha kita bersebarangan dengan semua  yang dibayangkan oleh pikiran. Hanya saja kita malah memikirkan yang sebaliknya. Akhirnya otak kita beroperasi sesuai dengan apa isi pikiran kita. Hasilnya detak jantung kita tidak stabil, hormone stress kita meningkat dan hormon kebahagian kita berkurang. Organ hati kita juga bekerja lebih kuat karena hormone ketakutan muncul dan itu adalah racun buat jasad.

Sebenarnya banyak lagi yang terjadi didalam jasad, yang mana intinya energy negatiflah yang dipancarkan oleh jasad sesuai dengan apa yang dipancarkan pula oleh pikiran kita. Hasilnya energy negatif ini akan mencari frekuensi yang sesuai dengan vibrasinya. Alhasil energy yang kita vibrasikan jauh dari energy yang sebenarnya sedang kita inginkan. Dan jelas ini adalah masalah yang mempermainkan kita sendiri.

Sekarang kita akan memikirkan solusi dari ini semua. Jelas kita butuh solusinya bukan? Solusi bagaimana cara agar kita mampu mengharmonisasikan pikiran sehingga kita tidak dipermainkan oleh pikiran kita sendiri.

Sahabatku… Kami memiliki tiga tips ampuh disini semoga bisa membantu :


TIPS PERTAMA:
INPUT – BELAJARLAH MEMILIH PIKIRAN

Pernahkah kita memilih pikiran? Atau kita hanya membiarkan pikiran kita seperti semangkuk penuh yang bisa diisi oleh apa saja?

Kita menerima input dari kesadaran dan ini tidak akan pernah berhenti. Namun kita memiliki andil untuk memilih input apa yang akan kita proses didalam pikiran. Kita juga memiiki andil untuk memilih bagaimana memproses input itu untuk menghasilkan output yang sesuai dengan apa yang kita pilih.

Jadi intinya, jangan membom bardir diri dengan pikiran, namun buatlah skala prioritas pikiran. Pilihlah pikiran sesuai kepentingan.

Terimalah kesadaran dengan kesadaran. Jadilah waskita dengan apapun yang berlangsung diluar dan jadilah waskita juga dengan apa yang dimasukkan kedalam.

Karena meski semuanya dalam hidup ini bermakna, kadang mata kita tidak terlalu jeli dan hati kita belum terlalu tajam untuk menjadikan semuanya bermakna.

Karenanya kita harus mampu memilih input dari pikiran kita sendiri. Ingat saja, kalau kita bukan korban pikiran, melainkan raja dari pikiran. Raja memiliki kuasa untuk memilih apa yang terbaik baginya dan bagi apa yang dipimpinnya.


TIPS KEDUA:
PROSES – BERPIKIRLAH SECARA EFEKTIF BUKAN AKTIF

Sahabatku… Aktif berpikir sebenarnya bukan hal yang buruk, bahkan tidak sama sekali. Hanya saja kebanyakan kita saking aktifnya berpikir, maka kita sering mencampur aduk pikiran tanpa sama sekali memprosesnnya menjadi apa-apa. Jasad kita pun kelelahan dan kita pun merasa banyak pikiran.

Merasa banyak pikiran adalah hasil dari diri yang terlalu bepikir secara aktif, bukan efektif. Lalu seperti apakah berpikir secara efektif itu?

Bayangkan di hadapan kita sekarang terdapat semangkok mie ayam komplit dengan segala pelengkapnya. Pastinya sebelum menjadi semangkok mie ayam semuanya tidak beraturan. Ada begitu banyak bahan baku diatas sebuah meja. Ada ketidakberaturan yang menunggu diberaturkan. Bukan begitu?

Begitu pulalah pikiran manusia. Pikiran adalah ketidakberaturan yang menunggu diberaturkan. Pastinya kita memiliki keterbatasan kapasitas. Karena itu kita harus mampu memilih input dan memproses inputan itu dengan baik dan benar, sehingga menghasilkan keteraturan.

Ketarturan itu adalah sebuah karya dari hasil pikiran manusia yang telah berproses. Saat melodi tidak beraturan tentu sama sekali tidak enak didengar, tapi saat teratur maka akan terdengar seperti harmoni yang indah.

Proseslah pikiran kita agar menjadi output yang harmonis sesuai dengan goal yang diharapkan. Ada satu hal dramatis disini yang suka muncul saat kita memproses pikiran. Satu hal dramatis itu adalah ketidakpercayaan diri.

Kadang muncul ketidakpercayaan diri saat kita berpikir. Bisa jadi kita tidak percaya bisa menyelesaikan masalahnya, kita tidak percaya bisa menemukan idenya, kita tidak percaya bisa menemukan kata kuncinya, dll. Apabila ini terjadi cobalah menarik energy yang lebih besar dari pikiran kita sendiri. Apa itu?

Cobalah berproses, bergerak dan berpikir dengan kesadaran penuh kalau kesadaran ini adalah anugerahNYA. Gerakan ini adalah gerakanNYA. Pikiran ini adalah pikiranNYA. Proses ini adalah prosesNYA. Diri ini adalah diriNYA.
Berserah diri bukan berpasrah diri dalam berproses adalah kebaikan bagi pikiran yang sedang berproses.


TIPS KETIGA:
OUTPUT – BERPIKIR ITU ADALAH BERAKSI

Sahabatku… Apa itu hasil dari pikiran? Banyak! Bagaimana tulisan ringan ini mempengaruhi atau tidak mempengaruhi hidup kita itu adalah hasil pikiran. Bagaimana masalah kita selesai  dengan berbagai modenya itu adalah hasil dari pikiran. Bagaimana semangkok mie ayam berada dihadapan dan bagaimana kita menghabiskannya adalah hasil dari pikiran.

Banyak hal yang dihasilkan oleh pikiran bahkan saat kita merasa tidak beraksi apa-apa. Tetap otak kita beraksi terhadap apa yang dibayangkan pikiran bukan? Jadi apa itu hasil dari pikiran sebenarnya?

Hasil dari pikiran adalah AKSI. Hasil dari pikiran adalah doa yang terjawab. Hidup ini dibangun oleh aksi-aksi, inilah berdoa yang sebenarnya, bukan sekedar harapan-harapan yang memenuhi pikiran dan dipanjatkan secara optimis karena DZAT MAHA akan mengabulkan.
Apabila kita benar-benar optimis bahwa DZAT MAHA akan mengabulkan segala harapan yang dipikirkan, maka kita pasti akan ber-Aksi. Pikiran-pikiran kita tidak akan berwujud apa-apa selain wujud nyata kehampaan, apabila kita tidak pernah mengikuti ide-ide DZAT MAHA untuk mewujudkannya. Bukankah pikiran kita adalah pikiranNYA?

Berdoa artinya dinamis, dengan kata lain penuh dengan harapan-harapan menuju perbaikan. Berdoa bukan sekumpulan bait-bait mantra yang hampa. Tapi sekumpulan pikiran yang hidup.
Pikiran yang hidup adalah pikiran yang di-aksikan. Mana yang lebih hampa; orang yang menyerahkan pikirannya didepanNYA begitu saja, atau mereka yang menempatkan pikirannya ditempat yang benar dan terus beraksi bersamaNYA untuk mewujudkan pikiran-pikiran itu agar pantas untuk menerima frekuensi yang sudah disiapkan olehNYA?


Akhir kata sahabatku… DZAT Maha bukan sengaja membuat pikiran untuk mengutuk manusia. DZAT Maha membuat pikiran-pikiran bukan untuk membiarkan kita berdiam diri dalam kesendirian. Tapi untuk menemani kita mewujudkannya. Membantu kita memunculkan sifat optimis didalamnya. Memberikan ide-ide aksi tentangnya.

Lalu membuat kita tersenyum dan berkata “Terimakasih telah telah menemaniku dalam berpikir, menemaniku dalam beraksi, lalu membuat harapan-harapanku menjadi nyata. Aku sangat ber-bahagia”. - Kita bersyukur atas pikiran ini.

Ingatlah selalu kalau pikiran adalah sekumpulan AKSI DINAMIS yang dijalankan secara OPTIMIS dan kepercayaan bahwa diri ini selalu bersamaNYA.

Lalu apa yang kita pikirkan hari ini?

Mari kita koreksi dulu pikiran-pikiran itu. Proseslah pikiran untuk mencari kebaikannya, untuk menemukan sisi dinamisnya. Lalu hadirkan optimisme nya dan lakukan aksi-aksinya.

Sahabatku… Pikiran tidak tercipta untuk mempermainkan kita, pikiran kita tercipta agar kita mampu menghubungkan diri kepada yang memberpikirkan kita. Teruslah berpikir dalam kebaikan untuk terus terhubung denganNYA.

Salam Semesta

Copyright 2019 © www.PesanSemesta.com

#pesansemesta




  •  
  •  
  •  
  • 0
  • November 25, 2019
admin16 admin16 Author

KEHILANGAN CINTA



Hal yang tidak bisa dihindari dari hati manusia adalah kesedihan. Air mata meluncur turun dengan dada sesak. Begitu banyak alasan kesedihan, dan yang paling menyedihkan adalah kehilangan.

Kehilangan cinta, cinta orang yang kita cintai baik itu pasangan atau orang tua. Kehilangan tidak harus berpisah dalam kehidupan, bisa saja kita masih sama-sama hidup tapi jiwa mereka yang kita cintai tidak bisa lagi tersentuh.

Kesepian karena kehilangan kedua cinta diatas memang tidak bisa dibendung. Manusia suka memiliki yang dicintainya karenanya mereka harus menanggung kesedihan karena kehilangan cinta. Sebuah sebab akibat pahit yang mau tidak mau harus dirasakan akibat dari pilihan ini.

Logika kita merengek dan berkata “Kenapa kita bersedih saat kehilangan – padahal tidak ada yang mampu kita miliki. Kita hanya memiliki kekosongan fisik???”

Semesta ini adalah 9,9999999% energy. Secinta apapun kita kepada mereka yang kita cintai. Sesedih apapun kehilangan kita akan jiwa mereka. Tetap hanya wujudNYA lah yang kita puja.  Kita tidak akan kehilangan wajahNYA.

Sahabatku… Cinta tidak memerlukan kesombongan memiliki. Cintailah terus jiwa-jiwa yang tidak bisa kita miliki dalam ketulusan, karena wujudNYA tidak pernah hilang. Cinta ini ada karena wujudNYA ada. Lalu mana yang lebih penting untuk dicintai?

Bangunlah pemakluman. Cinta memang seperti itu, tapi paling tidak kita tidak akan pernah kehilangan cintaNYA. Kita tidak kehilangan apa-apa dalam hidup ini. Tetaplah tersenyum dalam kesedihan karenaNYA.


Salam Semesta

Copyright © www.PesanSemesta.com

  •  
  •  
  • 0
  • November 16, 2019
admin16 admin16 Author

KENAPA KITA MASIH TERJEBAK DIDALAM KEBURUKAN PADAHAL AKAL KITA MENGAKUINYA BURUK?




Sahabatku… Setiap manusia memiliki kekurangan dan kesalahan berulang. Setiap manusia ingin move on dan meninggalkan segala keburukan yang terus menerus dilakukan. Setiap manusia juga inigin menjadi sempurna dan suci menurut versinya masing-masing.

Kita memiliki bayang-bayang kesempurnaan dan kesucian itu didalam kepala kita. Namun itu semua seakan menjadi tabu dan hanya menjadi segenggam harapan palsu yang terus kita kantongi didalam jiwa. Kita membohongi diri dengan terus menerus bergerak untuk menjauhi harapan-harapan itu.

Sahabatku… Apa yang sebenarnya telah terjadi?

Sebagian tetap melakukan keburukan – padahal jelas tahu itu buruk. Kenapa akal kita berlari jauh untuk mengamati setiap keburukan yang kita lakukan, sementara bagian lain dari diri kita sendiri tetap membiarkan diri tenggelam didalamnya?

Sahabatku… Inilah sebuah perjuangan diri yang terbesar dari yang terbesar, yaitu saat hidayah semesta sudah mencapai ubun-ubun. Tapi tameng kita masih kuat untuk menghalaunya.

Sebelum menjawab ‘kenapa masih ada tameng penghalau?’ – coba kami jelaskan sedikit tentang hidayah semesta. Sebagian kita pasti sudah paham dengan makna hidayah, tapi izinkan kami sedikit meluruskannya, sedikit saja agar kita tidak salah paham dengannya.

Sahabatku… Hidayah adalah sesuatu yang sudah kita bawa. DZAT MAHA sudah menyebar hidayahnya kepada seluruh semesta. Hanya saja hidayah semesta itu harus kita unlock. Seharusnya tidak harus di unlock memang, sayangnya dogma-doktrin yang kita terima dari orang tua dan lingkungan  yang akhirnya menjadi ego pribadi telah lama mengunci hidayah semesta ini rapat-rapat.

Hidayah semesta adalah saat akal yang diproses oleh jiwa dan hati yang dihidupkan oleh ruh menyatu dalam jasad dan kesadaran manusia untuk memberi makna dan kontrol. Jadi hidayah semesta akan hadir saat kita tidak membiarkan apapun mengkontrol diri ini selain diri ini sendiri.

Lalu apa itu contohnya ‘apapun yang mengkontrol diri’? Contohnya banyak; hampir seluruh yang kita lakukan. Kita berpikir itu adalah ‘diri kita’ tapi identitas ‘diri kita’ sendiri tidak sejelas yang terlihat.

Coba kita bertanya “Apakah diri yang sekarang ini adalah benar diri saya yang sebenarnya atau hanya bentukan dari orang tua dan lingkungan???” Kami tidak akan menjawab bagian ini, kami akan menyerahkannya kepada masing-masing kita untuk menjawabnya. Silahkan dijawab.

Dari pertanyaan ini sudah terjawab bukan “kenapa masih ada tameng penghalau?”.

Sahabatku… Temukanlah ‘diri kita’ didalam ‘diri kita’. Hidayah semesta itu ada disana. Tanyakan diri kita apakah keburukan ini adalah diri kita? Apakah kita ditakdirkan untuk menggengam segenggam harapan palsu yang terus kita kantongi didalam jiwa? Apakah aksi kita membohongi diri dengan terus menerus bergerak untuk menjauhi harapan-harapan itu adalah benar aksi kita?

Sahabatku… Akal kita menjawab “TIDAK” terdengar sangat jelas bukan? Tidaklah itu yang menjawab selain hidayah semesta yang sedang memberi arah awal. Kenapa kita tidak mulai mendengarkanNYA?  SuaraNYA akan berbicara saat kita benar-benar mau mendengarkan.

Salam Semesta

Copyright © www.PesanSemesta.com   


  • 0
  • November 16, 2019
admin16 admin16 Author

CARA UNTUK MENCINTAI DAN MEMPERCAYAI SANG KEKASIH




Seorang Rumi berkata “Ketahuilah, apapun yang menjadikanmu tergetar, itulah yang terbaik untukmu! Dan karena itulah, qalbu seorang kekasih-NYA lebih besar daripada Singgasana-NYA” – Rumi

Pertanyaannya… Beranikah kita mematahkan sayap hanya untuk menemui SANG KEKASIH?
Sahabatku… Anggaplah mencintaiNYA adalah menjadi kekasihNYA. kita adalah kekasihNYA dan DZAT MAHA adalah Kekasih kita.

Lalu apakah seorang kekasih akan memanfaatkan kekasihnya hanya untuk memenuhi kebutuhannya? Jawabannya TIDAK. Di lain pihak apakah seorang kekasih akan membiarkan kekasihnya dalam kebutuhan? Jawabannya juga TIDAK.

Sahabatku… Inilah arti dari mencintaiNYA tanpa membutuhkanNYA. Karena sebagai kekasih kita percaya Kekasih kita akan memenuhi segala kebutuhan kita. Dan kita juga tidak mau menggunakan Kekasih kita hanya sebatas pemenuh kebutuhan belaka, karena kita mencintaiNYA.

Dengan ketulusan kita mencintaiNYA. Ketulusan kita kepadaNYA adalah awal dari rasa cinta kita. Cinta tanpa dasar kebutuhan, melainkan cinta atas dasar kepercayaan.

Jadi kalau kita mau mengukur seberapa dalam rasa cinta kita kepadaNYA, maka ukurlah terlebih dahulu ketulusan kita kepadaNYA. Dan kalau kita mau mengukur ketulusan kita kepadaNYA, maka ukurlah terlebih dahulu kepercayaan kita kepadaNYA. Terakhir, kalau kita mau mengukur kepercayaan kita kepadaNYA, maka lihatlah isi kepala dan hati kita saat ini juga.

Isi kepala dan hati kita akan memberi jawaban tepatnya seperti apa dan bagaimana rasa cinta ini. Bisa saja isi kepala kita dipenuhi oleh kebimbangan hidup, kekosongan jiwa, keluhan tiada tara, impian yang digerakkan ketakutan dan banyak hal yang justru meragukan kepercayaan kita sendiri.

Padahal mempercayai memiliki makna yang begitu mendalam. Kita tidak pernah sampai diposisi mempercayai, sampai kita menutup mata rapat-rapat dan membiarkan yang kita percayai menuntun kita secara penuh.

Kita menutup mata lalu melangkah dan mempersilahkan DZAT MAHA yang kita percayai menuntun kita. Itu kita lakukan karena kita menyakini setiap langkah kita akan tetap aman meski kita tidak melihat apapun yang akan kita hadapi didepan. Ini hanya karena saking besar dan penuhnya rasa percaya kita kepadaNYA. Begitulah mempercayai yang sebenarnya.

Itulah kenapa DIA menjanjikan bahwa tidak akan ada kesedihan atau pun ketakutan bagi mereka yang mempercayai (beriman). Hanya saja masalahnya apakah kita mencitaiNYA karena mempercayai atau kita hanya karena membutuhkanNYA?

Jelas kita memang membutuhkanNYA. Namun kalau kita percaya DZAT MAHA adalah segala kemahaan yang Maha mengetahui, Maha mengasihi, Maha memberi, Maha mencukupi…. Haruskah kita meragukanNYA? Haruskah kita membisikiNYA kebutuhan kita, padahal DZAT MAHA adalah kesatuan dengan kita? Pikirkan begini, kalau tangan kita bergerak ke arah kanan – akankah punggung kita tidak mengetahuinya? Lalu bagaimana bisa kita mengakui kebersamaan kita bersamaNYA, namun masih mendikte segala kebutuhan kita?

Sampai disini pastinya seharusnya rasa cinta kepadaNYA adalah perjalanan indah yang penuh kepercayaan. Kita percayakan hidup dan mati kita kepadaNYA. Getar nafas kita hanyalah nafasNYA.  
Butuh waktu pendekatan yang berbeda-beda ditiap masing-masing kita untuk belajar mempercayai DZAT MAHA yang kita cintai. Rasa percaya sama sekali tidak seperti cinta langsung pada pandangan pertama, meski seharusnya seperti itu.

Tapi tidak apa, kalau cinta kita kepada SANG KEKASIH belum sebesar cintaNYA, maka tidak apa. Kalau rasa percaya kita kepada SANG KEKASIH belum seperti seharusnya, maka tidak apa.

Izinkan saja diri ini untuk senantiasa mencintaiNYA. Ajarkan saja pikiran dan hati ini tertuntun oleh kepercayaan kepadaNYA.

Satu tips kecil dari kami untuk hal ini adalah; Cinta dipupuk dengan kebersamaan, begitu juga dengan kepercayaan. Semakin lama bersama bisa membuat rasa cinta semakin bersemi. Semakin lama bersama bisa membuat rasa percaya menguat.

Sahabatku… Rasakanlah selalu kebersamaan kita bersamaNYA dan begitulah awal rasa cinta dan percaya akan bersemi. Sebuah langkah kecil menemui SANG KEKASIH.

Untuk langkah awal perhatikan saja dahulu detak jantung kita dan tanyakan, SIAPA yang membuatnya berdegup dan SIAPA yang mengatur degupannya? – Bukankah kebersamaan itu sangat dekat?


Salam Semesta

Copyright © www.PesanSemesta.com 

  •  
  •  
  •  
  •  
  • 0
  • November 11, 2019
admin16 admin16 Author

ANUGERAH NEURON CERMIN & KEPEMIMPINAN DIRI








Manusia diturunkan diatas Bumi untuk menjadi khalifah (Pemimpin). Ini bukan sembarang tugas. Pada manusia ada neuron (sel otak) yang disebut Neuron Cermin dan ini merupakan anugerah untuk melengkapi tugas.  Neuron Cermin dapat didefinisikan sebagai sekelompok neuron yang aktif ketika kita melakukan suatu tindakan atau ketika kita melihat suatu tindakan sedang dilakukan.

Neuron Cermin sangat penting untuk peniruan yang merupakan kunci dalam proses pembelajaran dan kepemimpinan diri. Sejak lahir, kelompok neuron ini aktif dan memungkinkan kita belajar makan, berpakaian, berbicara dan meng-copy seluruh pengetahuan dasar kita dari lingkungan untuk diolah kembali dan dipilih berdasarkan kesesuaian dengan diri.   

Neuron cermin juga penting dalam merencanakan tindakan kita serta memahami niat di balik tindakan. Misal ketika kita melihat orang asing menyapa kita dan tersenyum kepada kita, kita akan ingin membalas budi, menyapa dan mengembalikan senyum itu juga. Ini adalah berkat neuron cermin yang bekerja di pikiran kita.

Contoh sederhananya;  Apakah kita merasa bahagia ketika orang-orang di sekitar kita bahagia? Apakah kita merasa sedih atau tertekan di sekitar orang-orang yang negatif dan pesimistis? Ini disebabkan oleh penularan emosional yang dihasilkan oleh neuron cermin.

Penularan Emosional adalah suatu proses di mana seseorang atau suatu kelompok memengaruhi emosi dan perilaku emosional orang atau kelompok lain. Ini dapat dilakukan melalui induksi emosional sadar atau tidak sadar.

Contohnya lagi ketika orang berkomunikasi mereka cenderung meniru gerakan dan ekspresi wajah dan dalam banyak kasus merasakan apa yang orang lain rasakan. Telah terbukti bahwa penularan emosi berdampak tinggi dalam hubungan pribadi dan pekerjaan kita.

Itulah kenapa ketika seseorang melihat kita memancarkan energi positif, respons yang sama ini tercermin dalam otak pengamat dan mereka juga akan tertarik secara positif kepada kita. Begitu juga sebaliknya. Itulah kenapa dinamakan cermin neuron, karena neuron ini mampu merefleksikan diri terdalam kita bahkan tanpa kata-kata sekalipun. Energy kita bisa terpantul otomatis karenanya.

Jujur saja kita masih tidak sadar akan kemampuan berpengaruh yang kita miliki ini. Kemampuan timbal balik yang saling menguntungkan ini. Dimana kita bisa masuk kedalam keadaan emosi orang lain dan pada gilirannya orang lain juga bisa masuk pada keadaan emosi kita sendiri.

Neuron Cermin memungkinkan kita merasakan apa yang orang lain rasakan dan "menghayati" emosinya. Neuron cermin didasarkan pada empati.

Empati adalah kemampuan untuk berbagi perasaan atau pengalaman orang lain dengan membayangkan bagaimana rasanya berada dalam situasi orang itu.

Ini bukti bahwa kita adalah makhluk sosial. Empati sangat penting bagi kelangsungan hidup semesta dan menunjukkan bagaimana tanpa keterikatan dan perlindungan kita tidak akan selamat.

Empati bukan barang berharga yang perlu kita cari, tapi itu sudah ada didalam tiap diri kita. Neuron cermin adalah alat bagi setiap empati.

Neurorn cermin adalah bukti nyata anugerah ini. Anugerah yang sengaja dibuatkan dan di pluginkan didalam jasad kita. Dengan satu tujuan dari SANG PEMBUAT, yaitu agar kita paham, kalau kehidupan ini adalah keterhubungan  dan keterikatan abadi dengan segalanya. Bukan hanya sesama manusia, namun sesama semesta yang lain.

Kita diciptakan sebagai semesta dalam keterikatan yang sakral. Bukan hanya terikat kepada SANG PENCIPTA namun terikat pula kepada seluruh ciptaanNYA. Kita terikat untuk saling merasakan, saling memberi, saling memperbaiki, saling melengkapi dan saling berbagi kehidupan didalam kehidupan.

Kalau kita belum begitu percaya, coba tanya kepada seluruh ahli biologi diseluruh dunia ini ‘apakah kita terikat dengan air atau tidak?’ jawabannya pasti adalah iya. 70% tubuh kita adalah air, yang mana artinya adalah air telah membentuk diri manusia. Kalau kita putus keterikatan ini, maka akankah tubuh kita terbentuk sebagaimana mestinya?

Betul sudah ucapanNYA bahwa kehidupan adalah keterikatan dan keterhubungan abadi. Sayangnya kita tidak dibesarkan dengan kesadaran ini. Kita tumbuh menjauh dari takdir yang seharusnya. Namun kemanapun manusia menjauh, pasti SANG PEMBUAT akan menggiring kita menuju takdir kita sendiri dengan berbagai macam cara.

Salah satunya adalah saat hari ini kita mulai memperhatikan kembali neuron cermin yang saat ini juga memang sedang bekerja. Lalu apa hubungannya ini dengan kepemimpinan diri?

Perhatikan kalau konsep neuron cermin muncul dari neuroleadership, bidang yang melibatkan penerapan temuan dari neuroscience ke bidang kepemimpinan. Salah satu ekstensi dari neuroleadership adalah ilmu saraf sosial.

Ilmu saraf sosial, yaitu studi tentang aktivitas otak saat orang berinteraksi - menekankan perlunya seorang pemimpin untuk cerdas secara sosial selain mencapai tingkat penguasaan diri yang optimal.
Kecerdasan sosial adalah seperangkat kompetensi interpersonal yang dibangun di atas sirkuit saraf spesifik (dan sistem endokrin terkait) yang menginspirasi orang lain untuk menjadi efektif.

Penguasaan diri yang termasuk kesadaran diri dan kontrol diri sebagian besar berakar dalam psikologi individu sedangkan kecerdasan sosial adalah konsep yang berorientasi hubungan untuk penilaian kepemimpinan.

Neuron Cermin mendasari sirkuit saraf yang terlibat dalam kecerdasan sosial. Menjelajahi dasar biologis di balik keterampilan sosial adalah pendekatan yang relatif baru dalam dunia kedokteran. Tapi dari sini kita bisa mulai mempertimbangkan peran penting yang dimainkan neuron cermin dalam kepemimpinan diri. Dimana manusia memang diciptakan untuk menjadi pemimpin diatas semesta bumi ini.

Sebagai pemimpin kita memang harus mampu menjaga ketersalingan. Jadi sesukses apapun kita menjadi pemimpin tetap kesuksesan utama kita adalah apabila kita mampu menularkan kesuksesan juga.

Ketersalingan adalah bagian dari memakmurkan. Sementara memakmurkan adalah bukan tentang keuntungan pribadi, tapi lagi-lagi tentang saling menguntungkan.

Pemimpin adalah memimpin diri masing-masing menuju tingkat ketersalingan yang harmonis. Kita tidak sedang berkompetisi untuk menjadi pemimpin. Tapi kita sedang saling mendukung kepemimpian kita masing-masing.

Bukankah ini adalah aroma kedamaian dan keharmonisan yang tajam? Lalu sampai kapan kita akan mulai menyadarinya. Mari kita sadari anugerah ini dari sekarang, dimulai dari diri pribadi. Pimpinlah diri menuju kepemimpinan terbaiknya.

Akhir kata sahabatku… Tidak ada satu pun anugerah yang kita terima dalam hidup ini yang melenceng dari takdir kita sendiri. Neuron Cermin adalah buktinya. Kita memang telah diberi kelengkapan yang selengkap-lengkapnya untuk menjadi pemimpin.

Kita adalah pemimpin diri untuk menjadi semesta terbaikNYA. Hidup kita memang benar-benar hanya dipenuhi anugerahNYA. Kehidupan adalah anugerah dan tetap diatur sedemikian rupa untuk menjadi anugerah bahkan didalam satu sel yang  mungkin tidak pernah kita lihat sekalipun.


Salam Semesta

Copyright © www.PesanSemesta.com

  •  
  •  
  •  
  • 0
  • November 11, 2019
admin16 admin16 Author

MENGHAPUS KARMA



“Bagaimana kalau kita terlanjur menoreh karma buruk dalam hidup ini? Apa yang harus kita lakukan? Apakah karma bisa dihapus ataukah karma akan terus dipikul begitu saja seumur hidup?” Melalui anugerahNYA izinkan kami menjawab.

Apa itu Karma? Karma adalah kata dalam bahasa Sansekerta untuk tindakan. Ini setara dengan hukum Newton tentang 'setiap tindakan harus memiliki reaksi'. Ketika kita berpikir, berbicara, atau bertindak, kita memulai kekuatan yang akan bereaksi sesuai dengannya. Kekuatan yang kembali ini mungkin dimodifikasi, diubah atau ditangguhkan sesuai dengan kadarnya, tetapi kebanyakan orang tidak akan dapat memberantasnya.

Hukum sebab akibat ini bukanlah hukuman, tetapi sepenuhnya untuk pendidikan atau pembelajaran. Karma itu bukan dendam dari semesta yang dibawa, hanya sebab akibat dari setiap pilihan yang dipilih. Baik dengan unsur kesengajaan ataupun dengan unsur ketidaksengajaan.

Contoh seseorang yang menebar kebencian maka hidupnya pun akan dilingkupi dengan kebencian. Ini merupakan karma. Sayangnya kadang karma ini tidak dirasakan dan dialami oleh perorangan. Efeknya terbawa juga oleh lingkungan diluar. Kenapa demikian adalah karena setiap orang adalah energy yang memancar dan mempengaruhi. Baik seseorang itu menyadarinya atau tidak, demikianlah diri kita beroperasi.

Ketidaktahuan tentang hukum bukan alasan apakah hukum itu luput atau tidak. Karena itu kita harus selalu waspada dan awas dengannya.

Tapi bagaimanapun karma tidak hadir untuk menakut-nakuti manusia. Karma hanya hadir untuk membuat manusia setingkat lebih waspada dan awas dengan segala pilihan dan konsekwensi yang didapat dari pilihanya sendiri. Yang tidak kalah penting juga adalah, manusia juga harus menyadari betul bahwa konsekwensi itu kemungkinan tidak hanya akan dirasakan oleh dirinya sendiri, namun juga oleh orang-orang disekitarnya.

Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana kalau kita terlanjur menoreh karma buruk dalam hidup ini? Apa yang harus kita lakukan? Apakah karma bisa dihapus ataukah karma akan terus dipikul begitu saja seumur hidup?

Sahabatku… sekali lagi kami ingatkan karma itu bukan dendam SANG PENCIPTA. Karma hanyalah hukum sebab akibat. Hukum sebab akibat adalah hukum terlogis dari tiap tindakan manusia. Dia tersusun berdasarkan kehendakNYA. Sistem agung yang menjadikan kehidupan didalam semesta ini seimbang.

Kalau kita menyentuh air panas kita akan kepanasan, air dingin kita akan kedinginan, air hangat kita akan nyaman, air sejuk kita akan nyaman. Tapi segalanya hanya akan bersifat relatif. Nah, hukum sebab akibat mampu membaca lavelnya dan menghasilkan akibat sesuai dengan level sebabnya.
"Ketika manusia menabur, demikian juga manusia akan menuai"

Jadi perinsip dalam hidup ini sebenarnya sangat simpel; hindari sebabnya kalau tidak mau merasakan akibatnya. Manusia harus mampu melihat segala tindakan dan kejadian dalam sudut pandang hukum sebab akibat. Namun kenyatannya sekarang terbalik. Manusia kebanyakan menghindari akibatnya dan tetap melakukan sebabnya.

Akhirnya kebanyakan orang tidak selalu siap untuk menerima karma dari tindakannya sendiri. lalu saat menerima karma manusia langsung berpikir kalau ini adalah hukuman SANG PENCIPTA. Padahal kalau dipikir-pikir bagaimana bisa SANG MAHA menghukum – kemanakah KASIH SAYANGNYA?

Akal kita mengingkari kalau kasih sayang SANG MAHA bisa hilang dan menjadi kemurkaan. Sayangnya kita besar dengan doktrin itu. Kita terdoktrin untuk menakuti hukuman SANG MAHA. Padahal hukuman itu bukanlah hukuman langsung, melainkan sebuah pelajaran hidup agar manusia lebih waskita.


Sekarang bagaimana caranya menghapus karma?

Kalau kita terlanjur melakukan sebab yang mengakibatkan karma yang buruk maka satu-satunya jalan adalah membersihkan karma. Membersihkan karma artinya berhenti melakukan sebab dan memperbaiki sebab yang sudah terlanjur dibuat untuk memperbaiki akibat. Sehingga sistem bergulir terbalik.

Sahabatku…

SANG MAHA membuatkan kita akal untuk menentukan tindakan apa yang akan kita perbuat. Inilah gunanya akal itu hadir, dimana dengan akal kita belajar membuat keputusan dan menentukan. Menentukan adalah memilih. Lebih tepatnya memilih pilihan-pilihan yang sudah diperhatikan dan diberpikirkan secara mendalam terlebih dahulu. Menentukan berbeda dengan menetapkan. Menetapkan adalah tugasnyaNYA. Sementara menentukan itu masih tugasnya manusia.

Kita diberi akal pikiran untuk mampu menentukan mana yang baik dan mana yang buruk.  Kita diberi akal pikiran untuk mampu mengolah dan memikirkan hasil akhir dari sebuah tindakan. Kita diberi akal pikiran untuk mampu memilih pilihan yang baik dan meninggalkan pilihan yang buruk.

Setiap kita menginginkan karma kebaikan dan bukan karma keburukan, karena kita memang terlahir dengan fitrah kebaikan. Fitrahnya SANG PENCIPTA. Biarkan akal dan jiwa kita benar-benar memahami hukum sebab akibat dari segala tindakan yang akan kita aksikan. Gunakanlah akal kita bukan ego kita untuk memilah segala pilihan yang akan diberaksikan.

Apabila kita terlanjut menoreh karma yang buruk dalam hidup ini percayalah pada kasih sayangNYA yang tidak terbatas. Percayalah kalau ini hanyalah pelajaran kehidupan. Kita belajar dari setiap karma, baik itu karma baik ataupun karma buruk. Karma bukanlah hukuman, karma hanyalah pelajaran yang belum kita pelajari.

Sahabatku… Ada banyak jalan untuk memahami pelajaran. Jalan itu tidak perlu dinilai baik atau buruk. Namun hanya perlu dilalui. Kita lalui untuk menjadi lebih baik dalam hidup ini.

Akhir kata, kita memang akan selalu menerima pelajaran. Karena itu jangan terlalu percaya diri atau mencibir mereka yang sedang menerima pelajaran. Kita tidak pernah lebih baik dari mereka yang sedang menerima pelajaran dan mereka tidak pernah lebih buruk.

Salam semesta

Copyright © www.pesansemesta.com

  •  
  •  
  • 0
  • November 10, 2019
admin16 admin16 Author

HARUSKAH BERTAHAN ?



Bentangan padang sahara didepan itu terlihat sangat tidak bertepi. Bahkan siraman udaranya pun sudah sangat menyilaukan. Berdiri disini saja sudah sangat melelahkan. Entah berapa langkah kedepan lagi akan mampu bertahan. Perbekalan sudah tipis. Air dikendi hanya tinggal dua teguk dan roti tinggal sekunyahan saja. Kalau ini habis maka yang tersisa hanya kuda kehausan dan tuannya yang sengsara.

Sahabatku… Apabila diatas adalah gambaran hidup kita, maka mampukan kita bertahan? Seberapa kuat kita akan bertahan? Dan apa yang membuat kita mampu bertahan?

BERTAHAN adalah satu kata yang terdengar penuh dengan perjuangan, tetesan darah, air mata dan ribuan peluh keringat.

Mungkin saat ini kita sedang bertahan dengan atasan yang kejam, pasangan yang menyakiti, usaha yang bangkrut, penyakit yang menyiksa, keuangan yang sangat miskin atau hanya sedang bertahan dengan kesadaran yang terus meningkat.

Apapun itu kami mengucapkan selamat. Kita membuktikan diri bahwa kekuatan itu memang ada. Bukan karena kita kuat. Namun karena kita diberi kekuatan untuk mampu bertahan. Kekuatan kita adalah anugerahNYA dan bukan perasaan kita.

Berapa banyak mereka yang merasa kuat dengan apa yang mereka miliki. Lalu saat apa yang mereka miliki itu hilang, maka sekoyong-koyong kekuatan mereka pun hilang. 

Namun tidak dengan kita saat ini. Saat ini kita bertahan karena kita percaya dengan apa itu yang disebut kabar baik. Kita percaya dengan anugerahNYA. Karena itu kita masih berharap kepadaNYA.

Harapan adalah kado kekuatan yang berbungkus rapi. Kita tidak tahu kapan waktu yang tepat untuk membuka bungkus kadonya. Namun kita percaya, kita tidak akan kecewa. Karena kita percaya. Kita mempercayaiNYA, karena itulah kita menjadi kuat dengan harapan itu, kado yang berbungkus rapih itu.

Maka apabila kami bertanya … Mampukah kita bertahan? Kita menjawab : IYA, kita mampu bertahan.

Maka apabila kami bertanya … Seberapa kuat kita bertahan? Kita menjawab : Sekuat kita mampu bertahan.

Maka apabila kami bertanya… Apa yang membuat kita mampu bertahan? Kita menjawab :  Kepercayaan kita kepadaNYA.

Kepercayaan kita kepadaNYA adalah nafas-nafas harapan terdalam kita. Diri ini percaya kepadaNYA bukan kepada dirinya sendiri. diri ini bertahan dan bergerak dalam harapan perubahan dengan aksi-aksi gerakan yang bukan bergerak karena dirinya sendiri, melainkan karena diriNYA.

Untuk bertahan kita hanya perlu menaruh harapan pada tempat seharusnya harapan itu diletakkan. Kalau diri ini hanyalah diriNYA maka tempat harapan itu memang sudah seharusnya diletakkan kepadaNYA juga. Hanya karenaNYA kita berharap dan hanya kepadaNYA kita meletakkan harapan.

Inilah satu-satunya alasan kenapa kita bertahan dan kenapa kita harus bertahan. Kekuatan bertahan ini adalah kekuatanNYA. Alasan yang kalau disingkat hanya karena segala diri ini adalah diriNYA. Simpel dan nyata!


Salam Semesta

Copyright © www.pesansemesta.com

  •  
  •  
  • 0
  • November 09, 2019
admin16 admin16 Author

OFFICIAL CHANNEL



FREE E-BOOK

3# FREE DOWNLOAD E-BOOK - MENJADI AIR

DATABASE

COPYRIGHT

Seluruh artikel didalam website ini ditulis orisinil oleh tim penulis Pesan Semesta. Artikel yang kami share melalui website ini bukan hasil jiplakan, kutipan atau terjemahan.

Bagi pembaca yang ingin menghubungi penulis silahkan mengrim pesan melalui email : pesansemesta@yahoo.com


SALAM SEMESTA