Pesan Semesta.
melampaui batas menjadi satu

Ber-Zikir Dengan Akal dan Hati








Sahabatku… Apakah zikir membutuhkan akal dan hati? Tentu. Silahkan kita mengumpulkan 1000 kali zikir dengan mulut tapi itu tetap tidak akan sebanding dengan 1 kali zikir dengan akal dan hati.

Ambil contoh; saat kita berkata DIA MAHA BESAR 1000 kali dengan mulut, dan saat kita mulai berpikir DIA MAHA BESAR 1 kali dengan akal. Maka akal akan membawa kita kepada memberpikirkan ke MAHA BESARAN-NYA, hati kita akan membawa kepada merasakan ke MAHA BESARAN-NYA. Sementara zikir mulut kita hanya akan menjadi sesuatu yang kita dengar, tapi belum tentu kita berpikir-kan apalagi kita rasakan.

Itulah alasan kenapa kekhusyuan dalam berzikir itu susah muncul. Karena memang lebih mudah mengejar target angka, dibanding target memahami dan merasakan apa yang dizikirkan. Memberpikirkan ke MAHA BESARAN-NYA, merasakan ke MAHA BESARAN-NYA berbeda dengan menyebut ke MAHA BESARAN-NYA.

Kita bisa saja menyebut-nyebut dengan mulut tanpa membawa serta hati dan akal. Tapi bukankah zikir itu adalah mengingat? Tentunya kalau mengingat tidak cukup dengan mulut saja, tapi akal dan hati juga harus ikut mengingat. Itulah kenapa kita selalu diajarkan agar zikir itu jangan pernah diputus. Artinya, jangan sampai akal dan hati kita berhenti dari mengingatNYA. Sampai disini kita akhirnya mengerti, memang kita harus lebih banyak berzikir dengan akal dan hati. Dibanding berzikir dengan mulut. Karena zikir akal dan hati adalah kemampuan melihat, mendengar, merasakan lalu memberpikirkan semesta dan diri sebagai zikir itu sendiri.


Salam Semesta

Copyright © www.PesanSemesta.com


  •  
  •  
  • 0
  • Mei 31, 2019
admin16 admin16 Author

Resep Membuat Manusia Narsis










Secara singkat narsis bisa disebut sebagai gangguan psikologis, di mana seseorang menganggap dirinya sangatlah penting dan memiliki kebutuhan untuk dikagumi. Manusia narsis bukan saja sangat percaya diri, namun juga tidak menghargai perasaan atau ide-ide serta cenderung mengabaikan kebutuhan orang lain. Bagi orang narsis hanya ada satu pemeran yang wajib diperhatikan dalam dunia ini, yaitu dirinya seorang.

Namun beda diluar, beda didalam. Sebenarnya apa yang terjadi dibalik manusia narsis adalah keterbalikan dari apa yang mereka tunjukkan diluar. Di dalam, manusia narsis berusaha berjuang dengan super egonya. Manusia narsis memiliki cedera psikologis yang sulit diakui, tapi butuh pelampiasan. Karena mereka memang butuh pelampiasan, maka sikap narsis lah pelampiasan mereka. Narsis itu seperti rasa perih. Memang ada luka yang membuat rasa perih itu muncul.

Sikap narsis seseorang adalah hasil pelampiasan sesuatu yang tidak beres dari diri mereka sendiri. Karena sebenarnya setiap manusia terlahir narsis. Anak-anak adalah manusia yang narsis. Mereka  hidup di alam narsis karena mereka belum bisa membedakan antara ego, kepentingan atau kebutuhan. Sehingga yang mereka tahu, apapun perasaan mereka itu adalah perasaan mereka.

Pada saat perkembangan itulah orang tua harus membimbing anak mereka agar mampu membedakan antara diri mereka dan diri yang diluar mereka. Sehingga mereka belajar empati dan kepedulian terhadap dunia diluar diri mereka. Sehingga tidak hanya fokus kepada diri mereka seorang.

Anak-anak menganut konsep bawaan “Me, My self and I” yang sangat kental. Karena itu anak-anak akan terus menjadi semakin narsis apabila tidak menerima arahan dari orang tua mereka. Jadi pada masa kecil, setiap manusia wajib belajar untuk tidak tumbuh menjadi manusia dewasa narsis.

Sayangnya proses pembelajaran diri ini sering di gagalkan oleh para orang tua. Kebanyakan orang tua mengabaikan anak mereka dan membiarkan anaknya untuk mengajar diri mereka sendiri, tanpa memberi arahan. Akhirnya anak hanya mengandalkan dirinya sendiri dan ini menjadi situasi patologis di mana, meskipun mereka bertambah tua dan mendapatkan kecerdasan dan pengalaman orang dewasa, emosi dan ego tidak pernah matang. Anak-anak yang narsis adalah sifat alamiah anak-anak. Sementara manusia dewasa yang narsis adalah ketidak beresan, karena orang tuanya tidak melaksanakan perannya untuk mendidik dan memberi arahan sewaktu mereka kecil.

Sahabatku… Secara fitrah anak akan terus menjangkau orang tua untuk bimbingan, cinta, validasi atau persetujuan. Intinya anak memiliki kebutuhan-kebutuhan psikologis yang harus dipenuhi. Kebanyakan anak menjadi sangat labil apabila kebutuhan psikologis mereka tidak terpenuhi atau terpenuhi tapi dengan cara yang tidak tepat. 

Saat kebutuhan psikologis anak tidak terpenuhi atau terpenuhi dengan cara yang tidak tepat, maka anak mulai percaya ada sesuatu yang salah dengan diri mereka dan inilah awal dari bencana. 

Kami sebut bencana, karena anak mulai membuat belief (keyakinan yang tertanam di alam bawah sadar) bahwa mereka telah diabaikan dan ditolak oleh orang tua mereka sendiri. Lalu karena itu pula lah akhirnya mereka menanam kepercayaan, bahwa diri mereka tidak berharga, dan tidak sempurna untuk dicintai. Kemudian muncullah rentetan kata-kata superego yang menusuk mereka dari dalam, terkubur tapi terus tumbuh sampai mereka dewasa. 

Untuk mengerti hal ini mari kita mengambil contoh :  Orang tua Putri tidak pernah di rumah. Mereka bekerja sepanjang waktu. Putri sering merajuk meminta perhatian orang tuanya sepulang kantor. Tetapi orang tua Putri terlalu lelah untuk memenuhi perhatian Putri. 

Ketika orang tua Putri tidak bekerja, mereka tidur atau mencoba untuk bersantai karena mereka sangat lelah dan tidak ingin diganggu. Ketika Putri mulai mengeluh dan merajuk lagi, orang tua Putri mencoba memberitahu bahwa pekerjaan itu sangat penting untuk kelangsungan hidup mereka. Putri yang masih anak-anak belum mengerti hal ini, yang Putri tahu bahwa orang tuanya menyangkal perasaannya dan mengatakan kepadanya bahwa dia kurang penting dari pada pekerjaan orang tuanya.

Untuk menembus kesalahan alih-alih benar-benar menghabiskan waktu bersama anaknya, orang tua Putri mencoba menebusnya dengan selalu memberikan Putri apa pun yang dia inginkan setiap kali mereka bersamanya, terlepas dari bagaimana Putri berperilaku. Itu mereka lakukan, karena mereka terlalu lelah untuk berurusan dengan emosi anak mereka, jadi bagaimanapun Putri bersikap, Putri pasti akan selalu mendapatkan apa yang dia mau.

Akhirnya Putri mulai menyamakan diberi sesuatu dengan cinta. Padahal sesuatu yang diberikan itu bukanlah kebutuhan psikologis Putri yang sebenarnya. Cedera psikologis Putri akan tetap sama dan tidak terobati. Justru mungkin akan terus bertambah, karena Putri tidak pernah dididik atau dibantu untuk menjadi dewasa dan belajar untuk memahami dirinya sendiri. Akhir kata orang tua Putri sukses menciptakan seorang narsis berkat pengabaian mereka.

Sahabatku… Jadi resep untuk membuat manusia narsis hanya satu, yaitu pengabaian. Kita mengabaikan kebutuhan bimbingan anak dan mengabaikan kebutuhan psikologis anak. Dari sini dapat kita simpulkan, bahwa cara terbaik untuk tidak menciptakan manusia narsis adalah dengan menjadi ibu yang baik dan ayah yang baik. Habiskan waktu bersama anak-anak Anda. Dengarkan mereka. Bimbing mereka. Dan jangan mencoba membujuk mereka keluar dari perasaan mereka dengan memberikan benda. Cukup penuhi kebutuhan lahir batin mereka.

Terakhir, hargai sifat narsis bawaan mereka sambil terus memberi pengertian, bahwa didalam hidup ini. Manusia adalah satu yang bergabung menjadi kesatuan, karena manusia adalah kesatuan, jadi manusia memang saling menghargai dan merasakan. “Kalau ade butuh istirahat mama sama ayah juga butuh istirahat. Kalau dede sakit mama sama ayah juga sakit. Kalau ade kangen mama sama ayah juga kangen”.

Sahabatku… Satu alasan kenapa kita terlahir narsis adalah agar kita belajar untuk tidak narsis. Begitulah perjalanan hidup. Kehidupan adalah guru bagi siapapun yang mau belajar. Bagian terindah dari parenting adalah bagian dimana kita memang harus belajar menjadi orang tua. Hasil dari pelajaran kita tidak lain adalah kehidupan itu sendiri. Jadi kalau sekarang ke-narsisan menjadi hal yang lumrah, maka itu juga adalah hasil pelajaran para orang tua juga. Tinggal kita diberi pilihan, apakah kita mau membiarkan anak-anak kita mengisi tempat yang lumrah itu atau tidak. Tapi tentunya kita semua akan memilih tidak. Karena Anda adalah orang tua bijaksana yang memang mau terus belajar menjadi orang tua.


Salam Semesta

Copyright © www.PesanSemesta.com




  •  
  • 0
  • Mei 30, 2019
admin16 admin16 Author

MENG-INGKARI AKAL


Sahabatku… Memang kita butuh mengakui diri bahwa kita jarang menggunakan akal sebelum merespon apapun yang mengusik. Dengan menarik diri untuk kembali menggunakan akal. Kita akan mampu melihat sesuatu yang belum  terlihat. Karena disitulah akal kita akan bermain, dan akhirnya kita akan mulai belajar untuk tidak meng-ingkari akal lagi.

Karena memang tidak ada hal yang lebih indah dari pada ber-akal. Satu-satunya senjata yang kita miliki adalah kesadaran, kesadaran yang berakal tentunya. Dengan akal kita mampu berpikir. Satu pekerjaan melelahkan yang sering kita skip. 

Saat belajar kita men-skip akal kita. Saat beragama kita men-skip akal kita. Saat beramal kita men-skip akal kita. Saat ber-ibadah kita men-skip akal kita. Saat kita beriman pun kita men-skip akal kita. Berapa kali dalam hidup ini kita men-skip akal kita sendiri dan hanya ikut-ikutan tanpa pernah memikirkan kembali apa yang kita ikuti?

Kita melihat segerombolan orang mengejar domba dan kita ikut-ikutan mengejar domba itu tanpa berpikir ulang, kenapa kita ikut-ikutan mengejar domba itu. Akhirnya kita tersadar, lalu kita menengok ke kanan dan melihat segerombolan ikan berenang, lalu kita ikut berenang bersama ikan-ikan itu. Ikan-ikan itu berhenti berenang dan bertanya “Kenapa Anda berenang bersama kami?” Mendengar pertanyaan itu kita baru tersadar, kenapa?

Kenapa kita hampir mengikuti seluruh yang dilakukan oleh semua orang, tanpa pernah bertanya apakah benar memang kita dihidupkan untuk melakukan itu semua? Apakah benar kita memang dihidupkan untuk sekolah, bekerja, menikah, memiliki anak, lalu menikahkan anak, lalu menimang cucu, lalu sakit dan meninggal. Apakah betul ini adalah pola hidup yang memang harus kita jalani?

Pernahkan kita bercermin dan berpikir kenapa harus seperti itu? Apakah pola itu adalah memang pola yang DIA buatkan untuk kita? Tapi bagaimana bisa kita dibuatkan pola? Kalau wajah kita saja berbeda, kesadaran kita berbeda, tingkat penerimaan dan pemahaman kita berbeda, passion kita pun berbeda. Jadi bagaimana mungkin kita dipolakan? 

Kalau kita memang tidak terpolakan olehNYA. Lalu siapa yang mem-polakan semua ini? Siapa yang memaksa kita mengikuti pola tanpa berpikir ulang? Siapa yang memaksa kita mengejar domba bahkan sebelum kita berpkikir kenapa kita harus mengejar domba itu? Siapa yang memaksa kita berenang dan menjadi ikan, padahal kita bukan ikan? Siapa?

Sahabatku… Tanpa berpikir ulang lagi, kita bisa menyerah dan menjawab kalau itu adalah kehendakNYA. Tapi kalau kita mau menggunakan akal, itu tidak mungkin menjadi jawaban.

Jadi memang sudah saatnya kita mundur, menarik diri kepojokan untuk berpikir ulang… Kenapa? Kenapa saya ada disini? Kenapa saya dihidupkan? Kenapa saya masih bernafas? Apakah betul saya hidup hanya untuk menjalani pola ini? Apakah betul saya bernafas hanya untuk bergerombol dalam ketidak tahuan?

Sahabatku… Akhir kata memang sudah saatnya kita menggunakan akal dan tidak lagi meng-ingkari akal kita sendiri. Bukankah akal itu adalah anugerahNYA?


Salam Semesta

Copyright © www.PesanSemesta.com

  •  
  •  
  • 0
  • Mei 30, 2019
admin16 admin16 Author

Satu Alasan Kenapa The Law Of Attraction Gagal



Apakah Anda sudah mencoba the law of attraction, tapi tidak pernah berhasil. Anda merasa selalu gagal, dan penasaran alasan dari kegagalan itu. Sebenarnya cukup satu alasan ini untuk menggagalkan the law of attraction (LOA) yang sedang Anda jalani. Lalu apa satu alasan itu?

Satu alasan itu adalah “KETIDAK SELARASAN”

Sahabatku… Melalui LOA kita akhirnya percaya bahwa pikiran adalah energy. Dengan memfokuskan pikiran untuk memikirkan apa yang ingin dicapai, maka kita akan menerima energy timbal balik yang sama. Jadi saat Anda memikirkan kemakmuran, Anda akan menerima kemakmuran. Saat Anda memikirkan kemelaratan, Anda akan menerima kemelaratan.

Begitulah memang semesta bekerja. Karena semesta seluruhnya adalah energy. Jadi kalau Anda berpikir LOA adalah dongeng, sebenarnya tidak, karena memang begitulah energy bekerja. Kalau Anda berpikir LOA tidak pernah berhasil didalam hidup Anda, sebenarnya tidak juga, karena memang hanya kita saja yang tidak selaras dengan LOA itu sendiri.

Hidup ini adalah tentang kemampuan menyelaraskan. SANG PEMBUAT telah membuat segala sesuatunya dengan hukum keselarasan. Coba tengok apakah pipi Anda selaras dengan tengkorak muka Anda, jawabannya iya. Kita tidak bisa melihat ada secelah tengkorak muka yeng menonjol keluar dari pipi. Bahkan dari langit pun kita bisa belajar keselarasan; Ada siang ada malam, tapi diantara itu terdapat transisi yang selaras yaitu pagi dan sore.

Begitu juga saat mempraktekkan LOA, maka kita harus selaras dengan hukum LOA itu sendiri. Karena LOA itu tidak pernah salah, dia tetap bekerja meskipun seumur hidup kita sama sekali tidak mengetahui apa itu LOA. Kalau hasil LOA salah, berarti kita memang harus menunjuk kedalam, yaitu diri kita yang menjalani LOA itu sendiri.

Namun sekarang kita sudah mengetahui, bahwa kegagalan LOA kita hanya disebabkan karena ketidak selarasan. Lalu apa saja ketidak selarasan yang telah kita lakukan?


# KETIDAK SELARASAN PERTAMA

Sahabatku… LOA itu tentang teritunggal, yaitu pikiran, perasaan dan keinginan. Tugas kita adalah menyelaraskan ketiga hal ini. Menyelaraskan pikiran, perasaan dan keinginan artinya membuat ketiga hal ini bekerja sama bersama-sama dalam arah yang sama bukan arah yang berlawanan.

Saat ketiga hal ini bekerja bersama-sama dalam arah yang berlawanan, maka muncullah ketidak selarasan pertama. Ketidak selarasan ini kami sebut diurutan pertama bukan karena sebab, ini berada diurutan pertama, karena ini sering sekali dilakukan. Kita seringkali, disadari atau tidak disadari melakukan ketidak selarasan ini.

Contoh kecilnya mungkin baru terjadi kemarin. Anda bangun sepagi mungkin untuk menyiapkan interview super penting. Anda menginginkan interview ini berjalan semulus mungkin. Tapi alih-alih memikirkan interview yang mulus. Anda mulai memikirkan jalanan yang macet, data yang tertinggal, interview yang gagal. Lalu akhirnya Anda mulai merasakan kekecewaan, kekhawatiran dan kesedihan dari interview yang gagal. Padahal interview itu belum dimulai, dan Anda masih menginginkan interview yang berjalan mulus.

Jadi sambil terus menginginkan sesuatu, Anda juga terus memikirkan dan merasakan sesuatu yang bertolak belakang dengan keinginan Anda sendiri. Inilah ketidak selarasan pertama yang Anda buat. Bukankah itu seperti mengharapkan air kolam yang tenang, tapi tangan Anda secara sengaja terus mengaduk-aduk air itu. Pertanyaanya : Apakah air kolam itu akan tenang kalau diaduk-aduk terus?

Sahabatku… Budi menginginkan rumah, lalu budi memikirkan rumah yang dia inginkan. Budi mengetahui hukum LOA, kalau dia memikirkan rumah, maka dia akan mendapatkan rumah. Selama setahun Budi menunggu hasil LOA nya tapi tidak kunjung berhasil. Akhirnya Budi berintrospeksi diri tentang ketidak selarasan yang dia lakukan. Oh ternyata jawabannya adalah; benar memang Budi selalu memikirkan rumah, tapi selama memikirkan rumah. Budi juga memikirkan bagaimana caranya membeli rumah dengan gajinya yang pas-pasan yang bahkan kalau pun dicicil itu tidak akan cukup. Perasaan Budi akhirnya ikut menga-amini kemustahilan Budi.

Betul memang Budi menginginkan rumah, tapi pikiran dan perasaan Budi sama sekali tidak selaras dengan keinginan Budi. Akhirnya meski Budi selalu memikirkan keinginannya, Budi tidak pernah sampai ke state mendapatkan keinginannya. Karena pikiran dan perasaan Budi selalu menghalangi dirinya sendiri.


# KETIDAK SELARASAN KEDUA

Sahabatku… LOA sebenarnya adalah mempercayai kekuatan dan bekerja sama dengan kekuatan itu sendiri. Jadi Anda memang harus mempercayai kekuatan itu terlebih dahulu sebelum bekerja sama dengan kekuatan itu sendiri.

Sayangnya percaya itu berbeda dengan mengetahui. Anda boleh mengetahui bahwa hukum LOA bisa memberikan apapun kebutuhan Anda. Tapi belum tentu Anda mempercayainya bukan?

Ketidak selarasan kedua adalah; Tidak adanya kepercayaan. Contoh : Joko menginginkan mobil, lalu dia mencoba hukum LOA. Namun selama mencoba LOA Joko tetap saja tidak mempercayai bahwa LOA akan benar-benar berhasil. Dia tidak percaya kepada hukum energy, dia tidak percaya kalau hidup ini tentang timbal balik, dia juga tidak percaya kalau dia akan memenangkan mobil karena LOA.

SANG PEMBUAT sudah membuat sebuah system yang sangat nyaman, yang memang membutuhkan kenyamanan penggunanya. Keselarasan kedua yang Anda buat adalah menjadi nyaman dengan diri Anda sendiri. LOA adalah diri Anda sendiri, karena memang kita adalah energy dan energy bekerja sebagaimana energy bekerja. Apakah ketidak-percayaan kita tentang diri kita sendiri adalah sesuatu yang nyaman? Kita bisa menjawabnya dengan kata tidak. Sebuah keniscayaan bahwa rasa percaya menghasilkan kenyamanan. Kita nyaman dengan semesta yang bekerja dengan diri kita. Kita nyaman dengan system yang dibuatkan olehNYA sendiri.

Jadi kalau Anda ingin dengan sadar menggunakan LOA, Anda memang harus percaya dengan LOA itu sendiri. Bukan hanya percaya bahwa hukum ketertarikan itu berfungsi, tapi percaya kepada siapa yang membuat system itu sendiri. Karena LOA adalah bagian dari system semesta (the law of universe) bukan system buatan manusia.


# KETIDAK SELARASAN KETIGA 

Baiklah anggap sampai disini keselarasan pertama sudah Anda lakukan, begitu juga dengan keselarasan kedua sudah. Lalu apakah sudah sempurna keselarasan itu? Jawabannya adalah hampir sempurna. Masih ada ketidak selarasan ketiga yang harus diselarasan, ini adalah hal terakhir yang masih harus kita miliki saat dengan sadar menjalani hukum LOA.

Sahabatku… DIA MAHA ADIL, MAHA MENGETAHUI, MAHA MENCUKUPI. Segala kemahaan adalah milik SANG PEMBUAT. Karena keadilanNYA DIA mampu memenuhi keinginan Anda. Karena kemengetahuanNYA DIA mengetahui keinginan Anda. Karena kemaha mencukupiNYA DIA mencukupi kebutuhan Anda. Ini selalu dan selalu, baik Anda sadar menjalani hukum LOA ataupun Anda tidak sadar menjalani hukum LOA. Karena sekali lagi hukum LOA tetap berjalan, baik kita sadar menjalaninya ataupun tidak sadar. Hanya saja kita akan selalu mendapatkan hasil yang maksimal dari sebuah kesadaran.

Kembali ke topik, lalu apa itu keselarasan yang ketiga. Keselarasan ketiga adalah tentang menyelaraskan keinginan itu sendiri.

Sahabatku… Keinginan manusia itu ibarat keran bocor apabila tidak diselaraskan. Betul memang kita menginginkan mobil dan bisa mendapat mobil dengan LOA. Betul memang kita menginginkan sejuta hektar tanah dan bisa juga mendapatkannya dengan LOA. SANG MAHA PEMBERI tidak akan pernah kekurangan apapun untuk memenuhi keinginan manusia.

Hanya sahabatku… Kadang keinginan kita tidak selaras dengan kebutuhan kita sendiri. Saat keinginan tidak selaras dengan kebutuhan, maka muncullah ketidak selarasan ketiga. Hanya saja memang kita sangat amat buta dengan ketidak selarasan yang ketiga ini. Karena kadang keinginan manusia membutakan dirinya sendiri untuk melihat dan berpikir ulang dengan akal, apakah keinginan ini adalah sesuatu yang dibutuhkan atau tidak.

DIA sudah pasti akan memenuhi kebutuhan makhlukNYA. Tapi untuk keinginan perlu dipikir ulang. Karena DIA tahu dibalik keinginan kita apakah hasilnya akan baik atau buruk. DIA MAHA MENGETAHUI sahabatku… Bahkan untuk keinginan kita sendiri. Boleh jadi kita menginginkan sesuatu yang baik, dan ternyata itu buruk. Bisa jadi juga kita tidak menginginkan sesuatu padahal itu baik bagi kita.

Jadi apabila Anda merasa gagal dengan LOA Anda, coba perhatikan ketidak selarasan yang ketiga ini. Coba pikirkan ulang apakah keinginan Anda memang sudah selaras dengan kebutuhan Anda. Contohkan saja seperti ini; Anda memiliki anak yang sangat Anda sayangi dan cintai. Anak Anda merengek meminta permen, apakah Anda akan membiarkan anak Anda merengek? Anda akan memberikannya permen. Berapa banyak permen yang Anda berikan? Apakah Anda akan memberikannya sebox besar permen? Tentunya tidak, Anda menyanyanginya. Anda tahu kalau sebox besar permen akan merusak dirinya, dan Anda tidak mau dia rusak, karena Anda menyanyanginya, maka Anda melindunginya.

Begitu juga dengan SANG MAHA sahabatku… Bukan berarti LOA Anda gagal DIA tidak menyanyangi Anda. Kita memang hanya belum cukup bijaksana untuk mengerti alasannya saja. Kita belum cukup bijaksana untuk membedakan keinginan dan kebutuhan.

Karenanya sahabatku… Cobalah sejenak untuk menyelaraskan antara keinginan dengan kebutuhan melalui akal dan kejernihan penilaian kita. Lalu setelah itu serahkanlah kepadaNYA. DIA SANG MAHA MEMENUHI akan memenuhi segala kebutuhan Anda sahabatku… Kalau ternyata ketidak selarasan terjadi dalam praktek LOA Anda maka dengan kasih sayangNYA DIA akan meluruskannya untuk Anda.

Sahabatku… Menyelaraskan diri dengan hukum the law of attraction seperti memiliki lampu aladin yang mampu mengabulkan permintaan. Tapi sama juga seperti lampu aladin yang harus digosok. Hukum LOA tidak bergerak begitu saja. Energy yang menarik energy tidak serta merta bergerak begitu saja. Menggerakan hukum LOA berarti menggerakan bagian diri kita yang percaya bahwa diri kita memang menyatu dengan pencipta dan penggerak energy itu sendiri. Itulah alasan kenapa hukum LOA akan bekerja sangat powerfull bagi mereka yang mampu menyelaraskan pikiran, perasaan dan keingiannya. Dan bagi mereka yang memiliki kepercayaan. Dan bagi mereka yang mampu membedakan dengan akal antara kebutuhan dengan keingiannnya sendiri.

Akhir kata sahabatku… Apakah kita butuh berdoa kalau kita sudah menjadi DOA itu sendiri? Pikirkan kembali… Kalau Anda sudah meresapi dan bergerak sesuai doa Anda sendiri, maka Anda memang tidak perlu lagi duduk sambil merengek dan mendikteNYA. Karena memang Anda percaya DIA MAHA ADIL, MAHA MENGETAHUI, MAHA MENCUKUPI. DIA bersama Anda, dan Anda sudah bersama doa Anda. Lalu bagian mana yang tidak selaras dengan ini? Kalau begitu, jagalah keselarasan Anda sebagaimana yang telah DIA ajarkan. Hukum the law of attraction akan bekerja seperti lampu ajaib dalam hidup Anda kalau Anda bisa selaras dengan pembuat hukum itu sendiri. 



Salam Semesta

Copyright © www.PesanSemesta.com 

  •  
  •  
  • 0
  • Mei 29, 2019
admin16 admin16 Author

Meditasi Lebih Positif Dengan Mode MOVE IN










Sahabatku… Bagaimana caranya bermeditasi itu tidak terlalu penting. Jawabannya sama seperti bagaimana caranya kita mandi. Karena bagaimana pun caranya kita mandi tujuannya tetap sama yaitu untuk membersihkan tubuh. Begitu juga dengan meditasi, dengan teknik apapun itu dilakukan, tujuannya sama, yaitu agar kita kembali menjadi positif. Mengembalikan energy yang positif, pikiran yang positif dan perasaan yang positif. Sehingga menghasilkan aksi-aksi yang positif.

Teknik boleh bebas, hanya memang ada syarat tertentu yang perlu diperhatikan dari cara kita bermeditasi agar mendapat hasil yang positif. Jadi memang meditasi bukan sekedar duduk, relaks, menutup mata dan mengosongkan pikiran. Tapi ada teknik Neuroscience yang harus kita pelajari dan aktifkan saat bermeditasi.

Jadi begini… Sebagaimana kita ketahui, ada lima kategori utama gelombang otak, masing-masing bekerja sesuai dengan aktivitas yang berbeda. Meditasi memungkinkan kita untuk berpindah dari gelombang otak frekuensi tinggi ke frekuensi lebih rendah, sehingga mengaktifkan berbagai pusat di otak. Hanya perpindahan gelombang ini kadang bukan menjadi hal yang mudah bagi sebagian orang. Padahal ini adalah syarat tertentu tersebut.

Kadang sebagian yang bermeditasi mengeluhkan susahnya mengosongkan pikiran. Akhirnya mereka mencoba menahan laju pikiran mereka, tapi tetap juga tidak berhasil. Si pelaku meditasi tidak berhasil berpindah frekuensi gelombang otak ke tingkat yang lebih rendah. Akhirnya meditasi yang dilakukan selama beberapa menit pun menjadi hambar karena si pelaku kelelahan, yaitu lelah menahan pikirannya sendiri.

Padahal keindahan setelah bermeditasi adalah agar meringankan pikiran. Maksudnya setelah bermeditasi, pikiran-pikiran yang menggangu kita sebelumnya, menjadi tidak menggangu kita lagi. inilah yang dimaksud dengan mengembalikan kepositifan. Disinilah arti meditasi menjadi bermakna. Karena bermakna atau tidak bermaknanya meditasi itu bukan dinilai dari lama atau sebentarnya meditasi dilakukan. Tapi dari seberapa berhasil meditasi itu mengembalikan kepositifan diri kita.

Lama atau cepat itu relative tergantung siapa yang mengukurnya. Tapi positif itu adalah keniscayaan. Hanya masalahnya, tidak selalu meditasi yang kita lakukan baik itu lama ataupun cepat membuahkan kepositifan instan. Lalu pertanyaannya, bagaimana caranya?

Cara sederhana yang digunakan untuk memulai transisi dari gelombang Beta menuju gelombang Alpha atau gelombang Theta State adalah fokus pada nafas. Nafas dan pikiran bekerja bersamaan, sehingga ketika nafas mulai memanjang, gelombang otak mulai melambat.

Singkatnya agar mendapat hasil yang positif dari meditasi, maka awasi napas kita. Cukup perhatikan napas kita mengalir masuk. Mengalir keluar. Hanya perhatikan. Saat pikiran kita mulai mengembara, fokus kembali ke napas kita. Perhatikan bahwa ketika napas kita mulai memanjang dan mengisi tubuh kita, maka pikiran kita mulai tenang.

Cukup sederhana bukan? Jadi agar mendapat hasil yang positif dari meditasi Anda tidak perlu terlalu menekan diri untuk berhenti berpikir, tidak semua orang mampu menghentikan laju pikiran yang melaju diotaknya. Karena memang pada dasarnya pikiran tidak bisa berhenti. Yang harus kita garis bawahi; memang pikiran tidak bisa berhenti, tapi pikiran bisa berubah fokus. Untuk merubah fokus dari pikiran menjadi fokus pada meditasi. Maka fokuskan pikiran Anda bukan untuk berhenti atau menahan pikiran, tapi alihkan fokus pikiran untuk masuk ke mode MOVE IN.

Apa itu mode MOVE IN? Yaitu mode mengkoneksikan kesadaran untuk merasakan hal-hal yang sedang berlangsung didalam jasad. Merasakan proses jantung yang berdetak, aliran nafas yang berproses, aliran darah yang mengalir, organ-organ yang bekerja, sel yang bergetar, terus sampai ke titik merasakan bagaimana SANG PENGHIDUP bervibrasi didalam tiap sudut jasad ini untuk menghidupkan. Latihan awalnya adalah dengan cara memperhatikan nafas seperti diatas. Jadi selama meditasi pikiran kita mencoba menjadi satu dengan diri kita sendiri.

Konsistensi adalah kuncinya. Coba lakukan meditasi MOVE IN ini secara teratur, tidak perlu waktu yang lama, sebentar saja kita duduk dan masuk kedalam diri kita sendiri. Lima menit sehari sudah cukup, dibanding melakukan meditasi tiga puluh menit sehari tapi penuh tekanan untuk menahan laju pikiran, yang memang tidak bisa ditahan, melainkan hanya dibelokkan fokusnya. Sementara fokus mana lagi yang lebih indah dari pada fokus kepada diri, untuk meresapi seluruh yang ada didalam diri sendiri.

Sahabatku… Kita memang jarang menyibukkan diri untuk merasakan yang didalam, dibanding merasakan yang diluar. Padahal semua itu berawal dari dalam menuju luar. Dengan bermeditasi sambil masuk ke mode MOVE IN ini kita mulai merasakan kembali diri kita. Kembali mengenal yang didalam, agar mampu mengatur yang diluar. Bukan hanya itu, dengan meditasi mode MOVE IN kita mengenal kembali dengan SIAPA kita bergerak. Kita semakin mengenal lagi bahwa kasih sayang penghidupanNYA yang tidak terbatas, ada ditiap inci diri kita. Semakin sering kita melakukan ini, maka kita semakin sadar dengan SIAPA kita bergerak.

Akhir kata sahabatku… Kalau kita sudah mampu menyadari dengan SIAPA kita bergerak, apakah mungkin kita tidak bertambah positif?

Salam Semesta
Copyright © www.PesanSemesta.com

  •  
  •  
  •  
  •  
  • 0
  • Mei 26, 2019
admin16 admin16 Author

Penjelasan Scientific “Ketidak Terhubungan” Itu Tidak Ada


Sahabatku… Apa yang membedakan kita dengan segalanya, bukankah jawabannya adalah segalanya. Kita tidak pernah sama dengan apapun. Iya betul memang saat bercermin anggota tubuh kita sama persis jumlahnya dengan yang lain, tapi apakah bentuknya sama? Hidung kita semua satu, tapi apakah bentuk hidung kita semua sama?

Lalu apa yang mampu menyatukan kita? Apa yang mampu menyatukan ketidak terhubungan ini…

“Ketidak terhubungan” adalah rasa ketidak koneksian sebagaimana yang sekarang kita rasakan. Meski sebenarnya didalam kehidupan ini tidak pernah ada sesuatu yang disebut “ketidak terhubungan” karena semuanya terhubung dan menyatu dalam wujud asli yang sebenarnya. Sayangnya cara kita melihat masih terlalu dangkal untuk melihat wujud asli yang sebenarnya. Akhirnya wujud itu tidak terasa dan akhirnya kita menyebut kata “ketidak terhubungan” untuk segala sesuatu yang terhubung dan menyatu.

Sahabatku… Manusia terhubung satu sama lain antar seluruh manusia. Manusia terhubung dengan seluruh isi alam semesta. Manusia terhubung dengan SANG PEMBUAT alam semesta. Dan manusia terhubung dengan SANG PENGHIDUP adalah keniscayaan. Kita tidak sedang membicarakan ilmu filsafat atau ilmu agama. Kita sedang membicarakan ilmu pengetahuan. Sesuatu yang sudah terbuktikan, sesuatu yang sudah terlihat. Jadi yang kita bicarakana adalah jawaban akal berdasarkan fakta, bahwa tidak ada “ketidak terhubungan” didalam kehidupan ini. Semua adalah kesatuan.

Sahabatku… “Kesatuan” apakah kesatuan itu “satu”, jawabannya tidak bukan. Kesatuan itu adalah sifat tunggal. Tunggal bukanlah satu, tapi satu-satu yang berkumpul. Manusia, kehidupan dan sumber kehidupan adalah kesatuan itu sendiri.

Lalu bagaimana ilmu pengetahuan menjawabnya ?

Sahabatku… Kembali lagi kepada cermin. Saat bercermin apa yang kita lihat secara kasat mata biasa hanyalah hasil akhir dari begitu banyak energi yang duduk didalam satu atom. Mari kita merunut mundur diri kita sendiri : Sebagai organisme, didalam tubuh manusia terdapat organ sistem. Organ sistem terdiri dari banyak jaringan. Jaringan tersusun dari ribuan juta sel-sel. Sel-sel itu tersusun dari molekul. Molekul terbentuk dari atom dan atom terbentuk dari energi. Jadi wujud inti manusia adalah energi.

Energi-energi itu dengan cerdasnya terus menerus bervibrasi untuk membentuk sesuatu yang kita lihat sebagai materi. Seluruh diri kita terlihat dicermin, cermin itu sendiri, dan bahkan segala yang berada di ruangan itu sendiri. Jadi sebenarnya manusia adalah energi yang berada didalam energi. Kita tercipta dari materi energi. Semesta dan segala isinya juga tercipta dari materi energi.

Sahabatku… Kita memang tidak memiliki alasan untuk tidak berkata, bahwa manusia memanglah satu kesatuan dengan semesta, atau kita juga bisa mengatakan bahwa manusia adalah semesta itu sendiri. Sekali lagi ini bukan ilmu filsafat atau ilmu agama. Tapi ini ilmu pengetahuan yang terbukti ilmiah, bisa dilihat dan diberpikirkan oleh akal yang mau berpikir.

Semua materi yang diteliti dan dilihat mundur hanya tersusun dari molekul. Molekul terbentuk dari atom. Jika kita mengamati lebih dalam komposisi atom dengan mikroskop yang lebih canggih lagi, kita akan melihat pusaran kecil seperti tornado, dengan sejumlah pusaran energi yang sangat kecil yang saling bervibrasi (bergetar) tanpa henti. Para peneliti menyebuatnya dengan istilah quark.  Jadi energy bervibrasi inilah yang menggerakan atom.

Sampai disini para peneliti tidak bisa menjelaskan apa dan bagaimana energy-energi itu bisa terus bervibrasi untuk menggerakan atom. Atau dengan pertanyaan lain bagaimana energy yang tidak kasat mata itu hidup memenuhi kehidupan itu sendiri? Salahkah kalau disebut energy bervibrasi inilah penghidup semesta raya. Karena kalau energy-energy itu berhenti bervibrasi, maka dalam sekejap apa yang kita sebut materi baik yang terlihat atau tidak terlihat akan lenyap. Lenyap tanpa bekas apapun yang mampu kita lihat lagi. Baik oleh mata telanjang ataupun dibawah mikroskop.

Sahabatku… Bukankah ini membuat kita membayangkan betapa kita sekarang tersudut dengan yang namanya koneksi. Kita merasakan ketidak terhubungan dengan diri kita sendiri, ketidak terhubungan dengan semesta, ketidak terhubungan dengan PEMBUAT dan PENCIPTA PENGHIDUP kehidupan kita sendiri. Ketidak terhubungan yang terasa karena memang tidak adanya koneksi.

Pertanyaan selanjutnya sangat simpel  : Kenapa kita tidak memiliki koneksi padahal koneksi itu ada? Seperti ruangan yang full sinyal wifi tapi perangkat android kita tidak mampu menangkap sinyal wifi yang berlimpah itu. Berarti ada yang salah bukan dengan android kita?  

Apakah kesalahan itu akan dibiarkan terus tanpa perbaikan? Apakah ketidak terhubungan yang terjadi hanya karena tidak memiliki koneksi akan dibiarkan begitu saja? Jawabannya kami serahkan kepada diri Anda sahabatku…

Memang pembahasan kita kali ini masih sangat-sangat minim dan perlu dilanjutkan ke tingkat yang lebih mendalam. Kami akan terus membahasnya, agar pelan tapi pasti ketidak terhubungan itu menjadi tidak ada. Koneksi itu muncul, dan kesatuan itu terasa.


Salam semesta

Copyright © www.PesanSemesta.com

  • 0
  • Mei 25, 2019
admin16 admin16 Author

Merongrong Kebaikan










Sahabatku… Selalu ada kesempatan dalam hidup ini. Kesempatan untuk memilih kebaikan. Sayangnya kita tidak begitu mengerti jelas, tentang kebaikan kecuali itu adalah hal yang menurut kita menguntungkan.

Bagi manusia baik adalah menguntungkan. Tidak menguntungkan adalah tidak baik. Kalau kita mau memutar akal kita untuk menemukan pengertian baik, maka menjadi rancu sendiri definisinya. Bagi yang kalah itu tidak baik, bagi yang menang itu baik. Bagi yang kenyang itu baik, bagi yang lapar itu tidak baik. Jadi benar mungkin selama kita tidak diuntungkan, selama itu juga kita tidak diberi kebaikan.  

Sahabatku… Paragraf diatas adalah saat ego manusia ditanya tentang apa itu baik baginya. Bukan bagiNYA. Saat kita berdoa “Ya Tuhan berikanlah kami yang terbaik menurutMU” Lalu doa kita dijawab dengan sesuatu yang menurut definisi kita tidak baik bagi kita. Apakah disaat itu kita akan kecewa? Sebuah tantangan bukan meminta Tuhan mendefinisikan kebaikan menurutNYA, tetapi sambil terus membawa definisi kebaikan peribadi?

Sahabatku… Apabila kita memang sudah mampu berdoa dengan kalimat “yang terbaik menurutMU” berarti kita sudah bisa menanggalkan satu ego yang senantiasa merongrong, yaitu ego kebaikan. Bahkan kebaikan pun memiliki egonya sendiri.

Ego kebaikan adalah keinginan menerima keuntungan yang menguntungkan dari kebaikan itu sendiri.
Sahabatku… Mungkin mulai sekarang kita bisa berhati-hati dengan yang namanya kata ‘baik’ selain kebaikanNYA. Karena definisi kebaikan Tuhan adalah tanpa ego kebaikan itu sendiri, itu kenapa meski kita selalu percaya bahwa DIA itu MAHA BAIK, tetap saja kita merongrong kebaikan.

Pertanyaannya : Kalau memang DIA MAHA BAIK dan kita percaya kebaikanNYA meliputi alam ini, lalu kenapa… Kenapa kita merasa doa kebaikan kita tidak terkabul? Kenapa kita merasa doa kebaikan kita gugur seperti daun kering yang sengaja dilepas dari dahannya.
Renungkanlah sahabatku… Renungkanlah

Salam Semesta

Copyright © www.PesanSemesta.com
IG : @pesansemesta.ig   -  FB: pesansemesta.7
  •  
  • 0
  • Mei 22, 2019
admin16 admin16 Author

Apakah Tuhan Butuh Pembelaan ?










Sahabatku… Tulisan ini bukan bermaksud menyudutkan, tapi kami hendak membahas satu kalimat empat kata, yang berkata “Kita harus membela Tuhan”. Disini kita hendak mencari titik terang, melalui akal yang DIA anugerahkan sebagai pembeda dari makhluk lainnya. Sehingga kita bisa mengambil jawaban yang BIJAKSANA dan PANTAS sebagai makhluk yang mengaku ber-akal dan ber-Tuhan.

Apabila ada yang bertanya : Apakah Tuhan Butuh Pembelaan?

Maka… Melalui akal apabila kita mau mengintrospeksi diri kita. Melalui akal apabila kita mau memikirkan dan melihat kembali posisi kita. Melalui akal apabila kita mau bercermin kepada diri kita. Maka sungguh kita tidak akan mampu berkata bahwa Tuhan butuh pembelaan kita.

Karena melalui akal kita mengakui, tanpa Tuhan kita bukanlah apa-apa, tanpa SANG PENGHIDUP kita tidaklah mampu menghidupi diri sendiri, tanpa SANG PEMBUAT kita juga tidaklah mampu mengatur urusan-urusan hidup kita sendiri. Jadi melalui akal kita mengakui, kalau Tuhan adalah sumber segalanya bagi kita dan diri mereka. Akhirnya melalui akal pula kita bisa mengukur dan membandingkan, seberapa besar diriNYA dan diri kita serta diri mereka yang dihidupkan.

Kesimpulannya : Melalui akal diri kita berkata “SANG PENCIPTA PENGHIDUP ALAM SEMESTA RAYA TIDAK BUTUH PEMBELAAN APAPUN. KARENA SANG PENCIPTA BERDIRI DIATAS SELURUH KEHIDUPAN YANG DIA CIPTAKAN”

Apabila kesimpulan diatas masih kurang, maka terakhir izinkanlah akal kita untuk merenungkan kembali tentang sejarah yang sudah berlalu. Kalau-lah akal kita mengakui bahwa yang menghidupi seluruh tentara perang salib adalah satu PENGHIDUP yang sama dengan yang menghidupi seluruh tentara muslimin. Lalu siapakah sebenarnya yang kita bela sahabatku…?

Bukankah lebih bijak apabila kita mengakui saja, bahwa pembelaan yang kita lakukan adalah pembelaan atas nama kelompok dan atas nama kepentingan kelompok. Dari pada kita terus membawa-bawa namaNYA sebagai sebuah pembelaan yang tidak ber-alasan untuk aksi-aksi dan teriakan-teriakan keras kita.

Lagi pula bagaimana akal kita mampu mengingkari, bahwa SANG PENCIPTA sendirilah yang masih menghidupi mereka-mereka yang berbeda itu? Kalau-lah memang perbedaan itu dihidupi olehNYA, yang kita sebut sebagai Tuhan yang satu, dan hanya ada satu Tuhan yang benar. Lalu dengan alasan apa aksi-aksi pembelaan itu kita lakukan?

Apakah mungkin kita menyebutnya atas alasan humanity  (kemanusiaan). Karena apabila pembelaan kita betul-betul atas nama humanity, maka kita akan selalu berpihak untuk memanusiakan manusia. Tanpa kekerasan ataupun amarah kebencian, melainkan hanya kedamaian. Bukan begitu?

Apakah mungkin kita menyebutnya atas nama jihad (berjuang dengan sungguh-sungguh). Karena apabila kita sudah benar-benar berjihad, maka jihad pertama kita adalah jihad untuk diri kita terlebih dahulu. Seseorang yang sudah berjihad dengan dirinya, tidak akan mungkin memasukkan amarah yang dipenuhi kekerasan dan ketidak sadaran diri didalam aksi jihadnya itu sendiri. Karena manusia yang sudah berjihad dengan dirinya, adalah manusia yang sudah mampu menetralkan dirinya sebagaimana yang dicontohkan Semesta.

Lihatlah Semesta, bukankah Semesta masih memberikan oksigen yang sama kepada seluruh makhluk hidup tanpa pandangan penilaian. Bayangkan sejenak kalau Semesta melihat kita dengan pandangan penilaian. Mungkinkah kita masih disini?  Jadi kalau manusia sudah berjihad dengan dirinya, lalu dia berjihad keluar dirinya. Maka aksi jihadnya adalah aksi kenetralan untuk kemakmuran umat manusia. Bukan aksi-aksi menyakiti, membunuh apalagi memusnahkan umat manusia.

Apakah SANG MAHA PENYANYANG akan menyimpan kepentingan untuk menyakiti, membunuh atau memusnahkan manusia? Kalau seluruh diri yang kita bawa adalah ciptaanNYA dan kita hidup atas izin kehidupanNYA. Lalu apakah DIA masih butuh pembelaan kita? Lalu siapa yang kita bela? Perlu kita renungkan dari sini bahwa DIA tidak pernah berkelompok, karena DIA ada di setiap ciptaanNYA. Memang butuh kenetralan untuk merenungkan ini. Dan kenetralan inilah jihad pertama kita sahabatku... Di kelompok mana pun Anda berada.

Akhir kalimat sahabatku… Kita dibuatkan akal, agar kita tidak meng-ingkari akal kita sendiri. Jadi, apakah Tuhan butuh pembelaan? Biarkan akal kita menjawabnya sendiri. 
                       
                                                                                                                             
Salam Semesta

Copyright © www.PesanSemesta.com
IG : @pesansemesta.ig   -  FB: pesansemesta.7
  •  
  •  
  • 0
  • Mei 21, 2019
admin16 admin16 Author

Menjernihkan Keinginan



Sahabatku… Selama ini kita senantiasa berbicara tentang menjernihkan pikiran dan menjernihkan hati, pembicaran yang sangat bagus bukan? Pada kesempatan kali ini kita akan berbicara tentang menjernihkan keinginan.

Lalu apa itu menjernihkan keinginan?

Sebelum menjawabnya izinkan kami bertanya tentang apa-apa saja yang terlintas sebagai sebuah keinginan di pikiran Anda hari ini? Misal saja, siang yang terik tadi Anda ingin minum thai tea dingin, sore hari yang mendung Anda ingin menyeruput kuah bakso hangat, memasuki mall Anda ingin setelan pakaian baru, atau saat tadi kehujanan Anda ingin segera punya mobil.

Seiring hari yang berlalu maka list keinginan pun hanya semakin panjang, panjang dan panjang. Jadi memang hampir 80% pikiran kita dipenuhi keinginan-keinginan. Baik itu yang tampak remeh seperti diatas, atau pun keinginan-keinginan besar lainnya. 

Salahkah pikiran kita dengan keinginannya? Jawabannya TIDAK, keinginan kita adalah kewajaran yang sangat dimaklumi olehNYA. Tapi tidak oleh kita sendiri, kadang diri kita tidak bisa memaklumi keinginannya sendiri, akhirnya kita selalu diburu oleh keinginan dan lupa akan kebutuhan.

Ambil contoh, tubuh kita jelas membutuhkan sehat, tapi kita menginginkan rokok, snack gurih ber-mecin, dan manisnya soda. Diri kita butuh berbagi sebagai aksi memakmurkan, tapi kita menginginkan mobil baru, warisan seribu hektar tanah, tabungan hari tua dan asuransi. Lemari kita yang sudah penuh sesak tidak membutuhkan setelan pakaian baru, tapi kita menginginkan setelan pakaian baru. Kaki kita tidak membutuhkan alasa kaki trendy, tapi kita menginginkan sepatu yang lebih trendy.

Sahabatku… Menjernihkan keinginan artinya kemampuan diri untuk memaklumi keinginannya dan menyaring keinginannya menjadi kebutuhan. Artinya kita menjadi sangat sadar bahwa; keinginan dan kebutuhan adalah dua hal yang berbeda. Apa yang kita inginkan belum tentu apa yang kita butuhkan. Begitu juga sebaliknya, apa yang kita butuhkan belum tentu apa yang kita inginkan.

Dahulu emas sebelum menjadi batangan berharga harus melalui filtrasi yang berlapis. Sampai bubuk emas yang dibutuhkan tersaring, lalu akhirnya dikumpulkan dan diproses menjadi batangan emas yang berharga. Begitu juga seharusnya dengan keinginan kita. Saat diri kita berkeinginan maka tugas pertama kita bukan buru-buru memenuhi segala keinginan itu. Namun terlebih dahulu men-filtrasi keinginan tersebut sehingga kita bisa menyaringnya menjadi kebutuhan. Lalu baru kita memenuhi kebutuhan-kebutuhan itu, bukan keinginan-keinginan itu.

Filtrasi ini dilakukan harus dilakukan dalam kenetralan, tanpa tekanan tapi dengan pemakluman. Karena diri ini sadar keinginan yang tidak kita penuhi itu adalah bukan karena ketidak mampuan kita memenuhinya, melainkan karena itu bukanlah kebutuhan kita. Akhirnya, tidak ada sedikit pun didalam diri kita yang merana saat keinginannya tidak terpenuhi. Karena secara sadar diri sudah mengenal keinginan dan kebutuhannya sendiri,

Tentunya kondisi kebutuhan tiap-tiap kita berbeda. Jadi, tidak ada list baku tentang kebutuhan manusia itu apa saja. Jadi untuk menjernihkan keinginan memang diperlukan kebijaksaan serta kedewasaan akal pikiran kita dalam membuat pilihan. Karena apapun itu pilihannya, hasilnya akan selalu bergulir menuju diri sendiri. DIA tidak pernah menentukan pilihan makhlukNYA. Kita memang diberi kebebasan memilih dalam hidup ini. Jadi pilihan kita untuk menjernihkan keinginan harus murni dari diri sendiri. 

Karena harusnya memang kita paham, bahwa segala kebutuhan harus terpenuhi lebih awal, ketimbang keinginan. Hanya saja kita lebih sering memaksakan diri untuk lebih mengutamakan keinginan ketimbang kebutuhan. Itu semua karena kita masih memandang kebutuhan dan keinginan dengan menggunakan kacamata yang sama, yaitu kacamata ego. Tidak ada yang salah dengan ego, jelas manusia tidak akan mampu hidup tanpa ego. Kebutuhan dan keinginan pun adalah bagian dari ego. Namun meski segala macam ego menuntut pemenuhan, sebagai pengendali ego kita harus mampu member-pikirkan segala ego kita dalam kenetralan.

Sahabatku... SANG MAHA MENGETAHUI tentu mengetahui betul secara detail segala kebutuhan kita. Begitu juga DIA memahami betul secara detail segala keinginan kita. Hadirkan kenetralan didalam diri dan biarkan DIA menuntun kita untuk mem-berpikirkan. Sehingga kita menjadi manusia-manusia yang mampu menjernihkan keinginannya sendiri. 

Jelas kita membutuhkan kejernihan, karena kejernihan disegala aspek kehidupan akan memunculkan keseimbangan. Jadi dengan menjernihkan keinginan, kita akan menemukan titik keseimbangan didalam diri kita. Sehingga kita tidak selalu merasa diburu oleh keinginan diri sendiri. Keinginan tidak lagi memperbudak tuannya, dan tuannya bisa lebih bersyukur atas semua kebutuhan yang telah terpenuhi.

Akhir kata sahabatku... Renungkanlah, apa yang bisa kita syukuri dalam hidup ini, saat dengan sengaja kita membiarkan segala keinginan senantiasa merongrong dan memburu diri sendiri ?


Salam Semesta

Copyright © www.PesanSemesta.com
IG : @pesansemesta.ig   -  FB: pesansemesta.7
  •  
  • 0
  • Mei 21, 2019
admin16 admin16 Author

Ritual Ibadah Tanpa Spiritual Adalah Kejauhan










Setiap agama mengajarkan umatnya untuk beribadah. Yahudi, Nasrani, Islam, Budha, Kristen, Hindu dan agama-agama yang lain juga mengajarkan ibadah sebagai proses pendekatan kepada Tuhan. Hanya terdapat masalah yang dihadapi oleh mereka yang menjalankan ibadah. Masalahnya adalah ibadah-ibadah yang dilakukan, hanya dilakukan untuk sekedar pemenuhan kewajiban belaka. Akhirnya ibadah dilakukan secara terpaksa tanpa apapun yang disebut spiritualitas.

Sahabatku… Spiritual itu ibarat garam dalam sup, dan sup adalah ibadah. Ibadah tanpa rasa spiritual akan menjadi ibadah yang hambar bagi jiwa. Sembahyang tanpa spiritual hanya akan menjadi gerakan belaka. Doa tanpa spiritual hanya akan menjadi mantra belaka.

Tanda kalau kita mendatangkan spiritual didalam ritual ibadah adalah munculnya rasa khusyu, bukan sekedar pura-pura khusyu. Tapi kita benar-benar merasakan kekhusyuan yang luar biasa bersahaja dan khidmat. Bukan hanya khusyu, kita juga merasakan kedekatan denganNYA. Jiwa kita mampu merasakan ketunggalan bersama Sang MAHA. Terakhir tejadinya koneksi kebersamaan, seperti muncul energy timbal balik dalam setiap ritual ibadah yang kita lakukan. Sehingga kita makin dan makin merasakan selalu kebersamaan bersamaNYA.

Khusyu, kedekatan dan rasa kebersamaan adalah tiga hal yang hanya bisa didapat apabila kita mampu melakukan ibadah dengan spiritual. Kalaulah seseorang masih beribadah karena mengharap imbalan, maka imbalan terbaik adalah tiga rasa ini. Tapi jujur saja, apabila kita sudah mampu merasakan tiga hal ini. Maka seketika kita akan melupakan dan tidak memerlukan lagi sesuatu yang disebut imbalan.
Namun apabila kita belum merasakan ketiga hal ini, maka memang kita harus senantiasa melatih diri dan belajar, agar jiwa mampu kembali mendapatkan tempat spiritualnya. Karena sesuai judul diatas, ritual ibadah yang dilakukan tanpa spiritual akan menjadi membahayakan, kenapa?

Karena jiwa tidak mendapatkan manfaat apa-apa dari ritual yang dilakukan. Akhirnya jiwa kita tetap hampa, sikap kita tidak berubah, keburukan masih dilakukan, kedewasaan iman serta sikap diri kita kepadaNYA pun bukannya bertambah bagus tapi malah terkikis. Bagian yang terparah, kita kehilangan kesempatan untuk bisa merasakan apa itu rasa khusyu, kedekatan apalagi rasa kebersamaan. Bukankah ini membahayakan sahabatku? Seperti kita terus menggali kedalam tanah yang berisi magma, bukan yang berisi berlian.

Sahabatku… Seyogyanya ritual ibadah mampu menjauhkan manusia dari keburukan. Tapi Coba tengok negeri yang mengaku mayoritas beragama, apakah ibadah-ibadah yang mereka lakukan mampu mengendalikan amarah kebencian mereka, bahkan mereka pun belum bisa membawa kedamaian. Apakah ini salah agamanya? Akan lebih bijak kalau kita sebut ini kekeliruan ulah manusianya yang masih belum bisa melakukan ritual ibadah dengan spiritual. Mohon maaf sahabatku… Ini hanya gambaran real saja. Bukan maksud kami memojokkan. Tapi hanya ingin mengambil pelajaran.

Spiritual adalah akarnya jiwa yang senantiasa ingin mendekat kepadaNYA. Agar ritual ibadah kita memiliki spiritual, maka satu-satunya alasan (niat) kita melakukan ibadah adalah hanya untuk mendekat kepadaNYA. Bukan karena dosa atau pahala, bukan karena penilaian manusia, bukan karena penggugur kewajiban, bukan karena pencitraan diri, bukan juga karena ketakutan. Tapi murni hanya agar ingin mendekat kepadaNYA

Sahabatku… Spiritual dalam ibadah muncul dari ketulusan niat. Jadi sekarang waktunya kita berintrospeksi diri, melihat kembali ketulusan niat kita, memeriksa kembali alasan ritual ibadah yang kita lakukan, lalu mulai memperbaiki setiap ritual ibadah yang dilakukan, dan selalu ingat selalu untuk melakukan sesuatunya karena ingin mendekat.

Bukankah kalau kita mendekat satu langkah, maka DIA akan mendekat seribu langkah. Kalau begitu apa yang meragukan niat tulus kita sahabatku… Renungkanlah… Sesungguhnya DIA memanglah DEKAT.

Letakkan tangan Anda ke atas jantung. Anda kah yang mendegupkannya atau DIA? Perhatikan bulu di lengan Anda, Anda kah yang menumbuhkannya atau DIA? Letakkan tangan Anda diurat nadi. Andakah yang mendenyutkannya atau DIA? Selalu dan selalu-lah meresapi kedekatan Anda denganNYA. Resapilah kedekatan itu dan akan melihat ternyata DIA jelas lebih dekat dari urat nadi Anda.

Kalau begitu, tanpa ibadah apapun yang dilakukan kita dan DIA memang dekat. Spiritual adalah hal pribadi yang seharusnya setiap spirit (jiwa) memiliki spiritual. Karena spiritualitas adalah hubungan seseorang dalam memaknai Tuhan didalam dirinya.

Hadirkan spiritual kita sahabatku… Dan kita tidak akan mendapatkan rasa ibadah selain dari rasa khusyu, kedekatan dan rasa kebersamaan. Karena memang rasa-rasa inilah yang kita butuhkan. Kita tidak membutuhkan pahala dan dosa dari sebuah ibadah, karena kita tidak sedang mengambil keuntungan dariNYA dan DIA SANG MAHA PENYANYANG tidak membutuhkan ibadah apapun, apalagi menghukum. Ibadah hanyalah sarana agar kita merasa dekat dan selalu bersama, bukan untuk sebuah keuntungan melainkan sebuah kesadaran bahwa kita adalah DIA dan tidak ada ke-aku-an kita didalam hidup ini. Segala hal dalam hidup ini adalah anugerah DIA SANG MAHA PENYANYANG dan bukan karena setitik pun dari badah kita. 

Akhir kata sahabatku... Ritual ibadah tanpa spiritual adalah kejauhan. Namun ritual ibadah dengan spiritual adalah kedekatan. Pilihalah yang terakhir sahabatku... Bukankah segala aktifitas adalah ibadah. Karena memang bagian mana lagi kah dalam hidup ini yang bisa kita lakukan sendirian tanpaNYA? Hiduplah tanpa ada setitik apa pun rasa ke-aku-an didalam diri, termasuk didalam ibadah. Begitulah caranya kita hidup dalam kedekatan dengaNYA. 


Salam Semesta


Copyright © www.PesanSemesta.com

IG : @pesansemesta.ig   -  FB: pesansemesta.7
  •  
  • 0
  • Mei 20, 2019
admin16 admin16 Author

Belajar Kepada SANG PEMBUAT



Sahabatku... Tidak ada manusia yang akan merasa berilmu saat dia diberikan ilmu. Karena ilmu itu bukan miliknya, melainkan milik SANG PEMBUAT ILMU.

Kertas putih ini akan bernoda apabila diteteskan beberapa tinta merah dan hitam. Begitu juga dengan pelajaran dari semesta. Pelajaran itu akan ternodai oleh dua hal, yaitu penilaian dan ego. Manusia selalu mementingkan yang namanya penilaian. Dimulai dari siapa yang menyampaikan pelajaran itu, lalu bagaimana pelajaran itu disampaikan, lalu apa yang disampaikan. Begitu juga dengan ego yang selalu mementingkan dirinya sendiri.  Pertanyaan; apakah pelajaran ini menguntungkan untuk kami pelajari? Hanya akan menjadi noda bagi pelajaran itu sendiri.

Apa yang kami maksud disini adalah bahwa PEMILIK Semesta ini membawa pelajaran terindah, terlengkap dan terupdate. Hanya kekurangan kita terletak dari bagaimana kita mengakses pelajaran itu sendiri. Untuk dapat mengakses database Semesta kita harus mampu dulu mensucikan diri. Dua hal utama yang harus disucikan adalah penilaian dan ego.

Mana yang lebih penting pembicara atau apa yang dibicarakan? Lalu kenapa kita masih melihat pembicaranya. Mana yang lebih penting pesan dari yang ditulis atau siapa yang menulis? Lalu kenapa kita masih melihat penulisnya. Untuk mengakses database Semesta kita harus berhenti melihat dari sisi penilaian manusia dan mulai masuk ke sisi kenetralan.

Begitu juga dengan ego. Betapa sering kita melompati sebuah moment akal untuk berpikir, hanya karena merasa itu tidak terlalu menguntungkan, atau hanya karena itu terlalu rumit untuk dibaca, atau hanya karena itu sama sekali tidak menyenangkan dan sesuai. Padahal di moment itu Semesta ingin menyampaikan pelajarannya.

Sahabatku... Manusia suci adalah mereka yang mampu menetralkan dirinya. Jadi manusia suci bukanlah manusia yang tidak melakukan kesalahan sama sekali, karena kesalahan adalah salah satu gerbang pembelajaran. Kenetralan adalah kepentingan, kalau kita memilih untuk mengambil pelajaran.

Semesta raya ini menyimpan database pelajaran ditiap sudut ruangNYA, dan itu adalah persembahanNYA untuk manusia. Mari mulai belajar kepada SANG PEMBUAT ILMU. Hidup ini adalah kamuflase tempat manusia belajar. Bumi adalah tempat awal bagi kita untuk belajar. Begitu juga nanti dalam dimensi-dimensi yang lainnya. Semua adalah pelajaran-pelajaran. Kita hanya mempelajari sedikit dari ilmu yang diberikan oleh SANG PEMBUAT ILMU. Sedikit saja dan itu sudah sangat membuat seumur hidup kita sibuk. 

Hal pertama untuk memulainya adalah, jangan pernah mereject apapun pesan yang kebetulan masuk kedalam hidup Anda. Karena kebetulan itu tidak pernah ada. Selalu ada makna dibalik apapun,  selalu ada perencanaan yang tersistematis dan memiliki makna. Kebanyakan makna itu adalah pelajaran yang berharga bagi mereka yang berpikir dengan akalnya, serta mampu mengendalikan penilaian dan ego diri. Artinya; pelajaran berharga bagi mereka yang mampu mensucikan dirinya dalam kenetralan.

Tidak ada kesombongan rasa saat menerima ilmuNYA, pengetahuanNYA bukan sesuatu yang dikejar atau diberpikirkan untuk dinilai oleh angka-angka manusia. PengetahuanNYA adalah kebenaran bagi mereka yang mampu menerima kebenaran. Setiap kita mampu menerima kebenaran. SANG PEMBUAT jiwa akan memanggil jiwa-jiwaNYA yang telah mensucikan diri.

Mensucikan diri itu bukan sekedar bersuci dengan basuhan air, tapi menjadikan diri sejernih dan senetral air. Sehingga diri kita mampu menerima sesuap demi sesuap kedalaman ilmuNYA yang tidak bertepi. Siapapun manusia bisa mensucikan diri. Tapi harap diingat! Manusia suci tidak perlu disucikan oleh manusia. Karena kesucian bukan penilaian manusia.  Kita mensucikan diri bukan untuk dinilai suci, tapi untuk menerima ilmuNYA.

Ibarat anak kecil yang disuapi setetes demi setetes air dari dalam kolam. Akankah air didalam kolam itu habis diminumnya, sementara sumbernya terus menerus mengaliri air? Itulah diri kita yang sedang duduk untuk disuapi ilmuNYA. Tidak ada kepintaran, tidak ada pembuktian, tidak ada bagian diri yang bisa diberikan untuk ditunjukkan, tidak ada apa-apa yang bisa di aku-kan selain diriNYA. Hanya diriNYA. Tidak ada yang lain selain ke MAHA an NYA.

Bergegaslah untuk menemuiNYA dalam sucinya kenetralan dan Anda akan mengerti. 


Salam Semesta

Copyright © www.PesanSemesta.com


  •  
  •  
  • 0
  • Mei 20, 2019
admin16 admin16 Author

3 Jurus Ampuh Menemukan Passion











Sahabatku… Memiliki passion berbeda dengan memiliki pekerjaan. Pekerjaan adalah untuk pemenuhan nilai-nilai manusia dan kebutuhan hidup. Sementara passion adalah pemenuhan jati diri, tugas manusia diatas planet bumi yang harus ditemukan, dijalankan untuk menjaga keseimbangan kehidupan. Oleh karena passion adalah panggilan kepada tugas awalnya, maka passion tiap manusia bersifat unik dan apa adanya.

Kebanyakan kita salah mengartikan passion (hasrat) sebagai cita-cita. Sebenarnya bukan, cita-cita adalah impian yang belum berwujud. Sementara passion itu bukan impian, passion itu adalah sesuatu yang nyata yang memang sudah melekat didalam tiap diri manusia. Hanya saja bagi sebagian kita, passion itu belum ditemukan. Tapi meski belum ditemukan, passion adalah nyata keberadaannya (bukan impian).

Sebenarnya tugas orang tua kita lah dahulu untuk membantu menemukan passion kita. Tapi kebanyakan orang tua membesarkan dan mendidik anak-anaknya dengan penilaian ego mereka sepihak, akhirnya sang anak tumbuh tanpa passion. Kebanyakan orang tua, berpikir mereka adalah sang maha mengetahui kebaikan yang terbaik untuk anaknya, tanpa mempedulikan hasrat si anak itu sendiri. Padahal hasrat atau passion itu adalah tugas mulia sang anak dariNYA.

Karena itu, sekali lagi apabila sekarang kita adalah orang tua, maka pastikan anak-anak kita hidup dengan passionnya sendiri, bukan hidup dengan ego penilaian kita sebagai orangtua. Setiap kita memang memiliki impian agar anaknya tumbuh menjadi normal, tapi jangan sampai impian kita terlalu mendikte sehingga anak kehilangan jati diri dia yang sesungguhnya.

Kembali lagi kepada passion, karena passion itu adalah sesuatu yang sudah ada. Jadi kalau beberapa kita merasa tidak memiliki passion, bukan berarti kita tidak memiliki passion, hanya saja kita belum menemukan passion kita itu apa. Tugas kita lah bagi yang belum, untuk mulai mencari passionnya. Tapi bagaimana caranya menemukan passion? Bagaimana kalau sekarang misal kita sudah ber-umur 45 tahun tapi belum juga merasa menemukan passion?

Sahabatku… Tidak ada kata terlambat dalam hidup ini. Karena tidak ada kata kebetulan juga kita belum menemukan passion kita, semua berjalan sebagai sistem sebab akibat yang terus bergulir. Jadi kalau memang waktunya sekarang, mari kita mulai sekarang.

Disini Kami ingin berbagi 3 jurus ampuh untuk menemukan passion, semoga bisa membantu sahabat semua dalam menemukan passion-nya :


1# Mengenal Diri Sendiri

Passion itu adalah tentang mengenal diri sendiri. Kita tidak menanyakan keinginan orang tua, pasangan, sahabat atau atasan untuk menemukan. Jadi passion adalah tentang kita.

Namun sahabatku… Seberapa diri kita mengenal dirinya sendiri? Jangan-jangan kita lebih mengenal dengan orang-orang lain dari pada diri kita sendiri.

Kalau memang sekarang passion itu belum terlihat, maka cobalah dengan mengenal diri sendiri. Mulailah dengan berintrospeksi dan mulai membuat list tentang hal-hal apa yang membuat diri nyaman dan juga membuat diri tidak nyaman. Dari mulai aktifitas, sikap, kondisi dan visi misi.

Sahabatku… Apabila kita mulai memikirkan sesuatu dengan akal, maka frekuensi kita akan bergetar (bervibrasi) sesuai dengan frekuensi yang kita pancarkan. Fokuslah sebentar kepada diri Anda untuk mengenal diri Anda sendiri. Dari sana Anda akan kembali ke titik awal untuk menggali dan mengais-ngais dengan kaca pembesar untuk mencari apa yang telah terlewat dari diri Anda, yang membuat Anda belum menemukan passion itu. Percayalah, setelah ini, diri Anda akan sangat berterimakasih karena telah diperhatikan.

Sahabatku… Betapa sering kita memperhatikan yang diluar sementara mengabaikan yang didalam. Padahal logikanya memang tidak mungkin ada seseorang yang mampu memperhatikan diri kita, sebagaimana diri kita memperhatikan dirinya sendiri. Kalau memang ada, berarti itu adalah tanda ketidak pedulian kita terhadap diri sendiri.


2# Mencoba Ber-Aksi

Setelah mengenal diri sendiri maka jurus setelahnya adalah mencoba ber-aksi. Sahabatku… kita membutuhkan pengalaman, experience makes perfect itu bukan sekedar semboyan, tapi memang begitulah manusia berproses. Anggaplah dari perenungan Anda diatas, Anda sangat nyaman dengan makanan yang sehat dan menyehatkan. Jadi sekarang lah saatnya Anda mulai mencoba membuat makanan yang sehat dan menyehatkan itu. Misal lagi hasil dari perenungan Anda, tersimpulkan bahwa Anda sangat berhasrat dengan climbing. Berarti sekarang saat Anda mencoba ber-aksi memanjat gunung. Misal hasil perenungan Anda adalah Anda ingin membuat buku. Berarti sekarang saatnya Anda menulis.

Mungkin selama ini Anda tidak pernah bergerak mengikuti hasrat hati Anda. Banyak alasan, umumnya karena Anda terlalu peduli dengan penilaian orang lain, sehingga aksi-aksi hidup Anda terbatasi.

Jadi sekaranglah saatnya. Apakah Anda akan langsung berhasil, belum tentu. Proses yang panjang justru akan membuat seseorang lebih sempurna. Dari proses-proses panjang Anda itu, maka Anda mampu menghasilkan beberapa resep makanan yang sehat dan tetap enak dimakan. Anda mampu jago climbing sampai menaklukkan gunung Himalaya. Dan Anda mampu menulis buku bestseller.

Jadi memang Anda harus memiliki kebulatan tekad dan keberanian untuk mencoba hal yang Anda sukai. Hal yang anda nyaman untuk menjadi diri Anda sendiri tanpa memperdulikan penilaian yang lain, selain diri Anda sendiri.

Tahap mencoba ini memang harus melewati tahap yang pertama, karena sebelum mencoba anda memang diharuskan mengenal diri sendiri terlebih dahulu.

Sahabatku… Hidup bukanlah hidup kalau tidak pernah di-aksikan, di-coba dan diperjuangkan. Kita adalah makhluk dinamis yang selalu membutuhkan pemenuhan.


3# Membuat Rencana Untuk Memakmurkan

Sahabatku… Passion itu diinputkan untuk sesuatu yang disebut kemakmuran. Apa itu kemakmuran? Kemakmuran adalah memfungsingkan diri untuk kehidupan, bukan untuk keuntungan. Anda memakmurkan kalau Anda sudah bisa berperan untuk kehidupan semesta, bukan sekedar mencari keuntungan bagi diri sendiri.

Iya memang awalnya kita mencari passion dari dalam diri sendiri, tapi apabila yang dari dalam itu sudah muncul kepermukaan, maka yang muncul bukan untuk keuntungan peribadi tapi keuntungan bersama. Bukan hak tapi kewajiban. Hidup ini selalu tentang kewajiban apa, bukan mana hak saya? Tapi apa kewajiban saya? Hidup itu sendiri sudah menjadi hak yang sudah kita terima, dan sekarang tinggal kewajiban kita saja.

Itulah kenapa menemukan passion adalah titik kritis yang harus dilakukan, karena itu adalah kewajiban yang tertunda bagi kehidupan. Jadi passion adalah peran kebermakmuran Anda bagi kehidupan. Sangat mulia bukan? Dan sekali lagi, passion bukan sesuatu yang tidak ada, karena setiap manusia sudah diinputkan passion yang mana dengan passion masing-masing itu, mereka berperan. Berperan untuk kemakmuran bukan keuntungan.

Sahabatku… seharusnya kita menyadari kalau diri ini adalah bagian dari kesatuan semesta untuk saling berperan secara sukarela, berdasarkan passion (hasrat bawaan) tanpa paksaan dan penuh dengan kebahagiaan. Jadi memang SANG PEMBUAT tidak pernah melakukan pemaksaan yang tidak adil kepada makhlukNYA. Justru sekarang kita ini dipaksa, didikte untuk memenuhi penyamarataan penilaian-penilaian manusia lain, lingkungan, kelompok yang malah menjauhkan kita dari tugas mulia ini.

Sekarang mari kita merenung sebentar sahabatku… Bagaimana bisa kita menjadi seimbang kalau kita menyamaratakan semuanya bukan? Kalau semua sekolah mencap anak-anak muridnya yang tidak jago matimatika dan fisika adalah tidak pintar. Lalu mereka mensyaratkan seluruh muridnya untuk memiliki nilai pintar yang seperti itu, lalu siapakan yang akan menjadi sejarahwan, siapakah yang akan menjadi guru TK, siapakah yang akan menjadi pelukis, penari dan lainnya. Artinya kita tidak bisa menyamakan nilai untuk menjalani keseimbangan kehidupan.

Itulah kenapa passion itu adalah sesuatu yang unik dan apa adanya, karena passion adalah untuk keseimbangan, bukan pemenuhan nilai-nilai serta keuntungan manusia. Dari passion maka manusia akan berperan dengan keahlian dan panggilan jiwanya, untuk saling memakmurkan, saling melengkapi dan saling bahu membahu. Bukan untuk saling bersaing, saling merendahkan apalagi saling berlomba untuk menentukan siapa yang lebih unggul.

Sahabatku… Memakmurkan itu sama seperti bangunan. Untuk menjadi bangunan yang sempurna, tidak mungkin bangunan ituhanya terdiri dari satu bahan saja, tapi terdiri dari banyak bahan. Begitu juga dengan kehidupan. Kita memang harus berbeda untuk sebuah keharmonisan dan inilah fungsi DIA menginputkan passion didalam tiap buatanNYA.

Jadi, jurus terakhir setelah passion ditemukan adalah membangun rencana untuk memakmurkan. Lagi-lagi rencana itu pasti ada kalau kita mau berpikirkan.


Akhir kata sahabatku… Passion adalah kunci untuk mengenal diri, dan berperan sebagaimana yang di amanahkan SANG PEMBUAT untuk manusia. Mari kita temukan dan hidup bersama amanah yang diberikanNYA.


Salam Semesta

Copyright © www.PesanSemesta.com

  •  
  •  
  • 0
  • Mei 19, 2019
admin16 admin16 Author

OFFICIAL CHANNEL



FREE E-BOOK

3# FREE DOWNLOAD E-BOOK - MENJADI AIR

DATABASE

COPYRIGHT

Seluruh artikel didalam website ini ditulis orisinil oleh tim penulis Pesan Semesta. Artikel yang kami share melalui website ini bukan hasil jiplakan, kutipan atau terjemahan.

Bagi pembaca yang ingin menghubungi penulis silahkan mengrim pesan melalui email : pesansemesta@yahoo.com


SALAM SEMESTA