Pesan Semesta.
melampaui batas menjadi satu

BAGAIMANA BISA BERSYUKUR KALAU TIDAK CUKUP?


Mungkin sebagian kita ada yang bertanya “Bagaimana bisa bersyukur kalau tidak cukup?”

Sahabatku… Syukur itu akan selalu cukup. Saat kita bersyukur kita pasti selalu merasa cukup. Tidak mungkin merasa ‘tidak cukup’ sambil merasa bersyukur. Karena syukur yang tulus adalah rasa kecukupan itu sendiri.

Syukur yang tulus itu bukan sesuatu yang disebut, melainkan sesuatu yang dirasa. Saat mulut kita mengucapkan rasa syukur, tapi tidak disertai dengan rasa cukup. Maka pada saat itu kita telah membohongi segalanya.

Rasa itu adalah sesuatu yang tidak bisa dibohongi. DIA SANG MAHA MERASA tahu betul rasa-rasa makhlukNYA. Rasa itu adalah koneksi kita denganNYA.

Saat kita merasa cukup dengan segalanya. Berarti kita sudah menerima dan percaya bahwa segala sesuatu adalah anugerahNYA. Saat kita menerima dan percaya, maka kita tidak akan meragu. Jadi rasa cukup kita adalah cerminan dari rasa ketidak raguan kita kepadaNYA. Kita tidak ragu DIA MAHA MENYANYANGI, Kita tidak ragu DIA MAHA MEMBERI, dan Kita tidak ragu DIA MAHA MENCUKUPI.

Jadi kuncinya syukur yang tulus adalah merasa cukup. Untuk merasa cukup, maka langkah kita hanya satu, yaitu MENERIMA.

Kita menerima hidup dengan tulus dan tidak membandingkan hidup yang kita jalani dengan hidup orang lain. Kita menerima apapun dalam hidup sebagai anugerahNYA, bukan sekedar hasil kerja keras pribadi. Kita menghadapi apapun yang ada dihadapan sebagai pelajaran bagi diri.

Sahabatku… Pada moment kita sudah mampu merasa cukup, maka syukur yang tulus itu pun akan muncul. Syukur yang tulus tidak memiliki kalimat. Syukur yang tulus tidak lain selain ungkapan rasa kebahagiaan yang tertulus dari jiwa yang berbahagia. Inilah inti dari segala cita-cita.  

Jadi sahabatku… Kalau kita mau berbahagia dengan segala keadaan, cobalah untuk selalu memunculkan syukur yang tulus. Dan untuk memunculkan syukur yang tulus, cobalah untuk menerima. Karena penerimaan bukanlah akhir, melainkah awal dari aksi kita bersamaNYA.

Sahabatku… Mari terus beraksi agar kebahagiaan selalu menyertai kita. Mari terus beraksi agar rasa syukur yang tulus selalu berbunga dihati kita, dan mari terus beraksi agar selalu merasa cukup dengan segala anugerahNYA.

 

Salam Semesta

Copyright 2020 © www.pesansemesta.com


  •  
  •  
  •  
  • 0
  • Juni 30, 2020
admin16 admin16 Author

MEMANFAATKAN ENERGI JANTUNG UNTUK MENYEBAR RAHMAT & KESEJAHTERAAN


Rasakanlah denyutan ini, hiduplah didalamnya dan gunakanlah energinya untuk menyebar kasih sayang dan kesejahteraan bagi semesta.

Sahabatku… Tanpa disadari jantung kita berdenyut rata-rata sebanyak 100.000 kali setiap hari dan 36.000.000 kali selama setahun. Memang ini bukan angka pasti, tapi ada TIGA hal yang pasti dari setiap denyutan ini.

#Pertama, setiap denyutan jantung menghasilkan energy medan magnet dan energy medan listrik yang sangat powerfull.

Mengejutkannya ternyata jantung adalah sumber energi yang paling kuat dalam tubuh manusia.

Jantung menghasilkan energy medan listrik sekitar 60 kali lebih besar dalam amplitudo daripada aktivitas listrik yang dihasilkan oleh otak. Bidang ini, diukur dalam bentuk elektrokardiogram (EKG) dan dapat dideteksi di mana saja di permukaan tubuh.

Begitu juga dengan energy medan magnet yang diproduksi oleh jantung memiliki kekuatan lebih dari 100 kali lebih besar daripada medan yang dihasilkan oleh otak dan dapat dideteksi hingga 3 kaki dari tubuh, ke segala arah, menggunakan magnetometer berbasis SQUID

 

#Kedua, setiap denyutan jantung ritmenya berubah-ubah sesuai dengan emosi yang kita buat.

Sahabatku… Dahulu para psikolog pernah berpendapat bahwa emosi adalah murni ekspresi mental yang dihasilkan oleh otak saja. Kita sekarang tahu bahwa ini tidak benar - emosi berkaitan dengan hati dan tubuh seperti halnya dengan otak.

Dari organ-organ tubuh, jantung memainkan peran yang sangat penting dalam pengalaman emosional kita. Pengalaman suatu emosi dihasilkan dari otak, jantung, dan tubuh yang bertindak bersama. Itulah kenapa ritme denyutan jantung manusia senantiasa dipengaruhi oleh bagaimana dia turut mengelola emosinya.

Saat kita mengalami emosi negatif, seperti kemarahan atau frustrasi, pola detak jantung menjadi tidak menentu, tidak teratur, dan tidak koheren dalam ritme jantung. 

Sebaliknya, saat mengalami emosi positif, seperti cinta atau kedamaian, pola detak jantung yang terjadi lebih halus, teratur, dan koheren dalam aktivitas ritme jantung. Pola ini bukan terkaan belaka, karena bisa diukur dengan teknik yang disebut analisis spektral.

 

Ketiga, setiap ritme denyutan jantung adalah energy elektromagnetik yang memancar.

Kalau kita mau memperhatikan, ternyata tubuh manusia penuh dengan mekanisme untuk mendeteksi lingkungan eksternalnya. Organ-organ indera adalah contoh yang paling jelas. Secara khusus indera kita diarahkan untuk bereaksi terhadap sentuhan, suhu, pilih rentang cahaya, gelombang suara, dll.

Sudah terbukti kalau organ-organ ini sangat sensitif terhadap rangsangan eksternal. Hidung, misalnya, dapat mendeteksi satu molekul gas, sedangkan sel di retina mata dapat mendeteksi satu foton cahaya. Dan hebatnya jika telinga lebih sensitif, ia akan menangkap suara getaran acak dari molekulnya sendiri.

Nah, dari canggihnya organ indera ini kita justru lebih mudah mengesampingkan jantung sebagai organ indera. Padahal jantung sangatlah powerfull untuk mendeteksi lingkungan eksternal dan juga sangat sensitive terhadapnya.

Sahabatku… Penelitian dalam neurokardiologi telah menunjukkan bahwa jantung adalah organ sensorik dan pusat canggih untuk menerima dan memproses informasi.

Selain jaringan komunikasi saraf yang luas yang menghubungkan jantung dengan otak dan jasad, jantung juga mengkomunikasikan informasi ke otak dan seluruh tubuh melalui interaksi medan elektromagnetik. Penelitian menunjukkan bidang jantung adalah pembawa informasi yang penting.

Namun ternyata medan magnetic yang dihasilkan jantung tidak hanya menyelimuti setiap sel tubuh, tetapi juga meluas ke segala arah ke dalam ruang di sekitar kita. Medan magnet jantung dapat diukur beberapa meter dari tubuh dengan magnetometer sensitif.

Artinya, pesan energy ini tidak hanya berputar dan menyebar didalam diri kita. Namun juga keluar diri kita juga. Dimana ini berlangsung setiap, baik kita sadari atau tidak. Selama jantung ini berdenyut, selama itu pulalah dia akan terus memancarkan energinya.

setiap energy yang memancar dari jantung adalah komunikasi antar semesta yang tidak berbahasa namun memberi makna.

Apapun itu energinya, baik itu kasih sayang ataupun itu adalah kebencian. Baik itu adalah ketakutan atau pun itu adalah ketenangan. Baik itu adalah keraguan atau pun itu adalah kepercayaan. Apapun itu energinya tetap akan terpancarkan sebegitu adanya.

Akhir kata sahabatku… Izinkan jantung ini untuk menjadi pemancar alunan harmoni indah semesta yang tidak mengenal syarat. Pemancar Rahmat dan kesejahteranNYA bagi semesta alam.

 

Salam Semesta

Copyright 2020 © www.pesansemesta.com


  •  
  •  
  •  
  •  
  • 0
  • Juni 28, 2020
admin16 admin16 Author

JASAD KITA DIBUAT DARI BAHAN BINTANG


“Kita adalah bintang redup yang sedang menemukan asal usul sinarnya”

Sahabatku… Bintang telah menjadi sumber dari banyak bentuk sastra dan seni selama ribuan tahun. Selama berabad-abad nenek moyang kita menatap langit malam dengan kekaguman pada rasi bintang yang mempesona dan menyulap cerita tentang asal-usul dan makna mereka.

Sayang sedikit yang kita tahu kalau kita juga terbentuk dari bintang. Ada sains nyata yang mendukung hal ini. Tulisan ini bukan hoax… Ini hanya tentang diri yang belum mengenal dirinya sendiri.

Sahabatku… Ambil contoh kecil detakan jantung yang terabaikan ini. Sadarkah agar jantung ini terus berdetak, jantung membutuhkan satu molekul rumit yang disebut Heme B yang sejatinya merupakan satu atom besi.

Berkat Heme B ini jasad kita mengikat oksigen dan memindahkannya melalui sistem peredaran darah kita. Bayangkan sendiri kalau satu atom besi ini tidak ada. Dimana sebenarnya ini bukan sekedar atom, melainkan adalah bagian sentral dari molekul hemoglobin.

Mari kita meninggalkan jantung untuk melihat ke bawah pada pembuluh darah di pergelangan tangan kita. Tidak ada yang terlalu menarik dipermukaannya bukan?

Kita mungkin hanya melihat beberapa garis biru samar berlari ke telapak tangan kita. Tapi kami rasa kita semua akan tertarik dengan apa yang ada didalam pembuluh darah itu, iya darah kita. Sel darah kita mengandung hemoglobin.

Jelas ini penting. Tetapi satu hal telah luput yaitu, bahwa satu-satunya cara atom besi dibuat di semesta ini adalah melalui supernova dan melalui bintang supermasif. Hanya ini satu-satunya cara bagi kita untuk mendapatkan Heme B didalam jasad ini.

Besi adalah unsur terberat yang terbentuk di inti bintang. Sementara unsur yang lebih berat dari besi hanya dapat diciptakan ketika bintang massa tinggi meledak (supernova).

Supernova terjadi pada akhir masa hidup bintang. Begitu kehabisan bahan bakar nuklirnya, inti menjadi terlalu berat untuk menahan gaya gravitasi dan runtuh, menghasilkan ledakan raksasa.

Ledakan supernova memainkan peran penting dalam menyebarkan unsur-unsur di seluruh alam semesta, ini berlanjut untuk menciptakan sistem tata surya, dan bahkan membentuk 96,2% elemen di dalam diri kita.

Besi adalah salah satu unsur paling melimpah di semesta, bersama dengan unsur-unsur yang lebih ringan seperti hidrogen, oksigen, dan karbon. Ketiga unsur ini pun ada didalam jasad ini. Silahkan periksa sendiri. Dan kita akan paham kalau elemen-elemen didalam jasad kita adalah hasil dari kehancuran bintang, sebuah ketidakteraturan yang akhirnya menjadi keteraturan.

Sahabatku….

Betul bintang tidak membuat kita, tapi kita dibuat dari bahan-bahan bintang. Didalam diri kita terdapat banyak elemen-elemen debu bintang yang bergerak dalam kediaman dan senantiasa membentuk organ kita dan memasok kebutuhannya. Ternyata di dalam jasad ini mengalir materi dari bintang yang terpecah belah. Bukankah ini merupakan sebuah hal besar yang nyata?

Sahabatku… Bukan tanpa tujuan Dzat Maha Pembuat membuat ini sama. Bagaimana kalau ini memang sengaja dibuat sama hanya agar kita TIDAK kehilangan arah akan jalan pulang.

“Kebenaran yang sebenar-benarnya tentang manusia adalah manusia bukanlah bagian dari semesta. Manusia adalah semesta itu sendiri” inilah jalan pulang kita, yaitu kita kembali menjadi semesta.

Sampai disini harus diakui kalau kita adalah semesta yang bahkan melupakan bagaimana jantungnya berdetak dan bagaimana darahnya mengalir.

Sungguh memojokkan bukan? Tapi ini belum usai, ini baru hanya permulaan untuk kita melihat bahwa dari permukaan yang masih bisa kita sentuh saja, sudah terbukti bahwa kita adalah semesta. Kalau ini belum memenuhi rasa puas kita – tidak apa. Akan kami lanjutkan.

Kami akan lanjut membeberkan yang tidak akan pernah bisa terbantahkan lagi. Kami beberkan sampai kita tidak lagi memandang diri sangat rendah. Karena didalam diri ini terdapat segala keagungan semesta, keagungan Dzat Maha Pembuat.

Akhir kata sahabatku…

Malam ini saat kita melihat dengan kagum pada bintang-bintang yang bersinar di atas, ingatlah bahwa diriNYA telah membuat kita dari gemerlapnya bintang-bintang itu juga. Renungkanlah betapa sungguh sangat istimewa diriNYA membuat kita. Tidaklah renungan itu selain alunan dzikir semesta yang terindah.

 

Salam Semesta

Copyright 2020 © www.pesansemesta.com
  • 0
  • Juni 25, 2020
admin16 admin16 Author

HOW TO FORGIVE? CUKUP SATU CARA TERDAHSYAT UNTUK MEMAAFKAN SEGALANYA


Seorang sahabat bertanya tentang bagaimana caranya memafkan? Melalui izinNYA kami menjawab.

Sahabatku… Sadarkah kalau sebenarnya kita bisa menjadi manusia yang mampu memaafkan segalanya, karena segalanya sudah termaafkan bahkan sebelum memaafkan harus terjadi.

Percayalah… Betul kita bisa melakukannya. Betul kita bisa menjadikan jiwa kita seringan helaian bulu angsa atau mungkin lebih ringan. Yang perlu kita pahami diawal adalah, bahwa kemampuan memaafkan bukan sekedar tentang pekerjaan mental dan spiritual. Melainkan juga pekerjaan tubuh yang tentunya bisa dikontrol dengan lebih mudah.

Memaafkan juga adalah pekerjaan tubuh dan dengan memahami ini maka kita akan mampu memaafkan segalanya. Lalu bagaimana caranya?

Sahabatku… Dasar dari memafkan adalah self-acceptance (penerimaan diri).

Entah itu memaafkan yang diluar atau memaafkan diri sendiri, keduanya sebenarnya adalah hal yang mudah dilakukan apabila seseorang memiliki tingkat penerimaan diri yang tinggi.

Kesulitan untuk memaafkan diri sendiri dan orang lain terjadi karena diri masih belum terlatih untuk menerima. Sementara menerima itu bukan sekedar menerima begitu saja lalu menyudutkan diri menjadi korban.

Seseorang yang mampu membangun nilai tinggi pada penerimaan diri akan memiliki sikap positif untuk mengakui dan menerima semua aspek dari diri mereka sendiri (termasuk yang baik dan buruk).

Seseorang yang mampu membangun nilai tinggi pada penerimaan diri tidak akan mengkritik diri sendiri atau bingung tentang identitas dan keberadaan diri mereka sendiri. Mereka hanya akan menghadapi apapun yang ada dihadapan tanpa berharap mereka berbeda dari siapa mereka sebenarnya.

Jadi saat seseorang memiliki self-acceptance yang tinggi mereka tidak pernah merasa menjadi korban dalam arti yang menyudutkan dirinya dan orang lain. Mereka hanya sadar kalau kejadian buruk atau baik telah terjadi dan konsekuensinya harus segera diterima.

Sahabatku… Self-acceptance membawa seseorang untuk memaafkan apapun bahkan sebelum memaafkan harus terjadi. Tentunya, self-acceptance bukan sekedar tentang mental atau spiritual tapi juga tubuh.

Kita harus senantiasa paham kalau jasad dan jiwa bekerja berbarengan. Penerimaan diri bukan tentang bagaimana software kita bekerja namun tentang hardware kita juga. Untuk membangun dan memiliki penerimaan diri yang tinggi kita butuh mengasah beberapa tentang jasad kita sendiri.

Banyak psikolog percaya bahwa tingkat penerimaan diri kita secara langsung berkorelasi dengan bagaimana kita diterima oleh orang tua kita dan figur otoritas lainnya. Anak-anak melihat ke orang tua mereka untuk memberikan penerimaan sebelum mereka mencapai usia di mana mereka mulai membentuk pendapat tentang diri mereka sendiri. Jika pesannya positif, maka mereka lebih cenderung untuk menerima diri mereka sendiri daripada anak-anak yang diberi tahu bahwa mereka tidak cukup baik.

Memori yang bekerja dibalik layar inilah yang akhirnya mempengaruhi tingkat tinggi atau rendahnya penerimaan diri. Sementara memori apapun yang berhubungan dengan emosi atau penilaian tersimpan rapih didalam amygdala.

Amigdala merupakan kumpulan sel-sel dekat dasar otak. Ada dua, satu di setiap belahan atau sisi otak. Di sinilah emosi diberi makna, diingat, dan melekat pada asosiasi dan respons terhadapnya.

Dengan kata lain disini, apabila kita mampu mengontrol bagaimana organ kecil ini bekerja, maka kita akan mampu mengontrol ulang penerimaan diri sesuai dengan tingkat level yang kita kehendaki. Masalahnya sekarang adalah bagaimana caranya - Bagaimana kita mengontrol amigdala?

Sahabatku… Jawabannya terdapat pada lobus frontal.

Lobus frontal adalah dua daerah yang luas di depan otak kita. Mereka adalah bagian dari korteks serebral, yang merupakan sistem otak yang lebih baru, rasional, dan lebih maju. Di sinilah pemikiran, penalaran, pengambilan keputusan, dan perencanaan terjadi. Disinilah akal manusia bekerja.

Lobus frontal memungkinkan kita untuk memproses dan memikirkan emosi. Sehingga kita kemudian dapat mengelola memori emosi dan menentukan respons yang logis. Berbeda dengan respons otomatis amigdala, respons terhadap dari lobus frontal secara sadar dikendalikan oleh diri kita sendiri.

Sayangnya lobus frontal tidak pernah bekerja sendiri tanpa dipilih. Sayangnya kita belum terlalu pintar dalam memilih. Padahal PILIHAN KITA MAMPU MERUBAH APAPUN DAN MEMBUAT APAPUN.

Memang penerimaan diri dipengaruhi dari bagaimana dahulu kita diperlakukan dan dinilai. Tapi manusia memiliki pilihan untuk menerima dirinya sendiri atau terus menerus mereject dirinya.  

Jujur kita semua butuh memilih untuk membangun self-acceptance untuk kesehatan mental yang baik dan kebahagiaan hidup. Karena pastinya, hidup akan menjadi lebih berbahagia kalau kita mampu memaafkan segalanya bukan?

Kebanyakan kita sekarang memfokuskan diri membangun target kebahagiaan diri. Tapi lupa membangun penerimaan diri. Fokus terhadap target kebahagiaan diri tidaklah salah selama kita juga turut membangun self-acceptance. Karena jangan sampai target kebahagiaan kita justru tidak lagi bisa membahagiakan akibat kita memiliki tingkat penerimaan diri yang rendah.

Bukankah banyak orang-orang yang sulit memaafkan kegagalan mereka sendiri? Sulit memaafkan cinta mereka sendiri? Sulit memaafkan kekalahan mereka sendiri?

Padahal kesuksesaan butuh kegagalan untuk menjadi sukses. Cinta membutuhkan benci untuk menjadi cinta. Menang membutuhkan kalah untuk menjadi menang.

Kita harus mampu menerima posisi yang bersebarangan hanya agar kita sadar kalau sudut yang kita inginkan itu memang ada. Beginilah keniscyaan hidup dibuat olehNYA.

Sahabatku… Kita tidak memafkan karena kasihan, kita juga tidak memaafkan karena memaafkan itu berpahala. Kita memaafkan karena disudut manapun itu baik atau buruk, kita menerima sudut itu sebagai buatanNYA.

Kita menerima wujud buatanNYA itulah kenapa kita menerima diri ini yang juga adalah wujud buatanNYA. Semenerima itu kita menerimanya, sampai kita bahkan bisa begitu berbahagia karena sebenarnya kita hanya menerimaNYA.

Penerimaan diri adalah kepuasan atau kebahagiaan individu dengan diri sendiri yang tidak lain itu hanyalah diriNYA.

Akhir kata sahabatku…

Maafkanlah gelap karena dengannya ada terang. Maafkanlah pahit karena dengannya ada manis. Memaafkan hanya tentang menerima wujud-NYA. Hanya saja wujud-NYA bukan tentang baik dan bukan juga tentang buruk. Tapi tentang keduanya.

 

Salam Semesta

Copyright 2020 © www.pesansemesta.com


  •  
  •  
  •  
  • 0
  • Juni 23, 2020
admin16 admin16 Author

TIDAK ADA OTAK YANG BODOH! BEGINILAH CARA MENGASAH KELAMBANAN OTAK


“Apakah lamban dalam memahami sesuatu itu bentuk dari kebodohan, apakah itu bisa di rubah??” Melalui anugerahNYA izinkan kami menjawab.

Kecepatan pemrosesan yang lambat atau buruk tidak terkait dengan kecerdasan. Apapun itu adalah kecerdasan! Kebodohan hanyalah nilai karena seseorang atau sekelompok orang mulai membandingkan tingkat kecerdasan tiap-tiap orang. Bukankah kita dibiasakan dengan ini?

Contoh seringnya adalah ketika seseorang melihat keluar dan menyaksikan kalau teman atau orang lain begitu cepat memahami atau memproses informasi sementara dirinya tidak. Lalu akhirnya dia merasa tidak berdaya dengan dirinya sendiri dan men-cap kalau dirinya lamban.

Tapi, betulkah dirinya lamban? Bukankah dirinya menjadi lamban, karena dia berhasil membandingkan dirinya dengan yang lebih cepat. Bagaimana kalau tidak ada pembanding, apakah dia masih bisa menilai kalau dirinya lamban?

Faktanya kita dibiasakan untuk mengkompetisikan kecerdasan kita sendiri untuk sebuah penilaian. Akhirnya ada orang-orang yang harus merasa bodoh. Mereka merasa bodoh karena mulai membandingkan diri mereka sendiri.

Sahabatku… Berhentilah membandingkan diri keluar untuk mencari sebuah penilaian. Diri kita sudah sempurna apa adanya. Kebodohan dan kelambanan yang kita rasakan ini hanyalah tentang diri yang belum menggunakan otaknya sendiri secara maksimal.

 

Jadi apakah kelambanan otak dalam memahami bisa dirubah?

Jawabannya adalah iya. Selalu sahabatku… Kita selalu memiliki pilihan untuk merubah apapun energy yang sudah terlanjur terbentuk.

Kalau kita bertanya apakah merubah kelambanan otak butuh kerja keras? Tentulah iya, kita tidak pernah bisa mengasah pedang dengan kapas – begitu juga dengan otak kita sendiri. Otak kita harus dilatih secara terus menerus agar tajam, cepat dan tepat sasaran.

 

Lalu bagaimanakah caranya?

“SATU CARA UNTUK MENGASAH KELAMBANAN OTAK ADALAH DENGAN MEMPERBANYAK DAN MEMPERTEBAL SINAPSIS”

Sahabatku… Sekarang didalam otak kita mungkin terdapat ratusan atau jutaan sinapsis untuk setiap kegiatan, informasi atau kebisaan.

Sinapsis secara singkat bisa disebut sebagai simpul neuron. Uniknya, otak manusia terdiri dari 10% neuron dengan sisa 90% sel glial. Kita memiliki sel glial lebih banyak dari sel neuron. Sel glial memiliki fungsi yang lebih penting didalam otak ketimbang neuron karena ternyata sel glial mampu menghalangi atau mengaktifkan neuron.

Lalu apa hubungannya ini dengan kelambanan otak?

Jadi begini kunci untuk meningkatkan kecepatan pemrosesan didasarkan pada membuat koneksi sinapsi yang lebih solid, yang memungkinkan sinyal untuk bergerak lebih cepat satu sama lain.

Masalahnya otak ini adalah organ pemilih yang tidak suka membuang-buang energy. Meski apapun itu adalah sinapsis, tapi sel glial tidak akan membiarkan otak kita menyimpan sinapsi yang tidak atau jarang terpakai. Dengan canggihnya sel glial ini akan mematikan sinapsis yang jarang terpakai.

Hal yang sebaliknya juga akan terjadi apabila kita sering mengaktifkan sinapsis yang sudah terjalin, maka sel glial justru akan membuat sinapsis ini semakin tebal.

Kabar gembiranya, semakin tebal sinapsis artinya semakin cerdas atau jago kita dalam bidang itu. Inilah kenapa ada istilah practice makes perfect.

Jadi apabila kita merasa lamban disatu bidang, maka satu cara yang bisa kita lakukan adalah dengan mengaktifkan sinapsisnya secara terus menerus. Karena tanpa sepengetahuan, otak ini akan terus mendukung usaha kita 100% untuk meningkatkan kecepatan pemrosesan apapun.

 

LALU BAGAIMANA CARA MENGAKTIFKAN SINAPSISNYA?

Tentu caranya adalah dengan terus berlatih dan melakukan banyak aksi. Artinya, teruslah belajar dan janganlah terlebih dahulu menilai diri bodoh.

Pahamilah kalau masing-masing manusia dianugerahi dengan porsinya masing-masing. Porsi ini bisa kita lampaui atau bisa kita biarkan begitu saja. Kita memiliki pilihan. Apapun itu yang kita pilih, maka pilihlah yang terbaik menurut diri sendiri. Bukan menurut orang lain.

Karena kalau setiap kita memiliki porsi, berarti setiap kita juga memiliki fungsi dan tujuan. Itulah kenapa kecerdasan itu memiliki banyak wajah.

Selama ini kita hanya menyamakan kecerdasan dengan satu wajah. Sampai kita sendiri lupa kalau bahkan wajah kita itu berbeda dan unik. Kecerdasan juga memiliki keunikan, tidaklah keunikan ini kecuali hanya agar masing-masing kita melakukan fungsi dan tujuan hidupnya diatas bumi ini.

Tidak harus ada kesetaraan dalam kecerdasan. Karena kecerdasan tiap manusia hadir untuk saling memakmurkan bukan untuk saling membandingkan.

Lagi pula bagaimana kita bisa membandingkan kalau segala ini hanyalah buatan diriNYA?

 

Salam Semesta

Copyright 2020 © www.pesansemesta.com

 


  •  
  •  
  •  
  •  
  • 0
  • Juni 21, 2020
admin16 admin16 Author

TIGA METODE SEDERHANA YANG POWERFULL UNTUK MENGENAL DIRI

Mengenal diri adalah perjalanan yang abadi, keabadiaan yang tidak pernah berujung pada kematian. Boleh dibilang mengenal diri adalah tugas manusia yang tidak akan pernah berkesudahan. Hanya saja sekarang kita terjebak dengan satu pertanyaan “BAGAIMANA?”.

Iya, bagaimana caranya kita mulai mengenal diri?

Ketidakmengetahuan kita saat ini karena mengenal diri menjadi topik asing yang sengaja dihindarkan. Selama ini dunia dan segala yang berlangsung di dalamnya, berlangsung untuk terus membuat kita menghindari diri untuk mempertanyakan diri sendiri.

Alasan khusus untuk ini adalah karena semakin manusia mengenal dirinya, maka akan semakin paham dia dengan dirinya sendiri. Dan sudah kodratnya kalau sulit untuk membodohi mereka yang paham. Inilah kenapa kita seakan tidak diberi kesempatan untuk belajar mengenal diri, yaitu agar sekelompok yang paham ini bisa menguasai kebodohan kita guna mengambil keuntungan yang berpihak.

Percayalah, dengan mengenal diri kita tidak akan mendapati hal apa-apa selain manfaat yang teramat banyak. Mengenal diri hanya akan membuat manusia cerdas menggunakan dirinya. Mengenal diri hanya akan membuat manusia bijak dengan apa yang berlangsung di dalam hidupnya. Mengenal diri hanya akan membuat manusia mendekat kepada inti dirinya sendiri (self core).

Pilihan itu masih kita genggam. Tidak pernah ada kata terlambat untuk mengenal diri. Kalau kita masih bingung bagaimana metodenya, maka semoga apa yang kami sampaikan disini berguna. Jujur metode ini sangat sederhana, tanpa biaya, namun sangat powerfull apabila kita mau memaksimalkannya.

 

1# KEMBALILAH MEMPERHATIKAN DAN MENGAMATI

Sahabatku… Masih ingat dahulu sewaktu kita masih kecil, begitu sering kita bertanya ‘kenapa’ dan ‘apa’. Pada waktu itu kita bertanya dengan kepolosan karena kebutuhan kita untuk mengenal apa yang berhasil kita amati dan perhatikan. Dari pertanyaan-pertanyaan polos itulah akhirnya kita mulai menerima jawaban.

Beranjak dewasa, kita semakin sulit untuk bertanya, alasannya bisa macam-macam. Tapi alasan yang paling utama sebenarnya adalah karena kita berhenti memperhatikan dan mengamati. Harusnya semakin beranjak dewas pertanyaan kita menjadi semakin rumit dan kompleks.

Namun nyatanya tidak demikian. Beranjak dewasa itu semua teralihkan, menjaga fokus untuk terus memperhatikan dan mengamati sambil terus menyelesaikan kewajiban lainnya memang butuh seni manajemen yang unik, tapi bukan berarti tidak bisa dilakukan.

Sahabatku… Memperhatikan dan mengamati merupakan metode paling mudah dan hampir 100% gratis untuk mulai kita terapkan sekarang guna kembali mengenal diri. Kalau kita bertanya, apa yang harus kita amati? Maka untuk tahap awal, jawabannya adalah 3.

Pertama: Perhatikan dan amati jasad fisik kita dan segala pergerakan yang berlangsung didalamnya.

Kedua: Perhatikan dan amati bagaimana kesadaran kita bergerak. Dari mulai berpikir, mengambil keputusan, berperasaan, berinteraksi dan segalanya.

Ketiga: Perhatikan dan amati dengan ‘apa’ kemampuan fisik diri kita mampu bekerja dan dengan ‘apa’ kemampuan kesadaran kita bergerak.

Intinya, mulailah dengan diri terlebih dahulu. Dahulu seorang Socrates dalam hidupnya pernah berkata “Manusia hendaknya mengenal diri dengan dirinya sendiri, jangan membahas yang diluar diri, hanya kembalilah kepada diri. Manusia selama ini mencari pengetahuan di luar diri. Kadang – kadang dicarinya pengetahuan itu di dalam bumi, kadang – kadang diatas langit, kadang – kadang di dalam air, kadang – kadang di udara. Alangkah baiknya kalau kita mencari pengetahuan itu pada diri sendiri. Dia memang tidak mengetahui dirinya, maka seharusnya dirinya itulah yang lebih dahulu dipelajarinya, nanti kalau dia telah selesai dari mempelajari dirinya, barulah dia berkisar mempelajari yang lain. Dan dia tidak akan selesai selama – lamanya dari mempelajari dirinya. Karena pada dirinya itu akan didapatnya segala sesuatu, dalam dirinya itu tersimpul alam yang luas ini.”

Sahabatku… Apa yang diucapkan Socrates adalah benar adanya, itu karena manusia adalah miniature semesta. Begitu unik dan menakjubkan diri kita ini. Mengenal diri dapat dilihat dari berbagai perspektif. Dimulai dari mengenal komponen dasar manusia, mengenal akal dan hati, mengenal ego diri, mengenal keterhubungan diri dengan semesta, sampai kepada mengenal pembuat dan pencipta diri – sampai mengenal bahwa tidak ada ketidakterhubungan antara diri dengan semesta, serta dengan pencipta dan pembuatNYA.

Namun kita tidak akan pernah sampai kepada jawaban kecuali kita mau mulai memperhatikan dan mengamati.

 

2# BERSIAPLAH MENERIMA JAWABAN

Sahabatku… Saat kita mulai memperhatikan dan mengamati, maka mau tidak mau pertanyaan akan mulai bermunculan. Jangan terkecoh disini, kebanyakan kita begitu meragu untuk bertanya. Ini wajar, selama ini kita dibiasakan untuk mampu menjawab pertanyaan hanya untuk dinilai dengan benar atau salah.

Akhirnya dialam bawah sadar kita selalu menyimpan keraguan akan sebuah pertanyaan. Kita meragu karena menakuti ketidakhadiran sebuah jawaban. Padahal pertanyaan adalah kunci menuju semesta.

Kami harus mengakui diri dengan segala kerendahan hati, kalau sebuah jawaban selalu hadir lebih awal dibanding pertanyaan. Jawaban hanya sedang menunggu ter-unlock dan pertanyaan kitalah kuncinya.

Pertanyaan adalah kunci jawaban dari segala yang terlupakan untuk ditanyakan. Begitulah memang Dzat Maha Guru selalu hadir lebih awal dibanding muridNYA, senantiasa setia menanti sebuah pertanyaan yang luput untuk ditanyakan.

Namun bergembiralah… Kesadaran kita akan keluputan diri ini hanyalah awal untuk mengawali diri untuk bersiap diri meraih jawaban.

Hal yang harus dijaga disini adalah kenetralan kita saat meraih jawaban itu sendiri. Kebanyakan kita hanya mau menerima jawaban berdasarkan apa yang ingin kita terima. Padahal jawaban kebenaran tidak akan pernah berwujud benar atau salah.

Mengenal diri merupakan sebuah perjalanan untuk menyelami diri sampai mengetahui diri pada hakikat yang sebenarnya. Kebenaran, itulah jalan akhirnya.

Untuk sampai ke jalan akhir ini ibarat berenang di dalam kubangan air suci. Kita harus terlebih dahulu mensucikan diri untuk mampu menyelam ke dasar sumber. Karena ini bukan sekedar informasi yang diterima oleh mata dan akal selama ini. Tapi menyelam jauh ke dalam jasad, lalu menuju jiwa, lalu keluar dari keduanya. Sampai akhirnya kita menyadari kalau diri kita lebih dari sekedar bagian manusia. Kita adalah bagian dari semesta, dimana inti semesta hanyalah diriNYA.

Sekarang, sudah mampukah kita menjadi netral dalam menerima jawaban? Ingat saja dahulu kalau kenetralan tidak pernah berlari menjauhi akal.

 

3# IZINKANLAH akal UNTUK berpikir

Sahabatku… Pemahaman tidak hadir dari sekedar menerima jawaban, namun memperhatikan dan mengamati setiap detail jawaban dengan akal.

Mengenal diri adalah menarik informasi dengan cara mulai memperhatikan dan mengamati, lalu menetralkan diri menerima jawaban, agar jawaban itu mampu diberpikirkan kembali dengan akal. Sehingga akhirnya kita paham lalu menjadi sadar. Kalau sudah sadar, maka kita pun akan berubah sesuai dengan kesadaran yang berhasil kita bentuk itu.

Ambil contoh, kita memperhatikan dan mengamati jantung yang sedang berdegup ini, lalu dari situ muncul pertanyaan sederhana semisal “bagaimana jantung degupannya bisa berubah-ubah?”. Lalu kita berhasil menerima jawaban kalau ternyata degupan jantung adalah harmonisasi jasad dan jiwa. Setiap ketidakharmonisan yang terjadi akan membuat ritme degupannya pun tidak harmonis.

Dari jawaban yang kita terima ini lalu kita mengizinkan akal kita untuk memikirkannya. Sehingga kesadaran kita pun mulai memahami sebab akibatnya, sampai akhirnya kita sadar betul untuk mengharmonisasikan jasad dan jiwa, agar mesin jantung kita ini terus bekerja stabil dan terus prima.

Sahabatku… Ini hanya satu contoh saja, namun dari contoh kecil ini kita bisa paham rahasia besarnya. Andaikan semua manusia tahu bagaimana jantungnya bekerja dan harus bekerja, maka akankah manusia terkena serangan jantung dan perlu pergi ke dokter jantung? Ternyata kita sudah mampu mengambil manfaatnya bukan dari mengenal diri, meskipun itu masih satu contoh kecil saja.

Bayangkan kalau kita terus menggali diri untuk memahami diri ini. Bukankah wujud ke MahaanNYA akan jelas tersaksikan? Pastinya iya. Kami berani menjaminnya.

Akhir kata sahabatku…

Anggap hari ini kita ibarat pengelana yang baru pertama kali menemukan potongan cermin ditengah perjalanan. Melalui cermin kecil itu akhirnya kita belajar untuk mengenal diri kita sendiri. Tentunya kita tetap memiliki pilihan. Kita bisa membuang potongan cermin itu dan terus melaju, atau kita bisa menyimpannya untuk terus kita gunakan untuk lebih mengenal diri yang sebelumnya tidak pernah kita kenal.

Tidaklah potongan cermin itu kecuali adalah kemahaanNYA yang melekat didalam diri ini.  Tersadari atau tidak disadari kita tidak akan pernah mengenal diri ini, kecuali denganNYA kita mengenal diri ini. Sungguh netral diriNYA mendampingi.

Begitulah SANG PEMBUAT tidak pernah mendikte pilihan, DIA hanya memberikan pilihan. Tugas kita lah untuk memilihnya. Pilihlah untuk mengenal diri sahabatku… dan temuilah diri-NYA di tiap inti diri ini.

 

Salam Semesta

Copyright 2020 © www.pesansemesta.com

 


  •  
  •  
  • 0
  • Juni 16, 2020
admin16 admin16 Author

SELF CORE - SIAPA ITU INTI DIRI INI?


Sahabatku… Mereka berkata kalau inti materi semesta hanyalah energy. Energi ini abadi, tidak terdefiniskan, tidak dapat termunaskah dan hanya bisa berubah bentuk. Manusia, bagaimanapun kesadarannya mengenali dan melabeli diri, tetap mereka merupakan bentukan dari energy ini.

Inti materi semesta ini bukanlah ilusi, tetapi inti materi semesta ini adalah sumber pembentuk segalanya. Diri kita terbentuk dari segalanya ini. Planet-planet ini terbentuk dari segalanya ini. Galaksi diujung multiverse manapun terbentuk dari segalanya ini. Segalanya ini adalah segalanya.

Sayang, segalanya yang segalanya ini tidak terdefinisikan. Segalanya ini merupakan kenetralan absolut yang senantiasa memberi hidup tanpa memerlukan label dan pengakuan.

Bukti tentang ini tidaklah jauh, kita memegangnya penuh. Jasad ini utuh buktinya. Pikirkanlah kembali sahabatku… Perhatikanlah setiap inci jasad ini, lalu tersenyumlah. Ternyata diri ini memang menjadi bukti jelas kalau ternyata DZAT MAHA lebih dekat dari urat nadi. Dimana Dzat Maha senantiasa menjadi inti diri kita yang terhubung dengan segala energy yang dibentukNYA.

Seharusnya ini sudah kita lakukan jauh sebelum kita mengaku bertuhan. Bukankah selama ini kita telah mengaku bertuhan tapi mengabaikan pemahaman kita akan inti diri kita yang sebenarnya?

Tanyakanlah kedalam diri, kita melangkah sebagai siapa selama ini? Kita berbicara sebagai siapa selama ini? Kita melihat sebagai siapa selama ini? Kita bahkan berani berkata kalau kebaikan adalah dariNYA dan keburukan adalah dari diri kita sendiri. Tanda kalau kita menganggap diri kita adalah diri kita, sementara DZAT MAHA yang kita akui telah kita sembah adalah bagian lain dari diri kita.

Sahabatku… Sedih untuk diakui, ternyata kita memang belum mampu menjadi ketunggalan sejati denganNYA padahal itulah arti sesungguhnya dari bertuhan. Bertuhan adalah saat kita memblendingkan diri utuh dengan inti diri kita yang sebenarnya.

Utuh tanpa retak sahabatku… Tapi apalah itu keretakan terbesarnya kecuali kita masih belum menyadari siapa inti diri ini. Padahal siapakah lagi inti diri ini selain hanyalah diriNYA?

Sahabatku…

Mari kita meluruskan kesombongan diri ini, mari kita masuk kedalam untuk mengenal diri. Mengenal diri yang sebenarnya hanyalah diriNYA.

Mengenal diri adalah penting. Tanpa mengenal diri, kita sama sekali tidak akan pernah bisa memahami hal besar ini. Kalau bukti yang begitu jelas kita genggam terlewat, maka bagaimana bisa kita menggengam bukti yang lebih besar untuk meruntuhkan kebutaan ini?

Lihatlah diri kita ini, nyatanya sekarang ini kita ibarat seorang buta yang berdiri di depan cermin tanpa pernah sekalipun menyadari siapa dirinya sendiri. Haruskah kita terus menatap tanpa menyaksikan?

Mari sahabatku… Mari kita mengenal diri kita kembali. Mari kita melihat melalui akal untuk kembali menyaksikanNYA. 

Setelah nanti kita berhasil menyaksikanNYA melalui akal yang melihat ini, maka kita akan mampu mengakui kalau ternyata inti diri ini hanyalah diriNYA. Kita mengakui ini bukan sebagai wujud kesombongan iman, melainkan sebagai wujud pemahaman akan inti diri yang sebenarnya.

Tidak ada nilai kesombongan saat seseorang bersimpuh dan berbisik lirih kalau dirinya hanyalah diriNYA. Jelas ini bukan tentang agama, bukan tentang keyakinan, apalagi filsafat murahan, atau ilmiah yang brilian, ini hanya tentang segalanya. Inti diri ini hanyalah MAHA SEGALA yang membentuk energy dan kesadaran semesta ini.

 

Salam semesta

Copyright 2020 © www.pesansemesta.com


  •  
  • 0
  • Juni 14, 2020
admin16 admin16 Author

MAMPUKAH KITA MENINGKATKAN KECERDASAN DENGAN MEDITASI ?


Kecerdasan adalah alunan langkah yang mengiringi. Kecerdasan bukan angka yang mempesona. Kecerdasan hanyalah nafas yang paham akan apa yang ada dihadapannya, lalu memberi makna terindah bagi kehidupan semesta.

Jadi sahabatku… Apakah setiap manusia memiliki kecerdasan?

Jawabannya tidak hanya manusia, kecerdasan adalah milik seluruh semesta. Setiap semesta termasuk manusia memiliki kecerdasan dan terikat erat dengan sumber pembentuk kecerdasan itu sendiri.

Namun meski setiap makhluk disempurnakan dengan kecerdasan, tetap kecerdasan adalah kemampuan jiwa dan jasad yang harus dibentuk. Berarti harus ada pilihan yang harus kita pilih disini, apakah kita mau membentuknya atau membiarkan sempurnanya kecerdasan ini seadanya saja.

Hanya ada satu cara untuk membentuk kecerdasan, yaitu BELAJAR. Tapi tidak pernah ada satu cara untuk belajar. Terdapat begitu banyak jalan untuk belajar. Setiap cara adalah pembelajaran.

Belajar bukan sekedar tentang sekolah, karena kalau kita mampu merubah setiap nafas kita sebagai pembelajaran, kalau kita mampu menjadikan kehidupan ini sebagai sekolah seumur hidup, mungkin kecerdasan setiap kita sudah mampu menjadikan Bumi ini planet yang lebih bergemerlap dengan kemakmuran yang harmonis. Karena tahukah kita kalau kemakmuran satu planet ditentukan penuh oleh penduduknya.

Lalu bagaimana dengan meditasi… Apakah manusia meditasi bisa membuat cerdas?

Sahabatku… Meditasi tidak membuat cerdas, tapi bisa menjadi salah satu proses kita belajar agar nantinya kita bisa membentuk kecerdasan, dimana tentunya setiap bentukan hasil belajar akan menggores langkah peningkatan kecerdasan.

Jadi harap dimengerti, kalau beribu-ribu jam meditasi tidak akan pernah membuat seseorang setingkat lebih cerdas apabila seseorang itu tidak berhasil mengambil pelajarannya.

Setiap langkah kita sebenarnya adalah pelajaran, setiap apa yang kita lihat sebenarnya adalah pelajaran, setiap apa yang kita aksikan adalah pelajaran. Masalahnya, berhasilkan kita mengambil pelajarannya atau kita hanya melewatinya begitu saja.

Namun disini tentunya kita penasaran, pelajaran apa saja yang bisa kita terima dari meditasi yang berhubungan dengan peningkatan kecerdasan?

Sahabatku… semoga jawaban kami ini mampu memotivasi kita terus untuk belajar (apapun itu) termasuk belajar meditasi.

 

1.       Dari Meditasi Kita Belajar Untuk Mulai Mengenal Diri (MOVE IN)

“Kejarlah apapun yang diluarmu dengan melangkah kedalam dirimu”

Sahabatku… Kita selalu diajarkan kalau meditasi harus dilakukan dalam keheningan pikiran. Padahal tidak seharusnya begitu, justru seharusnya kita bisa menggunakan waktu bermeditasi untuk mulai meluangkan pikiran untuk mengenali dirinya sendiri.

Kami berharap kita tidak melewatkan pelajaran ini, karena apabila kita mau belajar mengenal diri, maka berarti kita mau meningkatkan kecerdasan kita dalam mengenal diri.

Cobalah sesekali dalam bermeditasi belajar mengalihkan fokus pikiran untuk masuk ke mode MOVE IN, yaitu mode mengkoneksikan kesadaran untuk merasakan hal-hal yang sedang berlangsung didalam jasad. Misalnya, merasakan proses jantung yang berdetak, aliran nafas yang berproses, aliran darah yang mengalir, organ-organ yang bekerja, sel yang bergetar, terus sampai ke titik merasakan energi SANG PENGHIDUP bervibrasi didalam tiap sel-sel jasad ini dan menghidupkannya.

Sahabatku… Percayalah, kalau diri ini adalah keramaian pelajaran dalam hening dan dari sinilah seharusnya tiap kita belajar. Tentunya kalau kita berhasil mengambil pelajarannya, maka kita akan setingkat lebih cerdas.

Jadi intinya meditasi bisa menjadi jalur awal kita untuk meningkatkan kecerdasan mengenali diri sendiri.

 

2.       Dari Meditasi Kita Belajar Untuk Mulai Mengasah Fokus

“Kecerdasan butuh fokus, sementara fokus adalah kecerdasan tersendiri”

Sahabatku… Pikiran adalah mesin berpikir yang kita gunakan untuk banyak tujuan, setiap menit, setiap detik, terlepas dari kita sadar atau tidak tentang prosesnya. Kita menggunakan pikiran dalam hampir semua yang kita lakukan.

Meski otak memiliki sistem konsetrasi untuk memusatkan pikiran. Tapi manusia tidak dilahirkan dengan kemampuan untuk memfokuskan pikiran mereka. Kita BELAJAR untuk menfokuskan pikiran kita.

Sahabatku sesama semesta… Pahamilah bahwa secanggih apapun otak, dia (otak) beroperasi sesuai pikiran. Otak adalah hamba pikiran. Otak kita adalah masterpiece, tetapi bagaimanapun karya besar akan selalu tergantung kepada user. Otak membutuhkan user yang memiliki pikiran yang fokus.

Meditasi bisa menjadi sarana bagi kita untuk belajar fokus. Jarang dari kita kurang paham, kalau fokus sebenarnya adalah kecerdasan tersendiri. Sebagian kita lebih banyak mengartikan fokus sebagai kata kerja. Padahal fokus adalah kecerdasan yang mahal harganya.

Jadi begini, fokus akan mengaktifkan bagian otak serebral dalam mentrasfer dan menterjemahkan informasi yang dikirim kesadaran. Artinya, semakin kita fokus dengan apa yang ada dihadapan, maka semakin kita menjadi sadar dengan akal pikiran kita sendiri.

Apakah ini akan meningkatkan kecerdasan? Tentunya iya, kecerdasan adalah akal yang tajam.


3.       Dari Meditasi Kita Belajar Untuk Mulai Membentuk Frekuensi

Ini penting! Selama kita tidak paham tentang frekuensi yang kita bentuk. Maka selama itu kita menjadi korban yang tersesat

Anggap saja kita memiliki radio, apakah kita akan membiarkan radio memutar setiap channelnya secara acak atau kita akan memilih satu channel untuk diputar? Tentunya kita akan memilih bukan?

Begitu juga manusia sahabatku…

Kita memiliki pilihan untuk memilih channel dalam hidup ini atau membiarkan diri terombang-ambing tanpa memilih channel apapun.  Apakah itu channel kebahagian, kesedihan, ketenangan, kecemasan, kemakmuran atau channel lainnya lagi.

Sayangnya, kita tidak sadar kalau untuk memilih apalagi membentuk frekuensi  kita butuh kecerdasan pula. Bahkan kecerdasan ini sangatlah kompleks. Kecerdasan ini meliputi membentuk energy yang didalam dan diluar. Nah, melalui meditasi kita bisa belajar dasarnya terdahulu.

Jadi begini, kita memiliki frekuensi otak yang selalu berpindah-pindah, tergantung dari aktifitas serta input dan output yang kita olah didalam. Gelombang otak listrik yang lambat hingga cepat (delta, theta, alpha, beta, gamma) masing-masing memberikan indikasi yang baik untuk aktivitas otak.

Selama meditasi, gelombang theta paling melimpah di bagian depan dan tengah otak. Studi sebelumnya telah menunjukkan bahwa gelombang theta menunjukkan relaksasi yang dalam.

Artinya? Artinya dalam meditasi kita bisa masuk kedalam diri menenangkan jasad dan pikirannya, merubah gelombangnya, melepas frekuensinya dan menarik frekuensi yang sesuai dengannya.

Jangan berpikir kalau ini hal yang tidak masuk akal. Otak selalu memiliki beberapa tingkat aktivitas listrik. Kita bisa memantau frekuensi dan lokasi gelombang otak listrik melalui penggunaan EEG (electroencephalography).

----------------------------------------------

Sahabatku… Cukup tiga dulu disini. Sebenarnya masih banyak lagi yang bisa kita pelajari dari meditasi. Namun hal yang perlu kita pahami disini adalah begini, kecerdasan adalah kompleksitas penciptaan.

Setiap orang pastinya mau memiliki kecerdasan yang maksimal, masalah yang terjadi tidak pernah ada batas maksimal dari kecerdasan, setiap manusia memiliki kapasitas yang berbeda-beda untuk membentuk kecerdasannya sendiri. Meditasi sendiri hanya satu cara dari beberapa cara yang bisa kita pilih.

Hal penting untuk kita pahami adalah, saat kita mampu melepas diri dari menilai kecerdasan, maka segalanya adalah pelajaran yang mencerdaskan. Melalui meditasi kita belajar, melalui nafas kita belajar, melalui lintasan pikiran ini kita belajar, melalui kerlingan mata ini kita belajar, bahkan melalui hembusan angin ini kita bisa belajar.

Ingat saja satu hal sahabatku…

Seseorang tidak membutuhkan kecerdasan untuk belajar, seseorang hanya membutuhkan akal yang mau menyaksikan kecerdasan.


Salam semesta

Copyright 2020 © www.pesansemesta.com


  • 0
  • Juni 12, 2020
admin16 admin16 Author

HUBUNGAN ANTARA EGO DAN PIKIRAN BAWAH SADAR


Seorang sahabat bertanya “Apakah ego bergerak berdasar data dari bawah sadar???” Melalui izinNYA kami menjawab.

Untuk menjawabnya mari kita berkumpul duduk di meja lalu mengambil sepiring nasi dan lauk yang tersaji di hadapan. Anggap kita bertiga sama-sama lapar, tapi dari ketiga kita pasti akan mengambil porsi yang berbeda-beda bukan?

Jadi begini sahabatku… Manusia memiliki insting dan ego. Untuk memahami hubungan antara ego dan pikiran bawah sadar, maka kita harus memahami kedua hal ini terlebih dahulu.

Boleh di bilang insting kita pada saat didepan meja ini adalah kita sama-sama lapar. Lalu ego kita sama-sama mendorong diri untuk makan sebagai pemenuhan kebutuhan menghilangkan rasa lapar. Namun bagaimana porsi yang kita ambil ditentukan oleh pikiran bawah sadar kita masing-masing.

Setiap makhluk hidup memiliki inting. Kita memiliki insting, insting merupakan kebutuhan mendasar akan keberlangsungan hidup manusia. Namun bagaimana insting ini nantinya bisa terpenuhi adalah tugas ego. Ego lah yang mendorong manusia untuk memenuhi kebutuhan instingnya.

Insting diri ini sebenarnya seimbang dan berlangsung netral. Hanya saja bagaimana netralnya insting menjadi keputusan ego. Egolah yang nantinya menggerakkan harus seberapa liar atau damai insting kita.

Jadi, apakah ego berhubungan dengan data yang diinputkan oleh pikiran bawah sadar? Jawaban cepatnya adalah IYA.

Tapi kalau kita bertanya lagi dari manakah pikiran bawah sadar kita menginputkan data ke ego? Maka jawabannya adalah lingkungan.

Sejak kita lahir sampai berumur tujuh tahun, kita hanya menggunakan pikiran bawah sadar. Segala inputan dari lingkungan kitalah yang mengisi pikiran bawah sadar ini. Lalu lepas dari umur tujuh tahun, baru pikiran sadar kita mulai terbentuk dari proses kita memikirkan kembali segalanya.

Apabila seseorang di alam bawah sadarnya terinput data untuk makan dalam porsi yang banyak saat lapar, maka itulah yang akan dia lakukan terus menerus seumur hidupnya, sampai dia memilih sendiri untuk mengganti data yang sudah terlanjur terinputkan itu.

Ini berlaku untuk semua program apapun yang sedang kita jalani sekarang, oleh siapapun, dimana pun dan dalam kondisi apapun. Intinya, selama kita tidak sadar dengan program yang sedang berlangsung, maka itu adalah program bawah sadar.

HAL PENTING UNTUK DIPAHAMI! PROGRAM BAWAH SADAR BUKAN PROGRAM GENETIS DAN TIDAK MENURUN SECARA GENETIKA. TETAPI PROGRAM YANG TERINPUTKAN LINGKUNGAN DAN MAMPU MEMPENGARUHI GENETIKA SESEORANG.

Manusia dilahirkan suci dalam fitrah, orang tua dan lingkunganlah yang membentuk dirinya. Pikiran bawah sadar kita terprogramkan oleh orang tua dan lingkungan.

Sementara pikiran bawah sadar memegang kendali 95% akan jasad biologis manusia. Artinya pikiran bawah sadar kita lah yang bertanggung jawab dengan pergerakan segala organ dan neurotransmitter didalamnya. Sementara setiap gerakan neurotransmitter meninggalkan jejak perubahan kepada setiap sel yang membentuk diri kita. Itulah kenapa kita kesulitan membedakan antara ketidaksadaran dengan kesadaran ego diri. Karena memang ego ini begitu melekat disetiap sel-sel jasad kita.

Namun bukan berarti kita tidak memiliki pilihan sahabatku… Dzat Maha menghidupkan kita dengan banyak pilihan untuk dipilih.

Betul memang kita bergerak berdasarkan ego. Tapi bagaimana ego bergerak, selalu berdasarkan data kebutuhan yang terinputkan kedalamnya. Jadi jelas kita memiliki pilihan disini. Kita bisa memilih untuk memikirkan ulang kembali setiap pilihan, karena kita telah diberikan seperangkat alat (otak) untuk melakukan pekerjaan ini, atau kita juga bisa memilih secara sadar membiarkan program pikiran bawah sadar ini mengambil kendali.

Keduanya sama-sama pilihan. Apapun itu pilihannya, tetap ego tidak mengerti apa itu ketidaksadaran atau kesadaran. Ego kita hanya bergerak memenuhi data yang terinputkan. Apapun itu datanya, ego akan menggerakan jasad dan kesadaran kita hanya untuk memenuhi kebutuhannya.

Jadi tanpa proses berpikir, apapun itu yang sedang berlangsung adalah apapun yang terinput persis kedalam pikiran bawah sadar. Itulah kenapa barometer kesadaran bukan hanya sekedar sadar, melainkan tentang bagaimana akal pikiran kita sendiri mengelola setiap data yang ada dihadapan.

Lalu apa solusinya sekarang?

Solusinya adalah dengan menginputkan kembali data yang sesuai dengan kebaikan diri, lalu membiarkan ego untuk kembali belajar. Detail caranya bisa kita baca kembali disini :

Karena apabila kita sudah mampu menggunakan akal ini untuk menganalisa baik dan buruk berdasarkan porsi diri kita sendiri, bukan berdasarkan lingkungan. Lalu dari hasil data itu kita membentuk kesadaran kita guna mendidik ego untuk hanya memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang baik, maka tanpa energy besar, ego pun akan secara suka rela memenuhinya.

Inilah arti dari mengendalikan ego sahabatku… Dimana kita bukan lagi hidup untuk menahan ego, melainkan kita sudah menjadi kesadaran yang sudah mampu mengontrol ego itu sendiri.

Akhir kata sahabatku…

Kalau kita mau sedikit merenung. Ternyata, disetiap apapun pilihan manusia, maka disitu pulalah selalu ada Dzat Maha yang terus membersamai dan menggerakan diri. Jadi kalau begini faktanya, maka apakah itu kesadaran dan apakah itu ketidaksadaran sahabatku…?

Sungguh jawaban ini tidaklah selain pelajaran kenetralan yang nantinya harus kita pelajari.

 

Salam semesta

Copyright 2020 © www.pesansemesta.com

 


  • 0
  • Juni 09, 2020
admin16 admin16 Author

BAGAIMANA CARA MEMAHAMI AYAT-AYATNYA ?


Sahabatku… Pemahaman tidak hadir dari sekedar melihat dan membaca, namun memperhatikan dan mengamati apa yang yang telah terlihat dan terbaca dengan akal yang mau berpikir dalam kenetralan.

Ayat-ayat semesta hanya akan menjadi bukti keterhubungan penciptaan yang sia-sia apabila tidak pernah terperhatikan dan teramati.  Setumpuk karya Agung Dzat Maha yang pada akhirnya sekedar menjadi gambar-gambar listrik yang hanya bisa kita lihat tapi tidak kita saksiksan.

Renungkalah, apabila kita tidak pernah menyaksikan keagungan buatanNYA, maka bagaimana kita telah dengan sengaja mengakui diri telah bersaksi atas diriNYA – Sungguh kekhilafan yang nyata bukan? Ayat-ayatNYA bergema untuk kita saksikan, namun bahkan gemaannya pun telah luput kita saksikan.

Jelas dan nyata memang kalau Dzat Maha Pembuat segalanya tidak membutuhkan kebersaksian ini. Kalau segala yang kita gunakan untuk menyaksikanNYA adalah dari buatanNYA sendiri, maka bagaimana bisa DIA membutuhkan apapun dari diri ini sahabatku…?

Hanya saja kita lah yang membutuhkannya, ini hanya murni tentang kesadaran kita yang butuh kembali.

Kita kembali untuk menyaksikan wujud keMahaan DzatNYA didalam setiap ayat yang bergema, di setiap sel yang berputar, di setiap molekul yang bergerak, di setiap energy yang terbentuk.

Semuanya dimulai dari ayat yang bergema dalam diri ini sampai yang diluarnya. Sementara dasar kita melakukan ini hanya agar iman yang kita akui ini bisa menjadi terasa manis dan mempesona.

Untuk permulaannya, mari kita mulai dengan membuka akal pikiran ini. Nantinya kebersaksian kita dalam memahami ayat-ayatNYA akan menjadi proses dan alur pelajaran panjang yang indah dan selama masa proses dan alur yang panjang itu kita akan  senantiasa ikhlas untuk terus memperhatikan dan mengamati.

Dan ini merupakan wujud tertinggi akan jiwa yang mau mengimani keberadaanNYA. Ini tentang sesuatu yang lebih manis dari gambaran apapun tentang surga. Dimana surga tidak lagi menjadi sebuah tempat tujuan, melainkan rasa yang mengalun bersamaNYA, baik dalam kehidupan ataupun kematian.

Tapi sebelumnya ketahuilah sahabatku… Ikhlas belum dikatakan ikhlas sebelum kita terlebih dahulu membiarkan ikhlas menghilang. Ikhlaslah tanpa membawa ikhlas, itu baru ikhlas yang sejati.

Ikhlas sejati itu bukan sekedar apa yang rela kita bagi atau apa yang rela kita terima. Namun seberapa rela menghilangkan diri. Bergerak dalam ketulusan sebagai Semesta. Semesta yang hanya mengikatkan diri denganNYA. Dengan nama apapun kita menyebutNYA… Hanya ada gerakanNYA didalam gerakan kita. Hanya ada keinginanNYA didalam keinginan kita. Hanya ada diriNYA didalam diri kita.

Saat seseorang berhasil dengan ikhlas sejatinya. Maka setiap gerakan adalah kerelaan tapi tanpa kerelaan itu sendiri. Seperti air yang masuk kedalam gelas atau masuk kedalam mangkuk. Bukankah air tidak pernah berpikir apakah dia rela atau tidak rela membentuk dirinya menjadi gelas atau mangkuk. Sebegitu saja dia mengikuti tempat yang membentuknya. Itulah keikhlasan sejati, yaitu kita memblendingkan diri kita dengan ayat-ayat semesta. Membiarkan Dzat Maha Pengatur Semesta ini yang menuntun dan membiarkan diri dituntun.

Jadi sahabatku… Kalau kita bertanya sekali lagi tentang apa itu ayat-ayat semesta? Maka jawabannya adalah segalanya.

Ayat-ayatNYA berada disetiap inci langkah yang kita pijak, dari apa yang kita pijak dan apa yang memijak. Dari mulai mata yang kita gunakan sebagai mesin optic organik untuk menangkap segala gambar-gambar listrik, sampai segala gambar-gambar listrik yang kita tangkap, baik itu yang berhasil tertangkap penglihatan atau tidak berhasil.

Segalanya adalah ayat-ayatNYA yang terangkum didalam segalanya. Segala yang luput dan segala yang teramati. Segala yang terperhatikan dan segala yang terlewati. Pahamilah kalau ayat-ayatNYA tidak pernah hanya sekedar tertulis didalam sebuah buku. Tidak akan pernah ayat-ayatNYA tercetak sesempit lembaran-lembaran itu sahabatku…

Sibaklah dan bacalah ayat-ayatNYA yang tidak pernah sempat tertulis sahabatku…

Sekali lagi karena ayat-ayatNYA adalah setiap inci semesta yang terbentuk. Energy yang terbentuk disegalanya, itulah ayat-ayatNYA. Tidak ada satu pun yang terlewat kecuali itu adalah ayatNYA yang dibuat oleh yang terciptakan. Itulah kenapa membaca ayatNYA bukan sekedar alunan syair yang tertulis diatas buku.

Membaca ayatNYA adalah memperhatikan dan mengamati setiap inci dari apa yang membentuk diri dan semesta. Disanalah wujud ayat-ayatNYA yang Agung bersemayam dan tidaklah kita memperhatikan dan mengamati kecuali dengan menggunakan akal pikiran yang mau diberpikirkan.

Seharursnya proses dan alur panjang kita dalam memperhatikan dan mengamati sudah menjadi pekerjaan utama pikiran. Seharusnya kita terbiasa untuk hidup dan memperhatikan segala yang tampak dihadapan, karena apapun itu yang tampak adalah ayat-ayatNYA. Sayang memang kita sama sekali tidak terbiasa dengan ini. Bagi kita ayat-ayat hanyalah kitab yang dibawa ajaran ke-agamaan. Dimana membaca ayat sama seperti membaca kitab.

Padahal sebenarnya tidak pernah seperti itu, seharusnya pikiran kita dengan akalnya sudah mau menjadi jendela yang terus memperhatikan dan mengamati ayat-ayatNYA yang tertulis di segala yang terciptakan. Karena pada kenyataannya kehadiran akal pikiran memang dibuat agar kita mampu memperhatikan dan mengamati. Lalu memilih berdasarkan kesadaran yang terhubung denganNYA sesuai dengan tingkat kesadaran dari apa yang kita perhatikan dan amati.

Dzat Maha telah memberi kita sepaket mesin canggih (jasad) untuk ini. Tapi apakah kita mau atau tidak mau… Jelas butuh pilihan disini, sementara setiap pilihan adalah proses yang butuh waktu dan pengabdian.

Pertanyaannya menjadi sederhana sahabatku… Maukah kita memahami ayat-ayatNYA yang menggema dalam semesta dan diri ini?

 

Salam Semesta

Copyright 2020 © www.pesansemesta.com


  • 0
  • Juni 05, 2020
admin16 admin16 Author

MEMAHAMI KESEIMBANGAN ANTARA WANITA & PRIA YANG DIBUAT-NYA


They Says Women Are The Biggest Mystery In The Universe

Kalau kita bertanya, kenapa Dzat Maha menciptakan perempuan dan laki-laki dengan perbedaan yang kental? Jawaban yang bisa dicerna oleh akal kita adalah karena keseimbangan hanya akan terjadi berkat adanya perbedaan.

Pertanyaan uniknya : Apakah keseimbangan antara perempuan dan laki-laki yang diciptakan Dzat Maha adalah seperti yang tercermin pada generasi zaman kita sekarang?

Sahabatku… Jangan dahulu menjawab iya.

Sebuah generasi terbentuk secara genetis – dan ini sama sekali bukan takdir, melainkan nasib yang digores sendiri sesuai dengan pilihan dari tiap generasi ke generasi. Setiap detik DNA sel-sel manusia belajar dari apapun yang kita programkan, dan setiap program bekerja berdasarkan pilihan. Meski terkesan sepele, apapun pilihan yang kita pilih sekarang akan terekam oleh sel dan menurun secara genetis.

Genetika bukan tentang takdir, melainkan hanya nasib. Kita terciptakan sebagai makhluk pemilih, energy ini adalah kenetralan absolut. Bagaimana energy terbentuk adalah pilihan tiap kesadaran. Sayangnya selama beberapa generasi kita kalah dalam pilihan kita sendiri. Kita kalah menggunakan akal ini dan kita pun kalah dalam memperjuangkan jasad ini sampai titik maksimalnya.

Sekarang apa yang kita saksikan tentang keseimbangan antara laki-laki dan perempuan hanyalah tentang bagaimana generasi pendahulu kita menggoresnya. Untuk memahami hal ini cobalah menjawab pertanyaan berikut sahabatku…

Apakah dahulu Dzat Maha saat pertama kali membuat Adam sengaja melebihkan Adam dari Hawa hanya agar Adam menguasai Hawa? Benarkah Dzat Maha membuat Hawa seringkih kaca dan sebutuh itu kepada Adam?

Dan, apakah Dzat Maha sengaja membuat Hawa hanya agar Hawa merasa tersudut malu dengan bentuknya sendiri?

gar sekarang para Hawa merasa dirinya tidak berharga, lalu marah sambil meneriaki gerakan pemerataan gender – akankah Dzat Maha membuat tindakan diskriminatif dalam kenetralanNYA?

Pikirkan sahabatku…

Akal ini akan membawa kita berlari menuju keseimbangan yang dibentuk langsung oleh Dzat Maha, bukan yang dibentuk oleh generasi-generasi yang sengaja menguasai kesadaran ini agar seorang Hawa hidup dalam kelemahan yang tidak menentu, dimana kekuatannya sendiri tersamar oleh kelembutan hati yang mereka anggap sebagai kerendahan.

Apabila pertanyaan masih kurang menyakinkan, maka cobalah memikirkan fakta-fakta ini dalam kenetralan….

 

#PIKIRKANLAH kenapa Dzat Maha mensetting kalau seluruh sel mitokondria manusia hanya diambil dari gen perempuan?

Iya, seorang perempuan bertanggung jawab penuh atas bagus atau tidak bagusnya asupan energy sel. Bagus tidaknya pembentukan jasad janin tergantung dari bagaimana perempuan merekayasa DNA mitokondria anaknya.

DNA mitokondria (mtDNA) adalah materi genetik yang ditemukan di mitokondria. Ini diturunkan dari ibu ke anak laki-laki dan perempuan, tetapi anak laki-laki tidak bisa meneruskan mtDNA ibu mereka kepada anak-anak mereka. Ini karena mtDNA ditularkan melalui sel telur wanita. MtDNA yang ditemukan dalam telur adalah non-rekombinan, artinya ia tidak bergabung dengan DNA lain sehingga diturunkan secara virtual tidak berubah melalui garis ibu langsung selama beberapa generasi.

Sahabatku… Jadi kita mewarisi mtDNA secara eksklusif dari seorang HAWA. Bukankah ini adalah sebuah kekuatan? Bayangkan apa yang terjadi kalau perempuan mampu memaksimalkan mtDNA nya dan mewariskan mtDNA yang maksimal kepada seluruh manusia?

Tapi kekuatan yang maksimal akan membuat manusia sulit untuk dikendalikan bukan? Itulah kenapa perempuan terus dicekoki dengan fakta manipulatif kalau dirinya telah dibuat lemah olehNYA.

Lagi-lagi adakah buatanNYA yang lemah? Kalau plankton yang dibuatNYA di mata manusia tampak selemah itu, tapi ternyata mampu menguasai oksigen Bumi, lalu apa itu lemah sahabatku…?

Jadi sebenarnya kelemahan hanyalah titik dimana kita gagal belajar untuk memaksimalkan buatanNYA yang sempurna. Saat setiap makhluk memahami kemaksimalan dirinya tanpa penilaian, maka tidak ada kata lemah yang mampu tersemat untuk seluruh buatanNYA.

 

#PIKIRKANLAH KENAPA DZAT MAHA MEMBUAT OTAK SEBAGAI ORGAN UNISEX?

Orang mengatakan pria berasal dari Mars dan wanita berasal dari Venus, tetapi otak adalah organ unisex. Jadi tidak ada perbedaan antara otak wanita dan otak pria. Otak ini tetap akan bekerja sebagaimana seharusnya otak bekerja.

Tapi bagaimana dengan bentuk – Banyak penelitian yang mengatakan kalau bentuk otak laki-laki 10% lebih besar daripada otak perempuan? Jujur saja bentuk tidak berarti apa-apa. Semua organ pria rata-rata memang lebih besar, tetapi itu tidak berarti fungsinya berbeda.

Perbedaan yang terjadi sekarang adalah tentang bagaimana jasad kita digunakan/difungsikan. Sosialisasi memegang kunci utama. Norma sosial berhasil menampar kekuatan perempuan agar menyingkir.

Berperang melawan kekuasaan adalah hal yang biasa dari zaman dahulu sampai sekarang. Jadi memang harus ada isu yang disebar untuk melemahkan lawan. Saat lawan begitu percaya kalau dirinya memiliki kelemahan, maka lumpuhlah lawan begitu saja bukan?

Fakta standarnya adalah bahwa perbedaan-perbedaan ini terprogram... Tetapi otak laki-laki dan perempuan tidak jauh lebih berbeda satu sama lain daripada hati atau ginjal laki-laki atau perempuan. Intinya, baik itu perempuan maupun laki-laki memiliki otak yang sama kuatnya.

Jadi, baik itu laki-laki atau perempuan sama-sama diberi kesempatan untuk memaksimalkan otaknya dan seluruh jasadnya masing-masing dalam porsi yang sama. Apabila porsi sekarang berbeda, itu bukanlah takdir yang dibuatNYA, melainkan nasib yang kalah kita buat.


#PIKIRKANLAH kenapa dzat maha membuat PRIA DAN WANITA tampil berbeda, tetapi memiliki fungsi yang sama?

Sahabatku… Mari kita berbicara sebentar tentang fungsi. Tidak ada satupun yang terlewat dari fungsinya, bahkan “tidak berfungsi” pun sebenarnya adalah fungsi juga. Jadi apakah sebenarnya pria dan wanita berfungsi sama?

Secara biologis jasad wanita memang jelas terlihat tampil berbeda dengan pria. Ada bagian jasad wanita yang berfungsi tidak sama dengan pria. Namun bagaimana pria dan wanita dalam hal kepribadian, kecerdasan akal, kemampuan kognitif, spiritualitas dan kepemimpinan adalah setara. Ini karena keduanya memiliki otak yang sama.

Salah satu fungsi otak adalah sebagai pengendali jasad. Jadi baik itu pria atau wanita memiliki kemampuan untuk mengendalikan jasadnya masing-masing. Lalu menghadirkan diri mereka untuk melaksanakan fungsi utamanya. Jadi bukan berarti keduanya harus tampil sama untuk berfungsi.

PEREMPUAN DAN LAKI-LAKI JUSTRU DIBUAT TAMPIL BERBEDA UNTUK SALING BEKERJA SAMA MEMBERI KEMAKMURAN BAGI SEMESTA. KARENA INILAH FUNGSI UTAMANYA.

Sayangnya, kemakmuran semesta tidak akan tercapai apabila antara perempuan dan laki-laki masih menyaksikan perbedaan mereka sebagai arena pertarungan. Kita tidak bertarung untuk gender, kita bertarung untuk memaksimalkan diri kita masing-masing. Pertarungan ini pun bukan pertarungan keluar, melainkan pertarungan kita ke dalam diri sendiri. Baik itu pria atau wanita masing-masing bertarung untuk mampu mengendalikan dirinya sendiri.

Sudah mampukah para pria bertarung memaksimalkan dirinya sendiri? Dan

Sudah mampukah para wanita bertarung memaksimalkan dirinya sendiri?

Sungguh diatas ini adalah dua pertanyaan yang sama untuk dua makhluk yang dibuat tampil berbeda untuk melakukan fungsi utama yang sama.

Ingat saja, kalau untuk mampu melaksanakan fungsi utama manusia, kita memang harus berbeda. Tidak akan pernah ada jingga apabila tidak ada merah dan kuning. Keseimbangan butuh perbedaan. Sementara perbedaan bukan untuk disamakan, perbedaan hanya wujud bentukanNYA yang sempurna. Lalu kenapa kita begitu sulit menerima dan menghargai kesempurnaanNYA?

Bukankah akan harmonis apabila Hawa mampu menghargai Adam sebagaimana Adam mampu menghargai Hawa.

Akhir kata sahabatku… Perempuan memiliki kelembutan hati seorang hawa, tapi itu tidak pernah menjadi garis kalau mereka dibentuk selemah itu. Mengertilah dan kita memang telah dibuat sekuat itu… Janganlah berhenti meraih kekuatanNYA dalam bentuk Hawa ini, meski kita harus merangkak untuk meraihnya.

 

Salam Semesta

Copyright 2020 © www.pesansemesta.com


  • 0
  • Juni 04, 2020
admin16 admin16 Author

MEMBERI WAKTU BAGI DIRI UNTUK MENGAJARI EGONYA BELAJAR


Sahabatku… Pernahkan kita memberi waktu bagi diri untuk mengajari egonya sendiri?

Kalau belum, maka setelah ini kita bisa memulainya. Ini merupakan awal pelajar dasar sebelum diri mampu mengendalikan egonya sendiri. Mari kita bertanya dan belajar dari jawabannya.


#Pertanyaan pertama : SIAPA ITU ‘DIRI’ YANG MENGAJARI EGONYA BELAJAR ?

Sahabatku… Diri kita terdiri dari beberapa komponen yang saling bekerja untuk menghasilkan paket diri kita yang utuh. Salah satunya manusia memiliki ego, tapi manusia bukan sekedar ego. Sama seperti manusia memiliki jasad, tapi manusia bukan sekedar jasad. Manusia memiliki jasad, jiwa dan energy ruh yang menghidupi.

Manusia adalah miniatur semesta, karena itulah manusia terbentuk begitu kompleks. Tugas tiap kita adalah memahami kompleksitas diri sendiri terlebih dahulu. Itulah kenapa pada hari ini kita akan fokus untuk menjadi diri yang mampu mengajari egonya sendiri untuk belajar, sampai nanti diri ini berhasil mengendalikan egonya.

Sama seperti belajar menunggangi kuda liar. Menunggangi kuda liar bukan sekedar naik ke atas kuda itu, tapi belajar mengendalikan kudanya, agar kuda liar ini tahu arahan penunggangnya. Begitu juga dengan manusia, untuk mampu mengendalikan egonya, maka terlebih dahulu dia harus mengajari egonya sendiri.

Jadi ‘diri’ ini adalah pemimpin ego yang adalah ‘diri’ sendiri juga. Kita memiliki ego, tapi kita bukan sekedar ego.

 

#Pertanyaan kedua : BAGAIMANA MENGAJARI EGO BELAJAR ?

Kalau ego adalah diri dan diri memiliki ego, maka bagaimana mengajari ego belajar?

Jadi begini, ego adalah bagian terorganisir dari struktur kepribadian yang mencakup fungsi defensif, perseptual, intelektual-kognitif, dan eksekutif. Manusia tidak akan pernah terpisah dari egonya sendiri, tapi manusia mampu mengendalikan egonya sendiri atau terkendalikan oleh egonya.

Bagaimana bisa seperti ini adalah karena ego tersistem di dalam anggota jasad kita sendiri, tepatnya di wilayah otak. Sekali lagi jasad dan jiwa bekerja berbarengan. Ego bukan sekedar tentang bagaimana software kita bekerja namun juga tentang bagaimana jasad kita juga bekerja. Satu bagian khusus otak manusia yang bekerja mengatur sistem ego ini adalah basal ganglia (striatum) dan batang otak.

Bagaimana ego belajar adalah dengan mengajari kembali otak ego. Kita dapat mengatur ulang dan mengintegrasikan kembali otak kita untuk memahami pilihan terbaik yang seharusnya kita pilih. Jadi singkatnya sekarang kita mengajarkan otak ego kita untuk belajar

 

#Pertanyaan ketiga : BAGAIMANA OTAK EGO BELAJAR ?

Sudah diketahui kalau otak manusia tidak pernah bekerja sendiri perbagian-bagian. Setiap bagian otak kita adalah keterhubungan raksasa dengan bagian-bagian lainnya termasuk ke seluruh jasad manusia. Begitu juga basal ganglia (striatum) dan batang otak sangat terkait dengan korteks serebral serta beberapa area otak lainnya.

Neocortex adalah bagian dari korteks serebral (bersama dengan archicortex dan paleocortex - yang merupakan bagian kortikal dari sistem limbik). Korteks serebral boleh juga kita panggil otak logis, karena salah satu fungsi bagian otak ini adalah memproses kesadaran manusia.

Otak logis ini belajar berdasarkan tiap informasi yang berhasil dikelola oleh nalar akal pikiran. Hanya saja bukan berarti otak ego juga belajar dengan cara yang sama dengan otak logis. Bagaimana otak logis belajar ini tidak berlaku bagi otak ego manusia.

Kabar buruknya sejak dibentuk adalah otak ego manusia tidak bisa belajar dari informasi yang terkelola langsung oleh akal pikiran.

Itulah kenapa gambar foto seburuk apapun yang disematkan pada sebungkus rokok tidak akan pernah berpengaruh apa-apa apabila ego seorang perokok sudah menjerit membutuhkan rokok. Itulah juga kenapa meskipun setiap manusia tahu kalau memaafkan adalah tindakan yang baik, namun tidak serta merta sebagian ego manusia mau memaafkan sampai memaafkan menjadi kebutuhannya.

Tapi dari fakta ini kami tidak mengatakan kalau berarti otak ego tidak bisa belajar sama sekali. Otak ego tetap bisa belajar, tapi dengan cara memasukkan informasi yang berbeda dari otak logis.  

Pahami rahasia kecil dibawah ini sahabatku…

Sejak dilahirkan, otak ego kita belajar dari segala kebutuhan kita. Otak ego belajar porsi makan yang membuat kita keyang. Otak ego belajar sikap orang lain yang membuat kita terabaikan dan bagaimana kita bersikap untuk memenuhinya. Otak ego belajar kata-kata yang membuat kita terhargai dan banyak hal lainnya. Yang mana kalau disimpulkan, apapun itu yang kita butuhkan, baik rohani atau jasmani maka otak ego akan belajar untuk memenuhinya.

Otak ego belajar dari urgensi pemenuhan kebutuhan diri. Kebutuhan diri sifatnya relatif dan berubah-ubah seumur hidup manusia, dan selama itu pula lah otak ego terus mempelajari kebutuhan diri yang berubah.

Itulah kenapa ego sering dihubungkan dengan sikap egoisme, karena memang satu-satunya fokus otak ego adalah diri. Mereka bergerak hanya untuk memenuhi kebutuhan diri. Tapi sekali lagi, diri ini bukan sekedar ego. Jadi seharusnya kita adalah pengendali dari ego kita sendiri, bukan sebaliknya.

 

#Pertanyaan keempat : KALAU BEGITU BAGAIMANA KITA MEMULAINYA ?

Sahabatku… Sebelum memulainya ingat satu hal besar ini “ Kita sedang belajar mengendalikan ego bukan menahan ego” untuk mengendalikan kita butuh untuk memaklumi.

Memaklumi artinya mengelola kesadaran kita untuk memahami apa yang sedang terjadi. Lalu menerima dan mengambil tindakan akan apa yang sudah dipahaminya dengan sadar dan konsekwen akan sebab dan akibat yang akan terjadi.

Jadi kita harus mengaktifkan korteks serebral (otak logis) untuk memahami diri kita sendiri. Kita perlu menganalisa diri dalam kenetralan yang senetral-netralnya tanpa memberi penilaian, melainkan hanya memberikan jatah bagi otak logis kita mencerna sebab akibat dari yang sedang kita aksikan.

Dari hasil analisa korteks serebral yang sengaja dibiarkan mengamati dan memahami dalam kenetralan, maka akan terkumpulah data yang akan kita gunakan untuk mengajari otak ego.

Contoh aplikasi sederhananya seperti ini : Cobalah mengambil moment jernih untuk menganalisa satu hal tentang ego Anda yang paling mengganjal. Satu saja dahulu, lalu coba tanyakan dengan metode 5 W (WHAT, WHO, WHERE DAN WHEN). Anda boleh menulis jawabannya ke dalam jurnal kalau diperlukan. Selanjutnya tanyakan +1 H (HOW)

Selama aplikasi ini, cobalah untuk santai dan tenang untuk menjawabnya secara jujur. Dari jawaban ini maka akan muncullah kebutuhan yang sesungguhnya.

Mari kita ambil contoh ringan kalau ego Anda sulit memaafkan diri sendiri. Lalu dari hasil analisa korteks serebral, Anda mendapati kalau sebenarnya Anda lebih membutuhkan kedamaian ketimbang menyimpan rasa bersalah akan diri sendiri.

Lalu bagaimana kita mengajarkan otak ego dari hasil analisa otak logis kita diatas?

Caranya adalah dengan memberikan gambaran yang jelas. Otak ego tidak mengenal data seperti otak logis, melainkan otak ego hanya mengenal gambar yang jelas. Sekarang tinggal bagaimana kita menginputkan gambaran yang jelas kedalam otak ego sesuai dengan solusi nalar akal pikiran?

Nah, sebenarnya aplikasinya sangat sederhana. Otak mengerti gambar sebagai informasi, gambar itu tidak harus selalu berbentuk nyata, karena otak manusia tidak bisa membedakan kenyataan atau tidak kecuali kesadaran kita memikirkannya.

Jadi disini Anda akan bermain dengan visualisasi sederhana. Izinkan otak ego Anda untuk menerima gambaran dari betapa butuhnya Anda untuk merasa damai. Sama saja seperti sebagian kita yang membutuhkan kopi di pagi hari. Kita tidak pernah melewatkan kopi di pagi hari, karena kita merasa itu adalah kebutuhan. Bangun tidur, kita merasa butuh menghirup wangi dan hangatnya kopi.

Mengajari ego benar-benar memang sesimpel itu, yang sulit adalah mengajari ego untuk memilih kebutuhan-kebutuhannya yang baik.

Sebenarnya sulit karena sebagian kita masih belum mau mengaktifkan akalnya untuk memperhatikan dan mengamati dalam kenetralan.

Coba bayangkan, bagaimana kalau kita mampu mengajarkan list kebutuhan akan hal-hal baik dalam hidup ini sebagai pilihan bagi ego untuk memenuhinya?

Tentunnya list kebutuhan itu kita buat dari hasil olah akal yang jernih dan netral. Bukan dari ego yang buta akan akalnya sendiri. Inilah arti dari mengendalikan ego, yaitu dimana ego kita masih bekerja tapi bekerja berdasarkan kesadaran akal pikiran kita.

 

#Pertanyaan akhirnya sahabatku… KENAPA KITA HARUS MENGENDALIKAN EGO?

Ego kita tidak mengerti apa itu baik dan apa itu buruk. Ego kita hanya bergerak memenuhi kebutuhan kita, apapun itu ego akan menggerakan jasad dan kesadara kita hanya untuk memenuhi kebutuhannya.

Jadi apabila kita sudah mampu menggunakan akal ini untuk menganalisa baik dan buruk berdasarkan porsi diri kita sendiri. Lalu dari data itu kita mendidik ego untuk hanya memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang baik, maka tanpa energy besar ego pun akan secara suka rela memenuhinya.

Karena memang ego bergerak hanya untuk memenuhi kebutuhan diri, baik itu diri yang mampu menganalisa ataupun yang tidak. Inilah kenapa memang sudah seharusnya kita menjadi pengendali dari ego kita sendiri, bukan sebaliknya. Sudah seharusnya kita menjadi satu-satunya kesadaran yang mampu memilih kebaikan buat dirinya sendiri berdasarkan kejernihan akalnya.

Akal manusia harus berada diatas egonya. Bukan untuk menahan ego, melainkan hanya untuk mengendalikan menuju kebaikan menurut akalnya sendiri.

Dari pelajaran ini kita bisa melihat wujud sifat Dzat Maha Adil dimana Dzat Maha tidak pernah menyamaratakan segalanya, bahkan menyamaratakan kebaikan. Karena kebaikan adalah segala yang seimbang sesuai dengan porsinya masing-masing.

Dia-lah satu-satunya Dzat Maha Penyeimbang, maka hubungkanlah selalu diri kita ini denganNYA, agar kita senantiasa terbimbingi oleh Dzat Maha Pengatur Keseimbangan.

Sahabatku… Renungkanlah, bukankah kalau akal ini sudah mengetahui takarannya, maka segalanya akan pas, meski segalanya tidak pernah sama?

 

Salam Semesta

Copyright 2020 © www.pesansemesta.com

 



  • 0
  • Juni 01, 2020
admin16 admin16 Author

OFFICIAL CHANNEL



FREE E-BOOK

3# FREE DOWNLOAD E-BOOK - MENJADI AIR

DATABASE

COPYRIGHT

Seluruh artikel didalam website ini ditulis orisinil oleh tim penulis Pesan Semesta. Artikel yang kami share melalui website ini bukan hasil jiplakan, kutipan atau terjemahan.

Bagi pembaca yang ingin menghubungi penulis silahkan mengrim pesan melalui email : pesansemesta@yahoo.com


SALAM SEMESTA